Pengumuman

Dengan hormat, disampaikan kepada mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang telah dinyatakan lulus dalam Kelas Seminar Proposal Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, bahwa Program Studi Ilmu Komunikasi telah menetapkan pembagian dosen pembimbing Tugas Akhir. Adapun daftar pembagian dosen pembimbing Tugas Akhir sebagaimana tercantum dalam lampiran surat edaran ini. Mahasiswa diharapkan dapat memperhatikan pembagian dosen pembimbing tersebut dan selanjutnya melakukan koordinasi dengan dosen pembimbing masing-masing untuk proses bimbingan Tugas Akhir.
Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dapat diperhatikan dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian, kerja sama, dan kesungguhan mahasiswa dalam mengikuti proses penyelesaian Tugas Akhir, kami sampaikan terima kasih.

Selengkapnya: 324. Surat Edaran Pembagian Dosen Pembimbing Tugas Akhir Semester Ganjil TA 2026_2027

Kuliah Perdana MIKOM UII: Kuliah Perdana MIKOM UII: Admin yang Responsif Jadi Alasan Maba Memilih Program Ini

Tahun ini 18 mahasiswa terdaftar sebagai anggota baru Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM  Jumlah ini meningkat, mengingat tahun 2026 adalah tahun kedua bagi program S2 yang fokus pada Environmental and Digital Communication.

Menyambut anggota baru, MIKOM UII mengadakan pertemuan hangat di Gedung RAV Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII pada 18 September 2026. Bertajuk Kuliah Perdana sesi ini mempertemukan mahasiswa MIKOM angkatan pertama, mahasiswa baru, para dosen, dan juga staf.

Salah satu perwakilan mahasiswa baru MIKOM UII, Erwin Suryadi menyampaikan alasannya memilih jurusan ini. Ia menyebut admin yang dihubunginya begitu membantu, selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya ragu dalam proses pendaftaran.

“Alasan saya memilih MIKOM UII karena admin sangat membantu, bahkan saya bertanya di malam hari selalu dijawab. Admin sangat melayani, semoga hadirnya maba (mahasiswa baru) membawa nama UII lebih baik,” ungkapnya.

Alasan itu membuatnya bertekad memilih MIKOM UII sebagai ikhtiar meraih mimpinya. Karena pada dasarnya, memulai perjalanan jenjang S2 adalah proses yang begitu kompleks. Tak sekedar mendalami keilmuan, melainkan juga proses pendewasaan berpikir.

Hal tersebut juga disinggung oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Irawan Jati, Ph.D. yang menyebut bahwa angkatan kedua program pascasarjana memang memiliki program belajar yang berbeda. Semester pertama menyesuaikan tuntutan yang juga berbeda, begitu pula kemampuan yang ditargetkan.

“Kalau boleh berefleksi perjalanan (kuliah S2) adalah upaya mencapai kedewasaan berpikir. Belajar materi sebanyak-banyaknya tapi belum tentu lebih paham dari orang lain. Bagaimana kita berpikir dewasa, butuh kedewasaan lebih,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keunikan mahasiswa yang memiliki latar belakang dan usia berbeda-beda. Menurutnya, hal itu justru menjadi kekayaan yang dapat saling mendukung satu sama lain.

Sementara itu, Kaprodi MIKOM UII Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D. berharap agar mahasiswa baru dapat memiliki nilai-nilai yang telah ditanamkan UII. Di akhir sesi, ia mengingatkan bahwa “dalam proses belajar, ada fase up and down. Tidak selalu mudah, dan kesulitan pasti akan dialami. Oleh karena itu, ia berpesan agar mahasiswa menyiapkan kesehatan fisik dan mental sejak awal,” jelasnya.

Kuliah perdana ini pun ditutup dengan harapan besar bahwa angkatan kedua MIKOM UII dapat melanjutkan tradisi akademik yang kuat. Program ini sendiri dibangun melalui persiapan dan proses panjang, mulai dari benchmarking di berbagai universitas dalam negeri hingga NTU Singapura. Salah satu keunggulannya adalah kehadiran visiting professor dari Eropa, Asia, dan Amerika, yang diharapkan semakin memperkaya wawasan mahasiswa dan membawa nama UII semakin baik di kancah nasional maupun internasional.

Pengumuman

Sehubungan dengan adanya penataan kembali alokasi pembimbingan akademik serta optimalisasi layanan akademik di lingkungan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, bersama ini kami sampaikan penyesuaian dan pengalihan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) bagi mahasiswa bimbingan Bapak Anggi Arif Fudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom. kepada Dosen Pembimbing Akademik yang baru.

Adapun daftar pembagian mahasiswa dan DPA yang baru adalah sebagai berikut:

Surat Edaran Perubahan Dosen Pembimbing Akademik

P2A ICE CREAM 2026: A Three-Nation Reunion Strengthening ASEAN Collaboration

P2A ICE CREAM 2026, themed “COCONUT,” has just concluded. From August 7 to 17, delegations from three countries—Indonesia, Malaysia, and Thailand—collaborated on initiatives focused on communication, creativity, and culinary arts. This session brought together students, faculty, and staff from the Department of Communications at the Islamic University of Indonesia (UII), SCIMPA at Universiti Utara Malaysia (UUM), and Suan Dusit University (SDU) Trang Center in Thailand.

This event served as a reunion in 2026, as these three universities have been collaborating with SDU since 2022, while their partnership with SCIMPA at UUM has spanned nearly 8 years. This meeting strengthened the relationships that have been built.

Dr. Tiger, Director of the SDU Trang Center, expressed his appreciation for the continuity of the P2A ICE CREAM program. In his view, the program has consistently run smoothly every year. “This program has actually been running for many years, and I think we’ve been successful every year. We can see that this program is still continuing,” he said.

He also highlighted the program’s values of inclusivity, noting that students, faculty, and staff can collaborate and share experiences together. “Sometimes we focus on different ideas and cultures, and ultimately we come to understand each other’s perspectives in the same way. This is what makes us successful,” he added.

Dr. Mohamad Amir Bin Abu Seman, Co-Director of SCIMPA UUM, who oversees the program in Malaysia, noted that the program—designed to strengthen cross-cultural communication while challenging students to creatively document Malaysia’s landscapes—saw participants successfully produce work with strong visual quality and thematic relevance. “In particular, IPC students demonstrated exceptional visual storytelling. They successfully applied their communication studies background, which was clearly evident in their top scores for creativity, originality, and composition,” he explained.

Furthermore, the connections forged among students across national borders fostered a unique and insightful form of communication. The students made new friends and encountered new cultures. According to Palaswan, Coordinator of the SDU Tran Center, this initiative should be continued. “Moving forward, students can explore many opportunities through this program,” he said.

Meanwhile, Herman Felani, one of the founders of P2A ICE CREAM from IPC UII, emphasized that this program is not merely an academic activity but also a bond that fosters a sense of family. “We have become a family with SDU and UUM, and this connection is now growing stronger and better thanks to our commitment to future collaboration and mobility initiatives,” he explained.

With the enthusiasm and commitment of all three universities, P2A ICE CREAM 2026 will not only serve as a reunion but also lay the foundation for closer ASEAN collaboration in the future.

In Their Own Words:

“This program allows students to understand each other’s cultural differences and ideas. This is what makes us successful.” — Dr. Tiger, Director of SDU Trang Center

“P2A ICE CREAM Coconut is a truly extraordinary program! Students can make new friends and discover new cultures.” — Palasawan, SDU Trang Center

“We’ve become a family. These connections are growing stronger and better with our commitment to future collaboration.” — Herman Felani, Founder of P2A ICE CREAM

“The photography competition successfully strengthened cross-cultural communication and challenged students to be creative.” — Dr. Mohamad Amir Bin Abu Seman, Co-Director of SCIMPA UUM

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Exploring Kampung Warna-Warni to a Photography Competition in Kuala Perlis

On the fourth day of the P2A ICE CREAM COCONUT 2026 program—specifically on August 11—delegates from three countries visited Universiti Utara Malaysia (UUM). Driven by a spirit of intercultural communication and creative exploration, this activity was designed to build connections, deepen cultural understanding, and hone visual storytelling skills through a photography competition.

It began with a warm Welcoming Session at SCIMPA UUM, allowing the delegates to get to know one another and become acquainted. They also toured the UUM Guest Pavilion, a historical gallery tracing the university’s founding—an institution that has produced many scholars and leaders in Malaysia.

After visiting UUM, the delegates from IPC UII, SDU, and SCIMPA UUM set off for Kampung Warna-Warni in Kuala Perlis. This is a traditional fishing village that was transformed into a colorful tourist destination in 2020, an initiative launched by the Crown Prince of Perlis. The delegates wandered through narrow alleys lined with murals, engaged in conversations with residents, and experienced community-based tourism firsthand—witnessing how grassroots creativity can tangibly improve the community’s standard of living.

The cultural journey continued to the Al-Hussain Mosque, a magnificent floating mosque on the coast of Kuala Perlis. Its architecture, jutting out into the sea, created a serene and contemplative backdrop, concluding the cultural exploration with a profound impression of harmony and diversity.

The main event of the day was a photography competition, chaired by Dr. Mohamad Amir Bin Abu Seman from SCIMPA UUM, who explained that the competition aimed to strengthen intercultural communication.

“It was to strengthen intercultural communication and to challenge them to bond while creatively documenting Kuala Lumpur’s landscape,” he said.

The results of the photography competition were phenomenal. The students were highly engaged, with several achieving perfect 15-point scores, reflecting strong thematic relevance and visual quality across all categories.

“Specifically, the IPC students demonstrated exceptional visual storytelling. They successfully applied their background in communication studies,” he added.

The winner of the competition was Muhammad Yusuf Singgih from IPC UII, who presented the theme “In Transit.” He said that this experience not only provided direct observation but also honed his visual storytelling skills.

"In Transit" Captured by Muhammad Yusuf Singgih from IPC UII

“In Transit” Captured by Muhammad Yusuf Singgih from IPC UII

“My goal was to explore Kuala Lumpur through visual storytelling while developing creativity and observation skills in communicating the character of a city through photography,” he explained.

“The photography challenge taught me to see Kuala Lumpur beyond its landmarks. Through its green spaces, streets, cultural sites, public transportation, and local food, I learned how photography can capture the identity, diversity, and everyday life of the city. I also learned to be more observant and intentional when taking photos because every composition, angle, subject, and moment can tell a different story about a place,” he emphasized.

This program is more than just a competition or a tour. It is a living laboratory for students to learn about diversity, build empathy, and hone their visual sensitivity. From the alleys of Kampung Warna-Warni to the Al-Hussain Mosque, every corner of the journey holds a lesson on how art, culture, and communication serve as bridges between people. The delegates returned home with stories, friendships, and a new understanding of a world rich in color and meaning.

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Sustainable CSR by the Younger Generation at Hat Chao Mai

This edition of Passage to ASEAN (P2A) is focused on sustainability; one of the programs carried out is a hands-on initiative in the coastal area of Hat Chao Mai National Park, Trang Province, Thailand. The initiative, held on August 15, 2026, brought together dozens of delegates from IPC UII, SCIMPA UUM, and SDU.

Through this beach cleanup CSR initiative, the delegates not only collected coastal trash but were also guided to understand the local ecological reality, where they observed firsthand the challenges posed by marine debris to the sustainability of coastal ecosystems within the national park. Furthermore, the event served as a medium for sustainable learning through concrete activities.

One of the facilitators accompanying the delegates from the three countries was Billy, a former biologist and scientist at the Trang Marine National Park in Thailand. He has researched the region’s marine ecosystems, including reef sharks, dugongs, and seagrass beds, which serve as vital habitats.

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Sustainable CSR by the Younger Generation at Hat Chao Mai

P2A ICE CREAM COCONUT 2026: Sustainable CSR by the Younger Generation at Hat Chao Mai

Billy shared fundamental insights about nature, humans, and the environment. He noted that nature does not need humans, but humans need nature.

“You need to know that, actually, the environment doesn’t really need humans, but the opposite is true—humans need it to benefit us. So, we need to understand what we’re using and how we’re living. We must understand the costs and consequences, such as microplastics, which can later lead to many diseases for humans,” explained Billy.

This CSR initiative is not merely a social activity but serves as an open-air laboratory for the delegates to observe firsthand. Key points to highlight include the condition of the coastal ecosystem—including plastic waste that threatens marine life—the cycle of land-based waste that ultimately ends up in the ocean, and, finally, the role of humans as part of the solution, not merely as consumers of natural resources.

This beach cleanup serves as a symbol that sustainability doesn’t have to start with grand policies, but rather with simple actions: picking up trash, sorting it, and understanding that every piece of plastic collected is a small step toward maintaining the balance of nature.

Hakimi, one of the delegates from UUM, noted that this CSR initiative is a concrete action that allows him to contribute to sustainability.

“I found the beach cleanup program very beneficial and meaningful. It gave me the opportunity to contribute to protecting our environment while learning the importance of taking responsibility for keeping our surroundings clean. What made the program even more meaningful was that we worked together regardless of our different races and cultures, united by the same responsibility to care for our environment,” said Hakimi.

Meanwhile, Aliya Salsabila, a delegate from IPC UII, shared a deeply personal message. She noted that what we do today shapes the future.

“Participating in the beach cleanup CSR program made me realize that nature isn’t something we can continue to take for granted. Through something as simple as picking up trash, I’ve come to understand that what we do today will become part of the environmental conditions we leave behind for future generations,” she said.

Meanwhile, Billy, who has worked in the field of conservation for many years, noted that programs like this are urgent for young people. They provide a valuable space to meet, discuss, and collaborate—especially regarding the realities of the environment and sustainability, as well as the roles we should play.

“This is the best program I’ve ever heard of, because in this current generation, people are starting to connect online but have forgotten the importance of face-to-face communication and storytelling. And since we’re all part of ASEAN and are neighbors, I think this is a great initiative because it allows us to connect with one another,” he added.

IPC Student Wins Second Place in the National Musabaqah Syarhil Qur’an Competition

Kelvin Alviana Setiawan, a student on the International Communication Programme (IPC) at the Islamic University of Indonesia (UII), secured second place in the Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) competition at the Qur’anic Arts Festival organised by UPTQ UNISBA, Bandung, on 1–2 June 2026.

MSQ has been an integral part of Kelvin’s life; he has been dedicated to this field since primary school. He continued to develop his interest in MSQ through regular practice, and by the time he reached secondary school, he had the courage to enter various national-level competitions.

This journey has served as a foundation for him to remain consistent in the art of reciting the Qur’an and understanding its meaning. Upon entering university, he decided to join the TQFI student club under the Directorate of Student Development, which focuses on developing students’ interests and talents in the fields of MTQ and Islamic arts.

Amidst the demands of his academic life on campus, Kelvin also remained active in the organisation to develop his skills. Nevertheless, he learnt a great deal and managed to balance his time effectively, enabling him to take part in competitions.

“I divided my time between lectures, practice sessions and other organisational activities by setting priorities and drawing up a schedule from the outset, so that no activities clashed,” he said.

This competition proved to be a different experience; rather than simply being a participant, he also acted as a mentor and was responsible for organising the event, from which he naturally learnt a great deal.

From this experience, Kelvin gained various insights, ranging from problem-solving skills and risk management to handling administrative matters with the university. This experience has further enriched his personal development outside the lecture hall.

Drawing on his experience, Kelvin shared a message with all students: never give up and always nurture your interests and talents.

“My message is: never stop learning and developing the interests and talents within you, particularly in the field of religion. Make the most of every opportunity to gain knowledge, stay enthusiastic, and remain consistent throughout the process. With good intentions and sincere effort, the knowledge we possess will become a valuable asset for both ourselves and others,” he emphasised.

Rajbani Gibran Ahmad: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Borong Dua Medali MSQ di Ajang Nasional dan Internasional

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII, D. Rajbani Gibran Ahmad, patut menjadi inspirasi. Mahasiswa angkatan 2024 ini borong prestasi di bidang penjelasan isi Al-Qur’an. Tercatat dari bulan Juni hingga Juli, dua prestasi nasional dan internasional berhasil ia kumpulkan.

Di awal Juni 2026, Rajbani berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional di Bandung, yakni Musabaqah Syahril Qur’an dalam Festival Seni Qur’an Harlah UPTQ UNISBA ke-18. Ia bersama timnya meraih juara dua dalam kompetisi tersebut.

Hanya beberapa pekan kemudian, pada 11 Juli 2026, Rajbani kembali menunjukkan kemampuannya di ajang bergengsi, International Qur’an Festival (IQAF) UII. Berbeda dengan kompetisi sebelumnya, kali ini ia bertanding secara individu melawan peserta dari berbagai perguruan tinggi nasional dan internasional. Ia sukses meraih juara 2, melengkapi koleksi prestasinya dalam waktu yang singkat.

Bagaimana Rajbani mampu meraih dua prestasi sekaligus di tengah kesibukan sebagai mahasiswa baru? Kuncinya ada pada manajemen waktu yang disiplin. Ia mengaku membuat jadwal teratur dengan memprioritaskan kegiatan paling penting. Latihan MSQ yang intensif, perkuliahan, dan aktivitas komunitas keagamaan di kampus ia jalani secara seimbang. Setiap harinya, ia menyisihkan waktu khusus untuk memperdalam materi syarhil Al-Qur’an, tanpa mengabaikan tanggung jawab akademiknya.

“Konsistensi adalah kunci. Saya belajar untuk membagi waktu dengan baik agar latihan dan perkuliahan tetap berjalan beriringan,” ujar Rajbani.

Baginya, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus berkembang. Setiap kompetisi ia jadikan sebagai evaluasi dan pembelajaran. Bertemu dengan peserta terbaik dari berbagai daerah membuka wawasannya tentang pentingnya kerja keras, disiplin, dan menghargai proses.

Dengan dua medali ini, Rajbani berharap dapat terus mengasah kemampuan dan memberikan kontribusi lebih besar dalam syiar Al-Qur’an. Pesannya kepada mahasiswa lain: jangan ragu untuk memulai. Dengan konsistensi, kerja keras, dan doa, prestasi gemilang dapat diraih.

“Setiap kompetisi memberikan pengalaman, tantangan, dan pembelajaran yang berbeda. Dari berbagai pengalaman tersebut, saya belajar untuk terus meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan keislaman, serta membangun mental dan kepercayaan diri dalam berkompetisi,” tandasnya.

Scroll, Swipe, Repeat: Saat Video Pendek Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

“Sebentar aja kok cuma lima menit.”

Kalimat itu mungkin terdengar familiar. Kita sering kali membuka TikTok saat menunggu dosen masuk kelas, menonton Instagram Reels pas jam istirahat, atau menikmati Youtube Shorts sebelum tidur. Namun, tanpa kita sadari, yang awalnya cuma lima menit malah berubah jadi tiga puluh menit, bahkan satu jam. Jempol terus bergerak, layar terus berganti, dan algoritma seolah tahu persis video apa yang ingin kita lihat berikutnya.

Inilah tren baru digital. Video pendek sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, tempat belajar sesuatu, hingga tempat untuk membangun identitas diri. Dalam hitungan detik, seseorang bisa tertawa karena video komedi, memahami materi kuliah, menemukan rekomendasi tempat makan, bahkan memutuskan membeli sebuah produk.

Menonton video berdurasi pendek saat ini sudah menjadi kebiasaan dan fenomena bagi Generasi Z. Data dari YouGov Surveys menunjukkan bahwa pada rentang usia 16-24 tahun, konsumsi video pendek mencapai 85% setiap minggu. Di Indonesia sendiri, TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi tiga platform yang paling sering digunakan oleh masyarakat, terutama generasi muda. Tak heran jika video berdurasi kurang dari satu menit kini menjadi tren baru di era digital.

Mengapa video pendek begitu sulit ditinggalkan? Jawabannya simple: cepat, ringan, dan selalu relevan. Kita tidak perlu membaca artikel panjang atau menonton video berdurasi puluhan menit untuk mendapatkan informasi. Cukup beberapa detik, lalu lanjut ke video berikutnya. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada risiko yang ditimbulkan.

Karena mengejar durasi singkat, banyak informasi yang disampaikan terpotong-potong. Sebuah isu yang sebenarnya kompleks menjadi hanya satu menit, bahkan kurang. Akibatnya, konteks sering kali hilang dan tidak sedikit pula informasi yang belum terverifikasi menyebar lebih cepat daripada proses klarifikasinya. Hoaks, potongan video tanpa penjelasan, hingga judul sensasional menjadi tantangan yang semakin sering ditemui di media sosial.

Meskipun begitu, bukan berarti video pendek hanya membawa dampak negatif. Justru banyak kreator berhasil memanfaatkan format video pendek sebagai media edukasi yang efektif. Mulai dari dosen yang menjelaskan materi dalam satu menit, dokter yang membagikan tips kesehatan, hingga pelaku UMKM yang mempromosikan produknya melalui konten kreatif. Bagi mahasiswa, platform ini juga menjadi tempat atau sarana untuk menunjukkan kemampuan, membangun portofolio, hingga memperluas koneksi melalui personal branding.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, perubahan ini cukup menarik untuk dilihat. Cara kita berkomunikasi kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh apa yang kita pilih, tetapi juga oleh algoritma yang memilihkan informasi untuk kita. Apa yang muncul di timeline bukanlah gambaran utuh tentang dunia, melainkan hasil perhitungan sistem berdasarkan kebiasaan kita mengklik, menyukai, dan membagikan konten. Tanpa kita sadari, algoritma ikut membentuk cara kita memahami realitas.

Di sini pentingnya literasi digital. Menjadi pengguna media saat ini bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta memahami bahwa tidak semua konten yang viral selalu benar. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang begitu cepat.

Pada akhirnya, video pendek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia hanyalah sebuah teknologi yang menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan. Yang menentukan manfaatnya bukanlah algoritma atau platformnya, melainkan cara kita menggunakannya. Sebab di era ketika satu sentuhan jempol dapat membawa kita ke ratusan video berbeda, mungkin yang paling kita butuhkan bukan internet yang lebih cepat, melainkan kesadaran untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu memilih informasi dengan lebih bijak.

 

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita

Ketika Pembelajaran Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas: Menelusuri Inside Out School Magelang

Suasana pagi hari di Inside Out School terasa cukup berbeda dibandingkan dengan sekolah biasanya. Tidak ada kesan terburu-buru untuk segera memulai pembelajaran, dan juga interaksi para siswa dengan guru dibuat lebih santai namun tetap sopan. Di tengah konsep cara belajar yang selama ini identik dengan suasana kegiatan sekolah yang mempunyai ruang kelas, siswa yang banyak, dan seragam sekolah. Inside Out School menawarkan pengalaman pendidikan yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Di tempat ini, proses belajar tidak hanya sekadar tentang materi pelajaran dan nilai yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana peserta didik dapat mengenali diri, mengembangkan potensi, dan menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Inside Out School merupakan nama sekolah alam tempat belajar yang berlokasi di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, yang berdiri pada akhir Juni 2025. Pendiri sekolah tersebut adalah Sulistiyawati, alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2006. Metode pembelajaran yang diajarkan adalah dengan memberikan ruang kepada para siswa untuk mengeksplor apa yang mereka inginkan untuk dipelajari tanpa membatasinya, tetapi juga tetap mengarahkan supaya ilmu yang mereka serap dapat berjalan dengan maksimal.

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Kegiatan berkebun menanam sawi PKBM Inside Out School

Sebelum pembelajaran dimulai, mereka mengawali kegiatan dengan bersih-bersih area belajar, kemudian dilanjutkan dengan berdoa, lalu siswa diarahkan ke masjid dekat sekolah untuk melaksanakan salat dhuha. Selepas itu, kegiatan belajar pun dimulai, ada yang belajar huruf hijaiyah, ada yang belajar matematika, dan ada juga menggambar tentang objek yang ada di sekitar, setelah selesai melakukan kegiatan belajar di area dalam, para siswa diajak para pamong atau tutor mereka untuk bermain ke alam dengan kegiatan swasembada pangan yang bertujuan untuk memproduksi kebutuhan pangan dan dapat dimanfaatkan secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan adalah berkebun dengan membuat pupuk tanaman sawi, setelah berkebun para siswa kemudian diajak untuk diskusi buku yang bebas dipilih oleh tiap siswa, masing-masing satu orang diminta untuk menceritakan buku yang mereka baca, kemudian memberikan kesimpulan mengenai buku tersebut dan semua rangkaian kegiatan belajar diakhiri dengan doa penutup.

PKBM Inside Out School

PKBM Inside Out School

Ketua PKBM Inside Out School Magelang, Sulistiyawati, menjelaskan bahwa apa yang ingin Inside Out School berikan kepada peserta didik yang mungkin tidak didapatkan dari sekolah pada umumnya adalah ruang untuk berkembang sesuai potensi, minat, dan bakat masing-masing anak, bukan memaksa semua anak mengikuti standar yang sama seperti di sekolah formal.

“Anak-anak itu ibarat mereka benih. Kalau dia biji jagung, ya biar dia keluar jagung, bukan malah dipaksa untuk jadi padi kayak teman-temannya. Jadi itulah kenapa proses belajar yang akademik atau yang terstruktur itu porsinya kecil, hanya untuk menajamkan kalau dia memang bibit jagung ya biarkan tumbuh jadi jagung yang subur,” ujarnya.

Pada akhirnya, Inside Out School tidak hanya menawarkan tempat untuk belajar, tetapi juga mencoba membuat ruang bagi peserta didik untuk menemukan cara belajarnya sendiri. Di tengah aktivitas yang berlangsung dengan suasana yang sederhana dan tidak terlalu formal, pendidikan di tempat ini berjalan dengan satu gagasan bahwa setiap siswa memiliki cara yang berbeda untuk tumbuh dan berkembang.

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita