Kalangwan Inggil dan Sindu Aji asyik memperhatikan Ali Minanto dan M. Iskandar T. Gunawan menjelaskan materi fotografi jurnalistik sore itu. Bahkan keduanya juga aktif merespon lontaran-lontaran pertanyaan dari Ali. Misalnya saat itu Ali Minanto, salah satu pemateri yang juga Dosen Komunikasi UII, itu bertanya tentang pengetahuan foto dan fungsi foto pada peserta.

“Apakah ada yang punya Paspor?” tanya Ali Minanto.

“Saya pak,” jawab Sindu.

Katanya, ia akan pergi ke Bangkok untuk memaparkan hasil penelitiannya. Jawaban itu menjelaskan maksud Ali melempar pertanyaan tersebut. “Fungsi foto kan bisa sebagai informasi, dokumentasi, dan artistik. Nah, Foto dalam paspor kan itu fungsinya memberikan informasi identitas seseorang,” jelas Gunawan, salah satu pemateri Pelatihan kali itu.

“Siapa yang tahu genre-genre foto? Apakah ada yang biasa menerapkan genre-genre itu?” tanya Ali juga.

Kali ini Alisha Bahira dan Alang, nama panggilan Kalangwan, yang angkat suara. Menariknya adalah pernyataan Alang. Alang mengatakan bahwa ia sering dan biasa menerapkan street photography dalam aktifitas fotografi sehari-harinya. Ali dan Gunawan menyimpulkan, dari jawaban-jawaban ini menunjukkan beberapa peserta sudah bukan di level dasar lagi pengetahuan fotografinya.

Alang dan Sindu adalah dua dari 26 pelajar SMPN 4 Pakem yang mengikuti Pelatihan Fotografi Jurnalistik dengan Ali dan Gunawan sebagai mentor. Para peserta adalah pengelola ekstra kurikuler (ekskul) jurnalistik di sekolahnya. Pelatihan yang dihelat pada 23 Januari 2020 ini bertujuan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan foto jurnalistik pada redaksi buletin klub jurnalistik sekolah. “Selama ini kan mereka lebih ke keterampilan menulis, nah pelatihan ini mau dikuatkan skill fotonya,” kata Gunawan.

Tak hanya pemaparan dan diskusi foto, pelatihan juga dilengkapi dengan praktik foto dengan menggunakan ponsel pintar. SMP yang punya konsep sekolah berbasis digital ini membuktikan kelihaiannya. Para peserta diminta ambil gambar dan diunggah dengan tagar yang telah disepakati. “Hasilnya  mengejutkan, ada yang bagus, sudah ada yang sangat lihai main teknik ruang tajam sempit (depth of field), komposisi, dan framing yang bagus,” ungkap Gunawan.

Desyatri Parawangsa, salah satu staf Laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi UII, yang ikut mendampingi siswa-siswi praktik juga mengaku takjub dengan apresiasi dan antusiasme para peserta. “Mereka memperhatikan, bertanya, diskusi, dan mau ikut terjun praktik,” kata Desya. Sebuah kemewahan yang jarang ditemui di kelas mahasiswa bahkan, kata Gunawan. “Mereka mau tampil bicara di depan. Untuk mental SMP udah sangat bagus,” tambahnya.

Senada dengan Desyatri, Gunwan mengamini tim dari Prodi Komunikasi UII juga takjub dengan performa siswa-siswa ini. “Kami pikir mereka belum paham, kami akan beri materi dasar. Ternyata ada yang sudah mahir, ada yang bawa kamera semi profesional juga,” tambahnya. Beberapa bahkan sudah mengerti soal segitiga exposure, komposisi, dan ada juga yang bisa menjelaskan pengoperasian dan bagian-bagian kamera,” sambung Gunawan.

Punggawa Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII juga meraup banyak pesan dan kesan dari para pelajar tentang jalannya pelatihan. Lewat ponsel masing-masing, mereka mengunggah kesan ke Mentimeter, aplikasi presentasi interaktif berbasis daring. Ada yang menulis,”Seneng, bisa belajar banyak hal tentang fotografi. Jadi tau macem-macem kamera dan caranya foto pake smartphone.” atau ada pula yang menulis bahwa pelatihan berjalan menyenangkan, seru, dan memberi banyak pengalaman yang tidak pernah didapatkan sebelumnya. Ada pula yang menulis kesan dari pelatihan ini menjadi banyak belajar tentang fotografi, melihat ekspresi orang dan tempat mana yang bagus dan indah untuk didokumentasikan.

Oleh Rachmat Arya Prayuda, Anindya Karina Putri, M Ikhsan Mahendra, Rahadyan Pakci Asmarandika (Mahasiswa Komunikasi UII)

 

Lupus Eritematosus Sistematik merupakan penyakit autoimun dengan pembentukan antibodi antinukleus (ANA), terutama terhadap double-stranded DNA (Anti ds-DNA). Pada LES terjadi inflamasi, vaskulitis, deposisi, kompleks imun, serta vaskulopati yang luas, dengan manifestasi klinis yang bersifat episodik dan multisistem. Sederhananya, lupus adalah penyakit autoimun dimana yang seharusnya melindungi tubuh mengalami miss fungsi sehingga menyerang organ tubuh sendiri.

Penderita lupus atau orang dengan lupus (Odapus) didominasi oleh wanita dengan perbandingan 10:1 untuk penderita wanita dan laki-laki. Lupus kabanyakan menyerang wanita di usia produtif dengan rentan usia 15-40 tahun. Gejala lupus termasuk beragam sehingga tak heran penderita lupus di-awali dengan diagnose yang salah. Ketika tubuh penderita lupus melemah, lupus dapat kambuh dan penderita harus menkonsumsi banyak obat yang salah satu akibat dari konsumsi obatnya adalah wajah mereka menjadi membengkak. Maka dari itu lupus disebut dengan penyakit seribu wajah.

Komunitas Lupus sudah berdiri di wilayah jogja dan jawa tengah sendiri. Salah satunya adalah Sahabat Cempluk. Komunitas yang awalnya berdiri dengan nama Sahabat Kupu ini merupakan komunitas support system bagi odapus-odapus yang ada di Jogja. Sahabat didirikan oleh Ian Sofyan yang juga merupakan seorang odapus. Dalam struktur kepengurusan Sahabat Cempluk hanya berisikan empat orang yaitu Ketua (founder), dua orang mahasiswa yang juga odapus, dan satu orang lagi yang merupakan orang tua dari odapus. Biasanya Sahabat Cempluk menemani dan memberikan support (baik materi mau pun non materi) bagi pasien-pasien yang rawat inap di Rumah Sakit Sardjito Jogjakarta.

Sahabat Cempluk juga sering mengadakan program untuk kampanye lupus. Program berfungsi juga untuk memberi bantuan kepada odapus dari hasil pelaksanaan program mereka. Salah satu programnyaadalah Cempluk Goes to School. Bentuknya, Sahabat Cempluk mendatangi sekolah dengan odapus yang bersekolah di sana.

Odapus tidak dapat menghindari efek-efek obat yang dikonsumsi. Terkhusus Odapus di usia remaja ke bawah mengalami hal-hal yang bukan hanya berdampak di fisik. Di sekolah-sekolah, anak anak odapus sering mengalami bully atau diskriminasi karena perubahan fisik yang sering dialami. Bukan hanya itu, mereka juga dibully karena sering izin sekolah dikarenakan harus dirawat inap di rumah sakit. Untuk itu edukasi kepada lingkungan Odapus menjadi sangat penting.

Selain itu odapus-odapus ini juga seringkali harus meninggalkan kegiatan belajar mengaar di sekolah karena keharusan untuk control ke dokter. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin ketinggalan akan pelajaran, belum lagi jika mereka harus opname dirumah sakit dalam waktu berhari-hari, seminggu, bahkan ada yang sampai sebulan dalam  beberapa kejadian. Tentu saja efek yang diterima tidak hanya sampai di sini saja, odapus-odapus juga mengalami demotivasi akibat ketinggalan pelajaran. Mereka juga merasa tertekan akibat perubahan dan penurunan fungsi tubuh mereka akibat efek dari obat yang membuat mereka tidak percaya diri. Salah satu hal yang paling tidak mengenkkan seperti yang telah dikatakan tadi adalah bully.

Cempluk goes to school diadakan untuk mengedukasi pelajar-pelajar terkhsus di lingkungan odapus agar mengerti ap aitu sebenarnya lupus dan bagaimana cara menyikapinya dengan benar. Cempluk goes to school juga diharapkan sebagai pembantu dalam mengupayakan awareness terhadap masyarakat tentang lupus. Sahabat Cempluk sendiri sebenarnya sudah pernah melaksanakan Cempluk goes to school sebelumnya, hanya saja acaranya berjalan kurang maksimal dan tidak ada kelanjutan Cempluk goes to school yang lainnya.

Program goes to school yang dijalani Sahabat Cempluk sebelumnya dinilai belum maksimal karena SOP dari program ini belum terbentuk dengan baik. Selain itu, hanya mengedukasi saja dirasa tidak cukup untuk memberikan dampak yang baik kepada odapus. Akan lebih baik jika program goes to school juga di campaign kan menggunakan media kreatif untuk memperluas jangkauan program ini. Dari program ini seharusnya juga dapat menjadi pembuka bagi Sahabat Cempluk untuk menciptakan sesuatu yang hasilnya dapat digunakan untuk membantu pengobatan bagi odapus atau hal-hal penting lainnya.

Sampai saat ini, akhirnya ada tiga sekolah yang berhasil didatangi oleh tim Cempluk goes to school yaitu SMK N 5 Yogyakarta, SMA N 1 Turi, dan SD N Bangunrejo 1 Yogyakarta. Perencanaan Cempluk goes to school dimulai dengan membuat list dari sekolah yang ada odapusnya dan akhirnya dipilihlah tiga sekolah tersebut. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari tahu atau membuat kontak dengan odapus yang sekolahnya ada di list untuk memastikan keadaan odapus itu sendiri. Jika odapus telah memberi konfirmas yang baik, maka baru beralih ke langkah selanjutnya yaitu membuat kontak dengan pihak sekolah yang dituju.

Sebelum membuat kontak dengan sekolah, tim harus menyiapkan proposal dan surat izin dahulu. Proposal yang dibuat digunakan untuk sekolah sebagai objek dan juga untuk calon mitra yang diharapkan memberi support pada kegiatan, bedanya proposal yang dikasih ke sekolah tidak dicantumkan anggaran biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan acara. Setelah itu surat izin dan proposal diberikan kepada sekolah untuk membuat kontak kepada humas sekolah atau bahkan kepala sekolah langsung guna membahas perihal acara yang akan dilakukan.

Berdiskusi dengan sekolah tidak membutuhkan waktu yang sedikit, tetapi juga membutuhkan waktu yang panjang karena kesibukan diantar kedua belah pihak. Untuk itu, sembari menunggu mendapatkan kata deal dengan sekolah, tim juga harus menyebarkan proposal kepada calon mitra untuk support acara Cempluk goes to school ini. Maka dari itu, anggara biaya haruslah dibuat dengan tepat dan matang agar kebutuhan acara nantinya dapat terpenuhi sebelum tiba di hari pelaksanaan. Sementara itu, dealing dengan sekolah sebagai mitra objek harus terus dilaksanakan baik itu lewat alat komunikasi jarak jauh atau bertemu tatap maka langsung dengan pihak sekolah.

Sebelum acara dimulai, tim harus membuat list untuk pra-event , event, dan after event. Untuk pra-event sendiri, hal-hal yang dibutuhkan adalah poster pra event, dan produksi marchendise Sahabat Cempluk. Marchendise yang di produksi sendiri ada pouch, booklet, dan gantungan kunci. Untuk poster ada dua poster yang harus disiapkan sebelum hari kegiatan acara dilaksanakan, yaitu ada poster pra-event dan poster edukasi tentang lupus. Poster pra-event berisikan informas tentang waktu-tempat-latar acara sedangkan poster edukasi berisikan tentang informasi umum mengenai lupus yang nantinya akan diserahkan kepada sekolah untuk ditempelkan di madding sekolah.

Pembuatan marchendise sendiri juga dilakukan sebelum hari kegiatan dilaksanakan. Terkhusus untuk booklet, dicetak dan didesain dengan sederhana dan menarik. Nantinya booklet ini berisikan tentang informasi deteksi lupus yang diharapkan murid-murid sebagai objek edukasi nanti akan memanfaatkannya dengan baik. Sementara itu, persiapan-persiapan seperti susunan kepanitiaan, susunan acara, kontak pembicara, perkembangan proposal, harus segera diselesaikan dengan baik sebelum hari pelaksanaan kegiatan tiba.

Acara kegiatan Cempluk goes to school dimulai dengan kata sambutan dari pihak sekolah sekaligus penyerahan dari pihak Sahabat Cempluk kepada sekolah. Setelah kata sambutan dan acara resmi dibuka, acara dilanjutkan dengan dikendalikan oleh pembawa acara dan langsung ke materi pertama yaitu edukasi lupus. Untuk edukasi lupus sendiri, tim mengundang anggota dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) yaitu Dr. Sumadiono dan Dr. Cahya. Kami mengundang Dr. Suma dan Dr. Cahya karena mereka memang berkompeten di dunia autoimun dan diharapkan dapat memberikan suasana kondusif kepada anak-anak sekolah.

Cempluk goes to school diisi dengan beberapa kali pemutaran video dan beberapa kali kuis agar suasana tidak begitu bosan. Video-video yang diputar mulai dari video informasi lupus hingga video testimoni para odapus dan kegiatan Sahabat Cempluk. Tim sudah menyiapkan banyak hadiah untuk siapa yang dapat menjawab pertanyaan kuis dengan benar. Biasanya disaat sedang ada kuis, dokumentator tidak boleh lengah untuk mendokumentasikan suasana anak-anak yang sedang bersemangat menjawab pertanyaan kuis, karena tentunya akan sangat sayang jika momen tersebut tidak tertangkap.

Acara terakhir dari Cempluk goes to school adalah games mengenai deteksi dini lupus. Games ini bertujuan untuk mengedukasi mereka mengenai cara mendeteksi lupus dengan gejala-gejala yang di keluarkan oleh pemerintah yaitu saluri (sadari lupus sendiri). Games ini juga kami harapkan dapat membuat anak-anak dapat mengkampanyekan gejala-gejala lupus dalam bentuk apapun seperti gambar, tulisan, audio, dan lain-lain. Ketiga sekolah yang dikunjungi memberikan kesan mendalaman selama kegiatan terkhusus acara games terakhir ini. SD N Bangunrejo 1 memberikan kesan tersendiri juga karena penanganan anak SD tidaklah sama dengan penanganan terhadap anak-anak SMA. Akan tetapi anak-anak SD N Bangunrejo 1 melampaui ekspektasi kami dan mampu membuat kami terpukau dengan kecerdasan mereka.

Setelah semua ketiga sekolah itu dikunjungi yang dilakukan adalah evaluasi untuk mengetahui dimana letak kekurangan acara Cempluk goes to school ini. Langkah yang dilakukan selanjutnya adalah merangkum semua kegiatan untuk perencanaan Cempluk goes to school mendatang seperti membuat SOP, membuat list sekolah tujuan, dan kebutuhan perlengkapan yang harus ditambah. Selain itu, hasil dokumentasi juga harus diolah agar dapat di publikasi di media social Sahabat Cempluk. Marchendise-marchendise yang sudah diproduksi juga akan di publikasi di media social guna mendapatkan keuntungan. Dengan demikian, acara Cempluk goes to school diharapkan akan terus dapat berjalan di sekolah-sekolah lainnya.


Seri Manajemen Komunikasi Non Komersil. Mulai Desember 2019 hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan-tulisan mahasiswa seri tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom. Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Karya ini adalah bimbingan Puji Hariyanti dan suntingan A. Pambudi W.

 

 

Batik adalah salah satu warisan kebudayaan Indonesia. Keberadaan batik seolah-olah menjadi magnet bagi wisatawan. Para wisatawan tidak hanya menyasar pada batik-batik yang sudah jadi. Proses pembuatan batik juga tidak kalah menarik dibanding batik itu sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah orang-orang yang menekuni batik semakin menurun. Yang tersisa hanyalah segelintir orang yang memang menekuni batik, dan orang-orang yang hanya sekadar tahu tentang membatik. Ini semua tidak terlepas dari semakin tergerusnya budaya lokal dengan hadirnya budaya asing. Kekhawatiran kami adalah eksistensi batik yang telah diwariskan secara turun temurun mungkin secara perlahan akan menghilang.

Warga Desa Bawukan, khusususnya anggota PKK adalah masyarakat yang aktif dan memiliki antusiasme yang tinggi untuk terus berkarya. Keaktifan dan antusiasme ini dibuktikan dengan sambutan yang hangat dari perwakilan PKK tersebut ketika kami menawari mereka sebuah kegiatan yang sifatnya memberdayakan. Ibu Kepala Desa yang memberikan senyuman ditambah dengan tutur kata halus mewarnai pertemuan pertama kami dengan sosok ibu paruh baya tersebut.

‘Bawukan Membatik’ adalah sebuah ‘paket komplit’ yang kami tawarkan dalam rangka menjawab antusiasme dan keaktifan yang mereka miliki. Kegiatan ini juga lahir dari kekhawatiran kami mengenai warisan budaya nusantara yang mulai tergerus zaman, khususnya batik. Kenapa kami sebut ini sebagai paket komplet? Alasannya bukan hanya memberi pelatihan dasar mengenai cara membatik, tapi bagaimana cara mempromosikan batik yang sudah dihasilkan. kami berharap kegiatan ini mampu memberikan dorongan agar masyarakat mampu menghasilkan karya-karya yang bisa bersaing dengan produk-produk lain di luar sana.

Kami adalah orang-orang yang mencintai batik. Tapi kami bukanlah pembatik profesional. Untuk itu, kami menggaet Batik Purwati sebagai mitra guna memberikan pelatihan dan bimbingan membatik kepada ibu-ibu PKK. Selain memang berpengalaman dalam membatik, tentu saja Batik Purwati jauh lebih berkompeten di bidang ini. Oleh karena itulah, kami menjadikan Batik Purwati sebagai mitra, dengan harapan pihak mereka mampu berbagi pengalaman berkaitan dengan membatik.

Rangkaian kegiatan pertama dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 November 2019. Sebagaimana kegiatan pertama kali lainnya. Kegiatan dimulai dengan tatapan bingung dan senyuman canggung dari panitia maupun peserta pelatihan. Maklum, kami belum terlalu mengenal satu sama lain sebelumnya.

Bagaimanapun semuanya pasti butuh penyesuaian.

Hari itu pelatihannya adalah mengenai pembuatan batik tulis. Hal-hal dasar mengenai membatik disampaikan dengan sangat baik oleh mitra kami, Batik Purwati. Pada pelatihan kali ini, disampaikan mengenai wawasan batik tulis, membuat pola dan mencanting malam pada kain yang telah dibuat pola. Ibu-ibu PKK dikenalkan berbagai hal mengenai membatik, mulai dari sejarahnya, wawasan mengenai pola-pola batik populer di Indonesia, dan sebagainya.

Dalam kegiatan hari ini ibu-ibu PKK juga diminta untuk langsung mempraktikkan ilmu membatik yang telah disampaikan. Di antara semua proses, mencanting malam pada kain adalah bagian tersulit. Dan disinilah semua keseruan bermula. Panitia dan peserta yang awalnya saling canggung, mendadak akrab dan saling berbagi tawa dikarenakan kelucuan yang dihasilkan dari kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh ibu-ibu PKK saat mengoleskan malam pada kain. Semua itu tidak membuat ibu-ibu PKK kehilangan semangat untuk meneruskan belajar membatik. Justru itu semua menjadi bahan bakar yang memacu semangat mereka untuk terus maju.

Kami menyadari bahwa satu hari bukanlah waktu yang cukup bagi siapapun untuk bisa belajar membatik. Maka pelatihan mengenai membatik dilanjutkan pada pertemuan kedua pada Sabtu, 23 November 2019. Melanjutkan dari materi sebelumnya, kali ini pelatihan berisikan materi tentang mewarnai kain dan me-lorod  kain yang telah dilapisi dengan malam.

Sama seperti pertemuan pertama, ibu-ibu PKK mendengarkan pemateri dengan serius dan penuh perhatian. Setelah semua materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik materi yang telah disampaikan sebelumnya. Masih seperti hari pertama, masih banyak kekurangan dimana-mana. Namun, ketelatenan dan kesabaran yang ditunjukkan oleh ibu-ibu PKK Desa Bawukan patut untuk mendapat apresiasi.

Pada pertemuan ketiga, kami berpindah dari materi tentang membatik ke pelatihan fotografi hasil-hasil membatik. Berbeda dari dua pertemuan sebelumnya, kali ini, selain melibatkan ibu-ibu PKK Desa Bawukan, para pemuda juga dilibatkan pada kegiatan kali ini.

Alasannya adalah untuk mendorong adanya kerjasama anatara semua kalangan di Desa Bawukan. Kami berharap ibu-ibu bisa menghasilkan karya-karya batik dengan kualitas yang baik dan pemuda bisa membantu promosi dengan hal yang berkaitan dengan teknologi.

Kegiatan yang diadakan pada 30 November 2019 ini diisi dengan pelatihan terkait fotografi yang disampaikan oleh perwakilan Klik18 – Sebuah komunitas fotografi milik Program Studi Ilmu Komunikasi UII – bernama Marcellino Bima, atau yang akrab dengan sapaan Marcel. Para peserta diberikan materi mengenai dasar-dasar fotografi seperti angle, pencahayaan, dan lain sebagainya. Setelah itu, sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik. Hasilnya luar biasa, foto yang dihasilkan dari jepretan peserta telah melampaui ekspektasi kami. Kami tidak terlalu yakin apakah sebelumnya peserta sudah pernah mendapat pelatihan serupa terkait fotografi. Namun yang jelas, kualitas foto yang dihasilkan sudah cukup untuk dijadikan sebagai sarana promosi.

Pertemuan kali ini dilanjutkan dengan pelatihan mengenai digital marketing. Setelah semua proses dilewati, mulai dari membatik, memotret hasilnya, tentu saja itu semua tidak akan terlalu memiliki dampak yang signifikan tanpa adanya publikasi.

Selain pelatihan mengenai publikasi, pelatihan untuk mem-branding produk juga dilaksanakan. Untuk itu, sekaligus menutup rangkaian acara, pelatihan manajemen media sosial pun dilaksanakan. Muhammad Alfian menyampaikan menjadi pemateri. Ibu-ibu PKK dan para pemuda mendengarkan dengan semangat yang sama seperti pada pertemuan pertama.

Seluruh rangkaian acara diakhiri dengan cara yang selalu dilakukan di setiap acara pada umumnya: sesi foto-foto. Baik kami maupun para peserta dari Desa Bawukan sadar bahwa pelatihan ini memang masih sangat jauh dari cukup. Tentu saja, dengan berakhirnya rangkaian kegiatan yang kami adakan, bukan berarti proses belajar membatik dan publikasi di Desa Bawukan akan berakhir pula. Antusiasme dan semangat yang ditunjukkan sejak awal hingga akhir kegiatan menjadi harapan bahwa tanpa kami pun, masyarakat Desa Bawukan, khususnya ibu-ibu PKK dan para pemuda akan terus berkarya.


Seri Manajemen Komunikasi Non Komersil. Mulai Desember 2019 hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan-tulisan mahasiswa seri tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom. Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Karya ini adalah bimbingan Puji Hariyanti dan suntingan A. Pambudi W.

 

 

 

Sekelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi FPSB Universitas Islam Indonesia mengadakan serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan ini dinamakan Rangkul Ceria. Nama Rangkul Ceria bertujuan agar mahasiswa dapat merangkul anak-anak untuk ceria bersama. Rangkul Ceria merupakan program sosial yang diadakan di Yayasan Sayap Ibu 2 Yogyakarta. Acara digelar dengan beberapa kegiatan. Misalnyapenyuluhan gaya hidup sehat dan praktik cuci tangan yang benar. Selain itu Rangkul Ceria juga melatih kreatifitas anak-anak dengan melukis pot bunga. Setelah melukis, anak-anak diajak menanam tanaman obat pada pot yang telah mereka lukis. Ada juga pertunjukan dongeng cerita tradisional dan beberapa fun games sebagai pelengkap acara.

Program ini bekerjasama dengan beberapa komunitas untuk mewujudkannya. Komunitas-komunitas itu misalnya Komunitas Teh Tarik Rasa Vanta dan Komunitas Lebah Ceria. Lokasi pelaksanaan program kami pilih di Yayasan Sayap Ibu 2 Yogyakarta. Yayasan Sayap Ibu kami pilih karena yayasan ini merupakan lembaga dengan anak-anak disabilitas/ difabel yang tentunya membutuhkan banyak perhatian dan pembelajaran. Rangkaian kegiatan seperti diatas juga dipilih karena untuk memperingati beberapa peringatan nasional maupun internasional.

Anak-anak Yayasan Sayap Ibu 2 dan 3 Yogyakarta berjumlah sekitar 33 orang. Mereka terbagi menjadi tiga kategori yaitu mampu rawat, mampu didik dan mampu latih. Mampu rawat adalah kategori anak-anak yang memiliki disabilitas ganda dan hanya mampu dirawat oleh Yayasan. Mereka sulit dalam berinteraksi. Mampu didik dan mampu latih adalah kategori anak-anak yang mampu diberi keterampilan dan disekolahkan oleh Yayasan. Anak-anak dalam kategori ini memiliki disabilitas ringan atau satu jenis disabilitas. Program Rangkul Ceria ini diikuti oleh 18 anak gabungan Yayasan Sayap Ibu 2 dan 3 yang masuk dalam kategori mampu didik dan mampu latih.

Program ini berlangsung selama tiga pekan setiap hari sabtu, Pada minggu pertama, 16 November 2019, kegiatan kami beri tajuk “Rangkul Hidup Sehat.” Rangkaian kegiatan terdiri dari penyuluhan gaya hidup sehat dan praktik cuci tangan dengan benar.

Kegiatan ini bekerja sama dengan komunitas Lebah Ceria. Komunitas ini merupakan komunitas yang fokus pada kesehatan tubuh dan gizi anak. Pada pertemuan pertama ini, Komunitas Lebah Ceria mengajak anak-anak ikut senam sehat, praktik cuci tangan serta fun games sebagai pelengkap acara. Ada juga acara talkshow interaktif. Pemilihan rangkaian kegiatan ini diadakan bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada 12 November 2019.

Minggu kedua,pada 23 November 2019, kami beri tajuk “DORA (Dolanan Anak Rangkul)” dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional pada tanggal 20 November 2019. Rangkaian kegiatan dibuka dengan senam sehat yang diikuti seluruh anak-anak. Kemudian acara dilanjutkan dengan kegiatan melukis pot sesuai dengan kreasi masing-masing. Melukis pot juga diselingi dengan fun games. Anak-anak dibiarkan berkreasi dengan berbagai warna cat dan menuangkan imajinasinya kedalam pot bunganya masing-masing.

Kemudian pada minggu terakhir pada 30 November 2019, rangkaian kegiatan dirancang mulai dari menanam tanaman obat pada pot yang telah dilukis pada minggu lalu, hingga menonton pertunjukan dongeng. Jenis tanaman obat yang ditanam ada empat macam. Misalnya, kumis kucing yang berfungsi sebagai obat darah tinggi, lalu daun ungu yang berfungsi untuk menyembuhkan wasir, brojolintang sebagai obat penurun panas, dan temulawak sebagai peningkat nafsu makan.

Setelah menanam pohon obat, kemudian anak-anak menyaksikan pertunjukan dongeng cerita daerah rakyat Bali yang berjudul I Belog. Pertunjukan ini adalah hasilkerjasama Rangkul Ceria dengan komunitas dongeng Teh Tarik Rasa Vanta. Instrumen yang digunakan pada saat mendongeng adalah boneka, ukulele dan nyanyian. Dan juga ditutup oleh kegiatan pentas seni yang ditampilkan oleh anak-anak yayasan, seperti menari, menyanyi dan baca puisi.

Program ini memberikan poster-poster cuci tangan yang ditempel di beberapa wastafel di sekitar Gedung Yayasan Sayap Ibu. Poster juga dilengkapi sabun cuci tangan dan lap agar anak-anak dapat terus menerapkan ilmu yang telah dipelajari. Tanaman obat juga disimpan di pekarangan bangsal putra yang sebelumnya gersang. Kami juga memberikan sembako dan kebutuhan sehari-hari yang sangat dibutuhkan oleh yayasan. Sebagai penutup, kami memberikan kenang-kenangan juga berupa rangkuman rangkaian kegiatan selama tiga minggu.

 


Seri Manajemen Komunikasi Non Komersil. Mulai Desember 2019 hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan-tulisan mahasiswa seri tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom. Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Karya ini adalah bimbingan Puji Hariyanti dan suntingan A. Pambudi W.

 

             Teman-teman IPM Madrasah Mu’allimin Yogyakarta baru saja melahirkan Bidang Media mereka pada tahun 2019. Hal ini membuat kami memiliki inisiatif untuk membuat sebuah kegiatan berupa edukasi media. Gunanya untuk memberi mereka pengetahuan mengenai hal-hal tentang media, terutama media dalam organisasi. Di antaranya pemahaman terkait apa itu media, bagaimana media berperan, fungsi dan posisi media di dalam organisasi.

Program ini adalah berbentuk pelatihan dan edukasi terkait hal-hal yang mereka butuhkan dalam bidang media. Kami menggunakan beberapa metode dalam pelatihan, seperti sosialisasi, workshop dan Diskusi Kelompok Terarah (Focussed Group Discussion/ FGD). Pemateri-pemateri yang hadir adalah Komisi B HIMAKOM (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII) UII sebagai pemateri terkait pemahaman media dalam organisasi,dan komunitas/ klub mahasiswa di  Komunikasi UII sebagai pemateri terkait pengetahuan fotografi, editing video dan lainnya.

Program yang terbagi menjadi empat pertemuan ini dimulai dengan pertemuan pertama yang membahas tentang pengolahan konten di media social. Materi ini diampu oleh sub-komisi Kominfo dan Kewirausahaan dari Komisi B HIMAKOM . Materi kali ini disambut baik oleh para pelajar pengelola Bidang Media di IPM Mu’allimin. Mereka merasa bahwa materi ini memang diperlukan.. Pertemuan kedua dilanjutkan dengan pembahasan mengenai dasar fotografi dan videografi. Sadar akan estetika sebuah konten itu penting, materi ini mencoba untuk lebih mengenalkan teori fotografi dan videografi kepada para peserta agar karya foto dan video mereka berikutnya menjadi lebih baik

Materi di pertemuan ketiga tentang Web dan Dasar penulisan. Materi ini penting untuk dibagi agar dalam melengkapi sebuah konten, peserta dapat menuliskan sebuah keterangan dengan tepat. Pertemuan terakhir diakhiri dengan materi podcast. Podcast memang sebuah hal baru, namun secara fungsi, podcast dapat dijadikan sebuah media penting untuk menyampaikan apapun dalam bentuk suara.

Pada akhirnya, output yang dihasilkan cukup beragam. Dimulai dari teman-teman IPM yang membuat sebuah essay mengenai empat materi yang telah diberikan. Salah satu contoh adalah di instagram mereka sudah mulai mengaplikasikan salah satu materi dari pengolahan konten. Ini merupakan sebuah kemajuan yang dilahirkan oleh bidang media IPM Mu’allimin walaupun baru terlahir tahun 2019.


Seri Manajemen Komunikasi Non Komersil. Mulai Desember 2019 hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan-tulisan mahasiswa seri tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom. Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Karya ini adalah bimbingan Puji Hariyanti dan suntingan A. Pambudi W.

 

 

Reren Indranila Radar Jogja JAwa Pos di UII

“Kalau biasanya orang kasih 5W + 1H, saya tambahkan jadi 6W + 1H,” kata Reren Indranila dalam Workshop How to Create and Manage Impactful Website Content.

Begitulah salah satu tip yang dibagikan Reren, Pemimpin Redaksi Radar Jogja, salah satu pembicara dalam workshop yang dilaksanakan oleh Humas UII pada 4 Desember 2019 di Lantai 4, Gedung H. GBPH Prabuningrat. Kegiatan yang diikuti lebih dari 40 pengelola website di seluruh program studi dan unit di UII ini dibuka oleh Ratna Permata Sari, S.I.Kom, MA, Kepala Bidang Humas UII. Menurut Ratna, kegiatan ini dilaksanakan untuk membuat garda depan UII di laman daring dengan konten yang kuat secara citra, dan konsisten.

Pelatihan ini juga bermaksud meningkatkan kualitas website di UII. Selain kualitas, soal jumlah domain web juga penting diperhatikan. Ratna berharap, semakin sedikit website di UII, penanganan keamanannya juga semakin mudah.  Begitu pula jika konten semakin konsisten dan berkualitas, maka semakin bagus juga citra UII di mata publik. “Intinya ketika menulis, kedepankan UII lebih dahulu, meskipun itu kegiatan kerjasama dengan pihak lain, karena ini garda depannya UII,” kata Ratna.

Citra dan konten  yang berkualitas itu seperti apa? Reren menyarankan pengelola website prodi bisa mengoptimalkan apa saja potensi prodinya. “Ada dosen prestasi dan riset bagus, ya itu dinaikkan. Ada mahasiswa yang pintar juga konten kreator youtuber nah itu juga bisa dinaikkan. Kalau konten ini naik, nanti kan bisa jadi rujukan jurnalis. Bisa masuk media tanpa cost yang berarti. Ini bisa jadi publikasi gratis. dan secara nggak langsung ini juga sudah menjalankan fungsi kehumasan juga kan?” saran Reren.

Selain tingkatkan kualitas, Reren bagikan juga soal tingkatkan keterbacaan konten kita. menambahkan bahwa kita bisa bermain di penjudulan untuk tingkatkan keterbacaan berita website. Kita bisa kaitkan dengan konteks saat ini. “Ini penting dalam SEO (Search Engine Optimizer), misalnya kita mau menulis soal gubernur DIY, kita mau pakai gubernur DIY atau HB X? Orang akan lebih populer cari HB X daripada Gubernur DIY,” kata Reren.

Reren juga menyarankan penggunaan judul hanya 5 sampai 7 kata minimal. Jika terlalu banyak, di dunia daring orang sudah malas membaca. Lalu, Bagaimana membuat artikel kita diklik banyak orang, kata Reren. “Kita bisa berkolaborasi dengan media sosial lain. Jadi kita link-kan artikel kita di story instagram. Bikin foto yang menarik, karena foto itu mempengaruhi orang mau klik atau tidak. kalau di twitter kita bisa memancing dengan tulisan atau link  yang gaya menulisnya bukan khas robot. Sangat manusia, sehingga tidak kaku dan orang tertarik, katanya. Angkat kisah-kisah mahasiswa dan dosen karena itu menarik.

Dalam sesi tanya jawab, Zarkoni, pengelola Website Komunikasi UII,  mengemukakan pertanyaan. “Kalau tadi disebut

“Ada dosen prestasi dan riset bagus, ya itu dinaikkan. Ada mahasiswa yang pintar juga konten kreator youtuber nah itu juga bisa dinaikkan. Kalau konten ini naik, nanti kan bisa jadi rujukan jurnalis.”

Soal standar, Jawa Pos juga sering mengeluarkan dan memerbarui standar penulisan, diksi, dan gramatikal bahasa yang dipakai seluruh wartawan Jawa Pos. Mengapa penting membuat standar bahasa ini? Media juga ikut mendidik pembaca, jurnalis jangan sampai mengedukasi pembaca dengan bahasa yang tidak baik. “Saya sering sarankan ke wartawan, setelah kamu tulis berita, kamu baca ulang, enak atau tidak. kalau kamu sendiri tidak enak bacanya, apalagi pembaca.” kata Reren.

Menulis sebisa mungkin ringkas, padat, jelas, tapi tidak mengurangi informasi yang ingin disampaikan. Gunakan kalimat tunggal yang efektif, satu subjek, satu predikat. Perhatikan juga apakah satu kalimat bisa dibaca satu nafas. Satu nafas adalah ukuran apakah tulisan ini enak dibaca atau tidak. Satu lagi katanya, “Kalau biasanya orang kasih 5W + 1H, saya tambahkan jadi 6W + 1H,” kata Reren. W tambahan Reren dalam 6W itu adalah “What Next”. “Pembaca perlu tahu apa lagi kelanjutan dari isu yang ditulis sehingga ia akan terus mengikuti perkembangan kegiatan berikutnya,” kata Reren.

Dua Dosen Ilmu Komunikasi UII, Mutia Dewi dan Ali Minanto, atas dedikasi dan konsistensinya pada riset dan pemberdayaan di bidang pemberdayaan perempuan dilantik menjadi anggota Puspa (Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Dinas PPMPA Kota Yogyakarta. Pelantikan tersebut atas dasar SK Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, pada 3 Desember 2019 di Balai Kota Yogyakarta. Mutia Dewi dilantik menjadi Wakil Ketua Puspa, sedangkan Ali Minanto dilantik sebagai Koordinator Penelitian dan Pengembangan Puspa Kota Yogyakarta.

Puspa sendiri adalah satua tugas yang terdiri dari beragam elemen yang peduli pada pemberdayaan dan perlindungan perempuan di Yogyakarta. Elemen-elemennya yang ikut juga terlibat dalam Puspa Kota Yogyakarta beragam. Misalnya ada baznas, peradi, PHDI, Lembaga swadaya masyarakat, dan Organisasi Keagamaan. Forum Puspa sendiri merupakan bentukan di tiga level. Prodi Komunikasi UII dilibatkan di level kota.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) telah sejak 2017 menugaskan Puspa bertugas mempercepat mengentaskan apa yang disebut Three Ends. Three Ends, menurut Kemen PPPA, dibentuk guna bertujuan membantu Kemen PPPA menyelesaikan kesenjangan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak. KemenPPPA membutuhkan kerjasama masyarakat, karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa bantuan berbagai elemen masyarakat. Tugas Mutia dan Ali di Puspa juga seturut ide dengan KemenPPPA dan Dinas PPMPA Kota Yogyakarta dalam menghapus Three Ends tersebut. Termasuk di dalamnya kekerasan pada perempuan, Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan mengatasi gap atau kesenjangan ekonomi.

Konten Narasi TV Mata Najwa Dahlia Citra

Dahlia Citra menjelaskan dalam kesempatan Kuliah Umum “How To Create Impactful Media” kali itu bagaimana Narasi TV menciptakan konten-kontennya. Pertama, pertimbangkan target audience. Citra waktu itu berpikir bersama tim, sepertinya klien butuh konten tentang perempuan. “Tapi tak mungkin memasang Najwa Shihab untuk konten tutorial make up, bukan?” Katanya. Maka setelah menganalisa target audience tadi, dilanjutkan analisis “busines potential”. Jadilah Program Sarah Seharian, kata Citra, sambil memutar tayangan Sarah yang bikin vlog tutorial make up dengan meniru tutorial make up dari MUA terkenal di Youtube. “Nggak mungkin Najwa bikin gitu. Persona yang kita bangun bukan kayak Sarah. Sarah bikin vlog kirim tiap minggu,” ungkapnya.

Ada juga cerita dari Program Tompi Glenn. Tim kreatif Tompy Glenn adalah andalan saya. “Alumni Komunikasi UII lho dia, namanya Tri Ghofur, itu tim kreatif andalan saya,” katanya, langsung disambut riuh hadirin. Dia, Tri Ghofur, jeli lihat ada kejadian di saat program Tompy Glenn ngamen.

Konten itu tidak direncanakan dan benar-benar ngamen saja di mal, Ada penonton yg dorong-dorongan.
Tim kreatif membaca peluang itu. Dibikinlah program khusus bincang-bincang dengan penonton yang dorong-dorongan itu. Besoknya, penonton itu juga muncul di TV lain. Bukti bahwa kreatifitas adalah kunci. Tak perlu sensasional, yang perlu kreatifitas.

Lalu bagaimana Narasi TV memilih talent-nya?

Mom Cit, panggilan akrab Dahlia Citra di kantor, mengatakan tentukanlah momentum, value, dan ‌market research. Ia bercerita di balik program kreatifnya “Maunya Maudy” yang mendapuk Maudy Ayunda sebagai talent. Tapi kan, Maudy masih kuliah S2 di Stanford? “Maudy lu harus belajar  Vlog. Bikin content. Dari Standford,” kata Mom Cit pada Maudy. Menurut narasi TV, Maudy adalah momentum yang pas kini di tengah anak muda. Secara value, Maudy punya nilai yang kuat. “Maudy itu sukanya belajar. Itu nilai yang kuat. Dia mau belajar bikin Vlog kita pandu dari Indonesia,” jelas Citra.    dahlia Citra kemudian memutarkan video proses maudy belajar di Narasi. Episode 1 Maunya Maudy benar-benar menunjukkan ia harus jatuh bangun bermumula bahkan dari memegang kamera dan mengoperasikannya dengan tripod.

Apakah kreatif tidak cukup? Ya, promo yang kreatif juga penting. Kata Dahlia Citra kita harus ciptakan, “Creative Promo to Let Many People Know,” kata citra sambil menyontohkan karya Narasi TV di program Tech IT Easy. “Apa yg mau saya sampaikan adalah soal creative impactful journalism,” katanya. Pilar kedua dari Narasi TV: collabotation. User Generated Content atau PGC (profesional generated content) juga ditempuh. Kami datangi 10 tempat bikin karya bersama. Buat workshop undang kreator konten salah duanya di Jogja, di Prawirotaman, dan Sorong. Setelah workshop kami undang mereka buat karya langsung. Bagaimana karya mereka yang hanya dibikin beberapa jam saja. Ternyata mencengangkan. Belum lagi Narasi TV juga membuat komunitas sebagai wadah kolaborasi. Semakin menguatkan nilai partisipasi dalam produksi konten Narasi TV.

Angkringan Lek Ghofar sepi pembeli. Ponsel menempel di telinganya seketika kemudian ia berbincang dengan penelponnya di ujung sana. “Gimana ini dab, kok ora ngangring, iki pie. Anak-anak UII kayaknya lagi nggak ada kiriman ini, belum lagi katanya SPP nya naik terus ini,” kata lek Ghofar sambil langsung disambut tepuk tangan riuh ramai hadirin ketika ia mengatakan kata “SPP naik terus.” Hadirin yang mayoritas mahasiswa itu mulai mengeluarkan derak tawa dan tepukan hangat.

Lek Ghofar, berakting menelepon mengundang banyak orang untuk nangkring di angkringannya. Orang-orang yang diundang ke angkringannya itu ternyata adalah pembicara-pembicara dalam acara inisiatif dari Prodi Ilmu Komunikasi UII yaitu Bincang-bincang “How to Create Impactful Media” pada 28 September 2019 di Auditorium Prof. Abdul Kahar Mudzakkir UII. Lek Ghofar adalah tokoh buatan panitia, khususnya ikon dari program Serial Ramadhan 2019 Uniicoms TV dari Komunikasi UII.

Beruturut-turut kemudian naik ke atas panggung, tempat gerobak angkringan Lek Ghofar ditata, Moderator, Dahlia Citra, dan juga Mario dan Eda Duo Budjang belakangan di sesi kedua. Herman Felani, dosen Komunikasi UII yang berperan sebagai Lek Ghofar, itu menawarkan minuman dan hidangan pada undangannya. Sambil kemudian diceletuki oleh pembicara itu. “Kok sepi, nggak ada yang endorse ni?” tanya Dahlia Citra, Co-Founder Narasi TV, salah satu pembicara kali itu. Citra ingin mengatakan bahwa kini bisnis dan dunia digital harus disikapi dengan kreatif. Termasuk angkringan Lek Ghofar. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Narasi TV.

Alumni Namche dan Fisipol UGM ini mengatakan cara mengonsumsi media kini telah berubah. Perkembangan teknologi begitu cepat. Meskipun konten banyak diproduksi, tiap hari tiap orang posting, “Sayangnya banjirnya konten digital tidak dibarengi dengan konteks,” katanya.
Prank misalnya, “konten tutorial masih mending, tapi prank (seperti) itu (saja) jutaan penontonnya. Maka narasi hadir untuk memberi konten yang punya konteks. Edukatif.”

Ada tiga nilai yang Narasi TV usung dalam konten-kontennya: Antikorupsi, Toleransi, dan Partisipasi. Nilai itu pula yang mewujud dalam mantra 3C seperti Content, Collaboration, Community. “Kami tidak harus pakar di semua bidang, kolaborasi yang utama.”

Kalau soal kecepatan semua TV sudah hadir seperti detik. Bedanya, kalau kami memberi konteks. Misalnya. Narasi newsroom hadir menjelang pilpres hadir menangkap dan memberi konteks atas curent isue. Semua TV mengadakan debat pilpres. “Kami berpikir bagaimana caranya dedek-dedek ini mau pakai kuotanya buat nonton Narasi TV. Kami bikin Nobar debat pilpres di bioskop 21 bersama Narasi TV waktu itu.”

“Adek-adek, kalau bikin konten harus kolaborasi. Mereka yang diajak bisa dapat exposure, dikenal, aspirasinya masuk. Kontennya pun jadi,” saran Citra. Itulah yang membuat narasi punya daya kreasi magis. Bagaimana caranya?

 

Sabtu, 30 November 2019, seluruh staf Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII bergabung bersama seluruh warga akademik FPSB UII di Hotel Santika, Jalan Surdirman, Yogyakarta. Pada hari itu, sekira 7 orang staf seharian mereka menjajal kemampuan menulis artikel. Tak tanggung-tanggung, artikel yang ditulis adalah artikel untuk kepentingan dakwah.

Acara yang diselenggarakan oleh jajaran pimpinan FPSB itu mendorong para tenaga akademik untuk ikut berdakwah. Salah satunya dengan cara menulis. Acara bertajuk Workshop Menulis Artikel Dakwah itu dipandu Muchamad Abrori dari UIN Sunan Kalijaga. Abrori akan berlaku sebagai redaktur dalam acara tersebut. Sebelumnya seluruh staf tendik sudah diminta untuk memilih judul, dan menulis untuk dikumpulkan saat pelatihan menulis.

Ada banyak judul artikel dakwah bermunculan. Temanya beragam. Misalnya ada tema tentang berbakti pada orang tua, keikhlasan, menolak riba, silaturahmi, dan tema-tema lain yang dipilih berdasarkan kemampuan dan kapasitas masing-masing staf. Pada akhirnya nanti, semua tulisan akan dikompetisikan. Tulisan terbaik akan mendapatkan penghargaan dan dapat masuk dalam jajaran tulisan terbaik yang diunggah pada laman web FPSB UII.

Di tempat yang berbeda, dosen-dosen Komunikasi UII bersama dosen se-FPSB UII juga mengikuti workshop dakwah serupa. Bedanya, jika tenaga akademik berlatih dakwah bil qolam, menulis artikel dakwah, dosen-dosen melatih kelancaran public speakingnya sebagai alat dakwah bil lisan. Pelatihan Public Speaking dipandu oleh Imam Mujiono, pakar public speaking kenamaan dari FIAI UII.