Puji Hariyanti pada Rapat Koordinasi Perkuliahan 26 Agustus 2019, menunjukkan dan menjelaskan beberapa poin kondisi dan situasi perkuliahan yang akan dihadapi para dosen pada semester ini di layar presentasi. Ada beberapa hal yang musti dipahami dan dimengerti, apalagi soal mahasiswa baru Komunikasi UII yang kabarnya vokal dan kreatif. “Mahasiswa komunikasi kali ini sudah terlihat vokal sejak orientasi mahasiswa (serumpun), banyak yang bertanya dan berpendapat saat diberi kesempatan,” kata Puji.

“Besok juga akan ada empat mahasiswa dari Thailand di FPSB UII. Soal bahasa tentu menjadi catatan khusus untuk membantu mereka dalam perkuliahan nantinya, terutama yang memilih masuk ke kelas International Program,” kata Puji menjelaskan kondisi perkuliahan di semester ganjil mendatang.

“Tugas-tugas yang diberikan pun kita harus sepakati tidak lebih dari empat kali, lebih dari itu bisa jenuh mahasiswa,” tambahnya. Selain itu Puji menekankan, dosen tidak diperkenankan memberi tugas sebagai pengganti ketidakhadiran dosen. “Sebaiknya anda beri kuliah tamu (pakar) atau kelas konsultasi sebagai pengganti ketidakhadiran anda,” kata Puji membaca aturan yang terpampang di layar presentasi.

Kaprodi Ilmu Komunikasi UII ini juga menegaskan bahwa tugas mahasiswa sebaiknya dikumpulkan dengan prinsip paperless. Selain sebagai komitmen pada karya yang anti plagiat, ia juga mewujudkan kampus yang minim kertas dan plastik. Salah satu dosen yang hadir dalam rapat koordinasi pagi itu juga mengamini perihal tugas kuliah yang paperless. Menurutnya, jika pun harus membuat tugas dengan bentuk hardcopy/ kertas, sebaiknya mulai sekarang dosen meminta mahasiswa tidak menggunakan kulit muka (cover makalah) dari bahan plastik mika. “Ini komitmen kita untuk mewujudkan kuliah ramah lingkungan, sebuah dukungan pada gerakan yang kini menggema di seantero dunia soal kampus dengan perspektif hijau,” kata Saifuddin Zuhri, dosen tersebut.

Kata Saifudin Zuhri, komitmen pada hidup yang ramah lingkungan memang harus dimulai dari dunia pendidikan dan dari hal yang paling sederhana. Pembiasaan-pembiasaan harus menjadi keseharian dunia akademik. Beberapa dosen lain yang hadir juga terlihat mengangguk menyepakati. Puji menyahut dan sepakat dengan usul tersebut, apalagi fasilitas google classroom atau surel bisa dipakai agar meminimalisir tugas yang banyak menggunakan kertas dan plastik mika.

The invitees gradually arrived. That morning, in the 3rd floor of Communication Department, all the staff began to rush back and forth. They are staff from academics, laboratories, documentation teams, to the Center for Documentation of Alternative Media Studies (PSDMA) Nadim which are prepared the room, presence, some practicum forms. The invitees were lecturers in this semester of 2019/2020 academic year. Ahead of the awaited event, the Lecturer and Practicum Coordination Meeting, Communication Department of FPSB UII, Puji Hariyanti, Head of Communication Department, was ready with a presentation slide in front of the audience. After everything is done, the coordination meeting begun.

The interesting things from the meeting that held on August 26, 2019, for example, Puji explained that as much as possible the assignment of students is not copying and paste or do the plagiarism. Plagiarism can damage the integrity of students. Students must be educated to anti-plagiarism action since they are students, so that when they work they have integrity. “Communication Department is committed to educate students to have integrity, so every task must be digitally collected and it can be inputed in Turnitin plagiarism testing software,” said Puji.

Undergraduate Thesis and final project in Communication Department have now been checked by a special team for plagiarism checks. Checks carried out with the help of Turnitin (via online and computerized) as well as by manual checks by specially trained teams can recognize models of writing that have a high indication of plagiarism. According to Her, there should be no “Kopasus”, the abbreviation She made which means the Copy-Paste troops . Students must be introduced that plagiarism is an act of hurting science and knowledge.

At the end of the meeting, Puji reminded the lecturers to remember the wise words from the the deceased Kiai Maimun Zubair, as a guide for educators: “So the teacher does not need to have the intention of making people smart. Later you will only get angry when you see that your students are not smart. Your sincerity will disappear. The important thing is the intention to convey knowledge and educate the good. Being smart or not, leave it to God. Pray for it continuously so that students can get guidance. “

Para undangan berangsur-angsur berdatangan. Sepagi itu lantai 3 Komunikasi UII mulai ramai hilir mudik pula para staf tenaga pendidikan baik dari akademik, laboratorium, tim dokumentasi, hingga Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif (PSDMA) Nadim menyiapkan ruangan, presensi, konsumsi dan beberapa formulir praktikum. Para undangan itu adalah dosen pengajar pada semester ganjil tahun akademik 2019/2020. Menjelang jam acara yang dinanti, Rapat Koordinasi Dosen Pengajar dan Praktikum, Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII, Puji Hariyanti, Kaprodi Ilmu Komunikasi UII sudah siap di dengan slide presentasi di depan para hadirin. Setelah semua siap, rapat koordinasi dimulai.

Hal menarik dari rapat yang dihelat pada 26 Agustus 2019 ini misalnya Puji yang menjelaskan bahwa sebisa mungkin tugas mahasiswa tidak menyalin tempel atau melakukan plagiasi. Plagiasi dapat merusak integritas mahasiswa sedari awal. Mahasiswa harus dididik untuk anti plagiat sejak mahasiswa, sehingga saat bekerja ia punya integritas. “Prodi sudah berkomitmen untuk mendidik mahasiswa punya integritas, sehingga tugas-tugas yang dikumpukan secara digital dapat dimasukkan perangkat lunak penguji plagiasi turnitin,” tegas Puji.

Skripsi dan tugas akhir di Komunikasi UII pun kini telah lama dicek oleh tim khusus cek plagiasi. Cek yang dilakukan dengan bantuan Turnitin (via daring dan terkomputerisasi) maupun dengan cek manual oleh tim khusus yang sudah terlatih dapat mengenali model-model karya tulis yang memiliki indikasi plagiat yang tinggi. Menurutnya, jangan lagi ada kopasus, singkatan buatannya yang berarti pasukan kopas (copy paste). Mahasiswa harus dikenalkan bahwa plagiat adalah tindakan melukai ilmu pengetahuan.

Di akhir rapat, Puji mengingatkan para pengajar untuk ingat kata bijak dari Alm. Kiai Maimun Zubair, sebagai pegangan para pendidik: “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya dapat hidayah.”

Geser/ Scrool ke bawah untuk dapatkan konten seluruhnya atau unduh di sini

Puji Hariyanti at the Lecture Coordination Meeting on August 26, 2019, showed and explained several points on the presentation screen. The points is about the condition and situation of lectures that will be faced by lecturers this semester. There are some things that must be understood, especially about new students of Communication Department of UII who are reportedly vocal and creative. “Communication students nowadays have been seen vocal since the orientation of students (Serumpun Event), many students ask questions and think when given the opportunity,” said Puji.

“Tomorrow there will also be four students from Thailand at Faculty of Psychology, and Culture and Social Studies (FPCS)  UII too. Language problems certainly become a special note to help them in their future lectures, especially those who choose to enter the International Program class, “Puji said explaining the condition of lectures in the next odd semester.

“The assignments we give must be agreed to no more than four times, more than that students can get bored,” he added. In addition, Puji emphasized that lecturers are not permitted to give assignments as a substitute for teacher absence. “You should give a guest lecture (expert) or consultation class in lieu of your absence,” said Puji reading the rules displayed on the presentation screen.

The Head of Communication Department at UII also emphasized that student assignments should be collected on paperless principles. Aside from being a commitment to anti-plagiarism work, it also creates a campus that is minimal in paper and plastic. One of the lecturers who attended the morning coordination meeting also agreed on paperless assignments. According to him, even if you have to make assignments in the form of hard-copy / paper, it is better from now on lecturers asking students not to use cover papers from mica plastic material. “This is our commitment to realize environmentally friendly lectures, a support for the movement that is now echoing around the world about campus with a green perspective,” said Saifuddin Zuhri, the lecturer.

Saifudin Zuhri said, the commitment to an environmentally friendly life must start from the world of education and from the simplest things. Habituation must become an everyday academic world. Several other lecturers who were present also seemed to nod and agree. Puji answered and agreed with the proposal, especially Google classroom facilities or e-mail can be used to minimize the many tasks that use paper and plastic cover.

Pada 22 Agustus 2019 dosen dan civitas akademika Prodi Komunikasi UII menggelar rapat koordinasi untuk merancang strategi menembus hibah Dikti di Ruang Rapat Prodi Ilmu Komunikasi UII. Para dosen menyiapkan beberapa usulan judul penelitian. Setelah itu judul-judul tersebut didiskusikan kemungkinan-kemungkinan konten atau variabel apa yang memiliki popularitas dan nilai kebaruan yang tinggi. Pada kesempatan ini juga para dosen membincangkan judul mana, atau fenomena mana yang punya probabilitas tinggi agar bisa menembus hibah Ristekdikti.

Rapat ini adalah tindak lanjut dari masukan-masukan yang sudah diterima prodi komunikasi dari asesor BAN PT. Sebelumnya dua asesor BAN PT, Prof. Hafid Cangara dan Dr. Irwansyah telah melakukan kunjungan (visitasi) untuk menilai standar-standar yang dipegang prodi ini selama ini. Saat itu Dr. Irwansyah mengatakan bahwa kampus dengan jumlah riset dengan dana yang berasal dari Ristekdikti punya bobot kualitas yang tinggi dalam penilaian akreditasi. Meski seandainya tidak masuk dalam penilaian, menurutnya, dengan mendapatkan dana hibah dikti untuk penelitian itu artinya menunjukkan bahwa program studi tersebut mempunyai kredibilitas dan kualitas yang tinggi dan diakui secara nasional. Pasalnya, cukup sulit menerima hibah dikti, sulit dari segi menembusnya, pengelolaan dana dan juga dari segi pelaporan.

Rapat kali ini mencoba memetakan fenomena-fenomena penting apa yang seringkali luput dari pandangan kita, tetapi penting dan belum pernah diteliti dan punya nilai kebermanfaatan yang besar. Tiap dosen pada rapat ini telah menyiapkan proposal dan dibahas satu per satu untuk dinilai, dikritisi, dan dikomentari diberi masukan perbaikan atau sekadar menguatkan. Masing-masing individu dosen juga bisa berbagi sumber, referensi, dan koneksi untuk menyempurnakan rencana penelitian yang akan dikirim agar mendapat hibah dikti tersebut. Selain itu, tanpa hibah dikti pun, ruang-ruang akademik dalam skema penelitian sejatinya sudah mentradisi di Prodi Komunikasi UII. Prodi Komunikasi UII telah memiliki kebiasaan mendanai riset-riset dosennya untuk mendukung tradisi riset dan menguatkan klaster akademik para akademisinya.

Perlu diketahui, Komunikasi UII memiliki enam klaster besar yang menjadi fokus kajian tiap dosennya. Enam klaster inilah yang menjadikan akademisi-akademisi di Komunikasi UII menjadi rujukan solusi kebangsaan dan keumatan. Klaster-klaster tersebut juga secara tidak langsung menguatkan kepakaran para dosen di Komunikasi UII. Enam klaster itu adalah Jurnalisme, Public Relation, Komunikasi Pemberdayaan, Kebijakan dan Regulasi Komunikasi, Komunikasi Visual, Komunikasi Lingkungan dan Geografi.

Puji Rianto misalnya, ia akan menguatkan dirinya pada keahlian Regulasi Komunikasi dan Kajian Khalayak dalam rencana risetnya. Sedangkan Ratna Permata Sari dan Sumekar Tanjung akan berduet mengajukan gagasan penelitian tentang fenomena budaya populer dan gender dalam balutan komunikasi visual. Atau bisa juga menilik rencana riset Holy Rafika yang dalam tahun-tahun belakangan telah menegaskan kepakarannya pada kajian-kajian ruang, mediatisasi, dan sebagainya dalam bingkai komunikasi geografi.

On August 22, 2019 the Communication Department’s lecturer and staff held a coordination meeting to design a strategy to penetrate and gain the Direktorat RistekDikti (Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi) Research Technology and Higher Education (Ministry of Research and Higher Education) grant in the Communication Department Meeting Room. The lecturers prepared several proposed research titles. After that, the titles are discussed included the possibilities of what content or variables that have high popularity and novelty value. On this occasion the lecturers also discussed which title, or which phenomenon had a high probability of being able to penetrate the “Ristekdikti” or “Dikti” grant.

This meeting was a follow-up of the inputs received by the communication department from the BAN PT (National Accreditation Board) assessor. Previously, two BAN PT assessors, Prof. Hafid Cangara and Dr. Irwansyah has made a visit to assess the standards held by this department so far. At that time Dr. Irwansyah said that the campus with the amount of research with funds from Ristekdikti has a high quality weight in the accreditation assessment. Even if it is not included in the assessment, according to him, by getting the “DIKTI” grants for research, it means that the department has high credibility and quality and is nationally recognized. Because, it is quite difficult to receive a grant from DIKTI, difficult in terms of penetrating it, managing funds and also in terms of reporting.

The meeting tried to map out the important phenomena that often escaped our view, but were important and had never been studied and had great use value. Each lecturer at this meeting has prepared a proposal and discussed it one by one to be assessed, criticized, and commented upon given input for improvement or merely reinforcing. Each individual lecturer can also share resources, references, and connections to perfect the research plan that will be sent in order to receive the Dikti grant.

In addition, even without the Directorate of Higher Education (Dikti) grants, academic spaces in the research scheme have actually been directed as a habit at the Communication Department. Communication Department has had the habit of funding the research of its lecturers to support the research tradition and strengthen the academic clusters of its lecturers.

It is already known, Communication Department has six large clusters which are the focus of the study of each lecturer. These six clusters have made lecturers at UII’s Communication Department become reference for national and public solutions. These clusters also indirectly strengthen the expertise of the lecturers in Communication Department. The six clusters are Journalism, Public Relations, Empowerment Communication, Communication Policy and Regulation, Visual Communication, Environmental and Geography Communication.

Puji Rianto for example, he will strengthen himself in the expertise of Communication Regulation and Public Policy Studies in his research plan. Whereas Ratna Permata Sari and Sumekar Tanjung will duet to submit research ideas about popular cultural phenomena and gender in visual communication. Or you can also look at Holy Rafika’s research plan which in recent years has emphasized its expertise in spatial studies, mediation, and so on in terms of geographic communication.

Tulisan ini adalah lanjutan dari cerita berikut. Baca tulisan pertama klik di sini.

Ivan menjawab awalnya ia perlu menentukan ide, lalu merancang rundown/ alur penyajian berita. Ia merencanakan membuat tiga segmen. “Konsekuensinya saya bikin berita televisi itu kalau ada momen yang nggak kita dapat bisa nggak sesuai rundown. Akhirnya saya ingat kata pembimbing bahwa rundown itu bukan kitab suci, karena yang kita temukan di lapangan bisa berbeda dengan rundown,” jawab Ivan.

Rifqi justru mengajak Ivan dan peserta diskusi untuk membalik proses ketika menemui kendala dalam liputan isu khusus ini. “Masukan dari saya, bisa dibalik prosesnya, kita bisa mendekati orang-orang terdekatnya, kita ke keluarga, misal yang terakhir wawancara pelatihnya. Karena bicara soal difabel, tidak melulu ke atletnya, tapi bisa ke keluarganya, jadi bisa mengambil kesimpulan, untuk seorang atlet difabel itu akan nggak mudah, bagaimana keluarga mendukung itu bisa kita lihat. Nah itu kita bisa dapat emosinya, ada ceritanya,” papar Rifqi yang juga alumni Komunikasi UII ini.

Menurut Rifqi, bisa juga Ivan meliput dari sudut pandang pelatih. Kemungkinan cerita dari pelatih bisa lebih banyak lagi. Bisa jadi muncul banyak tanda tanya akhirnya, misal kata Rifqi bisa angkat soal psikologisnya, “Anak ini tiap kalah gimana responnya, bagaimana dia menghadapi crowd (keramaian). Jadi formatnya bisa long interview. Jadi lingkungannya yang diangkat.”

Lalu kemasan bagaimana bagusnya?

Rifqi bilang pada para peserta, karya ini tidak salah. Namun biasanya media, dikemas dengan lebih feature (berkisah). Ini akan menggali bagaimana perjalanannya, bukan soal pertandingannya. “Ya ini kadang yang wartawan itu luput. Seringnya yang diliput raihannya, orang lupa ada orang di baliknya. Misalnya bisa dikemukakan pertanyaan apakah guru-guru ini sudah sarjana olahraga dan bisa melatih difabel? Lebih menarik kan?” kata Rifqi menanggapi. “Belajar berkomunikasinya berapa lama? Berapa lama pendekatan dengan atlet difabel. Kalau atlet biasa bisa dikerasin, kalau atlet difabel? belum tentu,” jelasnya kemudian.

Rifqi memberi penghargaan pada Ivan karena Ivan berani ambil isu ini. Wartawan kawakan juga kadang belum tentu berani ambil isu difabel, dan kadang bisa saja mundur.

Retyan, salah satu peserta berpendapat sebaiknya Ivan lebih memilih diksi ‘difabel’ ketimbang disabilitas, “karena kalau disable sih dari bahasanya dis-able ‘tidak mampu’ dan dari merekanya memang tidak mau dibilang disable dan itu sama aja dengan cacat sebenarnya.”

Rifqi menanggapinya. Menurutnya memang harus ada riset sebelum jurnalis berangkat meliput. Misal soal pemakaian istilah difabel, difabel, atau cacat. Istilah itu sendiri harusnya bisa jadi konten. “Soal penulisan kan bisa nanti. Riset dulu memang sebelumnya harus tahu, jadi ngerti apa yang akan kita masuki dahulu sebelum pergi reportase.”

The previous writing had describe what is Ivan do with his Final Project. In this writing, Ivan get a lot of tips and tricks from the expert and audiences there. The input is about What Supposed to do if you want to reportage diffable issues

Rifqi instead invited Ivan and the discussion participants to reverse the process when faced with obstacles in the coverage of this particular issue. “Input from me, can be reversed in the process, we can approach the closest people, we go to family, for example, the last interview of the coach. Because talking about the diffable, not only to the athlete, but can be to his family, so being able to draw conclusions, for an athlete with disabilities it will not be easy, how can the family support that we can see. Now that we can get emotions, there is a story, “said Rifqi, on August, 20th, 2019, who is also an alumni of Communication Department of UII at Audio Visual Room at 3rd floor of Communication Department.

According to Rifqi, Ivan could also cover from the Athlete coach’s point of view. Possible stories from the coach could be even more. It may be that there are many question marks finally, for example, Rifqi said, the journalist can raise psychological problems, “This child loses what the response is, how he faces the crowd. So the format can be long interviews. So the environment is raised. ”

Then how to make a good reportage and packaging?

Rifqi told the participants, this Ivan’s work was not wrong. But usually the media is packed with more features and stories. This will explore how the journey will be, not about the competition. “Yes, this is sometimes what journalists escape. Often that is covered by the achievement, people forget there is someone behind it. For example, the question can be raised whether these teachers have a bachelor of sports and can train disabled people? More interesting right?”  Rifqi responded. “How long that you learn to communicate? How long do you approach with disabled athletes. If an ordinary athlete can be cured, if an athlete with disabilities? not necessarily, it may be different,” he explained later.

Rifqi rewards Ivan because Ivan dared to take this issue. Seniour reporters also sometimes do not necessarily dare to take the issue of diffable, and sometimes they may back down.

Retyan, one of the participants argues that Ivan should prefer the ‘diffable’ diction rather than disability, “because if disabled, the language is dis-able,” not capable “, and they don’t want to be called as disable and that is the same as the actual disability.”

Rifqi responded. According to him there must be research conducted before journalists leave to go to reportage or cover some issues. For example, about the use of the terms difabel, disabilities, or disabled. The term itself should be content. “The question of writing can later. Research must know beforehand first, so understand what we will enter first before going to reportage.”

Bagaimana Penyajian Tugas Akhir Pertama di Komunikasi UII dengan format Program TV Liputan Mendalam?

Ivan Renaldi adalah mahasiswa pertama dalam sejarah Komunikasi UII yang menggarap Tugas Akhir dengan bentuk Program TV Liputan Mendalam. Isunya pun unik, soal difabel yang atlit sekaligus pelajar. Tantangannya, ia perlu menyelami kedalaman emosi dan kronik keseharian difabel yang menjadi subjek liputannya. Pendekatannya pun tidak biasa. Ini adalah hal yang tak mudah dilakukan. Salah-salah bisa terjebak dalam liputan yang mengiba dan menjual kesedihan difabel.

Begitulah perasaan Ivan ketika menjalani enam bulan produksi program berita mendalam yang dibimbing oleh dosen spesialis klaster Jurnalisme, R. Narayana Mahendra Prastya. Kali ini Ivan harus mempresentasikan karyanya dalam bentuk Screening Karya sebagai sebuah tahapan dalam penyelesain Tugas Akhir yang berbentuk proyek. Screening Tugas Akhir ini dilaksanakan di Ruang Audio Visual Komunikasi UII lantai 3 pada 20 Agustus 2019. Pada screening yang dihadiri puluhan peserta ini Ivan diuji secara publik dan dilatih secara langsung menghadapi khalayak luas dalam mempresentasikan karyanya. Pada akhirnya, masukan, kritik, dan tanggapan dari khalayak pemutaran karya ini akan diterapkan pada revisi karya awal produsen Tugas Akhir ini.

Jangan disangka Ivan menyelesaikan proyek tugas akhir video program berita ini dengan mulus. Ivan mengungkapkan awalnya ia tidak bisa bahasa isyarat. Tak kurang akal, akhirnya ia bertemu dan bicara dengan ibu guru dari atlit difabel yang akan diliput. Sang guru menyarankannya untuk berbicara perlahan. “Mereka bisa baca gerakan mulut. Kalau sulit, saya ketik pertanyaannya. Kalau yang tunagrahita saya tidak wawancara karena sulit komunikasinya,” jawab Ivan ketika ditanya Zakiyyah Ainun, salah satu peserta dari Komunikasi 2017, soal cara komunikasi dengan subyek difabel.

Ada Atlit difabel yang diliput mengambil cabang olahraga yang bukan arusutama: bocce! Olahraga bocce mensyaratkan atlit menggelindingkan bola hampir lebih besar dari bola tenis ke arah banyak bola berwarna warni yang tersedia beberapa meter darinya. Jika bola yang digelindingkan mendekati atau mengenai salah satu bola sasaran, maka dianggap menang dan bernilai tinggi.

Pemutaran karya tugas akhir juga mensyaratkan mahasiswa mengundang ‘juri’ atau komentator dari kalangan profesional. Ia berfungsi sebagai pembedah. Sore itu Rifqi Ardita, jurnalis Detik.com, yang kebagian peran menjadi pembedah karya Ivan. Setelah acara dimulai dengan pemutaran video karya Ivan berdurasi sekira 21 menit, Rifqi diminta mengomentarinya baik dari segi teknis, gagasan, sudut pandang, hingga konsep yang diangkat Ivan, si jurnalis.

Menurut Rifqi yang sehari-hari berada di desk olahraga detiksport, difabel adalah isu yang menarik. Bisa mengaduk emosi. Sayangnya Ivan kurang masuk ke bagian emosional. Ivan seharusnya bisa melihat bagaimana ekspresi, bagaimana kendala keluarga dan lain-lain. “Masih minim shoot-shoot ekspresi. Untuk liputan news itu satu hal yang paling penting. Selain itu juga tripod itu tidak boleh lupa. Secara teknis pengambilan gambar harus diperbaiki,” kata Rifqi.

Sedangkan Bilal Prama, mahasiswa Komunikasi 2015, mengapresiasi karya Ivan ini merupakan alternatif baru dalam pembuatan tugas akhir. Tugas akhir sebelumnya cenderung banyak ke produksi film dan foto. “Ini baru dalam tugas akhir. Bisa nggak mas Ivan menjelaskan prosesnya apa saja yang harus dilakukan?” kata Bilal menanggapi sekaligus bertanya.

Baca lanjutan tulisan ini di sini