Pada 22 Agustus 2019 dosen dan civitas akademika Prodi Komunikasi UII menggelar rapat koordinasi untuk merancang strategi menembus hibah Dikti di Ruang Rapat Prodi Ilmu Komunikasi UII. Para dosen menyiapkan beberapa usulan judul penelitian. Setelah itu judul-judul tersebut didiskusikan kemungkinan-kemungkinan konten atau variabel apa yang memiliki popularitas dan nilai kebaruan yang tinggi. Pada kesempatan ini juga para dosen membincangkan judul mana, atau fenomena mana yang punya probabilitas tinggi agar bisa menembus hibah Ristekdikti.

Rapat ini adalah tindak lanjut dari masukan-masukan yang sudah diterima prodi komunikasi dari asesor BAN PT. Sebelumnya dua asesor BAN PT, Prof. Hafid Cangara dan Dr. Irwansyah telah melakukan kunjungan (visitasi) untuk menilai standar-standar yang dipegang prodi ini selama ini. Saat itu Dr. Irwansyah mengatakan bahwa kampus dengan jumlah riset dengan dana yang berasal dari Ristekdikti punya bobot kualitas yang tinggi dalam penilaian akreditasi. Meski seandainya tidak masuk dalam penilaian, menurutnya, dengan mendapatkan dana hibah dikti untuk penelitian itu artinya menunjukkan bahwa program studi tersebut mempunyai kredibilitas dan kualitas yang tinggi dan diakui secara nasional. Pasalnya, cukup sulit menerima hibah dikti, sulit dari segi menembusnya, pengelolaan dana dan juga dari segi pelaporan.

Rapat kali ini mencoba memetakan fenomena-fenomena penting apa yang seringkali luput dari pandangan kita, tetapi penting dan belum pernah diteliti dan punya nilai kebermanfaatan yang besar. Tiap dosen pada rapat ini telah menyiapkan proposal dan dibahas satu per satu untuk dinilai, dikritisi, dan dikomentari diberi masukan perbaikan atau sekadar menguatkan. Masing-masing individu dosen juga bisa berbagi sumber, referensi, dan koneksi untuk menyempurnakan rencana penelitian yang akan dikirim agar mendapat hibah dikti tersebut. Selain itu, tanpa hibah dikti pun, ruang-ruang akademik dalam skema penelitian sejatinya sudah mentradisi di Prodi Komunikasi UII. Prodi Komunikasi UII telah memiliki kebiasaan mendanai riset-riset dosennya untuk mendukung tradisi riset dan menguatkan klaster akademik para akademisinya.

Perlu diketahui, Komunikasi UII memiliki enam klaster besar yang menjadi fokus kajian tiap dosennya. Enam klaster inilah yang menjadikan akademisi-akademisi di Komunikasi UII menjadi rujukan solusi kebangsaan dan keumatan. Klaster-klaster tersebut juga secara tidak langsung menguatkan kepakaran para dosen di Komunikasi UII. Enam klaster itu adalah Jurnalisme, Public Relation, Komunikasi Pemberdayaan, Kebijakan dan Regulasi Komunikasi, Komunikasi Visual, Komunikasi Lingkungan dan Geografi.

Puji Rianto misalnya, ia akan menguatkan dirinya pada keahlian Regulasi Komunikasi dan Kajian Khalayak dalam rencana risetnya. Sedangkan Ratna Permata Sari dan Sumekar Tanjung akan berduet mengajukan gagasan penelitian tentang fenomena budaya populer dan gender dalam balutan komunikasi visual. Atau bisa juga menilik rencana riset Holy Rafika yang dalam tahun-tahun belakangan telah menegaskan kepakarannya pada kajian-kajian ruang, mediatisasi, dan sebagainya dalam bingkai komunikasi geografi.