2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025

Flashback Moment, Mareta Zahra Kartika merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) yang turut menjadi tim voli putri pada kompetisi 2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025 di Universitas Teknologi Petronas, Malaysia pada 21-24 Agustus 2025.

Ia dan tim berhasil pulang dengan gelar 1st Runner Up atau juara dua tingkat internasional setelah bertemu tim Filipina di babak final. Berlangsung cukup dramatis, kegagalan merebut posisi pertama kandas dengan skor tipis 27-28.

“Meskipun akhirnya kami kalah di final karena peraturan, pertandingan berlangsung sangat ketat dengan skor 27-28 sehingga menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” ucap Mareta, mahasiswi Ilmu Komunikasi UII angkatan 2023.

Dalam ingatannya, dalam pertandingan final itu tim voli putri UII menghadapi lawan yang memiliki kualitas permainan sangat mumpuni, baik dalam kemampuan individu maupun kerja tim. Meski demikian, baginya inilah tantangan yang memang harus dihadapi pada kompetisi internasional.

“Tantangan terbesar yang kami alami adalah menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas permainan yang sangat baik dan pengalaman internasional yang cukup tinggi. Pada babak final kami bertemu tim dari Filipina yang memiliki kemampuan individu dan kerja sama tim yang kuat,” tambahnya.

Untuk menghadapi pertandingan ini, persiapan matang telah dilakukan, salah satunya dengan menambah porsi latihan fisik secara mandiri maupun latihan bersama tim. Tujuannya tentu untuk memperkuat kekompakan dan kepercayaan diri tim.

“Kami melakukan persiapan latihan kekompakan tim secara rutin dan latihan tambahan dari diri sendiri seperti menambah porsi latihan fisik dan lebih sering memegang bola. Selain itu, membentuk rasa kepercayaan diri dan kekompakan dalam tim sangatlah penting di sebuah pertandingan yang besar, apalagi bertemu dengan beberapa negara,” ujarnya.

Mareta juga membagikan bagaimana strateginya dalam manajemen waktu antara kesibukan akademik di kampus dan persiapan pertandingan-pertandingan yang akan diikutinya. Ia menegaskan bahwa kuliah adalah tugas utama yang wajib ia selesaikan dan menjadi prioritas utama.

“Saya berusaha membuat jadwal yang teratur antara kuliah dan latihan, apalagi pada saat itu menjelang UAS. Prioritas saya tetap menyelesaikan tugas dan kewajiban akademik terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan waktu luang untuk latihan. Saya juga mengatur waktu istirahat agar kondisi fisik tetap terjaga. Dukungan dari teman satu tim dan dosen juga sangat membantu sehingga saya bisa menjalankan keduanya dengan baik,” ungkap Mareta.

Bertanding di Malaysia kala itu adalah pengalaman berharga. Selain berjuang untuk membawa nama baik almamater, Mareta menyebutnya sebagai pengalaman pengembangan diri.

“Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah untuk mengembangkan kemampuan diri, menambah pengalaman bertanding di tingkat internasional, serta membawa nama baik Universitas Islam Indonesia dan Indonesia. Selain itu, saya ingin menguji hasil latihan yang selama ini dilakukan dan mendapatkan kesempatan untuk bertemu serta belajar dari atlet-atlet mahasiswa dari negara lain,” tandasnya.

Wawancara dengan Alumni Ilmu Komunikasi UII yang Meliput Piala Dunia 2026: "Ini adalah Mimpi Masa Kecil Saya"

Sepanjang momen semi final hingga final Piala Dunia 2026 ada sosok alumni Ilmu Komunikasi angkatan 2006 yang turut meliput kemeriahan sepak bola paling ditunggu warga dunia. Ia adalah Rifqi Widianto yang telah bergabung dengan media Detik Sport selama 13 tahun. Ada pengalaman yang mengharukan saat ia menginjakkan kaki di Mercedes-Benz Stadium, ia memang tak menggapai mimpinya menjadi pemain sepak bola tapi mimpi masa kecil itu begitu dekat saat ia berada di Atlanta, Georgia, US. “Sangat-sangat dekat dengan mimpi itu, saya merinding,” ujarnya.

Kunjuangannya ke Mercedes-Benz Stadium hingga MetLife Stadium tidak terwujud dalam semalam. Sebelum mendapat kesempatan meliput ajang sepak bola paling bergengsi ini, ia melewati serangkaian proses yang tak sederhana seperti akreditasi ke PSSI dan FIFA. Sebelumnya ia gagal meliput Piala Eropa 2020 karena pandemi Covid-19. Rifqi juga mengaku, bekal paling berharga dalam dinamika kerja jurnalis justru didapatkannya saat bergabung sebagai volunteer saat erupsi Gunung Merapi 2010 “Jalin Merapi”, kerja sama Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan RRI. “Di situ saya dapat gambaran jelas bagaimana menjadi jurnalis, itu bekal sebelum memasuki dunia kerja,” ungkapnya.

Selama 10 hari di Amerika, Rifqi merasakan sendiri bahwa meliput Piala Dunia bukanlah ajang menonton pertandingan gratis. Ada tanggung jawab besar pada media tempat ia bekerja, sponsor, hingga antrean panjang 3 jam sebelum masuk stadion. Mengambil keputusan tepat dan cepat harus ia lakukan, terlebih lagi di tengah keramaian yang membuatnya sulit mengirim bahan berita ke Indonesia karena sinyal yang tak stabil. Tim Publicist berkesempatan mendapat cerita langsung dari Rifqi Widianto. Berikut wawancara yang penuh insight yang layak dibaca oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Wawancara dengan Rifqi Widianto, Alumni Ilmu Komunikasi UII yang Meliput Piala Dunia 2026

  1. Apa saja persiapan sebelum berangkat ke AS?

Karena ini pertama kali ke Amerika, saya harus mapping kota mana yang saya tuju, aksesnya bagaimana, naik apa, seberapa jauh. Juga mapping lokasi transportasi. Untuk makan, karena di sini Muslim minoritas, saya harus mencari makanan yang aman secara agama. Untuk urusan visa, wawancara tidak sampai lima menit. Mereka mengantisipasi agar tidak ada kemungkinan imigran gelap. Saya pegang surat dari FIFA. Itu memperkuat posisi tawar. Apalagi, saya sudah 13 tahun di perusahaan. Aman ketika di imigrasi mereka sudah lihat suratnya.

  1. Apa tantangan terbesar yang Mas Rifqi hadapi saat meliput?

Pertama, transportasi. Di AS, semuanya mahal. Untuk menuju dari satu lokasi ke lokasi lain, naik bus atau kereta beberapa kali, dan bisa tiba-tiba tidak beroperasi. Kami harus antisipasi hal-hal tak terduga dengan lebih awal dan gerak cepat ambil keputusan. Kedua, di tempat kerumunan besar seperti Times Square, ngirim gambar dan video susah banget. Sinyal ada, tapi somehow susah kirim. Jalan banyak ditutup, ada demo juga, jadi agak chaos. Ketiga, cuaca summer di sini sangat ekstrem. Padahal panas, tiba-tiba hujan badai lebat dan udara dingin. Kita harus menjaga kondisi tubuh dan mengambil keputusan cepat.

  1. Bagaimana pengalaman masuk stadion?

Untuk masuk stadion, saya sudah datang jam 10 pagi, padahal pertandingan jam 3 sore. Antreannya 3 jam karena pemeriksaan yang sangat ketat. Apalagi saat itu ada Donald Trump. Kami pakai shuttle dengan jalur khusus, tapi tetap harus ngantre. Jadi, mau tidak mau, kami harus memilih mau ngantre dulu atau ngonten di luar.

  1. Momen apa yang paling berkesan selama bertugas?

Secara umum, ini emosional. Relate dengan mimpi masa kecil, saya dulu bercita-cita jadi pesepak bola. Waktu pertama kali masuk Stadion Atlanta, saya merinding. Walaupun saya tidak menjadi pemain bola, tapi bisa sampai di titik itu, itu sangat-sangat dekat dengan mimpi saya. Saya terharu. Menyenangkan, karena saya bertemu kultur baru, bertemu karakter baru, kenalan baru. Ini membuat saya lebih rendah hati.

  1. Stadion mana yang paling berkesan?

Atlanta. Stadionnya bagus, tertutup, dan saya bisa menikmati suasana. Atlanta vibes-nya kayak Jogja. Orang-orang ramah, tiba-tiba menyapa. Kendaraan juga lebih santai. New York itu kayak Jakarta, padat, ramai, dan banyak bertemu karakter yang berbeda-beda.

  1. Apa yang tidak diketahui publik tentang pekerjaan wartawan di ajang sebesar Piala Dunia?

Mungkin bahwa kerja jurnalis tidak melulu soal hal-hal yang menyangkut idealisme. Kita akan berkaitan dengan sponsor. Kita punya tanggung jawab ke sponsor, jadi secara mekanisme liputan tidak sebebas itu. Kalau ada liputan yang berkaitan dengan sponsor, kita tidak bisa memasukkan liputan pertandingan.

  1. Bekal apa dari kuliah Ilmu Komunikasi UII yang paling terasa manfaatnya?

Waktu kuliah, yang paling berasa adalah ketika Merapi 2010. Mas Muzayin dari Ilkom bekerja sama dengan RRI buka relawan. Saya ikut dengan beberapa teman. Justru di situ saya mendapat gambaran jelas tentang bagaimana menjadi jurnalis. Dari situ saya tertarik dan semakin mendalami dunia kewartawanan. Itu bekal sebelum memasuki dunia kerja. Waktu kuliah editing berita, saya belajar menulis secara efektif dan efisien.

  1. Bagaimana jurnalisme olahraga berubah di era media digital dan AI?

Kami beradaptasi dengan AI untuk kebutuhan riset. Sekarang sistem kami sudah punya AI untuk merangkum teks, jadi pembaca tidak perlu mengklik lagi untuk membaca full. AI ini dua mata pisau di satu sisi menguntungkan karena akses pembaca lebih mudah di sisi lain, bisa jadi ancaman karena pembaca mulai malas membaca full teks. Mereka mulai bermigrasi ke media sosial.

  1. Tiga kata untuk menggambarkan Piala Dunia 2026?

Mimpi, haru, memorable.

  1. Apa tantangan emosional terbesar?

Semua liputan menegangkan. Tapi yang ini beda. Saya jauh dari anak dan istri. Ada hal yang lebih menyeramkan daripada liputan: jarak dari keluarga.

Dari meliput Piala Dunia 2026, Rifqi pulang tak sekadar membawa file berita. Ia membawa pelajaran tentang ketangguhan, rendah hati, dan arti sebuah perjalanan yang begitu dinamis.

Kalfest Hub Seri #9 X Festival Film Santri: Hadirkan Enam Film dari Perspektif Pesantren

Kaliurang Festival Hub seri ke-9 berkolaborasi dengan Festival Film Santri (FFS) telah terselenggara pada 16 Juli 2026. Perjumpaan dua festival ini menjadi ruang bagi para penikmat film untuk melihat dan mendengar suara-suara dari perspektif santri. Screening dilakukan di Ruang Audio Visual Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan menayangkan enam film.

Enam yang ditayangkan meliputi tiga karya santri dan tiga dari kategori umum. Film-film tersebut antara lain Saling Silang Sandal – Yazid Azhari (Pesantren Sukorejo, Situbondo) yang mengungkap bagaimana kebiasaan yang dianggap lumrah, istilahnya ghosob, fenomena santri terpaksa memakai sandal milik teman demi mobilitas cepat.

Selanjutnya ada Akar Pohon – Husni Fatihin (Pesantren Sidogiri, Pasuruan) yang bercerita soal sikap tawadhu seorang santri terhadap wasiat almarhum ibunya untuk kembali ke kampung dan mengabdikan diri di jalur pengajaran.

Film ketiga adalah Gazeboan – Tiara Navisa (Sinematake SMK Subbanul Waton, Magelang). Tak kalah unik, Gazeboan hadir di bulan Ramadan: bagaimana para santri melakukan “war takjil” di selasar pesantren. Hasilnya, banyak suara yang layak untuk direfleksikan.

Tiga film lainnya adalah KAR Kar – Shohipul Ma’ruf (Team Creative Multimedia), Baku Percaya – Raynton Rare’a (Komunitas Tidak Production), dan Kita Gali Sampai Mati – Labib Pratama (Moro-moro Production) yang digarap secara profesional dengan nilai-nilai akulturasi yang sangat detail.

Seri ke-9 ini, selain melakukan screening enam film, juga dilanjutkan dengan Movie Talk, sebuah diskusi dari punggawa FFS bersama penonton yang menghadirkan Agus Sam (Direktur FFS) serta Yogi Ishabib (Direktur Program FFS).

Agus Sam menyebut bahwa awal mula inisiasi pembentukan FFS terjadi karena ia memiliki kedekatan dengan pesantren. Harapannya, dengan film, keresahan dan suara santri mendapat ruang di hadapan publik.

“Ide ini berangkat dari kedekatan dengan pesantren. Kami resah, tapi juga melihat ruang baru. Film bukan untuk menggurui, itu membosankan. Kami menawarkan festival kepada pesantren dan kami rumuskan agar festival ini tidak hilang dalam 1-2 tahun. Dengan film maka bersilaturahmi dengan pesantren,” ucapnya.

Senada dengan rekannya, Yogi Ishabib menyebut bahwa di Surabaya, tempat lahirnya FFS, banyak festival tak berumur panjang. Dengan jejaring yang dimiliki, ia ingin melibatkan langsung para santri agar festival terus bertahan.

“Kami punya jejaring dan production house, tapi festival film di Surabaya tak berumur panjang. Covid mengubah lanskapnya. Maka di FFS 2023, kami menghadirkan kuratorial yang tidak ujug-ujug kami mendekati dulu. Karena santri di pesantren tak boleh pegang HP, komunikasi terbatas,” ungkap Yogi Ishabib.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, yang turut hadir menyampaikan apresiasinya. Baginya, perspektif dari santri turut menjadi dinamika keriuhan yang layak untuk didengar.

“Menggandeng mitra luar biasa, film menjadi ruang perjumpaan gagasan, bukan sekadar tontonan, melainkan wadah di mana suara-suara kami menjadi bagian dari dinamika keriuhan yang layak didengar.” Tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Kalfest Hub Seri #9 ‘Mendekatkan Sinema, Merayakan Suara Santri’ Hadirkan Ruang Dialog antara Film dan Pesantren

Tak sekadar menjadi medium hiburan, film juga menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif. Gelaran Kaliurang Festival Hub Seri 9 kali ini mengambil tema “Mendekatkan Sinema, Merayakan Suara Santri” dan menggandeng Festival Film Santri (FFS) sebagai kolaborator pada 16 Juli 2026 di Ruang Audio Visual Ilmu Komunikasi UII.

Diawali dengan screening enam film yang telah dikurasi FFS, antara lain Saling Silang garapan Yazid Azhari, Akar Pohon karya Husni Fatihin, Gazeboan dari Tiara Navisa, Kita Gali Sampai Mati karya Labib Pratama, Baku Percaya karya Raynton Rare’a, dan Kar yang digarap oleh Shohipul Ma’ruf.

Usai screening, dilanjutkan diskusi Movie Talk dengan menghadirkan Agus Sam dan Yogi Ishabib selaku Direktur serta Direktur Program FFS. Dipandu oleh dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Herman Felani, Movie Talk kali ini menjabarkan bagaimana proses membangun dan mempertahankan FFS.

Menurut Yogi Ishabib, FFS lahir dari proses panjang membangun ekosistem perfilman di lingkungan pesantren. Bukan soal menghasilkan karya, melainkan membangun keberlanjutan yang melibatkan santri di seluruh proses kreatif.

“Santri tidak hanya menjadi objek dalam film, tetapi juga perlu menjadi kurator dan produser yang menceritakan pengalaman mereka,” ucap Yogi Ishabib.

FFS memiliki dua kategori, yakni kategori santri dan remaja serta kategori umum. Yogi menambahkan bahwa tahun ini melibatkan tiga santri dalam proses kurasi film di FFS. Keterlibatan santri menjadi peran krusial dari perspektif khas kehidupan pesantren.

“Kemampuan teknis dapat dipelajari, tetapi pengalaman hidup dari santri menghadirkan sudut pandang autentik dan berbeda,” tambahnya.

Dalam praktik lapangan, produksi film di pesantren memiliki dinamika yang unik. Keterbatasan alat komunikasi membuat prosesnya berjalan lewat struktur pengasuhan di pesantren. Meski demikian, beberapa pesantren kita telah menginisiasi pembentukan tim media, sehingga beberapa santri terbiasa mengoperasikan kamera dan perangkat produksi audiovisual.

Agus Sam, sebagai Direktur, berharap FFS menjadi ruang baru bagi santri untuk menyampaikan keresahan lewat film. Baginya, festival tidak boleh berhenti hanya sebagai ajang pemutaran karya, melainkan menjadi tempat belajar yang berkelanjutan.

“FFS ini tidak sekadar perayaan film, tetapi proses belajar agar santri dan pesantren memiliki ruang untuk menyampaikan perspektifnya kepada publik,” ungkap Agus Sam.

Sebelum festival berlangsung, Agus Sam dan tim melakukan berbagai pendampingan dan pengembangan kapasitas kepada para santri yang disebut program pra-festival, yakni workshop pengembangan ide, produksi film, hingga kuratorial.

“Pendekatan ini dimulai dengan menggali persoalan yang benar-benar dirasakan santri di masing-masing pesantren. Agar karya yang dihasilkan berangkat dari pengalaman nyata mereka,” tambahnya.

Agus juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi dengan para pengasuh pesantren. Menurutnya, dukungan pengasuh menjadi fondasi penting agar media digital dapat berkembang sebagai ruang dakwah dan ekspresi tanpa menghilangkan identitas pesantren.

Ke depan, Festival Film Santri berharap mampu melibatkan lebih banyak santri tidak hanya sebagai pembuat film, tetapi juga sebagai kurator, fasilitator, hingga koordinator di berbagai wilayah. Dengan demikian, ekosistem perfilman di pesantren dapat terus tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Melalui Movie Talk ini, kolaborasi antara UII dan Festival Film Santri menunjukkan bahwa sinema dapat menjadi medium yang menjembatani dunia akademik, komunitas kreatif, dan pesantren. Lebih dari sekadar memutar film, kegiatan ini membuka ruang dialog yang memungkinkan santri menyampaikan pengalaman, keresahan, dan gagasan mereka kepada publik melalui bahasa sinema.

https://festivalfilmsantri.org/

2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025

Flashback Moment, mahasiswa Ilmu Komunikasi UII berhasil membawa pulang emas dalam kompetisi 2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025. Ia adalah Muhammad Dzaky Naufal, mahasiswa angkatan 2024 yang juga atlet voli tim UII.

Pada tanggal 21–25 Agustus 2025, ia dan tim UII bertandang ke Universitas Teknologi Petronas, Malaysia, untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional dan bertemu tim dari berbagai negara ASEAN. Melalui perjuangan panjang, akhirnya tim voli putra UII berhasil menjadi juara 1.

Dzaky menyebut bahwa ia dan tim membutuhkan waktu sekitar lima bulan latihan intensif untuk menyiapkan pertandingan ini. Usaha tak mengkhianati hasil; mereka pulang membawa prestasi yang membanggakan.

“Strategi yang pastinya rajin berlatih kita mulai Maret 2025 sudah persiapan itu yang membuat kami matang bisa mendapat juara 1,” ucap Muhammad Dzaky Naufal.

Bertanding tingkat internasional bukan perkara sederhana, bagi Dzaki dan tim yang bertemu tim dari Filipina dan Malaysia butuh kematangan persiapan baik fisik maupun mental.

“Tantangan yang pasti dari diri sendiri, mental, karena pertama kalinya melawan dari luar negeri, dari Filipina dan Malaysia, tentunya itu tekanan serta bagaimana kita mengantisipasinya,” tambahnya.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang super padat di kelas maupun di proyek-proyek lapangan, kondisi ini membuatnya harus bijak menentukan prioritas.

“Sangat susah jawabannya jujur, harus benar-benar tahu kondisi bagaimana mengaturnya kalau saya sendiri dengan pakai prinsip bagaimanapun harus kuliah, setelah kuliah selesai langsung latihan karena ya itu kewajiban,” jawabnya.

Dari Indonesia ke Malaysia dengan berbagai usaha maksimal, Dzaki memiliki ambisi besar untuk memenangkan pertandingan. Ia dan tim telah mengorbankan waktu dan tenaga, hingga mendapat dukungan dari pihak universitas sehingga harus tampil maksimal dalam lag aitu.

“Motivasinya sudah jauh-jauh harus diambil juaranya, jangan sampai engga, itu yang bikin adrenalin di diri saya meningkat supaya jadi juara dan lebih baik.” Tandasnya.

Joint Book Workshop by the Department of Communications and SCIMPA UUM

The eight-year collaboration between the Department of Communications at Universitas Islam Indonesia (UII) and the School of Creative Industry Management and Performing Arts (SCIMPA) at Universiti Utara Malaysia (UUM) has opened up a wide range of opportunities.

On 8 July 2026, a “Joint Book Workshop” was held at the Department of Communications building at UII. This meeting combined the academic rigour and creative elements of the two institutions from Indonesia and Malaysia. The session featured in-depth discussions exploring the most relevant possibilities, ranging from developing initial concepts through to the final book production plan.

The aim of this workshop was to clearly outline the publication process arising from international mobility activities, with a focus on the intersection between Communication Studies and Performing Arts. Some of the processes highlighted in the discussion included subject development, publication formats, audience engagement, and book production.

The Head of the Department of Communications at UII, Dr Zaki Habibi, emphasised the value of this workshop, describing it as a reflection and a contribution that makes a real impact.

“This workshop is not the final destination; its true value is reflected when participants continue to contribute through research, creative works and impactful publications. We move from workshop to workshop, focusing on conflict and transformation, and creative management. It is not just about learning a skill; it is about contributing to a body of knowledge that transforms conflicts and creates features that matter to the community,” he said in his opening remarks at the workshop.

One of the highlights of this session was the approach to nurturing relationships between institutions, with senior lecturers revealing the strategies behind sustainable collaboration. Starting with the international mobility programme, a strong foundation was found to lie in the consistent maintenance of trust, clear communication, and the integration of dynamic creative perspectives.

UUM senior lecturer Mohammad Amir Bin Abu Seman, who initiated the partnership from the outset, noted that academic mobility is merely the starting point; the real success lies in building meaningful and impactful collaboration. It is hoped that this collaborative book will also reveal the keys to the sustained success of the two institutions.

“Academic mobility is only the starting point. The real success lies in building sustainable collaboration that transcends borders and leads to meaningful publications with lasting impact. We have maintained programmes such as SCIMPA and UII for eight years, not by focusing on the business side of things, but by focusing on the relationship. The secret lies in openly sharing our approach so that others can replicate it, thereby establishing a network that transcends individual institutions,” he added.

The Dean of SCIMPA, Dr Ahmad Hisham Bin Zainal Abidin, also noted that whilst this workshop highlights diversity, the hope is that the resulting book will capture the voices of various stakeholders, ranging from students involved in international mobility, supervising lecturers, and staff from both countries.

“Our experience is not limited to just Indonesia and Malaysia. We must also include international students and staff from other countries to enrich our perspective. This workshop serves as a platform to capture these diverse voices. We aim to produce a more casual, coffee-table-style publication that documents these exchanges, using photos and archives not just for record-keeping, but also as a form of soft promotion for our collaborative spirit,” he concluded.

Following the discussion, workshop participants were divided into four teams, each discussing and deciding on a topic for an article to be developed collaboratively. The discussion concluded with presentations. It is hoped that this book will soon be finalised and published so that it can have an impact on its audience.

International Seminar: Navigating the (Uncertain) Future: How Digital Media Helps Humanity Address Environmental Challenges

The Department of Communications at Universitas Islam Indonesia (UII) is collaborating with the School of Creative Industry Management and Performing Arts (SCIMPA) at Universiti Utara Malaysia (UUM) to organise an international seminar on the theme “Navigating the (Uncertain) Future: How Digital Media Helps Humanity Address Environmental Challenges” on 9 July 2026 on the 3rd floor of the Soekiman Wirdjosandjojo Building at UII.

This seminar serves as a forum bringing together academics and students to explore how digital media can foster environmental awareness, inspire collective action, and respond to the complex challenges of the global climate crisis.

This event also marks the eighth year of the ongoing collaboration between the Department of Communications at UII and SCIMPA at UUM. It is hoped that, in addition to academic exchange, this collaboration will also strengthen research, student mobility, and international engagement for both parties.

The two speakers in this session were Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D, from the Department of Communications at UII, who presented a paper entitled “Navigating an Uncertain Future, From Information to Collective Action: Digital Media Activism for Environmental Sustainability in Indonesia”. In his presentation, he explained that environmental issues are not merely ecological challenges but also communication challenges. Using case studies from the Pandawara Group and Mongabay Indonesia, he demonstrated how digital media can transform information into collective action by combining narrative, public participation, and data journalism. He emphasised that public awareness, coupled with sustained collaboration, is key to achieving meaningful environmental change.

The second presentation was delivered by Dr Syamsul Hirdi Bin Muhid from SCIMPA UUM, entitled “The Dynamics of Creative Destruction: Navigating Environmental Crises in the Malaysian Entertainment Industry from an Economic Perspective”. His study examined the environmental implications of the transition in the entertainment industry (from physical media to digital streaming platforms). Although digitalisation reduces reliance on physical materials, it turns out that digital streaming actually increases energy consumption through data centres and digital infrastructure. He urged relevant policymakers, industry practitioners, and academics to develop innovations that integrate technology and renewable energy.

The international seminar was attended by the Dean of the Faculty of Social and Cultural Sciences at UII, Irawan Jati, Ph.D., who emphasised that the seminar’s theme addresses one of the most pressing issues in today’s global context.

“This topic is highly relevant to today’s global challenges. Climate change reminds us that we are all vulnerable, and digital media has become an important platform for transforming environmental knowledge into collective action,” he said.

He also noted that the collaboration between the two institutions would strengthen their commitment and create opportunities for broader interdisciplinary cooperation.

Meanwhile, the Head of the Department of Communications at UII stated that, in the eighth year of this collaboration, the hope is to combine research strengths and disseminate information to the public in order to tackle contemporary issues.

“This year marks our eighth year of collaboration with Universiti Utara Malaysia. Although new global challenges continue to emerge, our objective remains the same: to combine our strengths in research and public dissemination to address contemporary issues,” he explained.

He also highlighted the importance of equipping the younger generation to cope with global uncertainty.

“Anxiety has become one of the defining challenges for Generation Z. Political uncertainty, global conflicts and climate change continue to shape their lives. Rather than asking who created these problems, we should focus on becoming part of the solution,” he added.

A representative of the Dean of SCIMPA at UUM, Dr Ahmad Hisham Bin Zainal Abidin, expressed his appreciation for the ongoing partnership. “We highly value the friendship that has grown through this partnership. Beyond student mobility, our collaboration continues to strengthen research, academic exchange and international engagement between our institutions,” he said.

He added that the seminar illustrates how international partnerships can generate meaningful academic impact.

“Today’s seminar demonstrates how international partnerships create meaningful opportunities for our institutions. By working together, we can move towards the future with greater confidence,” he emphasised.

The seminar concluded with an interactive discussion on the role of communication, digital media, and international collaboration in addressing environmental challenges. Building on seven years of partnership, UII and UUM reaffirmed their commitment to expanding collaborative initiatives in education, research, and academic mobility, whilst preparing students to contribute to sustainable development in an increasingly interconnected world.

BookTalk: Segala-galanya Ambyar ‘Tips Bertahan Menjadi WNI’

Warga negara Indonesia (WNI) tengah dihantui berbagai kabar buruk, ketidakpastian ekonomi, hingga kesenjangan sosial masyarakat akibat berbagai kebijakan. Data BPS mencatat inflasi pada bulan Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan (yoy), artinya rata-rata harga barang dan jasa naik 3,34%. Jika diilustrasikan, kebutuhan belanja rata-rata Rp1.000.000 kini menjadi Rp1.033.400.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin frustrasi, hingga menumpahkan emosi ke media sosial lewat berbagai meme ataupun catatan-catatan yang dibalut dengan humor getir. Salah satu cara bertahan dalam kondisi ambyar, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Puji Rianto, memberikan rekomendasi lewat buku Segala-galanya Ambyar atau Everything is Fucked yang ditulis oleh Mark Manson.

“Buku ini bercerita tentang sebuah harapan,” ujar Puji Rianto.

Dalam kondisi kecewa, terkadang manusia cenderung berhenti berharap. Buku ini menyebutkan bahwa kita hidup dalam dunia paradoks yang menciptakan berbagai tekanan di segala sisi. Di satu sisi, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan peradaban, dan seterusnya.

“Kita juga menghadapi situasi yang paradoks, konon katanya negara kita gemah ripah loh jinawi, tapi nyatanya segalanya sulit, BBM naik, bahan-bahan pokok naik, pendidikan semakin mahal, pekerjaan semakin sulit didapatkan,” tambahnya.

Lantas, bagaimana WNI membangun harapan di tengah situasi yang tidak menyenangkan? Ada tiga hal dari buku ini yang diusulkan Mark Manson. Kira-kira begini yang diucapkan dalam sesi BookTalk oleh dosen UII.

Pertama, menyadari posisi bahwa “Kita yang menjadi kendali atas hidup kita, bukan orang lain. Maka, mampu membangun harapan lalu menghancurkan barier dengan kendali itu adalah apa yang membuat harapan itu tidak terwujud,” ungkapnya.

Setelah menyadari kendali atas hidup, kita harus memiliki nilai yang layak diperjuangkan. Sebagai WNI, nilai yang paling relevan adalah nilai demokrasi dan kehidupan yang layak.

“Nilai kan sesuatu yang berharga, kalau kita berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang sesuatu yang berharga,” jelas Puji Rianto.

“Pertanyaannya, nilai apa yang kita perjuangkan? Kalau sekarang nilai itu demokrasi dan kehidupan yang layak,” tambahnya.

Terakhir, ada keterikatan dengan komunitas. Fungsi komunitas adalah sebagai benteng penjaga nilai dan pembangun kohesi sosial.

“Kita harus terikat pada komunitas karena nilai itu didefinisikan di dalam komunitas. Di dalam komunitas, kita berharap orang-orang memperjuangkan nilai yang sama. Kalau nilai itu tidak diperjuangkan oleh komunitas atau bahkan dinegasi oleh komunitas, maka nilai itu lambat laun jadi hilang.” Tandasnya.

Itulah tiga tips untuk bertahan menjadi WNI lewat buku Segala-galanya Ambyar. Bagaimana pendapatmu, Comms?

Baca artikel lainnya: https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-wajib-izin-masihkah-kita-bebas-bersuara-di-indonesia/

Penulis: Meigitaria Sanita

Ask the Expert: Demo Wajib Izin, Masihkah Kita Bebas Bersuara di Indonesia?

Pembubaran demo kerap dilakukan oleh aparat di Indonesia karena alasan tidak adanya izin tertulis yang dianggap mengganggu kepentingan umum. Salah satu pembubaran demo yang pernah terjadi pada pertengahan Juni 2026 lalu, misalnya, ketika aliansi BEM di Jabodetabek dibubarkan dengan alasan kawasan Jalan M. H. Thamrin memicu risiko kemacetan lalu lintas. Tujuan dari demo tersebut menuntut kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tak berpihak kepada masyarakat, seperti pengelolaan makan bergizi gratis (MBG) hingga melemahnya nilai rupiah.

Sebuah pertanyaan reflektif akhirnya muncul, apakah kita benar-benar merdeka bersuara? Atau kebebasan mulai terikat dengan berbagai regulasi hingga membungkam kritik? Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Puji Rianto, memaparkan bahwa arah regulasi di Indonesia pasca-1998 menunjukkan kemunduran.

“Regulasi sejak reformasi 98 itu semakin otoriter. UU yang paling demokratis adalah UU Nomor 40 Tahun 1999, setelah itu undang-undang semakin represif terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat warga,” ucapnya.

Regulasi yang semakin otoriter dipicu oleh kultur elit politik yang jauh dari jiwa demokratis setelah meraih kekuasaan.

“Mentalitas kultur elit kita memang tidak pernah punya kultur demokratis, sehingga ketika mereka mendapatkan kekuasaan dari mana pun latar belakangnya sering kali hanya menekankan upaya untuk membangun represi,” tambahnya.

Puji Rianto menyoroti persoalan yang paling krusial, yakni kewajiban izin atau pemberitahuan aksi demonstrasi. Baginya, demo adalah hak bagi warga negara Indonesia.

“Itu hak konstitusional setiap warga negara yang dijamin kebebasan berpendapat berdasarkan konstitusi,” jelasnya.

Sehingga membubarkan rakyat yang tengah menyuarakan pendapat dapat dianggap sebagai pelanggaran konstitusi. Sayangnya, realita yang terjadi jauh dari kata ideal. Otoritarianisme membuat hak ini terabaikan.

Pola yang kerap terjadi dalam demonstrasi biasanya membuat pemerintah memberi respons dengan mengirim utusan untuk berdialog. Namun, langkah ini adalah mekanisme meredam suara, bukan menyelesaikan masalah dengan tulus. Selain itu, undang-undang kerap dirumuskan secara eksklusif demi kepentingan segelintir orang. Hal ini membuat masyarakat tak percaya lagi dengan pemerintah.

“Pemerintah datang untuk berdialog; tidak ada ketulusan dalam konteks itu. Apa argumen yang dapat kita gunakan untuk menunjukkan bahwa pemerintah tulus untuk menampung aspirasi masyarakat? Ketika mereka membuat undang-undang, hampir tidak pernah menampung aspirasi masyarakat. Sering kali undang-undang dibuat dalam waktu yang sangat singkat, lalu munculah gejolak dan itu berulang,” jelasnya.

Demonstrasi adalah satu-satunya cara ketika pemerintah dan sistem politik tidak responsif. Dalam negara yang benar-benar menerapkan sistem demokratis, regulasi dibentuk melalui dialog publik yang partisipatif. Jika hukum disusun secara demokratis dan dijalankan secara konsisten berdasarkan prinsip negara hukum, maka tidak akan ada celah bagi masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Karena hukum itu sendiri sudah menjadi cerminan aspirasi rakyat.

“Kalau pemerintah memang punya spirit demokrasi membuka ruang perdebatan dalam membangun regulasi layaknya di negara demokrasi, tidak akan ada demo. Apalagi kalau undang-undang yang dirumuskan secara demokratis dikerjakan secara konsisten berdasarkan prinsip negara hukum, maka tidak ada celah bagi masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Karena hukum sudah disusun berdasarkan dialog yang demokratis menampung aspirasi rakyat.” Tandasnya.

Baca artikel lainnya:

https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-di-jalanan-masihkah-diperlukan/

Penulis: Meigitaria Sanita

Agus Magelangan

“Berita Ndlogok Hari ini” menjadi salah satu konten andalan di Instagram Agus Magelangan atau Agus Mulyadi. Influencer sekaligus penulis asal Magelang ini selalu menyelipkan sisi humor dalam konten politik. Hasilnya, lebih dari ratusan ribu orang menontonnya. Hal ini menjadi bukti bahwa humor adalah pintu masuk atau entry point agar orang mau membaca dan berinteraksi dengan peristiwa politik.

Sepakat atau tidak, kondisi masyarakat Indonesia yang sudah lelah dengan berbagai kabar buruk atas kebijakan pemerintah justru sering mentertawakannya, atau tertawa getir akibat lelah untuk marah. Selain itu, dalam psikologi publik, manusia cenderung tertarik pada hal lucu sebelum hal serius.

“Masyarakat secara instinktif suka dengan hal-hal yang lucu,” ucap Agus Magelangan pada 15 Juni 2026.

“Banyak peristiwa besar yang rakyat butuh tahu, tapi mereka tidak tahu isu ini padahal penting banget, tetapi ketika kita menyentil sisi-sisi lucu dari peristiwa itu, orang-orang jadi tahu,” ucapnya lagi.

Selain itu, kesenjangan informasi menjadi faktor publik tidak terpapar informasi penting. Lagi-lagi alasannya adalah kemasan yang tidak menarik. Ia memberikan contoh kasus korupsi triliunan rupiah yang dilakukan Setyo Novanto. Masyarakat sama sekali tak tertarik dengan proses hukum dan peradilannya. Masyarakat justru memahami kasus tersebut lantaran peristiwa menabrak tiang listrik.

“Contoh tiang listrik yang ditabrak Setyo Novanto itu langsung ramai,” tambah Agus.

Baginya, humor menjadi strategi komunikasi untuk menyampaikan eskalasi politik yang begitu kompleks untuk dibicarakan. Selain itu, Agus mempercayai teori bahwa 15 persen menjadi tipping point sebuah perubahan di sebuah kelompok. Ia mengilustrasikan jumlah audience yang terpapar informasi politik seribu orang, misalnya, mungkin hanya puluhan orang yang akan melakukan tindakan politik.

“Untuk membuat perubahan itu butuh 15 persen dari sebuah populasi yang melek politik. Orang-orang sekarang siapa sih yang mau melek politik. Orang-orang cenderung suka politik kalau ada sisi entertain-nya,” jelasnya.

Dari realitas di lapangan dan preferensi publik, orang-orang akan terbuka terhadap isu politik jika dikemas dengan hiburan. Hasilnya, humor terbukti meningkatkan engagement dan minat baca publik.

Dari pengalamannya membaca audience, humor adalah level paling dasar yang bertugas menjadi pemapar isu politik. “Aku selalu merasa bahwa dalam tindakan politik selalu berjenjang. Sebelum orang melakukan tindakan politik dia harus memahami politik, sebelum memahami politik dia harus tahu isi politik, sebelum tahu isi politik dia harus terpapar peristiwa politik. Porsi humor berada di level mengajak orang-orang mengetahui peristiwa-peristiwa politik di negeri ini,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita