Tulisan ini adalah lanjutan dari cerita berikut. Baca tulisan pertama klik di sini.

Ivan menjawab awalnya ia perlu menentukan ide, lalu merancang rundown/ alur penyajian berita. Ia merencanakan membuat tiga segmen. “Konsekuensinya saya bikin berita televisi itu kalau ada momen yang nggak kita dapat bisa nggak sesuai rundown. Akhirnya saya ingat kata pembimbing bahwa rundown itu bukan kitab suci, karena yang kita temukan di lapangan bisa berbeda dengan rundown,” jawab Ivan.

Rifqi justru mengajak Ivan dan peserta diskusi untuk membalik proses ketika menemui kendala dalam liputan isu khusus ini. “Masukan dari saya, bisa dibalik prosesnya, kita bisa mendekati orang-orang terdekatnya, kita ke keluarga, misal yang terakhir wawancara pelatihnya. Karena bicara soal difabel, tidak melulu ke atletnya, tapi bisa ke keluarganya, jadi bisa mengambil kesimpulan, untuk seorang atlet difabel itu akan nggak mudah, bagaimana keluarga mendukung itu bisa kita lihat. Nah itu kita bisa dapat emosinya, ada ceritanya,” papar Rifqi yang juga alumni Komunikasi UII ini.

Menurut Rifqi, bisa juga Ivan meliput dari sudut pandang pelatih. Kemungkinan cerita dari pelatih bisa lebih banyak lagi. Bisa jadi muncul banyak tanda tanya akhirnya, misal kata Rifqi bisa angkat soal psikologisnya, “Anak ini tiap kalah gimana responnya, bagaimana dia menghadapi crowd (keramaian). Jadi formatnya bisa long interview. Jadi lingkungannya yang diangkat.”

Lalu kemasan bagaimana bagusnya?

Rifqi bilang pada para peserta, karya ini tidak salah. Namun biasanya media, dikemas dengan lebih feature (berkisah). Ini akan menggali bagaimana perjalanannya, bukan soal pertandingannya. “Ya ini kadang yang wartawan itu luput. Seringnya yang diliput raihannya, orang lupa ada orang di baliknya. Misalnya bisa dikemukakan pertanyaan apakah guru-guru ini sudah sarjana olahraga dan bisa melatih difabel? Lebih menarik kan?” kata Rifqi menanggapi. “Belajar berkomunikasinya berapa lama? Berapa lama pendekatan dengan atlet difabel. Kalau atlet biasa bisa dikerasin, kalau atlet difabel? belum tentu,” jelasnya kemudian.

Rifqi memberi penghargaan pada Ivan karena Ivan berani ambil isu ini. Wartawan kawakan juga kadang belum tentu berani ambil isu difabel, dan kadang bisa saja mundur.

Retyan, salah satu peserta berpendapat sebaiknya Ivan lebih memilih diksi ‘difabel’ ketimbang disabilitas, “karena kalau disable sih dari bahasanya dis-able ‘tidak mampu’ dan dari merekanya memang tidak mau dibilang disable dan itu sama aja dengan cacat sebenarnya.”

Rifqi menanggapinya. Menurutnya memang harus ada riset sebelum jurnalis berangkat meliput. Misal soal pemakaian istilah difabel, difabel, atau cacat. Istilah itu sendiri harusnya bisa jadi konten. “Soal penulisan kan bisa nanti. Riset dulu memang sebelumnya harus tahu, jadi ngerti apa yang akan kita masuki dahulu sebelum pergi reportase.”