Digital Literacy: The Modern Foundation for Life

In the 21st century, technology isn’t just a tool; it’s the environment we live in. Since our world has shifted so rapidly, the definition of “literacy” also has had to grow. It’s no longer enough to just read and write; we now need to navigate, evaluate, and communicate through digital screens. Digital literacy has moved from being a “bonus” skill on a resume to a fundamental requirement for living a functional, informed life.

Why Digital Literacy Matters

Digital literacy is the engine that drives success in almost every aspect of modern life. It isn’t just about knowing how to use a computer; it’s about how those skills translate into real-world outcomes.

  • Career Growth: In today’s job market, digital skills are non-negotiable. Beyond just using software, employers value the ability to adapt to new platforms and communicate effectively in a virtual space. This adaptability is what builds economic resilience.
  • Educational Success: Learning has moved beyond the classroom. Whether it’s a fully online course or a hybrid model, students who master digital tools can access better resources and collaborate more effectively, setting them up for a tech-driven workforce.
  • Social Inclusion: Technology should be a bridge, not a barrier. Digital literacy allows people to access essential services like healthcare or banking, and participate in the global conversation. It ensures that no one is left behind simply because they don’t know how to navigate an app.
  • Critical Thinking: We are currently living through an era of information overload. Digital literacy provides the framework to question sources, spot biases, and use information ethically. While we are still learning exactly how much this protects us from misinformation, it remains our first line of defense.

How to Build Your Digital Literacy

Developing these skills is a lifelong process, but it generally follows a clear path of growth:

  1. Master the Basics: Start with the technical “how-to.” This means becoming comfortable with devices, common software, and the basic mechanics of online communication.
  2. Evaluate Information: This is the “why.” It’s the ability to look at a piece of content and determine if it’s credible, accurate, and ethical. In a world of “fake news,” this is perhaps the most vital survival skill.
  3. Practice Digital Ethics: Literacy includes how you treat others. This involves protecting your own data, respecting the intellectual property of others, and maintaining a responsible presence in digital communities.
  4. Stay Curious and Adaptable: Technology never stands still. The most digitally literate people are those who commit to continuous learning, whether through formal courses or simply by staying active in new digital spaces.

The Bottom Line

Digital literacy is the key to unlocking the opportunities of the modern world. It levels the playing field in education, empowers us in our careers, and helps us stay connected to society. As technology continues to evolve, our commitment to learning it must evolve too. By prioritizing these skills, we ensure that we aren’t just observers of the digital age, but active, informed participants in it.

Reference:

Mujiono, M. (2024). Digital literacy: fundamental competence for modern society. DIDAKTIKA Jurnal Pemikiran Pendidikan, 30(1), 15. https://doi.org/10.30587/didaktika.v30i1.6906

Ip, C. Y. (2024). Effect of digital literacy on social entrepreneurial intentions and nascent behaviours among students and practitioners in mass communication. Humanities and Social Sciences Communications, 11(1). https://doi.org/10.1057/s41599-023-02587-w

Alom, M. M., & R, V. (2024). DIGITAL LITERACY A PARADIGM SHIFT IN 21ST CENTURY. In 21st Century Teaching and Learning in Classroo (pp. 99–102). https://doi.org/10.58532/nbennurctch13

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Media dan Rape Culture: Antara Normalisasi dan Perlawanan

Kasus pelecehan seksual di Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 24.472 kasus. Data yang dilaporkan oleh Komnas Perempuan itu menyebutkan 4.873 di antaranya dilakukan berbasis elektronik (online). Fakta ini memperjelas bahwa ruang digital tak selalu aman, bahkan menjadi pintu masuk kekerasan seksual.

Lutviah, salah satu dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, membedah satu buku berjudul “MeToo: The Impact of Rape Culture in Media” yang ditulis oleh Meenakshi Gigi Durham. Secara umum, rape culture atau budaya pemerkosaan adalah kekerasan seksual yang dinormalisasi, disepelekan, ditoleransi, hingga dimaafkan oleh masyarakat dalam lingkungan sosial tertentu. Buku ini membedah tiga argumen penting tentang relasi media dan kekerasan seksual.

Pertama, media menjadi lokus atau ruang terjadinya kekerasan seksual. Di media sosial, misalnya, pelecehan seksual sulit diawasi, sebut saja grup percakapan dan pesan pribadi. Selain itu, peran media mainstream dan relasi kuasa yang kompleks, Lutviah mengilustrasikan kasus di Hollywood yang viral beberapa tahun lalu, yakni Harvey Weinstein. Posisinya sebagai produser ternama seolah memiliki kuasa.

“Dia adalah salah satu produser ternama di Hollywood yang menunjukkan bahwa industri media di Hollywood ternyata terjadi sebuah relasi kuasa yang sangat timpang sehingga menimbulkan terjadinya kekerasan seksual,” jelas Lutviah.

Kedua, media adalah mediator narasi terhadap kekerasan seksual itu sendiri. Cara media memframing berita memengaruhi persepsi publik dalam memahami kasus kekerasan seksual. Yang sering terjadi media justru memperlihatkan bagaimana reputasi pelaku, dibanding penderitaan korban. Hal ini memperkuat fenomena rape culture di masyarakat.

“Kita seringkali melihat bagaimana berita-berita tentang kekerasan seksual misalnya justru berbicara tentang masa depan pelaku yang terancam misalnya, bukannya fokus kepada penderitaan yang dialami oleh korban,” tambahnya.

Ketiga, media sebagai ruang perlawanan. Media turut membuka harapan baru, di tengah komplesitasnya media membuka ruang untuk mengorganisir perlawanan yang masif.

“Yang ketiga sebenarnya memberikan kita harapan. Dalam bukunya, Darem juga menyebutkan bahwa media juga berperan sebagai alat resistensi,” ucapnya.

“Masih ingat gerakan Me Too Movement? Gerakan MeToo adalah salah satu gerakan yang sangat penting dalam gerakan perempuan yang menunjukkan bahwa media juga bisa berperan sebagai alat perlawanan. Melalui gerakan Me Too Movement, para korban bisa saling bersolidaritas, bisa saling memberikan support satu sama lain, dan bisa ikut melawan culture of silence, di mana para korban yang tadinya hanya diam, tidak mau bersuara, akhirnya dengan berani si pick up mengatakan bahwa saya juga korban dan kita harus melawan red culture ini,” jelas Lutviah.

Selain ketiga argumen di atas, buku ini juga mengkritisi peran kita sebagai audience. Bahwa perilaku kita bermedia sebenarnya juga berperan dalam menormalisasi, atau melawan, atau juga membiarkan bagaimana kekerasan itu terjadi. Misalnya, bagaimana kita mengonsumsi, memberikan like, dan share pada konten-konten yang ada di media sosial itu juga berpengaruh pada bagaimana kemudian red culture itu bisa diterima oleh masyarakat.

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Aktivisme Media di Era Digital ‘Dari Lokal ke Global’

Transformasi digital mengubah bagaimana media bekerja, termasuk bagaimana aktivisme dilakukan. Prof. Nurhaya Muchtar dari Indiana University of Pennsylvania, USA, dalam sesi visiting professor di Magister Ilmu Komunikasi UII pada 17 April 2026, menyebutkan secara detail perkembangan jurnalisme dan gerakan sosial yang dijalankan.

“Di era digital, aktivisme tidak hanya terbatas pada aksi di jalanan, tetapi juga berlangsung di layar. Di mana platform-platform menjadi ruang baru untuk perjuangan, negosiasi, dan solidaritas global,” ucap Prof. Nurhaya Muchtar.

“Aktivisme media hari ini hampir seluruhnya dilakukan di ruang digital, karena di situlah sebagian besar masyarakat mengakses informasi,” tambahnya.

Secara sederhana, aktivisme media adalah penggunaan media dan teknologi komunikasi seperti media sosial dan laman web untuk mendorong perubahan sosial atau politik. Termasuk kampanye digital hingga penyebaran informasi untuk memobilisasi massa dalam merespons isu tertentu.

Lebih dalam, pergeseran ini tak serta-merta hanya soal beralihnya platform, tetapi juga soal kekuasaan di media. Digitalisasi menciptakan ruang partisipatif yang luas dan menjangkau secara global, namun relasi kuasa tetap melekat.

Perspektif ekologi media yang dijelaskan oleh Prof. Nurhaya Muchtar menyebutkan bahwa lingkungan sosial, geografis, maupun teknologi berpengaruh dalam proses aktivisme media. “Apa yang dikonsumsi masyarakat tidak berdiri sendiri, dipengaruhi media di sekitarnya,” ucapnya.

Digitalisasi media menciptakan ilusi kekuasaan yang dianggap tidak lagi terpusat. Faktanya, arus informasi tetap dipengaruhi oleh aktor-aktor di balik platform digital. Artinya, ruang digital tidak benar-benar netral.

Dengan platform digital, aktivisme tidak hanya memperluas jangkauan audiens, tetapi juga mengembangkan teknologi dan jaringan berkelanjutan. Meski demikian, faktor pendanaan juga menjadi faktor keberlanjutan gerakan. “Tidak hanya soal idealisme, tetapi juga sumber dana,” ucapnya.

Sementara dalam lingkup global, isu-isu climate change, pandemi, serta kejahatan digital mampu mendorong terbentuknya jaringan aktivisme lintas negara. Tetapi kekuatannya tetap berakar pada tingkat lokal. Menurutnya, aktivisme global tidak akan berjalan efektif tanpa kuatnya hubungan komunitas tingkat lokal, nasional, dan internasional.

“Relasi ini menunjukkan skala gerakan bukan hierarkis, tapi saling terhubung,” tandasnya.

Artinya, aktivisme media di era digital tak sekadar fenomena komunikasi, melainkan gerakan yang selalu berkembang dan kompleks. Kita dituntut untuk mampu memahami dan membaca ekosistem media, relasi kuasa, serta kolaborasi global.

The Social Construction of Norms and Reality

In everyday life, people often assume that what they see and experience is naturally conceptualised. On university campuses, for example, students follow unspoken rules on how to behave and define success. These patterns feel natural and unquestionable; however, they are not fixed truths. They are shaped through interaction and shared understanding within society. This perspective is explained by the Social Construction of Reality, which suggests that reality is continuously formed through human interaction. It also explains that what individuals accept as normal or true is often the result of meanings that develop over time within a social context.

From Interaction to Shared Meaning

Social reality is fundamentally based on daily interactions. In which the repeated actions, behaviour, and communication happen, people create meaning. What others accept and repeat begins as an individual expression; it eventually becomes a common practice. Moreover, that can be observed in basic patterns in student life, such as group chat communication styles, study routines, or even fashion trends. These behaviours are not naturally given, but they develop as a result of people producing and reproducing them on a daily basis. At this stage, norms are still flexible and shaped by ongoing interaction.

From Shared Practice to Accepted Reality

Over time, repeated patterns become stable and widely accepted. What was once created through interaction begins to feel natural, as if it has always existed. These norms are reinforced by social environments such as universities, peer groups, and media, giving them a sense of permanence. For example, academic success is often associated with high grades, productivity, and active participation. People commonly treat these socially shaped ideas as objective standards. Similarly, media representations of lifestyle and achievement influence what students see as desirable or expected. As a result, certain ways of thinking and behaving become normalised and rarely questioned.

From Accepted Reality to Personal Belief

People start to incorporate these norms into personal beliefs and identities as they stabilise. What exists at the social level gradually becomes personal. Where individuals automatically begin to adhere to these expectations, frequently without understanding how they were formed. Among students, this can appear as pressure to meet certain standards of success or to present themselves in particular ways, especially on social media. Comparisons with others, along with expectations about behaviour and roles, shape how individuals see themselves. At this point, social reality is no longer just external; it becomes part of how individuals understand who they are.

In conclusion, what people understand as reality is not simply given but developed through a continuous social process. It begins with interaction, becomes accepted through repetition, and is eventually internalised as part of individual identity. Recognising this process allows students to better understand how norms are formed and to reflect more critically on what they consider “normal”.

Reference

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1991). The Social Construction of Reality.

Saxena, M. N. (2022). Define a Social Construction Theory. In International Journal of Innovative Research in Computer Science & Technology (IJIRCST) (Issue 10).

Simply Psychology. (2025, November 19). Social construction of reality. https://www.simplypsychology.org/social-construction-of-reality.html

Wikipedia contributors. (2026, March 24). The social construction of reality. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/The_Social_Construction_of_Reality

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Dari Ide ke Publikasi: Strategi Riset Sistematis ala Prof. Nurhaya Muchtar

Riset dimulai dari ide sederhana, namun tak semua ide berhasil dan layak untuk dipublikasikan. Prof. Nurhaya Muchtar, akademisi dari Department of Communications Media, Indiana University of Pennsylvania, USA, menyebut bahwa banyak peneliti terjebak pada topik yang luas.

Dalam kesempatan diskusi dan mentorship yang digelar oleh Program Magister Ilmu Komunikasi UII pada 16 April 2026, Prof. Nurhaya Muchtar membagikan strategi menulis riset secara sistematis.

“Riset bukan soal tahu A–Z, tapi soal berpikir sistematis, fokus pada topik yang terukur, berkolaborasi, dan konsisten menulis hingga ide benar-benar layak dipublikasikan,” ucap Prof. Nurhaya Muchtar.

Menurutnya, riset bukanlah aktivitas individual semata, melainkan proses sosial yang melibatkan dialog panjang dan mendalam antarpeneliti. Dalam pengalamannya di komunitas World Journalism Study, ia menyebut setiap hari selalu ada perdebatan akademis yang dinamis.

“Research is social, sampai sekarang kita masih berdebat,” tambahnya.

Beberapa strategi yang ditawarkan oleh Prof. Nurhaya Muchtar agar ide atau hasil riset berhasil hingga tahap publikasi antara lain sebagai berikut:

  1. Riset Proses Sosial

Banyak peneliti beranggapan bahwa riset adalah kerja individu, padahal diskursus akademik selalu melibatkan perdebatan dan saling bertukar gagasan. Riset tidak hanya menemukan jawaban final, tetapi juga berkontribusi dalam percakapan ilmiah yang selalu berkembang. Peneliti tidak hanya fokus pada “apa yang diteliti?”, tetapi juga “so what?”, apa kontribusi dan relevansi risetnya.

  1. Fokus dan Sistematis

Menurutnya, ide selalu ada dan banyak. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan batasan agar ide tersebut fokus. Topik yang terlalu luas akan menyulitkan, topik yang terukur justru sangat mungkin dieksplorasi lebih dalam. Sehingga penting bagi peneliti ataupun akademisi menyusun alur penelitian sejak awal.

  1. Membaca dan Menemukan Arah

Skimming adalah teknik membaca cepat, ini merupakan strategi cerdas yang perlu dipertimbangkan. Membaca cepat namun tetap menangkap inti-inti gagasan. Selain skimming, perhatikan sitasi yang akan menjadi petunjuk arah selanjutnya. Dengan melihat referensi, peneliti akan memahami peta diskursus dan menemukan celah sehingga mampu memberikan kontribusi baru.

  1. Menentukan target Publikasi

Menentukan tujuan publikasi dengan cara mengenali karakter jurnal yang akan dituju. Pertimbangkan untuk memilih jurnal berintegritas dan subjek spesifik. Pemilihan jurnal yang tepat akan meningkatkan peluang naskah diterima.

  1. Kolaborasi dan Disiplin Menulis

Faktor paling penting lainnya adalah melakukan kolaborasi. Menulis bersama akan memperkaya perspektif serta menjaga konsistensi proses penelitian. Selain itu, disiplin menulis, mengatur waktu turut menjadi proses yang paling memengaruhi keberhasilan. Publikasi tak hanya soal kualitas ide, tetapi juga konsistensi dalam mengeksekusi.

Itulah beberapa strategi yang dibagikan oleh Prof. Nurhaya Muchtar, pihaknya juga menyebut bahwa riset yang kuat bukan tentang menjangkau semua hal melainkan mampu menelusuri topik secara mendalam dan bermakna. Sehingga ide sederhana tersebut menjadi karya ilmiah yang mampu memberi kontribusi nyata di dunia akademik.

Seminar Publik Prof. Nurhaya Muchtar ‘Media dan Polarisasi Dinamika Informasi di Amerika Serikat’

Amerika Serikat menjadi rujukan simbol negara dengan kebebasan pers dunia, namun di baliknya tersimpan masalah yang cukup serius seperti polarisasi, isu kepemilikan media, hingga krisis kepercayaan publik. Realita ini menjadi sorotan, kajian terbaru mengungkap sistem media di Amerika membentuk fragmentasi informasi di era digital.

Diskursus ini secara detail dibahas dalam seminar publik yang digelar oleh Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia pada 15 April 2026 di Gedung Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Bertajuk “Media dan Polarisasi Dinamika Informasi di Amerika Serikat”, diskusi ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar dari Indiana University of Pennsylvania, USA.

Diskusi dibuka dengan sejarah perkembangan media di Amerika Serikat. “Sejak awal, sejarah media Amerika identik dengan swasta (kepemilikan swasta), dekat dengan uang, bukan untuk masyarakat,” ucap Prof. Nurhaya Muchtar.

KDKA adalah stasiun radio komersial pertama di dunia yang mengudara pada tahun 1920 di Pennsylvania, Amerika Serikat. Kelahirannya menjadi sejarah awal perkembangan radio berbasis bisnis. Jika di negara lain media dikembangkan untuk publik, di Amerika media ditempatkan sebagai bagian dari industri.

Tidak ada netralitas yang diproduksi, karena kepentingan pemilik media sangat menentukan arah pemberitaan. Dinamika media terus berkembang, 1967 upaya memenuhi kebutuhan publik lewat radio edukasi melahirkan NPR dan PBS lewat kebijakan Public Broadcasting Act dan Fairness Doctrine. Kebijakan itu mewajibkan media memproduksi berbagai sudut pandang dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Perubahan besar terjadi lagi di tahun 1996, kebijakan Telecommunications Act mendorong pasar semakin kompetitif. “Melalui Fainess doctrine media wajib cover both sides, setelah diregulasi kewajiban itu hilang dan mengikuti logika pasar,” tambahnya.

Sehingga media di Amerika Serikat tak berfungsi sebagai penyeimbang, tetapi dipengaruhi oleh kepentingan pemilik dan orientasi bisnis.

Lantas, bagaimana kondisi Amerika Serikat pasca kehadiran media sosial? Derasnya informasi di era media sosial dipengaruhi oleh algoritma digital, di mana informasi yang diterima akan hadir sesuai dengan preferensi penggunanya.

“Kini bukan lagi media yang mengontrol informasi, tetapi algoritma pilihan kita sendiri yang menciptakan echo chamber,” ucapnya lagi.

Lewat studi kasus pesta politik era Donald Trump misalnya, periode 2016-2020 fokus utama adalah pengaruh kepemilikan media dan awal mula peran algoritma, media mulai bergeser dari penyedia informasi netral menjadi alat yang mempengaruhi kepentingan politik. Sementara tahun 2026 hingga sekarang lebih fokus pada krisis informasi dan dominasi algoritma, di mana media tak hanya bias tetapi masuk fase fragmentasi dan polarisasi ekstrem.

Dari fenomena di Amerika Serikat kita belajar bahwa negara maju pasti memberi pengaruh global yang besar, kebebasan pers perlu diimbangi tanggung jawab sosial, lewat literasi media dalam menghadapi derasnya informasi. Dampaknya misinformasi, disinformasi, serta deepfake membuat fakta dan manipulasi semakin kabur.

“Amerika menjadi contoh bagaimana media sangat maju dan kompleks. Kita belajar dari sana, bukan hanya meniru sepenuhnya, tapi memilih secara bijak,” tandasnya.

Wisuda

Tahap akhir penyelesaian studi pada Program Studi Ilmu Komunikasi UII mewajibkan mahasiswa menempuh Tugas Akhir (TA) yang dilaksanakan sebelum magang reguler (internship). Dengan bobot 6 sks, TA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pencapaian Indeks Prestasi Akademik (IPK) mahasiswa. Berikut 5 jalur kelulusan untuk program reguler maupun internasional.

  1. Skripsi

Mahasiswa melakukan penelitian mandiri dan menulis laporannya dalam format skripsi sesuai dengan bidang minat yang ditempuh dengan bimbingan dosen. Skripsi merupakan karya tulis ilmiah tingkat akhir kesarjanaan strata satu berupa paparan hasil kegiatan penelitian yang membahas permasalahan atau fenomena pengetahuan melalui pendekatan maupun kaidah keilmuan tertentu. Penulisan skripsi merupakan salah satu wujud pembinaan terakhir pencapaian kompetensi calon lulusan yang berkaitan dengan bidang penelitian dan analisis ilmiah sesuai bidang minatnya di program studi. Mengingat satuan kredit yang paling tinggi di antara mata kuliah lain, mahasiswa penyusun skripsi dituntut menyelesaikannya sebaik mungkin sesuai batas waktu tertentu.

  1. Proyek Karya Komunikasi

Mahasiswa mendesain dan memproduksi sebuah karya komunikasi (seperti seri foto konseptual, foto dan film dokumenter, film fiksi pendek, esai video, seri podcast konseptual, desain proyek Public Relations pada konteks spesifik, kampanye sosial, dan sebagainya) di bawah bimbingan dosen. Proyek disebut pula sebagai TA non-skripsi, merupakan aktivitas produksi karya akhir mahasiswa sebagai perwujudan konsep dan ide kreatif di bidang ilmu komunikasi berdasarkan penguasaan teori dan keterampilan praktik yang telah dipelajari. Dalam penciptaan karya, mahasiswa harus menampilkan segi keunggulan karyanya sesuai dengan dasar-dasar keilmuan komunikasi dalam bingkai bidang peminatan studinya serta dilengkapi dengan laporan tertulis. Sama halnya dengan skripsi, satuan kredit yang besar pada proyek juga menuntut tingginya kualitas karya yang dikreasi.

  1. Karya Bersama dengan Mitra Internasional

Mahasiswa dapat mengerjakan karya bersama dengan mitra internasional sebagai tugas akhir, khususnya untuk mahasiswa International Program (IP). Tugas akhir proyek kolaborasi adalah jenis tugas akhir setara skripsi yang berbasis kolaborasi atau kooperasi dengan institusi atau individu lintas negara. Tujuan utama dalam proyek kolaborasi, tidak hanya membuat proyek dengan bahasa internasional, tetapi mampu berkomunikasi, bernegosiasi dan berkolaborasi dengan individu dari lintas negara.

  1. Penulisan Artikel Ilmiah

Penulisan artikel ilmiah harus dilakukan di bawah bimbingan dosen. Artikel ilmiah yang dapat digunakan sebagai tugas akhir untuk syarat kelulusan dan diterbitkan di sebuah jurnal dengan standar minimal SINTA 4. Jalur publikasi artikel ilmiah di jurnal pada bidang ilmu komunikasi mengharuskan mahasiswa untuk menulis artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional. Melalui jalur ini, mahasiswa yang berhasil memublikasikan manuskrip di jurnal ilmiah tidak diwajibkan menulis skripsi sebagai bentuk tugas akhir.

  1. Magang yang Laporannya Setara Skripsi

Magang sebagai program kelulusan dibedakan dari magang reguler yang selama ini dilaksanakan oleh mahasiswa dengan durasi dua bulan. Magang pada jalur tugas akhir dilaksanakan selama enam bulan. Selain itu, laporan magang harus disusun secara komprehensif, tidak hanya berupa uraian deskriptif mengenai kegiatan yang telah dilakukan, tetapi juga memuat penggunaan teori serta analisis yang relevan.

Mahasiswa yang sudah mengikuti magang melalui pembelajaran di luar Program Studi tidak diizinkan untuk mengikuti jalur kelulusan melalui magang yang setara dengan skripsi.

Arah kebijakan tersebut secara jelas menetapkan standar akademik tertentu bagi TA yang akan dihasilkan. Harapan yang dituju adalah tercapainya publikasi ilmiah, maupun terwujudnya manfaat nyata bagi masyarakat, sehingga TA tidak hanya menjadi sekadar dokumen arsip di perpustakaan. Oleh karena itu, pelaksanaan TA seyogianya menghasilkan karya ilmiah yang layak diterbitkan pada jurnal ilmiah atau bentuk publikasi akademik lainnya.

Media dan Polarisasi: Dinamika Informasi di Amerika Serikat

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia menghadirkan Seminar Internasional bertajuk “Media dan Polarisasi: Dinamika Informasi di Amerika Serikat.” Kegiatan ini akan mengupas bagaimana lanskap media membentuk opini publik dan memperkuat polarisasi di era digital, khususnya dalam konteks politik di Amerika Serikat.

Menghadirkan pembicara utama, Nurhaya Muchtar dari Indiana University of Pennsylvania, seminar ini menjadi ruang diskusi akademik yang relevan bagi mahasiswa, peneliti, dan praktisi komunikasi.

Rabu, 15 April 2026
⏰ 09.00–11.30 WIB
Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo (FP & FISB UII)

Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari diskusi global tentang media dan demokrasi.

https://s.id/SeminarMediaEraDonaldTrump

Beasiswa Romania

Salah satu alumni dari Prodi Ilmu Komunikasi UII berhasil lolos beasiswa Romanian Government Scholarship (RGS) pada periode 2025 lalu. Ia adalah Maria Ulfa, alumni angkatan 2014 yang kini tengah melanjutkan studi Master of Marketing di Bucharest University of Economic Studies (ASE).

Beasiswa RGS ARICE membawanya terbang ke Romania pada akhir tahun lalu. Fokus beasiswa yang diberikan oleh Badan Investasi dan Perdagangan Luar Negeri ini berfokus pada promosi kerja sama ekonomi dan komersial, sesuai dengan latar pendidikan profesional Maria selama ini.

“Saya memilih beasiswa ini karena memberikan kesempatan untuk studi di Eropa dengan cakupan yang cukup lengkap, mulai dari biaya kuliah hingga dukungan hidup. Selain itu, saya juga melihat ini sebagai peluang untuk mendapatkan exposure internasional, baik dari segi pendidikan, karier profesional, maupun pengalaman hidup lintas budaya,” ucap Maria dalam pesan singkat.

Pencapaian ini tidaklah sederhana, sembari bekerja Maria selalu menyempatkan diri untuk mencari informasi beasiswa luar negeri yang sesuai dengan bidangnya. Akhirnya, mimpi itu terwujud pada tahun 2025.

Menyeimbangkan Karier Profesional dan Pengetahuan Akademis

Tercatat lebih dari tujuh tahun terjun di dunia profesional bidang media, Maria mantap untuk melanjutkan studinya demi mengembangkan kemampuannya. Berprofesi sebagai SEO Content Strategist sekaligus Content Writer di berbagai industri media membuatnya sadar untuk memperdalam perspektif akademis global.

“Karena sudah cukup lama di dunia profesional, saya jadi lebih tahu apa yang saya butuhkan untuk berkembang. Saya merasa ada kebutuhan untuk memperdalam perspektif bukan hanya praktis, tapi juga akademis dan global,” ucapnya.

Baginya, melanjutkan studi adalah upaya mengupgrade diri. “Saya ingin menggabungkan pengalaman profesional yang sudah saya punya dengan pengetahuan baru, supaya ke depannya bisa punya positioning yang lebih kuat, baik di industri kreatif maupun di peluang karier internasional,” tambahnya.

Tantangan dan Tips Lanjut Studi di Eropa

Beasiswa RGS ARICE tidak mensyaratkan sertifikat IELTS maupun TOEFL, sehingga awardee diwajibkan mengikuti persiapan kelas bahasa. Bagi Maria, di sinilah letak tantanganya. Bahasa Rumania tergolong kompleks karena melibatkan struktur gender dalam kosakata.

“Tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan lidah dengan tata bahasa yang cukup kompleks. Bahasa Rumania yang identik dengan penggunaan gender di dalamnya cukup sulit untuk orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan struktur tersebut,” ungkap Maria.

Selain bahasa, tantangan lain adalah cuaca di Eropa serta adaptasi terhadap ritme birokrasi dan administrasi yang benar-benar berbeda dari Indonesia. Jeda delapan tahun dari dunia pendidikan membuatnya harus beradaptasi kembali dengan ritme akademik, khususnya dalam menyerap materi di kelas. Untuk mengejar ketertinggalan, Maria mulai membiasakan diri membaca jurnal penelitian agar tetap relevan dengan isu jurusan. Baginya, pengalaman ini justru melatih resiliensi dan kemampuan adaptasi di lingkungan yang benar-benar asing.

Tips Lolos Beasiswa RGS ARICE

Karena beasiswa RGS ARICE tidak ada seleksi wawancara dan bergantung pada berkas, berikut tips yang dibagikan oleh Maria Ulfa:

  1. Koneksikan Masa Lalu dan Masa Depan: Pastikan Motivation Letter menceritakan kesinambungan antara pengalaman kerja/organisasi dengan jurusan yang dipilih.
  2. Personal Branding di CV: Gunakan format standar Eropa (Europass) dan tonjolkan pencapaian berbasis data (misal: “Berhasil meningkatkan trafik sebesar X%”).
  3. Riset Mendalam: Pahami nilai-nilai negara tujuan. Untuk beasiswa MFA, tunjukkan bagaimana studimu bisa berkontribusi pada hubungan kerja sama atau promosi budaya.
  4. Persiapan Dokumen Sejak Dini: Apostille dokumen study memakan waktu lama, jadi jangan mepet deadline. Apalagi, pendaftar RGS juga harus mencantumkan transkrip nilai SMA meskipun mengajukan permohonan jenjang S2.

Dari pengalaman dan keberhasilannya, Maria membagikan berbagai tips agar lolos beasiswa. Skill komunikasi berperan besar dalam proses yang ia lalui.

“Ilmu komunikasi sangat membantu, terutama dalam menyusun personal branding dan menyampaikan cerita diri saya dengan baik. Mulai dari menulis motivation letter, menyusun CV, semuanya butuh skill komunikasi,” ucapnya.

“Selain itu, background komunikasi juga membantu saya beradaptasi dengan lingkungan baru yang benar-benar asing bagi saya,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

The Impact of Social Media on Body Image and Self-Esteem

Body image refers to the way individuals perceive, think about, and feel about their physical appearance. It is not only about how someone actually looks but also about how they believe they look and how satisfied they feel with their body. Body image can influence a person’s confidence, self-esteem, and overall mental well-being. Moreover, several factors shape body image. These include family environment, cultural values, friends’ influence, traditional media, and personal experiences.

In recent years, social media has become one of the most influential factors affecting how people view their bodies. Platforms such as Instagram, TikTok, and other visual-based media constantly expose users to images and videos that often present highly idealized standards of beauty. As a result, social media plays an important role in shaping body image and self-esteem, especially among young people.

Social Media as a  Crucial Factor 

Social media platforms allow users to share photos, videos, and personal moments with a wide audience. While this creates opportunities for communication and creativity, it also exposes users to a large amount of appearance-focused content. Many influencers, celebrities, and even regular users post edited or carefully selected images that show a “perfect” version of themselves. Because of this, social media often promotes specific beauty standards such as slim bodies, flawless skin, or certain facial features.

When users repeatedly see these images, they may begin to compare their own appearance to what they see online. This comparison culture can influence how individuals evaluate their own bodies. In addition, the system of likes, comments, and shares can create a sense of validation based on physical appearance, making users feel that their value depends on how attractive they look in photos.

Its Negative Effects on Body Image 

The constant exposure to idealized images can negatively affect how individuals perceive themselves. When people compare their real appearance with edited or filtered images online, they may feel dissatisfied with their bodies. This dissatisfaction can lead to lower self-esteem, insecurity, and negative self-talk. For many young users, the pressure to look perfect online can also create anxiety.

They may feel the need to edit their photos, use filters, or carefully control how they present themselves to receive more likes and positive comments. Over time, this pressure can affect mental health and lead to feelings of inadequacy. Furthermore, social media can create unrealistic expectations about beauty and lifestyle. Since most users only share the best moments of their lives, it may appear that everyone else is happier, more attractive, or more successful. This distorted perception can make individuals feel less confident about themselves and their lives.

Approaching Social Media in a Healthy Way

Although social media can have negative effects, it does not mean that it must always harm body image or self-esteem. The way people use social media plays an important role in determining its impact. Developing critical awareness can help users understand that many images online are edited, filtered, or carefully staged. Recognizing this can reduce unrealistic comparisons. Another helpful approach is curating the content one follows.

Following accounts that promote body positivity, diversity, and realistic representations of people can create a healthier online environment. Limiting time spent on social media can also help reduce the pressure of constant comparison. Most importantly, individuals should focus on self-acceptance and personal well-being rather than seeking validation from online engagement. Building confidence through real-life relationships, personal achievements, and healthy habits can strengthen self-esteem and reduce vulnerability to negative social media influences.

To sum up, social media has become a powerful influence on how people perceive their bodies and evaluate their self-worth. By promoting idealized beauty standards, encouraging comparison, and linking validation to online engagement, social media can negatively affect body image and self-esteem. However, its impact depends largely on how individuals interact with these platforms.

Reference:

Abd Ali Mohammed Ali, N., Kareem Al-Juboori, A., & Mohamed Ahmed Neamah. (2024). The Impact of Social Media Use on Body Image and Self-Esteem among College Students. In Bahrain Medical Bulletin (Vol. 46, Issue 3, pp. 2305–2306). https://www.bahrainmedicalbulletin.com/September_2024/BMB-24-835.pdf Alshaikhi, O. a. M., 

Alshaikhi, S. A., AlZubaidi, H. a. A., Alzubaidi, M. a. A., Alfaqih, H. M. H., Alrezqi, A. a. A., AlRashdi, M. H. S., Alzubaidi, A. a. A., Alshaikhi, M. a. M., Ghazy, R. M., & Alshaikh, A. A. (2023). Social media effect on personal Self-Esteem among the population in Saudi Arabia. Cureus, 15(11), e49543. https://doi.org/10.7759/cureus.49543 Hu, Y. (2025). 

The impact of social media on body image. Communications in Humanities Research, 92(1), 1–5. https://doi.org/10.54254/2753-7064/2025.km28553

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita