Posts

Reading Time: < 1 minute

Teatime 6th edition will invite:

Krisal Putra (student of communication Science Department, batch 2016).

The next International Program of Communication’s Teatime

Theme:
“Student’s Academic” Writing Experiences

Live On Instagram

Schedule

Friday, August, 7th, 2020
Start at 4pm (UTC+7)

Keep update on IGTV
@ip.communication.uii
@krisaljustin

 

View this post on Instagram

 

A post shared by IP COMMUNICATION UII (@ip.communication.uii) on

Reading Time: 3 minutes

On 10th July, 2020, Zaki Habibi was become the speaker. He said the Core of discussion that in the Teatime #3: Critical Thinking is The Core of International Mindset. He was the keyperson speaker of Teatime Talkshow about how the international mindset is important for the academic experiment. Student should learn and train their mindset to adapt the global academic world. In this third Teatime, the committee choose the title “Crash Landing on The Connected World”. Ida Nuraini Dewi KN, as the host, trying to interview Habibi what is the benefit of having an international mindset.

On that evening, Habibi aired his talks live from Lund, Sweden, and Ida the host from Jogja. This is what Habibi said with connected world. We can still connect, talk, discuss, and ‘meet’ each other because we are already connected with technology. Therefore, we can make a serious collaboration and get an international mindset easily than before.

Hence, because the importance by having this international mindset, student of higher institution like university or college is good to enrich it. Enrich their mindset and thinking with this international mindset. By knowing the international mindset, we can solve the global problem, even help others, and also finding the best way to face everyday live problem.

Critical Thinking is The Core of International Mindset

Then, What International Mindset Is?

Zaki said, “Critical Thinking is The Core of International Mindset.”

Ida, who also the lecturer specialist of journalism and media studies, ask him: what do you mean to think critically is the key of international mindset?

Based on Habibi’s thought, that study in higher education is also about trying to have a critical understanding about everything. “What you learn it is actually about this,” Habibi said. Habibi tell us that there are many issues that the world face now. “Big issues like food scarcity, climate change, racism and so on, even in positive way, the new development of cities, the new development of economy and so on, if we have have this kind of attitude of critical understanding,” Habibi answered.

It is actually put us, as a student in the higher education institution, “to see all what happen outside as something that its not taken for granted firstly,” Habibi continued. Secondly, he said,  that there would be something has historical context, it has a social, economical, and political context, beyond it. “and also its not always that i mean something happen in one place you can not just move back in other place and look it will be the same,” said he, who also an PhD candidate at Lund University, Sweden.

What Habibi want to say is as a student, it is important to undestand the context of something or problem. So you can, “find the substance, why this solution worked here, why this solution solve this particular problem,” Habibi said.

People is Different, So Understand the Difference

Habibi also tell us the story that he get before when he go overseas at Edith Cowan University at Perth, Australia. He said, when he get his master at Australia, he also get the different story.

“People is different, by understanding the difference, that we could understanding the context, understand why they behave like that. How we should behave, and how we should react back,” said he recalled the story  then.

Although, this international mindset, Habibi said, is not necessary have to be build in formal international institution. For example, “You can studying in any program, anywhere, any discipline, but this international mindset is getting more important thing with the current situation,” said he.

Ida and Habibi agreed that international mindset is not just about masterly the language. “It is not if you could understand the English well. If you could express an English language very well as close as native speaker, that is not enough,” said Habibi. Habibi, who also a lecturer of Visual Culture specialized, at Communication Science Department of Universitas Islam Indonesia, said mastering the language is not enough.

Habibi emphasize that International mindset is more about the way we understand the difference. “This mindset is the way how we understand the possibility to understand that people have their own problem.” said he. “The definition of International mindset is mastering the understanding,” Habibi said,“And the way our attitude to react to global problem, as our problem now or future,” He continued.

Reading Time: 3 minutes

Pada 10 Juli 2020, Zaki Habibi menjadi pembicara. Dia mengatakan Inti dari diskusi bahwa dalam Teatime # 3: Berpikir Kritis adalah Inti dari Pola Pikir Internasional. Dia adalah pembicara utama bincang-bincang Teatime tentang bagaimana pola pikir internasional penting bagi pengalaman akademik.

Mahasiswa harus belajar dan melatih pola pikir mereka untuk beradaptasi dengan dunia akademik global. Dalam acara Teatime ketiga ini, panitia memilih judul “Crash Landing on The Connected World – What Can We Benefit From Having International Mindset “. Ida Nuraini Dewi KN, sebagai tuan rumah, mencoba mewawancarai Zaki apa manfaat memiliki pola pikir internasional.

Pada malam itu, Zaki menyiarkan pembicaraannya langsung dari Lund, Swedia, dan Ida pembawa acara dari Jogja. Penontonnya sudah lebih dari 100 pemirsa. Inilah yang dikatakan Zaki dengan dunia yang terhubung. Kita masih bisa terhubung, berbicara, berdiskusi, dan ‘bertemu’ satu sama lain karena kita sudah terhubung dengan teknologi. Oleh karena itu, kita dapat membuat kolaborasi kreatif dan mendapatkan pola pikir internasional dengan mudah daripada sebelumnya.

Oleh karena itu, karena pentingnya memiliki pola pikir internasional ini, mahasiswa dari perguruan tinggi seperti universitas atau sekoalh tinggi sebaiknya memperkaya itu. Perkaya pola pikir dan berpikir dengan pola pikir internasional. Dengan mengetahui pola pikir internasional, kita dapat memecahkan masalah global, bahkan membantu orang lain, dan juga menemukan cara terbaik untuk menghadapi masalah hidup sehari-hari.

Berpikir Kritis adalah Inti dari Pola Pikir Internasional

Lalu, Apa Pola Pikir Internasional itu?

Zaki berkata, “Berpikir Kritis adalah Inti dari Pola Pikir Internasional.”

Ida, yang juga dosen spesialis jurnalisme dan studi media Komunikasi UII, bertanya kepadanya: apa yang anda maksud dengan berpikir kritis adalah kunci dari pola pikir internasional?

Berdasarkan pemikiran Zaki,  studi di pendidikan tinggi juga tentang mencoba untuk memiliki pemahaman kritis tentang segalanya. “Apa yang kamu pelajari sebenarnya tentang ini,” kata Habibi. Habibi memberi tahu kita bahwa ada banyak masalah yang dihadapi dunia sekarang. “Masalah besar seperti kelangkaan pangan, perubahan iklim, rasisme dan sebagainya, bahkan dalam cara-cara positif, perkembangan baru kota-kota, perkembangan ekonomi baru dan sebagainya, jika kita memiliki sikap pemahaman kritis seperti ini,” jawab Habibi.

Itu sebenarnya menempatkan kita, sebagai mahasiswa di lembaga pendidikan tinggi, “untuk melihat semua yang terjadi di luar sebagai sesuatu yang tidak diterima begitu saja,” lanjut Zaki. Kedua, katanya, bahwa akan ada sesuatu yang memiliki konteks sejarah, konteks sosial, ekonomi, dan politik, dan lainnya. “Dan itu tidak selalu berarti sesuatu terjadi di satu tempatdan tidak terjadi di tempat lain, bisa saja probelm yang saa terjadi di tempat lain,” kata dia, yang juga kandidat PhD di Lund University, Swedia.

Apa yang ingin dikatakan Zaki adalah, sebagai seorang Mahasiswa, penting untuk memahami konteks sesuatu atau masalah. Jadi Anda dapat, “menemukan poinnya, mengapa solusi ini bekerja di sini, mengapa solusi ini menyelesaikan masalah tertentu ini,” kata Habibi.

Setiap Orang Berbeda, Jadi Pahami Perbedaannya

Habibi juga menceritakan kisahnya yang dia dapatkan sebelumnya ketika dia pergi ke luar negeri di Universitas Edith Cowan di Perth, Australia. Dia mengatakan, ketika dia mendapatkan gelar master di Australia, dia juga mendapat cerita yang berbeda.

“Orang-orang berbeda, dengan memahami perbedaannya,  kita dapat memahami konteksnya, memahami mengapa mereka berperilaku seperti itu. Bagaimana kita harus bersikap, dan bagaimana kita harus bereaksi kembali,” katanya mengenang.

Meskipun, pola pikir internasional ini, kata Habibi, tidak perlu harus dibangun di lembaga-lembaga internasional formal. Misalnya, “Kamu dapat belajar di program apa saja, di mana saja, disiplin apa pun, tetapi pola pikir internasional ini semakin penting dengan situasi saat ini,” katanya.

Ida dan Habibi sepakat bahwa pola pikir internasional bukan hanya tentang menguasai bahasa. “Ini bukan tentang kamu dapat memahami bahasa Inggris dengan baik. Jika kamu dapat mengekspresikan bahasa Inggris dengan sangat baik seperti halnya penutur asli, itu tidak cukup,” kata Zaki. Zaki, yang juga seorang dosen Spesialis Komunikasi Budaya Visual, di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, mengatakan menguasai bahasa tidak cukup.

Zaki menekankan bahwa pola pikir Internasional lebih pada cara kita memahami perbedaan. “Pola pikir ini adalah cara kita memahami kemungkinan untuk memahami bahwa orang memiliki masalah mereka sendiri.” kata dia. “Definisi pola pikir internasional adalah menguasai pemahaman,” kata Habibi, “Dan cara kita bereaksi terhadap masalah global, seperti masalah kita sekarang atau di masa depan,” lanjutnya.

Reading Time: 3 minutes

Sebenarnya, bukan saja menelusuri pengalaman internasional, melainkan juga membau ‘rasa’ pengalaman internasional. Pengalaman internasional penting dan perlu dirasakan oleh mahasiswa Indonesia, bukan melulu untuk membangga-banggakan. Namun juga memahami perbedaan perspektif, budaya, bahkan meluaskan jaringan akademik dan intelektual. Itulah yang kiranya ingin ditekankan Iwan Awaluddin Yusuf, Dosen Komunikasi UII yang kini sedang manamatkan program doktoral media dan jurnalisme di Monash University Australia sebagai pembicara dalam acara bincang-bincang Teatime #2 International Program of Communication UII.

Acara yang dihelat Program Internasional Komunikasi UII ini mengundangnya untuk melacak dan membagi apa saja perlunya pengalaman internasional untuk pengembangan diri dan keilmuan mahasiswa. Tema yang diangkat pada Teatime kedua ini adalah “Seeking the international experiences”.  Moderator pada Jumat 3 Juli 2020, itu adalah Ida Nuraini Dewi KN, Sekretaris Program Internasional Komunikasi UII, yang juga Dosen Spesialis Klaster Jurnalisme dan Media.

Sore itu, Iwan Awaluddin dari Melbourne, dan Ida Nuraini, dari Jogja berbincang selama satu jam. Lewat Aplikasi Live Instagram, Iwan menceritakan bahwa apa yang diraihnya hingga bisa mendapatkan beasiswa dari  LPDP studi di Monash University bukan berasal dari berpangku tangan. Ada usaha, doa, dan rekam jejak yang dibangun sebelum mencapainya. “Bagi beberapa orang mungkin mendapat kesempatan pengalaman internasional ini mungkin mudah, tapi ini bukan hal yang mudah buat saya apalagi meraih skor IELTS 7,” katanya menceritakan prosesnya meraih beasiswa.

Apakah pentingnya International Experiences?

Bincang-bincang Instagram yang sudah ditonton oleh lebih dari 100 pemirsa ini juga memberi pencerahan (insight) baru soal bagaimana memandang international experience. Bagi Iwan, pengalaman internasional itu bukan hanya soal studi ke luar negeri. Ada dua hal: formal dan non formal. Pengalaman internasional yang formal misalnya studi di kampus luar negeri. Atau misalnya yang non formal ada diundang menjadi pembicara di kegiatan ilmiah internasional, riset bersama, atau kelas pendek (short course). Iwan menceritakan pada Ida, moderator hari ini, bahwa ia pertama kali mengalami ‘rasa’ pengalaman internasional justru karena rekam jejaknya aktif menulis blog.

“Saya kan aktif menulis blog tentang media dan pers. Saat itu tulisan saya tentang kebebasan pers dilihat baik dan membuat saya diundang oleh kampus di Myanmar bicara tentang kebebasan pers di Indonesia,” kenang Iwan.

Bicara tentang pengalaman luar negeri, justru kemampuan menulis dan banyaknya publikasi dalam karya Iwan-lah yang membuat pihak Monash University luluh dan menerimanya melanjutkan studi di sana. Jejaringnya dengan profesor di Monash juga sangat membantunya melobi dan menembus Monash University. “Kualitas publikasi karya-karya saya inilah yang menjadi salah satu yang meyakinkan pembimbing,” kata Iwan.

Apa Pengalaman Internasional yang Bisa dibagikan?

Iwan membagikan banyak pengalaman internasionalnya. Iwan mengatakan ia, di sana, justru tak hanya belajar tentang Australia, melainkan belajar indonesia pula. Penuturan Iwan menguak bahwa di Australia banyak sekali studi tentang indonesia. “Saya justru belajar alat musik bundengan Dieng, Wonosobo. Saya belajar dari jurusan etnomusikologi di Monash. Sementara kita tidak tahu indonesia sendiri. Memang kita perlu menjaga jarak sedikit, malah jadi tahu,” katanya.

“Saya lihat pemandangan yang sangat alami, bersih dan menakjubkan,” kata Iwan takjub. “Saya lihat bunga-bunga Australia aloha, saya ingat sawah. Bagi orang sini, begitu indahnya sawah, karena di sini nggak ada. mungkin mereka juga takjub dengan randu, sama lah dengan kita lihat sakura di Jepang. Memang kita harus memberi jarak,” sambungnya.

Memang, kata Iwan, penting kita hadir langsung merasakan ‘bau’ negara lain sebagai bagian mengalami pengalaman internasiona. Misal, kata Iwan, “ada stereotipe soal Islam di Australia ketika masih di Indonesia. Ketika ke sana ternyata nggak juga seperti itu stereotipenya tuh. Saya justru belajar islam udah datang ke australia dibawa oleh orang makassar lebih dulu dari  James Cook yang nemuin Australia.”

Maka, kata Iwan, perlu kita tak hanya bergaul dengan komunitas yang hanya ingin membenarkan kita. Kita perlu memahami dan mempelajari orang dan pemikiran yang lain agar mengerti. “kalau kita masih terkungkung pemikirannya dan nyaman dengan yang ini-ini saja, kita nggak akan berkembang pemikirannya,” jelasnya.

Inilah yang kemudian disebut Iwan dan Ida makna dari mengalami International Experience: discover new things about new culture.

 

 

.

Reading Time: 3 minutes

Actually, not only tracing international experience, but also smells a ‘sense’ of international experience. It was the purpose of the title: Seeking and Taste The International Experiences. International experience is important and needs to be felt by Indonesian students, not merely to be proud of. But also understanding differences in perspective, culture, even expanding academic and intellectual networks. That is what I would like to emphasize Iwan Awaluddin Yusuf, UII Communication Lecturer who is currently completing a doctoral program in media and journalism at Monash University Australia as a speaker at the UII Teatime # 2 International Program of Communication talk show.

The event, which was held at the UII International Communication Program, invited him to track and share the need for international experience for student self-development and scholarship. The theme raised in this second Teatime is “Seeking the international experiences”. The moderator on Friday 3 July 2020 was Ida Nuraini Dewi KN, Secretary of the UII International Communication Program, who is also a Lecturer in the Cluster of Journalism and Media.

That afternoon, Iwan Awaluddin from Melbourne, and Ida Nuraini, from Jogja talked for an hour. Through the Instagram Live Application, Iwan told me that what he had achieved so that he could get a scholarship from LPDP to study at Monash University did not come from holding hands. There is a business, prayer, and track record that was built before reaching it. “For some people, the chance to get international experience might be easy, but this is not an easy thing for me, let alone achieve an IELTS score of 7,” he said of the process of winning a scholarship.

What is the importance of International Experiences?

The Instagram conversations that have been watched by more than 100 viewers also give new insight about how to view the international experience. For Iwan, international experience is not just a matter of studying abroad. There are two things: formal and informal. Formal international experience, for example, studying abroad. Or for example informal ones are invited to be speakers at international scientific activities, joint research, or short courses. Iwan told Ida, the moderator today, that he first experienced a ‘sense’ of international experience precisely because of his track record of actively writing a blog.

“I’m actively writing a blog about the media and the press. At that time my writing about freedom of the press was seen well and made me invited by the campus in Myanmar to talk about press freedom in Indonesia,” Iwan recalled.

Talking about foreign experience, it was precisely the ability to write and the many publications in Iwan’s work that made Monash University melted and accepted him to continue his studies there. His network with professors at Monash also greatly helped him lobby and penetrate Monash University. “The quality of the publication of my works is one of the things that has convinced the supervisor,” said Iwan.

What International Experiences Can Be Shared?

Iwan shared many of his international experiences. Iwan said he, there, was not only learning about Australia, but also learning Indonesia. Iwan’s explanation revealed that there were many studies in Australia in Indonesia. “I just learned the Dieng bundengan musical instrument of Wonosobo. I learned from the ethno-musicology department at Monash. While we do not know Indonesia itself. Indeed, we need to keep a little distance, instead we know,” he said.

“I saw a very natural, clean and amazing view,” Iwan said with astonishment. “I see Australian aloha flowers, I remember the rice fields. For people here, the rice fields are so beautiful, because there are none here. Maybe they are also amazed by the Randu Trees, the same as we see sakura in Japan. Indeed we have to give distance,” he continued.

Indeed, said Iwan, it is important that we immediately feel the ‘smell’ of other countries as part of experiencing international experience. For example, said Iwan, “there was a stereotype about Islam in Australia when I was in Indonesia. When I went there it was not like that stereotype either. I learned that Islam had come to Australia and was brought by Makassar people first from James Cook who discovered Australia.”

So, said Iwan, we need not only to hang out with communities that only want to justify us. We need to understand and study people and other thoughts in order to understand. “If we are still confined to thinking and comfortable with these and only things, we will not develop thinking,” he explained.

This is what came to be called Iwan and Ida the meaning of experiencing International Experience: discover new things about new culture.

.