Dari Ide ke Publikasi: Strategi Riset Sistematis ala Prof. Nurhaya Muchtar

Riset dimulai dari ide sederhana, namun tak semua ide berhasil dan layak untuk dipublikasikan. Prof. Nurhaya Muchtar, akademisi dari Department of Communications Media, Indiana University of Pennsylvania, USA, menyebut bahwa banyak peneliti terjebak pada topik yang luas.

Dalam kesempatan diskusi dan mentorship yang digelar oleh Program Magister Ilmu Komunikasi UII pada 16 April 2026, Prof. Nurhaya Muchtar membagikan strategi menulis riset secara sistematis.

“Riset bukan soal tahu A–Z, tapi soal berpikir sistematis, fokus pada topik yang terukur, berkolaborasi, dan konsisten menulis hingga ide benar-benar layak dipublikasikan,” ucap Prof. Nurhaya Muchtar.

Menurutnya, riset bukanlah aktivitas individual semata, melainkan proses sosial yang melibatkan dialog panjang dan mendalam antarpeneliti. Dalam pengalamannya di komunitas World Journalism Study, ia menyebut setiap hari selalu ada perdebatan akademis yang dinamis.

“Research is social, sampai sekarang kita masih berdebat,” tambahnya.

Beberapa strategi yang ditawarkan oleh Prof. Nurhaya Muchtar agar ide atau hasil riset berhasil hingga tahap publikasi antara lain sebagai berikut:

  1. Riset Proses Sosial

Banyak peneliti beranggapan bahwa riset adalah kerja individu, padahal diskursus akademik selalu melibatkan perdebatan dan saling bertukar gagasan. Riset tidak hanya menemukan jawaban final, tetapi juga berkontribusi dalam percakapan ilmiah yang selalu berkembang. Peneliti tidak hanya fokus pada “apa yang diteliti?”, tetapi juga “so what?”, apa kontribusi dan relevansi risetnya.

  1. Fokus dan Sistematis

Menurutnya, ide selalu ada dan banyak. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan batasan agar ide tersebut fokus. Topik yang terlalu luas akan menyulitkan, topik yang terukur justru sangat mungkin dieksplorasi lebih dalam. Sehingga penting bagi peneliti ataupun akademisi menyusun alur penelitian sejak awal.

  1. Membaca dan Menemukan Arah

Skimming adalah teknik membaca cepat, ini merupakan strategi cerdas yang perlu dipertimbangkan. Membaca cepat namun tetap menangkap inti-inti gagasan. Selain skimming, perhatikan sitasi yang akan menjadi petunjuk arah selanjutnya. Dengan melihat referensi, peneliti akan memahami peta diskursus dan menemukan celah sehingga mampu memberikan kontribusi baru.

  1. Menentukan target Publikasi

Menentukan tujuan publikasi dengan cara mengenali karakter jurnal yang akan dituju. Pertimbangkan untuk memilih jurnal berintegritas dan subjek spesifik. Pemilihan jurnal yang tepat akan meningkatkan peluang naskah diterima.

  1. Kolaborasi dan Disiplin Menulis

Faktor paling penting lainnya adalah melakukan kolaborasi. Menulis bersama akan memperkaya perspektif serta menjaga konsistensi proses penelitian. Selain itu, disiplin menulis, mengatur waktu turut menjadi proses yang paling memengaruhi keberhasilan. Publikasi tak hanya soal kualitas ide, tetapi juga konsistensi dalam mengeksekusi.

Itulah beberapa strategi yang dibagikan oleh Prof. Nurhaya Muchtar, pihaknya juga menyebut bahwa riset yang kuat bukan tentang menjangkau semua hal melainkan mampu menelusuri topik secara mendalam dan bermakna. Sehingga ide sederhana tersebut menjadi karya ilmiah yang mampu memberi kontribusi nyata di dunia akademik.

Seminar Publik Prof. Nurhaya Muchtar ‘Media dan Polarisasi Dinamika Informasi di Amerika Serikat’

Amerika Serikat menjadi rujukan simbol negara dengan kebebasan pers dunia, namun di baliknya tersimpan masalah yang cukup serius seperti polarisasi, isu kepemilikan media, hingga krisis kepercayaan publik. Realita ini menjadi sorotan, kajian terbaru mengungkap sistem media di Amerika membentuk fragmentasi informasi di era digital.

Diskursus ini secara detail dibahas dalam seminar publik yang digelar oleh Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia pada 15 April 2026 di Gedung Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Bertajuk “Media dan Polarisasi Dinamika Informasi di Amerika Serikat”, diskusi ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar dari Indiana University of Pennsylvania, USA.

Diskusi dibuka dengan sejarah perkembangan media di Amerika Serikat. “Sejak awal, sejarah media Amerika identik dengan swasta (kepemilikan swasta), dekat dengan uang, bukan untuk masyarakat,” ucap Prof. Nurhaya Muchtar.

KDKA adalah stasiun radio komersial pertama di dunia yang mengudara pada tahun 1920 di Pennsylvania, Amerika Serikat. Kelahirannya menjadi sejarah awal perkembangan radio berbasis bisnis. Jika di negara lain media dikembangkan untuk publik, di Amerika media ditempatkan sebagai bagian dari industri.

Tidak ada netralitas yang diproduksi, karena kepentingan pemilik media sangat menentukan arah pemberitaan. Dinamika media terus berkembang, 1967 upaya memenuhi kebutuhan publik lewat radio edukasi melahirkan NPR dan PBS lewat kebijakan Public Broadcasting Act dan Fairness Doctrine. Kebijakan itu mewajibkan media memproduksi berbagai sudut pandang dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Perubahan besar terjadi lagi di tahun 1996, kebijakan Telecommunications Act mendorong pasar semakin kompetitif. “Melalui Fainess doctrine media wajib cover both sides, setelah diregulasi kewajiban itu hilang dan mengikuti logika pasar,” tambahnya.

Sehingga media di Amerika Serikat tak berfungsi sebagai penyeimbang, tetapi dipengaruhi oleh kepentingan pemilik dan orientasi bisnis.

Lantas, bagaimana kondisi Amerika Serikat pasca kehadiran media sosial? Derasnya informasi di era media sosial dipengaruhi oleh algoritma digital, di mana informasi yang diterima akan hadir sesuai dengan preferensi penggunanya.

“Kini bukan lagi media yang mengontrol informasi, tetapi algoritma pilihan kita sendiri yang menciptakan echo chamber,” ucapnya lagi.

Lewat studi kasus pesta politik era Donald Trump misalnya, periode 2016-2020 fokus utama adalah pengaruh kepemilikan media dan awal mula peran algoritma, media mulai bergeser dari penyedia informasi netral menjadi alat yang mempengaruhi kepentingan politik. Sementara tahun 2026 hingga sekarang lebih fokus pada krisis informasi dan dominasi algoritma, di mana media tak hanya bias tetapi masuk fase fragmentasi dan polarisasi ekstrem.

Dari fenomena di Amerika Serikat kita belajar bahwa negara maju pasti memberi pengaruh global yang besar, kebebasan pers perlu diimbangi tanggung jawab sosial, lewat literasi media dalam menghadapi derasnya informasi. Dampaknya misinformasi, disinformasi, serta deepfake membuat fakta dan manipulasi semakin kabur.

“Amerika menjadi contoh bagaimana media sangat maju dan kompleks. Kita belajar dari sana, bukan hanya meniru sepenuhnya, tapi memilih secara bijak,” tandasnya.

Wisuda

Tahap akhir penyelesaian studi pada Program Studi Ilmu Komunikasi UII mewajibkan mahasiswa menempuh Tugas Akhir (TA) yang dilaksanakan sebelum magang reguler (internship). Dengan bobot 6 sks, TA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian Indeks Prestasi Akademik (IPK) mahasiswa. Berikut 5 jalur kelulusan untuk program reguler maupun internasional.

  1. Skripsi

Mahasiswa melakukan penelitian mandiri dan menulis laporannya dalam format skripsi sesuai dengan bidang minat yang ditempuh dengan bimbingan dosen. Skripsi merupakan karya tulis ilmiah tingkat akhir kesarjanaan strata satu berupa paparan hasil kegiatan penelitian yang membahas permasalahan atau fenomena pengetahuan melalui pendekatan maupun kaidah keilmuan tertentu. Penulisan skripsi merupakan salah satu wujud pembinaan terakhir pencapaian kompetensi calon lulusan yang berkaitan dengan bidang penelitian dan analisis ilmiah sesuai bidang minatnya di program studi. Mengingat satuan kredit yang paling tinggi di antara mata kuliah lain, mahasiswa penyusun skripsi dituntut menyelesaikannya sebaik mungkin sesuai batas waktu tertentu.

  1. Proyek Karya Komunikasi

Mahasiswa mendesain dan memproduksi sebuah karya komunikasi (seperti seri foto konseptual, foto dan film dokumenter, film fiksi pendek, esai video, seri podcast konseptual, desain proyek Public Relations pada konteks spesifik, kampanye sosial, dan sebagainya) di bawah bimbingan dosen. Proyek disebut pula sebagai TA non-skripsi, merupakan aktivitas produksi karya akhir mahasiswa sebagai perwujudan konsep dan ide kreatif di bidang ilmu komunikasi berdasarkan penguasaan teori dan keterampilan praktik yang telah dipelajari. Dalam penciptaan karya, mahasiswa harus menampilkan segi keunggulan karyanya sesuai dengan dasar-dasar keilmuan komunikasi dalam bingkai bidang peminatan studinya serta dilengkapi dengan laporan tertulis. Sama halnya dengan skripsi, satuan kredit yang besar pada proyek juga menuntut tingginya kualitas karya yang dikreasi.

  1. Karya Bersama dengan Mitra Internasional

Mahasiswa dapat mengerjakan karya bersama dengan mitra internasional sebagai tugas akhir, khususnya untuk mahasiswa International Program (IP). Tugas akhir proyek kolaborasi adalah jenis tugas akhir setara skripsi yang berbasis kolaborasi atau kooperasi dengan institusi atau individu lintas negara. Tujuan utama dalam proyek kolaborasi, tidak hanya membuat proyek dengan bahasa internasional, tetapi mampu berkomunikasi, bernegosiasi dan berkolaborasi dengan individu dari lintas negara.

  1. Penulisan Artikel Ilmiah

Penulisan artikel ilmiah harus dilakukan di bawah bimbingan dosen. Artikel ilmiah yang dapat digunakan sebagai tugas akhir untuk syarat kelulusan dan diterbitkan di sebuah jurnal dengan standar minimal SINTA 4. Jalur publikasi artikel ilmiah di jurnal pada bidang ilmu komunikasi mengharuskan mahasiswa untuk menulis artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional. Melalui jalur ini, mahasiswa yang berhasil memublikasikan manuskrip di jurnal ilmiah tidak diwajibkan menulis skripsi sebagai bentuk tugas akhir.

  1. Magang yang Laporannya Setara Skripsi

Magang sebagai program kelulusan dibedakan dari magang reguler yang selama ini dilaksanakan oleh mahasiswa dengan durasi dua bulan. Magang pada jalur tugas akhir dilaksanakan selama enam bulan. Selain itu, laporan magang harus disusun secara komprehensif, tidak hanya berupa uraian deskriptif mengenai kegiatan yang telah dilakukan, tetapi juga memuat penggunaan teori serta analisis yang relevan.

Mahasiswa yang sudah mengikuti magang melalui pembelajaran di luar Program Studi tidak diizinkan untuk mengikuti jalur kelulusan melalui magang yang setara dengan skripsi.

Arah kebijakan tersebut secara jelas menetapkan standar akademik tertentu bagi TA yang akan dihasilkan. Harapan yang dituju adalah tercapainya publikasi ilmiah, maupun terwujudnya manfaat nyata bagi masyarakat, sehingga TA tidak hanya menjadi sekadar dokumen arsip di perpustakaan. Oleh karena itu, pelaksanaan TA seyogianya menghasilkan karya ilmiah yang layak diterbitkan pada jurnal ilmiah atau bentuk publikasi akademik lainnya.

Beasiswa Romania

Salah satu alumni dari Prodi Ilmu Komunikasi UII berhasil lolos beasiswa Romanian Government Scholarship (RGS) pada periode 2025 lalu. Ia adalah Maria Ulfa, alumni angkatan 2014 yang kini tengah melanjutkan studi Master of Marketing di Bucharest University of Economic Studies (ASE).

Beasiswa RGS ARICE membawanya terbang ke Romania pada akhir tahun lalu. Fokus beasiswa yang diberikan oleh Badan Investasi dan Perdagangan Luar Negeri ini berfokus pada promosi kerja sama ekonomi dan komersial, sesuai dengan latar pendidikan profesional Maria selama ini.

“Saya memilih beasiswa ini karena memberikan kesempatan untuk studi di Eropa dengan cakupan yang cukup lengkap, mulai dari biaya kuliah hingga dukungan hidup. Selain itu, saya juga melihat ini sebagai peluang untuk mendapatkan exposure internasional, baik dari segi pendidikan, karier profesional, maupun pengalaman hidup lintas budaya,” ucap Maria dalam pesan singkat.

Pencapaian ini tidaklah sederhana, sembari bekerja Maria selalu menyempatkan diri untuk mencari informasi beasiswa luar negeri yang sesuai dengan bidangnya. Akhirnya, mimpi itu terwujud pada tahun 2025.

Menyeimbangkan Karier Profesional dan Pengetahuan Akademis

Tercatat lebih dari tujuh tahun terjun di dunia profesional bidang media, Maria mantap untuk melanjutkan studinya demi mengembangkan kemampuannya. Berprofesi sebagai SEO Content Strategist sekaligus Content Writer di berbagai industri media membuatnya sadar untuk memperdalam perspektif akademis global.

“Karena sudah cukup lama di dunia profesional, saya jadi lebih tahu apa yang saya butuhkan untuk berkembang. Saya merasa ada kebutuhan untuk memperdalam perspektif bukan hanya praktis, tapi juga akademis dan global,” ucapnya.

Baginya, melanjutkan studi adalah upaya mengupgrade diri. “Saya ingin menggabungkan pengalaman profesional yang sudah saya punya dengan pengetahuan baru, supaya ke depannya bisa punya positioning yang lebih kuat, baik di industri kreatif maupun di peluang karier internasional,” tambahnya.

Tantangan dan Tips Lanjut Studi di Eropa

Beasiswa RGS ARICE tidak mensyaratkan sertifikat IELTS maupun TOEFL, sehingga awardee diwajibkan mengikuti persiapan kelas bahasa. Bagi Maria, di sinilah letak tantanganya. Bahasa Rumania tergolong kompleks karena melibatkan struktur gender dalam kosakata.

“Tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan lidah dengan tata bahasa yang cukup kompleks. Bahasa Rumania yang identik dengan penggunaan gender di dalamnya cukup sulit untuk orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan struktur tersebut,” ungkap Maria.

Selain bahasa, tantangan lain adalah cuaca di Eropa serta adaptasi terhadap ritme birokrasi dan administrasi yang benar-benar berbeda dari Indonesia. Jeda delapan tahun dari dunia pendidikan membuatnya harus beradaptasi kembali dengan ritme akademik, khususnya dalam menyerap materi di kelas. Untuk mengejar ketertinggalan, Maria mulai membiasakan diri membaca jurnal penelitian agar tetap relevan dengan isu jurusan. Baginya, pengalaman ini justru melatih resiliensi dan kemampuan adaptasi di lingkungan yang benar-benar asing.

Tips Lolos Beasiswa RGS ARICE

Karena beasiswa RGS ARICE tidak ada seleksi wawancara dan bergantung pada berkas, berikut tips yang dibagikan oleh Maria Ulfa:

  1. Koneksikan Masa Lalu dan Masa Depan: Pastikan Motivation Letter menceritakan kesinambungan antara pengalaman kerja/organisasi dengan jurusan yang dipilih.
  2. Personal Branding di CV: Gunakan format standar Eropa (Europass) dan tonjolkan pencapaian berbasis data (misal: “Berhasil meningkatkan trafik sebesar X%”).
  3. Riset Mendalam: Pahami nilai-nilai negara tujuan. Untuk beasiswa MFA, tunjukkan bagaimana studimu bisa berkontribusi pada hubungan kerja sama atau promosi budaya.
  4. Persiapan Dokumen Sejak Dini: Apostille dokumen study memakan waktu lama, jadi jangan mepet deadline. Apalagi, pendaftar RGS juga harus mencantumkan transkrip nilai SMA meskipun mengajukan permohonan jenjang S2.

Dari pengalaman dan keberhasilannya, Maria membagikan berbagai tips agar lolos beasiswa. Skill komunikasi berperan besar dalam proses yang ia lalui.

“Ilmu komunikasi sangat membantu, terutama dalam menyusun personal branding dan menyampaikan cerita diri saya dengan baik. Mulai dari menulis motivation letter, menyusun CV, semuanya butuh skill komunikasi,” ucapnya.

“Selain itu, background komunikasi juga membantu saya beradaptasi dengan lingkungan baru yang benar-benar asing bagi saya,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Buku ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ Demokrasi tidak Sekedar Pemilu saja!

Buku berjudul ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ sempat ramai di berbagai platform digital lantaran substansinya yang penuh kritik tajam berbasis data hasil penelusuran empat jurnalis lintas generasi. Empat jurnalis itu adalah Farid Gaban (mewakili Baby Boomer), Dandhy (mewakili Generasi X), Yusuf Priambodo (mewakili Milenial), serta Benaya Harobu (mewakili Gen Z).

Singkatnya, buku ini adalah ekspedisi jurnalistik mulai dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa tahun 2009, Indonesia Biru tahun 2015, dan Ekspedisi Indonesia Baru tahun 2022-2023. Semua didokumentasikan dalam 12 terabyte video dan 80.000 foto. Ketidakadilan soal atas lahan menjadi isu yang dikuliti pada buku ini. Namun, yang tak kalah menarik adalah salah satu bab yang menyoal pesta demokrasi.

Dosen Ilmu Komunikasi UII, Khumaid Akhyat Sulkhan menyebut, pemaknaan demokrasi tak sebatas pesta lima tahunan. Demokrasi tak sekedar memutuskan pilihan di bilik suara. Lebih luas, demokrasi adalah partisipasi bermakna yang menentukan kebijakan.

“Seolah-olah inti demokrasi hanya terletak pada bilik suara. Namun, pandangan ini menyederhanakan makna demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi bukan sekadar memilih, melainkan partisipasi bermakna warga dalam menentukan arah kebijakan publik,” ucapnya, menjelaskan buku Reset Indonesia.

Bab ini memberikan gambaran soal fenomena golput (golongan putih) yang datang dari kekecewaan terhadap Orde Baru kala itu. Golput menjadi bentuk protes politik karena pemilu tidak memberikan ruang partisipasi sejati. Pemilu hanyalah seremoni, sementara kritik dan keterlibatan masyarakat di luar pemilu lebih sering ditekan. Sederhananya, pemilu hanyalah prosedur formal yang tidak substansial.

“Pemilu itu adalah pesta demokrasi, padahal demokrasi itu ya harus ada dalam hidupan kita sehari-hari dan itu harus ada bahkan dari level desa,” tambahnya.

Sejatinya, untuk mencapai demokrasi yang berkualitas, ada empat komponen yang mesti terpenuhi. Pertama, partisipasi aktif masyarakat atau participatory democracy, tak hanya mencoblos, masyarakat terlibat dalam perumusan kebijakan untuk tingkat desa hingga nasional.

Kedua, musyawarah atau deliberative democracy, idealnya pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah yang terbuka dan saling menghormati, bukan voting dan pemenangan suara mayoritas. Selanjutnya, kesetaraan atau egalitarian democracy yakni distribusi kekuasaan yang adil untuk semua kelompok sosial tanpa adanya diskriminasi berbasis ekonomi, gender, ras, etnis, maupun kondisi fisik. Terakhir, kebebasan dan supremasi hukum atau liberal democracy, dalam demokrasi, perlindungan hak sipil, kebebasan berekspresi, peradilan yang independen harus dijamin oleh negara. Konstitusi semestinya menjamin hak publik dalam menyampaikan kritik. Artinya, pemilu bukanlah satu-satunya instrumen demokrasi. Demokrasi berkelanjutan dibangun lewat keterlibatan, dialog inklusif, dan penghormatan terhadap hukum dan kebebasan sipil.

 

 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

How Ramadan Unites Muslims Around the World

Ramadan is the ninth month of the Islamic lunar calendar and is considered one of the most sacred times for Muslims. It is a month dedicated to fasting, prayer, reflection, and good deeds. During this time, Muslims fast from dawn until sunset, refraining from food and drink while focusing on strengthening their relationship with Allah and improving their character. Beyond its religious significance, Ramadan also fosters a powerful sense of unity among Muslims worldwide. Even though Muslims live in different countries, cultures, and societies, the shared practices and values of Ramadan bring them together in a unique way.

One of the most remarkable aspects of Ramadan is how Muslims around the world follow the same core practices. From Indonesia to Yemen, from Turkey to Australia, millions of Muslims fast during the same month and break their fast at sunset. Families and communities gather for iftar, the evening meal that marks the end of the daily fast, creating moments of connection and gratitude.

Another important practice is the nightly Taraweeh prayers performed in mosques during Ramadan. These prayers bring people together in large jma’ah, strengthening the feeling of belonging to a larger global community. Even when Muslims are far from their home countries, they can still find comfort in knowing that others around the world are observing the same rituals at the same time.

The Impact of Ramadan on Muslims

Ramadan has a deep impact on Muslims both spiritually and socially. Spiritually, fasting teaches patience, self-discipline, and gratitude. By experiencing hunger and thirst, Muslims are reminded of the struggles faced by people who live in poverty, which encourages empathy and compassion.

Socially, Ramadan encourages generosity and kindness. Many people donate to charity, share meals with neighbors, and support those in need. Communities often organize charity drives and communal iftars, helping to strengthen relationships and promote social solidarity. Because millions of Muslims participate in these acts of worship and kindness simultaneously, the month creates a powerful atmosphere of unity and shared purpose.

Lessons from the Unity of Ramadan

The unity seen during Ramadan offers important lessons for Muslims and society in general. One key lesson is the importance of compassion and generosity. The spirit of helping others during Ramadan reminds people that communities become stronger when individuals care for one another.

Another lesson is the value of collective identity. Despite differences in language, culture, and nationality, Muslims come together through shared beliefs and practices. This demonstrates how common values can unite people across borders. Moreover, Ramadan highlights the importance of reflection and personal growth. It encourages individuals to improve their behavior, strengthen relationships, and focus on what truly matters in life.

In conclusion, Ramadan is not only a month of fasting and worship but also a powerful symbol of unity for Muslims around the world. Through shared practices such as fasting, communal prayers, and charity, Muslims develop a strong sense of belonging to a global community. The lessons of compassion, generosity, and unity that emerge during Ramadan serve as reminders of the values that can bring people together beyond cultural and geographical boundaries

Reference 

Kabir, R., & Rabby, F. (2025). Factors affecting social bonding at Ramadan in the Muslim community: a cross-sectional study. Journal of Islamic and Social Studies (JISS), 122–139. https://doi.org/10.30762/jiss.v3i2.3319

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

EMKP

Tercatat dua tahun terakhir (2024-2026), dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Muzayin Nazaruddin, meraih grant dari British Museum untuk melakukan riset dan dokumentasi. Projek bertajuk Endangered Material Knowledge Program (EMKP) fokus terhadap alat musik yang hampir punah di Aceh yakni Canang Ceureukeh dan Alee Tunjang.

Tak sekedar hiburan, Canang Ceureukeh dan Alee Tunjang merupakan adalah alat musik tradisional yang menjadi bagian kehidupan sosial dan pengetahuan masyarakat Aceh Utara. Sayangnya nasib kedua alat musik ini terancam keberlanjutannya, sosok yang merawat tradisi ini adalah Utoh Amad. Maestro dari Desa Paya Teungoh merupakan satu-satunya yang masih memproduksi dan memainkan alat musik ini.

“Tradisi memainkan alat musik ini mulai tidak dilakukan ketika Aceh mengalami konflik panjang. Selepas konflik, tradisi ini tidak pernah dilakukan lagi karena para petani sudah menggunakan teknologi modern untuk proses penanaman dan pemanenan padi,” ucap Muzayin Nazaruddin.

Ketika praktik-praktik budaya perlahan ditinggalkan, musik yang menyertainya pun terancam hilang dan tenggelam. Refleksi terkait hari Musik nasional 9 Maret, menjadi momentum untuk merayakan perjalanan musik dan budaya sekaligus pengingat nasib musik tradisional yang perlahan kehilangan ruangnya.

Situasi ini terjadi di Aceh, perubahan sosial, modernisasi, hingga berkurangnya generasi penerus membuat praktiknya semakin jarang dijumpai. Upaya menjaga ingatan itu dilakukan oleh Muzayin Nazaruddin bersama tim, didukung oleh British Museum kerja-kerja dokumentasi berbagai pengetahuan dan budaya terancam punah dilakukan. Dokumentasi ini tidak hanya merekam bunyi dan pertunjukan, tetapi juga mencatat cerita, makna hingga konteks sosial.

Ketika alat musik ini berhenti dipraktikkan, yang hilang bukan hanya bunyi musiknya, tetapi juga tradisi. Sehingga pengetahuan, nilai, dan identitas budaya memudar dan tak bisa diwariskan. Dokumentasi adalah cara mengawetkan pengetahuan, tersimpan rapi dan dapat dipelajari di masa depan.

Hari Musik Nasional dapat dimaknai secara luas, tak hanya merayakan musik yang tengah populer, tetapi juga memberi perhatian pada musik-musik yang perlahan menghilang. Merayakan musik berarti juga menjaga ingatan tentang asal-usulnya.

Selengkapnya: https://communication.uii.ac.id/dosen-prodi-ilmu-komunikasi-terima-grant-riset-dari-british-museum/

https://www.emkp.org/documenting-the-endangered-pet-uno-canang-ceureukeh-and-alee-tunjang-as-indigenous-forest-and-agriculture-rituals-in-aceh-indonesia/

Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital

Buku berjudul Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital yang ditulis oleh F. Budi Hardiman secara umum menyoal bagaimana klik mampu merampas kebebasan kita. Buku ini juga mempertanyakan siapakah manusia di era digital? Sementara kebenaran menjadi bias di media sosial. Bahkan, dengan klik manusia menjadi otomatis, dangkal, dan tanpa refleksi.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Khumaid Akhyat Sulkhan, membedah salah satu chapter menarik dalam buku ini. Chapter itu menyebut tindakan jahat tidak selalu lahir dari niat jahat. Konsep banalitas dari Hannah Arendt menggambarkan perkembangan komunikasi digital yang tak sekadar mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga menggeser struktur moral dan tindakan. Tindakan menghina, menyebarkan hoaks, mengetik ujaran kebencian seolah ringan lewat klik, like, dan share, dan prosesnya tanpa melibatkan emosi secara langsung. Inilah yang disebut kejahatan hasil dari rutinitas ketidakberpikiran.

“Banjir informasi bikin kita jadi kurang reflektif ketika mengonsumsi apa-apa di media sosial dan itu bisa membuat kita jatuh dalam kondisi ketidakberpikiran,” ucap Khumaid Akhyat Sulkhan, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Di ruang digital, manusia kehilangan “bobot korporeal”, yakni pengalaman moral yang biasanya muncul saat interaksi langsung dengan orang lain. Scrolling dan mengetik untuk berbincang dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun. Kondisi ini menimbulkan minimnya refleksi. Sehingga seseorang dapat bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi etis.

Fenomena itu diperkuat oleh tiga mekanisme utama, yakni rutinitas digital, ketidakberpikiran reflektif dan sistem komunikasi. Ketiganya menciptakan lingkungan yang bias antara tindakan sengaja dan tidak sengaja. Ketika seseorang menyebarkan konten hoaks, bisa jadi bukan karena niat jahat, melainkan karena mengikuti arus informasi. Tekanan digital berperan besar, menurut Stanley Milgram orang yang melawan otoritas tidak selalu autentik, seperti percakapan yang terjadi di grup WhatsApp.

Gagasan lain dari Lozowick melihat bahwa kejahatan adalah proses yang bertahap seperti karier: seseorang perlahan berlatih dan menjadi mahir. Perpektif kejahatan memperlihatkan bahwa kejahatan digital merupakan produk struktur maupun hasil eskalasi niat seseorang.

Artinya, bukan isi pesan yang bahaya dalam dunia digital melainkan mekanisme yang membuat manusia bertindak cepat, otomatis, dan minim refleksi. Tantangannya tak sekedar mengontrol konten namun membangun kesadaran moral di budaya klik instan.

Penulis: Meigitaria Sanita

The Influence of News Coverage on Public Understanding of Climate Change

Climate change refers to long-term changes in global temperature and weather patterns, largely caused by human activities such as burning fossil fuels, industrial production, and deforestation. Scientific research has shown that rising greenhouse gas emissions are contributing to global warming, extreme weather events, melting ice caps, and rising sea levels. These environmental changes affect ecosystems, economies, and human health worldwide. Despite the seriousness of the issue, most people do not experience climate change directly in their daily lives. Instead, they learn about it through various forms of media, especially news coverage. For this reason, the way climate change is reported plays an important role in shaping public understanding of the issue.

News media influence public understanding by selecting which aspects of climate change to highlight and how to present them. Since audiences cannot access all scientific data themselves, they rely on journalists and media organizations to interpret complex information. The language used in news reports, the sources quoted, and the context provided all contribute to how people interpret climate change. For example, when news stories emphasize scientific evidence and present climate change as an urgent environmental problem, audiences are more likely to view it as serious and credible. On the other hand, when the media frames the issue as a political debate or presents it as controversial, public understanding may become divided or uncertain. Therefore, media framing plays a central role in shaping how climate change is perceived.

In addition to shaping interpretation, news coverage also influences the level of public attention given to climate change. Media organizations decide which topics receive frequent coverage and which are less visible. When climate change is consistently reported in headlines, special reports, or international events, public awareness tends to increase. However, when coverage decreases, public attention often declines as well. This pattern shows that the media has the power to guide what issues people think about. Although the media does not directly control individual opinions, it strongly influences which topics are considered important in public discussion.

Another important factor is the influence of political leaders and public figures on media coverage. News reports often include statements from government officials, policymakers, and experts. These elite voices can shape how audiences interpret climate change. When political leaders express concern and support for climate action, public concern may increase. In contrast, when leaders question scientific findings or minimize the issue, public understanding may weaken. Because the media frequently amplifies these voices, it becomes a channel through which political messages reach the public. As a result, media coverage can indirectly affect public opinion by choosing which voices to highlight.

Media coverage of major climate-related events, such as international climate conferences or natural disasters, can also temporarily increase public engagement. During these moments, news attention intensifies, and discussions about climate change become more visible. However, this attention is often short-term. Once the event passes and media focus shifts to other issues, public interest may decline. This rise and fall of attention suggests that public understanding of climate change is closely connected to the level of media coverage. Without consistent reporting, long-term engagement may be difficult to maintain.

Beyond informing the public, the media also play a broader social role. It acts as a bridge between scientists, policymakers, and citizens. Scientific research on climate change can be complex and technical, making it difficult for non-experts to understand. Journalists help translate this information into accessible language, allowing the public to engage with environmental issues. At the same time, the media contributes to democratic discussion by providing a platform for debate and policy discussion. In this way, news coverage not only spreads information but also shapes how climate change is discussed in society.

In conclusion, news coverage has a significant influence on public understanding of climate change. It shapes how the issue is framed, determines the level of public attention, and amplifies certain political and expert voices. Because most people rely on the media as their primary source of information about climate change, responsible and consistent reporting is essential. When media coverage is accurate, clear, and sustained, it can improve public understanding and encourage informed discussion. Therefore, the role of news media remains central in shaping how society understands and responds to climate change.

Reference:

Schwarz, Susan. (2009). Changing climate, changing minds; applying the literature on media effects, public opinion, and the issue-attention cycle to increase public understanding of climate change. Int J Sustain Commun 4:45-63. 

Carmichael, J. T., & Brulle, R. J. (2016). Elite cues, media coverage, and public concern: an integrated path analysis of public opinion on climate change, 2001–2013. Environmental Politics, 26(2), 232–252. https://doi.org/10.1080/09644016.2016.1263433 Wonneberger, A., 

Meijers, M. H. C., & Schuck, A. R. T. (2019). Shifting public engagement: How media coverage of climate change conferences affects climate change audience segments. Public Understanding of Science, 29(2), 176–193. https://doi.org/10.1177/0963662519886474

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

AI

Artificial Intelligence (AI) selalu dianggap sebagai teknologi revolusioner. Menariknya, AI telah diprediksi puluhan tahun lalu oleh teori budaya. Pernyataan ini dibedah dalam International Seminar “Contesting (New) Meanings: AI and Creative Industries” oleh Prof. Kristian Bankov pada 13 Februari 2026 di Gedung RAV Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Profesor dari New Bulgarian University itu menyebutkan bahwa kecerdasan buatan modern mencerminkan cara makna selalu bekerja dalam budaya. Dipertegas dengan teori Umberto Eco, seminar ini memaparkan budaya, bahasa, dan kecerdasan buatan semuanya beroperasi melalui jaringan yang dinamis.

Umberto Eco menantang model strukturalis tentang makna, lalu mengusulkan budaya sebagai ensiklopedia. Sistem semantic luas, tanda-tanda memperoleh makna lewat koneksi dengan tanda lain.

“We could consider every cultural unit as emitting given wave-lengths which put it in tune with a limited number of other units and the possibilities of attraction or repulsion change in time,” ucap Kristian Bankov.

Pernyataan tersebut selaras dengan model bahasa AI modern, bukan menghafal makna melainkan menghubungkan statistik kata-kata. “This cycle repeats billions of times, sculpting the landscape into a form that captures grammar, semantics, world knowledge, and reasoning patterns,” tambahnya.

AI tidak menghimpun dan menyimpan bahasa layaknya kamus; AI memetakan bahasa seperti jaringan. Kata-kata berada dalam ruang dimensi tinggi; maknanya muncul dari kedekatan dan konteks. Gagasan Umberto Eco mempercayai bahwa makna bersifat rasional dan dinamis.

Dalam industri kreatif, AI terintegrasi dalam banyak hal, misalnya produksi film, iklan, penciptaan karya tulis, hingga desain grafis. Kristian Bankov menyebutnya sistem generative mendefinisikan sebagai teknologi. “Learn patterns from data and produce content based on those patterns,” ucapnya.

Kreativitas AI berbeda dengan kreativitas manusia, imajinasi manusia bergantung pada pengalaman hidup, emosi, dan persepsi subjektif. Sebaliknya, AI menghasilkan keunikan lewat pola data yang besar. Hasilnya, AI tak menggantikan manusia melainkan partner kolaborasi, kreativitas yang dibantu AI menggabungkan komputasi dengan revisi manusia.

“Restoring a proper balance between the cultural realm and the commercial realm is likely to be one of the most important challenges of the coming Age of Access,” tambahnya.

Kristian Bankov memberikan saran kepada mahasiswa untuk tetap bertanggung jawab dalam menggunakan AI. Meningkatkan literasi adalah inti di era modern. AI bukanlah jalan pintas, hasilnya akan mendalam ketika mahasiswa berinteraksi lewat informasi, bukan hanya pasif. Di tingkat tertentu AI dapat digunakan untuk kritik, simulasi, dan desain penelitian. Selain itu, mahasiswa perlu melakukan verifikasi atas pertanyaan dan jawaban.

“Students should use AI flexibly and responsibly as a supportive learning partner for exam preparation, creativity, and skill development by applying it according to their knowledge level, verifying its outputs, and using it to strengthen understanding rather than just memorization,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita