Ask the Expert: “The Environment Doesn’t Need Humans” An Important Mindset to Understand

During this valuable opportunity at P2A 2026, we had the chance to conduct an exclusive interview with Billy, a former biologist and scientist at Trang Marine National Park in Thailand. He reminded us of the environmental crisis we are currently facing and highlighted the role of the younger generation, who will shape the future of civilization.

Billy revealed a fundamental misconception: that the Earth does not exist to serve humans. Quite the opposite, in fact.

“The environment doesn’t really need humans, but we need the environment to benefit us. So you need to understand what you’re using and how you’re living,” he said.

From a scientific perspective, the environment does not need humans. The Earth will continue to exist, evolve, and adapt with or without humans. Meanwhile, humans need the environment to survive.

Therefore, humans need to understand the most basic mindset regarding what we use and how we live. The energy generated by the environment through various technologies is a chain of invisible consequences. Have we ever thought about how much emissions we produce?

Billy noted that such awareness is still far off; currently, humans live in an era where society uses everything as single-use items.

“We’ve been in a throwaway society. Everything comes easily with money and then disappears just as easily—but where does it all end up? In the soil, in the water,” he added.

For example, with single-use plastics, everything is produced, consumed, and then forgotten in a very short time. But the critical question is: where does it all go? The answer lies in the soil. In the water. The plastic waste we discard doesn’t just disappear; it breaks down into microplastics—tiny particles invisible to the naked eye but scattered everywhere.

“And then it becomes microplastics or waste. Over time, it will come back to you or the next generation in the form of disease. So not many people actually realize that we’ve had—or now know we have—microplastics in our bodies from water or from soil that we’ve contaminated,” he said.

Sadly, people aren’t aware of this—microplastics are already present in our bodies. They enter through drinking water, food, and soil contaminated by humans themselves. Billy emphasized that this isn’t just a prediction, but a reality we’re currently facing.

So, can the younger generation find a solution or improve this situation? Billy acknowledged that the challenges facing the younger generation are greater than those faced by previous generations.

“The younger generation faces greater health challenges than previous generations. Take what they call the climate shift we’re experiencing now—global warming, unusual rainfall, off-season weather, and so on. There’s a lot happening. So instead of just going out dancing or doing things you shouldn’t, you should be mindful of your surroundings and your interaction with the environment,” he stressed.

So, what can the younger generation do in this digital age?

“In the digital age, what can the younger generation do? First of all, don’t be ignorant. You need to learn, know, and understand—and then realize that everything has consequences. Every action we take will affect us in some way. That’s my perspective. And how can they help? It’s entirely up to each and every one of you—what you choose will ultimately come back to you. Good way, bad way, or somewhere in between—you know, it could benefit us or harm us. It’s right in the middle, isn’t it?”

Ultimately, the scientist’s message is not one of despair. He isn’t saying it’s already too late. He’s simply reminding us—especially the younger generation—that we’re at a crossroads. Every choice we make, every habit we maintain, every awareness we cultivate, will determine what kind of future we leave behind. The environment doesn’t need us, but we need the environment. And as the scientist concluded with a reflective question: “It’s quite in the middle, isn’t it?”—everything is still in the middle, uncertain, and that is precisely why our choices today are so meaningful.

Kisah Ramadiansyah Putra Alumni Ilmu Komunikasi UII ‘Content Creator Sport77 di Piala Dunia 2026’

Nama Ramadiansyah Putra mungkin tidak asing lagi di industri konten olahraga tanah air. Ia kini dipercaya sebagai Content Creator di Sport77, dan baru saja menyelesaikan salah satu tugas terbesar dalam kariernya: meliput langsung Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Sebagai informasi, Rama adalah alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2013.

Dalam wawancara eksklusif, Rama menceritakan pengalamannya, tanggung jawab, hingga tips menembus FYP yang ia praktikkan selama satu setengah bulan menggarap konten Piala Dunia 2026.

Perjalanan Rama ke Piala Dunia 2026 bukanlah hal yang instan. Konsep konten yang ia dan timnya bawakan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sejak satu tahun sebelum event berlangsung. Persiapan matang ini menjadi fondasi utama mengapa produksi konten mereka bisa berjalan lancar meskipun dengan segala keterbatasan yang ada.

“Konsep konten sudah lama dari satu tahun lalu dibuat series dari pre piala dunia. Bikinnya bareng-bareng, tapi mostly aku sebagai lead creative otomatis ditunjuk ke sana untuk bertanggung jawab penuh pada 40 konten social media dan IRL live,” ungkap Rama.

Kisah Ramadiansyah Putra Alumni Ilmu Komunikasi UII ‘Content Creator Sport77 di Piala Dunia 2026’

Selama kurang lebih satu setengah bulan, Rama dan tim menjalani live streaming IRL (In Real Life) dengan durasi mencapai 6 jam dalam satu kali siaran. Mereka meliput langsung tiga pertandingan fase grup yang berlangsung di stadion antara lain Brazil vs Maroko, belanda vs Jepang, dan Prancis vs Senegal.

“Produksinya aman, untuk membagi waktunya saja yang menantang karena kita terbatas. Untungnya di US waktu maghrib agak lama, jadi IRL Live selesai lanjut produksi untuk sosial media,” ceritanya.

Ditanya mengapa ia yang terpilih, Rama menjawab dengan rendah hati namun tegas. “Kenapa aku terpilih karena kebetulan aku adalah Creative dan Social Media Manager. Aku di kreatif-nya akhirnya diputuskan aku dan tim,” ujarnya.

Peran Rama di Piala Dunia 2026 sangatlah kompleks. Ia tidak hanya bertanggung jawab sebagai lead creative, tetapi juga sebagai produser IRL live yang harus berkoordinasi langsung dengan tim di Indonesia. Selain itu, ia harus memastikan 40 konten social media terselesaikan dengan baik sebelum kembali ke tanah air.

Salah satu tantangan terbesar adalah ketatnya aturan brand dan media. Rama harus memastikan tidak ada brand lain yang masuk ke dalam tayangan.

“Agak tricky karena kita membawa brand dan media, apalagi Piala dunia soal brand yang masuk ke tayangan. Aku sebagai campers di sana misal jalan ke titik A, kita harus lihat di sana ada brand apa saja. Kalau bisa kameranya harus diarahkan ke non-brand,” paparnya.

Meski demikian, prosesnya berjalan lancar berkat kerja sama tim yang solid, termasuk dengan host dan studio. Koordinasi yang baik antara tim di Amerika Serikat dan tim di Indonesia menjadi kunci keberhasilan produksi konten mereka.

Selama di New York, Rama dan tim berhasil menciptakan salah satu konten yang viral di kalangan fans Indonesia. Konten tersebut adalah wawancara dengan warga lokal New York yang mengatakan, “Aku tahu Indonesia, tapi yang jelas Indonesia tidak masuk Piala Dunia.”

“Viral di fans Indonesia karena kayak sarkas,” kenang Rama sambil tersenyum.

Dari pengalaman tersebut, Rama membagikan tips untuk membuat konten yang berpotensi FYP, khususnya di industri sepak bola.

“Sosmed main di momentum. Kalau bola, beda dengan entertain. Trend apa bisa diadaptasi, tapi kalau untuk bola tidak bisa kayak gitu. Kita harus lihat momentum. Misalnya malam ini pertandingan MU vs Chelsea, kita tahu MU adalah bulan-bulanan masa yang sering diejek. Begitu MU kalah atau menang, kita langsung create konten roasting, itu pasti engagement-nya ramai,” jelasnya.

Kisah Ramadiansyah Putra Alumni Ilmu Komunikasi UII ‘Content Creator Sport77 di Piala Dunia 2026’

Rama juga menekankan pentingnya memahami apa yang diinginkan oleh fans bola. “Kalau untuk ngejar traffic-nya di industri media bola olahraga, kayak gitu sama konten yang memang sudah diinginkan sama fans bola. Contohnya interview pemain, rapid question ke pemain, biasanya yang diminati oleh fans bola,” ujarnya.

Sebagai alumni Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Public Relations, Rama mengakui bahwa ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah sangat berperan dalam kariernya saat ini.

“Aku konsentrasi Public Relations. Aku dapat ilmu selain dari kelas, aku dapat kesempatan di event. Aku dekat dengan anak Kompor, aku tahu teknik pengambilan gambar, konten planning dari Kampung Komunikasi,” kenangnya.

Di akhir wawancara, Rama memberikan pesan inspiratif bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang ingin mengikuti jejaknya.

“Mulai, karena sekarang sosial media bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin kalau dia mau jadi creator atau cari uang segala macam, asal mau mulai. Karena aku juga mulai dari followers nol di Sport77. Itu harus trial and error. Setiap orang punya unique masing-masing, jadi coba aja dulu,” pesannya.

Rama juga menekankan pentingnya memiliki portofolio di luar akademik. “Setidaknya di luar akademik, kalian bisa meng-create sesuatu, entah apapun itu. Manfaatkan sosial media. Anak komunikasi harus melek sosial media, karena pada akhirnya nanti, kecuali kalian jadi akademisi ya nilai akademik harus dikejar. Kalau mau jadi praktisi, mulai aja dulu dari mahasiswa. Buat aja dulu, entah video, suka film bikin film, suka motret ya bikin. Pada akhirnya di dunia kerja itu yang kepake, sama skill organisasi, kerja sama segala macam,” tutupnya.

Alumni Ilmu Komunikasi UII Bangun Sekolah Alam di Kaki Merapi, Ajarkan Anak-Anak Mitigasi Bencana

Sulistiyawati, alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2006 memilih kerja-kerja pengabdian melalui pendidikan. Ia mendirikan PKBM Inside Out School di kaki Merapi. Di sebagian ruang lapang rumahnya anak-anak belajar membaca tanda alam sebagai bekal mitigasi bencana tanpa harus dibayangi trauma.

Setiap minggu, anak-anak PKBM Inside Out School bersiap main ke kali. Tapi sebelum berangkat, mereka melihat ke atas, ke arah awan di atas Merapi. Mendung? Berarti tidak jadi ke kali. Hujan di puncak berarti banjir di hilir. Ini bukan pelajaran geografi, melainkan kebiasaan sehari-hari.

Pengetahuan tentang tanda-tanda alam tak sekadar warisan budaya, namun alat bertahan hidup. lantas, bagaimana pengetahuan itu diwariskan ke generasi berikutnya tanpa menanamkan trauma?

Muzayin Nazarudin, Ph.D. dosen Ilmu Komunikasi UII yang meneliti memori sosial bencana, menjelaskan bahwa masyarakat yang terdampak bencana selalu berada dalam ketegangan. “Kalau tiap hari orang mengingat bencana terus, kita tidak bisa move on. Tapi kalau melupakan sepenuhnya, orang jadi abai,” ujarnya.

Melupakan, menurutnya, bukan berarti kehilangan memori. “Bisa jadi ada mekanisme kultural di mana ingatan bencana menjadi background tidak muncul di depan, tapi tetap ada.” Ia mencontohkan, “Masa setelah 10 tahun orang setiap hari ingat erupsi terus? Kasihan, mereka teringat trauma, pengungsian, lari dari erupsi.”

Di sinilah sekolah mengambil peran. Sulistiyawati, founder PKBM Insideout School menyadari bahwa pendidikan mitigasi tidak bisa dilakukan dengan menakut-nakuti.

“Kami sengaja tidak memberikan gambaran itu karena terlalu mengerikan untuk anak-anak,” ujarnya.

“Yang kami lakukan adalah mengajak mereka jalan-jalan bersenang-senang di alam, mencintai alam, berdekatan dengan Merapi. Kalau Meletus, kita menyingkir dulu mereka tahu sebatas itu,” tambahnya.

Pendekatan sekolah ini unik, mereka tidak selalu mengandalkan guru formal. “Kami ajak ke warga sekitar yang sudah sepuh. Nanti mereka belajar dikasih tahu sama sesepuh-sesepuh itu,” kata Sulistiyawati.

“Jadi mereka tahu, oh ilmu itu juga diajarkan oleh simbah-simbah warga biasa yang bukan guru. Ternyata pengetahuan bisa didapatkan dari siapa saja,” jelas Sulistiyawati.

Warga sepuh bercerita tentang erupsi masa lalu bagaimana hewan seperti kijang dan srigala turun gunung sebelum bencana. “Kalau ada kayak gitu, berarti cuaca di sana memang tidak seperti biasanya,” tambahnya.

Praktik semacam ini justru memperkuat pewarisan pengetahuan. “Sekolah hanya menjadi salah satu jalur dari model pewarisan ekologi lokal. Kearifan ekologis lokal membaca tanda-tanda alam sudah ada di masyarakat, sekolah kemudian menggunakan itu sebagai kurikulum,” jelas Muzayin Nazarudin, Ph.D.

Baginya, yang terpenting adalah transmisi pengetahuan itu terjadi sebelum bencana datang. “Terlambat kalau mengalami bencana itu sendiri,” tegasnya.

Dosen Ilmu Komunikasi UII tersebut juga menegaskan bahwa praktik semacam ini punya landasan teoretik. “Penjelajahan alam sebagai taktik mitigasi bencana didasari teori embedded memory, memori yang menubuh ke dalam diri seseorang melalui sosialisasi dengan lingkungan,” tambahnya.

Anak-anak tidak hanya tahu secara kognitif, tapi merasakan dan mempraktikkannya. Pengetahuan itu tidak dipelajari sekali lalu hilang, melainkan tumbuh melalui pengulangan, cerita, dan interaksi dengan alam serta orang-orang di sekitarnya.

Tidak semua anak datang dari lingkungan sekitar Merapi. “Ada anak yang rumahnya agak jauh. Mereka harus ekstra dikasih tahu agar notice bahwa kita ada di kaki Merapi,” tambah Sulistiyawati.

Sulistiyawati dan timnya mengakui masih terus belajar tentang edukasi yang tepat. “Kami masih mempelajari literatur tentang efek edukasi yang lebih tepat kepada anak-anak tanpa membuat mereka trauma,” ucapnya.

Muzayin menambahkan bahwa tradisi selalu berubah. Kearifan lokal bukan sesuatu yang statis, bukan artefak masa lampau. Tiap generasi punya tradisinya sendiri.

Ia menegaskan bahwa sekolah hanyalah salah satu jalur pewarisan bukan satu-satunya. “Tradisi itu akan selalu berubah seiring zaman. Tiap generasi punya tradisinya yang perlu kita baca bagaimana tradisi itu berubah,” tandasnya.

Di balik ancaman, Merapi juga memberi berkah. “Tanah kita jadi subur karena berkat Merapi,” kata Sulistiyawati.

Ia berharap ada sinergi dengan instansi lain. “Banyak instansi yang bisa diajak kerja sama untuk mengedukasi anak-anak. Kalau bisa bersinergi, bagus banget, dijadikan proyek bersama,” harapnya.

Anak-anak PKBM Inside Out School mungkin belum sepenuhnya memahami risiko Merapi. Tapi mereka belajar satu hal penting hidup berdampingan dengan alam, membaca tandanya, dan tetap bergembira.

Fungsi memori kolektif tentang bencana adalah bagaimana membaca tanda-tanda alam sebelum bencana terjadi, sehingga ketika ancaman datang, warga bisa memitigasi dan mengantisipasi. Itu biasa terjadi di masyarakat tradisional, dan sekolah menjadi salah satu jalur warisan kearifan ekologis tersebut.

Di kaki Merapi, mitigasi bukan tentang ketakutan tapi tentang cinta pada alam yang mengajarkan kewaspadaan. Dan pendidikan mitigasi yang paling kuat bukanlah yang menakut-nakuti, melainkan yang menubuh dipraktikkan setiap hari, diwariskan dari generasi ke generasi, dan dijaga tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Kuliah Perdana MIKOM UII: Kuliah Perdana MIKOM UII: Admin yang Responsif Jadi Alasan Maba Memilih Program Ini

Tahun ini 18 mahasiswa terdaftar sebagai anggota baru Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM  Jumlah ini meningkat, mengingat tahun 2026 adalah tahun kedua bagi program S2 yang fokus pada Environmental and Digital Communication.

Menyambut anggota baru, MIKOM UII mengadakan pertemuan hangat di Gedung RAV Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII pada 18 September 2026. Bertajuk Kuliah Perdana sesi ini mempertemukan mahasiswa MIKOM angkatan pertama, mahasiswa baru, para dosen, dan juga staf.

Salah satu perwakilan mahasiswa baru MIKOM UII, Erwin Suryadi menyampaikan alasannya memilih jurusan ini. Ia menyebut admin yang dihubunginya begitu membantu, selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya ragu dalam proses pendaftaran.

“Alasan saya memilih MIKOM UII karena admin sangat membantu, bahkan saya bertanya di malam hari selalu dijawab. Admin sangat melayani, semoga hadirnya maba (mahasiswa baru) membawa nama UII lebih baik,” ungkapnya.

Alasan itu membuatnya bertekad memilih MIKOM UII sebagai ikhtiar meraih mimpinya. Karena pada dasarnya, memulai perjalanan jenjang S2 adalah proses yang begitu kompleks. Tak sekedar mendalami keilmuan, melainkan juga proses pendewasaan berpikir.

Hal tersebut juga disinggung oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Irawan Jati, Ph.D. yang menyebut bahwa angkatan kedua program pascasarjana memang memiliki program belajar yang berbeda. Semester pertama menyesuaikan tuntutan yang juga berbeda, begitu pula kemampuan yang ditargetkan.

“Kalau boleh berefleksi perjalanan (kuliah S2) adalah upaya mencapai kedewasaan berpikir. Belajar materi sebanyak-banyaknya tapi belum tentu lebih paham dari orang lain. Bagaimana kita berpikir dewasa, butuh kedewasaan lebih,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keunikan mahasiswa yang memiliki latar belakang dan usia berbeda-beda. Menurutnya, hal itu justru menjadi kekayaan yang dapat saling mendukung satu sama lain.

Sementara itu, Kaprodi MIKOM UII Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D. berharap agar mahasiswa baru dapat memiliki nilai-nilai yang telah ditanamkan UII. Di akhir sesi, ia mengingatkan bahwa “dalam proses belajar, ada fase up and down. Tidak selalu mudah, dan kesulitan pasti akan dialami. Oleh karena itu, ia berpesan agar mahasiswa menyiapkan kesehatan fisik dan mental sejak awal,” jelasnya.

Kuliah perdana ini pun ditutup dengan harapan besar bahwa angkatan kedua MIKOM UII dapat melanjutkan tradisi akademik yang kuat. Program ini sendiri dibangun melalui persiapan dan proses panjang, mulai dari benchmarking di berbagai universitas dalam negeri hingga NTU Singapura. Salah satu keunggulannya adalah kehadiran visiting professor dari Eropa, Asia, dan Amerika, yang diharapkan semakin memperkaya wawasan mahasiswa dan membawa nama UII semakin baik di kancah nasional maupun internasional.

Rajbani Gibran Ahmad: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Borong Dua Medali MSQ di Ajang Nasional dan Internasional

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII, D. Rajbani Gibran Ahmad, patut menjadi inspirasi. Mahasiswa angkatan 2024 ini borong prestasi di bidang penjelasan isi Al-Qur’an. Tercatat dari bulan Juni hingga Juli, dua prestasi nasional dan internasional berhasil ia kumpulkan.

Di awal Juni 2026, Rajbani berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional di Bandung, yakni Musabaqah Syahril Qur’an dalam Festival Seni Qur’an Harlah UPTQ UNISBA ke-18. Ia bersama timnya meraih juara dua dalam kompetisi tersebut.

Hanya beberapa pekan kemudian, pada 11 Juli 2026, Rajbani kembali menunjukkan kemampuannya di ajang bergengsi, International Qur’an Festival (IQAF) UII. Berbeda dengan kompetisi sebelumnya, kali ini ia bertanding secara individu melawan peserta dari berbagai perguruan tinggi nasional dan internasional. Ia sukses meraih juara 2, melengkapi koleksi prestasinya dalam waktu yang singkat.

Bagaimana Rajbani mampu meraih dua prestasi sekaligus di tengah kesibukan sebagai mahasiswa baru? Kuncinya ada pada manajemen waktu yang disiplin. Ia mengaku membuat jadwal teratur dengan memprioritaskan kegiatan paling penting. Latihan MSQ yang intensif, perkuliahan, dan aktivitas komunitas keagamaan di kampus ia jalani secara seimbang. Setiap harinya, ia menyisihkan waktu khusus untuk memperdalam materi syarhil Al-Qur’an, tanpa mengabaikan tanggung jawab akademiknya.

“Konsistensi adalah kunci. Saya belajar untuk membagi waktu dengan baik agar latihan dan perkuliahan tetap berjalan beriringan,” ujar Rajbani.

Baginya, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus berkembang. Setiap kompetisi ia jadikan sebagai evaluasi dan pembelajaran. Bertemu dengan peserta terbaik dari berbagai daerah membuka wawasannya tentang pentingnya kerja keras, disiplin, dan menghargai proses.

Dengan dua medali ini, Rajbani berharap dapat terus mengasah kemampuan dan memberikan kontribusi lebih besar dalam syiar Al-Qur’an. Pesannya kepada mahasiswa lain: jangan ragu untuk memulai. Dengan konsistensi, kerja keras, dan doa, prestasi gemilang dapat diraih.

“Setiap kompetisi memberikan pengalaman, tantangan, dan pembelajaran yang berbeda. Dari berbagai pengalaman tersebut, saya belajar untuk terus meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan keislaman, serta membangun mental dan kepercayaan diri dalam berkompetisi,” tandasnya.

Scroll, Swipe, Repeat: Saat Video Pendek Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

“Sebentar aja kok cuma lima menit.”

Kalimat itu mungkin terdengar familiar. Kita sering kali membuka TikTok saat menunggu dosen masuk kelas, menonton Instagram Reels pas jam istirahat, atau menikmati Youtube Shorts sebelum tidur. Namun, tanpa kita sadari, yang awalnya cuma lima menit malah berubah jadi tiga puluh menit, bahkan satu jam. Jempol terus bergerak, layar terus berganti, dan algoritma seolah tahu persis video apa yang ingin kita lihat berikutnya.

Inilah tren baru digital. Video pendek sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, tempat belajar sesuatu, hingga tempat untuk membangun identitas diri. Dalam hitungan detik, seseorang bisa tertawa karena video komedi, memahami materi kuliah, menemukan rekomendasi tempat makan, bahkan memutuskan membeli sebuah produk.

Menonton video berdurasi pendek saat ini sudah menjadi kebiasaan dan fenomena bagi Generasi Z. Data dari YouGov Surveys menunjukkan bahwa pada rentang usia 16-24 tahun, konsumsi video pendek mencapai 85% setiap minggu. Di Indonesia sendiri, TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi tiga platform yang paling sering digunakan oleh masyarakat, terutama generasi muda. Tak heran jika video berdurasi kurang dari satu menit kini menjadi tren baru di era digital.

Mengapa video pendek begitu sulit ditinggalkan? Jawabannya simple: cepat, ringan, dan selalu relevan. Kita tidak perlu membaca artikel panjang atau menonton video berdurasi puluhan menit untuk mendapatkan informasi. Cukup beberapa detik, lalu lanjut ke video berikutnya. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada risiko yang ditimbulkan.

Karena mengejar durasi singkat, banyak informasi yang disampaikan terpotong-potong. Sebuah isu yang sebenarnya kompleks menjadi hanya satu menit, bahkan kurang. Akibatnya, konteks sering kali hilang dan tidak sedikit pula informasi yang belum terverifikasi menyebar lebih cepat daripada proses klarifikasinya. Hoaks, potongan video tanpa penjelasan, hingga judul sensasional menjadi tantangan yang semakin sering ditemui di media sosial.

Meskipun begitu, bukan berarti video pendek hanya membawa dampak negatif. Justru banyak kreator berhasil memanfaatkan format video pendek sebagai media edukasi yang efektif. Mulai dari dosen yang menjelaskan materi dalam satu menit, dokter yang membagikan tips kesehatan, hingga pelaku UMKM yang mempromosikan produknya melalui konten kreatif. Bagi mahasiswa, platform ini juga menjadi tempat atau sarana untuk menunjukkan kemampuan, membangun portofolio, hingga memperluas koneksi melalui personal branding.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, perubahan ini cukup menarik untuk dilihat. Cara kita berkomunikasi kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh apa yang kita pilih, tetapi juga oleh algoritma yang memilihkan informasi untuk kita. Apa yang muncul di timeline bukanlah gambaran utuh tentang dunia, melainkan hasil perhitungan sistem berdasarkan kebiasaan kita mengklik, menyukai, dan membagikan konten. Tanpa kita sadari, algoritma ikut membentuk cara kita memahami realitas.

Di sini pentingnya literasi digital. Menjadi pengguna media saat ini bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta memahami bahwa tidak semua konten yang viral selalu benar. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang begitu cepat.

Pada akhirnya, video pendek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia hanyalah sebuah teknologi yang menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan. Yang menentukan manfaatnya bukanlah algoritma atau platformnya, melainkan cara kita menggunakannya. Sebab di era ketika satu sentuhan jempol dapat membawa kita ke ratusan video berbeda, mungkin yang paling kita butuhkan bukan internet yang lebih cepat, melainkan kesadaran untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu memilih informasi dengan lebih bijak.

 

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita

Ketika Pembelajaran Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas: Menelusuri Inside Out School Magelang

Suasana pagi hari di Inside Out School terasa cukup berbeda dibandingkan dengan sekolah biasanya. Tidak ada kesan terburu-buru untuk segera memulai pembelajaran, dan juga interaksi para siswa dengan guru dibuat lebih santai namun tetap sopan. Di tengah konsep cara belajar yang selama ini identik dengan suasana kegiatan sekolah yang mempunyai ruang kelas, siswa yang banyak, dan seragam sekolah. Inside Out School menawarkan pengalaman pendidikan yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Di tempat ini, proses belajar tidak hanya sekadar tentang materi pelajaran dan nilai yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana peserta didik dapat mengenali diri, mengembangkan potensi, dan menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Inside Out School merupakan nama sekolah alam tempat belajar yang berlokasi di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, yang berdiri pada akhir Juni 2025. Pendiri sekolah tersebut adalah Sulistiyawati, alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2006. Metode pembelajaran yang diajarkan adalah dengan memberikan ruang kepada para siswa untuk mengeksplor apa yang mereka inginkan untuk dipelajari tanpa membatasinya, tetapi juga tetap mengarahkan supaya ilmu yang mereka serap dapat berjalan dengan maksimal.

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Sebelum pembelajaran dimulai, mereka mengawali kegiatan dengan bersih-bersih area belajar, kemudian dilanjutkan dengan berdoa, lalu siswa diarahkan ke masjid dekat sekolah untuk melaksanakan salat dhuha. Selepas itu, kegiatan belajar pun dimulai, ada yang belajar huruf hijaiyah, ada yang belajar matematika, dan ada juga menggambar tentang objek yang ada di sekitar, setelah selesai melakukan kegiatan belajar di area dalam, para siswa diajak para pamong atau tutor mereka untuk bermain ke alam dengan kegiatan swasembada pangan yang bertujuan untuk memproduksi kebutuhan pangan dan dapat dimanfaatkan secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun dengan membuat pupuk tanaman sawi, setelah berkebun para siswa kemudian diajak untuk diskusi buku yang bebas dipilih oleh tiap siswa, masing-masing satu orang diminta untuk menceritakan buku yang mereka baca, kemudian memberikan kesimpulan mengenai buku tersebut dan semua rangkaian kegiatan belajar diakhiri dengan doa penutup.

PKBM Inside Out School

PKBM Inside Out School

Ketua PKBM Inside Out School Magelang, Sulistiyawati, menjelaskan bahwa apa yang ingin Inside Out School berikan kepada peserta didik yang mungkin tidak didapatkan dari sekolah pada umumnya adalah ruang untuk berkembang sesuai potensi, minat, dan bakat masing-masing anak, bukan memaksa semua anak mengikuti standar yang sama seperti di sekolah formal.

“Anak-anak itu ibarat mereka benih. Kalau dia biji jagung, ya biar dia keluar jagung, bukan malah dipaksa untuk jadi padi kayak teman-temannya. Jadi itulah kenapa proses belajar yang akademik atau yang terstruktur itu porsinya kecil, hanya untuk menajamkan kalau dia memang bibit jagung ya biarkan tumbuh jadi jagung yang subur,” ujarnya.

Pada akhirnya, Inside Out School tidak hanya menawarkan tempat untuk belajar, tetapi juga mencoba membuat ruang bagi peserta didik untuk menemukan cara belajarnya sendiri. Di tengah aktivitas yang berlangsung dengan suasana yang sederhana dan tidak terlalu formal, pendidikan di tempat ini berjalan dengan satu gagasan bahwa setiap siswa memiliki cara yang berbeda untuk tumbuh dan berkembang.

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Three-Country Collaboration Strengthens ASEAN Network

This year, the International Program Communications (IPC) at UII is collaborating with SCIMPA at Universiti Utara Malaysia (UUM) and Suan Dusit University in Thailand to conduct a joint program titled P2A ICE CREAM COCONUT 2026 from August 8–17, 2026. The program’s theme, COCONUT—standing for Community, Ocean, Nature, Unity, and Technology-symbolizes the identities of the three countries: tropical, maritime, and the Southeast Asian community, representing elements of sustainability, cross-cultural unity, and creative digital innovation.

Ibnu Darmawan, Director of P2A at UII, noted that this program is a tangible manifestation of the three universities’ commitment to collaboration. “The relationship between UII, UUM, and SDU goes beyond mere visits; it signifies a strong commitment to collaboration among the three nations. We are one big family that we continue to build together,” he said.

Mohammad Amir Bin Abu Seman, a senior lecturer at SCIMPA UUM who has been part of this program for more than eight years, shared that P2A ICE CREAM has had a profound impact on his students.

“After almost eight years with P2A ICE CREAM, I have learned that its greatest impact is not simply where we take our students, but the connections they bring home. As a delegate from UUM, I am proud to be part of a program that brings ASEAN closer through friendship, creativity, and shared experiences,” he said.

Saowapan Palasuan from SDU also noted that P2A ICE CREAM serves as a space for building relationships and collaboration. “This program is like a reunion for us. We’re building new relationships while continuing existing collaborations. Moving forward, we’ll also be preparing a program at SDU,” she said.

Cross-Border Journey

P2A ICE CREAM 2026 is a journey from Yogyakarta to Malaysia and Thailand. During this nine-day trip, students from the three universities will work together on a tourism video project. Some of the destinations include Merdeka Square in Kuala Lumpur, Kampung Warna Warni and Chinatown in Alor Setar, Emerald Cave and Koh Ngai in Trang, as well as Phatthalung and Hat Yai, Thailand.

This program is designed to provide students with firsthand experience of the cultural, natural, and historical richness of the ASEAN region.

Beyond cultural exploration, P2A ICE CREAM 2026 also features collaborative activities such as a cooking challenge, a cultural night, and a CSR beach cleanup initiative aligned with environmental sustainability values.

An Experience- and Creativity-Based Program

P2A ICE CREAM is an international mobility program-a course on creative media that employs an experience-based learning approach. Participants not only learn in the classroom but also engage with local communities to interact with and understand the local culture.

Through the theme “COCONUT,” this program emphasizes the importance of creativity, originality, togetherness, care for the ocean and nature, unity, and the use of technology in producing creative works that benefit the development of tourism and culture in ASEAN. The program also serves as a platform for students to build cross-national networks of friends that are expected to endure into the future.

Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere

Pascareformasi, harapannya televisi lokal menyelamatkan budaya daerah. UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 serta otonomi daerah menjadi jalan munculnya stasiun televisi lokal di seluruh daerah di Indonesia. Tujuannya adalah agar televisi lokal mampu menjadi ruang bagi ekspresi budaya yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi siaran Jakarta.

Penelitian yang diterbitkan RedFame, “Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere”, yang ditulis oleh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Dr. Puji Rianto, S.IP., M.A., mengungkap fakta-fakta mengecewakan. Studi yang dilakukan terhadap ADiTV di Yogyakarta dan Bali TV di Bali menunjukkan kontribusi televisi lokal terhadap ruang budaya masih sangat terbatas. Dua masalah utamanya adalah komersialisasi dan pandangan budaya yang sempit.

Pertama, realitas soal televisi lokal adalah bisnis. Sehingga hanya budaya yang “laku” yang akan ditayangkan. Program budaya mesti menarik sponsor dan iklan. Salah satu program Jenggleng Manasuka dan Wedang Ronde milik ADiTV misalnya, mampu bertahan bertahun-tahun lantaran ada pengiklan yang mendanai. Tanpa sponsor, program terhenti atau mati.

Begitupun di Bali TV, ketika komunitas adat yang ingin tampil di acara Lila Cita mesti membayar. Artinya, untuk mengakses ruang budaya harus memiliki uang. Kelompok budaya kecil, tanpa modal, dan tidak populer sempit kesempatannya. Ruang budaya layaknya pasar, yang punya nilai jual bisa tampil, begitu pun sebaliknya.

Kedua, televisi lokal ternyata untuk budaya mayoritas. Budaya dianggap statis, murni, yang hanya dimiliki satu kelompok etnis. Di ADiTV hanya ditampilkan budaya Jawa yang berpusat pada Keraton Yogyakarta dan Solo. Sementara di Bali TV hanya menampilkan budaya Hindu Bali lewat gerakan Ajeg Bali.

Akibatnya, budaya lain tak terlihat, seperti Tionghoa, Batak, dan Minang di Yogyakarta, misalnya, tak punya ruang. Di Bali, komunitas non-Hindu tak terlihat. Selain tak mendapat ruang, budaya lain dianggap ancaman. Ironisnya, pengelola televisi lokal juga cemas takut budaya yang dianggap murni itu hilang. Kecemasan ini membuat kaku dan eksklusif.

Jeratan dominasi Jakarta juga membelenggu, televisi nasional modal besar dan jangkauan luas tak bisa dilawan televisi lokal. Dengan kualitas gambar yang lebih jernih, produksinya juga lebih mumpuni. Sehingga pennonton memilih sinetron Jakarta daripada acara budaya lokal.

Riset ini mendorong agar ruang budaya menjadi inklusif dan nilai-nilai budaya dari setiap daerah mampu diterima semua pihak. Jika televisi lokal masih eksklusif dengan mengacu pada kepentingan komersial serta terjebak dalam pandangan sempit budaya, tentu akan terus gagal.

Televisi lokal harus merangkul keberagaman, bukan hanya melestarikan satu budaya yang dominan. Indonesia bukan hanya Jawa dan Bali, melainkan milik semua orang yang tinggal di dalamnya.

Sumber: Rianto, P., Wahyuni, H.I., & Wahyono, S.B. (2026). Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere. Studies in Media and Communication, 14(1), 177-188.

https://redfame.com/journal/index.php/smc/article/view/7930

 

2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025

Flashback Moment, Mareta Zahra Kartika merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) yang turut menjadi tim voli putri pada kompetisi 2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025 di Universitas Teknologi Petronas, Malaysia pada 21-24 Agustus 2025.

Ia dan tim berhasil pulang dengan gelar 1st Runner Up atau juara dua tingkat internasional setelah bertemu tim Filipina di babak final. Berlangsung cukup dramatis, kegagalan merebut posisi pertama kandas dengan skor tipis 27-28.

“Meskipun akhirnya kami kalah di final karena peraturan, pertandingan berlangsung sangat ketat dengan skor 27-28 sehingga menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” ucap Mareta, mahasiswi Ilmu Komunikasi UII angkatan 2023.

Dalam ingatannya, dalam pertandingan final itu tim voli putri UII menghadapi lawan yang memiliki kualitas permainan sangat mumpuni, baik dalam kemampuan individu maupun kerja tim. Meski demikian, baginya inilah tantangan yang memang harus dihadapi pada kompetisi internasional.

“Tantangan terbesar yang kami alami adalah menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas permainan yang sangat baik dan pengalaman internasional yang cukup tinggi. Pada babak final kami bertemu tim dari Filipina yang memiliki kemampuan individu dan kerja sama tim yang kuat,” tambahnya.

Untuk menghadapi pertandingan ini, persiapan matang telah dilakukan, salah satunya dengan menambah porsi latihan fisik secara mandiri maupun latihan bersama tim. Tujuannya tentu untuk memperkuat kekompakan dan kepercayaan diri tim.

“Kami melakukan persiapan latihan kekompakan tim secara rutin dan latihan tambahan dari diri sendiri seperti menambah porsi latihan fisik dan lebih sering memegang bola. Selain itu, membentuk rasa kepercayaan diri dan kekompakan dalam tim sangatlah penting di sebuah pertandingan yang besar, apalagi bertemu dengan beberapa negara,” ujarnya.

Mareta juga membagikan bagaimana strateginya dalam manajemen waktu antara kesibukan akademik di kampus dan persiapan pertandingan-pertandingan yang akan diikutinya. Ia menegaskan bahwa kuliah adalah tugas utama yang wajib ia selesaikan dan menjadi prioritas utama.

“Saya berusaha membuat jadwal yang teratur antara kuliah dan latihan, apalagi pada saat itu menjelang UAS. Prioritas saya tetap menyelesaikan tugas dan kewajiban akademik terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan waktu luang untuk latihan. Saya juga mengatur waktu istirahat agar kondisi fisik tetap terjaga. Dukungan dari teman satu tim dan dosen juga sangat membantu sehingga saya bisa menjalankan keduanya dengan baik,” ungkap Mareta.

Bertanding di Malaysia kala itu adalah pengalaman berharga. Selain berjuang untuk membawa nama baik almamater, Mareta menyebutnya sebagai pengalaman pengembangan diri.

“Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah untuk mengembangkan kemampuan diri, menambah pengalaman bertanding di tingkat internasional, serta membawa nama baik Universitas Islam Indonesia dan Indonesia. Selain itu, saya ingin menguji hasil latihan yang selama ini dilakukan dan mendapatkan kesempatan untuk bertemu serta belajar dari atlet-atlet mahasiswa dari negara lain,” tandasnya.