Ask the Expert: “The Environment Doesn’t Need Humans” An Important Mindset to Understand

During this valuable opportunity at P2A 2026, we had the chance to conduct an exclusive interview with Billy, a former biologist and scientist at Trang Marine National Park in Thailand. He reminded us of the environmental crisis we are currently facing and highlighted the role of the younger generation, who will shape the future of civilization.

Billy revealed a fundamental misconception: that the Earth does not exist to serve humans. Quite the opposite, in fact.

“The environment doesn’t really need humans, but we need the environment to benefit us. So you need to understand what you’re using and how you’re living,” he said.

From a scientific perspective, the environment does not need humans. The Earth will continue to exist, evolve, and adapt with or without humans. Meanwhile, humans need the environment to survive.

Therefore, humans need to understand the most basic mindset regarding what we use and how we live. The energy generated by the environment through various technologies is a chain of invisible consequences. Have we ever thought about how much emissions we produce?

Billy noted that such awareness is still far off; currently, humans live in an era where society uses everything as single-use items.

“We’ve been in a throwaway society. Everything comes easily with money and then disappears just as easily—but where does it all end up? In the soil, in the water,” he added.

For example, with single-use plastics, everything is produced, consumed, and then forgotten in a very short time. But the critical question is: where does it all go? The answer lies in the soil. In the water. The plastic waste we discard doesn’t just disappear; it breaks down into microplastics—tiny particles invisible to the naked eye but scattered everywhere.

“And then it becomes microplastics or waste. Over time, it will come back to you or the next generation in the form of disease. So not many people actually realize that we’ve had—or now know we have—microplastics in our bodies from water or from soil that we’ve contaminated,” he said.

Sadly, people aren’t aware of this—microplastics are already present in our bodies. They enter through drinking water, food, and soil contaminated by humans themselves. Billy emphasized that this isn’t just a prediction, but a reality we’re currently facing.

So, can the younger generation find a solution or improve this situation? Billy acknowledged that the challenges facing the younger generation are greater than those faced by previous generations.

“The younger generation faces greater health challenges than previous generations. Take what they call the climate shift we’re experiencing now—global warming, unusual rainfall, off-season weather, and so on. There’s a lot happening. So instead of just going out dancing or doing things you shouldn’t, you should be mindful of your surroundings and your interaction with the environment,” he stressed.

So, what can the younger generation do in this digital age?

“In the digital age, what can the younger generation do? First of all, don’t be ignorant. You need to learn, know, and understand—and then realize that everything has consequences. Every action we take will affect us in some way. That’s my perspective. And how can they help? It’s entirely up to each and every one of you—what you choose will ultimately come back to you. Good way, bad way, or somewhere in between—you know, it could benefit us or harm us. It’s right in the middle, isn’t it?”

Ultimately, the scientist’s message is not one of despair. He isn’t saying it’s already too late. He’s simply reminding us—especially the younger generation—that we’re at a crossroads. Every choice we make, every habit we maintain, every awareness we cultivate, will determine what kind of future we leave behind. The environment doesn’t need us, but we need the environment. And as the scientist concluded with a reflective question: “It’s quite in the middle, isn’t it?”—everything is still in the middle, uncertain, and that is precisely why our choices today are so meaningful.

Kisah Ramadiansyah Putra Alumni Ilmu Komunikasi UII ‘Content Creator Sport77 di Piala Dunia 2026’

Nama Ramadiansyah Putra mungkin tidak asing lagi di industri konten olahraga tanah air. Ia kini dipercaya sebagai Content Creator di Sport77, dan baru saja menyelesaikan salah satu tugas terbesar dalam kariernya: meliput langsung Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Sebagai informasi, Rama adalah alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2013.

Dalam wawancara eksklusif, Rama menceritakan pengalamannya, tanggung jawab, hingga tips menembus FYP yang ia praktikkan selama satu setengah bulan menggarap konten Piala Dunia 2026.

Perjalanan Rama ke Piala Dunia 2026 bukanlah hal yang instan. Konsep konten yang ia dan timnya bawakan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sejak satu tahun sebelum event berlangsung. Persiapan matang ini menjadi fondasi utama mengapa produksi konten mereka bisa berjalan lancar meskipun dengan segala keterbatasan yang ada.

“Konsep konten sudah lama dari satu tahun lalu dibuat series dari pre piala dunia. Bikinnya bareng-bareng, tapi mostly aku sebagai lead creative otomatis ditunjuk ke sana untuk bertanggung jawab penuh pada 40 konten social media dan IRL live,” ungkap Rama.

Kisah Ramadiansyah Putra Alumni Ilmu Komunikasi UII ‘Content Creator Sport77 di Piala Dunia 2026’

Selama kurang lebih satu setengah bulan, Rama dan tim menjalani live streaming IRL (In Real Life) dengan durasi mencapai 6 jam dalam satu kali siaran. Mereka meliput langsung tiga pertandingan fase grup yang berlangsung di stadion antara lain Brazil vs Maroko, belanda vs Jepang, dan Prancis vs Senegal.

“Produksinya aman, untuk membagi waktunya saja yang menantang karena kita terbatas. Untungnya di US waktu maghrib agak lama, jadi IRL Live selesai lanjut produksi untuk sosial media,” ceritanya.

Ditanya mengapa ia yang terpilih, Rama menjawab dengan rendah hati namun tegas. “Kenapa aku terpilih karena kebetulan aku adalah Creative dan Social Media Manager. Aku di kreatif-nya akhirnya diputuskan aku dan tim,” ujarnya.

Peran Rama di Piala Dunia 2026 sangatlah kompleks. Ia tidak hanya bertanggung jawab sebagai lead creative, tetapi juga sebagai produser IRL live yang harus berkoordinasi langsung dengan tim di Indonesia. Selain itu, ia harus memastikan 40 konten social media terselesaikan dengan baik sebelum kembali ke tanah air.

Salah satu tantangan terbesar adalah ketatnya aturan brand dan media. Rama harus memastikan tidak ada brand lain yang masuk ke dalam tayangan.

“Agak tricky karena kita membawa brand dan media, apalagi Piala dunia soal brand yang masuk ke tayangan. Aku sebagai campers di sana misal jalan ke titik A, kita harus lihat di sana ada brand apa saja. Kalau bisa kameranya harus diarahkan ke non-brand,” paparnya.

Meski demikian, prosesnya berjalan lancar berkat kerja sama tim yang solid, termasuk dengan host dan studio. Koordinasi yang baik antara tim di Amerika Serikat dan tim di Indonesia menjadi kunci keberhasilan produksi konten mereka.

Selama di New York, Rama dan tim berhasil menciptakan salah satu konten yang viral di kalangan fans Indonesia. Konten tersebut adalah wawancara dengan warga lokal New York yang mengatakan, “Aku tahu Indonesia, tapi yang jelas Indonesia tidak masuk Piala Dunia.”

“Viral di fans Indonesia karena kayak sarkas,” kenang Rama sambil tersenyum.

Dari pengalaman tersebut, Rama membagikan tips untuk membuat konten yang berpotensi FYP, khususnya di industri sepak bola.

“Sosmed main di momentum. Kalau bola, beda dengan entertain. Trend apa bisa diadaptasi, tapi kalau untuk bola tidak bisa kayak gitu. Kita harus lihat momentum. Misalnya malam ini pertandingan MU vs Chelsea, kita tahu MU adalah bulan-bulanan masa yang sering diejek. Begitu MU kalah atau menang, kita langsung create konten roasting, itu pasti engagement-nya ramai,” jelasnya.

Kisah Ramadiansyah Putra Alumni Ilmu Komunikasi UII ‘Content Creator Sport77 di Piala Dunia 2026’

Rama juga menekankan pentingnya memahami apa yang diinginkan oleh fans bola. “Kalau untuk ngejar traffic-nya di industri media bola olahraga, kayak gitu sama konten yang memang sudah diinginkan sama fans bola. Contohnya interview pemain, rapid question ke pemain, biasanya yang diminati oleh fans bola,” ujarnya.

Sebagai alumni Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Public Relations, Rama mengakui bahwa ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah sangat berperan dalam kariernya saat ini.

“Aku konsentrasi Public Relations. Aku dapat ilmu selain dari kelas, aku dapat kesempatan di event. Aku dekat dengan anak Kompor, aku tahu teknik pengambilan gambar, konten planning dari Kampung Komunikasi,” kenangnya.

Di akhir wawancara, Rama memberikan pesan inspiratif bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang ingin mengikuti jejaknya.

“Mulai, karena sekarang sosial media bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin kalau dia mau jadi creator atau cari uang segala macam, asal mau mulai. Karena aku juga mulai dari followers nol di Sport77. Itu harus trial and error. Setiap orang punya unique masing-masing, jadi coba aja dulu,” pesannya.

Rama juga menekankan pentingnya memiliki portofolio di luar akademik. “Setidaknya di luar akademik, kalian bisa meng-create sesuatu, entah apapun itu. Manfaatkan sosial media. Anak komunikasi harus melek sosial media, karena pada akhirnya nanti, kecuali kalian jadi akademisi ya nilai akademik harus dikejar. Kalau mau jadi praktisi, mulai aja dulu dari mahasiswa. Buat aja dulu, entah video, suka film bikin film, suka motret ya bikin. Pada akhirnya di dunia kerja itu yang kepake, sama skill organisasi, kerja sama segala macam,” tutupnya.

Alumni Ilmu Komunikasi UII Bangun Sekolah Alam di Kaki Merapi, Ajarkan Anak-Anak Mitigasi Bencana

Sulistiyawati, alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2006 memilih kerja-kerja pengabdian melalui pendidikan. Ia mendirikan PKBM Inside Out School di kaki Merapi. Di sebagian ruang lapang rumahnya anak-anak belajar membaca tanda alam sebagai bekal mitigasi bencana tanpa harus dibayangi trauma.

Setiap minggu, anak-anak PKBM Inside Out School bersiap main ke kali. Tapi sebelum berangkat, mereka melihat ke atas, ke arah awan di atas Merapi. Mendung? Berarti tidak jadi ke kali. Hujan di puncak berarti banjir di hilir. Ini bukan pelajaran geografi, melainkan kebiasaan sehari-hari.

Pengetahuan tentang tanda-tanda alam tak sekadar warisan budaya, namun alat bertahan hidup. lantas, bagaimana pengetahuan itu diwariskan ke generasi berikutnya tanpa menanamkan trauma?

Muzayin Nazarudin, Ph.D. dosen Ilmu Komunikasi UII yang meneliti memori sosial bencana, menjelaskan bahwa masyarakat yang terdampak bencana selalu berada dalam ketegangan. “Kalau tiap hari orang mengingat bencana terus, kita tidak bisa move on. Tapi kalau melupakan sepenuhnya, orang jadi abai,” ujarnya.

Melupakan, menurutnya, bukan berarti kehilangan memori. “Bisa jadi ada mekanisme kultural di mana ingatan bencana menjadi background tidak muncul di depan, tapi tetap ada.” Ia mencontohkan, “Masa setelah 10 tahun orang setiap hari ingat erupsi terus? Kasihan, mereka teringat trauma, pengungsian, lari dari erupsi.”

Di sinilah sekolah mengambil peran. Sulistiyawati, founder PKBM Insideout School menyadari bahwa pendidikan mitigasi tidak bisa dilakukan dengan menakut-nakuti.

“Kami sengaja tidak memberikan gambaran itu karena terlalu mengerikan untuk anak-anak,” ujarnya.

“Yang kami lakukan adalah mengajak mereka jalan-jalan bersenang-senang di alam, mencintai alam, berdekatan dengan Merapi. Kalau Meletus, kita menyingkir dulu mereka tahu sebatas itu,” tambahnya.

Pendekatan sekolah ini unik, mereka tidak selalu mengandalkan guru formal. “Kami ajak ke warga sekitar yang sudah sepuh. Nanti mereka belajar dikasih tahu sama sesepuh-sesepuh itu,” kata Sulistiyawati.

“Jadi mereka tahu, oh ilmu itu juga diajarkan oleh simbah-simbah warga biasa yang bukan guru. Ternyata pengetahuan bisa didapatkan dari siapa saja,” jelas Sulistiyawati.

Warga sepuh bercerita tentang erupsi masa lalu bagaimana hewan seperti kijang dan srigala turun gunung sebelum bencana. “Kalau ada kayak gitu, berarti cuaca di sana memang tidak seperti biasanya,” tambahnya.

Praktik semacam ini justru memperkuat pewarisan pengetahuan. “Sekolah hanya menjadi salah satu jalur dari model pewarisan ekologi lokal. Kearifan ekologis lokal membaca tanda-tanda alam sudah ada di masyarakat, sekolah kemudian menggunakan itu sebagai kurikulum,” jelas Muzayin Nazarudin, Ph.D.

Baginya, yang terpenting adalah transmisi pengetahuan itu terjadi sebelum bencana datang. “Terlambat kalau mengalami bencana itu sendiri,” tegasnya.

Dosen Ilmu Komunikasi UII tersebut juga menegaskan bahwa praktik semacam ini punya landasan teoretik. “Penjelajahan alam sebagai taktik mitigasi bencana didasari teori embedded memory, memori yang menubuh ke dalam diri seseorang melalui sosialisasi dengan lingkungan,” tambahnya.

Anak-anak tidak hanya tahu secara kognitif, tapi merasakan dan mempraktikkannya. Pengetahuan itu tidak dipelajari sekali lalu hilang, melainkan tumbuh melalui pengulangan, cerita, dan interaksi dengan alam serta orang-orang di sekitarnya.

Tidak semua anak datang dari lingkungan sekitar Merapi. “Ada anak yang rumahnya agak jauh. Mereka harus ekstra dikasih tahu agar notice bahwa kita ada di kaki Merapi,” tambah Sulistiyawati.

Sulistiyawati dan timnya mengakui masih terus belajar tentang edukasi yang tepat. “Kami masih mempelajari literatur tentang efek edukasi yang lebih tepat kepada anak-anak tanpa membuat mereka trauma,” ucapnya.

Muzayin menambahkan bahwa tradisi selalu berubah. Kearifan lokal bukan sesuatu yang statis, bukan artefak masa lampau. Tiap generasi punya tradisinya sendiri.

Ia menegaskan bahwa sekolah hanyalah salah satu jalur pewarisan bukan satu-satunya. “Tradisi itu akan selalu berubah seiring zaman. Tiap generasi punya tradisinya yang perlu kita baca bagaimana tradisi itu berubah,” tandasnya.

Di balik ancaman, Merapi juga memberi berkah. “Tanah kita jadi subur karena berkat Merapi,” kata Sulistiyawati.

Ia berharap ada sinergi dengan instansi lain. “Banyak instansi yang bisa diajak kerja sama untuk mengedukasi anak-anak. Kalau bisa bersinergi, bagus banget, dijadikan proyek bersama,” harapnya.

Anak-anak PKBM Inside Out School mungkin belum sepenuhnya memahami risiko Merapi. Tapi mereka belajar satu hal penting hidup berdampingan dengan alam, membaca tandanya, dan tetap bergembira.

Fungsi memori kolektif tentang bencana adalah bagaimana membaca tanda-tanda alam sebelum bencana terjadi, sehingga ketika ancaman datang, warga bisa memitigasi dan mengantisipasi. Itu biasa terjadi di masyarakat tradisional, dan sekolah menjadi salah satu jalur warisan kearifan ekologis tersebut.

Di kaki Merapi, mitigasi bukan tentang ketakutan tapi tentang cinta pada alam yang mengajarkan kewaspadaan. Dan pendidikan mitigasi yang paling kuat bukanlah yang menakut-nakuti, melainkan yang menubuh dipraktikkan setiap hari, diwariskan dari generasi ke generasi, dan dijaga tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pengumuman

Sehubungan dengan adanya penataan kembali alokasi pembimbingan tugas akhir serta optimalisasi layanan akademik di lingkungan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, bersama ini kami sampaikan penyesuaian dan pengalihan Dosen Pembimbing Tugas Akhir bagi mahasiswa bimbingan Bapak Anggi Arif Fudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom. kepada Dosen Pembimbing Tugas akhir yang baru. Adapun daftar pembagian mahasiswa dan DPS yang baru adalah sebagai berikut:

325. Surat Edaran Perubahan Dosen Pembimbing Tugas Akhir Anggi Arif Fudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom.

Pengumuman

Dengan hormat, disampaikan kepada mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang telah dinyatakan lulus dalam Kelas Seminar Proposal Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, bahwa Program Studi Ilmu Komunikasi telah menetapkan pembagian dosen pembimbing Tugas Akhir. Adapun daftar pembagian dosen pembimbing Tugas Akhir sebagaimana tercantum dalam lampiran surat edaran ini. Mahasiswa diharapkan dapat memperhatikan pembagian dosen pembimbing tersebut dan selanjutnya melakukan koordinasi dengan dosen pembimbing masing-masing untuk proses bimbingan Tugas Akhir.
Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dapat diperhatikan dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian, kerja sama, dan kesungguhan mahasiswa dalam mengikuti proses penyelesaian Tugas Akhir, kami sampaikan terima kasih.

Selengkapnya: 324. Surat Edaran Pembagian Dosen Pembimbing Tugas Akhir Semester Ganjil TA 2026_2027

Kuliah Perdana MIKOM UII: Kuliah Perdana MIKOM UII: Admin yang Responsif Jadi Alasan Maba Memilih Program Ini

Tahun ini 18 mahasiswa terdaftar sebagai anggota baru Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM  Jumlah ini meningkat, mengingat tahun 2026 adalah tahun kedua bagi program S2 yang fokus pada Environmental and Digital Communication.

Menyambut anggota baru, MIKOM UII mengadakan pertemuan hangat di Gedung RAV Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII pada 18 September 2026. Bertajuk Kuliah Perdana sesi ini mempertemukan mahasiswa MIKOM angkatan pertama, mahasiswa baru, para dosen, dan juga staf.

Salah satu perwakilan mahasiswa baru MIKOM UII, Erwin Suryadi menyampaikan alasannya memilih jurusan ini. Ia menyebut admin yang dihubunginya begitu membantu, selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya ragu dalam proses pendaftaran.

“Alasan saya memilih MIKOM UII karena admin sangat membantu, bahkan saya bertanya di malam hari selalu dijawab. Admin sangat melayani, semoga hadirnya maba (mahasiswa baru) membawa nama UII lebih baik,” ungkapnya.

Alasan itu membuatnya bertekad memilih MIKOM UII sebagai ikhtiar meraih mimpinya. Karena pada dasarnya, memulai perjalanan jenjang S2 adalah proses yang begitu kompleks. Tak sekedar mendalami keilmuan, melainkan juga proses pendewasaan berpikir.

Hal tersebut juga disinggung oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Irawan Jati, Ph.D. yang menyebut bahwa angkatan kedua program pascasarjana memang memiliki program belajar yang berbeda. Semester pertama menyesuaikan tuntutan yang juga berbeda, begitu pula kemampuan yang ditargetkan.

“Kalau boleh berefleksi perjalanan (kuliah S2) adalah upaya mencapai kedewasaan berpikir. Belajar materi sebanyak-banyaknya tapi belum tentu lebih paham dari orang lain. Bagaimana kita berpikir dewasa, butuh kedewasaan lebih,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keunikan mahasiswa yang memiliki latar belakang dan usia berbeda-beda. Menurutnya, hal itu justru menjadi kekayaan yang dapat saling mendukung satu sama lain.

Sementara itu, Kaprodi MIKOM UII Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D. berharap agar mahasiswa baru dapat memiliki nilai-nilai yang telah ditanamkan UII. Di akhir sesi, ia mengingatkan bahwa “dalam proses belajar, ada fase up and down. Tidak selalu mudah, dan kesulitan pasti akan dialami. Oleh karena itu, ia berpesan agar mahasiswa menyiapkan kesehatan fisik dan mental sejak awal,” jelasnya.

Kuliah perdana ini pun ditutup dengan harapan besar bahwa angkatan kedua MIKOM UII dapat melanjutkan tradisi akademik yang kuat. Program ini sendiri dibangun melalui persiapan dan proses panjang, mulai dari benchmarking di berbagai universitas dalam negeri hingga NTU Singapura. Salah satu keunggulannya adalah kehadiran visiting professor dari Eropa, Asia, dan Amerika, yang diharapkan semakin memperkaya wawasan mahasiswa dan membawa nama UII semakin baik di kancah nasional maupun internasional.

Pengumuman

Sehubungan dengan adanya penataan kembali alokasi pembimbingan akademik serta optimalisasi layanan akademik di lingkungan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, bersama ini kami sampaikan penyesuaian dan pengalihan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) bagi mahasiswa bimbingan Bapak Anggi Arif Fudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom. kepada Dosen Pembimbing Akademik yang baru.

Adapun daftar pembagian mahasiswa dan DPA yang baru adalah sebagai berikut:

Surat Edaran Perubahan Dosen Pembimbing Akademik

P2A ICE CREAM 2026: A Three-Nation Reunion Strengthening ASEAN Collaboration

P2A ICE CREAM 2026, themed “COCONUT,” has just concluded. From August 7 to 17, delegations from three countries—Indonesia, Malaysia, and Thailand—collaborated on initiatives focused on communication, creativity, and culinary arts. This session brought together students, faculty, and staff from the Department of Communications at the Islamic University of Indonesia (UII), SCIMPA at Universiti Utara Malaysia (UUM), and Suan Dusit University (SDU) Trang Center in Thailand.

This event served as a reunion in 2026, as these three universities have been collaborating with SDU since 2022, while their partnership with SCIMPA at UUM has spanned nearly 8 years. This meeting strengthened the relationships that have been built.

Dr. Tiger, Director of the SDU Trang Center, expressed his appreciation for the continuity of the P2A ICE CREAM program. In his view, the program has consistently run smoothly every year. “This program has actually been running for many years, and I think we’ve been successful every year. We can see that this program is still continuing,” he said.

He also highlighted the program’s values of inclusivity, noting that students, faculty, and staff can collaborate and share experiences together. “Sometimes we focus on different ideas and cultures, and ultimately we come to understand each other’s perspectives in the same way. This is what makes us successful,” he added.

Dr. Mohamad Amir Bin Abu Seman, Co-Director of SCIMPA UUM, who oversees the program in Malaysia, noted that the program—designed to strengthen cross-cultural communication while challenging students to creatively document Malaysia’s landscapes—saw participants successfully produce work with strong visual quality and thematic relevance. “In particular, IPC students demonstrated exceptional visual storytelling. They successfully applied their communication studies background, which was clearly evident in their top scores for creativity, originality, and composition,” he explained.

Furthermore, the connections forged among students across national borders fostered a unique and insightful form of communication. The students made new friends and encountered new cultures. According to Palaswan, Coordinator of the SDU Tran Center, this initiative should be continued. “Moving forward, students can explore many opportunities through this program,” he said.

Meanwhile, Herman Felani, one of the founders of P2A ICE CREAM from IPC UII, emphasized that this program is not merely an academic activity but also a bond that fosters a sense of family. “We have become a family with SDU and UUM, and this connection is now growing stronger and better thanks to our commitment to future collaboration and mobility initiatives,” he explained.

With the enthusiasm and commitment of all three universities, P2A ICE CREAM 2026 will not only serve as a reunion but also lay the foundation for closer ASEAN collaboration in the future.

In Their Own Words:

“This program allows students to understand each other’s cultural differences and ideas. This is what makes us successful.” — Dr. Tiger, Director of SDU Trang Center

“P2A ICE CREAM Coconut is a truly extraordinary program! Students can make new friends and discover new cultures.” — Palasawan, SDU Trang Center

“We’ve become a family. These connections are growing stronger and better with our commitment to future collaboration.” — Herman Felani, Founder of P2A ICE CREAM

“The photography competition successfully strengthened cross-cultural communication and challenged students to be creative.” — Dr. Mohamad Amir Bin Abu Seman, Co-Director of SCIMPA UUM

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Exploring Kampung Warna-Warni to a Photography Competition in Kuala Perlis

On the fourth day of the P2A ICE CREAM COCONUT 2026 program—specifically on August 11—delegates from three countries visited Universiti Utara Malaysia (UUM). Driven by a spirit of intercultural communication and creative exploration, this activity was designed to build connections, deepen cultural understanding, and hone visual storytelling skills through a photography competition.

It began with a warm Welcoming Session at SCIMPA UUM, allowing the delegates to get to know one another and become acquainted. They also toured the UUM Guest Pavilion, a historical gallery tracing the university’s founding—an institution that has produced many scholars and leaders in Malaysia.

After visiting UUM, the delegates from IPC UII, SDU, and SCIMPA UUM set off for Kampung Warna-Warni in Kuala Perlis. This is a traditional fishing village that was transformed into a colorful tourist destination in 2020, an initiative launched by the Crown Prince of Perlis. The delegates wandered through narrow alleys lined with murals, engaged in conversations with residents, and experienced community-based tourism firsthand—witnessing how grassroots creativity can tangibly improve the community’s standard of living.

The cultural journey continued to the Al-Hussain Mosque, a magnificent floating mosque on the coast of Kuala Perlis. Its architecture, jutting out into the sea, created a serene and contemplative backdrop, concluding the cultural exploration with a profound impression of harmony and diversity.

The main event of the day was a photography competition, chaired by Dr. Mohamad Amir Bin Abu Seman from SCIMPA UUM, who explained that the competition aimed to strengthen intercultural communication.

“It was to strengthen intercultural communication and to challenge them to bond while creatively documenting Kuala Lumpur’s landscape,” he said.

The results of the photography competition were phenomenal. The students were highly engaged, with several achieving perfect 15-point scores, reflecting strong thematic relevance and visual quality across all categories.

“Specifically, the IPC students demonstrated exceptional visual storytelling. They successfully applied their background in communication studies,” he added.

The winner of the competition was Muhammad Yusuf Singgih from IPC UII, who presented the theme “In Transit.” He said that this experience not only provided direct observation but also honed his visual storytelling skills.

"In Transit" Captured by Muhammad Yusuf Singgih from IPC UII

“In Transit” Captured by Muhammad Yusuf Singgih from IPC UII

“My goal was to explore Kuala Lumpur through visual storytelling while developing creativity and observation skills in communicating the character of a city through photography,” he explained.

“The photography challenge taught me to see Kuala Lumpur beyond its landmarks. Through its green spaces, streets, cultural sites, public transportation, and local food, I learned how photography can capture the identity, diversity, and everyday life of the city. I also learned to be more observant and intentional when taking photos because every composition, angle, subject, and moment can tell a different story about a place,” he emphasized.

This program is more than just a competition or a tour. It is a living laboratory for students to learn about diversity, build empathy, and hone their visual sensitivity. From the alleys of Kampung Warna-Warni to the Al-Hussain Mosque, every corner of the journey holds a lesson on how art, culture, and communication serve as bridges between people. The delegates returned home with stories, friendships, and a new understanding of a world rich in color and meaning.

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Sustainable CSR by the Younger Generation at Hat Chao Mai

This edition of Passage to ASEAN (P2A) is focused on sustainability; one of the programs carried out is a hands-on initiative in the coastal area of Hat Chao Mai National Park, Trang Province, Thailand. The initiative, held on August 15, 2026, brought together dozens of delegates from IPC UII, SCIMPA UUM, and SDU.

Through this beach cleanup CSR initiative, the delegates not only collected coastal trash but were also guided to understand the local ecological reality, where they observed firsthand the challenges posed by marine debris to the sustainability of coastal ecosystems within the national park. Furthermore, the event served as a medium for sustainable learning through concrete activities.

One of the facilitators accompanying the delegates from the three countries was Billy, a former biologist and scientist at the Trang Marine National Park in Thailand. He has researched the region’s marine ecosystems, including reef sharks, dugongs, and seagrass beds, which serve as vital habitats.

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Sustainable CSR by the Younger Generation at Hat Chao Mai

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Sustainable CSR by the Younger Generation at Hat Chao Mai

Billy shared fundamental insights about nature, humans, and the environment. He noted that nature does not need humans, but humans need nature.

“You need to know that, actually, the environment doesn’t really need humans, but the opposite is true—humans need it to benefit us. So, we need to understand what we’re using and how we’re living. We must understand the costs and consequences, such as microplastics, which can later lead to many diseases for humans,” explained Billy.

This CSR initiative is not merely a social activity but serves as an open-air laboratory for the delegates to observe firsthand. Key points to highlight include the condition of the coastal ecosystem—including plastic waste that threatens marine life—the cycle of land-based waste that ultimately ends up in the ocean, and, finally, the role of humans as part of the solution, not merely as consumers of natural resources.

This beach cleanup serves as a symbol that sustainability doesn’t have to start with grand policies, but rather with simple actions: picking up trash, sorting it, and understanding that every piece of plastic collected is a small step toward maintaining the balance of nature.

Hakimi, one of the delegates from UUM, noted that this CSR initiative is a concrete action that allows him to contribute to sustainability.

“I found the beach cleanup program very beneficial and meaningful. It gave me the opportunity to contribute to protecting our environment while learning the importance of taking responsibility for keeping our surroundings clean. What made the program even more meaningful was that we worked together regardless of our different races and cultures, united by the same responsibility to care for our environment,” said Hakimi.

Meanwhile, Aliya Salsabila, a delegate from IPC UII, shared a deeply personal message. She noted that what we do today shapes the future.

“Participating in the beach cleanup CSR program made me realize that nature isn’t something we can continue to take for granted. Through something as simple as picking up trash, I’ve come to understand that what we do today will become part of the environmental conditions we leave behind for future generations,” she said.

Meanwhile, Billy, who has worked in the field of conservation for many years, noted that programs like this are urgent for young people. They provide a valuable space to meet, discuss, and collaborate—especially regarding the realities of the environment and sustainability, as well as the roles we should play.

“This is the best program I’ve ever heard of, because in this current generation, people are starting to connect online but have forgotten the importance of face-to-face communication and storytelling. And since we’re all part of ASEAN and are neighbors, I think this is a great initiative because it allows us to connect with one another,” he added.