Rajbani Gibran Ahmad: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Borong Dua Medali MSQ di Ajang Nasional dan Internasional

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII, D. Rajbani Gibran Ahmad, patut menjadi inspirasi. Mahasiswa angkatan 2024 ini borong prestasi di bidang penjelasan isi Al-Qur’an. Tercatat dari bulan Juni hingga Juli, dua prestasi nasional dan internasional berhasil ia kumpulkan.

Di awal Juni 2026, Rajbani berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional di Bandung, yakni Musabaqah Syahril Qur’an dalam Festival Seni Qur’an Harlah UPTQ UNISBA ke-18. Ia bersama timnya meraih juara dua dalam kompetisi tersebut.

Hanya beberapa pekan kemudian, pada 11 Juli 2026, Rajbani kembali menunjukkan kemampuannya di ajang bergengsi, International Qur’an Festival (IQAF) UII. Berbeda dengan kompetisi sebelumnya, kali ini ia bertanding secara individu melawan peserta dari berbagai perguruan tinggi nasional dan internasional. Ia sukses meraih juara 2, melengkapi koleksi prestasinya dalam waktu yang singkat.

Bagaimana Rajbani mampu meraih dua prestasi sekaligus di tengah kesibukan sebagai mahasiswa baru? Kuncinya ada pada manajemen waktu yang disiplin. Ia mengaku membuat jadwal teratur dengan memprioritaskan kegiatan paling penting. Latihan MSQ yang intensif, perkuliahan, dan aktivitas komunitas keagamaan di kampus ia jalani secara seimbang. Setiap harinya, ia menyisihkan waktu khusus untuk memperdalam materi syarhil Al-Qur’an, tanpa mengabaikan tanggung jawab akademiknya.

“Konsistensi adalah kunci. Saya belajar untuk membagi waktu dengan baik agar latihan dan perkuliahan tetap berjalan beriringan,” ujar Rajbani.

Baginya, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus berkembang. Setiap kompetisi ia jadikan sebagai evaluasi dan pembelajaran. Bertemu dengan peserta terbaik dari berbagai daerah membuka wawasannya tentang pentingnya kerja keras, disiplin, dan menghargai proses.

Dengan dua medali ini, Rajbani berharap dapat terus mengasah kemampuan dan memberikan kontribusi lebih besar dalam syiar Al-Qur’an. Pesannya kepada mahasiswa lain: jangan ragu untuk memulai. Dengan konsistensi, kerja keras, dan doa, prestasi gemilang dapat diraih.

“Setiap kompetisi memberikan pengalaman, tantangan, dan pembelajaran yang berbeda. Dari berbagai pengalaman tersebut, saya belajar untuk terus meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan keislaman, serta membangun mental dan kepercayaan diri dalam berkompetisi,” tandasnya.

Scroll, Swipe, Repeat: Saat Video Pendek Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

“Sebentar aja kok cuma lima menit.”

Kalimat itu mungkin terdengar familiar. Kita sering kali membuka TikTok saat menunggu dosen masuk kelas, menonton Instagram Reels pas jam istirahat, atau menikmati Youtube Shorts sebelum tidur. Namun, tanpa kita sadari, yang awalnya cuma lima menit malah berubah jadi tiga puluh menit, bahkan satu jam. Jempol terus bergerak, layar terus berganti, dan algoritma seolah tahu persis video apa yang ingin kita lihat berikutnya.

Inilah tren baru digital. Video pendek sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, tempat belajar sesuatu, hingga tempat untuk membangun identitas diri. Dalam hitungan detik, seseorang bisa tertawa karena video komedi, memahami materi kuliah, menemukan rekomendasi tempat makan, bahkan memutuskan membeli sebuah produk.

Menonton video berdurasi pendek saat ini sudah menjadi kebiasaan dan fenomena bagi Generasi Z. Data dari YouGov Surveys menunjukkan bahwa pada rentang usia 16-24 tahun, konsumsi video pendek mencapai 85% setiap minggu. Di Indonesia sendiri, TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi tiga platform yang paling sering digunakan oleh masyarakat, terutama generasi muda. Tak heran jika video berdurasi kurang dari satu menit kini menjadi tren baru di era digital.

Mengapa video pendek begitu sulit ditinggalkan? Jawabannya simple: cepat, ringan, dan selalu relevan. Kita tidak perlu membaca artikel panjang atau menonton video berdurasi puluhan menit untuk mendapatkan informasi. Cukup beberapa detik, lalu lanjut ke video berikutnya. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada risiko yang ditimbulkan.

Karena mengejar durasi singkat, banyak informasi yang disampaikan terpotong-potong. Sebuah isu yang sebenarnya kompleks menjadi hanya satu menit, bahkan kurang. Akibatnya, konteks sering kali hilang dan tidak sedikit pula informasi yang belum terverifikasi menyebar lebih cepat daripada proses klarifikasinya. Hoaks, potongan video tanpa penjelasan, hingga judul sensasional menjadi tantangan yang semakin sering ditemui di media sosial.

Meskipun begitu, bukan berarti video pendek hanya membawa dampak negatif. Justru banyak kreator berhasil memanfaatkan format video pendek sebagai media edukasi yang efektif. Mulai dari dosen yang menjelaskan materi dalam satu menit, dokter yang membagikan tips kesehatan, hingga pelaku UMKM yang mempromosikan produknya melalui konten kreatif. Bagi mahasiswa, platform ini juga menjadi tempat atau sarana untuk menunjukkan kemampuan, membangun portofolio, hingga memperluas koneksi melalui personal branding.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, perubahan ini cukup menarik untuk dilihat. Cara kita berkomunikasi kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh apa yang kita pilih, tetapi juga oleh algoritma yang memilihkan informasi untuk kita. Apa yang muncul di timeline bukanlah gambaran utuh tentang dunia, melainkan hasil perhitungan sistem berdasarkan kebiasaan kita mengklik, menyukai, dan membagikan konten. Tanpa kita sadari, algoritma ikut membentuk cara kita memahami realitas.

Di sini pentingnya literasi digital. Menjadi pengguna media saat ini bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta memahami bahwa tidak semua konten yang viral selalu benar. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang begitu cepat.

Pada akhirnya, video pendek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia hanyalah sebuah teknologi yang menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan. Yang menentukan manfaatnya bukanlah algoritma atau platformnya, melainkan cara kita menggunakannya. Sebab di era ketika satu sentuhan jempol dapat membawa kita ke ratusan video berbeda, mungkin yang paling kita butuhkan bukan internet yang lebih cepat, melainkan kesadaran untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu memilih informasi dengan lebih bijak.

 

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita

Ketika Pembelajaran Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas: Menelusuri Inside Out School Magelang

Suasana pagi hari di Inside Out School terasa cukup berbeda dibandingkan dengan sekolah biasanya. Tidak ada kesan terburu-buru untuk segera memulai pembelajaran, dan juga interaksi para siswa dengan guru dibuat lebih santai namun tetap sopan. Di tengah konsep cara belajar yang selama ini identik dengan suasana kegiatan sekolah yang mempunyai ruang kelas, siswa yang banyak, dan seragam sekolah. Inside Out School menawarkan pengalaman pendidikan yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Di tempat ini, proses belajar tidak hanya sekadar tentang materi pelajaran dan nilai yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana peserta didik dapat mengenali diri, mengembangkan potensi, dan menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Inside Out School merupakan nama sekolah alam tempat belajar yang berlokasi di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, yang berdiri pada akhir Juni 2025. Pendiri sekolah tersebut adalah Sulistiyawati, alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2006. Metode pembelajaran yang diajarkan adalah dengan memberikan ruang kepada para siswa untuk mengeksplor apa yang mereka inginkan untuk dipelajari tanpa membatasinya, tetapi juga tetap mengarahkan supaya ilmu yang mereka serap dapat berjalan dengan maksimal.

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Sebelum pembelajaran dimulai, mereka mengawali kegiatan dengan bersih-bersih area belajar, kemudian dilanjutkan dengan berdoa, lalu siswa diarahkan ke masjid dekat sekolah untuk melaksanakan salat dhuha. Selepas itu, kegiatan belajar pun dimulai, ada yang belajar huruf hijaiyah, ada yang belajar matematika, dan ada juga menggambar tentang objek yang ada di sekitar, setelah selesai melakukan kegiatan belajar di area dalam, para siswa diajak para pamong atau tutor mereka untuk bermain ke alam dengan kegiatan swasembada pangan yang bertujuan untuk memproduksi kebutuhan pangan dan dapat dimanfaatkan secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun dengan membuat pupuk tanaman sawi, setelah berkebun para siswa kemudian diajak untuk diskusi buku yang bebas dipilih oleh tiap siswa, masing-masing satu orang diminta untuk menceritakan buku yang mereka baca, kemudian memberikan kesimpulan mengenai buku tersebut dan semua rangkaian kegiatan belajar diakhiri dengan doa penutup.

PKBM Inside Out School

PKBM Inside Out School

Ketua PKBM Inside Out School Magelang, Sulistiyawati, menjelaskan bahwa apa yang ingin Inside Out School berikan kepada peserta didik yang mungkin tidak didapatkan dari sekolah pada umumnya adalah ruang untuk berkembang sesuai potensi, minat, dan bakat masing-masing anak, bukan memaksa semua anak mengikuti standar yang sama seperti di sekolah formal.

“Anak-anak itu ibarat mereka benih. Kalau dia biji jagung, ya biar dia keluar jagung, bukan malah dipaksa untuk jadi padi kayak teman-temannya. Jadi itulah kenapa proses belajar yang akademik atau yang terstruktur itu porsinya kecil, hanya untuk menajamkan kalau dia memang bibit jagung ya biarkan tumbuh jadi jagung yang subur,” ujarnya.

Pada akhirnya, Inside Out School tidak hanya menawarkan tempat untuk belajar, tetapi juga mencoba membuat ruang bagi peserta didik untuk menemukan cara belajarnya sendiri. Di tengah aktivitas yang berlangsung dengan suasana yang sederhana dan tidak terlalu formal, pendidikan di tempat ini berjalan dengan satu gagasan bahwa setiap siswa memiliki cara yang berbeda untuk tumbuh dan berkembang.

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Three-Country Collaboration Strengthens ASEAN Network

This year, the International Program Communications (IPC) at UII is collaborating with SCIMPA at Universiti Utara Malaysia (UUM) and Suan Dusit University in Thailand to conduct a joint program titled P2A ICE CREAM COCONUT 2026 from August 8–17, 2026. The program’s theme, COCONUT—standing for Community, Ocean, Nature, Unity, and Technology-symbolizes the identities of the three countries: tropical, maritime, and the Southeast Asian community, representing elements of sustainability, cross-cultural unity, and creative digital innovation.

Ibnu Darmawan, Director of P2A at UII, noted that this program is a tangible manifestation of the three universities’ commitment to collaboration. “The relationship between UII, UUM, and SDU goes beyond mere visits; it signifies a strong commitment to collaboration among the three nations. We are one big family that we continue to build together,” he said.

Mohammad Amir Bin Abu Seman, a senior lecturer at SCIMPA UUM who has been part of this program for more than eight years, shared that P2A ICE CREAM has had a profound impact on his students.

“After almost eight years with P2A ICE CREAM, I have learned that its greatest impact is not simply where we take our students, but the connections they bring home. As a delegate from UUM, I am proud to be part of a program that brings ASEAN closer through friendship, creativity, and shared experiences,” he said.

Saowapan Palasuan from SDU also noted that P2A ICE CREAM serves as a space for building relationships and collaboration. “This program is like a reunion for us. We’re building new relationships while continuing existing collaborations. Moving forward, we’ll also be preparing a program at SDU,” she said.

Cross-Border Journey

P2A ICE CREAM 2026 is a journey from Yogyakarta to Malaysia and Thailand. During this nine-day trip, students from the three universities will work together on a tourism video project. Some of the destinations include Merdeka Square in Kuala Lumpur, Kampung Warna Warni and Chinatown in Alor Setar, Emerald Cave and Koh Ngai in Trang, as well as Phatthalung and Hat Yai, Thailand.

This program is designed to provide students with firsthand experience of the cultural, natural, and historical richness of the ASEAN region.

Beyond cultural exploration, P2A ICE CREAM 2026 also features collaborative activities such as a cooking challenge, a cultural night, and a CSR beach cleanup initiative aligned with environmental sustainability values.

An Experience- and Creativity-Based Program

P2A ICE CREAM is an international mobility program-a course on creative media that employs an experience-based learning approach. Participants not only learn in the classroom but also engage with local communities to interact with and understand the local culture.

Through the theme “COCONUT,” this program emphasizes the importance of creativity, originality, togetherness, care for the ocean and nature, unity, and the use of technology in producing creative works that benefit the development of tourism and culture in ASEAN. The program also serves as a platform for students to build cross-national networks of friends that are expected to endure into the future.

Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere

Pascareformasi, harapannya televisi lokal menyelamatkan budaya daerah. UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 serta otonomi daerah menjadi jalan munculnya stasiun televisi lokal di seluruh daerah di Indonesia. Tujuannya adalah agar televisi lokal mampu menjadi ruang bagi ekspresi budaya yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi siaran Jakarta.

Penelitian yang diterbitkan RedFame, “Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere”, yang ditulis oleh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Dr. Puji Rianto, S.IP., M.A., mengungkap fakta-fakta mengecewakan. Studi yang dilakukan terhadap ADiTV di Yogyakarta dan Bali TV di Bali menunjukkan kontribusi televisi lokal terhadap ruang budaya masih sangat terbatas. Dua masalah utamanya adalah komersialisasi dan pandangan budaya yang sempit.

Pertama, realitas soal televisi lokal adalah bisnis. Sehingga hanya budaya yang “laku” yang akan ditayangkan. Program budaya mesti menarik sponsor dan iklan. Salah satu program Jenggleng Manasuka dan Wedang Ronde milik ADiTV misalnya, mampu bertahan bertahun-tahun lantaran ada pengiklan yang mendanai. Tanpa sponsor, program terhenti atau mati.

Begitupun di Bali TV, ketika komunitas adat yang ingin tampil di acara Lila Cita mesti membayar. Artinya, untuk mengakses ruang budaya harus memiliki uang. Kelompok budaya kecil, tanpa modal, dan tidak populer sempit kesempatannya. Ruang budaya layaknya pasar, yang punya nilai jual bisa tampil, begitu pun sebaliknya.

Kedua, televisi lokal ternyata untuk budaya mayoritas. Budaya dianggap statis, murni, yang hanya dimiliki satu kelompok etnis. Di ADiTV hanya ditampilkan budaya Jawa yang berpusat pada Keraton Yogyakarta dan Solo. Sementara di Bali TV hanya menampilkan budaya Hindu Bali lewat gerakan Ajeg Bali.

Akibatnya, budaya lain tak terlihat, seperti Tionghoa, Batak, dan Minang di Yogyakarta, misalnya, tak punya ruang. Di Bali, komunitas non-Hindu tak terlihat. Selain tak mendapat ruang, budaya lain dianggap ancaman. Ironisnya, pengelola televisi lokal juga cemas takut budaya yang dianggap murni itu hilang. Kecemasan ini membuat kaku dan eksklusif.

Jeratan dominasi Jakarta juga membelenggu, televisi nasional modal besar dan jangkauan luas tak bisa dilawan televisi lokal. Dengan kualitas gambar yang lebih jernih, produksinya juga lebih mumpuni. Sehingga pennonton memilih sinetron Jakarta daripada acara budaya lokal.

Riset ini mendorong agar ruang budaya menjadi inklusif dan nilai-nilai budaya dari setiap daerah mampu diterima semua pihak. Jika televisi lokal masih eksklusif dengan mengacu pada kepentingan komersial serta terjebak dalam pandangan sempit budaya, tentu akan terus gagal.

Televisi lokal harus merangkul keberagaman, bukan hanya melestarikan satu budaya yang dominan. Indonesia bukan hanya Jawa dan Bali, melainkan milik semua orang yang tinggal di dalamnya.

Sumber: Rianto, P., Wahyuni, H.I., & Wahyono, S.B. (2026). Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere. Studies in Media and Communication, 14(1), 177-188.

https://redfame.com/journal/index.php/smc/article/view/7930

 

2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025

Flashback Moment, Mareta Zahra Kartika merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) yang turut menjadi tim voli putri pada kompetisi 2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025 di Universitas Teknologi Petronas, Malaysia pada 21-24 Agustus 2025.

Ia dan tim berhasil pulang dengan gelar 1st Runner Up atau juara dua tingkat internasional setelah bertemu tim Filipina di babak final. Berlangsung cukup dramatis, kegagalan merebut posisi pertama kandas dengan skor tipis 27-28.

“Meskipun akhirnya kami kalah di final karena peraturan, pertandingan berlangsung sangat ketat dengan skor 27-28 sehingga menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” ucap Mareta, mahasiswi Ilmu Komunikasi UII angkatan 2023.

Dalam ingatannya, dalam pertandingan final itu tim voli putri UII menghadapi lawan yang memiliki kualitas permainan sangat mumpuni, baik dalam kemampuan individu maupun kerja tim. Meski demikian, baginya inilah tantangan yang memang harus dihadapi pada kompetisi internasional.

“Tantangan terbesar yang kami alami adalah menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas permainan yang sangat baik dan pengalaman internasional yang cukup tinggi. Pada babak final kami bertemu tim dari Filipina yang memiliki kemampuan individu dan kerja sama tim yang kuat,” tambahnya.

Untuk menghadapi pertandingan ini, persiapan matang telah dilakukan, salah satunya dengan menambah porsi latihan fisik secara mandiri maupun latihan bersama tim. Tujuannya tentu untuk memperkuat kekompakan dan kepercayaan diri tim.

“Kami melakukan persiapan latihan kekompakan tim secara rutin dan latihan tambahan dari diri sendiri seperti menambah porsi latihan fisik dan lebih sering memegang bola. Selain itu, membentuk rasa kepercayaan diri dan kekompakan dalam tim sangatlah penting di sebuah pertandingan yang besar, apalagi bertemu dengan beberapa negara,” ujarnya.

Mareta juga membagikan bagaimana strateginya dalam manajemen waktu antara kesibukan akademik di kampus dan persiapan pertandingan-pertandingan yang akan diikutinya. Ia menegaskan bahwa kuliah adalah tugas utama yang wajib ia selesaikan dan menjadi prioritas utama.

“Saya berusaha membuat jadwal yang teratur antara kuliah dan latihan, apalagi pada saat itu menjelang UAS. Prioritas saya tetap menyelesaikan tugas dan kewajiban akademik terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan waktu luang untuk latihan. Saya juga mengatur waktu istirahat agar kondisi fisik tetap terjaga. Dukungan dari teman satu tim dan dosen juga sangat membantu sehingga saya bisa menjalankan keduanya dengan baik,” ungkap Mareta.

Bertanding di Malaysia kala itu adalah pengalaman berharga. Selain berjuang untuk membawa nama baik almamater, Mareta menyebutnya sebagai pengalaman pengembangan diri.

“Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah untuk mengembangkan kemampuan diri, menambah pengalaman bertanding di tingkat internasional, serta membawa nama baik Universitas Islam Indonesia dan Indonesia. Selain itu, saya ingin menguji hasil latihan yang selama ini dilakukan dan mendapatkan kesempatan untuk bertemu serta belajar dari atlet-atlet mahasiswa dari negara lain,” tandasnya.

Wawancara dengan Alumni Ilmu Komunikasi UII yang Meliput Piala Dunia 2026: "Ini adalah Mimpi Masa Kecil Saya"

Sepanjang momen semi final hingga final Piala Dunia 2026 ada sosok alumni Ilmu Komunikasi angkatan 2006 yang turut meliput kemeriahan sepak bola paling ditunggu warga dunia. Ia adalah Rifqi Widianto yang telah bergabung dengan media Detik Sport selama 13 tahun. Ada pengalaman yang mengharukan saat ia menginjakkan kaki di Mercedes-Benz Stadium, ia memang tak menggapai mimpinya menjadi pemain sepak bola tapi mimpi masa kecil itu begitu dekat saat ia berada di Atlanta, Georgia, US. “Sangat-sangat dekat dengan mimpi itu, saya merinding,” ujarnya.

Kunjuangannya ke Mercedes-Benz Stadium hingga MetLife Stadium tidak terwujud dalam semalam. Sebelum mendapat kesempatan meliput ajang sepak bola paling bergengsi ini, ia melewati serangkaian proses yang tak sederhana seperti akreditasi ke PSSI dan FIFA. Sebelumnya ia gagal meliput Piala Eropa 2020 karena pandemi Covid-19. Rifqi juga mengaku, bekal paling berharga dalam dinamika kerja jurnalis justru didapatkannya saat bergabung sebagai volunteer saat erupsi Gunung Merapi 2010 “Jalin Merapi”, kerja sama Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan RRI. “Di situ saya dapat gambaran jelas bagaimana menjadi jurnalis, itu bekal sebelum memasuki dunia kerja,” ungkapnya.

Selama 10 hari di Amerika, Rifqi merasakan sendiri bahwa meliput Piala Dunia bukanlah ajang menonton pertandingan gratis. Ada tanggung jawab besar pada media tempat ia bekerja, sponsor, hingga antrean panjang 3 jam sebelum masuk stadion. Mengambil keputusan tepat dan cepat harus ia lakukan, terlebih lagi di tengah keramaian yang membuatnya sulit mengirim bahan berita ke Indonesia karena sinyal yang tak stabil. Tim Publicist berkesempatan mendapat cerita langsung dari Rifqi Widianto. Berikut wawancara yang penuh insight yang layak dibaca oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Wawancara dengan Rifqi Widianto, Alumni Ilmu Komunikasi UII yang Meliput Piala Dunia 2026

  1. Apa saja persiapan sebelum berangkat ke AS?

Karena ini pertama kali ke Amerika, saya harus mapping kota mana yang saya tuju, aksesnya bagaimana, naik apa, seberapa jauh. Juga mapping lokasi transportasi. Untuk makan, karena di sini Muslim minoritas, saya harus mencari makanan yang aman secara agama. Untuk urusan visa, wawancara tidak sampai lima menit. Mereka mengantisipasi agar tidak ada kemungkinan imigran gelap. Saya pegang surat dari FIFA. Itu memperkuat posisi tawar. Apalagi, saya sudah 13 tahun di perusahaan. Aman ketika di imigrasi mereka sudah lihat suratnya.

  1. Apa tantangan terbesar yang Mas Rifqi hadapi saat meliput?

Pertama, transportasi. Di AS, semuanya mahal. Untuk menuju dari satu lokasi ke lokasi lain, naik bus atau kereta beberapa kali, dan bisa tiba-tiba tidak beroperasi. Kami harus antisipasi hal-hal tak terduga dengan lebih awal dan gerak cepat ambil keputusan. Kedua, di tempat kerumunan besar seperti Times Square, ngirim gambar dan video susah banget. Sinyal ada, tapi somehow susah kirim. Jalan banyak ditutup, ada demo juga, jadi agak chaos. Ketiga, cuaca summer di sini sangat ekstrem. Padahal panas, tiba-tiba hujan badai lebat dan udara dingin. Kita harus menjaga kondisi tubuh dan mengambil keputusan cepat.

  1. Bagaimana pengalaman masuk stadion?

Untuk masuk stadion, saya sudah datang jam 10 pagi, padahal pertandingan jam 3 sore. Antreannya 3 jam karena pemeriksaan yang sangat ketat. Apalagi saat itu ada Donald Trump. Kami pakai shuttle dengan jalur khusus, tapi tetap harus ngantre. Jadi, mau tidak mau, kami harus memilih mau ngantre dulu atau ngonten di luar.

  1. Momen apa yang paling berkesan selama bertugas?

Secara umum, ini emosional. Relate dengan mimpi masa kecil, saya dulu bercita-cita jadi pesepak bola. Waktu pertama kali masuk Stadion Atlanta, saya merinding. Walaupun saya tidak menjadi pemain bola, tapi bisa sampai di titik itu, itu sangat-sangat dekat dengan mimpi saya. Saya terharu. Menyenangkan, karena saya bertemu kultur baru, bertemu karakter baru, kenalan baru. Ini membuat saya lebih rendah hati.

  1. Stadion mana yang paling berkesan?

Atlanta. Stadionnya bagus, tertutup, dan saya bisa menikmati suasana. Atlanta vibes-nya kayak Jogja. Orang-orang ramah, tiba-tiba menyapa. Kendaraan juga lebih santai. New York itu kayak Jakarta, padat, ramai, dan banyak bertemu karakter yang berbeda-beda.

  1. Apa yang tidak diketahui publik tentang pekerjaan wartawan di ajang sebesar Piala Dunia?

Mungkin bahwa kerja jurnalis tidak melulu soal hal-hal yang menyangkut idealisme. Kita akan berkaitan dengan sponsor. Kita punya tanggung jawab ke sponsor, jadi secara mekanisme liputan tidak sebebas itu. Kalau ada liputan yang berkaitan dengan sponsor, kita tidak bisa memasukkan liputan pertandingan.

  1. Bekal apa dari kuliah Ilmu Komunikasi UII yang paling terasa manfaatnya?

Waktu kuliah, yang paling berasa adalah ketika Merapi 2010. Mas Muzayin dari Ilkom bekerja sama dengan RRI buka relawan. Saya ikut dengan beberapa teman. Justru di situ saya mendapat gambaran jelas tentang bagaimana menjadi jurnalis. Dari situ saya tertarik dan semakin mendalami dunia kewartawanan. Itu bekal sebelum memasuki dunia kerja. Waktu kuliah editing berita, saya belajar menulis secara efektif dan efisien.

  1. Bagaimana jurnalisme olahraga berubah di era media digital dan AI?

Kami beradaptasi dengan AI untuk kebutuhan riset. Sekarang sistem kami sudah punya AI untuk merangkum teks, jadi pembaca tidak perlu mengklik lagi untuk membaca full. AI ini dua mata pisau di satu sisi menguntungkan karena akses pembaca lebih mudah di sisi lain, bisa jadi ancaman karena pembaca mulai malas membaca full teks. Mereka mulai bermigrasi ke media sosial.

  1. Tiga kata untuk menggambarkan Piala Dunia 2026?

Mimpi, haru, memorable.

  1. Apa tantangan emosional terbesar?

Semua liputan menegangkan. Tapi yang ini beda. Saya jauh dari anak dan istri. Ada hal yang lebih menyeramkan daripada liputan: jarak dari keluarga.

Dari meliput Piala Dunia 2026, Rifqi pulang tak sekadar membawa file berita. Ia membawa pelajaran tentang ketangguhan, rendah hati, dan arti sebuah perjalanan yang begitu dinamis.

Kalfest Hub Seri #9 X Festival Film Santri: Hadirkan Enam Film dari Perspektif Pesantren

Kaliurang Festival Hub seri ke-9 berkolaborasi dengan Festival Film Santri (FFS) telah terselenggara pada 16 Juli 2026. Perjumpaan dua festival ini menjadi ruang bagi para penikmat film untuk melihat dan mendengar suara-suara dari perspektif santri. Screening dilakukan di Ruang Audio Visual Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan menayangkan enam film.

Enam yang ditayangkan meliputi tiga karya santri dan tiga dari kategori umum. Film-film tersebut antara lain Saling Silang Sandal – Yazid Azhari (Pesantren Sukorejo, Situbondo) yang mengungkap bagaimana kebiasaan yang dianggap lumrah, istilahnya ghosob, fenomena santri terpaksa memakai sandal milik teman demi mobilitas cepat.

Selanjutnya ada Akar Pohon – Husni Fatihin (Pesantren Sidogiri, Pasuruan) yang bercerita soal sikap tawadhu seorang santri terhadap wasiat almarhum ibunya untuk kembali ke kampung dan mengabdikan diri di jalur pengajaran.

Film ketiga adalah Gazeboan – Tiara Navisa (Sinematake SMK Subbanul Waton, Magelang). Tak kalah unik, Gazeboan hadir di bulan Ramadan: bagaimana para santri melakukan “war takjil” di selasar pesantren. Hasilnya, banyak suara yang layak untuk direfleksikan.

Tiga film lainnya adalah KAR Kar – Shohipul Ma’ruf (Team Creative Multimedia), Baku Percaya – Raynton Rare’a (Komunitas Tidak Production), dan Kita Gali Sampai Mati – Labib Pratama (Moro-moro Production) yang digarap secara profesional dengan nilai-nilai akulturasi yang sangat detail.

Seri ke-9 ini, selain melakukan screening enam film, juga dilanjutkan dengan Movie Talk, sebuah diskusi dari punggawa FFS bersama penonton yang menghadirkan Agus Sam (Direktur FFS) serta Yogi Ishabib (Direktur Program FFS).

Agus Sam menyebut bahwa awal mula inisiasi pembentukan FFS terjadi karena ia memiliki kedekatan dengan pesantren. Harapannya, dengan film, keresahan dan suara santri mendapat ruang di hadapan publik.

“Ide ini berangkat dari kedekatan dengan pesantren. Kami resah, tapi juga melihat ruang baru. Film bukan untuk menggurui, itu membosankan. Kami menawarkan festival kepada pesantren dan kami rumuskan agar festival ini tidak hilang dalam 1-2 tahun. Dengan film maka bersilaturahmi dengan pesantren,” ucapnya.

Senada dengan rekannya, Yogi Ishabib menyebut bahwa di Surabaya, tempat lahirnya FFS, banyak festival tak berumur panjang. Dengan jejaring yang dimiliki, ia ingin melibatkan langsung para santri agar festival terus bertahan.

“Kami punya jejaring dan production house, tapi festival film di Surabaya tak berumur panjang. Covid mengubah lanskapnya. Maka di FFS 2023, kami menghadirkan kuratorial yang tidak ujug-ujug kami mendekati dulu. Karena santri di pesantren tak boleh pegang HP, komunikasi terbatas,” ungkap Yogi Ishabib.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, yang turut hadir menyampaikan apresiasinya. Baginya, perspektif dari santri turut menjadi dinamika keriuhan yang layak untuk didengar.

“Menggandeng mitra luar biasa, film menjadi ruang perjumpaan gagasan, bukan sekadar tontonan, melainkan wadah di mana suara-suara kami menjadi bagian dari dinamika keriuhan yang layak didengar.” Tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Kalfest Hub Seri #9 ‘Mendekatkan Sinema, Merayakan Suara Santri’ Hadirkan Ruang Dialog antara Film dan Pesantren

Tak sekadar menjadi medium hiburan, film juga menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif. Gelaran Kaliurang Festival Hub Seri 9 kali ini mengambil tema “Mendekatkan Sinema, Merayakan Suara Santri” dan menggandeng Festival Film Santri (FFS) sebagai kolaborator pada 16 Juli 2026 di Ruang Audio Visual Ilmu Komunikasi UII.

Diawali dengan screening enam film yang telah dikurasi FFS, antara lain Saling Silang garapan Yazid Azhari, Akar Pohon karya Husni Fatihin, Gazeboan dari Tiara Navisa, Kita Gali Sampai Mati karya Labib Pratama, Baku Percaya karya Raynton Rare’a, dan Kar yang digarap oleh Shohipul Ma’ruf.

Usai screening, dilanjutkan diskusi Movie Talk dengan menghadirkan Agus Sam dan Yogi Ishabib selaku Direktur serta Direktur Program FFS. Dipandu oleh dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Herman Felani, Movie Talk kali ini menjabarkan bagaimana proses membangun dan mempertahankan FFS.

Menurut Yogi Ishabib, FFS lahir dari proses panjang membangun ekosistem perfilman di lingkungan pesantren. Bukan soal menghasilkan karya, melainkan membangun keberlanjutan yang melibatkan santri di seluruh proses kreatif.

“Santri tidak hanya menjadi objek dalam film, tetapi juga perlu menjadi kurator dan produser yang menceritakan pengalaman mereka,” ucap Yogi Ishabib.

FFS memiliki dua kategori, yakni kategori santri dan remaja serta kategori umum. Yogi menambahkan bahwa tahun ini melibatkan tiga santri dalam proses kurasi film di FFS. Keterlibatan santri menjadi peran krusial dari perspektif khas kehidupan pesantren.

“Kemampuan teknis dapat dipelajari, tetapi pengalaman hidup dari santri menghadirkan sudut pandang autentik dan berbeda,” tambahnya.

Dalam praktik lapangan, produksi film di pesantren memiliki dinamika yang unik. Keterbatasan alat komunikasi membuat prosesnya berjalan lewat struktur pengasuhan di pesantren. Meski demikian, beberapa pesantren kita telah menginisiasi pembentukan tim media, sehingga beberapa santri terbiasa mengoperasikan kamera dan perangkat produksi audiovisual.

Agus Sam, sebagai Direktur, berharap FFS menjadi ruang baru bagi santri untuk menyampaikan keresahan lewat film. Baginya, festival tidak boleh berhenti hanya sebagai ajang pemutaran karya, melainkan menjadi tempat belajar yang berkelanjutan.

“FFS ini tidak sekadar perayaan film, tetapi proses belajar agar santri dan pesantren memiliki ruang untuk menyampaikan perspektifnya kepada publik,” ungkap Agus Sam.

Sebelum festival berlangsung, Agus Sam dan tim melakukan berbagai pendampingan dan pengembangan kapasitas kepada para santri yang disebut program pra-festival, yakni workshop pengembangan ide, produksi film, hingga kuratorial.

“Pendekatan ini dimulai dengan menggali persoalan yang benar-benar dirasakan santri di masing-masing pesantren. Agar karya yang dihasilkan berangkat dari pengalaman nyata mereka,” tambahnya.

Agus juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi dengan para pengasuh pesantren. Menurutnya, dukungan pengasuh menjadi fondasi penting agar media digital dapat berkembang sebagai ruang dakwah dan ekspresi tanpa menghilangkan identitas pesantren.

Ke depan, Festival Film Santri berharap mampu melibatkan lebih banyak santri tidak hanya sebagai pembuat film, tetapi juga sebagai kurator, fasilitator, hingga koordinator di berbagai wilayah. Dengan demikian, ekosistem perfilman di pesantren dapat terus tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Melalui Movie Talk ini, kolaborasi antara UII dan Festival Film Santri menunjukkan bahwa sinema dapat menjadi medium yang menjembatani dunia akademik, komunitas kreatif, dan pesantren. Lebih dari sekadar memutar film, kegiatan ini membuka ruang dialog yang memungkinkan santri menyampaikan pengalaman, keresahan, dan gagasan mereka kepada publik melalui bahasa sinema.

https://festivalfilmsantri.org/

2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025

Flashback Moment, mahasiswa Ilmu Komunikasi UII berhasil membawa pulang emas dalam kompetisi 2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025. Ia adalah Muhammad Dzaky Naufal, mahasiswa angkatan 2024 yang juga atlet voli tim UII.

Pada tanggal 21–25 Agustus 2025, ia dan tim UII bertandang ke Universitas Teknologi Petronas, Malaysia, untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional dan bertemu tim dari berbagai negara ASEAN. Melalui perjuangan panjang, akhirnya tim voli putra UII berhasil menjadi juara 1.

Dzaky menyebut bahwa ia dan tim membutuhkan waktu sekitar lima bulan latihan intensif untuk menyiapkan pertandingan ini. Usaha tak mengkhianati hasil; mereka pulang membawa prestasi yang membanggakan.

“Strategi yang pastinya rajin berlatih kita mulai Maret 2025 sudah persiapan itu yang membuat kami matang bisa mendapat juara 1,” ucap Muhammad Dzaky Naufal.

Bertanding tingkat internasional bukan perkara sederhana, bagi Dzaki dan tim yang bertemu tim dari Filipina dan Malaysia butuh kematangan persiapan baik fisik maupun mental.

“Tantangan yang pasti dari diri sendiri, mental, karena pertama kalinya melawan dari luar negeri, dari Filipina dan Malaysia, tentunya itu tekanan serta bagaimana kita mengantisipasinya,” tambahnya.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang super padat di kelas maupun di proyek-proyek lapangan, kondisi ini membuatnya harus bijak menentukan prioritas.

“Sangat susah jawabannya jujur, harus benar-benar tahu kondisi bagaimana mengaturnya kalau saya sendiri dengan pakai prinsip bagaimanapun harus kuliah, setelah kuliah selesai langsung latihan karena ya itu kewajiban,” jawabnya.

Dari Indonesia ke Malaysia dengan berbagai usaha maksimal, Dzaki memiliki ambisi besar untuk memenangkan pertandingan. Ia dan tim telah mengorbankan waktu dan tenaga, hingga mendapat dukungan dari pihak universitas sehingga harus tampil maksimal dalam lag aitu.

“Motivasinya sudah jauh-jauh harus diambil juaranya, jangan sampai engga, itu yang bikin adrenalin di diri saya meningkat supaya jadi juara dan lebih baik.” Tandasnya.