Agaknya anda sebagai mahasiswa Komunikasi UII, tak bisa tidak, segera harus mengalihkan fokus pada ide dan gagasan Bang Amir. Ya, anda harus meluangkan waktu barang setengah jam saja untuk menyelami kenikmatan berwacana dan merasakan keindahan idealisme yang tegak dan lurus dari seorang pendiri tempat Anda kuliah hari ini. Betul, anda memang jangan sia-siakan waktu untuk segera fokus pada pemikiran Bang Amir, tentu di tengah kesibukan mengerjakan tugas kuliah, menyiapkan kepanitiaan ini itu, mengatur jadwal agar tak ketiduran saat jam kuliah, hingga masalah romantisme pemuda kekinian lain,  dan tentu bisa saja membaca ide Bang Amir disambi memutar lagu kesukaan di spotify. Anda bakal tahu istilah baru yang jadi kata kunci hampir seluruh mata kuliah soal media, ekonomi politik dan demokrasi di Komunikasi tanpa harus mengerutkan dahi. Tiga hal itu adalah: diversity of ownership, diversity of voices, dan diversity of content. Namun, pertama kali, anda harus memertanyakan ketika anda (akan) membaca tulisan berikut di awal buku ini:

Demokrasi termasuk di dalamnya demokrasi media tidak pernah datang dari langit. Demokrasi bukanlah sesuatu yang terberi (Given). Sebaliknya, demokrasi harus terus menerus diperjuangkan, bahkan di negara yang sudah maju sekalipun.”

Begitulah salah satu kutipan yang ditulis oleh Puji Rianto, orang dekat Amir Effendi Siregar, salah satu pendiri Ilmu Komunikasi UII. Pengantar itu ia letakkan di awal tulisan untuk mengantarkan pembaca memasuki ruang intelektual yang hadir lewat tulisan-tulisan dan karya Bang Amir dalam buku berjudul “Media, Kapitalisme, dan Demokrasi dalam dinamika politik indonesia kontemporer.” Ini adalah buku himpunan gagasan-gaasan Bang Amir, nama panggilan Amir Effendi Siregar, yang terserak dan tersebar di beragam kesempatan dan sempat terarsip di Prodi Ilmu Komunikasi UII dan belum sempat terpublikasikan. Guna merawat ide-ide di dalamnya, maka menerbitkannya menjadi sebuah buku adalah salah satu upayanya, selain juga mendiskusikan dan membuka siapapun untuk membedahnya dalam tulisan-tulisan lain selain tulisan kali ini.

Maksud Rianto menulis itu, bahwa demokrasi meski ia hadir di negara maju, bahkan di negara berkembang, tetap butuh generasi muda yang mengawal dan meneruskan perjuangan. Rianto ingin mengajak pembaca, terutama dosen dan mahasiswa Komunikasi UII, tempat pembaca portal ini berada, meneruskan dan mengawal demokrasi yang telah dikerjakan Bang Amir. Jika begitu, maka ide-ide Bang Amir yang selama ini telah ia gaungkan selama hidup, bergerak, juga dalam membangun Komunikasi UII,  bisa terus mengabadi. Ya, karena generasi muda merawatnya.

Buku yang merupakan pijar pemikiran Bang Amir selama paska reformasi ini beberapa masih relevan hingga saat ini dalam kajian komunikasi kontemporer. Misalnya, Bang Amir menulis bersama Rahayu, soal digitalisasi yang hingga sampai hari ini belum kunjung usai. Ada tarik meanarik kepentingan antara swasta, publik, dan tentu saja pemerintah yang belakangan ini kian liberal saja dalam pengelolaan media, komunikasi dan demokrasi.

Bila anda membaca buku ini, anda akan menemukan sajian lengkap penting kajian soal regulasi dan regulator media, kondisi media dan demokrasi hari ini, dan juga soal bagaimana ekonomi politik memandang media dan demokratisasi media di Indonesia secara kontemporer. Misalnya, dalam tulisan berjudul “Mengefektifkan Peran-Peran Lembaga Pers”, dengan satu paragraf kuat, Bang Amir, yang juga adalah pentolan Pers Mahasiswa Himmah UII era 70an ini, menegaskan bahwa menjaga kebebasan pers dan pers itu sendiri bukan semata tugas media/ pers, melainkan publik masyarakat. Kebebasan pers juga penting, karena tanpanya, demokrasi dan kebebasan masyarakat bermedia tak akan terwujud.

Ini pesan kuat pada dosen dan mahasiswa Komunikasi UII bahwa tugas gerakan literasi media, pemantauan media dan demokratisasinya, ada di pundak warga akademik pula. Sebab, bagaimanapun, warga akademiklah yang bisa memandang media dan demokratisasi media secara jernih dan berjarak, ketimbang pers dan regulatornya sendiri, bahkan. Bang Amir menulis:

Kita menyadari bahwa peranan lembaga dan institusi pers belum cukup baik. Semuanya masih dalam proses untuk memaksimalkan efektivitas lembaga dan institusi pers. Beberapa kelemahan yang terjadi selama ini bukan alasan untuk membunuh kemerdekaan pers karena tanpa kemerdekaan pers, demokrasi akan mati. Perlu usaha bersama semua komponen masyarakat untuk meningkatkan profesionalisme dalam dunia kerja pers.

Selain tulisan Bang Amir, ada juga testimoni kolega, sahabat, dan mantan mahasiswa Bang Amir, di akhir buku. Semuanya berkesan. Jika anda membacanya, sejenak anda akan merasa kehilangan dengan Bang Amir meskipun belum pernah kuliah bersama dosen cerdas ini. Sebab dari penuturan di testimoni ini, anda juga akan merasa Bang Amir adalah sosok dosen yang diidamkan, mencerdaskan, tak menggurui, teguh memegang prinsip tapi sekaligus menghargai pendapat orang lain. Bukan saja soal media, komunikasi dan demokratisasi media, tapi anda juga akan memahami dan mengamini bahwa apa yang dikerjakan Bang Amir adalah soal kebenaran dan kemanusiaan, yang harus anda lanjutkan!

#FREEWORKSHOP Semakin mudahnya akses internet menjadikan arus informasi dapat diterima dengan sangat mudah. Setiap orang mampu dengan cepat mengakses segala hal di tengah derasnya arus informasi. Hal tersebut juga termasuk berita palsu atau hoaks yang semakin sulit untuk ditahan penyebarannya.Tak sedikit warga yang sering terjatuh dalam informasi yang salah. Tingkat kepercayaan warga pada keberadaan media arus utama yang turut menjembatani informasi pun semakin dirasakan menurun. Di lain sisi, hal tersebut tidak diimbangi dengan keberadaan media alternatif yang akurat dan kredibel.

 

Pada era semakin derasnya informasi di internet dan semakin banyaknya pengguna media sosial di Indonesia, kejahatan didunia maya pun semakin beragam, salah satunya adalah pembajakan akun pribadi dan pencurian data digital.Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII dan Aliansi Jurnalis Independen bekerjasama dengan Internews dan Google News Initiative akan mengadakan serangkaian halfday basic workshop yang diperuntukkan untuk  mahasiswa, akademisi, pegiat lembaga pers mahasiswa, mengenai bagaimana mendeteksi berita palsu, hoax, atau misinformasi, serta bagaimana pengamanan diri di dunia digital yang sehat dan aman. Peserta juga akan diajak untuk mengumpulkan data fake news maupun hoax untuk dilaporkan ke website Mafindo (https://www.turnbackhoax.id/lapor-hoax/)

Tujuan
1. Membangun kesadaran publik atas pentingnya verifikasi dan fact-checking kepada semua informasi yang diperoleh di Internet.
2. Berbagi praktik terbaik dalam pengamanan diri di dunia digital dan verifikasi informasi.
3. Mengampanyekan program Google News Initiative Training Network yang sedang dijalankan.

Peserta
Peserta adalah 50 orang yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan pegiat lembaga pers mahasiswa.
Panitia akan menyediakan konsumsi selama acara, Trainer handal, sertifikat, dan berbagai materi pendukung. Panitia tidak menyediakan akomodasi serta transportasi.

Panitia akan menghadirkan dua trainer yang tersertfikasi oleh Google News Initiative, untuk memberikan pelatihan mengenai pengamanan diri di dunia digital dan bagaimana meningkatkan pemahaman terhadap berita yang belum terverifikasi di dunia maya.

Waktu dan Tempat
Hari/ Tanggal          : Sabtu/ 28 September 2019
Pukul                      :  08.00 – Selesai
Tempat                    :  Lantai 2 RAV, Gedung Perpustakaan Pusat, UII
                                   Jalan Kaliurang Km. 14,5 Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Pendaftaran daring
Sila mendaftar pada tautan berikut (Pastikan memilih “Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta (28 September 2019) sebagai pilihan Lokasi Halfday Workshop) di http://bit.ly/halfdayGNI2019
Narahubung
Yudi Winarto +62 856-4300-6961

Pada kesempatan sebelumnya, telah dilakukan Welcoming Day untuk menyambut mahasiswa IP Komunikasi UII pada 30 Agustus 2019. Pada saat itu, Sekprodi IP Komunikasi UII, Ida Nuraini Dewi K. N. Menyambut dengan memerkenalkan diri, dan memberi saran pada para mahasiswa, “Kalau ada apa-apa soal akademik, study, dan lain-lain, boleh kontak saya.” Kalau mahasiswa IP Komunikasi UII ada kendala, Ida Nuraini membuka diri untuk bisa mendiskusikan setiap kendala yang muncul.

“Jangan memikirkan kuliah di IP terlalu serius. IP itu menyenangkan. Ada program rutin nya IP. P2A misalnya.  Mulai sekarang, menabunglah karena kita akan banyak kegiatan internasional. Bisa buat paspor dari sekarang,” Jelas Lulusan Chinese Culture University, Taiwan, ini dengan semangat.

Welcoming day berlanjut pada hari berikutnya, 31 Agustus 2019, dengan tajuk Academic Skill Study. Studi Keterampilan Akademik ini berisi beberapa poin kunci untuk jadi pegangan para mahasiswa IP Komunikasi UII mengarungi pesona pengetahuan di prodi ini. Ada beragam sesi dalam kesempatan Academic Skill Study.

Misalnya seperti yang diungkapkan oleh Ida, “Ada sesi motivasi yang maunya menimbulkan keakraban biar mahasiswa ngerasa belong to IP,” katanya. “Memang tujuannya kegiatan itu mau membentuk karakter dan motivasi sejak dini. Academic skill study di awal sebelum perkuliahan biar ada orientasi dan pembekalan. Numbuhin motivasi untuk belajar,” tambah Ida. Materi yang dirancang juga beragam merentang  dari Manajemen Diri, Why IP, hingga Academic Writing dan creative thinking.

Rancangan kegiatan ini memang dibuat untuk memberikan pengantar pemula bagi mahasiswa IP komunikasi UII. Kegiatan ini juga menjadi jembatan bagi mereka yang baru saja lulus dari sekolah menengah dan masuk ke dunia mahasiswa yang serba mandiri. Ada kekagetan dan culture shock tentu, yang diharapkan harus dihadapi oleh tiap mahasiswa, bukan dihindari. Misal, berhadapan dengan tugas bejibun, apalagi disertai dengan pengantar bahasa inggris dan beragam aktivitas kemahasiswaan yang lain.

Selama dua hari berturut-turut, 30 sampai 31 Agustus 2019, Pengelola IP Komunikasi melakukan kegiatan Welcoming Day dan Academic Skill Study untuk seluruh mahasiswa IP komunikasi angkatan 2019. Acara yang berlangsung masing-masing di Blangkon Resto (hari pertama) dan Ruang Audio Visual (RAV) Lt. 3, Komunikasi UII, ini juga melibatkan para pengajar IP seperti Puji Rianto, Herman Felani, Holy Rafika, Ali Minanto, dan tentu saja Sekretaris Prodi IP Komunikasi, Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih.

Ali Minanto memberi sambutan mewakili Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UII, di awal acara. Jogja adalah city of culture, katanya. Ia juga sekaligus city of art tentu dapat merangsang daya nalar kreatifitas mahasiswa Komunikasi IP UII. Ada atmosfer yang baik dan kreatif di Jogja.  “Selamat anda sudah bergabung bersama kami. Anda mendapat banyak peluang dan kesempatan saat berbagi di beberapa negara. Anda bisa bergabung dengan banyak aktivitas mahasiswa seperti Klik18, Klub film Kompor.Kom, ‘Dispensi’ untuk intelektual dan Red-Aksi  dan Galaxy untuk Jurnalisme dan Radio,” katanya.

Ali Minanto menambahkan, Komunikasi UII juga membuka peminatan studi pada fokus Jurnalisme, media studies, dan PR. “Kita di Komunikasi, juga punya beberapa dosen yang filmnya diputar di beberapa negara, di jepang, di estonia, dan juga ada perjalanan lintas negara dengan tajuk P2A.”

Acara juga berlangsung akrab setelah perwakilan mahasiswa IP komunikasi angkatan pertama membagikan ceritanya. Cerita itu diwakili oleh Ilyasa Alvin Abadi, mahasiswa IP angkatan 2018, “Waktu masuk saya belum punya teman, bahkan persahabatan, tapi akhirnya seiring berjalannya waktu, dan berproses bersama, saya bisa mendapatkannya sekarang,” katanya dengan bahasa campuran Inggris dan arab.  “Kalau gabung di IP kalian juga bisa ikut merasakan pengalaman perjalanan di cambodia, thailand, Vietnam dan juga bisa mengerti dan mengasah kepekaan,” kata Ilyasa. Kepekaan yang dimaksud adalah kepekaan menganalisa problem sosial. “I want to say welcome to our family, Ahlan wa sahlan,” tutup Ilyasa dengan Bahasa Inggris dan Arab sekaligus.

Perkenalan berlanjut dengan model permainan. “Challenge game how to introduce with a unique way,” kata Herman Felani, Dosen IP Komunikasi UII. Setiap kelompok, yang dibagi berdasar mahasiswa, dosen, staf, dan angkatan kuliah harus membuat sebuah perkenalan dengan cara seunik mungkin. Ada yang memperkenalkan diri dengan dua bahasa. Arab inggris, ada juga kelompok yang memerkenalkan diri dengan bersahut-sahutan menggunakan bahasa daerah. Menarik juga jika melihat kelompok dosen yang membuat tebak-tebakkan nama dengan sebuah isyarat dan petunjuk khusus yang berhubungan dengan diri dan makna nama mereka.

On the previous occasion, a Welcoming Day was held to welcome the students of International Program (IP) Communication Department on August 30, 2019. At that time, the Secretary of Communication Department IP, Ida Nuraini Dewi KN welcomed by introducing themselves, and giving advice to students, “If there is anything about academic, study, and other matters, you may contact me.” If there is an obstacle for IP Communication students, Ida Nuraini opens herself to be able to discuss any obstacles that arise.

“Don’t think about studying at IP too seriously. IP is fun. There are routine IP programs. P2A for example. From now on, make a saving, because we will have many international travel and activities. You can make a passport from now on,” explained Her who was the graduate student of Chinese Culture University, Taiwan, with enthusiasm.

Welcoming day continues in the next day, 31 August 2019, under titled: Academic Skill Study. This Academic Skills Study contains several key points to be used as a guide for IP students. They can  explore the taste of knowledge in this department. There are various sessions on Academic Skill Study opportunities.

For example, as stated by Ida, “There is a motivational session that wants to create intimacy so that students feel belong to IP,” he said. “Indeed, the aim of the activity is to form character and motivation early on. Academic skill study is start at the beginning of the courses, before lecturing, so there is orientation and briefing. Grow motivation to learn,” added Ida. The material workshop are designed also varies such as Self Management, Why IP, to Academic Writing and Creative Thinking for IP Students.

The design of this activity was indeed made to provide a beginner introduction for Communication Department of IP students. This activity is also a bridge for those who have just graduated from high school and entered the world of students who are completely independent. There is shock and culture shock of course, which is expected to be faced by every student, not avoided. For example, dealing with a bucket of assignments, especially accompanied by an introduction to English and a variety of other student activities that perform with English introduction.

For two consecutive days, August, 30th to 31th, 2019, International Program (IP) Communication Department’s Manager conducted Welcoming Day and Academic Skill Study activities for all IP communication students for class of 2019. The event took place at two place, each day, at Blangkon Resto (first day) and Audio Visual Room ( RAV) 3rd floor of Communication Department, this also involved IP lecturers such as Puji Rianto, Herman Felani, Holy Rafika, Ali Minanto, and of course the Secretary of IP Communication Department, Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih.

Ali Minanto gave a speech representing the Head of the Communication Department, at the beginning of the event. Jogjakarta is a city of culture, he said. He is also at the same time a city of art that can certainly stimulate the reasoning power of students of Communication Department . There is a good and creative atmosphere in Jogjakarta. “Congratulations for joining us. You will get a lot of opportunities to have experience in several countries. You can join many student activities such as Klik18, Kompor.Kom film club, ‘Dispensi’ for intellectuals and Red-Action and Galaxy for Journalism and Radio,” he said.

Ali Minanto added, Communication Department also opened specialization in studies focusing on Journalism, media studies, and PR. “We are also have several lecturers whose films are screened in several countries, in Japan, in Estonia, and there are also cross-country trips with the title Passage to Asean /P2A.”

The event also become more familiar after the first batch of IP communication student representatives shared their last year stories. The story was represented by Ilyasa Alvin Abadi, IP student class of year 2018, “When I entered to this campus, I did not have friends, not even friendship, but finally day by day, and we proceed together, I can get it now,” he said in a mix language of English and Arabic. “If you join IP Class, you can also try the experience of traveling in Cambodia, Thailand, Vietnam and also can understand and hone sensitivity and critical thinking,” said Ilyasa. The sensitivity is the skill to analyze social problems clearly. “I want to say welcome to our family, Ahlan wa sahlan,” Ilyasa closed with English and Arabic as well.

The introduction continues with the game. “This is a challenge of the game: how you introduce with a unique way in front of us,” said Herman Felani, Lecturer in Communication IP. Each group, which is divided up based on different group such as groups of students, lecturers, staff. Every groups have to make an introduction as unique as possible. At least, some introduced themselves in two languages: In Arabic English, there are also groups who introduce themselves by shouting using many traditional indonesian languages. It is also interesting to see a group of lecturers making “guesses game” about their names with a special sign and instructions related to themselves and the meaning of their names.

Puji Hariyanti pada Rapat Koordinasi Perkuliahan 26 Agustus 2019, menunjukkan dan menjelaskan beberapa poin kondisi dan situasi perkuliahan yang akan dihadapi para dosen pada semester ini di layar presentasi. Ada beberapa hal yang musti dipahami dan dimengerti, apalagi soal mahasiswa baru Komunikasi UII yang kabarnya vokal dan kreatif. “Mahasiswa komunikasi kali ini sudah terlihat vokal sejak orientasi mahasiswa (serumpun), banyak yang bertanya dan berpendapat saat diberi kesempatan,” kata Puji.

“Besok juga akan ada empat mahasiswa dari Thailand di FPSB UII. Soal bahasa tentu menjadi catatan khusus untuk membantu mereka dalam perkuliahan nantinya, terutama yang memilih masuk ke kelas International Program,” kata Puji menjelaskan kondisi perkuliahan di semester ganjil mendatang.

“Tugas-tugas yang diberikan pun kita harus sepakati tidak lebih dari empat kali, lebih dari itu bisa jenuh mahasiswa,” tambahnya. Selain itu Puji menekankan, dosen tidak diperkenankan memberi tugas sebagai pengganti ketidakhadiran dosen. “Sebaiknya anda beri kuliah tamu (pakar) atau kelas konsultasi sebagai pengganti ketidakhadiran anda,” kata Puji membaca aturan yang terpampang di layar presentasi.

Kaprodi Ilmu Komunikasi UII ini juga menegaskan bahwa tugas mahasiswa sebaiknya dikumpulkan dengan prinsip paperless. Selain sebagai komitmen pada karya yang anti plagiat, ia juga mewujudkan kampus yang minim kertas dan plastik. Salah satu dosen yang hadir dalam rapat koordinasi pagi itu juga mengamini perihal tugas kuliah yang paperless. Menurutnya, jika pun harus membuat tugas dengan bentuk hardcopy/ kertas, sebaiknya mulai sekarang dosen meminta mahasiswa tidak menggunakan kulit muka (cover makalah) dari bahan plastik mika. “Ini komitmen kita untuk mewujudkan kuliah ramah lingkungan, sebuah dukungan pada gerakan yang kini menggema di seantero dunia soal kampus dengan perspektif hijau,” kata Saifuddin Zuhri, dosen tersebut.

Kata Saifudin Zuhri, komitmen pada hidup yang ramah lingkungan memang harus dimulai dari dunia pendidikan dan dari hal yang paling sederhana. Pembiasaan-pembiasaan harus menjadi keseharian dunia akademik. Beberapa dosen lain yang hadir juga terlihat mengangguk menyepakati. Puji menyahut dan sepakat dengan usul tersebut, apalagi fasilitas google classroom atau surel bisa dipakai agar meminimalisir tugas yang banyak menggunakan kertas dan plastik mika.

The invitees gradually arrived. That morning, in the 3rd floor of Communication Department, all the staff began to rush back and forth. They are staff from academics, laboratories, documentation teams, to the Center for Documentation of Alternative Media Studies (PSDMA) Nadim which are prepared the room, presence, some practicum forms. The invitees were lecturers in this semester of 2019/2020 academic year. Ahead of the awaited event, the Lecturer and Practicum Coordination Meeting, Communication Department of FPSB UII, Puji Hariyanti, Head of Communication Department, was ready with a presentation slide in front of the audience. After everything is done, the coordination meeting begun.

The interesting things from the meeting that held on August 26, 2019, for example, Puji explained that as much as possible the assignment of students is not copying and paste or do the plagiarism. Plagiarism can damage the integrity of students. Students must be educated to anti-plagiarism action since they are students, so that when they work they have integrity. “Communication Department is committed to educate students to have integrity, so every task must be digitally collected and it can be inputed in Turnitin plagiarism testing software,” said Puji.

Undergraduate Thesis and final project in Communication Department have now been checked by a special team for plagiarism checks. Checks carried out with the help of Turnitin (via online and computerized) as well as by manual checks by specially trained teams can recognize models of writing that have a high indication of plagiarism. According to Her, there should be no “Kopasus”, the abbreviation She made which means the Copy-Paste troops . Students must be introduced that plagiarism is an act of hurting science and knowledge.

At the end of the meeting, Puji reminded the lecturers to remember the wise words from the the deceased Kiai Maimun Zubair, as a guide for educators: “So the teacher does not need to have the intention of making people smart. Later you will only get angry when you see that your students are not smart. Your sincerity will disappear. The important thing is the intention to convey knowledge and educate the good. Being smart or not, leave it to God. Pray for it continuously so that students can get guidance. “

Para undangan berangsur-angsur berdatangan. Sepagi itu lantai 3 Komunikasi UII mulai ramai hilir mudik pula para staf tenaga pendidikan baik dari akademik, laboratorium, tim dokumentasi, hingga Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif (PSDMA) Nadim menyiapkan ruangan, presensi, konsumsi dan beberapa formulir praktikum. Para undangan itu adalah dosen pengajar pada semester ganjil tahun akademik 2019/2020. Menjelang jam acara yang dinanti, Rapat Koordinasi Dosen Pengajar dan Praktikum, Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII, Puji Hariyanti, Kaprodi Ilmu Komunikasi UII sudah siap di dengan slide presentasi di depan para hadirin. Setelah semua siap, rapat koordinasi dimulai.

Hal menarik dari rapat yang dihelat pada 26 Agustus 2019 ini misalnya Puji yang menjelaskan bahwa sebisa mungkin tugas mahasiswa tidak menyalin tempel atau melakukan plagiasi. Plagiasi dapat merusak integritas mahasiswa sedari awal. Mahasiswa harus dididik untuk anti plagiat sejak mahasiswa, sehingga saat bekerja ia punya integritas. “Prodi sudah berkomitmen untuk mendidik mahasiswa punya integritas, sehingga tugas-tugas yang dikumpukan secara digital dapat dimasukkan perangkat lunak penguji plagiasi turnitin,” tegas Puji.

Skripsi dan tugas akhir di Komunikasi UII pun kini telah lama dicek oleh tim khusus cek plagiasi. Cek yang dilakukan dengan bantuan Turnitin (via daring dan terkomputerisasi) maupun dengan cek manual oleh tim khusus yang sudah terlatih dapat mengenali model-model karya tulis yang memiliki indikasi plagiat yang tinggi. Menurutnya, jangan lagi ada kopasus, singkatan buatannya yang berarti pasukan kopas (copy paste). Mahasiswa harus dikenalkan bahwa plagiat adalah tindakan melukai ilmu pengetahuan.

Di akhir rapat, Puji mengingatkan para pengajar untuk ingat kata bijak dari Alm. Kiai Maimun Zubair, sebagai pegangan para pendidik: “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya dapat hidayah.”

Puji Hariyanti at the Lecture Coordination Meeting on August 26, 2019, showed and explained several points on the presentation screen. The points is about the condition and situation of lectures that will be faced by lecturers this semester. There are some things that must be understood, especially about new students of Communication Department of UII who are reportedly vocal and creative. “Communication students nowadays have been seen vocal since the orientation of students (Serumpun Event), many students ask questions and think when given the opportunity,” said Puji.

“Tomorrow there will also be four students from Thailand at Faculty of Psychology, and Culture and Social Studies (FPCS)  UII too. Language problems certainly become a special note to help them in their future lectures, especially those who choose to enter the International Program class, “Puji said explaining the condition of lectures in the next odd semester.

“The assignments we give must be agreed to no more than four times, more than that students can get bored,” he added. In addition, Puji emphasized that lecturers are not permitted to give assignments as a substitute for teacher absence. “You should give a guest lecture (expert) or consultation class in lieu of your absence,” said Puji reading the rules displayed on the presentation screen.

The Head of Communication Department at UII also emphasized that student assignments should be collected on paperless principles. Aside from being a commitment to anti-plagiarism work, it also creates a campus that is minimal in paper and plastic. One of the lecturers who attended the morning coordination meeting also agreed on paperless assignments. According to him, even if you have to make assignments in the form of hard-copy / paper, it is better from now on lecturers asking students not to use cover papers from mica plastic material. “This is our commitment to realize environmentally friendly lectures, a support for the movement that is now echoing around the world about campus with a green perspective,” said Saifuddin Zuhri, the lecturer.

Saifudin Zuhri said, the commitment to an environmentally friendly life must start from the world of education and from the simplest things. Habituation must become an everyday academic world. Several other lecturers who were present also seemed to nod and agree. Puji answered and agreed with the proposal, especially Google classroom facilities or e-mail can be used to minimize the many tasks that use paper and plastic cover.