Mahasiswi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FPSB UII) berpartisipasi dalam konferensi ilmiah internasional di Rangsit University Thailand. Konferensi bertajuk 4th Rangsit University National And International Research Conference On Science And Technology, Social Science, And Humanities 2019 dan UII ini diadakan pada 25-26 April 2019. Kedua mahasiswa UII atas nama Dian Annisa (Ilmu Komunikasi 2015) dan Pratiwi Mulido (Hubungan Internasional 2015) mempresentasikan penelitian penelitian Products Brand Image mengenai Modern Liberalism.

Sebelumnya mereka harus mengumpulkan full paper untuk dapat berpartisipasi. Paper yang sudah dikumpulkan akan direview oleh pihak pelaksana. Butuh satu hingga tiga kali revisi hingga penelitian peserta bisa diterima dan peserta mendapatkan Letter of Acceptance.

Disampaikan Dian Annisa bahwa di sana ia menyampaikan hasil penelitian dengan harapan dapat bermanfaat untuk peserta konferensi. “Tujuan dari kegiatan ini ialah sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan dan hasil penelitian. Sebagai peserta pemula tentunya kami sangat senang dengan ilmu yang didapatkan dan pengalaman yang luar biasa dengan akademisi global”, tuturnya.

Penelitiannya yang berjudul “Effects of the Starbucks Products Brand Image on the Consumer Perception in XXI Empire Cinema” fokus pada pengaruh citra merek dan persepsi konsumen terhadap Produk Starbucks. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan ada efek yang muncul dari branding Starbucks dalam mengubah persepsi konsumen di Starbucks XXI Empire cabang Yogyakarta untuk mengkonsumsi produk-produknya. Manfaat dari penelitian ini tentunya dapat menjadi rujukan dalam memulai bisnis kedai kopi.

Sementara penelitian Pratiwi Mulido berjudul “Overview Of Modern Liberalism Theories About The Impact Of Economic Reform Vietnam”. Penelitian ini membahas tentang reformasi ekonomi Vietnam ditinjau dari teori modern liberalism.

“Penelitian ini menunjukan bahwa keberhasilan dalam reformasi ekonomi (Doi Moi) tidak berlangsung lama di Vietnam karena fakta menunjukan terjadi ketidakstabilan dalam PDB Vietnam. Dengan pendekatan teori Liberalisme Modern dapat dijelaskan bahwa pemerintah ikut serta dalam kegiatan ekonomi dan bertanggung jawab atas krisis ekonomi”, pungkas Pratiwi. Kedua mahasiswa pun berharap mereka dapat terus aktif dalam kegiatan akademik sarat manfaat seperti yang mereka ikuti kali ini. (GT/ESP)

Melihat pentingnya peran ikatan alumni terhadap kampus, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universitas Islam Indonesia (UII) menginisiasi pembentukan ikatan alumni prodi serta buka bersama alumni pada Minggu (2/5). Acara tersebut berlangsung di Eastparc Hotel Yogya dan dihadiri perwakilan alumni serta pengurus prodi.

Kegiatan diawali dengan pembacaan surat keputusan tentang pembentukan Ikatan Alumni Prodi Ilmu Komunikasi Ruang Interaksi Alumni Komunikasi (Relasi) FPSB UII dan pengangakatan pengurus periode 2019/2023.

Dalam surat tersebut, diputuskan pengurus yang terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara dan beberapa bidang, yang masa baktinya selama 2019-2023. Masa bakti selama empat tahun terhitung sejak penetapan yakni pada tanggal 10 bulan Mei tahun 2019, ditandatangani oleh ketua Dewan Perwakilan Wilayah Ikatan Alumni UII Didik Noor Dewantoro, SH, MM, serta Totok Purwanto S.H, Selaku sekertaris.

Pengurus yang dilantik di antaranya sebagai dewan pembina antara lain Dr. H. Fuad Nashori., S.Psi., M.Si., M.Ag., Dr. Phil. Emi Zulaifah., Dra., M.Sc., Puji Hariyanti., S.Sos., M.Kom. Selanjuntya, Muhammad Candra Kurniawan sebagai Ketua, wakil ketua dijabat oleh Intan Tanjung Sari, Muhammad Ikhsan Permana Putra, Ransi Hamsa Umar, dan Muhammad Akherus.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni UII, Dr. Drs. Rohidin., S.H., M.Ag dalam sambutannya menekankan pentingnya peran alumni bagi akreditasi. “Saat akreditasi, pertanyaan terkait ikatan alumni prodi selalu ditanyakan, akan tetapi kita hanya bisa menunjukkan Ikatan alumni UII yang di dalam AD ART hanya ada satu.” Jelas Rohidin.

Dengan terbentuknya ikatan alumni tingkat prodi, diharapkan dapat mendorong para alumni dalam memberikan kontribusi mereka terhadap kampus. Dalam paparannya, Rohidin juga menyampaikan bahwa beberapa program terkait ikatan alumni telah disusun pihaknya. Salah satunya tentang regulasi donasi alumni, yang digunakan untuk membantu mahasiswa yang kurang mampu.

Melengkapi pernyataan Wakil Rektor, Didik Noor Dewantoro menyampaikan, “Aktivtas di luar keluar dapat berupa bakti sosial, kalau di DIY kita adakan sumbangan air bersih, mengadakan qurban di daerah terpencil, di daerah banjir kita juga ikut menyumbang, serta aktivitas sosial lainnya. Sedangkan untuk kegiatan internal kita ada pengajian rutin, dan juga di rumah sakit UII ada diskon bagi para alumni.” Jelasnya.

Pihaknya juga mendorong pembentukan IKA di tingkat prodi. “Kemarin kita dari Farmasi, Teknik Sipil, Ekonomi, beberapa di Fakultas Ilmu Agama Islam, serta beberap jurusan lain segera menyusul.” Imbuhnya.

Sebagai ketua IKA Relasi, Muhammad Candra Kurniawan yang juga merupakan alumni Ilmu Komunikasi angkatan kedua setelah Ilmu Komunikasi Berdiri tahun 2004, mengungkapkan rasa syukur atas dibentuknya organisasi ini. Candra berharap organisasi ini dapat menyatukan lagi para alumni yang telah lama lulus, yang tidak hanya ada di Indonesia tetapi juga yang ada di luar nergeri.

“Dengan terbentuknya Relasi semoga kita bisa saling membantu, saling support, kita bisa saling berbagi informasi, berbagi ilmu antara sesama alumni juga para adik-adik yang masih menempuh pendidikan, sehingga membawa manfaat untuk bersama.” Tegasnya. (DD/ESP)

Untuk menjalin kerja sama yang baik dalam bidang keilmuan, khususnya dalam bidang penelitian komunikasi ruang dan lingkungan, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), Universitas Islam Indonesia (UII), menyelenggarakan Konferensi Internasional yang kelima kalinya, pada Senin (15/4). Kegiatan dilangsungkan di Auditorium FPSB lantai 3 bertajuk “5th Conference on Communication, Culture and Media Studies (CCCMS) 2019” dengan tema “Communication Space and Environmental”

Konferensi internasional yang berlangsung selama 3 hari yaitu pada tanggal 14-16 April 2019 ini diisi dengan berbagai macam agenda. Hari pertama dilaksanakan pre-conference, sedangkan hari kedua dilaksanakan pembukaan konferensi dan penyampaian materi oleh pembicara kunci. Selanjutnya, pada hari terakhir diisi dengan sesi paralel lanjutan serta workshop bertajuk “How to Prepare Article for an International Journal”.

Wakil Dekan 2 FPSB UII, Dr. Phil. Emi Zulaifah., M.Sc dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para peserta yang datang dari berbagai negara, serta menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat meningkatkan semagat kolaborasi guna menciptakan kemaslahatan bersama.

“Tradisi kolaborasi interdisiplin ilmu sudah berlangsung sejak kampus ini berdiri pada 1945. Hal ini didasari oleh kesadaran bapak pendiri bangsa melalui dunia pendidikan, salah satunya membangun universitas ini (UII”, Jelasnya.

Senada, ketua panitia penyelenggara Holy Rafika Dhona., S.I.Kom., M.A menyebutkan terdapat lebih dari 100 abstrak yang terkumpul dengan 50 peserta yang hadir tak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Malaysia, Filipina, Arab Saudi, dan Australia.

Sementara, Prof. Kati Lindstrom dari Institut Teknologi Kerajaan KTH Swedia dan Universitas Tartu Estonia, sebagai pembicara kunci pada konferensi tersebut, memaparkan materinya tentang “Perils of Celebratory Framing or Why History and Semiotics Matter For Biodiversity Communication”.

Ia menjelaskan keanekaragaman hayati saat ini, digambarkan melalui 3 bentuk, yaitu makanan (beras), hutan dan air, yang kemudian dikomunikasikan melalui pengadilan budaya, dan infrastruktur pariwisata. Sebagai bagian dari lingkungan, untuk melindunginya, tidak hanya terkait dengan praktek ilmu pengetahuan tetapi juga terkait pada nilai dan narasi budaya.

Ia menambahkan terdapat tiga warisan budaya yang menarasikan tentang lingkungan. Pertama bahwa kepedulian lingkungan yang kompleks terkadang direduksi menjadi narasi masa lalu, sederhana, dan menggugah. Kedua, representasi berlebihan terhadap lingkungan telah membentuk bias terhadap fenomena lain. Dan yang terakhir, tanggapan terhadap perubahan lingkungan, tergantung pada seberapa baik perubahan ini, sesuai dengan narasi menarik yang telah ada sebelumnya.

Untuk itu, ia menyebutkan diperlukan kebijakan yang baik dan tidak bertumpu pada nilai-nilai penguasa dalam menjaga lingkungan. Sehingga kebijakan tidak hanya dari perspektif lanskap hidup atau organisme yang dilindungi. Kebijakan cenderung bergantung pada konstruksi naratif yang kuat seperti alam dan budaya, diri dan lainnya, daripada perbedaan yang bermakna untuk kehidupan individu. (DD/ESP)

“Anda lebih baik magang di media komunitas jadi kreator, perencana. Daripada magang di industri besar tapi jadi tukang fotokopi atau kliping yang jauh keahlian komunikasi.”

Tiga orang yang ditunggu-tunggu cerita pengalamannya di dunia profesional itu kini sudah duduk di meja panggung depan Auditorium FPSB UII. Meski komposisinya berjejer tiga, mirip juri audisi di layar kaca yang lagi ramai itu, mereka tak hendak memiripinya.

Tiga orang tersebut adalah praktisi ahli yang akan memukau dengan cerita profesionalnya di depan ratusan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII. Yang paling ujung kiri, paling muda, adalah broadcaster profesional dari UNISI Radio, Syarif atau biasa dipanggil Acil nama udaranya. Lalu ada pula Sigit Raharja, dari Diskominfo Kulon Progo, dan Ir. Riyanto, MM. Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan Dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta.

Ketiganya menjelaskan satu hal yang sama: jika ingin terjun ke dunia kerja, kuncinya adalah ketekunan, mau belajar, dan yakin pada kemampuan diri sendiri. Acil misalnya mengatakan, meski kini orang sering mengatakan dunia radio sudah menjelang senjakala, tetapi ia menampiknya. Justru perkataan orang tentang pekerjaannya di dunia broascasting itu membuat dirinya semakin tertantang dan yakin bahwa dunia radio tetap masih akan hidup. Orang hanya berganti medium, misalnya kini ada soundcloud, ada podcast, ada radio yang bisa diakses lewat internet. Maka, ketekunan dan semangat mau belajar adalah kunci menghadapi perkembangan digital di dunia kerja. Begitu pula kata Sigit Raharja dan Riyanto dari pemda di DIY.

Dalam kesempatan itu, 5/4/2019, di Auditorium FPSB UII, Anang Hermawan, Dosen Ilmu Komunikasi UII, juga memberi gambaran ringkas tentang pelaksanaan magang sebagai syarat kelulusan di Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII.

Kali itu, pada kegiatan yang bertajuk “Pembekalan dan Persiapan Magang” diikuti puluhan mahasiswa Komunikasi tahun angkatan 2015 yang akan mulai melaksanakan magang.

“Dulu namanya KKK (Kuliah Kerja Komunikasi), dilaksanakan sebelum skripsi. Sekarang berubah jadi magang, dan dilaksanakan setelah setelah skripsi selesai,” kata Anang.

“Tujuannya supaya garap skripsi lebih serius. Lalu bisa masuk dunia praktis,” tambahnya. Anang menjelaskan, inilah salah satu dari tulang sumsum kelimuan prodi ilmu komunikasi UII. “Tulang sumsumnya keilmuan kita kan ada Riset, akademik/ pengetahuan, dan Praktis,” jelasnya.

Konsep magang seperti ini bermaksud mengaktualisasikan kompetensi akademik & praksis. Magang juga menjadi ajang mewujudkan kompetensi sosial (soft skill).

Menurut Mutia Dewi, salah satu dosen keahlian Komunikasi Pemberdayaan, kini mahasiswa prodi ini bisa memanfaatkan kerjasama-kerjasama yang telah terjalin antara prodi dengan lebih dari 10 mitra dari instansi pemerintah, kalangan swasta, industri kreatif, NGO, media komunitas, dan lain-lain.

Mitra-mitra tersebut seperti Dinas Tata Kelola Pemerintahan, KOMPAS TV, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Konner Digital Asia, Diskominfo Kulon Progo, Unisi Radio, Tirto.id, X-Code Films, Mata sinema, Cornellia CO, INFEST Yogyakarta, Mojok.co, Uniicoms TV, Metro TV, NET TV, BPPTKG, Mafindo, Narasi TV, Combine Resource Institution, Humas Pemda DIY, Dinas Kebudayaan, dan lain-lain.

Apakah mungkin mahasiswa memproduksi film selevel film layar lebar? Bagaimana menggunakan kamera sinema? Bukannya file RAW itu menyulitkan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang muncul saat Amirul Mukminin hadir pada diskusi publik PSDMA Nadim Komunikasi UII bertajuk “Master Class Kamera Sinema”. Diskusi yang dihelat pada Jumat, (12/8) di Laboratorium TV dan Film, Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII ini memberi perspektif baru pada mahasiswa Komunikasi UII soal kamera sinema dan produksi film layar lebar. Misalnya soal file hasil produksi film berekstensi RAW yang selama ini dianggap berkapasitas besar dan menyulitkan.

Amir justru membantahnya dengan sebuah analogi. “Tulisan yang sudah saya tulis di kertas ini bisa dibaca kan? Tapi kalau kertas ini saya gulung, saya lipat-lipat, menjadi seperti ini tentu tidak bisa dibaca kan?” Kata Amir sambil membuat simulasi.

“Nah perumpamaannya seperti itu. File hasil produksi berekstensi RAW itu seperti kertas yang belum saya gulung dan lipat tadi. Mudah dan jelas dibaca tulisan di dalamnya. Namun ukurannya besar karena berisi metadata. Semua warna, pilihan suhu, dan lainnya tersimpan di metadata file RAW itu,” sambungnya. Sedangkan kertas yang sudah dilipat-lipat itu diumpamakan dokumen film bukan RAW yang sudah dikompresi menjadi lebih kecil ukurannya tetapi tulisan di dalamnya sulit dibaca. “Beda jenis file, beda kualitas. Nah kamera REDcinema ini hasilnya adalah file RAW,” katanya.

“Lalu apa keuntungannya menggunakan kamera RED Cinema ini?” Tanya Raihan
Taruna, salah satu peserta. Selain ia adalah kamera sinema layar lebar yang paling murah di antara kamera sinema lainnya, ia juga mudah karena menggunakan RAW. “Karena pakai RAW di RED ini, kita bisa pilih opsi suhu, warna, dan sebagainya dari kamera bahkan langsung ketika shoot di lapangan tanpa harus menunggu sesi editing di komputer. Menghemat anggaran kan?” Jelas Amir sambil memeragakan penggunaan opsi suhu, warna, dan lainnya dari kamera RED. Selain memberi penjelasan, Amir juga mengajak semua peserta praktik mengoperasikan kamera RED dengan beberapa mahasiswa lain berperan menjadi pembawa acara.

Setelah praktik, Amir pun membuka diri untuk bekerjasama dengan perguruan tinggi agar mahasiswanya dapat menggunakan RED gratis. “Syaratnya ya harus produksi video pendek yang kompetitif dan idenya berkualitas, nanti bisa diaturlah,” ungkapnya. Belakangan Amir telah bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta untuk adakan kompetisi ide video pendek. Mahasiswa pemenang kompetisi ide tersebut berhak menggunakan kamera RED miliknya gratis untuk produksi video dan film selama 3 hari.

Eksistensi Film dokumenter tidak sefamiliar film fiksi pada umumnya. Film dokumenter berada di wilayah yang jarang sekali diperbincangkan. Meskipun begitu saat ini film dokumenter tidak hanya menjadikan stasiun televisi saja sebagai tempat untuk penayangannya. Belakangan sudah mulai banyak platform yang bisa menjadi tempat untuk film dokumenter dalam menunjukkan dirinya.

Perlu diketahui juga bahwa secara rating, dokumenter di Industri nasional sangat rendah. Pada industry film nasional, film dokumenter ada di pinggiran karena tidak populer. Film dokumenter memiliki penonton yang spesifik. Hal itu lah yang dirasakan oleh Tonny Trimarsanto sebagai seorang sineas dokumenter yang disampaikannya dalam Diskusi Bulanan PSDMA Nadim Komunikasi UII dengan tema Seluk Beluk Industri Dokumenter internasional yang digelar pada Kamis, 19 Juli 2018 lalu di RAV Prodi ilmu Komunikasi UII. Berangkat dari pengalamannya Banyak karya dari Tonny yang tidak di tayang di Nasional, tetapi mampu untuk tayang di region internasional.

Tonny juga menyebutkan bahwa sebenarnya film documenter memiliki lahan yang luas. Karena dokumenter bisa ditargetkan pada suatu region. “Membuat film dokumenter tidak perlu uang yang banyak, tapi semangat yang banyak,” jelas Tonny (19/7). Butuh kesabaran dan ketekunan dalam memproduksi documenter. Perlu pertimbangan alangkah lebih baik film untuk diproduksi ialah untuk yang mendekatkan antara isu dengan penonton. Selain itu juga perlu memperhatikan Timing yang tepat dalam menentukan pengeluaran film.

Penulis: Risky Wahyudi

Terdapat enam kelas pelatihan yang ditawarkan oleh Prodi Ilmu Komunikasi UII, di antaranya pelatihan kelas Film Dokumenter, Foto Story, Penulisan Esai, Produksi Program Radio, Penulisan Feature Berita, dan juga keorganisasian. Masing-maing peserta diwajibkan memilih salah satu dari opsi yang tersedia agar bisa lebih fokus untuk mempelajarinya.  Selama di camp tiap-tiap peserta diberikan materi dan didampingi oleh  fasilitatornya masing yang terdiri atas Dosen, Staf, Alumni UII, dan juga mahasiswa tingkat akhir yang berkompeten di bidangnya.

Keseriusan Media Camp 2018 juga terlihat tiap-tiap kelasnya pun juga turut menghadirkan Guest Speaker yang professional di bidangnya sebagai pemateri di salah satu sesinya. Seperti Anggertimur (fotografer freelance) untuk kelas Foto Story, Yohanes Aditya Sanjaya (Sineas Dokumenter) untuk kelas Film Dokumenter, Ella Arlika ( Program Director Geronimo FM) untuk kelas Produksi Program Radio,  Fahri Salam (Editor Tirto.id) untuk kelas Penulisan Feature Berita, Muhidin M.Dahlan (Esais Radiobuku) untuk kelas Penulisan Esai, dan juga Budhi Hermanto (Fasilitator lapangan – MPM Yogyakarta) untuk kelas keorganisasian.

Melalui Media Camp 2018 ini diharapkan mahasiswa mempunyai pemikiran baru yang lebih fresh dalam memproduksi produk media. Muzayin Nazaruddin, Kaprodi Ilmu Komunikasi UII mengharapkan kedepannya mahasiswa Komunikasi UII dalam memproduksi suatu karya memiliki konsep yang matang dan pesan yang kuat. “Yang terpenting bukanlah teknis, tapi pesan yang disampaikan,” ungkapnya dalam Sesi Orientasi dan Perspektif Produksi Media  (4/5/18).

Kegiatan ini ditutup dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang mana pesertanya melakukan diskusi bersama fasilitatornya masing-masing. Setelah workshop ini, peserta diminta untuk menggarap proyek yang sebenarnya dengan target sasaran untuk diikutkan lomba tingkat nasional dan juga dilakukan eksibisi terbuka untuk masyarakat umum.  Selama proses penggarapan proyeknya pun peserta masih didamping oleh fasilitatornya masing-masing untuk melakukan mentoring.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Andi Zulham Jaya

Ketika melakukan aktivitas produksi media, tentu harus memiliki orientasi program dan perspektif yang jelas. Keduanya harus memiliki kedudukan yang kuat supaya mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan tepat sasaran. Adanya kedua hal tersebut mampu memberikan pandangan jelas tentang seperti apa idealnya paket produksi media yang harus dihasilkan.

Prodi Ilmu komunikasi UII mencoba menerapkan pemahaman pentingnya orientasi program dan perspektif dalam produksi media kepada mahasiswa melalui Media Camp 2018 yang digelar pada tanggal 4-6 Mei 2018 lalu. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 60 orang peserta yang merupakan perwakilan dari HIMAKOM dan Klub (KLIK18, KOMPOR.KOM, GALAXY, RedAksi, dan DISPENSI) yang ada di Komunikasi UII. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut digelar di Hotel Pandanaran, Jalan Prawirotaman, Yogyakarta. Media Camp 2018 merupakan kegiatan workshop yang digelar untuk mewadahi mahasiswa mempelajari materi seputar produksi media, di antaranya Film Dokumenter, Penulisan Esai, Penulisan Feature Berita, Foto Story,  Program Acara Radio dan juga kelas organisasi yang diperuntukkan khusus HIMAKOM dan inti klub.

Pada sesi pertama peserta diberikan materi ‘Orientasi Program dan Perspektif dalam Produksi Media’ yang diikuti secara umum oleh peserta yang dimulai sekitar pukul 14:00 WIB. Kaprodi Ilmu Komunikasi UII, Muzayin Nazaruudin, selaku pemateri pada sesi tersebut membuka sesi materi dengan membandingkan foto yang dimuat di media surat kabar dengan foto dari Relawan dalam satu momen yang sama, yaitu erupsi merapi pada tahun 2010 silam. Ia menjelaskan bahwa setiap suatu peristiwa bisa dikisahkan dengan berbagai perspektif. Ia mengungkapkan dalam hal ini perlu pesan yang mesti menjadi perhatian dalam memproduksi karya. “Yang terpenting bukanlah terkait teknis, tapi pesan yang disampaikan,” ungkapnya (4/5/18).

“Pada hakikatnya suatu karya tidak ada yang objektif. Dipastikan selalu berangkat dari nilai yang diyakini,” jelasnya .

Muzayin juga menegaskan bahwa setiap karya yang bagus dipastikan mendapatkan pemahaman masalah yang bagus. Sehingga pada peltihan ini dimulai dari bagaimana cara melihat masalah. Sederhanya bisa dimulai dari hal-hal yang sepele.

“Dimulai dengan bagaimana cara mengidntifikasi dan memahami masalah, yaitu dimulai dengan observasi.,” tambahnya.

Setelah selesai materi pertama tersebut, peserta dipecah menjadi 12 kelompok untuk melakukan observasi. Tiap-tiap kelompok diminta untuk mengamati masalah, dan menggali informasi lebih dalam tentang isu yang diamati tersebut. Kemudian pada malam harinya masing-masing kelompok melakukan analisis sosial dengan fasilitatornya untuk mendiskusikan temuan lapangan yang telah didapatkan.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Andi Zulham Jaya

Prodi ilmu komunikasi menggelar Bedah Buku: “Apa Pilihanmu? Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara”  di RAV Komunikasi lantai 3, Gedung Program Studi Ilmu Komunikasi UII. Bedah buku tersebut digelar pada Rabu, 27 April 2018. Turut mengundang Rofi Uddarojat dari SuaraKebebasan.org  sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Buku “Apa Pilihanmu? Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara” merupakan kumpulan tulisan dari beragam pakar, mulai dari ekonomi, sosial, dan politik yang  dieditori oleh Tom G. Palmer. Buku ini mencoba mecoba menjelaskan permasalahan sosial dengan pendekatan baru. Topik pembahasannya tidak berada disektor tertentu namun mencoba menjelaskannya secara umum.

Perdebatan yang sering muncul ialah pertanyaan ‘sejauh mana peran Negara?’.  Turunannya ialah dalam hal mengatur Sesuatu `apakah diatur Negara atau bebas mengatur diri sendiri`. “Point terpeting dicoba untuk menjelaskannya ialah bahwa kita kita bisa memilih atau melakukan self control. Walau pun begitu Bukan berarti tidak mendengarkan Negara namun bisa mengacu pada pandangan pendapat Negara,” ungkap Rofi (27/4).

“Dalam hal ini ada pilihan yang dibatasi oleh Negara. Ketika kita tidak dibiarkan memilih berarti sudah terbentuk state control Negara,” jelasnya lagi.

Rofi juga menjelaskan bahwa melalui penjelasn buku tersebut (pada Bab 4)  dapat dipahami  sesorang dapat berperilaku irasional terhadap sesuatu ya, apabila diri nya tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan tersebut. Ketika ada state control, individu tidak bisa lagi berfikir suatu resiko dengan jernih. Logikanya ialah ketika ada kebebasan untuk memilih, dan pastinya akan ada keputusan untuk bertanggungjawab.

“Pilihan itu harus dipilih dan dilakukan secara sadar, dewasa, dan tidak dipaksa oleh negara. Manusia dewasa adalah manusia yang memilih pilihannya sendiri,” jelas Rofi.

 

Penulis: Risky Wahyudi