Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere

Pascareformasi, harapannya televisi lokal menyelamatkan budaya daerah. UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 serta otonomi daerah menjadi jalan munculnya stasiun televisi lokal di seluruh daerah di Indonesia. Tujuannya adalah agar televisi lokal mampu menjadi ruang bagi ekspresi budaya yang selama ini terpinggirkan oleh dominasi siaran Jakarta.

Penelitian yang diterbitkan RedFame, “Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere”, yang ditulis oleh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Dr. Puji Rianto, S.IP., M.A., mengungkap fakta-fakta mengecewakan. Studi yang dilakukan terhadap ADiTV di Yogyakarta dan Bali TV di Bali menunjukkan kontribusi televisi lokal terhadap ruang budaya masih sangat terbatas. Dua masalah utamanya adalah komersialisasi dan pandangan budaya yang sempit.

Pertama, realitas soal televisi lokal adalah bisnis. Sehingga hanya budaya yang “laku” yang akan ditayangkan. Program budaya mesti menarik sponsor dan iklan. Salah satu program Jenggleng Manasuka dan Wedang Ronde milik ADiTV misalnya, mampu bertahan bertahun-tahun lantaran ada pengiklan yang mendanai. Tanpa sponsor, program terhenti atau mati.

Begitupun di Bali TV, ketika komunitas adat yang ingin tampil di acara Lila Cita mesti membayar. Artinya, untuk mengakses ruang budaya harus memiliki uang. Kelompok budaya kecil, tanpa modal, dan tidak populer sempit kesempatannya. Ruang budaya layaknya pasar, yang punya nilai jual bisa tampil, begitu pun sebaliknya.

Kedua, televisi lokal ternyata untuk budaya mayoritas. Budaya dianggap statis, murni, yang hanya dimiliki satu kelompok etnis. Di ADiTV hanya ditampilkan budaya Jawa yang berpusat pada Keraton Yogyakarta dan Solo. Sementara di Bali TV hanya menampilkan budaya Hindu Bali lewat gerakan Ajeg Bali.

Akibatnya, budaya lain tak terlihat, seperti Tionghoa, Batak, dan Minang di Yogyakarta, misalnya, tak punya ruang. Di Bali, komunitas non-Hindu tak terlihat. Selain tak mendapat ruang, budaya lain dianggap ancaman. Ironisnya, pengelola televisi lokal juga cemas takut budaya yang dianggap murni itu hilang. Kecemasan ini membuat kaku dan eksklusif.

Jeratan dominasi Jakarta juga membelenggu, televisi nasional modal besar dan jangkauan luas tak bisa dilawan televisi lokal. Dengan kualitas gambar yang lebih jernih, produksinya juga lebih mumpuni. Sehingga pennonton memilih sinetron Jakarta daripada acara budaya lokal.

Riset ini mendorong agar ruang budaya menjadi inklusif dan nilai-nilai budaya dari setiap daerah mampu diterima semua pihak. Jika televisi lokal masih eksklusif dengan mengacu pada kepentingan komersial serta terjebak dalam pandangan sempit budaya, tentu akan terus gagal.

Televisi lokal harus merangkul keberagaman, bukan hanya melestarikan satu budaya yang dominan. Indonesia bukan hanya Jawa dan Bali, melainkan milik semua orang yang tinggal di dalamnya.

Sumber: Rianto, P., Wahyuni, H.I., & Wahyono, S.B. (2026). Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere. Studies in Media and Communication, 14(1), 177-188.

https://redfame.com/journal/index.php/smc/article/view/7930

 

2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025

Flashback Moment, Mareta Zahra Kartika merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) yang turut menjadi tim voli putri pada kompetisi 2nd ASEAN Inter-University Networking Games 2025 di Universitas Teknologi Petronas, Malaysia pada 21-24 Agustus 2025.

Ia dan tim berhasil pulang dengan gelar 1st Runner Up atau juara dua tingkat internasional setelah bertemu tim Filipina di babak final. Berlangsung cukup dramatis, kegagalan merebut posisi pertama kandas dengan skor tipis 27-28.

“Meskipun akhirnya kami kalah di final karena peraturan, pertandingan berlangsung sangat ketat dengan skor 27-28 sehingga menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami,” ucap Mareta, mahasiswi Ilmu Komunikasi UII angkatan 2023.

Dalam ingatannya, dalam pertandingan final itu tim voli putri UII menghadapi lawan yang memiliki kualitas permainan sangat mumpuni, baik dalam kemampuan individu maupun kerja tim. Meski demikian, baginya inilah tantangan yang memang harus dihadapi pada kompetisi internasional.

“Tantangan terbesar yang kami alami adalah menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas permainan yang sangat baik dan pengalaman internasional yang cukup tinggi. Pada babak final kami bertemu tim dari Filipina yang memiliki kemampuan individu dan kerja sama tim yang kuat,” tambahnya.

Untuk menghadapi pertandingan ini, persiapan matang telah dilakukan, salah satunya dengan menambah porsi latihan fisik secara mandiri maupun latihan bersama tim. Tujuannya tentu untuk memperkuat kekompakan dan kepercayaan diri tim.

“Kami melakukan persiapan latihan kekompakan tim secara rutin dan latihan tambahan dari diri sendiri seperti menambah porsi latihan fisik dan lebih sering memegang bola. Selain itu, membentuk rasa kepercayaan diri dan kekompakan dalam tim sangatlah penting di sebuah pertandingan yang besar, apalagi bertemu dengan beberapa negara,” ujarnya.

Mareta juga membagikan bagaimana strateginya dalam manajemen waktu antara kesibukan akademik di kampus dan persiapan pertandingan-pertandingan yang akan diikutinya. Ia menegaskan bahwa kuliah adalah tugas utama yang wajib ia selesaikan dan menjadi prioritas utama.

“Saya berusaha membuat jadwal yang teratur antara kuliah dan latihan, apalagi pada saat itu menjelang UAS. Prioritas saya tetap menyelesaikan tugas dan kewajiban akademik terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan waktu luang untuk latihan. Saya juga mengatur waktu istirahat agar kondisi fisik tetap terjaga. Dukungan dari teman satu tim dan dosen juga sangat membantu sehingga saya bisa menjalankan keduanya dengan baik,” ungkap Mareta.

Bertanding di Malaysia kala itu adalah pengalaman berharga. Selain berjuang untuk membawa nama baik almamater, Mareta menyebutnya sebagai pengalaman pengembangan diri.

“Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah untuk mengembangkan kemampuan diri, menambah pengalaman bertanding di tingkat internasional, serta membawa nama baik Universitas Islam Indonesia dan Indonesia. Selain itu, saya ingin menguji hasil latihan yang selama ini dilakukan dan mendapatkan kesempatan untuk bertemu serta belajar dari atlet-atlet mahasiswa dari negara lain,” tandasnya.

Kalfest Hub Seri #9 X Festival Film Santri: Hadirkan Enam Film dari Perspektif Pesantren

Kaliurang Festival Hub seri ke-9 berkolaborasi dengan Festival Film Santri (FFS) telah terselenggara pada 16 Juli 2026. Perjumpaan dua festival ini menjadi ruang bagi para penikmat film untuk melihat dan mendengar suara-suara dari perspektif santri. Screening dilakukan di Ruang Audio Visual Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan menayangkan enam film.

Enam yang ditayangkan meliputi tiga karya santri dan tiga dari kategori umum. Film-film tersebut antara lain Saling Silang Sandal – Yazid Azhari (Pesantren Sukorejo, Situbondo) yang mengungkap bagaimana kebiasaan yang dianggap lumrah, istilahnya ghosob, fenomena santri terpaksa memakai sandal milik teman demi mobilitas cepat.

Selanjutnya ada Akar Pohon – Husni Fatihin (Pesantren Sidogiri, Pasuruan) yang bercerita soal sikap tawadhu seorang santri terhadap wasiat almarhum ibunya untuk kembali ke kampung dan mengabdikan diri di jalur pengajaran.

Film ketiga adalah Gazeboan – Tiara Navisa (Sinematake SMK Subbanul Waton, Magelang). Tak kalah unik, Gazeboan hadir di bulan Ramadan: bagaimana para santri melakukan “war takjil” di selasar pesantren. Hasilnya, banyak suara yang layak untuk direfleksikan.

Tiga film lainnya adalah KAR Kar – Shohipul Ma’ruf (Team Creative Multimedia), Baku Percaya – Raynton Rare’a (Komunitas Tidak Production), dan Kita Gali Sampai Mati – Labib Pratama (Moro-moro Production) yang digarap secara profesional dengan nilai-nilai akulturasi yang sangat detail.

Seri ke-9 ini, selain melakukan screening enam film, juga dilanjutkan dengan Movie Talk, sebuah diskusi dari punggawa FFS bersama penonton yang menghadirkan Agus Sam (Direktur FFS) serta Yogi Ishabib (Direktur Program FFS).

Agus Sam menyebut bahwa awal mula inisiasi pembentukan FFS terjadi karena ia memiliki kedekatan dengan pesantren. Harapannya, dengan film, keresahan dan suara santri mendapat ruang di hadapan publik.

“Ide ini berangkat dari kedekatan dengan pesantren. Kami resah, tapi juga melihat ruang baru. Film bukan untuk menggurui, itu membosankan. Kami menawarkan festival kepada pesantren dan kami rumuskan agar festival ini tidak hilang dalam 1-2 tahun. Dengan film maka bersilaturahmi dengan pesantren,” ucapnya.

Senada dengan rekannya, Yogi Ishabib menyebut bahwa di Surabaya, tempat lahirnya FFS, banyak festival tak berumur panjang. Dengan jejaring yang dimiliki, ia ingin melibatkan langsung para santri agar festival terus bertahan.

“Kami punya jejaring dan production house, tapi festival film di Surabaya tak berumur panjang. Covid mengubah lanskapnya. Maka di FFS 2023, kami menghadirkan kuratorial yang tidak ujug-ujug kami mendekati dulu. Karena santri di pesantren tak boleh pegang HP, komunikasi terbatas,” ungkap Yogi Ishabib.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, yang turut hadir menyampaikan apresiasinya. Baginya, perspektif dari santri turut menjadi dinamika keriuhan yang layak untuk didengar.

“Menggandeng mitra luar biasa, film menjadi ruang perjumpaan gagasan, bukan sekadar tontonan, melainkan wadah di mana suara-suara kami menjadi bagian dari dinamika keriuhan yang layak didengar.” Tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025

Flashback Moment, mahasiswa Ilmu Komunikasi UII berhasil membawa pulang emas dalam kompetisi 2nd ASEAN Inter University Networking Games 2025. Ia adalah Muhammad Dzaky Naufal, mahasiswa angkatan 2024 yang juga atlet voli tim UII.

Pada tanggal 21–25 Agustus 2025, ia dan tim UII bertandang ke Universitas Teknologi Petronas, Malaysia, untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional dan bertemu tim dari berbagai negara ASEAN. Melalui perjuangan panjang, akhirnya tim voli putra UII berhasil menjadi juara 1.

Dzaky menyebut bahwa ia dan tim membutuhkan waktu sekitar lima bulan latihan intensif untuk menyiapkan pertandingan ini. Usaha tak mengkhianati hasil; mereka pulang membawa prestasi yang membanggakan.

“Strategi yang pastinya rajin berlatih kita mulai Maret 2025 sudah persiapan itu yang membuat kami matang bisa mendapat juara 1,” ucap Muhammad Dzaky Naufal.

Bertanding tingkat internasional bukan perkara sederhana, bagi Dzaki dan tim yang bertemu tim dari Filipina dan Malaysia butuh kematangan persiapan baik fisik maupun mental.

“Tantangan yang pasti dari diri sendiri, mental, karena pertama kalinya melawan dari luar negeri, dari Filipina dan Malaysia, tentunya itu tekanan serta bagaimana kita mengantisipasinya,” tambahnya.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang super padat di kelas maupun di proyek-proyek lapangan, kondisi ini membuatnya harus bijak menentukan prioritas.

“Sangat susah jawabannya jujur, harus benar-benar tahu kondisi bagaimana mengaturnya kalau saya sendiri dengan pakai prinsip bagaimanapun harus kuliah, setelah kuliah selesai langsung latihan karena ya itu kewajiban,” jawabnya.

Dari Indonesia ke Malaysia dengan berbagai usaha maksimal, Dzaki memiliki ambisi besar untuk memenangkan pertandingan. Ia dan tim telah mengorbankan waktu dan tenaga, hingga mendapat dukungan dari pihak universitas sehingga harus tampil maksimal dalam lag aitu.

“Motivasinya sudah jauh-jauh harus diambil juaranya, jangan sampai engga, itu yang bikin adrenalin di diri saya meningkat supaya jadi juara dan lebih baik.” Tandasnya.

BookTalk: Segala-galanya Ambyar ‘Tips Bertahan Menjadi WNI’

Warga negara Indonesia (WNI) tengah dihantui berbagai kabar buruk, ketidakpastian ekonomi, hingga kesenjangan sosial masyarakat akibat berbagai kebijakan. Data BPS mencatat inflasi pada bulan Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan (yoy), artinya rata-rata harga barang dan jasa naik 3,34%. Jika diilustrasikan, kebutuhan belanja rata-rata Rp1.000.000 kini menjadi Rp1.033.400.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin frustrasi, hingga menumpahkan emosi ke media sosial lewat berbagai meme ataupun catatan-catatan yang dibalut dengan humor getir. Salah satu cara bertahan dalam kondisi ambyar, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Puji Rianto, memberikan rekomendasi lewat buku Segala-galanya Ambyar atau Everything is Fucked yang ditulis oleh Mark Manson.

“Buku ini bercerita tentang sebuah harapan,” ujar Puji Rianto.

Dalam kondisi kecewa, terkadang manusia cenderung berhenti berharap. Buku ini menyebutkan bahwa kita hidup dalam dunia paradoks yang menciptakan berbagai tekanan di segala sisi. Di satu sisi, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan peradaban, dan seterusnya.

“Kita juga menghadapi situasi yang paradoks, konon katanya negara kita gemah ripah loh jinawi, tapi nyatanya segalanya sulit, BBM naik, bahan-bahan pokok naik, pendidikan semakin mahal, pekerjaan semakin sulit didapatkan,” tambahnya.

Lantas, bagaimana WNI membangun harapan di tengah situasi yang tidak menyenangkan? Ada tiga hal dari buku ini yang diusulkan Mark Manson. Kira-kira begini yang diucapkan dalam sesi BookTalk oleh dosen UII.

Pertama, menyadari posisi bahwa “Kita yang menjadi kendali atas hidup kita, bukan orang lain. Maka, mampu membangun harapan lalu menghancurkan barier dengan kendali itu adalah apa yang membuat harapan itu tidak terwujud,” ungkapnya.

Setelah menyadari kendali atas hidup, kita harus memiliki nilai yang layak diperjuangkan. Sebagai WNI, nilai yang paling relevan adalah nilai demokrasi dan kehidupan yang layak.

“Nilai kan sesuatu yang berharga, kalau kita berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang sesuatu yang berharga,” jelas Puji Rianto.

“Pertanyaannya, nilai apa yang kita perjuangkan? Kalau sekarang nilai itu demokrasi dan kehidupan yang layak,” tambahnya.

Terakhir, ada keterikatan dengan komunitas. Fungsi komunitas adalah sebagai benteng penjaga nilai dan pembangun kohesi sosial.

“Kita harus terikat pada komunitas karena nilai itu didefinisikan di dalam komunitas. Di dalam komunitas, kita berharap orang-orang memperjuangkan nilai yang sama. Kalau nilai itu tidak diperjuangkan oleh komunitas atau bahkan dinegasi oleh komunitas, maka nilai itu lambat laun jadi hilang.” Tandasnya.

Itulah tiga tips untuk bertahan menjadi WNI lewat buku Segala-galanya Ambyar. Bagaimana pendapatmu, Comms?

Baca artikel lainnya: https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-wajib-izin-masihkah-kita-bebas-bersuara-di-indonesia/

Penulis: Meigitaria Sanita

Ask the Expert: Demo Wajib Izin, Masihkah Kita Bebas Bersuara di Indonesia?

Pembubaran demo kerap dilakukan oleh aparat di Indonesia karena alasan tidak adanya izin tertulis yang dianggap mengganggu kepentingan umum. Salah satu pembubaran demo yang pernah terjadi pada pertengahan Juni 2026 lalu, misalnya, ketika aliansi BEM di Jabodetabek dibubarkan dengan alasan kawasan Jalan M. H. Thamrin memicu risiko kemacetan lalu lintas. Tujuan dari demo tersebut menuntut kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tak berpihak kepada masyarakat, seperti pengelolaan makan bergizi gratis (MBG) hingga melemahnya nilai rupiah.

Sebuah pertanyaan reflektif akhirnya muncul, apakah kita benar-benar merdeka bersuara? Atau kebebasan mulai terikat dengan berbagai regulasi hingga membungkam kritik? Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Puji Rianto, memaparkan bahwa arah regulasi di Indonesia pasca-1998 menunjukkan kemunduran.

“Regulasi sejak reformasi 98 itu semakin otoriter. UU yang paling demokratis adalah UU Nomor 40 Tahun 1999, setelah itu undang-undang semakin represif terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat warga,” ucapnya.

Regulasi yang semakin otoriter dipicu oleh kultur elit politik yang jauh dari jiwa demokratis setelah meraih kekuasaan.

“Mentalitas kultur elit kita memang tidak pernah punya kultur demokratis, sehingga ketika mereka mendapatkan kekuasaan dari mana pun latar belakangnya sering kali hanya menekankan upaya untuk membangun represi,” tambahnya.

Puji Rianto menyoroti persoalan yang paling krusial, yakni kewajiban izin atau pemberitahuan aksi demonstrasi. Baginya, demo adalah hak bagi warga negara Indonesia.

“Itu hak konstitusional setiap warga negara yang dijamin kebebasan berpendapat berdasarkan konstitusi,” jelasnya.

Sehingga membubarkan rakyat yang tengah menyuarakan pendapat dapat dianggap sebagai pelanggaran konstitusi. Sayangnya, realita yang terjadi jauh dari kata ideal. Otoritarianisme membuat hak ini terabaikan.

Pola yang kerap terjadi dalam demonstrasi biasanya membuat pemerintah memberi respons dengan mengirim utusan untuk berdialog. Namun, langkah ini adalah mekanisme meredam suara, bukan menyelesaikan masalah dengan tulus. Selain itu, undang-undang kerap dirumuskan secara eksklusif demi kepentingan segelintir orang. Hal ini membuat masyarakat tak percaya lagi dengan pemerintah.

“Pemerintah datang untuk berdialog; tidak ada ketulusan dalam konteks itu. Apa argumen yang dapat kita gunakan untuk menunjukkan bahwa pemerintah tulus untuk menampung aspirasi masyarakat? Ketika mereka membuat undang-undang, hampir tidak pernah menampung aspirasi masyarakat. Sering kali undang-undang dibuat dalam waktu yang sangat singkat, lalu munculah gejolak dan itu berulang,” jelasnya.

Demonstrasi adalah satu-satunya cara ketika pemerintah dan sistem politik tidak responsif. Dalam negara yang benar-benar menerapkan sistem demokratis, regulasi dibentuk melalui dialog publik yang partisipatif. Jika hukum disusun secara demokratis dan dijalankan secara konsisten berdasarkan prinsip negara hukum, maka tidak akan ada celah bagi masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Karena hukum itu sendiri sudah menjadi cerminan aspirasi rakyat.

“Kalau pemerintah memang punya spirit demokrasi membuka ruang perdebatan dalam membangun regulasi layaknya di negara demokrasi, tidak akan ada demo. Apalagi kalau undang-undang yang dirumuskan secara demokratis dikerjakan secara konsisten berdasarkan prinsip negara hukum, maka tidak ada celah bagi masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Karena hukum sudah disusun berdasarkan dialog yang demokratis menampung aspirasi rakyat.” Tandasnya.

Baca artikel lainnya:

https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-di-jalanan-masihkah-diperlukan/

Penulis: Meigitaria Sanita

Agus Magelangan

“Berita Ndlogok Hari ini” menjadi salah satu konten andalan di Instagram Agus Magelangan atau Agus Mulyadi. Influencer sekaligus penulis asal Magelang ini selalu menyelipkan sisi humor dalam konten politik. Hasilnya, lebih dari ratusan ribu orang menontonnya. Hal ini menjadi bukti bahwa humor adalah pintu masuk atau entry point agar orang mau membaca dan berinteraksi dengan peristiwa politik.

Sepakat atau tidak, kondisi masyarakat Indonesia yang sudah lelah dengan berbagai kabar buruk atas kebijakan pemerintah justru sering mentertawakannya, atau tertawa getir akibat lelah untuk marah. Selain itu, dalam psikologi publik, manusia cenderung tertarik pada hal lucu sebelum hal serius.

“Masyarakat secara instinktif suka dengan hal-hal yang lucu,” ucap Agus Magelangan pada 15 Juni 2026.

“Banyak peristiwa besar yang rakyat butuh tahu, tapi mereka tidak tahu isu ini padahal penting banget, tetapi ketika kita menyentil sisi-sisi lucu dari peristiwa itu, orang-orang jadi tahu,” ucapnya lagi.

Selain itu, kesenjangan informasi menjadi faktor publik tidak terpapar informasi penting. Lagi-lagi alasannya adalah kemasan yang tidak menarik. Ia memberikan contoh kasus korupsi triliunan rupiah yang dilakukan Setyo Novanto. Masyarakat sama sekali tak tertarik dengan proses hukum dan peradilannya. Masyarakat justru memahami kasus tersebut lantaran peristiwa menabrak tiang listrik.

“Contoh tiang listrik yang ditabrak Setyo Novanto itu langsung ramai,” tambah Agus.

Baginya, humor menjadi strategi komunikasi untuk menyampaikan eskalasi politik yang begitu kompleks untuk dibicarakan. Selain itu, Agus mempercayai teori bahwa 15 persen menjadi tipping point sebuah perubahan di sebuah kelompok. Ia mengilustrasikan jumlah audience yang terpapar informasi politik seribu orang, misalnya, mungkin hanya puluhan orang yang akan melakukan tindakan politik.

“Untuk membuat perubahan itu butuh 15 persen dari sebuah populasi yang melek politik. Orang-orang sekarang siapa sih yang mau melek politik. Orang-orang cenderung suka politik kalau ada sisi entertain-nya,” jelasnya.

Dari realitas di lapangan dan preferensi publik, orang-orang akan terbuka terhadap isu politik jika dikemas dengan hiburan. Hasilnya, humor terbukti meningkatkan engagement dan minat baca publik.

Dari pengalamannya membaca audience, humor adalah level paling dasar yang bertugas menjadi pemapar isu politik. “Aku selalu merasa bahwa dalam tindakan politik selalu berjenjang. Sebelum orang melakukan tindakan politik dia harus memahami politik, sebelum memahami politik dia harus tahu isi politik, sebelum tahu isi politik dia harus terpapar peristiwa politik. Porsi humor berada di level mengajak orang-orang mengetahui peristiwa-peristiwa politik di negeri ini,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Dosen Ilmu Komunikasi Dampingi Masyarakat Ciptakan Desain Produk Berbasis AI

Peran artificial intelligence (AI) dalam industri kreatif seperti musik, animasi, industri konten digital, dan desain grafis dinilai semakin memperkuat ekonomi. Laporan dari Litbang Kompas, angkatan kerja bidang ekonomi kreatif tahun 2025 tembus 27,4 juta orang dan menyumbang 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional.

Salah satu fondasi utama dalam industri kreatif adalah UMKM, yang didominasi oleh produk kuliner, fesyen, dan kriya. Industri kreatif menjadi wadah yang memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi pada produk-produk tersebut.

Sinergi ini semakin kuat dengan adopsi pemanfaatan AI dalam desain produk. Alasan utama tentu untuk menekan biaya produksi. Inisiasi hingga akar rumput ini dilakukan oleh dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) pada 18 Juni 2026. Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, yang hampir lima tahun mendampingi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kota Yogyakarta, melakukan pelatihan desain produk dengan AI.

Kegiatan berlangsung di Aula Notoprajan, Kota Yogyakarta, dan diikuti oleh anggota KIM Kota Yogyakarta, pelaku UMKM, dan masyarakat setempat. Tujuannya tentu peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola informasi dan memanfaatkan teknologi digital.

Fokus pelatihan ini adalah penggunaan AI dalam pembuatan logo dan desain kemasan. Dalam perspektifnya, desain yang menarik memiliki peran penting untuk meningkatkan daya saing UMKM.

“Desain yang baik dapat membuat produk terlihat lebih profesional, menarik perhatian konsumen, memperkuat branding usaha, dan membantu meningkatkan penjualan,” ucap Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, dilansir dari laman Dinkominfosan Kota Yogyakarta.

Dalam praktiknya, ia menjelaskan bagaimana konsep menuliskan perintah (prompt) yang tepat pada AI agar menghasilkan desain yang sesuai dengan kebutuhan. Ida Nuraini juga menjelaskan konsep logo dan tagline untuk memperkuat identitas produk. Praktik ini dilakukan dengan telepon genggam yang tersambung ke koneksi internet untuk mempermudah peserta.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Yogyakarta. Pemberdayaan yang dilakukan adalah program lanjutan sebagai bentuk tanggung jawab pengabdian kepada masyarakat.

“Saya menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kominfosan ini. Terima kasih karena warga kami sudah difasilitasi untuk menambah ilmu dan pengetahuan mengenai dunia digital, terkhusus peserta kali ini mayoritas adalah ibu-ibu,” ucap Dyah Nur Astuti, Lurah Kelurahan Notoprajan, dilansir dari laman Dinkominfosan Kota Yogyakarta.

Berita lainnya:

https://communication.uii.ac.id/pengabdian-dosen-ilmu-komunikasi-uii-bagaimana-cara-membuat-desain-packaging-yang-menarik/

https://communication.uii.ac.id/dampingi-umkm-kota-jogja-dosen-ilmu-komunikasi-uii-ungkap-pengabdian-tepat-guna/

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Lolos Program Pengabdian Internasional di Malaysia

Peran mahasiswa sebagai agent of change ditunjukkan oleh Muhammad Alfarezi Fadilah dalam keikutsertaannya pada program pengabdian tingkat internasional. Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tersebut lolos dalam penjaringan yang dilakukan oleh Indonesian Youth Action beberapa waktu lalu. Pengabdian berlangsung pada 10 hingga 14 Juni 2026 di Malaysia dan Singapura.

Indonesian Youth Action merupakan lembaga yang bergerak di bidang pengabdian dan pemberdayaan masyarakat melalui partisipasi pemuda dan berfokus pada pembangunan keberlanjutan di dalam dan di luar negeri.

Alfarezi dalam wawancaranya menyebut kegiatan pemberdayaan yang ia lakukan berfokus pada bidang sosial dan edukasi. Saat di Malaysia, ia dan tim berkesempatan mengunjungi sekolah untuk anak Indonesia di Johor Bahru, yakni Sanggar Bimbingan Amin Sungai Besi Indah dan Action Youth Garage di Bandar Baru Bangi. Selain itu, ia dan tim juga mendampingi anak-anak berkeliling Singapura untuk memahami perbedaan budaya Malaysia dan Singapura.

“Di Johor Bahru, membantu pelaksanaan program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, berkolaborasi dengan peserta dari berbagai daerah, serta ikut menyusun dan menjalankan kegiatan yang bertujuan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat,” ucapnya.

Keikutsertaannya dalam program ini dilatarbelakangi oleh keinginan dalam pengembangan diri serta peran dan kontribusi secara nyata kepada masyarakat dan anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia. “Untuk memperluas wawasan global, mengembangkan kemampuan diri, serta memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dan anak sekolah yang ada di sana,” tambahnya.

Melalui kesempatan mobilitas internasional ini, Alfa berharap mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, dan adaptasi di lingkungan internasional.

Meski demikian, tak semua hal terasa mudah. Ada tantangan dalam proses adaptasi di tengah perbedaan budaya, bahasa serta cara berkomunikasi. Meski demikian, semua teratasi dengan bersikap terbuka, menghargai perbedaan, hingga berinisiatif tinggi dalam setiap kegiatan yang berlangsung.

“Pelajaran yang ingin saya bagikan kepada mahasiswa lain yang tertarik mengikuti program pengabdian internasional adalah jangan ragu untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba pengalaman baru. Program seperti ini bukan hanya tentang bepergian ke luar negeri, tetapi juga tentang belajar memahami perbedaan budaya, membangun jaringan pertemanan internasional, serta mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim,” ucap Alfa.

“Melalui program pengabdian internasional, kita dapat melihat berbagai perspektif baru dan menyadari bahwa kontribusi sekecil apa pun dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, persiapkan diri dengan baik, tingkatkan kemampuan beradaptasi, dan miliki semangat untuk belajar dari siapa saja. Pengalaman yang diperoleh akan menjadi bekal berharga bagi pengembangan diri, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan profesional di masa depan,” tandasnya.

Ask the Expert: Demo di Jalanan Masihkah Diperlukan?

Gelombang demonstrasi “Reformasi Jilid 2” terus bergulir sepanjang bulan Juni 2026. Mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan menyuarakan berbagai aspirasi atas regulasi pemerintah yang dinilai “bobrok”. Emosi memuncak dipicu melemahnya rupiah yang mencapai Rp. 18.000 per 1 USD hingga korupsi bernilai triliunan rupiah dari proyek makan bergizi gratis (MBG).

Selain turun ke jalanan, masyarakat turut aktif mengadvokasi isu-isu tersebut di media sosial. Sebenarnya, jika di media sosial suara warga begitu nyaring, apakah aksi demo masih efektif?

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Puji Rianto, yang spesifik mendalami kajian Komunikasi Politik dan Regulasi Media, menyebut bahwa demonstrasi dan turun ke jalan memegang peran krusial dan tidak tergantikan.

“Demonstrasi akan tetap menjadi sarana efektif untuk mengartikulasikan apa yang menjadi kepentingan dan menyampaikan aspirasi kita,” ucapnya.

Menurutnya, demo di jalan dan advokasi di media sosial bukanlah sebuah kompetisi atau perbandingan semata, melainkan sebuah siklus. Media sosial berperan sebagai ruang advokasi untuk membangun narasi, sementara demo adalah penegakan narasi ke dalam sistem politik.

“Perubahan itu tidak mungkin hanya melalui kampanye di media sosial, karena tujuan dari kampanye adalah gerakan perubahan, tidak mungkin hanya dalam wacana. Tapi wacana akan berimbas pada tindakan perilaku,” ungkap Puji Rianto.

Mengenai efektivitas demonstrasi, nyatanya terbukti dari respons aparat yang justru diturunkan dengan jumlah masif, bahkan melebihi masa aksi. Hal ini membuktikan bahwa negara ketakutan terhadap demonstrasi.

“Demonstrasi tetap efektif, buktinya aparat selalu diturunkan dalam jumlah banyak, jauh lebih banyak kadang dari demonstran. Itu berarti mereka takut sekali dengan demonstrasi,” tambahnya.

Demo menjadi langkah terakhir masyarakat ketika jalur santun gagal, terutama soal kritik kebijakan yang tak beretika dan jauh dari keberpihakan kepada rakyat. Selain itu, pemerintah jarang memberi respons atas aspirasi yang disampaikan dengan bahasa santun.

“Demonstrasi menjadi penting karena pemerintah tidak pernah merespons dengan cukup baik apa yang disampaikan dengan bahasa yang santun seperti yang mereka harapkan. Mereka selalu menekankan kepada kita kalau menyampaikan sesuatu itu beretika. Memangnya seluruh kebijakan mereka beretika? Tidak ada,” tegas Puji Rianto.

Contoh konkret yang terjadi di Indonesia: kritik keras soal MBG yang tak pernah digubris. “Salah satu pandangan soal etika, misalnya utilitarianisme, di dalam pandangan utilitarianisme, kebijakan yang baik harus memberi manfaat bagi paling banyak orang. Sekarang MBG itu kira-kira kalau dihitung secara statistik menguntungkan lebih banyak orang atau lebih sedikit orang dan para analis mengatakan MBG menguntungkan lebih sedikit dibandingkan dengan menguntungkan banyak orang,” tandasnya.

Baca artikel lainnya:

https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-wajib-izin-masihkah-kita-bebas-bersuara-di-indonesia/

Penulis: Meigitaria Sanita