Rajbani Gibran Ahmad: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Borong Dua Medali MSQ di Ajang Nasional dan Internasional

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII, D. Rajbani Gibran Ahmad, patut menjadi inspirasi. Mahasiswa angkatan 2024 ini borong prestasi di bidang penjelasan isi Al-Qur’an. Tercatat dari bulan Juni hingga Juli, dua prestasi nasional dan internasional berhasil ia kumpulkan.

Di awal Juni 2026, Rajbani berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional di Bandung, yakni Musabaqah Syahril Qur’an dalam Festival Seni Qur’an Harlah UPTQ UNISBA ke-18. Ia bersama timnya meraih juara dua dalam kompetisi tersebut.

Hanya beberapa pekan kemudian, pada 11 Juli 2026, Rajbani kembali menunjukkan kemampuannya di ajang bergengsi, International Qur’an Festival (IQAF) UII. Berbeda dengan kompetisi sebelumnya, kali ini ia bertanding secara individu melawan peserta dari berbagai perguruan tinggi nasional dan internasional. Ia sukses meraih juara 2, melengkapi koleksi prestasinya dalam waktu yang singkat.

Bagaimana Rajbani mampu meraih dua prestasi sekaligus di tengah kesibukan sebagai mahasiswa baru? Kuncinya ada pada manajemen waktu yang disiplin. Ia mengaku membuat jadwal teratur dengan memprioritaskan kegiatan paling penting. Latihan MSQ yang intensif, perkuliahan, dan aktivitas komunitas keagamaan di kampus ia jalani secara seimbang. Setiap harinya, ia menyisihkan waktu khusus untuk memperdalam materi syarhil Al-Qur’an, tanpa mengabaikan tanggung jawab akademiknya.

“Konsistensi adalah kunci. Saya belajar untuk membagi waktu dengan baik agar latihan dan perkuliahan tetap berjalan beriringan,” ujar Rajbani.

Baginya, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus berkembang. Setiap kompetisi ia jadikan sebagai evaluasi dan pembelajaran. Bertemu dengan peserta terbaik dari berbagai daerah membuka wawasannya tentang pentingnya kerja keras, disiplin, dan menghargai proses.

Dengan dua medali ini, Rajbani berharap dapat terus mengasah kemampuan dan memberikan kontribusi lebih besar dalam syiar Al-Qur’an. Pesannya kepada mahasiswa lain: jangan ragu untuk memulai. Dengan konsistensi, kerja keras, dan doa, prestasi gemilang dapat diraih.

“Setiap kompetisi memberikan pengalaman, tantangan, dan pembelajaran yang berbeda. Dari berbagai pengalaman tersebut, saya belajar untuk terus meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan keislaman, serta membangun mental dan kepercayaan diri dalam berkompetisi,” tandasnya.

Scroll, Swipe, Repeat: Saat Video Pendek Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

“Sebentar aja kok cuma lima menit.”

Kalimat itu mungkin terdengar familiar. Kita sering kali membuka TikTok saat menunggu dosen masuk kelas, menonton Instagram Reels pas jam istirahat, atau menikmati Youtube Shorts sebelum tidur. Namun, tanpa kita sadari, yang awalnya cuma lima menit malah berubah jadi tiga puluh menit, bahkan satu jam. Jempol terus bergerak, layar terus berganti, dan algoritma seolah tahu persis video apa yang ingin kita lihat berikutnya.

Inilah tren baru digital. Video pendek sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, tempat belajar sesuatu, hingga tempat untuk membangun identitas diri. Dalam hitungan detik, seseorang bisa tertawa karena video komedi, memahami materi kuliah, menemukan rekomendasi tempat makan, bahkan memutuskan membeli sebuah produk.

Menonton video berdurasi pendek saat ini sudah menjadi kebiasaan dan fenomena bagi Generasi Z. Data dari YouGov Surveys menunjukkan bahwa pada rentang usia 16-24 tahun, konsumsi video pendek mencapai 85% setiap minggu. Di Indonesia sendiri, TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi tiga platform yang paling sering digunakan oleh masyarakat, terutama generasi muda. Tak heran jika video berdurasi kurang dari satu menit kini menjadi tren baru di era digital.

Mengapa video pendek begitu sulit ditinggalkan? Jawabannya simple: cepat, ringan, dan selalu relevan. Kita tidak perlu membaca artikel panjang atau menonton video berdurasi puluhan menit untuk mendapatkan informasi. Cukup beberapa detik, lalu lanjut ke video berikutnya. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada risiko yang ditimbulkan.

Karena mengejar durasi singkat, banyak informasi yang disampaikan terpotong-potong. Sebuah isu yang sebenarnya kompleks menjadi hanya satu menit, bahkan kurang. Akibatnya, konteks sering kali hilang dan tidak sedikit pula informasi yang belum terverifikasi menyebar lebih cepat daripada proses klarifikasinya. Hoaks, potongan video tanpa penjelasan, hingga judul sensasional menjadi tantangan yang semakin sering ditemui di media sosial.

Meskipun begitu, bukan berarti video pendek hanya membawa dampak negatif. Justru banyak kreator berhasil memanfaatkan format video pendek sebagai media edukasi yang efektif. Mulai dari dosen yang menjelaskan materi dalam satu menit, dokter yang membagikan tips kesehatan, hingga pelaku UMKM yang mempromosikan produknya melalui konten kreatif. Bagi mahasiswa, platform ini juga menjadi tempat atau sarana untuk menunjukkan kemampuan, membangun portofolio, hingga memperluas koneksi melalui personal branding.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, perubahan ini cukup menarik untuk dilihat. Cara kita berkomunikasi kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh apa yang kita pilih, tetapi juga oleh algoritma yang memilihkan informasi untuk kita. Apa yang muncul di timeline bukanlah gambaran utuh tentang dunia, melainkan hasil perhitungan sistem berdasarkan kebiasaan kita mengklik, menyukai, dan membagikan konten. Tanpa kita sadari, algoritma ikut membentuk cara kita memahami realitas.

Di sini pentingnya literasi digital. Menjadi pengguna media saat ini bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta memahami bahwa tidak semua konten yang viral selalu benar. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang begitu cepat.

Pada akhirnya, video pendek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia hanyalah sebuah teknologi yang menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan. Yang menentukan manfaatnya bukanlah algoritma atau platformnya, melainkan cara kita menggunakannya. Sebab di era ketika satu sentuhan jempol dapat membawa kita ke ratusan video berbeda, mungkin yang paling kita butuhkan bukan internet yang lebih cepat, melainkan kesadaran untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu memilih informasi dengan lebih bijak.

 

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita

Ketika Pembelajaran Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas: Menelusuri Inside Out School Magelang

Suasana pagi hari di Inside Out School terasa cukup berbeda dibandingkan dengan sekolah biasanya. Tidak ada kesan terburu-buru untuk segera memulai pembelajaran, dan juga interaksi para siswa dengan guru dibuat lebih santai namun tetap sopan. Di tengah konsep cara belajar yang selama ini identik dengan suasana kegiatan sekolah yang mempunyai ruang kelas, siswa yang banyak, dan seragam sekolah. Inside Out School menawarkan pengalaman pendidikan yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Di tempat ini, proses belajar tidak hanya sekadar tentang materi pelajaran dan nilai yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana peserta didik dapat mengenali diri, mengembangkan potensi, dan menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Inside Out School merupakan nama sekolah alam tempat belajar yang berlokasi di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, yang berdiri pada akhir Juni 2025. Pendiri sekolah tersebut adalah Sulistiyawati, alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2006. Metode pembelajaran yang diajarkan adalah dengan memberikan ruang kepada para siswa untuk mengeksplor apa yang mereka inginkan untuk dipelajari tanpa membatasinya, tetapi juga tetap mengarahkan supaya ilmu yang mereka serap dapat berjalan dengan maksimal.

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Sebelum pembelajaran dimulai, mereka mengawali kegiatan dengan bersih-bersih area belajar, kemudian dilanjutkan dengan berdoa, lalu siswa diarahkan ke masjid dekat sekolah untuk melaksanakan salat dhuha. Selepas itu, kegiatan belajar pun dimulai, ada yang belajar huruf hijaiyah, ada yang belajar matematika, dan ada juga menggambar tentang objek yang ada di sekitar, setelah selesai melakukan kegiatan belajar di area dalam, para siswa diajak para pamong atau tutor mereka untuk bermain ke alam dengan kegiatan swasembada pangan yang bertujuan untuk memproduksi kebutuhan pangan dan dapat dimanfaatkan secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun dengan membuat pupuk tanaman sawi, setelah berkebun para siswa kemudian diajak untuk diskusi buku yang bebas dipilih oleh tiap siswa, masing-masing satu orang diminta untuk menceritakan buku yang mereka baca, kemudian memberikan kesimpulan mengenai buku tersebut dan semua rangkaian kegiatan belajar diakhiri dengan doa penutup.

PKBM Inside Out School

PKBM Inside Out School

Ketua PKBM Inside Out School Magelang, Sulistiyawati, menjelaskan bahwa apa yang ingin Inside Out School berikan kepada peserta didik yang mungkin tidak didapatkan dari sekolah pada umumnya adalah ruang untuk berkembang sesuai potensi, minat, dan bakat masing-masing anak, bukan memaksa semua anak mengikuti standar yang sama seperti di sekolah formal.

“Anak-anak itu ibarat mereka benih. Kalau dia biji jagung, ya biar dia keluar jagung, bukan malah dipaksa untuk jadi padi kayak teman-temannya. Jadi itulah kenapa proses belajar yang akademik atau yang terstruktur itu porsinya kecil, hanya untuk menajamkan kalau dia memang bibit jagung ya biarkan tumbuh jadi jagung yang subur,” ujarnya.

Pada akhirnya, Inside Out School tidak hanya menawarkan tempat untuk belajar, tetapi juga mencoba membuat ruang bagi peserta didik untuk menemukan cara belajarnya sendiri. Di tengah aktivitas yang berlangsung dengan suasana yang sederhana dan tidak terlalu formal, pendidikan di tempat ini berjalan dengan satu gagasan bahwa setiap siswa memiliki cara yang berbeda untuk tumbuh dan berkembang.

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Three-Country Collaboration Strengthens ASEAN Network

This year, the International Program Communications (IPC) at UII is collaborating with SCIMPA at Universiti Utara Malaysia (UUM) and Suan Dusit University in Thailand to conduct a joint program titled P2A ICE CREAM COCONUT 2026 from August 8–17, 2026. The program’s theme, COCONUT—standing for Community, Ocean, Nature, Unity, and Technology-symbolizes the identities of the three countries: tropical, maritime, and the Southeast Asian community, representing elements of sustainability, cross-cultural unity, and creative digital innovation.

Ibnu Darmawan, Director of P2A at UII, noted that this program is a tangible manifestation of the three universities’ commitment to collaboration. “The relationship between UII, UUM, and SDU goes beyond mere visits; it signifies a strong commitment to collaboration among the three nations. We are one big family that we continue to build together,” he said.

Mohammad Amir Bin Abu Seman, a senior lecturer at SCIMPA UUM who has been part of this program for more than eight years, shared that P2A ICE CREAM has had a profound impact on his students.

“After almost eight years with P2A ICE CREAM, I have learned that its greatest impact is not simply where we take our students, but the connections they bring home. As a delegate from UUM, I am proud to be part of a program that brings ASEAN closer through friendship, creativity, and shared experiences,” he said.

Saowapan Palasuan from SDU also noted that P2A ICE CREAM serves as a space for building relationships and collaboration. “This program is like a reunion for us. We’re building new relationships while continuing existing collaborations. Moving forward, we’ll also be preparing a program at SDU,” she said.

Cross-Border Journey

P2A ICE CREAM 2026 is a journey from Yogyakarta to Malaysia and Thailand. During this nine-day trip, students from the three universities will work together on a tourism video project. Some of the destinations include Merdeka Square in Kuala Lumpur, Kampung Warna Warni and Chinatown in Alor Setar, Emerald Cave and Koh Ngai in Trang, as well as Phatthalung and Hat Yai, Thailand.

This program is designed to provide students with firsthand experience of the cultural, natural, and historical richness of the ASEAN region.

Beyond cultural exploration, P2A ICE CREAM 2026 also features collaborative activities such as a cooking challenge, a cultural night, and a CSR beach cleanup initiative aligned with environmental sustainability values.

An Experience- and Creativity-Based Program

P2A ICE CREAM is an international mobility program-a course on creative media that employs an experience-based learning approach. Participants not only learn in the classroom but also engage with local communities to interact with and understand the local culture.

Through the theme “COCONUT,” this program emphasizes the importance of creativity, originality, togetherness, care for the ocean and nature, unity, and the use of technology in producing creative works that benefit the development of tourism and culture in ASEAN. The program also serves as a platform for students to build cross-national networks of friends that are expected to endure into the future.

Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere

Pascareformasi, harapannya televisi lokal menyelamatkan budaya daerah. UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 serta otonomi daerah menjadi jalan munculnya stasiun televisi lokal di seluruh daerah di Indonesia. Tujuannya adalah agar televisi lokal mampu menjadi ruang bagi ekspresi budaya yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi siaran Jakarta.

Penelitian yang diterbitkan RedFame, “Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere”, yang ditulis oleh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Dr. Puji Rianto, S.IP., M.A., mengungkap fakta-fakta mengecewakan. Studi yang dilakukan terhadap ADiTV di Yogyakarta dan Bali TV di Bali menunjukkan kontribusi televisi lokal terhadap ruang budaya masih sangat terbatas. Dua masalah utamanya adalah komersialisasi dan pandangan budaya yang sempit.

Pertama, realitas soal televisi lokal adalah bisnis. Sehingga hanya budaya yang “laku” yang akan ditayangkan. Program budaya mesti menarik sponsor dan iklan. Salah satu program Jenggleng Manasuka dan Wedang Ronde milik ADiTV misalnya, mampu bertahan bertahun-tahun lantaran ada pengiklan yang mendanai. Tanpa sponsor, program terhenti atau mati.

Begitupun di Bali TV, ketika komunitas adat yang ingin tampil di acara Lila Cita mesti membayar. Artinya, untuk mengakses ruang budaya harus memiliki uang. Kelompok budaya kecil, tanpa modal, dan tidak populer sempit kesempatannya. Ruang budaya layaknya pasar, yang punya nilai jual bisa tampil, begitu pun sebaliknya.

Kedua, televisi lokal ternyata untuk budaya mayoritas. Budaya dianggap statis, murni, yang hanya dimiliki satu kelompok etnis. Di ADiTV hanya ditampilkan budaya Jawa yang berpusat pada Keraton Yogyakarta dan Solo. Sementara di Bali TV hanya menampilkan budaya Hindu Bali lewat gerakan Ajeg Bali.

Akibatnya, budaya lain tak terlihat, seperti Tionghoa, Batak, dan Minang di Yogyakarta, misalnya, tak punya ruang. Di Bali, komunitas non-Hindu tak terlihat. Selain tak mendapat ruang, budaya lain dianggap ancaman. Ironisnya, pengelola televisi lokal juga cemas takut budaya yang dianggap murni itu hilang. Kecemasan ini membuat kaku dan eksklusif.

Jeratan dominasi Jakarta juga membelenggu, televisi nasional modal besar dan jangkauan luas tak bisa dilawan televisi lokal. Dengan kualitas gambar yang lebih jernih, produksinya juga lebih mumpuni. Sehingga pennonton memilih sinetron Jakarta daripada acara budaya lokal.

Riset ini mendorong agar ruang budaya menjadi inklusif dan nilai-nilai budaya dari setiap daerah mampu diterima semua pihak. Jika televisi lokal masih eksklusif dengan mengacu pada kepentingan komersial serta terjebak dalam pandangan sempit budaya, tentu akan terus gagal.

Televisi lokal harus merangkul keberagaman, bukan hanya melestarikan satu budaya yang dominan. Indonesia bukan hanya Jawa dan Bali, melainkan milik semua orang yang tinggal di dalamnya.

Sumber: Rianto, P., Wahyuni, H.I., & Wahyono, S.B. (2026). Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere. Studies in Media and Communication, 14(1), 177-188.

https://redfame.com/journal/index.php/smc/article/view/7930

 

2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025

Flashback Moment, Mareta Zahra Kartika merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) yang turut menjadi tim voli putri pada kompetisi 2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025 di Universitas Teknologi Petronas, Malaysia pada 21-24 Agustus 2025.

Ia dan tim berhasil pulang dengan gelar 1st Runner Up atau juara dua tingkat internasional setelah bertemu tim Filipina di babak final. Berlangsung cukup dramatis, kegagalan merebut posisi pertama kandas dengan skor tipis 27-28.

“Meskipun akhirnya kami kalah di final karena peraturan, pertandingan berlangsung sangat ketat dengan skor 27-28 sehingga menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” ucap Mareta, mahasiswi Ilmu Komunikasi UII angkatan 2023.

Dalam ingatannya, dalam pertandingan final itu tim voli putri UII menghadapi lawan yang memiliki kualitas permainan sangat mumpuni, baik dalam kemampuan individu maupun kerja tim. Meski demikian, baginya inilah tantangan yang memang harus dihadapi pada kompetisi internasional.

“Tantangan terbesar yang kami alami adalah menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas permainan yang sangat baik dan pengalaman internasional yang cukup tinggi. Pada babak final kami bertemu tim dari Filipina yang memiliki kemampuan individu dan kerja sama tim yang kuat,” tambahnya.

Untuk menghadapi pertandingan ini, persiapan matang telah dilakukan, salah satunya dengan menambah porsi latihan fisik secara mandiri maupun latihan bersama tim. Tujuannya tentu untuk memperkuat kekompakan dan kepercayaan diri tim.

“Kami melakukan persiapan latihan kekompakan tim secara rutin dan latihan tambahan dari diri sendiri seperti menambah porsi latihan fisik dan lebih sering memegang bola. Selain itu, membentuk rasa kepercayaan diri dan kekompakan dalam tim sangatlah penting di sebuah pertandingan yang besar, apalagi bertemu dengan beberapa negara,” ujarnya.

Mareta juga membagikan bagaimana strateginya dalam manajemen waktu antara kesibukan akademik di kampus dan persiapan pertandingan-pertandingan yang akan diikutinya. Ia menegaskan bahwa kuliah adalah tugas utama yang wajib ia selesaikan dan menjadi prioritas utama.

“Saya berusaha membuat jadwal yang teratur antara kuliah dan latihan, apalagi pada saat itu menjelang UAS. Prioritas saya tetap menyelesaikan tugas dan kewajiban akademik terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan waktu luang untuk latihan. Saya juga mengatur waktu istirahat agar kondisi fisik tetap terjaga. Dukungan dari teman satu tim dan dosen juga sangat membantu sehingga saya bisa menjalankan keduanya dengan baik,” ungkap Mareta.

Bertanding di Malaysia kala itu adalah pengalaman berharga. Selain berjuang untuk membawa nama baik almamater, Mareta menyebutnya sebagai pengalaman pengembangan diri.

“Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah untuk mengembangkan kemampuan diri, menambah pengalaman bertanding di tingkat internasional, serta membawa nama baik Universitas Islam Indonesia dan Indonesia. Selain itu, saya ingin menguji hasil latihan yang selama ini dilakukan dan mendapatkan kesempatan untuk bertemu serta belajar dari atlet-atlet mahasiswa dari negara lain,” tandasnya.

Kalfest Hub Seri #9 X Festival Film Santri: Hadirkan Enam Film dari Perspektif Pesantren

Kaliurang Festival Hub seri ke-9 berkolaborasi dengan Festival Film Santri (FFS) telah terselenggara pada 16 Juli 2026. Perjumpaan dua festival ini menjadi ruang bagi para penikmat film untuk melihat dan mendengar suara-suara dari perspektif santri. Screening dilakukan di Ruang Audio Visual Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan menayangkan enam film.

Enam yang ditayangkan meliputi tiga karya santri dan tiga dari kategori umum. Film-film tersebut antara lain Saling Silang Sandal – Yazid Azhari (Pesantren Sukorejo, Situbondo) yang mengungkap bagaimana kebiasaan yang dianggap lumrah, istilahnya ghosob, fenomena santri terpaksa memakai sandal milik teman demi mobilitas cepat.

Selanjutnya ada Akar Pohon – Husni Fatihin (Pesantren Sidogiri, Pasuruan) yang bercerita soal sikap tawadhu seorang santri terhadap wasiat almarhum ibunya untuk kembali ke kampung dan mengabdikan diri di jalur pengajaran.

Film ketiga adalah Gazeboan – Tiara Navisa (Sinematake SMK Subbanul Waton, Magelang). Tak kalah unik, Gazeboan hadir di bulan Ramadan: bagaimana para santri melakukan “war takjil” di selasar pesantren. Hasilnya, banyak suara yang layak untuk direfleksikan.

Tiga film lainnya adalah KAR Kar – Shohipul Ma’ruf (Team Creative Multimedia), Baku Percaya – Raynton Rare’a (Komunitas Tidak Production), dan Kita Gali Sampai Mati – Labib Pratama (Moro-moro Production) yang digarap secara profesional dengan nilai-nilai akulturasi yang sangat detail.

Seri ke-9 ini, selain melakukan screening enam film, juga dilanjutkan dengan Movie Talk, sebuah diskusi dari punggawa FFS bersama penonton yang menghadirkan Agus Sam (Direktur FFS) serta Yogi Ishabib (Direktur Program FFS).

Agus Sam menyebut bahwa awal mula inisiasi pembentukan FFS terjadi karena ia memiliki kedekatan dengan pesantren. Harapannya, dengan film, keresahan dan suara santri mendapat ruang di hadapan publik.

“Ide ini berangkat dari kedekatan dengan pesantren. Kami resah, tapi juga melihat ruang baru. Film bukan untuk menggurui, itu membosankan. Kami menawarkan festival kepada pesantren dan kami rumuskan agar festival ini tidak hilang dalam 1-2 tahun. Dengan film maka bersilaturahmi dengan pesantren,” ucapnya.

Senada dengan rekannya, Yogi Ishabib menyebut bahwa di Surabaya, tempat lahirnya FFS, banyak festival tak berumur panjang. Dengan jejaring yang dimiliki, ia ingin melibatkan langsung para santri agar festival terus bertahan.

“Kami punya jejaring dan production house, tapi festival film di Surabaya tak berumur panjang. Covid mengubah lanskapnya. Maka di FFS 2023, kami menghadirkan kuratorial yang tidak ujug-ujug kami mendekati dulu. Karena santri di pesantren tak boleh pegang HP, komunikasi terbatas,” ungkap Yogi Ishabib.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, yang turut hadir menyampaikan apresiasinya. Baginya, perspektif dari santri turut menjadi dinamika keriuhan yang layak untuk didengar.

“Menggandeng mitra luar biasa, film menjadi ruang perjumpaan gagasan, bukan sekadar tontonan, melainkan wadah di mana suara-suara kami menjadi bagian dari dinamika keriuhan yang layak didengar.” Tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025

Flashback Moment, mahasiswa Ilmu Komunikasi UII berhasil membawa pulang emas dalam kompetisi 2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025. Ia adalah Muhammad Dzaky Naufal, mahasiswa angkatan 2024 yang juga atlet voli tim UII.

Pada tanggal 21–25 Agustus 2025, ia dan tim UII bertandang ke Universitas Teknologi Petronas, Malaysia, untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional dan bertemu tim dari berbagai negara ASEAN. Melalui perjuangan panjang, akhirnya tim voli putra UII berhasil menjadi juara 1.

Dzaky menyebut bahwa ia dan tim membutuhkan waktu sekitar lima bulan latihan intensif untuk menyiapkan pertandingan ini. Usaha tak mengkhianati hasil; mereka pulang membawa prestasi yang membanggakan.

“Strategi yang pastinya rajin berlatih kita mulai Maret 2025 sudah persiapan itu yang membuat kami matang bisa mendapat juara 1,” ucap Muhammad Dzaky Naufal.

Bertanding tingkat internasional bukan perkara sederhana, bagi Dzaki dan tim yang bertemu tim dari Filipina dan Malaysia butuh kematangan persiapan baik fisik maupun mental.

“Tantangan yang pasti dari diri sendiri, mental, karena pertama kalinya melawan dari luar negeri, dari Filipina dan Malaysia, tentunya itu tekanan serta bagaimana kita mengantisipasinya,” tambahnya.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang super padat di kelas maupun di proyek-proyek lapangan, kondisi ini membuatnya harus bijak menentukan prioritas.

“Sangat susah jawabannya jujur, harus benar-benar tahu kondisi bagaimana mengaturnya kalau saya sendiri dengan pakai prinsip bagaimanapun harus kuliah, setelah kuliah selesai langsung latihan karena ya itu kewajiban,” jawabnya.

Dari Indonesia ke Malaysia dengan berbagai usaha maksimal, Dzaki memiliki ambisi besar untuk memenangkan pertandingan. Ia dan tim telah mengorbankan waktu dan tenaga, hingga mendapat dukungan dari pihak universitas sehingga harus tampil maksimal dalam lag aitu.

“Motivasinya sudah jauh-jauh harus diambil juaranya, jangan sampai engga, itu yang bikin adrenalin di diri saya meningkat supaya jadi juara dan lebih baik.” Tandasnya.

BookTalk: Segala-galanya Ambyar ‘Tips Bertahan Menjadi WNI’

Warga negara Indonesia (WNI) tengah dihantui berbagai kabar buruk, ketidakpastian ekonomi, hingga kesenjangan sosial masyarakat akibat berbagai kebijakan. Data BPS mencatat inflasi pada bulan Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan (yoy), artinya rata-rata harga barang dan jasa naik 3,34%. Jika diilustrasikan, kebutuhan belanja rata-rata Rp1.000.000 kini menjadi Rp1.033.400.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin frustrasi, hingga menumpahkan emosi ke media sosial lewat berbagai meme ataupun catatan-catatan yang dibalut dengan humor getir. Salah satu cara bertahan dalam kondisi ambyar, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Puji Rianto, memberikan rekomendasi lewat buku Segala-galanya Ambyar atau Everything is Fucked yang ditulis oleh Mark Manson.

“Buku ini bercerita tentang sebuah harapan,” ujar Puji Rianto.

Dalam kondisi kecewa, terkadang manusia cenderung berhenti berharap. Buku ini menyebutkan bahwa kita hidup dalam dunia paradoks yang menciptakan berbagai tekanan di segala sisi. Di satu sisi, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan peradaban, dan seterusnya.

“Kita juga menghadapi situasi yang paradoks, konon katanya negara kita gemah ripah loh jinawi, tapi nyatanya segalanya sulit, BBM naik, bahan-bahan pokok naik, pendidikan semakin mahal, pekerjaan semakin sulit didapatkan,” tambahnya.

Lantas, bagaimana WNI membangun harapan di tengah situasi yang tidak menyenangkan? Ada tiga hal dari buku ini yang diusulkan Mark Manson. Kira-kira begini yang diucapkan dalam sesi BookTalk oleh dosen UII.

Pertama, menyadari posisi bahwa “Kita yang menjadi kendali atas hidup kita, bukan orang lain. Maka, mampu membangun harapan lalu menghancurkan barier dengan kendali itu adalah apa yang membuat harapan itu tidak terwujud,” ungkapnya.

Setelah menyadari kendali atas hidup, kita harus memiliki nilai yang layak diperjuangkan. Sebagai WNI, nilai yang paling relevan adalah nilai demokrasi dan kehidupan yang layak.

“Nilai kan sesuatu yang berharga, kalau kita berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang sesuatu yang berharga,” jelas Puji Rianto.

“Pertanyaannya, nilai apa yang kita perjuangkan? Kalau sekarang nilai itu demokrasi dan kehidupan yang layak,” tambahnya.

Terakhir, ada keterikatan dengan komunitas. Fungsi komunitas adalah sebagai benteng penjaga nilai dan pembangun kohesi sosial.

“Kita harus terikat pada komunitas karena nilai itu didefinisikan di dalam komunitas. Di dalam komunitas, kita berharap orang-orang memperjuangkan nilai yang sama. Kalau nilai itu tidak diperjuangkan oleh komunitas atau bahkan dinegasi oleh komunitas, maka nilai itu lambat laun jadi hilang.” Tandasnya.

Itulah tiga tips untuk bertahan menjadi WNI lewat buku Segala-galanya Ambyar. Bagaimana pendapatmu, Comms?

Baca artikel lainnya: https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-wajib-izin-masihkah-kita-bebas-bersuara-di-indonesia/

Penulis: Meigitaria Sanita

Ask the Expert: Demo Wajib Izin, Masihkah Kita Bebas Bersuara di Indonesia?

Pembubaran demo kerap dilakukan oleh aparat di Indonesia karena alasan tidak adanya izin tertulis yang dianggap mengganggu kepentingan umum. Salah satu pembubaran demo yang pernah terjadi pada pertengahan Juni 2026 lalu, misalnya, ketika aliansi BEM di Jabodetabek dibubarkan dengan alasan kawasan Jalan M. H. Thamrin memicu risiko kemacetan lalu lintas. Tujuan dari demo tersebut menuntut kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tak berpihak kepada masyarakat, seperti pengelolaan makan bergizi gratis (MBG) hingga melemahnya nilai rupiah.

Sebuah pertanyaan reflektif akhirnya muncul, apakah kita benar-benar merdeka bersuara? Atau kebebasan mulai terikat dengan berbagai regulasi hingga membungkam kritik? Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Puji Rianto, memaparkan bahwa arah regulasi di Indonesia pasca-1998 menunjukkan kemunduran.

“Regulasi sejak reformasi 98 itu semakin otoriter. UU yang paling demokratis adalah UU Nomor 40 Tahun 1999, setelah itu undang-undang semakin represif terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat warga,” ucapnya.

Regulasi yang semakin otoriter dipicu oleh kultur elit politik yang jauh dari jiwa demokratis setelah meraih kekuasaan.

“Mentalitas kultur elit kita memang tidak pernah punya kultur demokratis, sehingga ketika mereka mendapatkan kekuasaan dari mana pun latar belakangnya sering kali hanya menekankan upaya untuk membangun represi,” tambahnya.

Puji Rianto menyoroti persoalan yang paling krusial, yakni kewajiban izin atau pemberitahuan aksi demonstrasi. Baginya, demo adalah hak bagi warga negara Indonesia.

“Itu hak konstitusional setiap warga negara yang dijamin kebebasan berpendapat berdasarkan konstitusi,” jelasnya.

Sehingga membubarkan rakyat yang tengah menyuarakan pendapat dapat dianggap sebagai pelanggaran konstitusi. Sayangnya, realita yang terjadi jauh dari kata ideal. Otoritarianisme membuat hak ini terabaikan.

Pola yang kerap terjadi dalam demonstrasi biasanya membuat pemerintah memberi respons dengan mengirim utusan untuk berdialog. Namun, langkah ini adalah mekanisme meredam suara, bukan menyelesaikan masalah dengan tulus. Selain itu, undang-undang kerap dirumuskan secara eksklusif demi kepentingan segelintir orang. Hal ini membuat masyarakat tak percaya lagi dengan pemerintah.

“Pemerintah datang untuk berdialog; tidak ada ketulusan dalam konteks itu. Apa argumen yang dapat kita gunakan untuk menunjukkan bahwa pemerintah tulus untuk menampung aspirasi masyarakat? Ketika mereka membuat undang-undang, hampir tidak pernah menampung aspirasi masyarakat. Sering kali undang-undang dibuat dalam waktu yang sangat singkat, lalu munculah gejolak dan itu berulang,” jelasnya.

Demonstrasi adalah satu-satunya cara ketika pemerintah dan sistem politik tidak responsif. Dalam negara yang benar-benar menerapkan sistem demokratis, regulasi dibentuk melalui dialog publik yang partisipatif. Jika hukum disusun secara demokratis dan dijalankan secara konsisten berdasarkan prinsip negara hukum, maka tidak akan ada celah bagi masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Karena hukum itu sendiri sudah menjadi cerminan aspirasi rakyat.

“Kalau pemerintah memang punya spirit demokrasi membuka ruang perdebatan dalam membangun regulasi layaknya di negara demokrasi, tidak akan ada demo. Apalagi kalau undang-undang yang dirumuskan secara demokratis dikerjakan secara konsisten berdasarkan prinsip negara hukum, maka tidak ada celah bagi masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Karena hukum sudah disusun berdasarkan dialog yang demokratis menampung aspirasi rakyat.” Tandasnya.

Baca artikel lainnya:

https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-di-jalanan-masihkah-diperlukan/

Penulis: Meigitaria Sanita