Bagaimana Penyajian Tugas Akhir Pertama di Komunikasi UII dengan format Program TV Liputan Mendalam?

Ivan Renaldi adalah mahasiswa pertama dalam sejarah Komunikasi UII yang menggarap Tugas Akhir dengan bentuk Program TV Liputan Mendalam. Isunya pun unik, soal difabel yang atlit sekaligus pelajar. Tantangannya, ia perlu menyelami kedalaman emosi dan kronik keseharian difabel yang menjadi subjek liputannya. Pendekatannya pun tidak biasa. Ini adalah hal yang tak mudah dilakukan. Salah-salah bisa terjebak dalam liputan yang mengiba dan menjual kesedihan difabel.

Begitulah perasaan Ivan ketika menjalani enam bulan produksi program berita mendalam yang dibimbing oleh dosen spesialis klaster Jurnalisme, R. Narayana Mahendra Prastya. Kali ini Ivan harus mempresentasikan karyanya dalam bentuk Screening Karya sebagai sebuah tahapan dalam penyelesain Tugas Akhir yang berbentuk proyek. Screening Tugas Akhir ini dilaksanakan di Ruang Audio Visual Komunikasi UII lantai 3 pada 20 Agustus 2019. Pada screening yang dihadiri puluhan peserta ini Ivan diuji secara publik dan dilatih secara langsung menghadapi khalayak luas dalam mempresentasikan karyanya. Pada akhirnya, masukan, kritik, dan tanggapan dari khalayak pemutaran karya ini akan diterapkan pada revisi karya awal produsen Tugas Akhir ini.

Jangan disangka Ivan menyelesaikan proyek tugas akhir video program berita ini dengan mulus. Ivan mengungkapkan awalnya ia tidak bisa bahasa isyarat. Tak kurang akal, akhirnya ia bertemu dan bicara dengan ibu guru dari atlit difabel yang akan diliput. Sang guru menyarankannya untuk berbicara perlahan. “Mereka bisa baca gerakan mulut. Kalau sulit, saya ketik pertanyaannya. Kalau yang tunagrahita saya tidak wawancara karena sulit komunikasinya,” jawab Ivan ketika ditanya Zakiyyah Ainun, salah satu peserta dari Komunikasi 2017, soal cara komunikasi dengan subyek difabel.

Ada Atlit difabel yang diliput mengambil cabang olahraga yang bukan arusutama: bocce! Olahraga bocce mensyaratkan atlit menggelindingkan bola hampir lebih besar dari bola tenis ke arah banyak bola berwarna warni yang tersedia beberapa meter darinya. Jika bola yang digelindingkan mendekati atau mengenai salah satu bola sasaran, maka dianggap menang dan bernilai tinggi.

Pemutaran karya tugas akhir juga mensyaratkan mahasiswa mengundang ‘juri’ atau komentator dari kalangan profesional. Ia berfungsi sebagai pembedah. Sore itu Rifqi Ardita, jurnalis Detik.com, yang kebagian peran menjadi pembedah karya Ivan. Setelah acara dimulai dengan pemutaran video karya Ivan berdurasi sekira 21 menit, Rifqi diminta mengomentarinya baik dari segi teknis, gagasan, sudut pandang, hingga konsep yang diangkat Ivan, si jurnalis.

Menurut Rifqi yang sehari-hari berada di desk olahraga detiksport, difabel adalah isu yang menarik. Bisa mengaduk emosi. Sayangnya Ivan kurang masuk ke bagian emosional. Ivan seharusnya bisa melihat bagaimana ekspresi, bagaimana kendala keluarga dan lain-lain. “Masih minim shoot-shoot ekspresi. Untuk liputan news itu satu hal yang paling penting. Selain itu juga tripod itu tidak boleh lupa. Secara teknis pengambilan gambar harus diperbaiki,” kata Rifqi.

Sedangkan Bilal Prama, mahasiswa Komunikasi 2015, mengapresiasi karya Ivan ini merupakan alternatif baru dalam pembuatan tugas akhir. Tugas akhir sebelumnya cenderung banyak ke produksi film dan foto. “Ini baru dalam tugas akhir. Bisa nggak mas Ivan menjelaskan prosesnya apa saja yang harus dilakukan?” kata Bilal menanggapi sekaligus bertanya.

Baca lanjutan tulisan ini di sini