Reading Time: 2 minutes

Penulis asing banyak mempertimbangkan jurnal yang telah terindeks DOAJ dan Copernicus. Keduanya dianggap sebagai indeks menengah di level internasional.

Begitulah pengalaman Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam (JEKI) dari FBE UII ketika berbagi dalam FGD Pengelola Jurnal se-UII pada 12 Januari 2021 via Zoom Meeting. Pengelola Jurnal Komunikasi UII dan Asian Journal of Media and Communication (AJMC), jurnal internasional, di Komunikasi juga ikut urun rembug dalam FGD tersebut.

Heri Sudarsono, pengelola JEKI, bahkan mengatakan bahwa JEKI bahkan memberi fee pada penulis luar negeri pada saat jurnalnya terindeks di sinta 3. Ada kriteria juga penulis tidak perlu membayar untuk kirim naskah jika ia adalah penulis asing atau berkolaborasi dengan penulis asing. Trik itu ia jalankan agar memacu peningkatan jumlah penulis asing di jurnalnya.

Banyak trik dan tips yang bisa dicontoh dan diterapkan agar jurnal dilirik oleh penulis internasional. Selain konsistensi gaya dan mutu penulisan baik secara teknis dan substansi, indeks jurnal juga perlu diperhatikan, seperti dikemukakkn di awal tulisan.

Menurut Heri, pemetaannya terhadap tipologi jurnal di UII masih sedikit yang terindeks DOAJ dan copernicus. “Maka di sinilah pada FGD ini penting kita menjadikan FGD ini forum menentukan wadah merumuskan strategi yang terukur dan menyeluruh bagi perkembangan jurnal di UII,” kata Heri, juga disepakati oleh Eko siswoyo, pengelola Jurnal Sains dan Teknik Lingkungan (JSTL), yang juga sebagai moderator FGD ini.

Menurut Eko, Ada dua jenis indeks DOAJ. “terindeks DOAJ dengan green tick itu lebih banyak diperhatikan oleh penulis asing kabarnya,” katanya. Hasil pemantauan Eko, jurnal yang sudah terindeks DOAJ di uii baru 6 jurnal. Meski belum DOAJ, AJMC milik Komunikasi UII sudah terindeks copernicus.

Imam Djati Widodo, WAkil Rektor 2 UII, mengakatakan, pihaknya akan terus mendukung perkembangan jurnal di UII, “Misalnya tadi ada usul pelatihan OJS, lalu kemarin juga ada kami support insentif tiap akhir tahun pada jurnal-jurnal yang progress-nya baik.” Beberapa waktu lalu, kata Imam, pada akhir 2020, Rektorat UII memberi dana hibah secara selektif untuk perkembangan jurnal di UII yang jumlahnya sekira 20 hingga 50 juta rupiah tiap jurnalnya. Salah satu penerimanya adalah Jurnal Komunikasi milik Program Studi Ilmu Komunikasi. Capaian ini tidak lain karena pendampingan terstruktur dari Unit Jurnal dan Publikasi Karya Ilmiah FPSB UII, sebuah unit khusus yang memiliki tugas meningkatkan dan mengembangkan potensi dan kualitas jurnal di lingkup FPSB UII.

Pada kesempatan akhir FGD, para pengelola jurnal se-UII akhirnya bersepakat akan mendorong dan berkomitmen agar jurnalnya dapat terindeks DOAJ dan copernicus. Harapannya, jika dua indeks menengah ini telah tercapai, penulis di level internasional akan lebih tertarik. Harapannya, pihak universitas akan memfasilitasi, misalnya dengan pelatihan dan beragam dukungan seperti dikemukakan di mula.

Reading Time: 2 minutes

Syarat agar jurnal yang anda kelola terindeks Scopus, ia haruslah spesifik. Namun, membuat jurnal anda terindeks Scopus bukan perkara nama yang spesifik, melainkan ruang lingkup. Tentu saja penggunaan bahasa inggris secara konsisten juga adalah syarat utama.

“Agar terindeks Scopus, bukan soal nama jurnalnya. Namun soal isinya. Berbahasa inggris, juga reviewer dan penulisnya plural,” kata Dr. Lukman, S.T., M. Hum, Sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VI Jawa Tengah, dalam Pelatihan Jurnal Online UII, pada 12 Januari 2021, via Zoom Meeting Conference.

Heri Sudarsono, pengelola Jurnal Ekonomi & Keuangan Islam, memandu pelatihan dengan tema “Meningkatkan Kualitas Tata Kelola Jurnal Menuju Akreditasi SINTA 2 dan Indeks SCOPUS” ini.

Lukman juga mengatakan kunci agar dapat tembus indeks Scopus adalah dengan memperhatikan dua hal. Pertama dari segi teknis: mutu penyuntingan gaya dan format. Lalu kedua dari segi substansi: kualitas konten dan gagasan tulisan.

Menurutnya, yang dimaksud spesifik agar terindeks scopus adalah bukan soal nama, tetapi spesifik ruang lingkupnya. “Meski begitu, alangkah baiknya nama jurnalnya dibuat yang spesifik juga,” tambahnya kemudian.

Konsistensi dalam teknis penyuntingan dan substansi tulisan rupanya adalah langkah pertama bahkan ketika ingin jurnal diindeks dalam pengindeks apapun. Kerapian tata kelola jurnal, kejelasan fungsi antar pengelola jurnal, tugas editor, dan tugas reviewer yang jelas juga jadi syarat jurnal menjadi rujukan.

Konsistensi juga sudah ditunjukkan oleh pengelola Asian Journal of Media and Communication (AJMC). Jurnal internasional di Komunikasi ini dalam catatan sudah terindeks copernicus. Langkah menuju Scopus, seperti yang disebut Lukman, tentu sudah sedikit mudah. Selain juga karena jurnal AJMC sudah berbahasa inggris secara konsisten dan melibatkan beragam penulis asing. Sedangkan Jurnal Komunikasi UII sedang menuju re-akreditasi menuju Sinta 3 pada bulan mendatang.

Peserta juga bertanya pada Lukman, sebagai pakar publikasi dan jurnal kemenristek/BRIN soal peran editor dan reviewer dan konsistensi dalam penyuntingan naskah jurnal. Menurut Lukman, editor bisa menulis di jurnalnya sendiri, asal reviewernya tidak diri sendiri. Namun sebaiknya hindari menulis di jurnal sendiri, agar tidak jago kandang, kata Lukman menjelaskan.

Lukman menambahkan, bahwa tugas editor adalah membuat tulisan agar enak dilihat secara teknis. “Ngoreksi kesesuaian dengan selingkung itu tugas editor bukan reviewer.”

Sedangkan Reviewer melakukan penegecekan apakah tulisan telah memiliki state of the art, punya dampak dan singkatnya, “reviewer bikin tulisan enak dibaca idenya, bukan periksa titik koma dan gaya bahasa,” ungkap Lukman.

Para peserta juga diharapkan belajar dari contoh-contoh jurnal yang telah terindeks scopus. Misalnya dalam penggunaan crosslinking. Jurnal terindeks Scopus / elsevier pasti ada Crosslinking, katanya. Crosslinking menghubungkan pustaka ke sumber aslinya. “Anda bisa melihat dan mencontoh pada jurnal-jurnal elsevier standarnya bagaimana lihat di naskahnya,” jelas Lukman.

Apakah jurnal tidak boleh mengubah gaya penulisan? Pertanyaan lain mengemuka. Menurut Lukman, boleh saja jurnal mengubah gaya penulisan, tetapi harus konsisten.

Lalu jika semua sudah dibenahi, konsistensi telah dijalani, apa lagi langkah berikutnya? “Kalau ketentuannya sudah bisa, segera cek kesiapan dan submit di ready for scopus, langsung segera saja. Tapi jangan asal yakin tanpa persiapan segala hal tadi lalu mendaftar di ready for scopus ya, pasti ditolak,” kata Lukman. “Kebanyakan kejadian jurnal di Indonesia itu begitu belakangan ini, sehingga kemarin muncul kesan kalau dari Indonesia pasti asa-asalan, semoga dari UII tidak begitu.”

Lukman memberi pesan dan kesan penutup juga pada para peserta pelatihan yang adalah seluruh pengelola jurnal di UII. “Ibu-ibu dan bapak-bapak harus memahami instrumen di arjuna dan ketentuan SInta. Harus konsisten, teliti, dan jeli. Antara volume satu dan berikutnya, tulisan satu dan lainnya apakah sudah konsisten gaya, penulisan, dan mutu penyuntingannya dengan selingkung. Itu harus hati-hati.”

Reading Time: 2 minutes

Foreign writers consider many journals that have been indexed by DOAJ and Copernicus. Both are considered intermediate indexes at the international level.

That was the experience of the Journal of Islamic Economics and Finance (JEKI) from FBE UII when sharing in the FGD of UII Journal Managers on January 12, 2021 via Zoom Meeting. The Manager of Jurnal Komunikasi UII and Asian Journal of Media and Communication (AJMC), international journal of Department of Communication Science also participate in this FGD. AJMC also have been indexed by Copernicus.

Heri Sudarsono, the manager of JEKI, even said that JEKI even gives fees to foreign writers when their journals are indexed in sinta 3. There are also criteria that writers do not have to pay to send a manuscript if they are foreign writers or collaborate with foreign writers. He executed the trick in order to spur an increase in the number of foreign writers in his journal.

There are many tricks and tips that can be imitated and applied to attract international writers to the journal. Apart from consistency in style and quality of writing both technically and in substance, journal indexes also need to be considered, as stated at the beginning of this writing.

According to Heri, the mapping of the typology of journals at UII is still only a few indexed by DOAJ and copernicus. “So this is why, in this FGD, it is important that we make this FGD to determine a forum to formulate a measurable and comprehensive strategy for the development of journals at UII,” said Heri, who also agreed by Eko Siswoyo, manager of the Journal of Environmental Science and Engineering (JSTL), who is also a moderator of this FGD.

According to Eko, there are two types of DOAJ indexes. “Reportedly, foreign writers pay more attention to the DOAJ index with the green tick,” he said. According to Eko’s monitoring, only 6 journals in UII that have been indexed by DOAJ. We have to level it up all our journal to be indexed by two of them.

Imam Djati Widodo, Vice Rector 2 of UII, said that he will continue to support the development of journals at UII, “For example, there was a proposal for OJS training, then yesterday we also supported and gives incentives at the end of each year for journals with good progress.” Some time ago, said Imam, at the end of 2020, the UII Rectorate gave grants selectively for the development of journals at UII, which amounted to around 20 to 50 million rupiah per journal.

At the end of the FGD, the journal managers from all over the UII finally agreed to encourage and commit themselves so that their journals could be indexed by DOAJ and copernicus. The hope is that if these two intermediate indexes have been achieved, writers at the international level will be more interested. The hope is that the university will facilitate, for example, with training and various supports as stated at the beginning.

Reading Time: 3 minutes

The Criteria for journals you manage to be indexed by Scopus, it must be specific. However, getting your UII journal indexed by Scopus is not a matter of specific names, but of scope. Of course, consistent use of English is also a major requirement.

“To be indexed by Scopus, it is not a matter of the name of the journal. But the content. In English, reviewers and writers are also plural,” said Dr. Lukman, ST, M. Hum, Secretary of the Central Java Region VI of  Higher Education Service Institute, in the UII’s Journal Training, on January 12th, 2021, via Zoom Conference.

Heri Sudarsono, manager of the Journal of Islamic Economics & Finance, guided the training with the theme “Improving Journal Management Quality Towards SINTA 2 Accreditation and the SCOPUS Index”.

Lukman also said the key to penetrating the Scopus index was to pay attention to two things. First from a technical point of view: the quality of the style and format editing. Then the second is in terms of substance: quality of content and writing ideas.

According to him, what is meant by being specific for Scopus indexing is not a matter of name, but the specific scope of it. “Even so, it would be nice to make a specific journal name,” he added later.

Consistency in technical editing and substance of writing seems to be the first step even when you want the journal to be indexed in any index. The neatness of journal management, clarity of functions among journal managers, the duties of editors, and clear duties of reviewers are also requirements for journals to become references for the authors.

The management of the Asian Journal of Media and Communication (AJMC) has also shown consistency. This international journal in Communications Department has been indexed by Copernicus. The step towards Scopus, as Lukman said, is certainly a little easy step forward. Apart from that, the AJMC journal is already in English consistently and involves various foreign writers. Meanwhile, the Jurnal Komunikasi (UII Communication Journal) is heading towards re-accreditation towards indexed by Sinta 3 (National Journal Accreditation index level 3)  in the coming months.

Participants also asked Lukman, as an expert on publications and journals at the Ministry of Research and Technology / National Agency for Research and Technology about the role of editors and reviewers and consistency in editing journal manuscripts. According to Lukman, editors can write in their own journals, as long as the reviewers are not themselves. But you should avoid writing in your own journal, so don’t only dare at your own turf, Lukman explained.

Lukman added that the editor’s job is to make writing so that it is technically pleasing. “Correction of conformity with the environment is the task of editors, not reviewers.”

Meanwhile, reviewers check whether the writing has a state of the art, has an impact and in a nutshell, “reviewers make their writing easy to read, not check semicolons and language style,” said Lukman.

Participants are also expected to learn from examples of journals that have been indexed by Scopus. For example in the use of cross-linking. Journals indexed by Scopus / Elsevier must have Cross-linking, he said. Cross-linking links refers to their original sources. “You can see and imitate the elsevier journals’s standard, how do you see it in the manuscript,” said Lukman.

Shouldn’t the journal manager change the writing style? Another question arose. According to Lukman, it is permissible for journals to change their writing style, but it must be consistent.

Then if everything has been fixed, consistency has been carried out, what are the next steps? “If the provisions are in place, immediately check the readiness and submit it on “Ready for Scopus” website, immediately. But don’t be sure without all the preparations and register at Ready for Scopus, it will be rejected,” said Lukman. “Most journal incidents in Indonesia arose, so yesterday there was an impression that Indonesia must be careless, hopefully it was not from UII.”

Lukman gave a closing message and impression to the training participants who were all journal managers at UII. “Ladies and gentlemen, must understand the instruments in Arjuna and the provisions of Sinta. It must be consistent, thorough, and observant. Between one volume and the next, whether the writing is consistent with the style, writing, and quality of the editing with an affinity. Be careful.”

Reading Time: < 1 minute

Kepada:
Seluruh Mahasiswa/i Program Studi  Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

Berdasarkan surat Himbauan Tim UIISiaga COVID-19, Nomor: 006//Ket/Tim UIISiaga COVID-19/XII/2020, yang mengacu pada Surat Edaran Rektor terkait Pandemi Covid 19, dengan ini kami menyampaikan bahwa perkuliahan di semester Genap 2020/2021 masih akan dilaksanakan secara daring atau online.

Hal ini dilakukan sebagai salah satu ikhtiar kita untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19.

Yogyakarta, 6 Januari 2021

Hormat Kami,

Ketua Program Studi  Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Indonesia

Reading Time: 2 minutes

The Covid-19 pandemic period has whipped up a change in the organizational culture at FPSB UII. The number of Covid-19 cases has also increased. If someone is exposed to Covid-19, just isolate the body, not their heart and soul. The soul should not be isolated, said Fuad Nashori, Dean of FPSB UII, opening and motivating employees on employee training at the FPSB UII on Monday (28/12).

In addition, Fuad Nashori also encouraged work to be based on wishing for good luck in the hereafter. Motivate your work with the right motivation. “Whoever hopes for good fortune in the hereafter, Allah will increase the luck in the world,” he said while presenting 17 Motivational Circles on the presentation screen.

This means that if work is based on spiritual motivation, your world mission will automatically be fulfilled. If you only work to find the world, it will be difficult to achieve what Allah has promised with the happiness of the hereafter.

On the second day, Fuad Nashori added, the importance of self-reflection. Reflection serves to keep a distance from yourself. “What we do is used as an object to be assessed and to be better at doing it.” According to Fuad, according to what the Prophet did while alone in the cave of hira, the Prophet received enlightenment from Allah SWT by reflecting in the cave of hira. Give yourself distance so you can see what you have done.

This employee training for two days (28-29 / 12), this also intends to discuss and evaluate year-end performance. The end of year evaluation is delivered by the divisions such as the presentation of achievements and evaluations by the Head of the SIM (information system management), General Division, Academic Administration and Finance Division. The presentation was also enriched by the elaboration of the targets that have been achieved, evaluation, and the 2021’s Work Program.

Putri Asriyani, a participant who is also the staff of the Nadim Center for Documentation and Alternative Media Studies (PSDMA) of Communication UII, said that this event could be a means of evaluation to further improve future plans.

In line with that, Yudi Winarto also has an opinion. “This training has given me new motivation to work in the midst of many constraints due to the pandemic that has hit. In addition, evaluation and exposure of achievements are important moments for future program reflection,” said Yudi Winarto, Staff of the Department of Communication Science, giving the impression that he had attended this training.

Even though the training was held offline, the committee still urged that the health protocol be carried out strictly. For those who feel sick, it is better to apply for permission to not attend this training. “We hope that the participants who attend are really in good health, if they are sick, please apply for permission not to attend the training,” appealed Mira Aliza Rachmawati, Deputy Dean I of FPSB UII, to the participants.


Reporting by Putri Asriyani

Photo by Widodo HP

Writer by A. Pambudi

 

Reading Time: 2 minutes

Masa pandemi covid-19 mendera hingga mengubah budaya kerja di FPSB UII. Peningkatan jumlah kasusnya juga semakin banyak. Bila ada yang terpapar Covid-19, cukup badan yang diisolasi, hati dan jiwa (psikis) jangan. Jiwa jangan sampai ikut diisolasi, kata Fuad Nashori, Dekan FPSB UII, membuka sekaligus memotivasi kerja para pegawai FPSB UII di acara Pelatihan Tenaga Pendidikan FPSB UII pada Senin (28/12).

Selain itu, Fuad Nashori juga mendorong agar pekerjaan dilandasi dengan semangat mengharap keberuntungan akhirat. Sebisa mungkin isi motivasi saat bekerja dengan motivasi yang tepat. “Siapa yang mengharap keberuntungan akhirat maka Allah akan meningkatkan keburuntungan di dunia,” katanya mempresentasikan 17 Lingkaran Motivasi di layar.

Artinya, jika kerja dilandasi oleh motivasi spiritual, maka urusan dunia akan secara otomatis mengikuti. Bukan sebaliknya. Jika bekerja hanya mencari dunia, tentu sulit mencapai apa yang dijanjikan Allah dengan kebahagian akhirat.

Pada hari kedua, Fuad Nashori menambahkan, pentingnya refleksi diri. Refleksi berfungsi menjaga jarak dengan diri sendiri. “apa yang kita lakukan dijadikan objek untuk bisa dinilai dan agar bisa lebih baik dalam melakukannya.” Menurut Fuad, sesuai yang dilakukan Nabi saat menyendiri di gua hira, Nabi  mendapatkan pencerahan dari Allah SWT dengan melakukan refleksi di gua hira. Memberi jarak dengan diri sehingga dapat melihat apa yang telah dilakukan.

Pelatihan tendik selama dua hari (28-29/12), ini juga bermaksud mendiskusikan dan melakukan evaluasi kinerja akhir tahun. Evaluasi akhir tahun disampaikan oleh pemaparan Divisi-divisi seperti pemaparan capaian dan evaluasi oleh Kepala Divisi SIM, Umum, Administrasi Akademik, dan Keuangan. Pemaparan juga diperkaya dengan penjabaran target yang sudah dicapai, evaluasi,dan Program Kerja 2021.

Putri Asriyani, peserta yang juga Staf Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif (PSDMA) Nadim Komunikasi UII, mengatakan acara ini bisa menjadi sarana evaluasi untuk lebih meningkatkan rencana kedepannya.

Senada dengan itu, Yudi Winarto juga berpendapat. “Pelatihan ini memberi saya motivasi baru bekerja di tengah terkendala banyak hal karena pandemi mendera. Selain itu, evaluasi dan paparan capaian menjadi momen penting untuk refleksi program ke depan.” kata Yudi Winarto, Staf Prodi Ilmu Komunikasi UII, memberi kesan mengikuti pelatihan tendik ini.

Meski pelatihan dilaksanakan secara luring, panitia tetap menghimbau agar protokol kesehatan dijalankan denngan ketat. Bagi tendik yang merasa sakit, sebaiknya mengajukan ijin tidak hadir dalam pelatihan ini. “Kami harapkan peserta yang hadir benar-benar dalam keadaan sehat, apabila sedang sakit dimohon mengajukan ijin untuk tidak mengikuti pelatihan,” himbau Mira Aliza Rachmawati, Wakil Dekan I FPSB UII, pada para peserta.

Reading Time: < 1 minute
0Days0Hours

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia menggelar

Diskusi peluncuran buku “Public Service Broadcasting and Post-Authoritarian Indonesia” (Masduki, Palgrave Macmillan, 2020) dengan judul:

Lembaga Penyiaran Publik: Kemarin, Hari Ini dan Esok

 

Jadwal:

Senin, 14 Desember 2020
Pukul 15:30-17:00 WIB

 

Diskusi ini menghadirkan:

Penulis

Dr.rer.soc. Masduki (UII, Yogyakarta)

Pembahas

Prof. Dr. Johannes Bardoel (University of Amsterdam, The Netherlands)

Assoc. Prof. Nurhaya Muchtar (Indiana University of Pennsylvania, USA)

———————–

Moderator

 

Mira Rochyadi-Reetz (Lecturer and Doctoral Student, Institute of Media and Communication Science Ilmenau University of Technology, Ilmenau- Germany

 

——–

 

Registrasi di link berikut:

info lebih lanjut Hub:

Reading Time: < 1 minute

Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII kembali mengadakan #NgajiKomunikasi dengan tema:

“Refleksi Akhir Tahun 2020”

Islam merupakan agama yang sangat mementingkan soal waktu. Islam menganut konsep waktu monokronik, yakni waktu terus berjalan secara linier dan tidak bisa berputar ulang. Agama Islam memberikan pedoman hidup sesuai dengan waktu yang berjalan maju tersebut, sehingga umat Islam hendaknya bisa menjadi orang yang menghargai waktu dan bredisiplin dengan waktu[1]. Ketika waktu terus bergerak maju dan apa yang telah terjadi tak dapat diulangi kembali, maka sebagai orang Islam perlu untuk melakukan refleksi terhadap apa yang sudah dikerjakan selama ini.

Tahun 2020 akan segera berakhir. Tentu saja perlu adanya refleksi terhadap apa yang telah kita lakukan di sepanjang tahun ini. Tahun 2020, umat manusia menjalaninya dalam kondisi menghadapi krisis Covid-19 yang berdampak pada banyak hal. Ancaman terhadap kesehatan, adaptasi (beberapa di antaranya perlu dilakukan secara drastic) terhadap aktivitas yang kita lakukan, dampak terhadap pendapatan atau penghasilan, hingga ketahanan keluarga menjadi hal yang marak dibicarakan sepanjang tahun ini. Refleksi ini diperlukan untuk menghadapi tahun-tahun mendatang yang akan semakin penuh tantangan.

Pemateri: 

Ustadz Dr Harry B Santoso S.Kom, M.Kom (Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia)

Jadwal

Hari/tanggal    : Sabtu / 12 Desember 2020

Jam                 : 13:00 WIB – 15:00 WIB

Media              : Daring (Zoom). Link/tautan : bit.ly/Pengajianilkomuii

 

Reading Time: 2 minutes

Seperti apa yang dimaksud dengan Istilah sinema organik? Mungkin ini menjadi pertanyaan yang banyak muncul di benak mahasiswa ketika mendengar istilah sinema organik dari Dirmawan Hatta saat workshop Desain karya Kreatif Batch 1. Mungkin istilah ini memang asing dan baru buat teman-teman yang baru masuk di dunia film. Istilah ini tidak sefamilar dokumenter atau indie. Sinema organik sebetulnya juga tidak bersebarangan dengan istilah film dokumenter atau film indie. Yang berbeda hanyalah pendekatannya saja.

Workshop Desain Karya Kreatif pada Sabtu (5/12), ini merupakan salah satu workshop penting selain untuk memberi jeda mahasiswa dengan tugas kuliah di masa pandemi. Workshop ini memberikan pandangan dan cara baru dalam membuat karya kreatif sekaligus persiapan menuju Seminar Proposal. Dalam rangka serial Road to Seminar Proposal ini, penting mahasiswa dibekali dengan berbagai tawaran ide untuk mereka sajikan dalam sebuah karya kreatif tugas akhirnya.

“Bagaimana mahasiswa mencari ide, menemukan masalah, mencari insight, untuk nanti bisa dikembangkan untuk karya kreatif maupun skripsi,” ungkap Puji Hariyanti, Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia membuka acara.

Sinema organik diperkenalkan dalam workshop ini oleh Dirmawan Hatta, salah satu pembicara dalam workshop daring ini. Sinema organik dibentuk oleh beberapa orang yang merasa prihatin dengan mindset bahwa film bagus harus dibuat dengan modal berlimpah. Mereka, orang-orang di komunitas film yang disebut Tumbuh Kembang Rakyat, mengembangkan sebuah pendekatan untuk membuat film.

Mereka merasa akan bisa membuat film yang bagus jika bisa menyakinkan film dengan perspektif yang otentik, bukan perpektif umum (kebanyakan), perspektif yang datang dari orang luar pembuat film. Sinema organik mencoba mengangkat sebuah konsep film warga. Film warga biasa yang luar biasa.

Bagaimana film yang bisa dibilang sinema organik itu? Awalnya mereka melakukan riset sosial, melakukan pengamatan dalam jarak dekat, hidup bersama warga saling bercerita dengan warga setempat. Tak hanya itu, “warga dilibatkan secara aktif, dan peran warga itu penting. Mereka yang memiliki perspektif akan masalah dalam film itu,” terang Dirmawan yang juga adalah Sutradara film Istri Orang.

Pendekatan partisipatif meyakini bahwa keterlibatan warga sebagai ‘orang yang punya gawe’ dalam film adalah utama. Dengan begitu film akan berangkat dari bagaimana warga memandang masalah, memandang realitas sosial, dari perspektif mereka sebagai warga. “Bukan perspektif kita sebagai pembuat film, bukan perspektif ilmiah,” katanya. Di sini orang luar diposisikan sebagai teman untuk bercerita, dan lebih banyak ada di bagian pengorganisasian dan teman berdiskusi.