Reren Indranila Radar Jogja JAwa Pos di UII

“Kalau biasanya orang kasih 5W + 1H, saya tambahkan jadi 6W + 1H,” kata Reren Indranila dalam Workshop How to Create and Manage Impactful Website Content.

Begitulah salah satu tip yang dibagikan Reren, Pemimpin Redaksi Radar Jogja, salah satu pembicara dalam workshop yang dilaksanakan oleh Humas UII pada 4 Desember 2019 di Lantai 4, Gedung H. GBPH Prabuningrat. Kegiatan yang diikuti lebih dari 40 pengelola website di seluruh program studi dan unit di UII ini dibuka oleh Ratna Permata Sari, S.I.Kom, MA, Kepala Bidang Humas UII. Menurut Ratna, kegiatan ini dilaksanakan untuk membuat garda depan UII di laman daring dengan konten yang kuat secara citra, dan konsisten.

Pelatihan ini juga bermaksud meningkatkan kualitas website di UII. Selain kualitas, soal jumlah domain web juga penting diperhatikan. Ratna berharap, semakin sedikit website di UII, penanganan keamanannya juga semakin mudah.  Begitu pula jika konten semakin konsisten dan berkualitas, maka semakin bagus juga citra UII di mata publik. “Intinya ketika menulis, kedepankan UII lebih dahulu, meskipun itu kegiatan kerjasama dengan pihak lain, karena ini garda depannya UII,” kata Ratna.

Citra dan konten  yang berkualitas itu seperti apa? Reren menyarankan pengelola website prodi bisa mengoptimalkan apa saja potensi prodinya. “Ada dosen prestasi dan riset bagus, ya itu dinaikkan. Ada mahasiswa yang pintar juga konten kreator youtuber nah itu juga bisa dinaikkan. Kalau konten ini naik, nanti kan bisa jadi rujukan jurnalis. Bisa masuk media tanpa cost yang berarti. Ini bisa jadi publikasi gratis. dan secara nggak langsung ini juga sudah menjalankan fungsi kehumasan juga kan?” saran Reren.

Selain tingkatkan kualitas, Reren bagikan juga soal tingkatkan keterbacaan konten kita. menambahkan bahwa kita bisa bermain di penjudulan untuk tingkatkan keterbacaan berita website. Kita bisa kaitkan dengan konteks saat ini. “Ini penting dalam SEO (Search Engine Optimizer), misalnya kita mau menulis soal gubernur DIY, kita mau pakai gubernur DIY atau HB X? Orang akan lebih populer cari HB X daripada Gubernur DIY,” kata Reren.

Reren juga menyarankan penggunaan judul hanya 5 sampai 7 kata minimal. Jika terlalu banyak, di dunia daring orang sudah malas membaca. Lalu, Bagaimana membuat artikel kita diklik banyak orang, kata Reren. “Kita bisa berkolaborasi dengan media sosial lain. Jadi kita link-kan artikel kita di story instagram. Bikin foto yang menarik, karena foto itu mempengaruhi orang mau klik atau tidak. kalau di twitter kita bisa memancing dengan tulisan atau link  yang gaya menulisnya bukan khas robot. Sangat manusia, sehingga tidak kaku dan orang tertarik, katanya. Angkat kisah-kisah mahasiswa dan dosen karena itu menarik.

Dalam sesi tanya jawab, Zarkoni, pengelola Website Komunikasi UII,  mengemukakan pertanyaan. “Kalau tadi disebut

“Ada dosen prestasi dan riset bagus, ya itu dinaikkan. Ada mahasiswa yang pintar juga konten kreator youtuber nah itu juga bisa dinaikkan. Kalau konten ini naik, nanti kan bisa jadi rujukan jurnalis.”

Soal standar, Jawa Pos juga sering mengeluarkan dan memerbarui standar penulisan, diksi, dan gramatikal bahasa yang dipakai seluruh wartawan Jawa Pos. Mengapa penting membuat standar bahasa ini? Media juga ikut mendidik pembaca, jurnalis jangan sampai mengedukasi pembaca dengan bahasa yang tidak baik. “Saya sering sarankan ke wartawan, setelah kamu tulis berita, kamu baca ulang, enak atau tidak. kalau kamu sendiri tidak enak bacanya, apalagi pembaca.” kata Reren.

Menulis sebisa mungkin ringkas, padat, jelas, tapi tidak mengurangi informasi yang ingin disampaikan. Gunakan kalimat tunggal yang efektif, satu subjek, satu predikat. Perhatikan juga apakah satu kalimat bisa dibaca satu nafas. Satu nafas adalah ukuran apakah tulisan ini enak dibaca atau tidak. Satu lagi katanya, “Kalau biasanya orang kasih 5W + 1H, saya tambahkan jadi 6W + 1H,” kata Reren. W tambahan Reren dalam 6W itu adalah “What Next”. “Pembaca perlu tahu apa lagi kelanjutan dari isu yang ditulis sehingga ia akan terus mengikuti perkembangan kegiatan berikutnya,” kata Reren.

Dua Dosen Ilmu Komunikasi UII, Mutia Dewi dan Ali Minanto, atas dedikasi dan konsistensinya pada riset dan pemberdayaan di bidang pemberdayaan perempuan dilantik menjadi anggota Puspa (Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Dinas PPMPA Kota Yogyakarta. Pelantikan tersebut atas dasar SK Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, pada 3 Desember 2019 di Balai Kota Yogyakarta. Mutia Dewi dilantik menjadi Wakil Ketua Puspa, sedangkan Ali Minanto dilantik sebagai Koordinator Penelitian dan Pengembangan Puspa Kota Yogyakarta.

Puspa sendiri adalah satua tugas yang terdiri dari beragam elemen yang peduli pada pemberdayaan dan perlindungan perempuan di Yogyakarta. Elemen-elemennya yang ikut juga terlibat dalam Puspa Kota Yogyakarta beragam. Misalnya ada baznas, peradi, PHDI, Lembaga swadaya masyarakat, dan Organisasi Keagamaan. Forum Puspa sendiri merupakan bentukan di tiga level. Prodi Komunikasi UII dilibatkan di level kota.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) telah sejak 2017 menugaskan Puspa bertugas mempercepat mengentaskan apa yang disebut Three Ends. Three Ends, menurut Kemen PPPA, dibentuk guna bertujuan membantu Kemen PPPA menyelesaikan kesenjangan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak. KemenPPPA membutuhkan kerjasama masyarakat, karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa bantuan berbagai elemen masyarakat. Tugas Mutia dan Ali di Puspa juga seturut ide dengan KemenPPPA dan Dinas PPMPA Kota Yogyakarta dalam menghapus Three Ends tersebut. Termasuk di dalamnya kekerasan pada perempuan, Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan mengatasi gap atau kesenjangan ekonomi.

Konten Narasi TV Mata Najwa Dahlia Citra

Dahlia Citra menjelaskan dalam kesempatan Kuliah Umum “How To Create Impactful Media” kali itu bagaimana Narasi TV menciptakan konten-kontennya. Pertama, pertimbangkan target audience. Citra waktu itu berpikir bersama tim, sepertinya klien butuh konten tentang perempuan. “Tapi tak mungkin memasang Najwa Shihab untuk konten tutorial make up, bukan?” Katanya. Maka setelah menganalisa target audience tadi, dilanjutkan analisis “busines potential”. Jadilah Program Sarah Seharian, kata Citra, sambil memutar tayangan Sarah yang bikin vlog tutorial make up dengan meniru tutorial make up dari MUA terkenal di Youtube. “Nggak mungkin Najwa bikin gitu. Persona yang kita bangun bukan kayak Sarah. Sarah bikin vlog kirim tiap minggu,” ungkapnya.

Ada juga cerita dari Program Tompi Glenn. Tim kreatif Tompy Glenn adalah andalan saya. “Alumni Komunikasi UII lho dia, namanya Tri Ghofur, itu tim kreatif andalan saya,” katanya, langsung disambut riuh hadirin. Dia, Tri Ghofur, jeli lihat ada kejadian di saat program Tompy Glenn ngamen.

Konten itu tidak direncanakan dan benar-benar ngamen saja di mal, Ada penonton yg dorong-dorongan.
Tim kreatif membaca peluang itu. Dibikinlah program khusus bincang-bincang dengan penonton yang dorong-dorongan itu. Besoknya, penonton itu juga muncul di TV lain. Bukti bahwa kreatifitas adalah kunci. Tak perlu sensasional, yang perlu kreatifitas.

Lalu bagaimana Narasi TV memilih talent-nya?

Mom Cit, panggilan akrab Dahlia Citra di kantor, mengatakan tentukanlah momentum, value, dan ‌market research. Ia bercerita di balik program kreatifnya “Maunya Maudy” yang mendapuk Maudy Ayunda sebagai talent. Tapi kan, Maudy masih kuliah S2 di Stanford? “Maudy lu harus belajar  Vlog. Bikin content. Dari Standford,” kata Mom Cit pada Maudy. Menurut narasi TV, Maudy adalah momentum yang pas kini di tengah anak muda. Secara value, Maudy punya nilai yang kuat. “Maudy itu sukanya belajar. Itu nilai yang kuat. Dia mau belajar bikin Vlog kita pandu dari Indonesia,” jelas Citra.    dahlia Citra kemudian memutarkan video proses maudy belajar di Narasi. Episode 1 Maunya Maudy benar-benar menunjukkan ia harus jatuh bangun bermumula bahkan dari memegang kamera dan mengoperasikannya dengan tripod.

Apakah kreatif tidak cukup? Ya, promo yang kreatif juga penting. Kata Dahlia Citra kita harus ciptakan, “Creative Promo to Let Many People Know,” kata citra sambil menyontohkan karya Narasi TV di program Tech IT Easy. “Apa yg mau saya sampaikan adalah soal creative impactful journalism,” katanya. Pilar kedua dari Narasi TV: collabotation. User Generated Content atau PGC (profesional generated content) juga ditempuh. Kami datangi 10 tempat bikin karya bersama. Buat workshop undang kreator konten salah duanya di Jogja, di Prawirotaman, dan Sorong. Setelah workshop kami undang mereka buat karya langsung. Bagaimana karya mereka yang hanya dibikin beberapa jam saja. Ternyata mencengangkan. Belum lagi Narasi TV juga membuat komunitas sebagai wadah kolaborasi. Semakin menguatkan nilai partisipasi dalam produksi konten Narasi TV.

Angkringan Lek Ghofar sepi pembeli. Ponsel menempel di telinganya seketika kemudian ia berbincang dengan penelponnya di ujung sana. “Gimana ini dab, kok ora ngangring, iki pie. Anak-anak UII kayaknya lagi nggak ada kiriman ini, belum lagi katanya SPP nya naik terus ini,” kata lek Ghofar sambil langsung disambut tepuk tangan riuh ramai hadirin ketika ia mengatakan kata “SPP naik terus.” Hadirin yang mayoritas mahasiswa itu mulai mengeluarkan derak tawa dan tepukan hangat.

Lek Ghofar, berakting menelepon mengundang banyak orang untuk nangkring di angkringannya. Orang-orang yang diundang ke angkringannya itu ternyata adalah pembicara-pembicara dalam acara inisiatif dari Prodi Ilmu Komunikasi UII yaitu Bincang-bincang “How to Create Impactful Media” pada 28 September 2019 di Auditorium Prof. Abdul Kahar Mudzakkir UII. Lek Ghofar adalah tokoh buatan panitia, khususnya ikon dari program Serial Ramadhan 2019 Uniicoms TV dari Komunikasi UII.

Beruturut-turut kemudian naik ke atas panggung, tempat gerobak angkringan Lek Ghofar ditata, Moderator, Dahlia Citra, dan juga Mario dan Eda Duo Budjang belakangan di sesi kedua. Herman Felani, dosen Komunikasi UII yang berperan sebagai Lek Ghofar, itu menawarkan minuman dan hidangan pada undangannya. Sambil kemudian diceletuki oleh pembicara itu. “Kok sepi, nggak ada yang endorse ni?” tanya Dahlia Citra, Co-Founder Narasi TV, salah satu pembicara kali itu. Citra ingin mengatakan bahwa kini bisnis dan dunia digital harus disikapi dengan kreatif. Termasuk angkringan Lek Ghofar. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Narasi TV.

Alumni Namche dan Fisipol UGM ini mengatakan cara mengonsumsi media kini telah berubah. Perkembangan teknologi begitu cepat. Meskipun konten banyak diproduksi, tiap hari tiap orang posting, “Sayangnya banjirnya konten digital tidak dibarengi dengan konteks,” katanya.
Prank misalnya, “konten tutorial masih mending, tapi prank (seperti) itu (saja) jutaan penontonnya. Maka narasi hadir untuk memberi konten yang punya konteks. Edukatif.”

Ada tiga nilai yang Narasi TV usung dalam konten-kontennya: Antikorupsi, Toleransi, dan Partisipasi. Nilai itu pula yang mewujud dalam mantra 3C seperti Content, Collaboration, Community. “Kami tidak harus pakar di semua bidang, kolaborasi yang utama.”

Kalau soal kecepatan semua TV sudah hadir seperti detik. Bedanya, kalau kami memberi konteks. Misalnya. Narasi newsroom hadir menjelang pilpres hadir menangkap dan memberi konteks atas curent isue. Semua TV mengadakan debat pilpres. “Kami berpikir bagaimana caranya dedek-dedek ini mau pakai kuotanya buat nonton Narasi TV. Kami bikin Nobar debat pilpres di bioskop 21 bersama Narasi TV waktu itu.”

“Adek-adek, kalau bikin konten harus kolaborasi. Mereka yang diajak bisa dapat exposure, dikenal, aspirasinya masuk. Kontennya pun jadi,” saran Citra. Itulah yang membuat narasi punya daya kreasi magis. Bagaimana caranya?