Apa saja yang bisa mahasiswa lakukan bersama tim di International Program (IP) Komunikasi UII?

Jika anda belum banyak tahu soal program internasional di Komunikasi UII, kini saatnya berkenalan. Mari menyelami seluk beluk International Program yang berdiri pada 2018 ini. Hal pertama yang bisa anda lakukan dalam program studi ini misalnya melakukan beragam proyek pengembangan skill, karakter, dan pengalaman internasional kerangka proyek perjalanan dan kompetisi internasional P2A (Passage to Asean) seperti tahun-tahun sebelumnya. (link)

Anda juga dapat melakukan pertukaran pengetahuan dalam kelas-kelas kuliah dengan bahasa inggris. Proses pembelajaran day to day dengan menggunakan bahasa inggris memungkinkan terbentuknya suasana akademik yang kondusif. Kondusif dalam arti memperkuat soft skill kepemimpinan di masa depan dengan beragam program penguatan karakter. Beberapa program ke depan juga akan dilaksanakan melibatkan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran seperti program magang internasional dan program pemberdayaan komunitas internasional.

Sebagai mahasiswa Program internasional, anda memiliki kebebasan akademik untuk melakukan studi dan penelitian pada beragam tema kajian pada 6 klaster. 6 Klaster itu seperti Komunikasi Geografi, Komunikasi Visual, Jurnalisme, Public Relation, Komunikasi Pemberdayaan, dan Regulasi dan Kebijakan Komunikasi.

Selama 4 tahun, atau sekira 8 semester, anda akan menjalani 144 SKS yang dibagi sekira 20-24 SKS selama 4 tahun masa kuliah. Dari 20-24 SKS jika dipilah bisa mencakup 6-8 mata kuliah per semester. Anda bisa memilih 4 peminatan khusus juga seperti Jurnalisme, Public Relation, Media Kreatif, dan yang terakhir Kajian Media. Pada semester ke-7 mahasiswa dapat menguji kemampuannya mengaplikasikan teorinya dalam kerja akademis seperti membuat karya tulis akademik atau proyek tugas akhir seperti produksi film dokumenter, foto, produksi program berita, atau produksi media kreatif yang lain.

 

What can students do in the International Program (IP) of Communication Department?


If you don’t know much about the international program at Communication Department of UII, now it’s time to get acquainted. Let’s dive into details of the International Program, which was established in 2018. The first thing you can do in this program is for example to conduct various skills development projects, characters, and international experience in the framework of a P2A (Passage to Asean) international travel and competition project as in previous years. (link)

You can also exchange knowledge in lecture classes with English. The day to day learning process using English allows the formation of a conducive academic atmosphere. Conducive in the sense of strengthening the soft leadership skills of the future with a variety of character strengthening programs. Some future programs will also be implemented involving students as centers of learning such as international internships and international community empowerment programs.

As an international program student, you have the academic freedom to conduct studies and research on a variety of study themes in 6 clusters. 6 Clusters such as Geographic Communication, Visual Communication, Journalism, Public Relations, Empowerment Communication, and Regulation and Communication Policy.

For 4 years duration, or approximately 8 semesters, you will undergo 144 credits (points) divided into approximately 20-24 credits for 4 years of courses. From 20-24 (credits) points if sorted, it can cover 6-8 courses per semester. You can choose 4 special interests as well as Journalism, Public Relations, Creative Media, and finally Media Studies. In the 7th semester students can test their ability to apply their theories in academic work such as making academic papers or final project projects such as documentary film production, photos, news program production, or other creative media productions.

After more than a year of the funeral of Amir Effendi Siregar, the family of Communication Departmennt conducted a ceremony and sprinkling flowers at Amir Effendi Siregar’s cemetery. Bang Amir, Amir Effendi Siregar’s nickname. is a founder figure of Communication Department of UII. This activity which was held on August 2, 2019, was participated by staff, Uniicoms TV crew, Lecturers, and Staff of the Nadim, The Center for Alternative Media Documentation and Studies (PSDMA) of Communication Department.

Through a trip from the Universitas Islam Indonesia (UII) to the west, all of Communication Departement’s family arrived at Bang Amir’s cemetery at the Government Public Cemetery in Sleman. The procession began with each audience sprinkling flowers on Bang Amir’s grave. After that, a joint prayer was conducted led by Anang Hermawan, one of the lecturers in the first batch of this department.

“Bang Amir was a former founder of Communication Science/ Communcication Department and emphasized that this department must be exist at UII,” said Anang Hermawan. He also preached and expressed his gratitude at the Bang Amir tomb that Bang Amir’s struggle had now, at least, been fruitful, one of which was by achieving grade A on accreditation test again.

“Pak Anang is filled with tears, he remembers his struggle and we all build the vision of this department,” said Puji Hariyanti, current Head of the Communication Department. According to Anang, all of Communications Department’s Family must respect the struggle of the founders, the teachers who preceded us, reflected on, and continued Bang Amir’s ideals.

Bang Amir is a figure who fought for the UII’s Communication Department in the 2004s who was also very influential for the establishment of this department. He also emphasized and conceptualized the UII’s Communication Department which had the concentration/ specialization on Media Management studies, the only one in Indonesia at that time. Bang Amir pioneered it with Anang Hermawan, Masduki, and several lecturers in the first generation at that time. Up and down, helter-skelter to make network, it can even make this office like a second home,”We used to make reports and student activities, we had to stay overnight, until that’s the struggle,” said Topari, one of the former staff at that time, who has now a career as a teacher in a state school in Gunung Kidul.

“We hope we can continue his ideals. In order to commemorate our founders, yesterday it was accredited as well, we think it is necessary to remember our founders,” Anang said on the middle of ceremony.

Setelah lebih dari satu tahun wafatnya Bang Amir Effendi Siregar, dan juga bersamaan dengan telah diraihnya Akreditasi A Prodi Komunikasi UII, keluarga Prodi Komunikasi UII melakukan takziah dan tabur bunga di makam Amir Effendi Siregar. Bang Amir, panggilan akrab Amir Effendi Siregar. adalah satu tokoh pendiri Komunikasi UII. Kegiatan tabur bunga yang diadakan pada 2 Agustus 2019, ini diikuti oleh staf program studi, kru Uniicoms TV, Dosen, dan Staf Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif (PSDMA) NADIM Komunikasi UII.

Melalui perjalanan dari kompleks Universitas Islam Indonesia (UII) ke arah barat, sampailah seluruh warga akademik Komunikasi UII ke tempat peristirahatan terakhir Bang Amir di TPU Pemakaman Umum Pemda Sleman. Prosesi dimulai dengan setiap hadirin menaburkan bunga ke atas makam Bang Amir. Setelah itu, doa bersama dilakukan dengan dipimpin Anang Hermawan, salah satu dosen di angkatan pertama Prodi ini.

“Bang amir itu dulu tokoh salah satu pendiri Prodi Ilmu Komunikasi dan yang menekankan prodi ini harus ada di UII,” kata Anang Hermawan. Ia juga mengabarkan dan mengucapkan syukur di pusara Bang Amir bahwa perjuangan Bang Amir kini telah, setidaknya, berbuah salah satunya dengan diraihnya akreditasi A kembali.

“Pak Anang berkaca-kaca, ia ingat perjuangannya dan kita semua membangun visi Prodi ini,” kata Puji Hariyanti, Ketua Prodi Komunikasi UII saat ini. Menurut Anang, seluruh warga akademik Komunikasi UII harus menghargai perjuangan para pendiri, para guru yang mendahului kita, refleksi, dan meneruskan cita-cita Bang Amir.

Bang Amir merupakan sosok yang memperjuangkan Prodi Komunikasi UII di era 2004 yang juga sangat berpengaruh bagi berdirinya prodi ini. Ia juga yang menegaskan dan mengonsep Prodi Komunikasi UII memiliki konsentrasi studi Manajemen Media, satu-satunya di Indonesia, saat itu. Bang Amir merintisnya bersama Anang Hermawan, Masduki, dan beberapa dosen di angkatan pertama saat itu. Jatuh bangun, pontang panting berjejaring, bahkan bisa sampai Prodi ini jadi seperti rumah kedua, “Dulu kita sampai bikin laporan dan kegiatan mahasiswa, itu sampai menginap, sampai begitu perjuangannya,” kata Topari, salah satu staf Program Studi saat itu, yang kini telah berkarir menjadi guru di sekolah negeri di Gunung Kidul.

“Kami berharap kami bisa meneruskan cita-cita beliau. Dalam rangka mengenang para pendiri kita, kemarin sudah akreditasi juga, kami pikir perlu mengenang para pendiri kita,” kata Anang di sela-sela tabur bunga.

“Habis ini kita akan nyobain kuliner unik dan khas surabaya yang lain, ikuti kami terusnya,” begitu kata Annisa Putri Jiani dan Nurul Diva Kautsar presenter program Rasa-rasa, program acara yang baru dari Uniicoms TV, sebuah TV daring di Universitas Islam Indonesia. Kalimat-kalimat ajakan itulah yang kini sehari-hari selalu mengemuka berulang di ruang studio editing Uniicoms TV di Prodi Ilmu Komunikasi UII. Rencananya, tayangan ini akan diluncurkan di Channel Uniicoms TV menyambut mahasiswa baru. Saat ini Uniicoms TV dikelola oleh Laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi UII yang diisi oleh tenaga-tenaga tim prodi Ilmu Komunikasi UII, relawan, dan kru yang muda, kreatif, energik.

Rata-rata kru dan pegiatnya adalah anak-anak muda yang punya begitu ragam ide khas milenial. Namun bedanya, anak-anak muda di Uniicoms TV tak sekadar milenial, populer, dan muda, melainkan punya visi mulia dalam tiap sajian kreatifnya: empowering and inspiring. Ya, bersama menjadi berdaya dan inspirasi. Maka tentu program apapun yang diproduksi adalah hasil kreasi yang mengajak khalayaknya berdaya dan menginspirasi.

Meskipun acara kuliner seperti ini sudah populer dan banyak, Nurul Diva, Digital Public Relation Uniicoms TV, yakin model acara kuliner yang kali ini justru kuat dengan misi yang mulia: empowering and inspiring. Nurul yang juga adalah presenter acara kuliner ini mengatakan Uniicoms TV mengajak kaum muda untuk tidak lupa akar budaya dan tradisinya lewat program acara kuliner yang diberi nama “Rasa-Rasa”. Menurutnya, sudah saatnya ada program TV alternatif, di tengah merebaknya acara TV yang tidak mendidik, yang juga mempertahankan warisan budaya tradisional pada generasi muda kekinian. “Sepengamatanku, uniknya yang makan di sini anak mudanya sedikit,” kata Nurul menjelaskan keadaan warung-warung yang dikunjungi untuk masuk dalam program.

Pada kesempatan episode pertama ini, Tim Uniicoms TV mengangkat kuliner-kuliner yang khas dan yang tidak biasa di Surabaya seperti Lontong Balap dengan lentho, Rawon Pak Gendut, hingga Rawon Kalkulator. Rawon kalkulator misalnya, adalah salah satu tempat wisata kuliner yang membuat khalayaknya terhenyak dengan cara uniknya di warungnya, kata Nurul Diva, dari lokasi produksi di Surabaya pada 27 Juli 2019. Simak keunikannya di saluran Uniicoms TV.

Jika anda merasa bosan dengan tayangan televisi yang kurang mendidik, maka sudah saatnya mencoba beralih ke saluran TV daring Uniicoms TV. Kini Uniicoms TV akan meluncurkan tayangan baru khas anak mudanya yang diproduksi oleh kru dari beragam program studi di Universitas Islam Indonesia. Setelah sukses dengan ribuan view Web Series-nya Ramadhan lalu, Uniicoms TV coba memproduksi program acara yang diberi tajuk: ‘Mata Lensa’.

Mata Lensa adalah program dengan konsep anak muda yang dipandu oleh Host yang melakukan perjalanan lengkap dengan kamera untuk mengabadikan momen yang ditemuinya. Tayangan Mata Lensa selain edukatif, juga menghibur karena dikemas dengan segar, khas anak muda, dan lokasi perjalanan yang dipilih adalah lokasi-lokasi yang punya nilai edukasi, pemberdayaan, dan inspirasi, kata Nurul Diva, Digital Public Relation Uniicoms TV, pada Juni lalu.

Program pada episode pertama ini mengajak kamu penonton muda untuk menyelami seluk beluk festival yang terhitung sangat lawas di Yogyakarta. Ya festival kuna itu adalah Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) yang selalu dihelat tahunan sejak 1989. Tak banyak yang tahu jika festival yang dirindukan orang yang pernah dan hidup di Yogyakarta ini dilaksanakan bersamaan dengan peresmian proyek orde Soeharto yaitu Monumen Jogja Kembali. Uniicoms TV membawa penontonnya ikut hadir menyelami festival kuna rasa baru ini di pertengahan 2019. Mata Lensa menyajikan seluk beluk kebudayaan khas Yogyakarta dengan perspektif anak muda.

Bagi penikmat lawas FKY, jangan heran jika pada sajian program episode pertama ini menemui kejanggalan. Pasalnya, tahun ini FKY berubah nama. Sebelumnya, ‘K’ pada singkatan FKY adalah ‘Kesenian’, sedangkan sejak 2019 berubah menjadi ‘Kebudayaan’ yang tentu saja cakupannya menjadi lebih luas, tak sekadar perhelatan seni, tapi seluruh tujuh unsur budaya: nilai-nilai pengetahuan & teknologi, benda, budaya, seni, adat, bahasa, dan yang kini sudah banyak digerus era digital: tradisi luhur.

Sebagai indentitas budaya dan seni di Yogyakarta, FKY tak bisa dilepaskan dari kolaborasi seniman, relawan, masyarakat, dan beragam industri kreatif lokal di Yogyakarta. Apalagi FKY tahun ini mengusung tema ‘Mulanira’ yang berarti permulaan sebuah kreasi dalam balutan ruang, ragam, dan interaksi, semakin jelas menguatkan Yogya sebagai identitas Yogya sebagai pusat kebudayaan nasional.

Selain mengambil momen puncak FKY 2019, produksi program ini secara teknis juga memanfaatkan kesempatan sebelum kru-kru Uniicoms TV berhadapan dengan Ujian Akhir Semester, kata Nurul Diva yang pada kesempatan kali ini sebagai pengarah program. Uniicoms TV sebagai TV yang berbasis kampus dan diisi kru mahasiswa yang tidak hanya terdiri dari Prodi Ilmu Komunikasi UII ini pastinya harus memertimbangkan faktor-faktor akademik juga. Meski begitu, sebagai sebuah kawan candradimuka, Uniicoms TV berharap program ini punya misi akan menjadi sebuah ajang mengasah kepekaan seni dengan: olah karya dan olah rasa yang memberdaya dan menginspirasi mahasiswa dan niscaya: seluruh sivitas akademika UII. Tonton Mata Lensa di saluran TV daring – Uniicoms TV.

Starting by Wednesday, July 31, 2019 until the next nine days, the International Program (IP) of Communication Department will sent 13 students, Mr. Herman Felani Tanjung, MA (lecturer), and 2 staff to conduct an academic tour and doing ‘Travel Writing Projects’ at many variety important locations in Vietnam, Cambodia and Thailand. This Travel Writing Project is part of a routine program that is held every year. This visiting program for Asean countries, which are often known as Passage To Asean (P2A) Program, is the second time that held by the UII’s Communication Department, since 2018. Students will also visit three campuses in Southeast Asia: University of Economics and Law (Vietnam), Svay Rieng University (SRU) Cambodia, Thammasat University (Thailand). P2A is a network of Asean universities and institution of higher education.

All the student will learn a lot of things under supervision Mr. Herman Felani Tandjung, MA, lecturer of film and culture studies, Yudi Winarto, and Marjito Iskandar T. G. as profesional supervisor from Audio Visual Laboratory of Communication Department.  The IP students of Communication Department UII, under supervision of Mr. Tandjung, will travel to several locations and sharpen their view and sensitivity to capture the social reality there. According to Ida Nuraini Dewi K. N., Secretary of International Program of Communication Department, in addition to capturing social reality, communication students are expected to be able to probe, analyze, compare and record the history, cultural diversity, religiosity, and many things that will appear behind these tourist sites. Ida also said that, “the most important thing and different than other P2A Program, is student will learn about character building that is consist of problem solving, decision making, and teamwork beside learn to implement their communication skill (such as speaking, writing, photography, video, etc).

Lecturers, staff, and students will also conduct comparative visits on many campuses at three countries. There is a hope that Communication IP students, beside applying their knowledge so far in the classroom, they also will have new perspectives that emerge from these trips.

P2A in principle has the spirit of providing opportunities for students, lecturers, and staff of Communication Department to reach global and international studies and comparisons. The processes that are passed in P2A enable them to get a lot of new perspectives that are insightful for the future of communication studies. Not only that, both student and lecturer of Communication Department are ultimately expected to be able to improve their abilities such as social analysis skills, journalism, reportage, writing, photography, and brainstorming creative ideas in simultaneously.

The previous P2A, the committee of P2A designed P2A with the concept of Photography Workshop and Competition entitled: “P2A 2018 – Workshop and Photography Competition: Humanature”, to capture moment in various destination at Indonesia,  Malaysia and Thailand. Students from three campuses in the three countries were encouraged to collaborated, competed, and sharpen their photography skills in the tourist locations. They also capture iconic, unique, and interesting things into an aesthetic and meaningful photo work. In the end, P2A at that time gave awards to students who had the best photo works in collaboration with Nikon Malaysia, P2A, UII, and Universiti Utara Malaysia (UUM).

Mulai Rabu, 31 Juli 2019 hingga sembilan hari ke depan, International Program (IP) Prodi Ilmu Komunikasi memberangkatkan 13 Mahasiswa, dosen, dan staf untuk melakukan lawatan disertai proyek Travel Writing di lokasi-lokasi penting di Vietnam, Kamboja, dan Thailand. Proyek Travel Writing ini adalah bagian dari program rutin yang diselenggarakan setiap tahun. Program lawatan negara-negara Asean, yang sering dikenal Passage To Asean (P2A), ini adalah kali kedua yang dilaksanakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII sejak 2018. Kegiatan ini juga akan dilengkapi dengan study banding ke tiga kampus di Asia Tenggara: University of Economics and Law (Vietnam), Svay Rieng University (SRU) Cambodia, Thammasat University (Thailand).

Mahasiswa-mahasiswa IP Prodi Komunikasi UII akan menjalani perjalanan ke beberapa lokasi dan mengasah kejelian dan kepekaan mereka menangkap realitas sosial di sana. Menurut Ida Nuraini Dewi K. N, Sekretaris Program Studi, International Program (IP) Prodi Ilmu Komunikasi UII, selain menangkap realitas sosial, mahasiswa komunikasi diharapkan juga bisa menelisik, menganalisis, membandingkan, dan merekam sejarah, keragaman budaya, religiusitas, dan aspek sosial lain yang nampak di balik lokasi-lokasi yang dikunjungi. Ida menambahkan, “yang paling penting, mahasiswa partisipan P2A Prodi Komunikasi UII akan belajar tentang character building, terutama soal problem solving, decision making, dan teamwork.”

Mahasiswa IP di sana akan didampingi oleh Herman Felani Tanjung, MA, Dosen Komunikasi UII spesialis Kajian Film dan Budaya, dan Yudi Winarto dan Marjito Iskandar T. G. sebagai pendamping profesional dari Laboratorium Fotografi dan Audio Visual Komunikasi UII. Mereka juga akan melakukan kunjungan perbandingan di kampus-kampus tersebut di atas. Harapannya, mahasiswa IP Komunikasi UII selain menerapkan ilmunya selama ini di kelas akan ada perspektif baru yang muncul dari perjalanan-perjalanan yang dilakukan ini.

P2A pada prinsipnya memiliki semangat memberikan peluang dan kesempatan mahasiswa, dosen, dan staf Prodi Ilmu Komunikasi UII melakukan studi dan dan perbandingan global dan internasional. Proses-proses yang dilalui di P2A ini memungkinkan munculnya perspektif baru yang berwawasan masa depan. Tidak hanya itu, sivitas akademika Ilmu Komunikasi UII pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya seperti skill analisis sosial, jurnalisme, reportase, penulisan, fotografi, dan brainstorming ide-ide kreatif dalam satu paket karya.

Tahun sebelumnya, Tim P2A Prodi Ilmu Komunikasi UII mengemas P2A dengan konsep Workshop dan Kompetisi Fotografi berjudul “P2A 2018 – Workshop and Photography Competition: Humanature”, ke pelbagai destinasi di Indonesia Malaysia, dan Thailand. Mahasiswa tiga kampus di tiga negara itu berkolaborasi, berkompetisi, dan mengasah keterampilan fotografi di lokasi-lokasi wisata itu. Mereka juga menangkap hal-hal ikonik, unik, dan menarik menjadi sebuah karya foto yang estetik dan bermakna. Pada akhirnya, P2A saat itu memberikan penghargaan pada mahasiswa-mahasiswa yang punya karya foto terbaik atas kerjasama Nikon Malaysia, P2A, UII, dan Universiti Utara Malaysia (UUM).

 

Foto: Annisa Putri Jiany

At least, after a lot of steps, Communication Department can maintain its Accreditation rank with A grade again. The news came after the assessors of the National Accreditation Board for Higher Education (BAN-PT) visited to check documents and evidence of accreditation on July, 10th, 2019. Exactly, six days later, July 16, 2019, a Decree from BAN-PT numbered 2387 / SK / BAN-PT/Akred/S/VII/2019 sent to this office.

The contents of the Decree (SK) wrote, “the decision of the national accreditation body of higher education regarding the accreditation status and ranking of the accredited Communication Department of UII at the undergraduate program of the Universitas Islam Indonesia (UII), Sleman Regency,” he wrote. BAN PT’s Executive Board Director, T. Basaruddin, through the letter then continued that he determined the Accreditation Status and Accredited Rank of the Communication Studies Program at the UII’s Undergraduate Program was accredited with grade: A.

Recorded in the UII Communication Department forms for the last three years, the lecturers of this department (accumulatively) already have 269 publications. Whether it’s international, national scientific publications, conference papers, journals, to popular articles in the mass media. These achievements can be exemplified, such as 5 documentary films with various international and national awards, 24 popular articles in mass media, 22 journal articles in international journals, 4 books and chapters with international publishing scale such as Springer and Routledge, and 60 scientific articles which was presented at an international conference. Also there were a lot of outstanding active students, there have been more than 90 awards that have been won by all the students over the past 5 years, which are on a regional, national and international scale.

Congratulations, and never stop empower, and work for others!

 

Photo by M. Iskandar T. G.

Ya, Prodi Ilmu Komunikasi UII kembali dapat memertahankan peringkat Akreditasi Program Studi-nya dengan peringkat A. Berita itu datang setelah sebelumnya, pada 10/7/2019, asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melakukan kunjungan untuk mengecek dokumen-dokumen dan bukti-bukti akreditasi. Tepat enam hari kemudian, 16 Juli 2019, masuk Surat Keputusan dari BAN-PT bernomor 2387/SK/BAN-PT/Akred/S/VII/2019 ke program studi ini.

Isi Surat Keputusan (SK) itu memutuskan, menetapkan,”keputusan badan akreditasi nasional perguruan tinggi tentang status akreditasi dan peringkat terakreditasi Program Studi Ilmu Komunikasi pada program sarjana Universitas Islam Indonesia, Kabupaten Sleman,” tulisnya. Direktur Dewan Eksekutif BAN PT, T. Basaruddin, lewat surat itu kemudian melanjutkan bahwa ia menetapkan Status Akreditasi dan Peringkat Terakreditasi Program Studi Ilmu Komunikasi pada Program Sarjana Universitas Islam Indonesia adalah berstatus terakreditasi dengan peringkat A.

Tercatat dalam Borang Program Studi Ilmu Komunikasi UII selama tiga tahun terakhir dosen-dosen program studi ini (secara akumulatif) sudah memiliki 269 karya publikasi. Baik itu publikasi ilmiah internasional, nasional, makalah konferensi, jurnal, hingga artikel di media massa. Capaian-capaian itu dapat dicontohkan seperti 5 karya film dokumenter dengan beragam penghargaan internasional dan nasional, 24 artikel populer di media masssa, 22 artikel jurnal masuk di jurnal skala internasional, 4 buku dan chapter berskala penerbit internasional seperti Springer dan Routledge, dan 60 artikel ilmiah yang dipresentasikan di konferensi internasional. Juga tak kalah aktif, ada lebih dari 90 penghargaan yang telah diraih mahasiswa Komunikasi UII selama 5 tahun terakhir, baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional.

Selamat, dan terus berkarya dan berdaya, Civitas Akademika Program Studi Ilmu Komunikasi UII!

 

Foto: M. Iskandar T. G.