Cara Mudah Pembayaran SPP Mahasiswa FPSB UII

Berikut cara mudah pembayaran SPP via transfer bisa melalui prosedur sebagai berikut:

1. Untuk Bank Lain: masuk ke transfer antar bank, pilih bank muamalat, nomor rekening tujuan diisi sebagai berikut: 9090-01-no tagihan kemudian masukkan jumlah tagihan yang akan dibayarkan, lalu keterangannya pembayaran spp.

2. Untuk Muamalat: masuk ke menu virtual account, kemudian kode virtual acountnya
9090-01-no tagihan, jumlah tagihan langsung otomatis muncul sendiri.

Informasi dan sumber Divisi Keuangan FPSB UII kontak person Dwi

 

View this post on Instagram

 

A post shared by DAAUPDATE (@daaupdate) on

Berdasarkan SE Rektor UII nomor 928 tentang Pencegahan Covid-19, SE Rektor 1048 tentang Mitigasi Covid-19, SE Rektor 1050 tentang Kerja dari Rumah, dan SE Rektor 1080 tentang Perpanjangan Pembelajaran Daring dan Peniadaan Layanan Tatap Muka, maka seluruh layanan akan dilakukan melalui sistem dalam jaringan/ daring (online). Klik layanan berikut:

 

Surat Edaran
Ketua Prodi Ilmu Komunikasi
FPSB UII
No : 18/Kaprodi/10/Kom/III/2020

Lampiran unduh dalam versi PDF berisi:

1. surat edaran
2. Daftar peserta magang
3. Alur Mekanisme Pengganti dan Saran Aktivitas Pengganti Magang

————

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Memperhatikan dan menindaklanjuti Surat Edaran Rektor nomor: 1048/Rek/10/SP/III/2020
dan 1050/Rek/10/SP/III/2020 tentang Mitigasi Penyebaran Covid-19 tertanggal 14 Maret 2020
serta Surat Edaran Dekan nomor 33/Dek/10/DURT/III/2020 maka:

  1. Program Studi Ilmu Komunikasi menarik seluruh mahasiswa yang sedang melakukan magang
  2. Bagi mahasiswa yang belum memenuhi durasi standar magang (dua bulan) dapat mengganti magang dengan melakukan aktivitas lain yang lebih aman dari penyebaran Covid-19.
  3. Bentuk aktivitas pengganti magang dapat berupa produksi program-program komunikasi yang dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA)

Keputusan ini diambil demi kemaslahatan kita bersama. Semoga Allah SWT senantiasa memberi pertolongan kepada kita semua.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Yogyakarta, 18 Maret 2020

Ketua Program Studi
Ilmu Komunikasi

Puji Hariyanti, S.Sos., M.Ikom

SURAT EDARAN DEKAN
Nomor: 33/Dek/10/DURT/III/2020

————

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim. Memperhatikan dan menindaklanjuti Surat Edaran Rektor nomor: 1048/Rek/10/SP/III/2020 tentang Mitigasi Penyebaran Covid-2019 tertanggal 14 Maret 2020 dan Rapat Dekanat Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FPSB) pada tanggal 16 Maret 2020, dengan ini pimpinan FPSB UII mengambil kebijakan:

Pertama : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya mengutamakan kesehatan dan keselamatan civitas akademika.

Kedua : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya mewajibkan pembelajaran tatap muka di kelas dalam rentang 16 Maret hingga 15 April 2020. Proses pembelajaran selama rentang tersebut dilaksanakan secara daring (online).

Ketiga : Semua dosen pengampu melaksanakan kuliah daring dengan memanfaatkan Google Classroom, Zoom, atau sistem lain. Apabila dosen pengampu mendapati adanya kendala dalam penggunaan perangkat daring di atas, maka dosen dapat menyampaikan permintaan bantuan kepada Divisi Administrasi Akademik FPSB UII (Fariyanto 0815-7804-8769) atau Divisi Sistem Informasi (Darzan Hanan 0898-5752-359). Divisi Administrasi Akademik akan menyiapkan folder berbagi melalui google drive (nama folder disesuaikan nama dosen) yang berisi daftar presensi perkuliahan yang dipergunakan untuk update presensi.

Keempat : Informasi tentang presensi perkuliahan daring disampaikan kepada Divisi Administrasi Akademik selambat-lambatnya satu hari setelah pelaksanaan perkuliahan daring.

Kelima : Seluruh kegiatan praktikum tatap muka diliburkan selama kurun waktu 16 Maret hingga 15 April 2020 dan akan dilaksanakan setelah Ujian Tengah Semester (UTS).

Keenam : Semua pengunjung (dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, tamu) yang hadir di Gedung FPSB UII wajib dicek dulu suhu badan dan menggunakan handsanitizer yang sudah disediakan.

Ketujuh : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII tidak menerima tamu dari luar negeri dalam rentang waktu 16 Maret – 15 April 2020.

Kedelapan : Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dilarang bepergian ke dalam dan luar negeri dan luar propinsi selama rentang 16 Maret – 15 April 2020, kecuali untuk keperluan yang tidak dapat ditunda.

Kesembilan : Ujian Tengah Semester pada Semester Genap Tahun Akademik 2019/2020 dilakukan dengan model daring/online atau take home. Penjelasan tentang proses dan prosedur UTS akan dijelaskan dalam aturan terpisah.

Kesepuluh : Semua mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan PKPP segera ditarik dari tempat PKPP paling lambat tanggal 21 Maret 2020 dan wajib melakukan isolasi diri selama 14 hari serta tidak boleh ke kampus selama masa isolasi diri.

Kesebelas : Lembaga kemahasiswaan yang ada di FPSB UII dilarang melakukan kegiatan termasuk rapat-rapat pada rentang waktu 16 Maret – 15 April 2020.

Kedua belas: Akan dilakukan penyemprotan desinfektan pada rentang 18-22 Maret 2020 di seluruh ruangan yang ada di Gedung FPSB UII dan dilakukan pengumuman sehari sebelumnya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yogyakarta, 21 Rajab 1441 H /16 Maret 2020

Dekan

Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog

 

More and more participants of Asikopti’s meeting was came and sign the attendance book. Since morning on Wednesday, February 12, 2020, participants representing Islamic univeersities institutions in Indonesia have gathered at the Auditorium of the Faculty of Psychology and Social and Cultural Sciences (FPSB) of the Islamic University of Indonesia (UII). In this event, they will hold discussions in the event entitled the Meeting of the Association of  Communication Science of Islamic Universities in Indonesia (Asikopti) tenure of 2019-2022. UII’s Communication Science Department was became the host after the Asikopti’s Congress was previously held by the Universitas Islam Bandung, Faculty of Communication Science.

The agenda, in addition to completing personnel and management arrangements, also discussed other plans. Such as plans for the management inauguration after Ramadan, and also urgent issues related to Islamic higher institutions, and plans to launch the Indonesian Association of Communication Studies Lecturer (Asdikom). Asdikom is the first initiative in Indonesia as a professional association specializing in the studies and professions of Communication Sciences lecturers in Indonesia.

Erik Setyawan, the new Chair of Asikopti from Fikom Universitas Islam Bandung (Unisba), said Asikopti needs to be the vanguard of Islamic higher education that brings mercy to the people and benefits to their association members. Communication Major that are incorporated can cooperate with each other to improve the quality of their programs. Asikopti’s members can network in terms of improving the quality of journals, the development of scientific studies and curriculum, research collaboration, especially in studies with Islamic values.

Bono Setyo, the previous chairman of Asikopti, also said that each member of Asikopti had their own strengths. There are professors and doctors who can inspire in collaboration and cooperation toimprove the quality of activities of each member. Each Asikopti’s member can exchange networks so that the Asikopti’s benefits are truly felt. There are much more potentials that can be collaborated and are important to be supported.

In the 2019-2022 tenure, the Chairperson and the board of Asikopti also planned several programs to increase the usefulness of Asikopti for the study of islamic values ​​and public nature. The Proposed program plans such as an international conference, Special Journal for Asikopti’s Members, Member database (including competencies in it), and the matter of moving the Asikopti secretariat to Unisba.

On Wednesday, February 12th, 2020, in the Auditorium Room of the Faculty of Psychology and Social and Cultural Sciences (FPSB) of Universitas Islam Indonesia (UII), representatives from several islamic universities in Indonesia followed up their ideas before. The ideas are about the establishment of Association of Indonesian communication science lecturer. Previously, at the Asikopti’s (Association of Communication Science Department on Islamic Universities at Indonesia) Congress at Universitas Islam Bandung (Unisba) in 2019, several lecturers from the Department of Communication Studies around Indonesia sparked the need for professional associations for communication science lecturers. At that time, the name Asdikom was born, a bahasa acronym from the Indonesian Association of Communication Science Lecturers.

Asdikom is an idea that arises due to some anomalies. So far, existing associations, such as Aspikom (Association of Indonesian Communication Science Department) and Asikopti, do not bind lecturers but universities and majors in communication sciences. The effects and benefits are different. Both of them are not included in the lecturer profession association. Initially, this association was followed by personal membership for all lecturers who were members of Asikopti. The future plan, according to Fajar Iqbal, Asdikom’s secretary general, in the future Asdikom is not only limited to lecturers of Asikopti members.

Asdikom which is chaired by Ani Yuningsih, a doctor from Communication Studies at the Bandung Islamic University, has greater potential than Asikopti. “Because the membership is personal lecturer academics,” said Fajar Iqbal who is also a lecturer at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bono Setyo, a former of Asikopti, and Fajar Iqbal, both of them are UIN Sunan Kalijaga UIN communication lecturers, and all participants agreed that the lecturer association would focus on the orientation of personal development of lecturers. Both in science and the capacity of individuals to achieve the best careers of their members. Indirectly, it will increase scientific studies and benefits in the community.

Isu-isu mendesak yang diusulkan agar dapat dibincangkan dalam pertemuan Asikopti berikutnya beragam. Pertemuan pada agenda pelantikan pengurus Asikopti di Universitas Veteran Sukoharjo beberapa bulan lagi itu, adalah usulan Puji Hariyanti, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII dan Rama Kertamukti dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puji menawarkan agar agenda berikutnya Asikopti bisa membahas konsep Kampus Merdeka yang baru saja dicetuskan oleh Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayan RI.

“Bagaimana konsekuensinya, apa efeknya, dan kajian konseptualnya dan implementasinya pada perguruan tinggi,” kata Puji Hariyanti. Terutama tentu penting membincang konsep tersebut pada perguruan tinggi yang berlandaskan pada nilai islam seperti perguruan tinggi islam anggota-anggota Asikopti. “Kami di UII sendiri juga masih menggodok implementasi konsep tersebut, perlu kajian yang matang dan menyeluruh,” tambahnya.

Isu lain yang penting juga didalami adalah kapasitas anggota Asikopti dalam pemanfaatan Big data. Rama kertamukti mengusulkan pada pertemuan berikutnya, Asikopti bisa menghelat workshop big data untuk pengembangan jurnal ilmiah. Workshop juga menjadi magnet bagi para peserta.

Pada kesempatan itu disusun susunan kepengurusan Asikopti yang komposisinya berasal dari beragam kampus. Misalnya ada pengurus perwakilan dari Prodi atau jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), UIN Sunan Kalijaga, Univet Sukoharjo, Unida Gontor, UAD, Unisba, UIN Suska Riau, Unisa, UIN Sumatera Utara, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Alauddin Makassar, dan beberapa kampus lainnya.

Berita ini adalah lanjutan dari tulisan ini.

Sejak pagi pada Rabu, 12 Februari 2020, peserta-peserta yang mewakili perguruan-perguruan tinggi islam di Indonesia telah berkumpul di Auditorium Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII). Pada acara ini, Mereka akan berembug dalam acara yang diberi tajuk Rapat Formatur Kepengurusan Asosisasi Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Islam (Asikopti) masa bakti 2019-2022. Komunikasi UII kali ini menjadi tuan rumah setelah sebelumnya Kongres Asikopti diadakan oleh Fikom Universitas Islam Bandung.

Agendanya, selain melengkapi personalia dan susunan kepengurusan, juga membahas rencana-rencana lain. Seperti rencana pelantikan pengurus paska ramadhan mendatang, isu-isu mendesak terkait perguruan tinggi islam, dan rencana peluncuran Asosiasi Dosen Ilmu Komunikasi Indonesia (Asdikom). Asdikom adalah inisiatif pertama di Indonesia sebagai asosiasi profesi yang mengkhususkan pada kajian dan profesi dosen Ilmu Komunikasi di Indonesia.

Erik Setyawan, Ketua Asikopti yang baru dari Fikom Universita Islam Bandung (Unisba), mengatakan Asikopti perlu menjadi garda depan perguruan tinggi islam yang membawa rahmat pada umat dan memberi manfaat pada anggotanya. Prodi-prodi yang tergabung bisa saling kerjasama untuk meningkatkan kualitas prodinya. Anggota asikopti bisa berjejaring dalam hal peningkatan kualitas jurnal, pengembangan kajian keilmuan dan kurikulum, kolaborasi riset, terutama pada kajian-kajian dengan nilai-nilai islam.

Bono Setyo, ketua Asikopti sebelumnya, juga mengakatakn bahwa tiap prodi anggota asikopti punya kelebihan masing-masing. Ada profesor dan doktor yang bisa menjadi inspirasi dalam kolaborasi dan kerjasama meningkatkan mutu kegiatan masing-masing prodi. Tiap prodi anggota Asikopti dapat bertukar jejaring sehingga manfaat asikopti betul-betul terasa. Ada potensi-potensi yang bisa dikolaborasikan dan penting didukung.

Dalam masa kepengurusan 2019-2022 ini, Ketua dan pengurus Asikopti juga merencanakan beberapa program untuk meningkatkan kebermanfaatan Asikopti untuk Kajian Nilai-Nilai Islam dan Keumatan. Rencana program yang diusulkan misalnya konferensi internasional, Jurnal Khusus Anggota Asikopti, Database anggota (termasuk kompetensi di dalamnya), dan soal kepindahan sekretariat Asikopti ke Unisba.

 

Pada Rabu, 12 Februari 2020, di Ruang Auditorium Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), perwakilan dari beberapa perguruan tinggi islam di Indonesia melanjutkan gagasan mereka tentang pendirian asosiasi dosen ilmu komunikasi se-indonesia. Sebelumnya, dalam Kongres Asikopti di Universitas Islam Bandung 2019 lalu, beberapa dosen jurusan dan prodi Ilmu Komunikasi se-Indonesia mencetuskan perlunya asosiasi profesi untuk dosen-dosen ilmu komunikasi. Pada saat itu, lahir nama Asdikom, akronim dari Asosiasi Dosen Ilmu Komunikasi Indonesia.

Asdikom adalah gagasan yang muncul akibat beberapa kegelisahan. Selama ini asosiasi yang telah ada, seperti Aspikom dan Asikopti, tidak mengikat dosen melainkan perguruan tinggi dan program studi/ jurusan ilmu komunikasi. Efek dan manfaatnya berbeda. Keduanya pun bukan termasuk asosiasi profesi dosen. Mulanya, asosiasi ini diikuti oleh keanggotan personal bagi seluruh dosen yang menjadi anggota ASIKOPTI. Rencana ke depan, menurut Fajar Iqbal, sekretaris Asdikom, ke depan Asdikom tidak hanya terbatas pada dosen anggota Asikopti.

Asdikom yang diketuai oleh Ani Yuningsih, doktor dari Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, memiliki potensi lebih besar dari asikopti. “Karena keanggotaannya bersifat personal akademisi dosen,” kata Fajar Iqbal yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bono Setyo dan Fajar Iqbal – keduanya adalah dosen ilmu komunikasi UIN Sunan Kalijaga- dan seluruh peserta pada hari itu bersepakat bahwa asosiasi dosen ini akan fokus pada pada orientasi pengembangan dosen secara personal. Baik dalam keilmuan maupun kapasitas individu guna meraih karir terbaik anggota-anggotanya. Secara tidak langsung, itu akan meningkatkan kajian keilmuan dan manfaat di tengah masyarakat.

Senin (10/2), Mutia Dewi hadir sebagai pembicara dalam Workshop Menulis Proposal Pengabdian Masyarakat untuk Dosen Ilmu Komunikasi UII. Workshop yang dilaksanakan pagi hari di Prodi Ilmu Komunikasi UII ini diikuti belasan dosen Ilmu Komunikasi UII. Mulai dari dosen yang fokus pada kajian media, gender, visual culture, jurnalistik hingga regulasi komunikasi. Workshop ini bertujuan agar para dosen dapat mengoptimalkan pengabdian masyarakatnya selama ini dengan dukungan dana yang cukup juga, misalnya support dari Dikti dan Instansi swasta lain. Workshop berjalan dengan konsep diskusi dan cerita pengalaman dan praktik baik dari beberapa dosen lain juga.

Mutia memaparkan pengalaman-pengalamannya menembus hibah pada seluruh dosen Komunikasi UII. Hibah yang dimaksud adalah hibah pengabdian masyarakat baik di Dikti maupun lembaga lain. Mutia tercatat pernah menembus hibah dikti yang kompetitif pada 2015, hibah Direktorat Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat UII, dan hibah lainnya.

Beberapa dosen merasa pelatihan ini menjadi kunci untuk mereka yang selama ini kesulitan menembus hibah pengabdian dikti. Padahal hibah dikti adalah salah satu kunci tingginya derajat pengabdian masyarakat dalam dokumen akreditasi BAN-PT.

Salah satu yang ikut hadir dan berdiskusi adalah Narayana Mahendra, dosen Komunikasi UII (klaster penelitian jurnalisme dan komunikasi olahraga). Bagaimana detil atau kemasan proposal yang jitu untuk menembus hibah-hibah tersebut, tanyanya.

Mutia Dewi menjelaskan bahwa menurut pengalamannya, buatlah proposal dengan kemasan yang mudah dibaca. “Jadi tulislah persoalan yang dihadapi masyarakat atau mitra, analisis situasi, dan solusi dengan rigid, mudah, dan jelas,” jawab Mutia.

Selain itu ada pula yang wajib masuk dalam proposal yaitu luaran (output) dan kelayakan pengabdian. “Dalam setiap proposal saya yang tembus itu saya selalu menambahkan luaran sehingga pemberi hibah akan merasa jelas memberi hibah. Hasilnya jelas terlihat,” katanya. Sedangkan bagian ‘kelayakan pengabdian’ sangat penting ada di proposal agar meyakinkan pemberi hibah.

Tentu saja surat kesediaan mitra menjadi kunci diterimanya proposal. Jika mitra sudah bersedia, kesuksesan jalannya program sudah setengah jalan. Workshop ini juga membahas tips dan trik juga dalam merancang dan mengelola anggaran pengabdian masyarakat. Selain anggaran, ada juga trik mengemas keluaran (output) yang menarik seperti dengan video after movie atau poster summary pengabdian. Keluaran seperti ini bisa memermudah dan merangsang agar khalayak terinspirasi untuk melakukan pemberdayaan.

Puji Hariyanti, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UII, juga membagikan pengalamannya. Ia mengatakan dengan anggaran subsidi pengabdian masyarakat untuk dosen, dosen bisa menggaet mahasiswa juga agar terjadi kolaborasi. “Mahasiswa-mahaiswa kita kreatif dan variatif juga lho memilih mitra dan lokasi  Bisa dilihat saat mereka melakukan program pengabdian masyarakat pada saat mata kuliah desain program non komersil tahun lalu,” katanya. Saat itu, mahasiswa bisa menggaet beragam mitra, seperti institusi BUMN, komunitas masyarakat dan hobi, maupun kalangan pelajar di sekolah SMP dan SMA.