,

Laboratorium Palestina: Membaca Konflik Palestina sebagai Ladang Bisnis Global

Laboratorium Palestina: Membaca Konflik Palestina sebagai Ladang Bisnis Global

Narasi yang selama ini kita baca dan ketahui soal Palestina dan Israel adalah konflik perebutan wilayah. Namun, fakta menarik justru datang dari buku Laboratorium Palestina yang ditulis oleh Antony Loewenstein. Palestina menjadi ruang atau laboratorium untuk menguji teknologi persenjataan sebelum dipasarkan ke seluruh dunia. Buku ini mengajak kita melihat sisi konflik di Palestina sebagai ladang bisnis global.

Desmalinda, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII dalam sesi Booktalk pada 10 Juni 2026 menyebutkan bahwa industri persenjataan bagi Israel adalah penunjang ekonomi yang cukup dominan. Bahkan nilai investasi dalam sektor ini lebih tinggi dibandingkan dengan industri di sektor tradisional. Sehingga tak heran jika ratusan ribu warga Israel menggantungkan hidupnya di sektor industri militer ini.

“Yang paling mengejutkan dari buku ini adalah ketika Antony Loewenstein menunjukkan bahwa industri persenjataan bagi Israel bukan sekadar sektor ekonomi biasa, melainkan bagian yang sangat penting bagi keberlangsungan negaranya. Saking pentingnya, bahkan ada ungkapan yang cukup terkenal, bahwa ‘Israel mengabaikan produksi jeruk demi granat tangan,” sebut Desmalinda.

Dari data yang disampaikan, jumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan dan keamanan ini mencapai 300 perusahaan multinasional dan 6.000 perusahaan rintisan. Namun, Desmalinda menekankan masih banyak data yang dirahasiakan.

“Banyak datanya dirahasiakan pemerintah Israel. Angka pastinya memang sulit diketahui,” tambahnya.

Makna dari laboratorium merujuk pada kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang sistematis. Laboratorium bukan istilah netral, ini adalah konotasi objektifikasi yang memperlakukan kehidupan di Palestina sebagai bahan uji coba, termasuk dalam memperlakukan manusia dan tanah.

Argumen utama Loewenstein menyebutkan bahwa berbagai teknologi militer dan pengawasan yang telah diuji coba di Palestina dipasarkan dengan label “battle-tested” atau “sudah teruji dalam pertempuran” sehingga memiliki nilai jual yang sangat tinggi.

Label “battle-tested” adalah marketing atas darah, yang artinya keberhasilan teknologi diukur dari seberapa efisien teknologi membunuh, melacak, bahkan menekan warga Palestina. Bahkan Israel bangga menjadikannya sertifikasi kualitas produknya.

Desmalinda juga menambahkan bahawa label itu memainkan peran penting bagi Israel yang kini menjadi pemain global yang sukse.

“Nah, cap ‘teruji oleh IDF’ inilah yang membuat perusahaan-perusahaan keamanan Israel mampu menjadi pemain global yang sangat sukses. Menurut Loewenstein, laboratorium Palestina pada akhirnya bukan hanya menjadi bagian dari konflik, tetapi juga menjadi aset ekonomi dan keunggulan kompetitif bagi industri pertahanan Israel,” ucapnya.

“Melalui ekspor rudal, drone, teknologi siber, dan perangkat surveilans, Israel berhasil menjalin hubungan keamanan dengan banyak negara dan menghasilkan miliaran dolar setiap tahunnya. Karena itu, buku ini mengajak kita melihat bahwa konflik bukan hanya soal politik dan ideologi, tetapi juga berkaitan dengan teknologi, bisnis, dan ekonomi global yang sangat besar,” tandasnya.

 

Penulis: Meigitaria Sanita