Dari Ide ke Publikasi: Strategi Riset Sistematis ala Prof. Nurhaya Muchtar

Riset dimulai dari ide sederhana, namun tak semua ide berhasil dan layak untuk dipublikasikan. Prof. Nurhaya Muchtar, akademisi dari Department of Communications Media, Indiana University of Pennsylvania, USA, menyebut bahwa banyak peneliti terjebak pada topik yang luas.

Dalam kesempatan diskusi dan mentorship yang digelar oleh Program Magister Ilmu Komunikasi UII pada 16 April 2026, Prof. Nurhaya Muchtar membagikan strategi menulis riset secara sistematis.

“Riset bukan soal tahu A–Z, tapi soal berpikir sistematis, fokus pada topik yang terukur, berkolaborasi, dan konsisten menulis hingga ide benar-benar layak dipublikasikan,” ucap Prof. Nurhaya Muchtar.

Menurutnya, riset bukanlah aktivitas individual semata, melainkan proses sosial yang melibatkan dialog panjang dan mendalam antarpeneliti. Dalam pengalamannya di komunitas World Journalism Study, ia menyebut setiap hari selalu ada perdebatan akademis yang dinamis.

“Research is social, sampai sekarang kita masih berdebat,” tambahnya.

Beberapa strategi yang ditawarkan oleh Prof. Nurhaya Muchtar agar ide atau hasil riset berhasil hingga tahap publikasi antara lain sebagai berikut:

  1. Riset Proses Sosial

Banyak peneliti beranggapan bahwa riset adalah kerja individu, padahal diskursus akademik selalu melibatkan perdebatan dan saling bertukar gagasan. Riset tidak hanya menemukan jawaban final, tetapi juga berkontribusi dalam percakapan ilmiah yang selalu berkembang. Peneliti tidak hanya fokus pada “apa yang diteliti?”, tetapi juga “so what?”, apa kontribusi dan relevansi risetnya.

  1. Fokus dan Sistematis

Menurutnya, ide selalu ada dan banyak. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan batasan agar ide tersebut fokus. Topik yang terlalu luas akan menyulitkan, topik yang terukur justru sangat mungkin dieksplorasi lebih dalam. Sehingga penting bagi peneliti ataupun akademisi menyusun alur penelitian sejak awal.

  1. Membaca dan Menemukan Arah

Skimming adalah teknik membaca cepat, ini merupakan strategi cerdas yang perlu dipertimbangkan. Membaca cepat namun tetap menangkap inti-inti gagasan. Selain skimming, perhatikan sitasi yang akan menjadi petunjuk arah selanjutnya. Dengan melihat referensi, peneliti akan memahami peta diskursus dan menemukan celah sehingga mampu memberikan kontribusi baru.

  1. Menentukan target Publikasi

Menentukan tujuan publikasi dengan cara mengenali karakter jurnal yang akan dituju. Pertimbangkan untuk memilih jurnal berintegritas dan subjek spesifik. Pemilihan jurnal yang tepat akan meningkatkan peluang naskah diterima.

  1. Kolaborasi dan Disiplin Menulis

Faktor paling penting lainnya adalah melakukan kolaborasi. Menulis bersama akan memperkaya perspektif serta menjaga konsistensi proses penelitian. Selain itu, disiplin menulis, mengatur waktu turut menjadi proses yang paling memengaruhi keberhasilan. Publikasi tak hanya soal kualitas ide, tetapi juga konsistensi dalam mengeksekusi.

Itulah beberapa strategi yang dibagikan oleh Prof. Nurhaya Muchtar, pihaknya juga menyebut bahwa riset yang kuat bukan tentang menjangkau semua hal melainkan mampu menelusuri topik secara mendalam dan bermakna. Sehingga ide sederhana tersebut menjadi karya ilmiah yang mampu memberi kontribusi nyata di dunia akademik.

Seminar Publik Prof. Nurhaya Muchtar ‘Media dan Polarisasi Dinamika Informasi di Amerika Serikat’

Amerika Serikat menjadi rujukan simbol negara dengan kebebasan pers dunia, namun di baliknya tersimpan masalah yang cukup serius seperti polarisasi, isu kepemilikan media, hingga krisis kepercayaan publik. Realita ini menjadi sorotan, kajian terbaru mengungkap sistem media di Amerika membentuk fragmentasi informasi di era digital.

Diskursus ini secara detail dibahas dalam seminar publik yang digelar oleh Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia pada 15 April 2026 di Gedung Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Bertajuk “Media dan Polarisasi Dinamika Informasi di Amerika Serikat”, diskusi ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar dari Indiana University of Pennsylvania, USA.

Diskusi dibuka dengan sejarah perkembangan media di Amerika Serikat. “Sejak awal, sejarah media Amerika identik dengan swasta (kepemilikan swasta), dekat dengan uang, bukan untuk masyarakat,” ucap Prof. Nurhaya Muchtar.

KDKA adalah stasiun radio komersial pertama di dunia yang mengudara pada tahun 1920 di Pennsylvania, Amerika Serikat. Kelahirannya menjadi sejarah awal perkembangan radio berbasis bisnis. Jika di negara lain media dikembangkan untuk publik, di Amerika media ditempatkan sebagai bagian dari industri.

Tidak ada netralitas yang diproduksi, karena kepentingan pemilik media sangat menentukan arah pemberitaan. Dinamika media terus berkembang, 1967 upaya memenuhi kebutuhan publik lewat radio edukasi melahirkan NPR dan PBS lewat kebijakan Public Broadcasting Act dan Fairness Doctrine. Kebijakan itu mewajibkan media memproduksi berbagai sudut pandang dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Perubahan besar terjadi lagi di tahun 1996, kebijakan Telecommunications Act mendorong pasar semakin kompetitif. “Melalui Fainess doctrine media wajib cover both sides, setelah diregulasi kewajiban itu hilang dan mengikuti logika pasar,” tambahnya.

Sehingga media di Amerika Serikat tak berfungsi sebagai penyeimbang, tetapi dipengaruhi oleh kepentingan pemilik dan orientasi bisnis.

Lantas, bagaimana kondisi Amerika Serikat pasca kehadiran media sosial? Derasnya informasi di era media sosial dipengaruhi oleh algoritma digital, di mana informasi yang diterima akan hadir sesuai dengan preferensi penggunanya.

“Kini bukan lagi media yang mengontrol informasi, tetapi algoritma pilihan kita sendiri yang menciptakan echo chamber,” ucapnya lagi.

Lewat studi kasus pesta politik era Donald Trump misalnya, periode 2016-2020 fokus utama adalah pengaruh kepemilikan media dan awal mula peran algoritma, media mulai bergeser dari penyedia informasi netral menjadi alat yang mempengaruhi kepentingan politik. Sementara tahun 2026 hingga sekarang lebih fokus pada krisis informasi dan dominasi algoritma, di mana media tak hanya bias tetapi masuk fase fragmentasi dan polarisasi ekstrem.

Dari fenomena di Amerika Serikat kita belajar bahwa negara maju pasti memberi pengaruh global yang besar, kebebasan pers perlu diimbangi tanggung jawab sosial, lewat literasi media dalam menghadapi derasnya informasi. Dampaknya misinformasi, disinformasi, serta deepfake membuat fakta dan manipulasi semakin kabur.

“Amerika menjadi contoh bagaimana media sangat maju dan kompleks. Kita belajar dari sana, bukan hanya meniru sepenuhnya, tapi memilih secara bijak,” tandasnya.

Wisuda

Tahap akhir penyelesaian studi pada Program Studi Ilmu Komunikasi UII mewajibkan mahasiswa menempuh Tugas Akhir (TA) yang dilaksanakan sebelum magang reguler (internship). Dengan bobot 6 sks, TA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian Indeks Prestasi Akademik (IPK) mahasiswa. Berikut 5 jalur kelulusan untuk program reguler maupun internasional.

  1. Skripsi

Mahasiswa melakukan penelitian mandiri dan menulis laporannya dalam format skripsi sesuai dengan bidang minat yang ditempuh dengan bimbingan dosen. Skripsi merupakan karya tulis ilmiah tingkat akhir kesarjanaan strata satu berupa paparan hasil kegiatan penelitian yang membahas permasalahan atau fenomena pengetahuan melalui pendekatan maupun kaidah keilmuan tertentu. Penulisan skripsi merupakan salah satu wujud pembinaan terakhir pencapaian kompetensi calon lulusan yang berkaitan dengan bidang penelitian dan analisis ilmiah sesuai bidang minatnya di program studi. Mengingat satuan kredit yang paling tinggi di antara mata kuliah lain, mahasiswa penyusun skripsi dituntut menyelesaikannya sebaik mungkin sesuai batas waktu tertentu.

  1. Proyek Karya Komunikasi

Mahasiswa mendesain dan memproduksi sebuah karya komunikasi (seperti seri foto konseptual, foto dan film dokumenter, film fiksi pendek, esai video, seri podcast konseptual, desain proyek Public Relations pada konteks spesifik, kampanye sosial, dan sebagainya) di bawah bimbingan dosen. Proyek disebut pula sebagai TA non-skripsi, merupakan aktivitas produksi karya akhir mahasiswa sebagai perwujudan konsep dan ide kreatif di bidang ilmu komunikasi berdasarkan penguasaan teori dan keterampilan praktik yang telah dipelajari. Dalam penciptaan karya, mahasiswa harus menampilkan segi keunggulan karyanya sesuai dengan dasar-dasar keilmuan komunikasi dalam bingkai bidang peminatan studinya serta dilengkapi dengan laporan tertulis. Sama halnya dengan skripsi, satuan kredit yang besar pada proyek juga menuntut tingginya kualitas karya yang dikreasi.

  1. Karya Bersama dengan Mitra Internasional

Mahasiswa dapat mengerjakan karya bersama dengan mitra internasional sebagai tugas akhir, khususnya untuk mahasiswa International Program (IP). Tugas akhir proyek kolaborasi adalah jenis tugas akhir setara skripsi yang berbasis kolaborasi atau kooperasi dengan institusi atau individu lintas negara. Tujuan utama dalam proyek kolaborasi, tidak hanya membuat proyek dengan bahasa internasional, tetapi mampu berkomunikasi, bernegosiasi dan berkolaborasi dengan individu dari lintas negara.

  1. Penulisan Artikel Ilmiah

Penulisan artikel ilmiah harus dilakukan di bawah bimbingan dosen. Artikel ilmiah yang dapat digunakan sebagai tugas akhir untuk syarat kelulusan dan diterbitkan di sebuah jurnal dengan standar minimal SINTA 4. Jalur publikasi artikel ilmiah di jurnal pada bidang ilmu komunikasi mengharuskan mahasiswa untuk menulis artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional. Melalui jalur ini, mahasiswa yang berhasil memublikasikan manuskrip di jurnal ilmiah tidak diwajibkan menulis skripsi sebagai bentuk tugas akhir.

  1. Magang yang Laporannya Setara Skripsi

Magang sebagai program kelulusan dibedakan dari magang reguler yang selama ini dilaksanakan oleh mahasiswa dengan durasi dua bulan. Magang pada jalur tugas akhir dilaksanakan selama enam bulan. Selain itu, laporan magang harus disusun secara komprehensif, tidak hanya berupa uraian deskriptif mengenai kegiatan yang telah dilakukan, tetapi juga memuat penggunaan teori serta analisis yang relevan.

Mahasiswa yang sudah mengikuti magang melalui pembelajaran di luar Program Studi tidak diizinkan untuk mengikuti jalur kelulusan melalui magang yang setara dengan skripsi.

Arah kebijakan tersebut secara jelas menetapkan standar akademik tertentu bagi TA yang akan dihasilkan. Harapan yang dituju adalah tercapainya publikasi ilmiah, maupun terwujudnya manfaat nyata bagi masyarakat, sehingga TA tidak hanya menjadi sekadar dokumen arsip di perpustakaan. Oleh karena itu, pelaksanaan TA seyogianya menghasilkan karya ilmiah yang layak diterbitkan pada jurnal ilmiah atau bentuk publikasi akademik lainnya.

Media dan Polarisasi: Dinamika Informasi di Amerika Serikat

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia menghadirkan Seminar Internasional bertajuk “Media dan Polarisasi: Dinamika Informasi di Amerika Serikat.” Kegiatan ini akan mengupas bagaimana lanskap media membentuk opini publik dan memperkuat polarisasi di era digital, khususnya dalam konteks politik di Amerika Serikat.

Menghadirkan pembicara utama, Nurhaya Muchtar dari Indiana University of Pennsylvania, seminar ini menjadi ruang diskusi akademik yang relevan bagi mahasiswa, peneliti, dan praktisi komunikasi.

Rabu, 15 April 2026
⏰ 09.00–11.30 WIB
Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo (FP & FISB UII)

Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari diskusi global tentang media dan demokrasi.

https://s.id/SeminarMediaEraDonaldTrump

Beasiswa Romania

Salah satu alumni dari Prodi Ilmu Komunikasi UII berhasil lolos beasiswa Romanian Government Scholarship (RGS) pada periode 2025 lalu. Ia adalah Maria Ulfa, alumni angkatan 2014 yang kini tengah melanjutkan studi Master of Marketing di Bucharest University of Economic Studies (ASE).

Beasiswa RGS ARICE membawanya terbang ke Romania pada akhir tahun lalu. Fokus beasiswa yang diberikan oleh Badan Investasi dan Perdagangan Luar Negeri ini berfokus pada promosi kerja sama ekonomi dan komersial, sesuai dengan latar pendidikan profesional Maria selama ini.

“Saya memilih beasiswa ini karena memberikan kesempatan untuk studi di Eropa dengan cakupan yang cukup lengkap, mulai dari biaya kuliah hingga dukungan hidup. Selain itu, saya juga melihat ini sebagai peluang untuk mendapatkan exposure internasional, baik dari segi pendidikan, karier profesional, maupun pengalaman hidup lintas budaya,” ucap Maria dalam pesan singkat.

Pencapaian ini tidaklah sederhana, sembari bekerja Maria selalu menyempatkan diri untuk mencari informasi beasiswa luar negeri yang sesuai dengan bidangnya. Akhirnya, mimpi itu terwujud pada tahun 2025.

Menyeimbangkan Karier Profesional dan Pengetahuan Akademis

Tercatat lebih dari tujuh tahun terjun di dunia profesional bidang media, Maria mantap untuk melanjutkan studinya demi mengembangkan kemampuannya. Berprofesi sebagai SEO Content Strategist sekaligus Content Writer di berbagai industri media membuatnya sadar untuk memperdalam perspektif akademis global.

“Karena sudah cukup lama di dunia profesional, saya jadi lebih tahu apa yang saya butuhkan untuk berkembang. Saya merasa ada kebutuhan untuk memperdalam perspektif bukan hanya praktis, tapi juga akademis dan global,” ucapnya.

Baginya, melanjutkan studi adalah upaya mengupgrade diri. “Saya ingin menggabungkan pengalaman profesional yang sudah saya punya dengan pengetahuan baru, supaya ke depannya bisa punya positioning yang lebih kuat, baik di industri kreatif maupun di peluang karier internasional,” tambahnya.

Tantangan dan Tips Lanjut Studi di Eropa

Beasiswa RGS ARICE tidak mensyaratkan sertifikat IELTS maupun TOEFL, sehingga awardee diwajibkan mengikuti persiapan kelas bahasa. Bagi Maria, di sinilah letak tantanganya. Bahasa Rumania tergolong kompleks karena melibatkan struktur gender dalam kosakata.

“Tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan lidah dengan tata bahasa yang cukup kompleks. Bahasa Rumania yang identik dengan penggunaan gender di dalamnya cukup sulit untuk orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan struktur tersebut,” ungkap Maria.

Selain bahasa, tantangan lain adalah cuaca di Eropa serta adaptasi terhadap ritme birokrasi dan administrasi yang benar-benar berbeda dari Indonesia. Jeda delapan tahun dari dunia pendidikan membuatnya harus beradaptasi kembali dengan ritme akademik, khususnya dalam menyerap materi di kelas. Untuk mengejar ketertinggalan, Maria mulai membiasakan diri membaca jurnal penelitian agar tetap relevan dengan isu jurusan. Baginya, pengalaman ini justru melatih resiliensi dan kemampuan adaptasi di lingkungan yang benar-benar asing.

Tips Lolos Beasiswa RGS ARICE

Karena beasiswa RGS ARICE tidak ada seleksi wawancara dan bergantung pada berkas, berikut tips yang dibagikan oleh Maria Ulfa:

  1. Koneksikan Masa Lalu dan Masa Depan: Pastikan Motivation Letter menceritakan kesinambungan antara pengalaman kerja/organisasi dengan jurusan yang dipilih.
  2. Personal Branding di CV: Gunakan format standar Eropa (Europass) dan tonjolkan pencapaian berbasis data (misal: “Berhasil meningkatkan trafik sebesar X%”).
  3. Riset Mendalam: Pahami nilai-nilai negara tujuan. Untuk beasiswa MFA, tunjukkan bagaimana studimu bisa berkontribusi pada hubungan kerja sama atau promosi budaya.
  4. Persiapan Dokumen Sejak Dini: Apostille dokumen study memakan waktu lama, jadi jangan mepet deadline. Apalagi, pendaftar RGS juga harus mencantumkan transkrip nilai SMA meskipun mengajukan permohonan jenjang S2.

Dari pengalaman dan keberhasilannya, Maria membagikan berbagai tips agar lolos beasiswa. Skill komunikasi berperan besar dalam proses yang ia lalui.

“Ilmu komunikasi sangat membantu, terutama dalam menyusun personal branding dan menyampaikan cerita diri saya dengan baik. Mulai dari menulis motivation letter, menyusun CV, semuanya butuh skill komunikasi,” ucapnya.

“Selain itu, background komunikasi juga membantu saya beradaptasi dengan lingkungan baru yang benar-benar asing bagi saya,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

The Impact of Social Media on Body Image and Self-Esteem

Body image refers to the way individuals perceive, think about, and feel about their physical appearance. It is not only about how someone actually looks but also about how they believe they look and how satisfied they feel with their body. Body image can influence a person’s confidence, self-esteem, and overall mental well-being. Moreover, several factors shape body image. These include family environment, cultural values, friends’ influence, traditional media, and personal experiences.

In recent years, social media has become one of the most influential factors affecting how people view their bodies. Platforms such as Instagram, TikTok, and other visual-based media constantly expose users to images and videos that often present highly idealized standards of beauty. As a result, social media plays an important role in shaping body image and self-esteem, especially among young people.

Social Media as a  Crucial Factor 

Social media platforms allow users to share photos, videos, and personal moments with a wide audience. While this creates opportunities for communication and creativity, it also exposes users to a large amount of appearance-focused content. Many influencers, celebrities, and even regular users post edited or carefully selected images that show a “perfect” version of themselves. Because of this, social media often promotes specific beauty standards such as slim bodies, flawless skin, or certain facial features.

When users repeatedly see these images, they may begin to compare their own appearance to what they see online. This comparison culture can influence how individuals evaluate their own bodies. In addition, the system of likes, comments, and shares can create a sense of validation based on physical appearance, making users feel that their value depends on how attractive they look in photos.

Its Negative Effects on Body Image 

The constant exposure to idealized images can negatively affect how individuals perceive themselves. When people compare their real appearance with edited or filtered images online, they may feel dissatisfied with their bodies. This dissatisfaction can lead to lower self-esteem, insecurity, and negative self-talk. For many young users, the pressure to look perfect online can also create anxiety.

They may feel the need to edit their photos, use filters, or carefully control how they present themselves to receive more likes and positive comments. Over time, this pressure can affect mental health and lead to feelings of inadequacy. Furthermore, social media can create unrealistic expectations about beauty and lifestyle. Since most users only share the best moments of their lives, it may appear that everyone else is happier, more attractive, or more successful. This distorted perception can make individuals feel less confident about themselves and their lives.

Approaching Social Media in a Healthy Way

Although social media can have negative effects, it does not mean that it must always harm body image or self-esteem. The way people use social media plays an important role in determining its impact. Developing critical awareness can help users understand that many images online are edited, filtered, or carefully staged. Recognizing this can reduce unrealistic comparisons. Another helpful approach is curating the content one follows.

Following accounts that promote body positivity, diversity, and realistic representations of people can create a healthier online environment. Limiting time spent on social media can also help reduce the pressure of constant comparison. Most importantly, individuals should focus on self-acceptance and personal well-being rather than seeking validation from online engagement. Building confidence through real-life relationships, personal achievements, and healthy habits can strengthen self-esteem and reduce vulnerability to negative social media influences.

To sum up, social media has become a powerful influence on how people perceive their bodies and evaluate their self-worth. By promoting idealized beauty standards, encouraging comparison, and linking validation to online engagement, social media can negatively affect body image and self-esteem. However, its impact depends largely on how individuals interact with these platforms.

Reference:

Abd Ali Mohammed Ali, N., Kareem Al-Juboori, A., & Mohamed Ahmed Neamah. (2024). The Impact of Social Media Use on Body Image and Self-Esteem among College Students. In Bahrain Medical Bulletin (Vol. 46, Issue 3, pp. 2305–2306). https://www.bahrainmedicalbulletin.com/September_2024/BMB-24-835.pdf Alshaikhi, O. a. M., 

Alshaikhi, S. A., AlZubaidi, H. a. A., Alzubaidi, M. a. A., Alfaqih, H. M. H., Alrezqi, A. a. A., AlRashdi, M. H. S., Alzubaidi, A. a. A., Alshaikhi, M. a. M., Ghazy, R. M., & Alshaikh, A. A. (2023). Social media effect on personal Self-Esteem among the population in Saudi Arabia. Cureus, 15(11), e49543. https://doi.org/10.7759/cureus.49543 Hu, Y. (2025). 

The impact of social media on body image. Communications in Humanities Research, 92(1), 1–5. https://doi.org/10.54254/2753-7064/2025.km28553

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Gen Z as Digital Influencers in Conflict

Generation Z, typically defined as individuals born between the late 1990s and early 2010s, has grown up in a highly digital and interconnected world. Unlike previous generations, they are deeply integrated into online environments where communication, information sharing, and social interaction happen instantly. This has led to the rise of digital activism, which refers to the use of online platforms to raise awareness, advocate for social issues, and influence public opinion. In the context of global conflicts, digital activism has become an important space where young people engage with issues such as human rights and civilian experiences.

Gen Z has emerged as a powerful group of digital influencers, capable of shaping conversations on a global scale. Through platforms such as TikTok, Instagram, and X, they share content that simplifies complex political situations and makes them more accessible to a wider audience. By using short videos, visual storytelling, and personal narratives, they are able to connect emotionally with viewers and draw attention to the realities faced by civilians in conflict areas. This form of engagement allows young people not only to consume information but also to actively participate in spreading awareness and influencing how others understand global events.

In addition to spreading information, Gen Z plays a significant role in shaping narratives around conflict. Social media platforms allow users to present events from specific perspectives, which can influence how audiences interpret and respond to those events. Through the use of hashtags, captions, and viral content, certain viewpoints gain more visibility and become dominant in online discussions. For example, during the recent escalation of the Gaza Strip conflict, hashtags such as #SaveSheikhJarrah and #GazaUnderAttack went viral across platforms like TikTok and Instagram. These hashtags were widely used by young users to highlight the experiences of Palestinian civilians and draw global attention to human rights concerns. As a result, the conflict was increasingly framed online as a humanitarian issue rather than only a political or military one, influencing how global audiences perceived the situation.

The speed and reach of these digital tools, including live streaming and algorithm-driven content, further strengthen the ability of these narratives to spread and shape public opinion in real time.

However, its influence comes with its own challenges, and one of the main risks is the rapid spread of misinformation, as content is often shared quickly without proper verification. This can lead to misunderstandings and the spread of false narratives, especially in complex conflict situations. Additionally, the visibility of online activism can expose individuals to risks such as surveillance, censorship, and harassment. In some cases, governments or other actors may monitor digital activities, creating potential dangers for those who speak out. Another concern is performative activism, where individuals engage with issues only on a surface level, such as sharing posts without a deeper understanding or meaningful action. This can reduce the overall impact of digital movements and oversimplify serious issues.

In conclusion, Generation Z has become a significant force in shaping how conflicts and human rights issues are discussed in the digital age. Through their use of social media, they spread information, influence narratives, and bring global attention to important issues. At the same time, their digital presence also highlights the challenges of online activism, including misinformation and potential risks for participants. This shows that while digital platforms provide powerful tools for awareness and engagement, they also require careful and responsible use.

Reference:

Bukhari, S. R. H. (2025, November 28). DIGITAL ACTIVISM OF GENERATION Z: THE ROLE OF SOCIAL MEDIA PLATFORMS IN YOUTH LED POLITICAL MOVEMENTS AND GOVERNMENT CHANGE.

http://www.pjssrjournal.com/index.php/Journal/article/view/326

Guesmi, H. (2021b, May 28). Generation Z will free Palestine. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/opinions/2021/5/28/generation-z-will-free-palestine

Sombatpoonsiri, J. (2025, September 30). The promises and pitfalls of the social Media–Fueled Gen-Z protests across Asia. Carnegie Endowment for International Peace. https://carnegieendowment.org/emissary/2025/09/social-media-gen-z-protests-nepal-indonesia-promises-pitfalls?lang=en

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Buku ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ Demokrasi tidak Sekedar Pemilu saja!

Buku berjudul ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ sempat ramai di berbagai platform digital lantaran substansinya yang penuh kritik tajam berbasis data hasil penelusuran empat jurnalis lintas generasi. Empat jurnalis itu adalah Farid Gaban (mewakili Baby Boomer), Dandhy (mewakili Generasi X), Yusuf Priambodo (mewakili Milenial), serta Benaya Harobu (mewakili Gen Z).

Singkatnya, buku ini adalah ekspedisi jurnalistik mulai dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa tahun 2009, Indonesia Biru tahun 2015, dan Ekspedisi Indonesia Baru tahun 2022-2023. Semua didokumentasikan dalam 12 terabyte video dan 80.000 foto. Ketidakadilan soal atas lahan menjadi isu yang dikuliti pada buku ini. Namun, yang tak kalah menarik adalah salah satu bab yang menyoal pesta demokrasi.

Dosen Ilmu Komunikasi UII, Khumaid Akhyat Sulkhan menyebut, pemaknaan demokrasi tak sebatas pesta lima tahunan. Demokrasi tak sekedar memutuskan pilihan di bilik suara. Lebih luas, demokrasi adalah partisipasi bermakna yang menentukan kebijakan.

“Seolah-olah inti demokrasi hanya terletak pada bilik suara. Namun, pandangan ini menyederhanakan makna demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi bukan sekadar memilih, melainkan partisipasi bermakna warga dalam menentukan arah kebijakan publik,” ucapnya, menjelaskan buku Reset Indonesia.

Bab ini memberikan gambaran soal fenomena golput (golongan putih) yang datang dari kekecewaan terhadap Orde Baru kala itu. Golput menjadi bentuk protes politik karena pemilu tidak memberikan ruang partisipasi sejati. Pemilu hanyalah seremoni, sementara kritik dan keterlibatan masyarakat di luar pemilu lebih sering ditekan. Sederhananya, pemilu hanyalah prosedur formal yang tidak substansial.

“Pemilu itu adalah pesta demokrasi, padahal demokrasi itu ya harus ada dalam hidupan kita sehari-hari dan itu harus ada bahkan dari level desa,” tambahnya.

Sejatinya, untuk mencapai demokrasi yang berkualitas, ada empat komponen yang mesti terpenuhi. Pertama, partisipasi aktif masyarakat atau participatory democracy, tak hanya mencoblos, masyarakat terlibat dalam perumusan kebijakan untuk tingkat desa hingga nasional.

Kedua, musyawarah atau deliberative democracy, idealnya pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah yang terbuka dan saling menghormati, bukan voting dan pemenangan suara mayoritas. Selanjutnya, kesetaraan atau egalitarian democracy yakni distribusi kekuasaan yang adil untuk semua kelompok sosial tanpa adanya diskriminasi berbasis ekonomi, gender, ras, etnis, maupun kondisi fisik. Terakhir, kebebasan dan supremasi hukum atau liberal democracy, dalam demokrasi, perlindungan hak sipil, kebebasan berekspresi, peradilan yang independen harus dijamin oleh negara. Konstitusi semestinya menjamin hak publik dalam menyampaikan kritik. Artinya, pemilu bukanlah satu-satunya instrumen demokrasi. Demokrasi berkelanjutan dibangun lewat keterlibatan, dialog inklusif, dan penghormatan terhadap hukum dan kebebasan sipil.

 

 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Pengumuman

Pengumuman: Pembaruan Daftar Mahasiswa Bimbingan

Telah dilakukan pembaruan daftar mahasiswa bimbingan dosen Sumekar Tanjung pada Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII). Mahasiswa yang berada di bawah bimbingan beliau diharapkan untuk memeriksa daftar terbaru guna memastikan status bimbingannya.

Apabila terdapat pertanyaan atau ketidaksesuaian data, silakan segera menghubungi pihak program studi untuk klarifikasi lebih lanjut.

Selengkapnya klik link berikut: update_daftar-mahasiswa-bimbingan-103210404_sumekar tanjung

How Ramadan Unites Muslims Around the World

Ramadan is the ninth month of the Islamic lunar calendar and is considered one of the most sacred times for Muslims. It is a month dedicated to fasting, prayer, reflection, and good deeds. During this time, Muslims fast from dawn until sunset, refraining from food and drink while focusing on strengthening their relationship with Allah and improving their character. Beyond its religious significance, Ramadan also fosters a powerful sense of unity among Muslims worldwide. Even though Muslims live in different countries, cultures, and societies, the shared practices and values of Ramadan bring them together in a unique way.

One of the most remarkable aspects of Ramadan is how Muslims around the world follow the same core practices. From Indonesia to Yemen, from Turkey to Australia, millions of Muslims fast during the same month and break their fast at sunset. Families and communities gather for iftar, the evening meal that marks the end of the daily fast, creating moments of connection and gratitude.

Another important practice is the nightly Taraweeh prayers performed in mosques during Ramadan. These prayers bring people together in large jma’ah, strengthening the feeling of belonging to a larger global community. Even when Muslims are far from their home countries, they can still find comfort in knowing that others around the world are observing the same rituals at the same time.

The Impact of Ramadan on Muslims

Ramadan has a deep impact on Muslims both spiritually and socially. Spiritually, fasting teaches patience, self-discipline, and gratitude. By experiencing hunger and thirst, Muslims are reminded of the struggles faced by people who live in poverty, which encourages empathy and compassion.

Socially, Ramadan encourages generosity and kindness. Many people donate to charity, share meals with neighbors, and support those in need. Communities often organize charity drives and communal iftars, helping to strengthen relationships and promote social solidarity. Because millions of Muslims participate in these acts of worship and kindness simultaneously, the month creates a powerful atmosphere of unity and shared purpose.

Lessons from the Unity of Ramadan

The unity seen during Ramadan offers important lessons for Muslims and society in general. One key lesson is the importance of compassion and generosity. The spirit of helping others during Ramadan reminds people that communities become stronger when individuals care for one another.

Another lesson is the value of collective identity. Despite differences in language, culture, and nationality, Muslims come together through shared beliefs and practices. This demonstrates how common values can unite people across borders. Moreover, Ramadan highlights the importance of reflection and personal growth. It encourages individuals to improve their behavior, strengthen relationships, and focus on what truly matters in life.

In conclusion, Ramadan is not only a month of fasting and worship but also a powerful symbol of unity for Muslims around the world. Through shared practices such as fasting, communal prayers, and charity, Muslims develop a strong sense of belonging to a global community. The lessons of compassion, generosity, and unity that emerge during Ramadan serve as reminders of the values that can bring people together beyond cultural and geographical boundaries

Reference 

Kabir, R., & Rabby, F. (2025). Factors affecting social bonding at Ramadan in the Muslim community: a cross-sectional study. Journal of Islamic and Social Studies (JISS), 122–139. https://doi.org/10.30762/jiss.v3i2.3319

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita