Reren Indranila Radar Jogja JAwa Pos di UII

“Kalau biasanya orang kasih 5W + 1H, saya tambahkan jadi 6W + 1H,” kata Reren Indranila dalam Workshop How to Create and Manage Impactful Website Content.

Begitulah salah satu tip yang dibagikan Reren, Pemimpin Redaksi Radar Jogja, salah satu pembicara dalam workshop yang dilaksanakan oleh Humas UII pada 4 Desember 2019 di Lantai 4, Gedung H. GBPH Prabuningrat. Kegiatan yang diikuti lebih dari 40 pengelola website di seluruh program studi dan unit di UII ini dibuka oleh Ratna Permata Sari, S.I.Kom, MA, Kepala Bidang Humas UII. Menurut Ratna, kegiatan ini dilaksanakan untuk membuat garda depan UII di laman daring dengan konten yang kuat secara citra, dan konsisten.

Pelatihan ini juga bermaksud meningkatkan kualitas website di UII. Selain kualitas, soal jumlah domain web juga penting diperhatikan. Ratna berharap, semakin sedikit website di UII, penanganan keamanannya juga semakin mudah.  Begitu pula jika konten semakin konsisten dan berkualitas, maka semakin bagus juga citra UII di mata publik. “Intinya ketika menulis, kedepankan UII lebih dahulu, meskipun itu kegiatan kerjasama dengan pihak lain, karena ini garda depannya UII,” kata Ratna.

Citra dan konten  yang berkualitas itu seperti apa? Reren menyarankan pengelola website prodi bisa mengoptimalkan apa saja potensi prodinya. “Ada dosen prestasi dan riset bagus, ya itu dinaikkan. Ada mahasiswa yang pintar juga konten kreator youtuber nah itu juga bisa dinaikkan. Kalau konten ini naik, nanti kan bisa jadi rujukan jurnalis. Bisa masuk media tanpa cost yang berarti. Ini bisa jadi publikasi gratis. dan secara nggak langsung ini juga sudah menjalankan fungsi kehumasan juga kan?” saran Reren.

Selain tingkatkan kualitas, Reren bagikan juga soal tingkatkan keterbacaan konten kita. menambahkan bahwa kita bisa bermain di penjudulan untuk tingkatkan keterbacaan berita website. Kita bisa kaitkan dengan konteks saat ini. “Ini penting dalam SEO (Search Engine Optimizer), misalnya kita mau menulis soal gubernur DIY, kita mau pakai gubernur DIY atau HB X? Orang akan lebih populer cari HB X daripada Gubernur DIY,” kata Reren.

Reren juga menyarankan penggunaan judul hanya 5 sampai 7 kata minimal. Jika terlalu banyak, di dunia daring orang sudah malas membaca. Lalu, Bagaimana membuat artikel kita diklik banyak orang, kata Reren. “Kita bisa berkolaborasi dengan media sosial lain. Jadi kita link-kan artikel kita di story instagram. Bikin foto yang menarik, karena foto itu mempengaruhi orang mau klik atau tidak. kalau di twitter kita bisa memancing dengan tulisan atau link  yang gaya menulisnya bukan khas robot. Sangat manusia, sehingga tidak kaku dan orang tertarik, katanya. Angkat kisah-kisah mahasiswa dan dosen karena itu menarik.

Dalam sesi tanya jawab, Zarkoni, pengelola Website Komunikasi UII,  mengemukakan pertanyaan. “Kalau tadi disebut

“Ada dosen prestasi dan riset bagus, ya itu dinaikkan. Ada mahasiswa yang pintar juga konten kreator youtuber nah itu juga bisa dinaikkan. Kalau konten ini naik, nanti kan bisa jadi rujukan jurnalis.”

Soal standar, Jawa Pos juga sering mengeluarkan dan memerbarui standar penulisan, diksi, dan gramatikal bahasa yang dipakai seluruh wartawan Jawa Pos. Mengapa penting membuat standar bahasa ini? Media juga ikut mendidik pembaca, jurnalis jangan sampai mengedukasi pembaca dengan bahasa yang tidak baik. “Saya sering sarankan ke wartawan, setelah kamu tulis berita, kamu baca ulang, enak atau tidak. kalau kamu sendiri tidak enak bacanya, apalagi pembaca.” kata Reren.

Menulis sebisa mungkin ringkas, padat, jelas, tapi tidak mengurangi informasi yang ingin disampaikan. Gunakan kalimat tunggal yang efektif, satu subjek, satu predikat. Perhatikan juga apakah satu kalimat bisa dibaca satu nafas. Satu nafas adalah ukuran apakah tulisan ini enak dibaca atau tidak. Satu lagi katanya, “Kalau biasanya orang kasih 5W + 1H, saya tambahkan jadi 6W + 1H,” kata Reren. W tambahan Reren dalam 6W itu adalah “What Next”. “Pembaca perlu tahu apa lagi kelanjutan dari isu yang ditulis sehingga ia akan terus mengikuti perkembangan kegiatan berikutnya,” kata Reren.

Dua Dosen Ilmu Komunikasi UII, Mutia Dewi dan Ali Minanto, atas dedikasi dan konsistensinya pada riset dan pemberdayaan di bidang pemberdayaan perempuan dilantik menjadi anggota Puspa (Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Dinas PPMPA Kota Yogyakarta. Pelantikan tersebut atas dasar SK Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, pada 3 Desember 2019 di Balai Kota Yogyakarta. Mutia Dewi dilantik menjadi Wakil Ketua Puspa, sedangkan Ali Minanto dilantik sebagai Koordinator Penelitian dan Pengembangan Puspa Kota Yogyakarta.

Puspa sendiri adalah satua tugas yang terdiri dari beragam elemen yang peduli pada pemberdayaan dan perlindungan perempuan di Yogyakarta. Elemen-elemennya yang ikut juga terlibat dalam Puspa Kota Yogyakarta beragam. Misalnya ada baznas, peradi, PHDI, Lembaga swadaya masyarakat, dan Organisasi Keagamaan. Forum Puspa sendiri merupakan bentukan di tiga level. Prodi Komunikasi UII dilibatkan di level kota.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) telah sejak 2017 menugaskan Puspa bertugas mempercepat mengentaskan apa yang disebut Three Ends. Three Ends, menurut Kemen PPPA, dibentuk guna bertujuan membantu Kemen PPPA menyelesaikan kesenjangan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak. KemenPPPA membutuhkan kerjasama masyarakat, karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa bantuan berbagai elemen masyarakat. Tugas Mutia dan Ali di Puspa juga seturut ide dengan KemenPPPA dan Dinas PPMPA Kota Yogyakarta dalam menghapus Three Ends tersebut. Termasuk di dalamnya kekerasan pada perempuan, Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan mengatasi gap atau kesenjangan ekonomi.

Konten Narasi TV Mata Najwa Dahlia Citra

Dahlia Citra menjelaskan dalam kesempatan Kuliah Umum “How To Create Impactful Media” kali itu bagaimana Narasi TV menciptakan konten-kontennya. Pertama, pertimbangkan target audience. Citra waktu itu berpikir bersama tim, sepertinya klien butuh konten tentang perempuan. “Tapi tak mungkin memasang Najwa Shihab untuk konten tutorial make up, bukan?” Katanya. Maka setelah menganalisa target audience tadi, dilanjutkan analisis “busines potential”. Jadilah Program Sarah Seharian, kata Citra, sambil memutar tayangan Sarah yang bikin vlog tutorial make up dengan meniru tutorial make up dari MUA terkenal di Youtube. “Nggak mungkin Najwa bikin gitu. Persona yang kita bangun bukan kayak Sarah. Sarah bikin vlog kirim tiap minggu,” ungkapnya.

Ada juga cerita dari Program Tompi Glenn. Tim kreatif Tompy Glenn adalah andalan saya. “Alumni Komunikasi UII lho dia, namanya Tri Ghofur, itu tim kreatif andalan saya,” katanya, langsung disambut riuh hadirin. Dia, Tri Ghofur, jeli lihat ada kejadian di saat program Tompy Glenn ngamen.

Konten itu tidak direncanakan dan benar-benar ngamen saja di mal, Ada penonton yg dorong-dorongan.
Tim kreatif membaca peluang itu. Dibikinlah program khusus bincang-bincang dengan penonton yang dorong-dorongan itu. Besoknya, penonton itu juga muncul di TV lain. Bukti bahwa kreatifitas adalah kunci. Tak perlu sensasional, yang perlu kreatifitas.

Lalu bagaimana Narasi TV memilih talent-nya?

Mom Cit, panggilan akrab Dahlia Citra di kantor, mengatakan tentukanlah momentum, value, dan ‌market research. Ia bercerita di balik program kreatifnya “Maunya Maudy” yang mendapuk Maudy Ayunda sebagai talent. Tapi kan, Maudy masih kuliah S2 di Stanford? “Maudy lu harus belajar  Vlog. Bikin content. Dari Standford,” kata Mom Cit pada Maudy. Menurut narasi TV, Maudy adalah momentum yang pas kini di tengah anak muda. Secara value, Maudy punya nilai yang kuat. “Maudy itu sukanya belajar. Itu nilai yang kuat. Dia mau belajar bikin Vlog kita pandu dari Indonesia,” jelas Citra.    dahlia Citra kemudian memutarkan video proses maudy belajar di Narasi. Episode 1 Maunya Maudy benar-benar menunjukkan ia harus jatuh bangun bermumula bahkan dari memegang kamera dan mengoperasikannya dengan tripod.

Apakah kreatif tidak cukup? Ya, promo yang kreatif juga penting. Kata Dahlia Citra kita harus ciptakan, “Creative Promo to Let Many People Know,” kata citra sambil menyontohkan karya Narasi TV di program Tech IT Easy. “Apa yg mau saya sampaikan adalah soal creative impactful journalism,” katanya. Pilar kedua dari Narasi TV: collabotation. User Generated Content atau PGC (profesional generated content) juga ditempuh. Kami datangi 10 tempat bikin karya bersama. Buat workshop undang kreator konten salah duanya di Jogja, di Prawirotaman, dan Sorong. Setelah workshop kami undang mereka buat karya langsung. Bagaimana karya mereka yang hanya dibikin beberapa jam saja. Ternyata mencengangkan. Belum lagi Narasi TV juga membuat komunitas sebagai wadah kolaborasi. Semakin menguatkan nilai partisipasi dalam produksi konten Narasi TV.

Angkringan Lek Ghofar sepi pembeli. Ponsel menempel di telinganya seketika kemudian ia berbincang dengan penelponnya di ujung sana. “Gimana ini dab, kok ora ngangring, iki pie. Anak-anak UII kayaknya lagi nggak ada kiriman ini, belum lagi katanya SPP nya naik terus ini,” kata lek Ghofar sambil langsung disambut tepuk tangan riuh ramai hadirin ketika ia mengatakan kata “SPP naik terus.” Hadirin yang mayoritas mahasiswa itu mulai mengeluarkan derak tawa dan tepukan hangat.

Lek Ghofar, berakting menelepon mengundang banyak orang untuk nangkring di angkringannya. Orang-orang yang diundang ke angkringannya itu ternyata adalah pembicara-pembicara dalam acara inisiatif dari Prodi Ilmu Komunikasi UII yaitu Bincang-bincang “How to Create Impactful Media” pada 28 September 2019 di Auditorium Prof. Abdul Kahar Mudzakkir UII. Lek Ghofar adalah tokoh buatan panitia, khususnya ikon dari program Serial Ramadhan 2019 Uniicoms TV dari Komunikasi UII.

Beruturut-turut kemudian naik ke atas panggung, tempat gerobak angkringan Lek Ghofar ditata, Moderator, Dahlia Citra, dan juga Mario dan Eda Duo Budjang belakangan di sesi kedua. Herman Felani, dosen Komunikasi UII yang berperan sebagai Lek Ghofar, itu menawarkan minuman dan hidangan pada undangannya. Sambil kemudian diceletuki oleh pembicara itu. “Kok sepi, nggak ada yang endorse ni?” tanya Dahlia Citra, Co-Founder Narasi TV, salah satu pembicara kali itu. Citra ingin mengatakan bahwa kini bisnis dan dunia digital harus disikapi dengan kreatif. Termasuk angkringan Lek Ghofar. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Narasi TV.

Alumni Namche dan Fisipol UGM ini mengatakan cara mengonsumsi media kini telah berubah. Perkembangan teknologi begitu cepat. Meskipun konten banyak diproduksi, tiap hari tiap orang posting, “Sayangnya banjirnya konten digital tidak dibarengi dengan konteks,” katanya.
Prank misalnya, “konten tutorial masih mending, tapi prank (seperti) itu (saja) jutaan penontonnya. Maka narasi hadir untuk memberi konten yang punya konteks. Edukatif.”

Ada tiga nilai yang Narasi TV usung dalam konten-kontennya: Antikorupsi, Toleransi, dan Partisipasi. Nilai itu pula yang mewujud dalam mantra 3C seperti Content, Collaboration, Community. “Kami tidak harus pakar di semua bidang, kolaborasi yang utama.”

Kalau soal kecepatan semua TV sudah hadir seperti detik. Bedanya, kalau kami memberi konteks. Misalnya. Narasi newsroom hadir menjelang pilpres hadir menangkap dan memberi konteks atas curent isue. Semua TV mengadakan debat pilpres. “Kami berpikir bagaimana caranya dedek-dedek ini mau pakai kuotanya buat nonton Narasi TV. Kami bikin Nobar debat pilpres di bioskop 21 bersama Narasi TV waktu itu.”

“Adek-adek, kalau bikin konten harus kolaborasi. Mereka yang diajak bisa dapat exposure, dikenal, aspirasinya masuk. Kontennya pun jadi,” saran Citra. Itulah yang membuat narasi punya daya kreasi magis. Bagaimana caranya?

 

Sabtu, 30 November 2019, seluruh staf Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII bergabung bersama seluruh warga akademik FPSB UII di Hotel Santika, Jalan Surdirman, Yogyakarta. Pada hari itu, sekira 7 orang staf seharian mereka menjajal kemampuan menulis artikel. Tak tanggung-tanggung, artikel yang ditulis adalah artikel untuk kepentingan dakwah.

Acara yang diselenggarakan oleh jajaran pimpinan FPSB itu mendorong para tenaga akademik untuk ikut berdakwah. Salah satunya dengan cara menulis. Acara bertajuk Workshop Menulis Artikel Dakwah itu dipandu Muchamad Abrori dari UIN Sunan Kalijaga. Abrori akan berlaku sebagai redaktur dalam acara tersebut. Sebelumnya seluruh staf tendik sudah diminta untuk memilih judul, dan menulis untuk dikumpulkan saat pelatihan menulis.

Ada banyak judul artikel dakwah bermunculan. Temanya beragam. Misalnya ada tema tentang berbakti pada orang tua, keikhlasan, menolak riba, silaturahmi, dan tema-tema lain yang dipilih berdasarkan kemampuan dan kapasitas masing-masing staf. Pada akhirnya nanti, semua tulisan akan dikompetisikan. Tulisan terbaik akan mendapatkan penghargaan dan dapat masuk dalam jajaran tulisan terbaik yang diunggah pada laman web FPSB UII.

Di tempat yang berbeda, dosen-dosen Komunikasi UII bersama dosen se-FPSB UII juga mengikuti workshop dakwah serupa. Bedanya, jika tenaga akademik berlatih dakwah bil qolam, menulis artikel dakwah, dosen-dosen melatih kelancaran public speakingnya sebagai alat dakwah bil lisan. Pelatihan Public Speaking dipandu oleh Imam Mujiono, pakar public speaking kenamaan dari FIAI UII.

Pada 28 November 2019 telah terlaksana Kuliah Umum dengan tema How To Create Impactful Media di Auditorium Prof. Abdul Kahar Mudzakkir UII. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 500 mahasiswa dan akademisi ini menggaet Dahlia Citra dan Duo Budjang dari Narasi TV sebagai pembicara. Kegiatan atas inisiasi Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII ini dibuka oleh Dr. Drs. Rohidin, M.Ag., Wakil Rektor 3 UII.

Dalam sambutannya, Rohidin menekankan bahwa saat ini sangat susah meninggalkam internet. Akibatnya berdampak pada kehidupan sosial keseharian. “Begitu pentingnya, adek-adek saya mahasiswa berkata, lebih baik tidak makan daripada tidak punya kuota,” katanya disambut gelak tawa hadirin yang kebanyakan mahasiswa. Kata Rohidin, menurut data APJII, ada 30 Juta pemakai internet di Indonesia. Ini memnunjukkkan bahwa paparan internet begitu kuat sekali. “Kondisi ini harus terus dikaji dampak positif dan negatifnya,” kata Rohidin kemudian.

Acara yang dilaksanakan bekerjasama dengan Humas UII ini juga dimulai dengan penyerahan cinderamata dari UII pada perwakilan Narasi TV. Lalu juga ada pemberian Kenang-kenangan dari Narasi TV untuk UII. Acara dilanjutkan dengan foto bersama dan diskusi pemaparan bagaimana memproduksi media yang berdampak dipandu oleh moderator. Sedangkan Duo Budjang, terdiri dari broadcaster Mario dan Eda yang selama ini berkecimpung di Prambors Radio dan Narasi TV, mengemukakan beda antara Radio, Youtube, dan Podcast. Sebagai poscaster, Duo Budjang mendorong mahasiswa UII untuk bangga dengan konten lokal dan berani produsi podcast dengan konten lokal. “Setiap kalian adalah expert di bidang yang kaliah geluti,” kata Mario menyemangati.

sertifikat akreditasi Komunikasi UII 20192024

Berikut Ini adalah Sertifikat Akreditasi Prodi Ilmu Komunikasi FPSB Universitas Islam Indonesia (2019 – 2024) atau unduh di tautan berikut.

 

sertifikat akreditasi Komunikasi UII 20192024

Sudah sejak lama banyak media yang bermain api. Mereka hanya memberitakan konflik yang terjadi antar suporter dan tim sepak bola. Akibatnya, bukan solusi, melainkan friksi semakin membesar. Begitulah diskursus yang mencuat pada diskusi “Media dan Sepak Bola: Perspektif Media Massa dalam Melihat Rivalitas Sepak Bola Indonesia”.

 Diskusi ini diadakan di Halaman Parkir Student Area depan Gedung Unit 18 Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII. Diskusi media & sepak bola yang berlangsung pada 22 November 2019 ini menghadirkan Narayana Mahendra, Dosen Komunikasi UII, dan FX Harminanto, Jurnalis Kedaulatan Rakyat. Mereka adalah dua orang yang dipercaya sebagai pembicara oleh Panitia Diskomunikasi Komunikasi UII dan Militansi 04 dalam rangkaian Sesasi Diskomunikasi 2019. 

FX Harminanto, wartawan KR, yang jadi pembicara diskusi kali itu mengatakan bahwa rivalitas tetap penting dalam olahraga dan kehidupan supporter. “Rivalitas itu harus diimbangi dengan literasi. Jangan kurang baca. Saya pesan, mulai nanti share ke teman yang lain, harus share berita bola secara utuh. Bukan tidak dibaca tapi asal share,” katanya menanggapi berita konflik supporter dalam peristiwa sepak bola di Indonesia belakangan ini.

Sedangkan Narayana Mahendra Prastya, Dosen Komunikasi UII, spesialis klaster jurnalisme dan komunikasi olahraga, mengatakan tiap wartawan mungkin punya pemahaman berbeda-beda. “Supporter di kampus harus melakukan kritik dan jalurnya sesuai hukum. Memang prosesnya lebih lama daripada membalas sebuah kebencian dengan cara yang lebih kejam,” ungkapnya.

Diskusi dihadiri  mahasiswa komunikasi UII, perwakilan supporter, dan beberapa tamu undangan yang concern pada isu media dan sepakbola di Indonesia.

Alkausar misalnya, salah satu peserta mahasiswa Komunikasi UII, mencoba memertanyakan soal mengapa media tidak menggunakan Jurnalisme Damai dalam tiap peliputan konflik suporter dan laga sepak bola. “Untuk jurnalisme damai dalam media itu gimana seharusnya? Kalau kasusnya ada suporter yang meninggal, kalau kita hanya mencari yang salah, maka sampai kapan, tidak akan ada yang selesai. Bagaimana jurnalisme damai digunakan?” Kata Al, panggilan Alkausar.

Jurnalisme damai memang digunakan sering dalam konflik atau peperangan, kata Narayana. Rusuh suporter sepak bola bisa dilihat sebagai bencana sosial, dan ,”jurnalisme damai itu bisa digunakan sebenarnya,” kata Narayana. Belum ada media yang mengarahkan,”ini penting lho suporter ini dengan ini berdamai,” sambungnya.

Narayana menambahkan bahwa pemberitaan tentang suporter jangan berhenti soal sanksi. Tetapi media juga tak bisa menunggu soal fakta ini, perlu riset, perlu menggali.

Memang kecenderungannya media sering berhenti di sanksi dan konflik, kata FX Harminanto.  Menurutnya, ini disebabkan media sekarang dituntut cepat, dan yang paling cepat dimintai keterangan tentu kepolisian. “Belum sampai ke solusi harusnya gimana,” katanya menganalisis. Jika media berniat menuju ke sana butuh riset yang mendalam. “Sekarang kan media olahraga kebanyakan daring ya, dan klaim gaji kan dari jumlah berita yang dibikin. Jadi memang sulit bikin berita yang mendalam.”

Meski begitu, FX Harminanto menambahkan hal itu akan jadi masukan untuk dirinya dan media, “Jangan sepak bola hanya jadi komoditas.” 

Communication Field Trip (CFT) Tahun ke 12 kini menuju Jakarta lagi. CFT adalah kegiatan rutin HIMAKOM tiap tahun yang diikuti oleh mahasiswa komunikasi UII untuk mempelajari dunia industri dari dekat. Kegiatan ini dilaksanakan pada 7-8 November 2019. Kunjungan kali ini menimba banyak ragam pembelajaran dari beragam industri media dan komunikasi.

Pertama, Peserta mengunjungi kantor KOMPAS TV. Di sana, dengan didampingi Ratna Permata Sari, Dosen Komunikasi UII, dan Annisa Putri Jiany, Staf International Program (IP) Komunikasi UII, mereka bertemu juga dengan alumni Komunikasi UII yang kini berkiprah di sana. Kedua, para peserta CFT kali ini berkunjung ke tempat yang tidak biasa dilakukan pada agenda CFT tahun-tahun yang lalu. Misalnya, kunjungan ke Kementrian Pariwisata, dan kunjungan ke Remotivi, sebuah lembaga pusat kajian media dan komunikasi.

Remotivi ( @remotivi.or.id ) adalah salah satu organisasi non pemerintah (NGO/ Non Goverment Organization) yang sangat fokus dan termasuk gencar melakukan kajian media, pemantauan media (media watch) di Indonesia. Mahasiswa komunikasi UII jadi paham dunia aktivisme juga penting sebagai kontrol terhadap berjalannya demokratisasi media di Indonesia seperti yang dilakukan Remotivi. Meski sudah hampir tiap tahun berkunjung ke NET TV, tetapi kali ini tujuannya berbeda: Ini Talkshow. Banyak pengalaman yang didapat, misalnya peserta belajar bagaimana pola kerja yang dinamis di industri swasta seperti Kompas TV dan NET TV. Lalu juga belajar komunikasi strategis di lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam melakukan kampanye dan advokasi sosial.

Fikri Alkausar, Sekjend Himakom UII, mengatakan memang baru pertama di CFT tahun ini ada kunjungan ke NGO dan Kementerian Pariwisata. “Tujuannya biar seimbang saja, antara industri dan aktivisme sosial. Kalau dulu sering ke industri terus, saat ini ada ke NGO supaya peserta juga paham soal dan problem sosial dan aktivisme sosial.”

Selain bertandang ke beberapa wadah praktisi berkegiatan, yang beda pada kesempatan kali ini adalah para peserta juga mengagendakan melakukan pertemuan temu alumni yang tergabung dalam Relasi UII, sebuah wadah alumni komunikasi UII. Relasi UII adalah kependekan dari Ruang Interaksi Alumni Komunikasi Universitas Islam Indonesia. Selain belajar dari praktisi sosial dan swasta, mereka juga tetap menjaga jejaring dengan alumni almamater.

lanjutan dari Pergi Ke Singapura Dengan Montor-Montor Cilik (1)

Imam juga paling berpikir keras soal masalah biaya. Butuh biaya yang tak sedikit untuk persiapan, keberangkatan dan biaya hidup di Singapura. “Segan minta orang tua, dan nggak pengin ngerepotin,” ungkapnya. Imam, yang juga pernah ikut kegiatan komunitas foto Klik18 dan MUN, ini mengaku, sampai berdebat dengan orang tua soal itu, “tapi alhamdulillah semuanya sudah teratasi dengan baik.” Menurutnya, triknya, ia melakukan komunikasi dan diskusi baik-baik dengan orang-tua. “Terus ngasih tahu segala hal mengenai event-ya dan ngasih alasan kenapa mau ikut ke Singapore.” Imam berkata motivasinya ikut SICF ingin menunjukkan pada orang tuanya bahwa ia bisa berprestasi juga walaupun tidak dalam hal akademik.

Tak hanya individu, dalam skala tim, di internal PSM MV UII juga berhadapan dengan beragam tantangan yang tak mudah. Misalnya, cerita Imam, yang pertama tim harus hadapai masalah dana juga. Kebutuhan dana tinggi, “jadi terpaksa yang ikut lomba harus mengeluarkan biaya yang cukup besar, dan ada beberapa anak yang tidak membayar karena masalah keluarga dan lain-lain.” Untungnya, sambung Imam, “dari Univ (UII) beri dukungan berupa dana,” katanya, sehingga dapat membantu meringankan beban dana dan membantu beberapa orang yang tidak bisa membayar. Sebelum berangkat, dari rektorat UII menjadwalkan pertemuan, “dan saat ketemu kami diberi motivasi dan mereka membantu kami menenangkan pikiran dan hati.”

Yang unik, PSM MV UII membawa lagu-lagu dengan nilai-nilai daerah yang belakangan hampir tenggelam oleh lagu pop dan lagu mancanegara. PSM UII, kata Fakhriyah Fatin, Ketua PSM MV UII, pada Humas UII, mereka maju ke SICF di kompetisi dengan dua kategori lagu: Mixed Voice (Category B2) dan Folklore. Masing-masing 6 peserta untuk kategori Mixed Voices dan 19 peserta untuk kategori Folklore.

Lagu-lagunya legendaris, bermuatan dakwah, dan beberapa sangat lokal. Lagu yang dinyanyikan misalnya “Ya Muhammad SAW”, “Zigeunerleben”, “Mae-e” untuk Mixed Voice. Lalu di kategori folklore ada lagu-lagu daerah di Indonesia yang legendaris seperti “Montor-Montor Cilik” yang pada jaman dulu sempat populer dan digubah oleh Ki Narto Sabdo. Ada juga lagu yang populer dari tanah papua, yang dulu sempat dipopulerkan grup band Rock asal Papua “Black Brothers” berjudul “Diru-Diru Nina”. Tak hanya itu, menarik juga mendengar sajian langsung Miracle Voice UII membawakan lagu khas Kalimantan Selatan bertitel “Paris Barantai.” Dengan lagu-lagu legenda seperti Montor-Montor Cilik dan Diru Diru Nina inilah gerbong PSM pergi ke Singapura meraih Golden Award dengan nilai 80,77.

Imam merasakan mendapat banyak manfaat dari aktivitas kemahasiswaan seperti PSM ini. Selain merasakan atmosfer kekeluargaan, ia juga banyak belajar mengenai olah vokal, konser, dan kompetisi. Selain itu, ia di PSM secara tidak langsung juga belajar soal karakter, pengembangan diri, dan manajemen. “Kan di PSM bukan cuma sekedar nyanyi doang tapi belajar organisasi juga.” katanya. “Saya ingin memanfaatkan hobby saya agar menghasilkan prestasi yang dapat membanggakan kampus orang tua dan negara.”

Imam berharap semoga Ilmu Komunikasi UII semakin maju dan dikenal di seluruh dunia. Imam juga berpesan walaupun tidak bisa berprestasi di bidang akademik, “Carilah hal atau bidang yang kamu kuasai dan jadikanlah hal tersbut sebagai motivasi. Tekunilah bidang itu Insyaalloh ketika menjalani hal tersebut dan menghadapi masalah dalam bidang itu kalian akan tetap tenang dan bahagia,” pesannya. Mimpi Imam katanya, ia berharap bisa membawa PSM menduduki peringkat tertinggi di setiap perlombaan. “Sehingga orang mengakui kita dan menunjukan bahwa universitas islam pun bisa memenangkan perlombaan seni bernyanyi dunia,” tutupnya.