Reading Time: < 1 minute

Webinar Teknik Reportase dan Foto Jurnalistik bersama Komunikasi UII dan SMA 1 Sleman

Sabtu – 19 September 2020

Pukul 09.30-11.00

Via Zoom Conference:

Kelas akan dipandu dan diisi oleh

Narayana Mahendra P

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII

Galih Yoga

Freelance Photographer

Siti Fauziah

Mahasiswi Ilmu Komunikasi UII

 

 

 

 

Reading Time: 3 minutes

IP Programs During the Pandemic: Keeping Up with Strict Health Protocols. The Covid-19 pandemic has affected many activities, especially teaching activities in schools and colleges of higher education. The Universitas Islam Indonesia (UII) is no exception, which has set new rules for activities during the pandemic period. One example is the UII International Program (IP). Activities here comply with the rules by complying with the Rector’s Circular and government protocols during the pandemic.

IP UII has one of the excellent programs related to global mobility or international mobility. Through interviews with the Directorate of Partnerships / International Affairs Office (DK / KUI), Dian Utami, many programs of global mobility are  still possible to be implemented online. For example Summer Programs, Internships, Lecture Series, Web Seminars, Student Exchange, and Double Degree. Bridging Program in the form of the development of skills such as academic and learning skills training is also implemented in the form of online lectures. The form can be asynchronous or synchronous according to the Circular of the Rector of UII.

 

Some were postponed, some changes from offline to online

In the Communication Science Department, especially the International Program of Communication (IPC), activities related to global mobility such as the annual Passage to Asean (P2A) program and Student Exchange had to be postponed. Even though they had received offers to implement the P2A program virtually, the IPC still chose to postpone the P2A program. The delay is carried out indefinitely.

“We still hope that there will be an opportunity to get hands-on experience in the P2A program. By going directly abroad. So, currently we can only provide tell to students regarding the postponement of several programs,” said Ida Nuraini Dewi KN, as the IPC secretary.

Various interesting programs with international insight still continue, said this specialist lecturer in journalism and media studies. IPC programs implemented during the pandemic, among others is International Webinar held in May and Career Webinar held in August. There are also Teatime’s regular Talk Show and  Annual Workshop with the theme The Future of Globalization which was held last July.

The Annual Workshop invited Assoc. Prof. Dr. Huey Rong Chen from the Graduate School of Journalism, Chinese Culture University, Taiwan. Meanwhile, the Teatime Talk Show invited Zaki Habibi, a PhD candidate from Lund University, Sweden.

If usually the Annual Workshop is held offline and is open to IPC students and the public, then during the pandemic period the program must be transferred to online. Ida said, in general, several programs such as seminars would still be held even though they were online. Collaboration and research requiring face-to-face meetings and overseas trips where possible will be carried out online.

International Programs in Other Departments / Major

Similar conditions also occur in the International Relations Department. Activities related to global mobility cannot be carried out during the pandemic period. Karina Utami Dewi, as the Secretary of the International Program (IP) of International Relations (IR) Department confirmed this.

Even so, several programs that have been planned and will be implemented in the odd semester of 2020/2021. For example a visiting professor from NUS (National University of Singapore) who will teach in IP for 1 semester. Other programs include implementing IELTS simulations for all IP students and providing mentor academic facilities. Academic mentors are to assist IP students in implementing online learning.

During the pandemic period, the programs that can be implemented in the IP of IR Department vary. For example the Bridging Program and Inspiring Lecture with the Ministry of Foreign Affairs. There are also several guest lectures from experts in various subjects in IP. These programs are carried out as usual. The only difference is the form of implementation which is done online.

Even so, the implementation of the program ran smoothly and in general IP students were able to participate well. “Of course there are technical barriers such as connections. This is because most of the IP students return to their hometown. Not all of them have stable internet connections there,” said Karina when interviewed via email.

UII Internationalization Globally 

Dian said that this is understandable during the pandemic period that many programs cannot be implemented as usual. Programs that cannot be implemented can be transferred to other programs. In essence, other activities have benefits and outcomes that support achieving UII Strategic Plan. Including increasing the internationalization of UII globally.

DK / KUI provides facilities in the form of services related to the initiation of new partners proposed by the Department or Faculty. Partners come from both industry, government, academia, and society. In addition, DK / KUI also continues to play a role in delivering information by publishing international activities within UII. Whether it’s mobility activities for lecturers, students, and students.

———–

Author: Fitriana Ramadhany (Student of the Department of Communication Science UII – Internship for the International Program of Communication UII)

Editor: A. Pambudi W

 

 

Reading Time: 3 minutes

Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi banyak aktivitas, terutama pada kegiatan mengajar di sekolah dan perguruan tinggi. Tak terkecuali Universitas Islam Indonesia (UII) yang menetapkan aturan baru pada kegiatan selama masa pandemi. Salah satu contohnya adalah International Program (IP) UII. Kegiatan-kegiatan di sini patuh pada aturan dengan mematuhi Surat Edaran Rektor dan kebijakan protokol pemerintah selama pandemi.

IP UII memiliki salah satu program unggulan yang berkaitan dengan global mobility atau mobilitas internasional. Melalui wawancara dengan Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI), Dian Utami, banyak program global mobility  masih memungkinkan untuk dilaksanakan secara daring. Misalnya Summer Program, Magang, Lecture Series, Seminar Web, Student Exchange, dan Double Degree. Kegiatan Bridging Program yang berupa pengembangan skill seperti ‘academic and learning skill training’ juga dilaksanakan dalam bentuk perkuliahan daring. Bentuknya bisa asinkron maupun sinkron sesuai dengan Surat Edaran Rektor UII.

 

Beberapa ditunda, Beberapa Konversi dari Luring ke Daring

Pada program studi Ilmu Komunikasi khususnya International Program of Communication (IPC), kegiatan yang berkaitan dengan global mobility seperti program tahunan Passage to Asean (P2A) dan Student Exchange harus ditunda. Meskipun telah mendapatkan penawaran untuk melaksanakan program P2A secara virtual, pihak IPC tetap memilih untuk menunda program P2A. Penundaan dilakukan hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan.

“Kami masih berharap nantinya akan ada kesempatan untuk mendapat pengalaman langsung di program P2A. Dengan pergi langsung ke luar negeri. Maka, saat ini kami cuma bisa memberikan pemahaman kepada mahasiswa terkait penundaan beberapa program,” ujar Ida Nuraini Dewi KN, selaku sekretaris IPC.

Beragam program menarik berwawasan internasional tetap berlanjut kata  Dosen Spesialis kajian Jurnalisme dan Media ini. Program-program IPC yang dilaksanakan selama pandemi antara lain International Webinar yang dilaksanakan pada bulan Mei dan Webinar Karir yang dilaksanakan pada bulan Agustus. Ada pula acara bincang-bincang rutin Teatime dan  Annual Workshop bertema The Future of Globalization yang dilaksanakan pada Juli lalu. Annual Workshop sempat mengundang Assoc. Prof. Dr. Huey Rong Chen dari Graduate School of Journalism, Chinese Culture University, Taiwan. Sedangkan Talk Show Teatime sempat mengundang Zaki Habibi, PhD kandidat dari Lund University, Swedia.

Apabila biasanya Annual Workshop dilaksanakan secara luring dan terbuka untuk mahasiswa IPC dan umum, maka selama masa pandemi program tersebut harus dialihkan ke media daring. Ida mengatakan, secara umum beberapa program seperti seminar tetap akan dilaksanakan meskipun secara daring. Kerjasama dan riset yang memerlukan pertemuan tatap muka dan perjalanan luar negeri pun apabila memungkinkan akan dilaksanakan secara daring.

Program internasional di Jurusan/ Prodi Lain

Kondisi serupa juga terjadi pada Program Studi Hubungan Internasional (HI) UII. Kegiatan yang berkaitan dengan global mobility tidak dapat dilaksanakan selama masa pandemi. Karina Utami Dewi, selaku Sekretaris Program Studi International Program (IP) Hubungan Internasional (HI) mengkonfirmasi hal tersebut. Meskipun begitu, beberapa program yang telah direncanakan dan akan dilaksanakan pada semester ganjil 2020/2021 tetap berlanjut. Contohnya visiting professor dari NUS (National University of Singapore) yang akan mengajar di IP selama 1 semester. Program lainnya misalnya pelaksanaan simulasi IELTS bagi seluruh mahasiswa IP dan  pemberian fasilitas akademik mentor. Akademik mentor adalah sebagai pendamping mahasiswa IP dalam melaksanakan pembelajaran daring.

Selama masa pandemi program yang dapat terlaksana di IP HI beragam. Misalnya Bridging Program dan Inspiring Lecture bersama Kementerian Luar Negeri. Ada juga beberapa kuliah tamu dari pakar di berbagai mata kuliah di IP. Program-program tersebut dilaksanakan seperti biasa. Bedanya hanya bentuk pelaksanaan yang dilakukan secara daring.

Meskipun begitu, pelaksanaan program berjalan dengan lancar dan secara umum mahasiswa IP dapat berpartisipasi dengan baik. “Tentu saja ada hambatan-hambatan teknis seperti koneksi. Sebab, sebagian besar mahasiswa IP pulang ke daerah masing-masing. Tidak semuanya memiliki koneksi internet yang stabil,” jawab Karina ketika diwawancara via surel.

Internasionalisasi UII Secara Global

Berkaitan dengan program-program yang tidak dapat terlaksana, Dian mengatakan hal tersebut adalah hal yang dapat dimaklumi selama masa pandemi. Program yang tidak dapat dilaksanakan dapat dialihkan ke program lain. Intinya aktivitas lainnya itu  memiliki kemanfaatan dan luaran yang mendukung pencapaian Rencana Strategis UII. Termasuk untuk peningkatan internasionalisasi UII secara global.

DK/KUI  memberikan fasilitas berupa layanan terkait inisiasi mitra baru yang diusulkan oleh Program Studi atau Fakultas. Mitranya berasal baik dari industri, pemerintah, akademisi, maupun masyarakat. Selain itu, DK/KUI juga terus berperan menyampaikan informasi dengan mempublikasikan aktivitas internasional di lingkungan UII. Baik itu kegiatan mobilitas untuk dosen, tenaga didik, maupun mahasiswa.

———–

Penulis: Fitriana Ramadhany (Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UII – Magang Program Internasional Jurusan Ilmu Komunikasi UII)

Editor: A. Pambudi W

 

Reading Time: < 1 minute
0Days0Hours

Forum Amir Effendi Siregar – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia menggelar Serial Bincang Sejarah Komunikasi (Sesi 10)

Topik:

Membaca Ulang Media Musik Indonesia: Selera, Kelas, dan Warisannya

Pembicara:

Idhar Resmadi

Penulis dan dosen di Fakultas Industri Kreatif Telkom University. Lebih banyak menulis tentang musik dan budaya populer. Penerima hibah riset musik dari British Council 2019 dan hibah kebudayaan Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2020 dari Kemendikbud. Bukunya antara lain Music Records Indie Label (2008), Based on A True Story Pure Saturday (2013), Jurnalime Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018), dan beberapa buku antologi lainnya.

Jadwal:

Sabtu, 19 September 2020
Pukul 10:00 WIB
Via Zoom

dan

Registrasi:

 

 

Reading Time: 3 minutes

During the pandemic, news gathering in various news websites must continue. If as journalists in their usual conditions they have to go out to find news and conduct interviews, then there is a slight difference during a pandemic. That’s the story of Retyan Sekar, a journalist, on the talk show ‘Teatime’ made by Department of Communication International Program (IP) Universitas Islam Indonesia (UII) on August 30, 2020.

For almost an hour, guided by Annisa Putri Jiany, Retyan shared stories about pursuing a career path as a journalist. Live Instagram Teatime’s theme “Study Life Impact to Carrier”, explores the experiences of this Communication Science’s alumni batch 2015.

Retyan, her nickname, said that working in online media must have a way to keep sources and finish news in all conditions. During a pandemic, interviews can be done online and some information can be searched through social media. In stark contrast to the pre-pandemic era.

Even though at first glance his career looks smooth, in fact his passion for journalism was not obtained in a short time. She has cultivated his experience in journalism since childhood.

Early Interest in Journalism

Since childhood, Retyan has always liked to participate in various competitions such as storytelling and poetry. This is what made her accustomed to writing and speaking in public. Retyan also loves to talk in front of the camera and has been familiar with broadcasting since she was nine years old. Until 2007, Retyan was invited to participate in making a documentary film and was selected as a young reporter.

When studying at the Universitas Islam Indonesia (UII), Retyan had joined the UII student press agency known as Himmah. Retyan said, through Himmah, he learned a lot about writing, the basics of journalism, teamwork, and sensitivity to internal issues. In addition, She also gained experience in dealing with the global world when She joined UII MUN and Jogja International Delegates.

Retyan’s interest in journalism led her to choose UII Communication Science Department. “From the beginning, I entered Communication Science already steadily entering specialization in Journalism. In my opinion, journalism is really fun. So we have like-minded friends to exchange ideas as well as be friends to play with. Because since I was little I often participated in competitions that were related to public speaking, without realizing it that shaped me,” said Retyan.

Reaching and Living The Dream Career Path

According to Retyan, who currently works at Kumparan online media, initially She just wanted to know how online media works. While at Kumparan, he was taught a lot on how to write and structure correctly. This made her determined to continue to improve writing patterns.

Despite having an internship at Kompas TV, since graduating Retyan has not been too confident about his writing skills. So She chose to look for work challenges that required her to develop her writing skills.

However, is it enough to achieve a dream career only with the support of enthusiasm or interest? Retyan advised that to achieve dreams, the key is to set goals. According to her, because by having a goal, the decisions made will feel more rational.

Even though the pandemic has hit and hindered his work, She advised to always be smart in seeing the positive side of all events. “Life is not a competition. These are tough times for everyone, and don’t beat yourself up for everything that happens in situations like this. Because the target that has been planned is chaotic does not mean you can blame yourself. Negative thinking is okay, but try to take the positive side. We can actually learn anything in the current situation, for example English, and so on,” She said.

——-

Writer: Fitriana Ramadhany (Student of Communication Major of UII, Internship at International Program of Communication Science Department UII)

Editor: A. Pambudi W

Reading Time: < 1 minute

Banyaknya akun palsu di medsos bisa jadi karena pemabahan tentang internet sehat masih rendah. Diperlukan literasi yang berkelanjutan untuk mencegah hal ini.

Dosen Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Raden Narayana Mahendra Prastya menyebut media sosial (medsos) memang memilik sifat yang sangat bebas. Kendali sepenuhnya berada di tangan penggunanya. Ini diperparah dengan pendaftaran akun medsos sangat mudah dan bisa berisi identitas palsu. Kondisi ini mengakibatkan banyaknya hoax yang beredar.

Meski demikian, menurut Narayana masyarakat bisa bersama-sama mencegah hal ini. Setiap medsos seperti facebook, twitter maupun youtube memiliki mekanisme filter masing-masing. “Masyarakat dan publik bisa sama-sama mengamati. Jika ada akun yang tidak benar kita bisa ramai-ramai melaporkannya dengan mekanisme report spam agar akun tersebut ditutup,” jelasnya.

Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pengguna internet sehat harus juga didengungkan terus. Masyarakat harus diberikan literasi yang cukup agar tidak mudah mempercayai hoax yang banyak beredar di internet.

Narayana mengusulakan agar ada pendidikan internet sejak dini yang dilakukan oleh pemerintah. “Sudah saatnya pendidikan tentang internet sehat dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah dari kelas 1 hingga kelas 9,” terangnya.

Literasi ini menurutnya lebih tepat dilakukan dibanding dengan melakukan pembatasan misalnya dengan penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat membuka akun medsos. Literasi yang selama ini sudah dilakukan masih terbatas oleh kalangan LSM dan kampus-kampus, sehingga belum bisa dilakukan secara kontinyu.

“Saya kurang sependapat penggunaan KTP untuk membatasi akun Medsos. Menurut saya yang lebih tepat adalah dengan jalan literasi. Masukkan kurikulum pendidikan internet sehat sejak dini, hal ini akan meminimalisir efek negative dari internet,” terangnya.


Tulisan ini telah dipublikasikan lebih dulu oleh Sindonews. Kami terbitkan ulang demi kepentingan edukasi, arsip, dan dokumentasi dalam kerangka kerja Knowledge management civitas akademik Komunikasi UII . Termasuk di dalamnya dokumentasi dan kemas ulang pendapat dan opini Dosen Komunikasi UII.  

Reading Time: 2 minutes

Selama masa pandemi, kegiatan mencari berita di berbagai media tetap harus berjalan. Apabila sebagai jurnalis pada kondisi biasa mereka harus keluar untuk mencari berita dan melakukan wawancara, maka ada sedikit perbedaan di masa pandemi. Begitulah cerita pengalaman Retyan Sekar, seorang Jurnalis, di acara bincang-bincang ‘Teatime’ besutan Jurusan Komunikasi International Program (IP) UII pada 30 Agustus 2020.

Hampir selama satu jam, dipandu Annisa Putri Jiany, ia berbagi kisah menekuni jalan karir sebagai jurnalis. Live Instagram ‘Teatime’ kali ini yang mengangkat tema “Study Life Impact to Carrier”, mengulik pengalaman alumni Jurusan Ilmu Komunikasi UII angkatan 2015 ini.

Retyan, sapaan akrabnya, mengatakan bekerja di media online pun harus punya cara untuk tetap mendapatkan narasumber dan menyelesaikan berita di segala kondisi. Pada masa pandemi wawancara dapat dilakukan secara daring dan beberapa informasi dapat dicari melalui media sosial. Berbeda sangat dengan masa sebelum pandemi.

Meski sekilas karirnya terlihat mulus, tetapi nyatanya kesukaannya pada dunia jurnalistik tak didapat dengan waktu yang pendek. Pengalamannya dalam jurnalisme sudah ia pupuk dari kecil.

Minat Jurnalisme Sedari Dini

Sejak kecil Retyan selalu suka mengikuti berbagai lomba story telling dan puisi. Hal inilah yang membuatnya terbiasa menulis dan berbicara di depan umum. Retyan juga sangat suka bicara di depan kamera dan telah mengenal dunia broadcasting sejak umur sembilan tahun. Hingga pada tahun 2007 Retyan diajak untuk ikut serta dalam pembuatan film dokumenter dan dipilih sebagai reporter cilik.

Ketika kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII), Retyan sempat bergabung dalam lembaga pers mahasiswa UII yang dikenal dengan nama Himmah. Retyan mengatakan, melalui Himmah ia banyak belajar terkait kepenulisan, dasar-dasar Jurnalisme, kerjasama tim, dan kepekaan akan isu internal. Selain itu, ia juga mendapatkan pengalaman dalam menghadapi dunia global ketika bergabung di UII MUN dan Jogja International Delegates.

Ketertarikan Retyan pada jurnalisme membuatnya memilih Program Studi Ilmu Komunikasi UII. “Dari awal masuk Ilmu Komunikasi udah mantap masuk peminatan Jurnalisme. Menurutku, Jurnalisme itu seru banget. Kita jadi punya teman yang sepaham untuk bertukar pikiran sekaligus jadi teman main. Karena dari kecil sering ikut lomba yang berhubungan sama bicara di depan umum, tanpa sadar itu yang membentuk aku,” ujar Retyan.

Meraih dan Menapaki Jalan Karir Impian

Retyan yang saat ini bekerja di media online Kumparan, pada awalnya hanya ingin mengetahui bagaimana cara kerja media online. Ketika di Kumparan ia banyak diajarkan bagaimana penulisan dan struktur tulisan yang benar. Hal ini membuatnya bertekad untuk terus memperbaiki pola kepenulisan.

Meskipun memiliki pengalaman magang di Kompas TV, Retyan sejak lulus tidak terlalu percaya diri dengan kemampuannya menulis. Sehingga ia memilih untuk mencari tantangan kerja yang mengharuskannya mengembangkan kemampuan menulis.

Namun, apakah karir impian cukup diraih hanya dengan didukung oleh antusiasme atau ketertarikan? Retyan berpesan bahwa untuk dapat meraih impian, kuncinya adalah dengan menetapkan tujuan. Menurutnya, karena dengan memiliki tujuan, keputusan yang diambil akan terasa lebih rasional.

Meski pandemi mendera dan menghambat pekerjaannya, ia berpesan agar selalu cerdas melihat sisi positif dari segala peristiwa. “Hidup bukan kompetisi. Ini masa sulit bagi semua orang, dan jangan menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi di situasi seperti ini. Karena target yang udah direncanakan kacau bukan berarti bisa menyalahkan diri sendiri. Berpikiran negatif boleh, tapi coba untuk mengambil sisi positifnya. Kita justru bisa belajar apapun di situasi sekarang, misalnya Bahasa Inggris, dan lain-lain,” ujarnya.

———–

Penulis: Fitriana Ramadhany (Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UII – Magang Program Internasional Jurusan Ilmu Komunikasi UII)

Editor: A. Pambudi W

 

 

Reading Time: 3 minutes

Sebuah slogan yang sarat spirit heroisme: Sekali Di Udara Tetap di Udara, menggema di media sosial dan saluran terestrial dalam bulan ini, menjelang perayaan tiga perempat abad kelahiran RRI (radio republik Indonesia), radio nasional tertua. Slogan ini lahir dalam masa revolusi kemerdekaan tahun 1948, ketika studio RRI Solo dibawah pimpinan R. Maladi, harus pindah ke Karanganyar menghindari aksi militer Belanda.

Slogan ini terus di rawat dalam benak dan disuarakan hingga 75 tahun kemudian, sebagai isyarat verbal bahwa RRI bertekad menjadi bagian dari proses ’revolusi udara’ pasca kemerdekaan. Meski lanskap sosial politik dan sistem media telah berubah. Merujuk buku Sedjarah Radio (1963), teks lengkap slogan itu sebetulnya didahului kalimat: Sekali Merdeka Tetap Merdeka, namun kalimat ini kerapkali tidak disertakan. Terinspirasi dari daya tahan slogan ini melewati berbagai periode politik dan sistem media, tulisan pendek ini menggali sejarah RRI dalam kerangka kebijakan penyiaran di Indonesia.

Dua Periode Kritis

Memasuki usia 75 tahun bagi RRI berarti juga memasuki periode ketiga kebijakan penyiaran Indonesia. Kebijakan pertama berlaku sejak radio ini lahir tahun 1945 hingga tahun 1970. Corak dasarnya monopolistik, di mana otoritas politik Indonesia hanya memiliki satu jenis media, yaitu radio pemerintah, radio siaran di luar pemerintah dianggap illegal. Model monopolistik ini jamak terjadi di negara lain termasuk di Inggris di mana sejak berdiri tahun 1927 hingga 1970-an, BBC menjadi pemain tunggal. Perbedaannya, BBC sejak awal menjadi media publik berbasis kebudayaan publik, sedang RRI lahir dengan semangat menjadi radio politik, mendukung pemerintah pasca kemerdekaan, bukan kebudayaan.

Orientasi penyiaran yang bersifat politis ini dikoreksi pada periode antara tahun 1970-1995-an. Keluarnya PP No. 55/1970 yang mengakui radio swasta mengakhiri era dominasi tunggal RRI. Regulasi ini mempromosikan radio sebagai institusi budaya, berbasis kreatifitas masyarakat dengan tujuan sosial-komersial. Kompetisi menjadi kata kunci yang sejatinya bisa memperkuat posisi RRI sebagai media publik. Sayang, hasrat pemerintah mengkooptasi RRI masih kuat sehingga periode 1970-1985 bisa dianggap sebagai sejarah paling buruk bagi RRI sebagai institusi radio yang seharusnya melayani warga negara.

Masa Lalu atau Masa Depan?

Periode ketiga (1995-2020) adalah periode paling dinamis sistem penyiaran Indonesia termasuk RRI. UU Penyiaran No. 32/2002 mengkoreksi kebijakan dualisme: radio pemerintah dan radio swasta menjadi kebijakan pluralistik terbatas. Ditandai munculnya radio publik dan radio komunitas sebagai pemain baru. Pilihan RRI pada tahun 2000 untuk menjadi radio publik sudah benar, selaras semangat demokratisasi media. Namun, dalam perjalanan hingga tahun 2020, rupanya tampak sikap galau, dan semangat untuk menjaga aliansi mesra dengan otoritas politik, bukan beraliansi dengan publik. Para insan di radio terbesar di Indonesia ini masih bimbang: merawat masa lalu atau meraih masa depan.

Karakteristik budaya jurnalisme di Indonesia pada 15 tahun terakhir, ketika RRI sudah mengemban status sebagai lembaga penyiaran publik mirip dengan apa yang digambarkan Robert McChesney (1999) sebagai: rich media poor democracy (jumlah media yang banyak, informasi yang berhamburan, tetapi minim kualitas yang merawat demokrasi). Setelah berusia 15 tahun sebagai LPP, pengelola RRI tampak tenggelam kepada kejayaan masa lalu sebagai media pembangunan dan saluran budaya serta olah raga, dan melewatkan kesempatan untuk menjadi saluran informasi yang tajam dan berkualitas. Slogan “sekali di udara tetap di udara“ kian mengalami kemandegan makna dan spirit perubahan. Nah, jika ingin meraih masa depan yang cerah menuju satu abad (25 tahun ke depan), RRI harus segera berbenah memenuhi aspirasi publik, sebab hanya publik yang loyalitasnya tulus.

 

Penulis: Masduki, Dr.rer.soc.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UII

—–

Tulisan ini telah terbit sebelumnya di Harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta pada edisi 11 September 2020 halaman 11. Gagasan dalam tulisan ini kembali kami terbitkan dalam laman ini demi menyemarakkan Bulan Penyiaran Publik. Kami meyakini, Semangat pembaruan Lembaga Penyiaran Publik yang tersirat dalam tulisan Dosen Program Studi kami ini layak digaungkan dan dikemasulang di laman-laman studi komunikasi sebagai bagian dari proses laku Pengelolaan Pengetahuan (Knowledge Management). Penulis adalah doktor dengan spesialisasi kajian Penyiaran Publik, Media Layanan Publik dalam klaster riset Regulasi dan Kebijakan Komunikasi.  Tulisan ini juga menjadi bagian komitmen kami pada rangkaian diskusi Sejarah Komunikasi dalam kajian Forum Amir Effendi Siregar.

Reading Time: 3 minutes

A slogan full of the spirit of heroism: Sekali di Udara, Tetap di Udara (Once in the Air Stay in the Air), echoing on social media and terrestrial channels this month, ahead of the three-quarter century anniversary of the birth of RRI (radio republic of Indonesia), the oldest national radio. This slogan was born during the independence revolution in 1948, when RRI Solo studio under the leadership of R. Maladi, had to move to Karanganyar to avoid Dutch military action.

This slogan was kept in mind and voiced up to 75 years later, as a verbal signal that RRI was determined to be part of the post-independence ‘air revolution’ process. Although the socio-political landscape and media system have changed. Referring to the book Sedjarah Radio (1963), the full text of the slogan is actually preceded by the sentence: Once Free, Stay Free, but this sentence is often not included. Inspired by the persistence of this slogan through various periods of politics and media systems, this short article explores the history of RRI within the framework of broadcasting policy in Indonesia.

Two Critical Periods

Entering the age of 75 for RRI means entering the third period of Indonesia’s broadcasting policy. The first policy was in effect since radio was born in 1945 to 1970. The basic pattern is monopolistic, in which the Indonesian political authority only has one type of media, namely state radio, broadcast radio outside the government is considered illegal. This monopolistic model is common in other countries, including Britain, where since its founding in 1927 to the 1970s, the BBC has been the sole player. The difference is that the BBC has been a public media based on public culture from the start, while RRI was born with the spirit to become a political radio, supporting the post-independence government, not culture.

This political orientation of broadcasting was corrected in the period between 1970-1995s. The issuance of PP No. 55/1970 which acknowledged that private radio ended the era of RRI’s single domination. This regulation promotes radio as a cultural institution, based on community creativity with socio-commercial objectives. Competition is a keyword that can actually strengthen RRI’s position as a public media. Unfortunately, the government’s desire to co-opt RRI is still strong so that the period 1970-1985 can be considered as the worst history for RRI as a radio institution that should serve citizens.

Past or Future?

The third period (1995-2020) was the most dynamic period for the Indonesian broadcasting system, including RRI. Broadcasting Law No. 32/2002 corrects the policy of dualism: state radio and private radio to a limited pluralistic policy. Marked by the emergence of public radio and community radio as a new player. RRI’s choice in 2000 to become a public radio station was correct, in line with the spirit of media democratization. However, on the way up to 2020, there seems to be a troubled attitude and enthusiasm to maintain an intimate alliance with political authorities, not alliance with the public. The people on the biggest radio in Indonesia are still uncertain: caring for the past or reaching for the future.

The characteristics of journalism culture in Indonesia in the last 15 years, when RRI has assumed its status as a public broadcasting institution is similar to what Robert McChesney (1999) described as: rich media, poor democracy (large amount of media, scattered information, but minimal quality of care. democracy). After turning 15 as an LPP, the RRI manager seems to be immersed in its past glory as a medium for development and a channel for culture and sports, and has missed the opportunity to become a channel for sharp and quality information. The slogan “once in the air, remains in the air” increasingly stagnates the meaning and spirit of change. So, if you want to achieve a bright future towards a century (the next 25 years), RRI must immediately clean up to meet the aspirations of the public, because only the public has genuine loyalty.

 

Author: Masduki, Dr.rer.soc.

Lecturer of the UII Communication Science Departmen of Universitas Islam Indonesia

—–

This article was previously published in the Kedaulatan Rakyat Daily in Yogyakarta on the 11 September 2020 edition page 11. We republish the ideas in this paper on this page to enliven the Month of Public Broadcasting. We believe the spirit of renewing the Public Broadcasting Institution, which is implied in the writings of our Communication Science Lecturer, deserves to be echoed and republished on communication study pages as part of the Knowledge Management process. The author is a doctorate specializing in Public Broadcasting, Public Service Media in the Communication Policy and Regulation research cluster. This paper is also part of our commitment to a series of discussions on the history of communication in the study of the Amir Effendi Siregar Forum.

 

Reading Time: 5 minutes

Oleh Ifa Zulkurnaini

Wisata bencana adalah topik perdebatan yang pelik: ada yang sinis dan ada yang simpatik. Sikap media pun bergeser dari masa ke masa.

Di tengah perang dengan pandemi dan anjuran untuk karantina diri, beberapa gunung di Indonesia tersadar dari tidurnya. Gunung Merapi erupsi pada 10 April 2020 pagi. Malamnya, Anak Krakatau menyusul. Tampaknya, hidup di Indonesia, berarti bersiap berhadapan dengan bencana yang beragam.

Warga Indonesia sudah sejak lama menggunakan kreativitas sebagai respon bencana. Kita mengenal adanya “wisata bencana”, yakni kegiatan wisata yang memperlakukan bencana sebagai tontonan. Konsep dan praktik ini bisa ditelisik mundur setidaknya sejak 1982. Ada satu hal penting ketika kita membicarakan “wisata bencana”.

Sejak awal kemunculannya, media berperan penting dalam mendefinisikan, membangun, dan menilai wacana mengenai “wisata bencana”. Posisi media dalam melihat “wisata bencana” juga berubah di sepanjang sejarah.

Artikel ini sendiri akan membicarakan bagaimana Harian Umum Kompas—media cetak yang memiliki oplah tinggi di Indonesia—mendefinisikan “wisata bencana” semenjak 1970an hingga 2000an awal. Artikel ini juga akan membicarakan bagaimana kemudian Kompas bergeser dalam menilai “wisata bencana” menjadi dua hal yang berbeda.

Piknik Bencana Sebagai ”Tindakan Tidak Etis”

Teks yang berhubungan dengan wisata bencana pertama kali muncul di Kompas pada 26 Juli 1976. Ketika itu, terjadi gempa bumi yang terjadi di Seririt, Bali, salah satu kota kecamatan yang terkenal sebagai tempat wisata. Artinya, dalam kemunculan ini, “wisata bencana” dapat diartikan sebagai “bencana yang terjadi di daerah wisata”.

Kompas mewacanakan konsep ini dengan lebih sistematis, serta lebih dekat dengan pemaknaan kita hari ini, pada 1982. Ketika Gunung Galunggung meletus dan menyapu beberapa kecamatan di Garut. Kala itu, Kompas memberitakan sebuah kegiatan yang dinamai sebagai “piknik bencana”.

“…yang lebih ramai lagi adalah bila Anda bisa minta kepada penjaga palang pintu untuk membukakan jalan, dan masuk mengikuti jalan yang menuju ke arah Desa Sinagar, desa yang sudah dimusnahkan oleh delapan kali Letusan galunggung. Di Desa Sukaratu, jalan itu melintasi Kali Cibanjaran, alur yang menjadi jalan lahar dingin dari kawah Cekok dan kawah Hejo yang sekarang mengepul menjadi satu kepundan… Di situlah pusat keramaiannya… kebanyakan orang kota, dengan pakaian lengkap dengan kamera, gaya piknik.” (Piknik ke Galunggung”, Kompas 2 Juni 1982).

Melalui teks tersebut, Kompas memposisikan kegiatan masyarakat menonton bencana itu sebagai “piknik”. Secara simbolik, istilah piknik digunakan sebagai strategi untuk memproduksi ruang yang bukan wisata menjadi ruang wisata.

Kompas memilih diksi yang menarik untuk kita bahas di sini: “orang kota”. Sewajarnya, dalam piknik, pelakunya umum disebut sebagai “wisatawan”, “pelancong”, atau “turis”. Dengan menggunakan diksi “orang kota”, Kompas hendak menggarisbawahi tegangan sosial yang terlibat di dalamnya. Pada satu sisi ada subjek “orang kota” yang “berpakaian lengkap”, dan menenteng “kamera”. Pada sisi lain, ada objek pemandangan warga terdampak, desa yang “dimusnahkan oleh delapan kali Letusan galunggung”.

Bingkai etika yang dipakai Kompas ini semakin keras dan gamblang pada 2006. Kritik ini disampaikan melalui artikel dengan judul “Santir Rupa Lindunisia”, yang menyamakan pengunjung wisata bencana sebagai “orang berhati Iblis”.

“Rupanya bencana memunculkan pula peluang bagi orang-orang berhati iblis untuk mendirikan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Paling tidak membikin mereka berkesempatan piknik ke ‘desa wisata gempa’, …” (Wahyuddin, “Santir Rupa Lindunisia”, Kompas 24 September 2006).

Cerpen berjudul “Piknik” ikut memberi penggambaran sinis atas aktivitas ini.

“Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Mungkin itu bisa membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Berwisatalah ke kota kami. Jangan khawatir, kami pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga—air mata. (Agus Noor, “Piknik”, Kompas, 2 Juli 2006)

Nada satir pada kalimat terakhir di penggalan cerpen Agus Noor memberikan kesaksian bahwa kegiatan “piknik bencana” bukanlah hal yang dikehendaki penyintas. Dalam teks-teks ini, bencana dipahami sebagai kondisi yang menyedihkan. Dengan demikian, tak elok jika dinikmati sebagai objek pengisi waktu luang.

Hal lain yang menarik dari fenomena “piknik bencana” dalam terbitan Kompas di sepanjang 1982-2010 adalah kegiatannya yang bersifat aksidental, tanpa persiapan atau tanpa pengelolaan. Fokusnya pun hanya sebatas apa yang bisa dilakukan oleh penonton, seperti “orang kota” dalam letusan Gunung Galunggung.

Pemberitaan Kompas mengenai Letusan Gunung Merapi pada 1993 memang menunjukkan adanya aktivitas dari penyintas yang menjadi pemandu wisata, serta adanya pemberian imbalan (“Rame-Rame Nonton Letusan”, Kompas, 24 April 1993). Namun, praktik ini tidak terorganisir dan tidak ada penerapan tarif khusus. Hal sama yang terjadi ketika Galunggung meletus pada 1982, ketika masyarakat ramai menemani “orang kota” melihat letusan Galunggung.

“Wisata Bencana” sebagai Tontonan yang Dikelola

Perubahan cara pandang Kompas mulai terjadi setidaknya pada 2010. Pada era tersebut itu, Kompas mulai menukar istilah “piknik bencana” menjadi “wisata bencana”. Penggunaan istilah ini menandai sejumlah pergeseran dalam menempatkan warga terdampak, pengunjung, serta aktivitas wisata itu sendiri. Lebih dari itu, penggunaan istilah “wisata bencana” juga menandai peralihan peran Kompas dalam menyebarkan pengetahuan bahwa bencana dapat dijadikan sebagai komoditas wisata.

Hal ini terjadi terutama setelah meletusnya Gunung Merapi pada 2010. Selepas bencana ini terjadi, warga terdampak tak lagi digambarkan sebagai objek yang pasif, yang tak berdaya menjadi bahan tontonan. Warga terdampak digambarkan secara simpatik sebagai aktif memanfaatkan ramainya pengunjung.

“Orang ingin tahu seperti apa rumah Mbah Maridjan dan bagaimana kondisi dusun kami—daripada nasib kami menjadi tontonan, lebih baik kami sekalian menyediakan tontonan. Itulah ide awal Lava Tour Merapi,” ungkap Asih (“Merapi yang Selalu Menghidupi”, Kompas, 18 Februari 2012).

“Wisata bencana” adalah istilah yang merujuk pada sebuah kegiatan wisata yang dikelola. Dalam peliputannya, Kompas pun menghadirkan industri wisata baru yang dikelola warga terdampak bencana ini sebagai wisata yang wajar dan profesional. Mulai dari pengelola yang mengenakan seragam, hingga cetakan karcis masuk dan biaya parkir yang sudah diseragamkan (Kompas, 28 Januari 2011).

Pengelola pun menyediakan fasilitas berupa mobil Jeep dan motor trail untuk memperkaya pengalaman wisata.

Perubahan juga terjadi dalam cara Kompas mendeskripsikan pengunjung. Bukan lagi sebagai “orang kota” yang hendak “piknik”, melainkan sebagai “wisatawan”. Aktivitas para wisatawan ini pun tak lagi disindir atau dikritik sebagai aktivitas yang tak bermoral. Praktik menonton sambil menenteng kamera atau smartphone untuk merekam bencana dianggap hal yang lumrah.

Kompas menyamakan kegiatan ini dengan “napak tilas”. Penggunaan istilah napak tilas terlihat memberikan gambaran bahwa aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan sebagai penghormatan, sebagai rasa empati terhadap warga terdampak.

Refleksi

Ada hal yang berubah dari cara Kompas membicarakan wisata bencana. Sejak pemberitaan awal pada 1982, Kompas teguh untuk menganggap piknik bencana sebagai perbuatan yang tidak elok. Namun setelah letusan Gunung Merapi pada 2010, Kompas tidak lagi mengkritik wisata bencana sebagai hal yang negatif, mereka lebih tertarik pada pada bagaimana masyarakat mengkomodifikasi bencana menjadi wisata.

Tentu ada dimensi etika yang patut untuk dipertimbangkan: apakah tindak “menonton” bencana adalah hal yang etis untuk dilakukan dan menghormati warga terdampak? Apakah ketika warga terdampak berperan secara aktif dalam menyelenggarakan wisata itu membuatnya jadi kegiatan yang lebih etis?

Namun, di luar dimensi etika, hal lain yang menarik untuk kita refleksikan adalah mengenai relasi kita dengan ruang. Dalam studi komunikasi geografi, komunikasi dan media memiliki peran krusial dalam mengkonstruksi ruang yang baru bagi manusia (Dhona, 2018: Dhona, 2017).

Dalam kasus wisata bencana, media—diwakili oleh Kompas—sebagai pihak yang secara aktif memaknai dan membentuk pemahaman kita mengenai situs bencana. Hal ini menunjukkan bahwa juga memberikan gambaran bahwa ruang tidaklah tetap. Pemahaman kita atas ruang dibentuk oleh aktivitas kita di dalamnya, termasuk juga bagaimana kita membicarakannya (Dhona, 2019).

——-

Ifa Zulkurnaini adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Klaster Riset Komunikasi Geografi dan Lingkungan. Tulisan ini telah terbit lebih dahulu pada 16 Juni 2020 di laman Remotivi, sebuah Pusat Kajian Media dan Komunikasi yang telah eksis lama di dunia kajian media Indonesia. Gagasan ini kami terbitkan ulang sebagai #kliping untuk kepentingan edukasi dan kajian komunikasi terutama komunikasi geografi.  Gambar merupakan karya Remotivi.or.id digunakan ulang untuk ilustrasi dan edukasi.