Posts

Reading Time: < 1 minute

Teatime 16th edition will invite:

Rini Asmiyati – Global Entrepreneur Returnee

(Alumni of communication Science Department, batch 2015)

The next International Program of Communication’s Teatime

Theme:
Seeking For Unforgotten Experiences Through Being Intern

(An Experience in Wonderful City Jaipur, India)

Live On Instagram

Schedule

Friday, October, 16th, 2020
Start at 4pm (UTC+7)

Keep update on IGTV
@ip.communication.uii
@riniai_

Reading Time: < 1 minute

Google for Media: Strengthening Democracy through informed journalists and citizens – Webinar

Discuss with these Speaker:

Wahyu Dhyatmika, Editor in Chief Majalah TEMPO and Sekretaris Jenderal AMSI (Asosisasi Media Siber Indonesia)

Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia)

Revolusi Riza, Head Of News Gathering CNN Indonesia TV and Sekretaris Jenderal AJI (Aliansi Jurnalis Independen)

For a discussion about:
Fighting the common enemy of misinformation

LIVE STREAMING:
Senin, 26 Oktober 2020
Pukul 13.00-15.00WIB

Youtube Channel: Google Indonesia
Goo.gle/googleformedia4

Disclaimer:

Komunikasi UII yang bervisi communication for empowerment. Kami berupaya melakukan manajemen pengetahuan dengan menjadi pusat informasi dan knowledge untuk mendukung pengembangan keilmuan dan kapasitas mahasiswa dan warga akademik Komunikasi UII. Mahasiwa san warga akademik yang fokus pada kajian jurnalisme, PR, kajian media, dan media kreatif, dapat merujuk pada konten ini demi pengayaan pengetahuan. Konten ini bertujuan edukasi dan nonprofit. #knowledgeproject #kliping

Reading Time: 2 minutes

Ekosistem film di Kalimantan belum berkembang dan bisa dibilang sama sekali tidak ada. Padahal Kalimantan memiliki harta cerita yang melimpah meski kurangnya wawasan mengenai ekosistem dan tradisi film. Itu dulu, sebelum Ade mulai merintis budaya film di sana. Ade Hidayat, Alumni Komunikasi UII angkatan 2005, menceritakannya pengalamannya ini pada pemirsa live Instagram IP Komunikasi UII (@ip.communication.uii).

Paparannya tersebut disampaikan dalam acara bincang-bincang rutin “Teatime” episode ke-12 pada 18 September 2020. Acara yang dipandu M. Iskandar T. Gunawan, Laboran Laboratorium Komunikasi UII, ini juga mengulik pengalaman Ade Hidayat yang inspiratif. Misal bagaimana ia merakit keterampilannya di bidang film sejak masih kuliah di semester awal.

Kisahnya menunjukkan Ade bukan pemain baru dalam dunia film. Ia juga  merupakan pionir sejak aktifitasnya di komunitas perfilman di Komunikasi UII beberapa tahun silam dengan membangun Kompor.kom (komunitas mahasiswa di bidang film). Kisahnya melambung hingga cerita tentang kegigihannya membangun budaya perfilman di kampung halamannya.

Kurangnya komunitas dan orang orang yang peduli dengan ekosistem film adalah isu yang paling penting mengapa Ade ingin menghidupkan ekosistem film di kalimantan. Menghidupkan ekosistem perfilman yang dilakukan Ade tidak secepat itu membuahkan hasil. Ia membutuhkan waktu tujuh tahun lamanya.

Selama 2 tahun mengamati ekosistem film di kalimantan, Ade akhirnya mendapatkan teman yang sesuai dengan semangatnya. Mulanya ia membuat Screening Film dan peta besar rencana kegiatan perfilman. Ini , makan waktu lima tahun. Tahun pertama, ia membuat program yang bernama Ngofi. Tahun kedua, tahun edukasi film. Tahun ketiga, ia bikin produksi film sederhana. Lalu pada tahun keempat,  produksi film dilakukan kembali sekaligus menggencarkan distribusinya. Sayangnya, rencana di tahun kelima mandeg terhalang oleh pandemi Covid-19.

Produksi Film dan Konsistensi

Semangat Ade tak muncul begitu saja. Banyak juga sineas di daerah lain juga memengaruhi. Misalnya, film Makassar yang berjudul Uang Panai yang menelan biaya produksi sekira 450 juta rupiah.  Target penonton film produksi lokal tersebut bisa menyentuh angka 550 ribu penonton.

Tak hanya itu, Uang Panai mendapatkan penghargaan khusus untuk Film Produksi Daerah dari Indonesian Box Office Movie Award (IBOMA) pada 2017. Dari sini Ade Hidayat merasa termotivasi dan akhirnya merintis ekosistem film di kalimantan. Harapannya, kelak ia dan sineas di kalimantan memiliki film yang pantas dikenal di seluruh Indonesia bahkan Dunia.

Singkat cerita, Ade kini dapat merasakan budaya perfilman yang kental di daerahnya. Tentu itu tak muncul dari ruang hampa. Kunci sukses Ade dalam dunia film terletak bagaimana selama kuliah ia menciptakan jejaring sosial, kerjasama, serta mempunyai target agar tetap konsisten. Komunikasi adalah kunci dari semuanya,” ujar Ade.

Gunawan, Host dalam diskusi ini, mengatakan pandangan senada. Kuliah adalah ladang mengolah relasi, latihan bekerjasama, dan tidak lupa konsistensi. “Ambil pengalaman sebanyak-banyaknya selama berada di dunia kampus,” pungkas Gunawan.

 

Writer: Ridwan Ainurrahman, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII 2016, Magang di International Program Komunikasi UII.

Editor: A. Pambudi W.

Reading Time: < 1 minute

In order to welcome all of you as the new IPC family, We present an event entitled Academic & Study Skill. This event is still included in the series of welcoming to the all of 2020 IPC students.

This Academic & Study Skill event is held to help IPC new students as a provision of how to adapt to the college life and as a preparation for you to become a global future leader.  This series of Academic & Study Skill events will be filled by @hermanfelanitandjung . The program will be divided into two days which start from 3 – 4 October 2020. Per each day we will be having different topics and these are the topics that will be carried out at this year’s Academic & Study Skills:


1. How to be Global Student in the time of Pandemics
2. Global Experience And Global Skills As Future Global Leaders

In addition, there will be briefings from the UII Learning Center.  This series of events is mandatory for new IPC students in 2020 and is open to IPC students of 2018 & 2019 class.

So prepare yourself, don’t miss this event because we’ll be having a good time and getting a lot of insightful information.

See you IPC Friends!

Reading Time: < 1 minute

Teatime 14th edition will invite:

Nadia Wasta Utami – Lecturer of Departemen of Communication Science UII

The next International Program of Communication’s Teatime

Theme:
Master Your Public Speaking Skills Now to Boost Your Confidence

Live On Instagram

Schedule

Friday, September, 25th, 2020
Start at 3pm (UTC+7)Keep update on IGTV
@ip.communication.uii

 

Reading Time: < 1 minute

Teatime 13th edition will invite:

Riefki Fajar Ganda Wiguna, M.Hum – Manager of UII Learning Center

The next International Program of Communication’s Teatime

Theme:
Talking about UII Learning Center Facilities that IPC Members Can Access

Live On Instagram

Schedule

Friday, September, 25th, 2020
Start at 3pm (UTC+7)Keep update on IGTV
@ip.communication.uii

Reading Time: 3 minutes

How is the experience of Communication IP class different from the regular class? What was the most memorable experience? Those are the questions that often arise. Responding to that question, Rasya and Daffa shared their experiences during lectures at UII IP communication. During the welcoming day last year, they met a number of study program staff, seniors, lecturers and foreign students.

Presentations and talks at the welcoming day were given in English. This activity is designed so that students can face the international environment. According to Daffa, at that time the lecturers explained what IPC was, as well as interesting little games. This atmosphere creates a strong relationship between them and the entire UII Communication academic community.

This is the conversation that surfaced in the talk show Teatime episode 10. On this occasion, Teatime took place as usual using live broadcasts via Instagram social media. On September 5, 2020, the theme raised was “Take a Peek at The Orientation Days with IPC Student 2019”. M. Daffa Athallariq from IP Communication (IPC) UII (Indonesian Islamic University), class 2019 guided by Rasya, class 2019 talked about the excitement of studying at UII IP Communications as it emerged at the beginning.

Besides the welcoming atmosphere during the welcoming day, the small class capacity also makes students focus more on lecture material. This also creates a culture that is close to lecturers, employees or fellow students. “We were close to lecturers, staff, and seniors even before starting to study at IPC,” said Daffa.

In addition, IPC students always open minded to make friends with non-IP communication students or students of other majors. The reason is of course because the scope of their activities is similar. Apart from the classrooms, the language of instruction is English and different perspectives. The perspective on the material must be seen with an international or global perspective. For example, there are subjects for basic writing, language improvement, and academic writing. Further information and details regarding IPC UII registration can be checked directly on Instagram @ ip.communication.uii. “You have to register quickly, because IP communication is very interesting,” said Rasya.

The interesting thing about being an International Program Student

In the first year, IP students will get an academic writing course with the APA Style reference. Do you have to be good at English at first? Certainly not. Through learning in IPC classes, students will learn about public speaking and basic language through practice. Like writing practice and public speaking. This will certainly help students. Every student has the opportunity to learn. They will learn the process of practicing English directly, said Daffa, “So that’s where learning at IPC feels very interesting!”

Another exciting thing, lecture facilities are also adequate. Complete equipment is available to support lecture practice and assignments. Lecturers have free time for students to ask questions about all things that are still confusing in class. Students can also help each other. With a global perspective learned in IP programs, there are many study opportunities around the world, as well as contacts around the world.

In addition, IPC also has courses that focus on video production. This course deals with film production which is in great demand lately. There are also P2A (Passage to Asean) programs, international seminars and other programs that provide scholarships. This unique experience can only be obtained at the IPC UII second node.

How to understand communication from a global perspective? Students can understand international phenomena by referring to international journals and references. Even though it was tough at first, at IPC they have a strong bond, so they often help each other when faced with various difficulties. Such as language difficulties, reading English journals, and other academic difficulties. “Lecturers are close to students, and there is a class agreement. That makes it easier for us at IPC,” continued Rasya.

 

Writer: Ridwan Ainurrahman, Communication Science Internship Student of the IPC UII, batch 2016.

Editor: A. Pambudi W

 

 

 

 

 

 

Reading Time: 2 minutes

Bagaimana perbedaan pengalaman kelas IP Komunikasi UII dengan kelas reguler? Apa pengalaman yang paling berkesan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul. Merespon pertanyaan itu, Rasya dan Daffa berbagi pengalaman mereka selama kuliah di IP komunikasi UII. Saat welcoming day setahun lalu, mereka bertemu dengan sejumlah staf prodi, senior, dosen dan mahasiswa asing.

Presentasi dan pembicaraan saat welcoming day diberikan dalam Bahasa Inggris. Kegiatan ini dibuat agar mahasiswa dapat menghadapi lingkungan internasional. Menurut Daffa, saat itu para dosen menjelaskan apa itu IPC (international Program of Communication), serta permainan-permainan kecil yang menarik. Suasana ini membuat relasi yang kuat antara mereka dan seluruh sivitas akademika Komunikasi UII.

Inilah pembicaraan yang mengemuka di acara bincang-bincang Teatime episode ke 10. Pada kesempatan  kali ini, Teatime berlangsung seperti biasa pakai siaran langsung lewat media sosial Instagram. Pada 5 September 2020 ini, tema yang diangkat adalah “Obrolan Orientasi serta pengalaman Mahasiswa IPC 2019”. M. Daffa Athallariq dari IP Communication (IPC) UII (Universitas Islam Indonesia) angkatan 2019 dipandu Rasya, angkatan 2019 berbincang soal keseruan kuliah di IP Komunikasi UII seperti yang mengemuka di mula.

Selain suasana penyambutan saat welcoming day, kapasitas kelas yang kecil juga membuat mahasiswa lebih fokus pada materi perkuliahan. Ini juga menciptakan kultur yang akrab dengan dosen, karyawan ataupun sesama mahasiswa.”Kami dekat dengan dosen, staf, dan senior bahkan sebelum memulai pembelajaran di IPC,” kata Daffa.

Selain itu mahasiswa IPC tidak menutup diri berteman dengan mahasiswa komunikasi non IP ataupun mahasiswa jurusan lain. Sebabnya tentu karena ruang lingkup aktivitasnya juga serupa. Selain ruang kelasnya, bahasa pengantar dengan Bahasa Inggris dan perspektif juga berbeda. Cara pandang terhadap materi harus dilihat dengan kacamata internasional atau global. Misalnya ada materi perkuliahan basic writing, penyampaian Bahasa, dan academic writing. Informasi lanjutan dan detil mengenai pendaftaran IPC UII dapat cek langsung di Instagram @ip.communication.uii. “Kamu harus daftar cepat ya, karena komunikasi IP sangat menarik,” kata Rasya.

Menariknya menjadi Mahasiswa International Program

Pada tahun pertama, mahasiswa IP akan mendapatkan mata kuliah penulisan akademik dengan referensi APA Style. Apakah mulanya masuk menjadi mahasiswa IP harus pintar bahasa inggris? Tentu tidak. Melalui pembelajaran di kelas IPC, mahasiswa akan belajar tentang public speaking dan dasar berbahasa lewat praktik. Seperti praktik menulis dan public speaking. Ini tentu akan membantu mahasiswa. Setiap mahasiswa mempunyai kesempatan belajar. Mereka akan mempelajari proses berlatih Bahasa inggris secara langsung kata Daffa, “Jadi di situlah pembelajaran di IPC terasa sangat menarik!”

Hal seru lainnya, fasilitas perkuliahan juga memadai. Tersedia peralatan lengkap untuk menunjang praktik perkuliahan dan tugas. Dosen mempunyai waktu luang bagi mahasiswa untuk bertanya tentang segala hal yang masih membingungkan di kelas. Mahasiswa bisa juga saling membantu. Dengan perspektif global ang dipelajari di program IP, ada banyak kesempatan belajar di seluruh dunia, serta relasi di seluruh dunia.

Selain itu, IPC juga memiliki mata kuliah yang memfokuskan ke produksi video. Mata kuliah ini berkaitan dengan produksi film yang banyak diminati belakangan ini. Terdapat juga program P2A (Passage to Asean), seminar internasional dan program lain yang menyediakan beasiswa.  Pengalaman unik ini hanya bisa didapatkan di IPC UII simpul keduanya.

Bagaimana memahami komunikasi dengan perspektif global? Mahasiswa dapat memahami fenomena internasional dengan mengacu pada jurnal-jurnal dan rujukan internasional. Meski awalnya berat, di IPC mereka memiliki ikatan yang kuat sehingga mereka sering saling membantu ketika menghadapi kesulitan yang beragam. Seperti kesulitan berbahasa, membaca jurnal Bahasa inggris, serta kesulitan akademik lainnya. “Dosen dekat denga mahasiswa, serta ada kesepakatan kelas. Itu memudahkan kami di IPC,” sambung Rasya.

———-

Penulis: Ridwan Ainurrahman, Mahasiswa Magang Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia 2016.

Penyunting: A. Pambudi W.

 

 

 

 

Reading Time: 2 minutes

In this digital era, cyberspace is increasingly crowded and massive. There is a lot of fake news circulating and it is becoming increasingly difficult to figure out which facts and opinions are. Therefore, to avoid fake news and unclear truth, students are required to think critically in finding facts. If students do not have a critical nature, it can become a time bomb and dangerous for their future.

Teatime 11th episode, entitled the theme “Bridging program” in the UII International Program Communication provided those skills to face the digital era and campus environment. This discussion presented an internal lecturer from IP Communication (IPC) UII, Mr. Ginanjar Gailea. This discussion on September 11, 2020, is very interesting because in this discussion the host will present a theme that is characteristic of the IPC program. 

This discussion program was broadcast via IPC’s Live Instagram (@ ip.communication.uii). Nadira Muthia Subhari as the host of IPC accompanied the discussion and shared information related to the Bridging Program with IPC Communication Science lecturer Mr. Ginanjar Gailea. The discussion provides an overview especially for IPC new students.

So the Department of Communication of UII opens special courses that are different from the regular communication science program called “Bridging Program”. In the bridging program, students will discuss with friends and lecturers how to become a student who can think critically. Critical thinking is a skill that helps students to distinguish between facts, opinions, and hoaxes. The Bridging Program is a special facility provided to all UII international student programs of Communication Science. This facility assists international students in preparing them to adapt to the University learning environment and assists in other subjects.

Bridging classes also try to change the student’s perspective. Usually when they are in high school, students are guided step by step in detail, now when they enter the university environment, even the lecturers only provide guidance and the rest is provided by discussions and study independently. The campus world allows lecturers to act as a bridge of knowledge, not to be central knowledge like the high school period. This paradigm must be understood by new students at IPC.

“I will encourage students to enjoy my classes. I realize that every student has a different level of intellectual capacity but that is not the main measure in my class. I want my students to be proactive and confident,” said Ginanjar Gailea.

Bridging programs can also hone the skills (Skills) of a student to be creative and critical and have excellent intuition. If students have these traits it will make students who innovate and ready to face the outside world. Mr. Ginanjar said do not hesitate if there are students who would like to consult about the IP program. “Do not build the scary side of classroom lectures, class was made fun anyway,” said Ginanjar.

What skills learned together in the bridging program? “There are various things,” said Ginanjar. “For example, we will learn together about how to become independent learners, academic writing, develop critical thinking skills, and so on,” he said. These skills will be very useful if they are well understood. According to him, it is always practiced.

He as an IP lecturer will accept students well to get better and ready to face the international world. Mr. Ginanjar hopes that when the pandemic is over, IPC communication science students are ready to come out without hesitation in facing all conditions.

————-

Author: Ibnu Mufti Sumarno, Communication Student (Batch 2016), Internship Student in Communication Science UII (International Program)

Editor: A. Pambudi W.

 

Reading Time: 2 minutes

Pada era digital ini, situasi dunia maya semakin crowded. Banyak persebaran berita palsu dan makin lama semakin sulit untuk mencari mana fakta dan opini. Maka dari itu untuk menghindari dari berita palsu dan tidak jelas kebenarannya, mahasiswa diharuskan untuk berfikir kritis dalam mencari fakta suatu informasi. Jika mahasiswa tidak memiliki sifat kritis bisa menjadi bom waktu dan berbahaya pada masa depan mereka.

Teatime episode 11 kali ini  berusaha menjawab itu. Kali ini mengangkat tema tentang “Bridging program” di International Program Komunikasi UII.  Pada diskusi ini menghadirkan dosen internal dari IP Communication (IPC) UII. Diskusi pada 11 September 2020 ini, sangat menarik karena pada diskusi ini tuan rumah akan membawakan tema yang menjadi ciri khas dari program IPC.

Acara diskusi ini disiarkan lewat Live Instagram IPC (@ip.communication.uii). Nadira Muthia Subhari selaku tuan rumah dari IPC mendampingi diskusi dan berbagi tentang informasi terkait dengan Bridging Program bersama dosen Ilmu Komunikasi IPC Mr. Ginanjar Gailea. Diskusi memberikan gambaran khususnya bagi mahasiswa baru IPC.

Maka jurusan Ilmu Komunikasi membuka mata kuliah khusus yang berbeda dengan program ilmu komunikasi regular bernama “Bridging Program”. Pada bridging program mahasiswa akan berdiskusi bersama teman dan dosen bagaimana cara menjadi seoarang mahasiswa yang dapat berfikir kritis,

Berfikir kritis merupakan keterampilan yang membantu mahasiswa untuk membedakan mana yang fakta, opini, dan hoax. Bridging Program adalah fasilitas khusus yang diberikan kepada semua program mahasiswa internasional UII. Fasilitas ini membantu mahasiswa internasional dalam mempersiapkan mereka beradaptasi di lingkungan pembelajaran Universitas dan membantu dalam mata kuliah lain.

Kelas Bridging juga berusaha mengubah cara pandang mahasiswa. Biasanya ketika masih di SMA, pelajar dipandu langkah demi langkah dengan detil, kini ketika masuk lingkungan universitas, bahkan dosen hanya memberikan panduan dan sisanya diskusi dan belajar mandiri. Dunia kampus memungkinkan dosen sebagai jembatan ilmu, bukan menjadi sentral layaknya jaman SMA. Paradigma ini yang harus dipahami oleh mahasiswa baru di IPC.

“Saya akan mendorong mahasiswa untuk menikmati kelas saya. Saya menyadari bahwa setiap mahasiswa memiliki tingkat kapasitas intelektual yang berbeda tetapi itu bukan ukuran utama di kelas saya. Saya ingin dari siswa saya adalah menjadi proaktif dan percaya diri,” kata Ginanjar Gailea.

Bridging program juga dapat mengasah keterampilan (Skill) seorang mahasiswa untuk menjadi kreatif dan kritis serta memiliki intuisi yang sangat baik, Jika mahasiswa memiliki sifat tersebut nantinya akan menjadikan mahasiswa yang berinovasi dan siap menghadapi dunia luar. Mr. Ginanjar mengatakan tidak ragu-ragu jika ada mahasiswa IP yang ingin konsultasi tentang programnya. “Tak usah membangun sisi menakutkan dari kelas kuliah, kelas saya buat menyenangkan kok,” sambung Ginanjar.

Apa saja keterampilan yang dipelajari bersama dalam bridging program? “ada macam-macam,” kata Ginanjar. “Misalanya kita akan belajar bersama tentang bagaimana menjadi pembelajar mandiri, academic writing, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan lainnya,” katanya. Keterampilan ini akan sangat berguna jika ia dipahami dengan baik dan selalu dipraktikkan menurutnya.

Ia selaku dosen IP akan menerima dengan baik agar mahasiswa tersebut dapat menjadi lebih baik dan siap dengan matang menghadapi dunia internasional. Mr. Ginanjar berharap adalah ketika pandemi selesai, mahasiswa ilmu komunikasi IPC siap untuk keluar tanpa ragu dalam menghadapi segala kondisi.

————-

Penulis: Ibnu Mufti Sumarno, Mahasiswa Komunikasi Angkatan 2016, Magang di Ilmu Komunikasi UII (International Program)

Penyunting: A. Pambudi W.