Tag Archive for: uii
ISCDC 2025 is a seven-day interdisciplinary program that brought together 70 students and staff from Universitas Islam Indonesia with participants from various faculties at Universiti Utara Malaysia. Held at UUM in Sintok, Kedah, the event created a dynamic space for cultural exchange, creative collaboration, and academic development. The program featured four main competition categories: essay writing, reel challenge, cooking, and poster design, each designed to showcase participants’ creativity and analytical skills. Its purpose was to strengthen institutional partnerships between UUM and UII, enrich interdisciplinary learning through cultural immersion, and develop students’ abilities in research, writing, multimedia production, design, and culinary arts, while highlighting Alor Setar’s cultural richness as a reflection of ASEAN values. Managed by UUM’s SCIMPA, SOIS, and STHEM, the event combined several activities, academic mentoring, student buddies support, and cultural performances.
Within this program, I participated in an interdisciplinary competition as part of a six-member group, and our teamwork played a crucial role in our success. We collaborated across all categories but divided tasks according to our individual strengths, ensuring that each member could contribute effectively. As a Communication student, I focused mainly on the poster design category alongside one of my other teammates, while also supporting others in preparing their essay and reel competition entries. This shared effort not only strengthened our group dynamics but also improved the quality of our work. Our combined effort resulted in a rewarding outcome, as we won third place in both the Reel Challenge and the Essay Competition, which made the overall experience motivating and memorable.
Participating in such competitions that align with a student’s academic background is important because it helps strengthen confidence and deepen one’s skills in a meaningful way. When students choose categories that match their interests—such as communication students working on posters or international relations students focusing on essays—they feel more motivated, engaged, and capable. This alignment allows them to apply what they learn in class to real projects, think more creatively, and improve at a faster pace. Even without winning, the process itself becomes valuable, as it directly supports their academic development and future career path.
Equally important is joining programs like ISCDC, which offer learning experiences that cannot be gained from classroom lessons alone. Traveling to a new environment, observing different cultures, and interacting with people from diverse backgrounds make learning more vivid and meaningful. Students gain a deeper understanding of communication, identity, and cultural dynamics simply by being present and noticing how people behave and live. These programs also help students grow personally by teaching them how to work in teams, manage time, handle pressure, and adapt to unfamiliar situations. Through collaboration and cultural immersion, students return with new perspectives, stronger skills, and greater confidence that benefits both their academic journey and future professional opportunities.
In the end, for any student who pushes themselves to join such programs, just know that it will be a meaningful step that you take toward becoming more mature, more skilled, and more confident. It is an experience that will stay with you long after the competition or program ends, because it will teach you lessons that continue to shape your academic and personal journey.
Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab
Edited by: Meigitaria Sanita
Universitas Islam Indonesia (UII) berpartisipasi dalam kompetisi internasional bertajuk Intervarsity Student Creativity and Digital Competition (ISCDC) yang berlangsung di Universiti Utara Malaysia (UUM) Sintok, Kedah, Malaysia, pada 25 November-1 Desember 2025. Kompetisi ini juga sekaligus menjadi ajang persahabatan dan pertukaran budaya bagi dua universitas antar negara, yakni Indonesia (UII) dan Malaysia (UUM).
Sebanyak 29 mahasiswa delegasi dari UII terdiri atas beberapa Program Studi, yaitu Psikologi, Pendidikan Bahasa Inggris, Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, serta Magister Ilmu Komunikasi. Seluruh delegasi yang dibentuk menjadi tim bersama mahasiswa dari UUM mengikuti berbagai jenis lomba, seperti lomba membuat video reels dengan tema “Face of Friendship”, poster dengan tema “Designing Harmony”, artikel “Travel Feature Article”, serta lomba memasak masakan Malaysia, Canai Master Challenge 2025,
Selama 4 hari di Kedah, peserta mengikuti serangkaian lomba dengan proses liputan untuk membuat video reels, memproduksi karya, serta ditutup dengan praktek dan lomba memasak Roti Canai di dapur School of Tourism. Hospitality and Event Management (STHEM) UUM.
Peserta mengunjungi daerah wisata dan pusat belanja di Padang Besar, Perlis, Malaysia sebagai kegiatan untuk pengumpulan bahan membuat video reels. Berikutnya, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan mahasiswa UUM dengan mengunjungi kampus dan mall UUM. Selanjutnya, delegasi secara berkelompok mendapatkan waktu untuk memproduksi hasil liputan menjadi karya video reels, poster, serta artikel feature.
Dengan adanya kegiatan lomba secara tim ini, selain mendapatkan prestasi, delegasi juga mendapatkan kesempatan berinteraksi antar mahasiswa UII dan interaksi juga lintas budaya, seperti dengan mahasiswa dan juri dari UUM, serta interaksi dengan penduduk setempat di Kedah, Malaysia.
“Perjalanan ini membuat saya menjadi lebih faham terhadap bagaimana cara menangani sistem kerja sama dalam sebuah grup, terutama di pengalaman saya terdapat mahasiswa dari Malaysia dan Yaman. Bagaimana cara menjadi penengah dan menjadi leader dalam mengambil keputusan yang dilakukan secara langsung di lapangan,” ujar Annisa Putri Jiany, delegasi dari Magister Ilmu Komunikasi UII. Annisa memenangkan berbagai kategori lomba, seperti lomba membuat video reels dengan kategori Best Storytelling Video dan juara 3 lomba menulis Travel Feature Article.
Sementara itu, Muhammad Taqi Abdurrahman, yang juga mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UII menyatakan, sebagai delegasi, kompetisi ini mengasah kemampuannya untuk mengamati dan mengemas pengalaman dalam tulisan, sekaligus mengenal budaya lain dan melihat harmoni dalam perbedaan. Menurut Taqi, berkompetisi dengan peserta dan juri asing menjadi pengalaman yang berharga. Taqi pulang ke tanah air dengan membawa prestasi yaitu sebagai juara 1 lomba menulis Travel Feature Article.
Evy Aprilia Ramadaningtyas, yang juga Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi yang menjadi delegasi ISCDC menyatakan dalam press rilis, perjalanan ini membuatnya menghargai akan indahnya otentisitas budaya dan kepribadian. Dengan adanya perbedaan budaya dan kepribadian, membuat pengalaman manusia menjadi lebih kaya, serta lebih menghargai arti perbedaan. Evy menjadi belajar menghargai perbedaan karakter baik dari sesama delegasi dari Indonesia, mahasiswa dan masyarakat setempat di Malaysia, menghargai ciri khas budaya asing, yang bisa memperkaya peluang interaksi dan komunikasi.
ISCDC Berlangsung Bersamaan dengan Cuaca Ekstrim di Asia Tenggara
Cuaca ekstrim pada akhir November dan awal Desember 2025 ini mengakibatkan banjir di Asia Tenggara, termasuk di Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Kedah yang merupakan negara bagian tempat UUM berdiri di Malaysia termasuk menjadi wilayah yang terdampak banjir. Lokasi UUM yang dipenuhi oleh pepohonan termasuk yang aman dari banjir, sehingga peserta bisa aman mengikuti kegiatan di seputar kampus UUM. Namun, banyak bagian lain di Kedah ikut terdampak banjir. Akibatnya, pada kegiatan liputan dan tur. delegasi yang seharusnya mengunjungi Alor Setar di Kedah, berpindah lokasi menuju Padang Besar karena menghindari lokasi banjir.
Isu lingkungan layak menjadi perhatian bersama, mengingat delegasi sudah mendapatkan bekal pengalaman membuat video reels, poster, dan artikel fitur perjalanan. Kesempatan ini menjadi wadah bagi delegasi untuk menuangkan perhatian dan peringatan bagi warga dan pemerintah untuk tidak merusak lingkungan, seperti deforestasi untuk keperluan penanaman perkebunan sawit.
Isu lingkungan ini semakin relevan ketika melihat kondisi Asia Tenggara pada periode yang sama. Selain Malaysia, sejumlah wilayah di Indonesia juga mengalami bencana hidrometeorologi, termasuk banjir bandang di berbagai daerah di Sumatera seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. Curah hujan ekstrem yang terjadi secara terus-menerus memicu meluapnya sungai, merusak pemukiman warga, dan memutus akses transportasi. Di beberapa titik, banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga mengakibatkan longsor yang memperparah kerusakan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan semakin berdampak nyata pada kehidupan masyarakat. Pola cuaca tak menentu, musim hujan yang memanjang, serta meningkatnya intensitas badai tropis menjadi faktor yang memperparah risiko bencana. Banyak pakar lingkungan juga menyoroti adanya kontribusi aktivitas manusia, mulai dari pembukaan hutan secara besar-besaran, konversi lahan untuk perkebunan, tambang, hingga pengelolaan daerah aliran sungai yang tidak optimal.
Sejalan dengan itu, beberapa negara lain di Asia Tenggara juga mengalami kondisi serupa. Thailand utara dilanda banjir yang memaksa ribuan orang mengungsi, sementara Vietnam dan Filipina menghadapi badai tropis yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan gagal panen. Situasi ini menegaskan bahwa bencana tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian lokal, melainkan fenomena regional yang memerlukan kerja sama lintas negara.
Bagi para delegasi ISCDC, pengalaman menghadapi cuaca ekstrem dan penyesuaian lokasi kegiatan menjadi pembelajaran tersendiri. Kejadian ini membuka mata bahwa kreativitas, teknologi digital, dan kemampuan komunikasi tidak hanya digunakan untuk berkarya dalam kompetisi, tetapi juga dapat dijadikan sarana untuk menyuarakan kepedulian lingkungan. Melalui video reels, poster, hingga artikel yang dihasilkan, para mahasiswa dapat mengampanyekan pentingnya pelestarian alam, pengurangan deforestasi, serta edukasi publik tentang mitigasi bencana.
Dengan kesadaran bersama bahwa perubahan iklim adalah tantangan global, para delegasi menyadari bahwa generasi muda memiliki peran sentral dalam menyampaikan pesan lingkungan yang lebih kuat. Interaksi lintas negara yang mereka alami selama berada di Malaysia menjadi momentum untuk memahami bahwa permasalahan lingkungan tidak mengenal batas geografis. dan hanya dapat diatasi melalui kolaborasi, kepedulian, dan aksi nyata.
Penulis: Evy Aprilia Ramadaningtyas
Empat mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) dari program sarjana berhasil memborong prestasi dalam gelaran Intervasity Student Creativity and Digital Competition (ISCDC) 2025 di Malaysia. Digelar pada 26 – 30 November 2025 di School of Tourism, Hospitality and Event Management – Universiti Utara Malaysia (UUM) kompetisi ini fokus pada keterkaitan budaya antara Indonesia dan Malaysia.
Dari konteks ASEAN Reimagined ajang ini mempertandingkan tiga kategori lomba, yaitu essay, short video, dan poster design. Salah satu delegasi dari Ilmu Komunikasi program sarjana yakni Muhammad Alfarezi Fadilah menyebut jika kesempatan ini menjadi pengalaman yang berharga dalam meningkatkan kemampuan analisisnya.
“Mengikuti ISCDC memberikan pengalaman berharga untuk berkompetisi di tingkat internasional sekaligus melatih kemampuan analisis, komunikasi, dan kolaborasi di bawah tekanan,” ucapnya.
Mahasiswa angkatan 2025 itu berhasil memborong prestasi dalam ketiga kategori. Beberapa kataegori tersebut adalah “Best Poster Design”, “Best Video Reel”, dan “Best Essay” Ia menyebut kunci dari keberhasilan ini berkat kerja sama tim yang solid serta inovasi.
“Persaingan yang ketat mendorong peserta untuk terus berinovasi dan berpikir strategis, sehingga setiap tantangan menjadi peluang untuk berkembang. Persaingan yang kuat dalam perlombaan dan kebutuhan koordinasi tim yang baik,” tambahnya.
Selain kompetisi, para delegasi yang tiba di Malaysia mendapatkan bekal melalui berbagai workshop antara lain writing, storytelling, multimedia, dan culinary skills. Para delegasi juga berkesempatan menjelajah Padang Besar sebuah kota kecil di Malaysia yang berbatasan dengan Thailand.
Daftar Delegasi dan Prestasi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII dalam ISCDC 2025
- Muhammad Alfarezi Fadilah – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Program Sarjana angkatan 2025
Best Poster Design Competition – ‘Hand in Unity’
Best Video Reel – ‘Beyond Just Friends’
2nd Winner Prize Essay – ‘Explore, Eat, Enjoy Padang Besar’s Best Experience’ - Akhsya Asyfa Azieda – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Program Sarjana angkatan 2023
Best Visual Harmony Poster – ‘Harmoni Serumpun’
Best Intercultural Moment Video – ‘Beyond Borders, We Found Us’ - Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, International Program Communication (IPC) Batch 2024
3rd Winner Prize Essay – ‘Sintok Serenity of Diversity at Malaysia Utara University’ - Arif Ardiansyah – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, International Program Communication (IPC) Batch 2025
Best Poster Concept and Message – ‘Cross Road’
First Prize Winner of the travel feature article competition
Salah satu dosen dari Prodi Ilmu Komunikasi UII, Dr. Herman Felani yang aktif melakukan pendampingan kepada para delegasi menyebut jika kompetisi yang diikuti dua negara ini membawa isu yang begitu relate dengan kedua negara.
“Intinya adalah kita melakukan kompetisi bersama dengan mahasiswa di Universiti Utara Malaysia terkait isunya tentang koneksi dua negara, Indonesia dan Malaysia,” ujar Dr. Herman Felani.
Proses yang tak mudah serta waktu persiapan yang singkat menjadi tantangan, namun berkat kolaborasi dan kreativitas para delagasi semua dapat dilalui dengan lancar dan pulang dengan deretan prestasi.
“Tantangan terbesar adalah dalam waktu sangat singkat, tim itu harus berkolaborasi sekaligus berkompetisi untuk membuat karya mereka dengan tema yang itu, dengan penjurian yang ketat di Universiti Utara Malaysia,” tandasnya.
Prestasi yang diraih oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam ISCDC 2025 menambah deretan prestasi tingkat internasional untuk Universitas Islam Indonesia tahun ini.
Mahassiwa Ilmu Komunikasi, D. Rajbani Gibran Ahmad berhasil memenangkan kompetisi MTQ tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Lambung Mangkurat pada 6-9 Oktober 2025.
Mahasiswa angkatan 2024 tersebut berhasil meraih juara dua pada kategori Musabaqah Syahril Qur’an. Kompetisi beregu ini merupakan bidang musabaqah yang mengungkapkan isi kandungan Al-Qur’an dengan cara menampilkan bacaan, puitisasi, terjemahan, dan uraian yang menunjukkan kesatuan yang serasi.
Kompetisi ini merupakan debut tingkat nasional perdana bagi Rajbani, ia bercerita bahwa bidang Syahril Qur’an telah ditekuninya sejak masih mondok di tahun 2019. Meski demikian jalannya tidak mulus, beberapa kali ia harus menelan pil pahit lantaran kegagalannya yang berulang.
“Ini pengalaman pertama aku bisa menjadi peserta lomba MTQ tingkat nasional,” ujarnya.
Sebelumnya di tahun 2022 ia sempat menjadi calon peserta MTQ Nasional untuk mewakili Kafilah Jawa Barat, sayangnya tujuh hari menjelang keberangkatannya justru ia diganti oleh peserta lain.
Kejadian serupa ternyata berulang di tahun 2024, ia dipanggil sebagai calon peserta untuk Jawa Barat. Namun mimpinya pupus karena tergantikan calon lain.
“Its okey tidak apa-apa mungkin belumb rezekinya, dan di tahun 2024 saya kembali lagi kepanggil TC calon peserta nasional kafilah Jawa Barat lagi, alhasil kasus nya masih sama seperti di tahun 2022. Setelah itu saya bermimpi ketika nanti saya sudah jadi mahasiswa saya harus mengikuti MTQMN dan harus sampai naik panggung,” ungkapnya penuh keyakinan.
Akhirnya cita-citanya terwujud saat memasuki semester tiga perkuliahannya di UII. Rajbani mengikuti seleksi internal di UII, selanjutnya seleksi online pra-nasional dengan mengirim video online. Ia dan tim bersaing dengan ratusan tim dari seluruh Indonesia.
“Alhamdulillah lolos 48 besar dan siap berangkat ke Nasional lomba secara offline di Universitas Lambung Mangkurat, Saya tampil penyisihan di hari pertama dan alhamdulillah Masuk babak Final 6 besar dan Finish di Posisi 2,” ungkapnya.
Ia bersyukur mendapatkan dukungan dari pihak kampus untuk mewujudkan cita-citanya. “Terimakasih UII karena sudah mendukung mahasiswa untuk berkembang,” tandasnya.
Raihan prestasi dari D. Rajbani Gibran Ahmad turut mengharumkan nama UII, khususnya Jurusan Ilmu Komunikasi di mata publik.
Jurusan Ilmu Komunikasi UII berkolaborasi dengan Puspita Bahari sebuah komunitas nelayan perempuan di Demak untuk melakukan workshop produksi berita di Instagram. Kegiatan tersebut dilakukan pada 30 hingga 31 Agustus 2025 di Sekretariat Puspita Bahari, Demak, Jawa Tengah.
Praktik pencarian informasi dan berita paling banyak dilakukan melalui Google Search, Youtube, dan Instagram. Data ini diungkap oleh We are Social pada awal tahun 2025. Tren tersebut sejalan dengan peningkatan pengguna internet di Indonesia, tahun 2025 dengan penetrasi 80,66 persen.
Riuhnya tingkat penggunaan Instagram, menjadi ruang yang tepat untuk menyuarakan berbagai isu di kampung nelayan. Beberapa wilayah pesisir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah mengalami persoalan yang kompleks akibat bencana banjir rob. Tak hanya berdampak pada lingkungan, kenaikan air laut pantai utara Jawa ternyata berpengaruh signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Kemiskinan, beban ganda perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pelecehan seksual menjadi polemik yang sulit diurai. Masyarakat yang terdampak banjir rob tersebar di beberapa wilayah seperti Sayung, Morodemak, Timbulsloko, Purworejo, dan Margolinduk.
Puspita Bahari yang dinahkodai oleh Masnuah, aktif mendampingi hingga melakukan berbagai upaya untuk mengentaskan berbagai persoalan tersebut. Suara-suara mereka harus terdengar luas, cerita-ceritanya perlu diawetkan agar tak terlewat begitu saja. Lemahnya dokumentasi membuat berbagai persoalan dan momentum penting tak tercatat. Sehingga perlu ada upaya dan kemampuan untuk melakukan kerja-kerja dokumentasi tersebut.
Menjawab persoalan tersebut workshop “Produksi Berita dengan Media Sosial” yang terbagi menjadi tiga sesi yakni Materi Produksi Foto Menggunakan Handphone oleh Marjito Iskandar Tri Gunawan (Laboran Ilmu Komunikasi UII), Materi Penulisan Artikel Informatif untuk Media Sosial oleh Meigitaria Sanita (Staf Media Sosial dan Website Ilmu Komunikasi UII), dan Materi Mendesain Konten Berita Pada Halaman Instagram oleh Iven Sumardiyantoro (Staf Asisten Laboran Ilmu Komunikasi UII).
“Workshop ini selain penyampaian materi juga dilakukan praktik turun ke lapangan mencari data dan informasi, mulai dari memotret realitas dan menulis. Terakhir menuangkannya dalam desain Canva. Meski penuh keterbatasan peserta berhasil menyelesaikannya,” ujar Iven Sumardiantoro.
Komunitas Puspita Bahari telah memiliki media sosial resmi di Instagram @puspita_bahari, namun karena keterbatasan SDM akun tersebut tidak terkelola secara maksimal. Hal tersebut terpantau dari konsistensi publikasi di akun tersebut.
Isu-isu yang disuarakan pada workshop tersebut antara lain Pemukiman dan Transportasi, Sampah, Hasil Tangkapan Nelayan, dan Cerita Perempuan Nelayan. Menariknya, salah satu isu tersebut terjadi karena dipicu kondisi politik sosial. Contohnya dalam penggalian informasi pemicu penumpukan sampah di wilayah Morodemak.


Workshop ini ditujukan kepada anggota komunitas Puspita Bahari yakni para perempuan nelayan, pemuda-pemudi, hingga para bapak-bapak yang tinggal di sekitar wilayah tersebut. Beberapa peserta mengaku kegiatan ini penuh makna.
“Sangat bermanfaat bagi kami yang masih benar-benar belum tahu teknologi dan pesannya semoga ada program dan pelatihan selanjutnya,” ungkap Uminatus Sholikah, anggota komunitas Puspita Bahari.
“Mendapatkan wawasan dan pengalaman yang sangat berguna dan bagi saya sendiri bisa tahu pelajaran yang disampaikan oleh kakak-kakak dari UII,” terang Listianti masyarakat Morodemak.
Dengan dilakukan workshop ini, diharapkan mampu menguatkan kemampuan anggota komunitas Puspita Bahari untuk memproduksi informasi yang layak dan relevan di media sosial. Selain itu, kegiatan ini selaras dengan visi Jurusan Ilmu Komunikasi UII yakni Communication for Empowerment.
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), menerima kunjungan dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kunjungan pada 21 Agustus 2025 tersebut secara spesifik bertujuan untuk benchmarking pengelolaan program studi, strategi peningkatan kelulusan tepat waktu mahasiswa (KTW) mahasiswa, luaran skripsi berbasis karya, hingga pengelolaan laboratorium.
Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., M.Si., Ph.D menyambut kedatangan rombongan dari UMS. Harapannya pertemuan ini mampu membuka berbagai peluang kolaborasi.
“Kita sama-sama belajar proses pertemuan ini membuka peluang kolaborasi yang strategis dan saling melengkapi. Tidak ada kampus yang serba sempurna, oleh karena itu kita perlu berdiskusi untuk membuka peluang kerja sama baik dalam aspek praktis maupun akademis, serta saling melengkapi kekurangan masing-masing. Beberapa inovasi dan keberhasilan lulusannya dapat menjadi bahan pembelajaran bersama,” ungkapnya.
Merespon sambutan, Sidiq Setyawan, M.I.Kom selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMS memaparkan situasi di lembaganya. Khususnya terkait proporsi mahasiswa dan dosen, serta berbagai hambatan dalam kurikulum dan pengelolaannya.
“Kami memiliki 21 dosen (homebas), beberapa di antaranya sedang dalam proses melanjutkan studi,” jelasnya.
“Fakultas Komunikasi dan Informatika mendirikan Pusat Studi Informatika Sosial yang terbuka untuk kolaborasi riset, pengabdian masyarakat, skripsi, serta revisi kurikulum setiap lima tahun sekali guna mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan informasi,” tambahnya.
Strategi Jurusan Ilmu Komunikasi Mempersiapkan KTW Mahasiswa
Poin dalam diskusi tersebut bertujuan untuk mengaplikasikan berbagai strategi kelulusan tepat waktu mahasiswa. Dr. Zaki Habibi, sebagai Kaprodi Ilmu Komunikasi UII menjelaskan secara detail penanganan persoalan tersebut.
Dimulai dengan proporsi dosen dan staf dengan berbagai keahlian termasuk sistem perekrutannya. Keterlibatan staf dalam kerja-kerja pendampingan mahasiswa serta pengelolaan laboratorium dan PDMA Nadim yang mendukung tugas akhir mahasiswa.
Di tengah regulasi dari pemerintah yang dinamis, kurikulum di Jurusan Ilmu Komunikasi UII mengacu pada kurikulum 2023.
“Kami terus belajar dan bertumbuh dengan pendekatan strategis dan kultural sekaligus, serta memahami logika dan regulasi kurikulum dan akreditasi yang kerap berubah,” jelasnya.
Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan zaman, hasilnya dapat diketahui melalui tracer study (survei). Jika pada beberapa institusi menempatkan magang sebelum tugas akhir, Jurusan Ilmu Komunikasi UII justru menempatkan di akhir. Selain membuat mahasiswa lebih fokus dengan tugas akhir, magang yang bersifat praktik kerap membuat mahasiswa lanjut untuk melakukan kerja profesional.
“Dalam merancang program dan regulasi, kami jujur bahwa kurikulum kami masih bersifat trial dan harus adaptif serta dapat disesuaikan. Kurikulum 2023 menghadirkan perubahan alur mata kuliah, namun bukan berarti substansinya hilang. Kami menempatkan skripsi dan magang di bagian akhir. Perubahan dari konsentrasi menjadi bidang minat ini kami evaluasi melalui hasil tracer study untuk memastikan cakupan kurikulum sudah memadai,” paparnya.
Strategi lainnya adalah menciptakan jalur kelulusan yang beragam mulai dari skripsi, projek karya komunikasi, karya bersama mitra internasional, penulisan artikel jurnal, hingga magang yang laporannya setara skripsi. Hal itu dilakukan untuk memperluas pilihan dan minat mahasiswa.
Usai berdiskusi, rombongan UMS diajak berkeliling dan melihat langsung bagaimana fasilitas pendukung untuk mahasiswa, mulai dari PDMA Nadim dengan berbagai karya dan koleksi, laboratorium, hingga ruang audio visual.
Komunikasi publik dalam bidang kesehatan di Indonesia masih termarjinalkan. Tak populer seperti komunikasi politik maupun ekonomi. Padahal komunikasi publik merupakan kunci pada mitigasi krisis. Gagasan ini tertuang dalam pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Subhan Afifi, S.Sos., M.Si pada 14 Agustus 2025 di Auditorium Kahar Mudzakir UII.
Beliau merupakan dosen sekaligus Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, UII yang beberapa tahun terakhir fokus dalam kajian komunikasi publik bidang kesehatan. Dalam pidatonya yang bertajuk Komunikasi Publik Bidang Kesehatan ‘Kajian Empiris dan Arah Strategis di Era Digital kegagalan komunikasi publik pada pandemi Covid-19 memicu ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah.
“Komunikasi publik merupakan pilar penting dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk menjaga kesehatan bersama. Namun, meskipun krisis kesehatan kerap muncul akibat kegagalan komunikasi, kajian komunikasi publik di Indonesia masih termarjinalkan, kalah dominan dibandingkan ekonomi politik dan health communication. Padahal, pengembangan kajian ini sangat krusial untuk menghadapi persoalan kompleks kesehatan secara efektif,” ujar Prof. Subhan Afifi.
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tahun 2020 hingga 2022 menjadi krisis besar yang tak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik. Di Indonesia, tantangan komunikasi publik selama pandemi menunjukkan adanya pesan kontradiktif, ketidakkonsistenan, campur tangan politik dan ekonomi, hingga ketidakmampuan pemerintah membangun narasi yang efektif dan empatik.
“LP3ES (2020) mencatat adanya 37 pernyataan menyesatkan atau kontradiktif pada fase awal pandemi, yang berdampak pada erosi kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Kajian ini tak sekedar pertukaran pesan, melainkan sarana membangun kesadaran partisipasi masyarakat dalam mengubah perilaku kesehatan. Di era digital, komunikasi keseahatan mengalami berbagai tantangan seperti infodemic (terlalu banyak informasi), fragmentasi narasi, hingga misinformasi di media online. Dalam kondisi tersebut dibutuhkan solusi yang memadukan komunikasi risiko, literasi digital, hingga partisipasi masyarakat.
Prof. Subhan Afifi bersama tim telah melakukan kajian empriris bidang komunikasi kesehatan selama lima tahun terakhir. Penelitiannya telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi, jurnal nasional terakreditasi, dan prosiding konferensi internasional ini mengkaji perilaku pencarian informasi kesehatan di media sosial, khususnya terkait stunting dan kesehatan perempuan Gen Z. Studi menyoroti pentingnya kredibilitas sumber, kemudahan akses, serta adaptasi pesan dengan budaya lokal.
Penelitian lain fokus pada perilaku pencegahan COVID-19, penggunaan media digital dalam komunikasi kesehatan, dan kepuasan pengguna layanan kesehatan digital, menekankan peran kualitas komunikasi dokter-pasien dan kepercayaan pada platform.
Pandemi COVID-19 memacu perubahan strategi komunikasi kesehatan ke media digital yang efektif bila dirancang kontekstual dengan teknik persuasi emosional dan visual. Model perilaku kesehatan yang dikembangkan menggabungkan faktor psikologis, sosial, dan teknologi dalam memahami perilaku pencegahan dan pencarian informasi.
Secara keseluruhan, kajian ini menegaskan bahwa komunikasi kesehatan di era digital memerlukan sinergi antara riset empiris, adaptasi budaya, dan inovasi teknologi, sebagai dasar strategi komunikasi kesehatan berkelanjutan, terutama di negara berkembang.
Menjawab tantangan komunikasi publik bidang kesehatan, berikut beberapa rekomendasi kebijakan yang ditawarkan.
Poin-Poin Rekomendasi Kebijakan
- Pemanfaatan Ekosistem Digital:
Optimalisasi media sosial sebagai kanal utama informasi kesehatan dengan kurasi ketat dan mekanisme mitigasi disinformasi berkelanjutan.
- Integrasi Behavioral Insights:
Rancang pesan komunikasi yang tidak hanya informatif tapi juga mampu membentuk keyakinan dan memotivasi tindakan sehat berdasarkan wawasan perilaku.
- Standarisasi Layanan Digital:
Perkuat kualitas komunikasi profesional di layanan kesehatan digital dengan menjaga sentuhan humanis untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pasien.
- Penguatan Kapasitas Riset dan Inovasi:
Dukungan kebijakan untuk memperkuat riset komunikasi kesehatan digital, inovasi, dan kolaborasi internasional agar relevan secara lokal dan global.
- Pemanfaatan Figur Publik Berbasis Etika:
Gunakan figur publik kredibel dalam kampanye kesehatan dengan prinsip etika komunikasi dan kesinambungan pesan.
- Permanenisasi Strategi Cyber PR:
Jadikan strategi cyber public relations sebagai bagian permanen dalam komunikasi kesehatan dan krisis untuk interaksi dua arah yang berkesinambungan antara pemerintah dan publik.
- Pengembangan Kurikulum Lintas Disiplin:
Perkuat pendidikan komunikasi kesehatan di perguruan tinggi dengan pendekatan lintas disiplin (komunikasi, kesehatan masyarakat, kedokteran, TI, psikologi, kebijakan publik).
- Pembentukan Pusat Studi Komunikasi Kesehatan:
Dirikan pusat riset, pelatihan, dan advokasi yang menjadi penghubung antara dunia akademik, pemerintah, praktisi media, dan sektor swasta.
The International Program Communication (IPC) at UII held a webinar and grand launch of P2A ICE CREAM 2025 on 12 August 2025. This international mobility programme differs significantly from previous years, as while the 2024 edition was held in Indonesia and Malaysia, this year’s programme will take place in Malaysia and Thailand. The journey will commence from 18–30 August 2025.
With the theme ‘Choco’ or ‘Creative Home of One ASEAN Community,’ the train icon is highlighted as a symbol that the journey through Malaysia and Thailand will be undertaken via land routes.
The event was opened by Dr. Herman Felani, a lecturer from the Department of Communications Science at UII, who noted that amid the current challenging situation, crossing national borders has become a real-life experience.
“The world is not currently in a good situation; there are conflicts in many parts of the world, including areas very close to us in ASEAN. Therefore, I think the goal of P2A is to provide opportunities for the young generation in ASEAN to truly experience ASEAN by participating in mobility programs. One of the main concepts of P2A is land mobility traveling across borders,” explained Dr. Herman Felani.
What does P2A ICE CREAM CHOCO 2025 mean? It is an intercultural academic and creative mobility programme involving students from Universitas Islam Indonesia (Indonesia), Universiti Utara Malaysia (Malaysia), Suan Dusit University (Bangkok), and Chiang Mai Rajabhat University (Thailand).
In this project, students from Indonesia, Malaysia, and Thailand will collaborate to produce a digital magazine about Creative Communities in Yogyakarta, Penang, Kedah, Bangkok, and Chiang Mai. Audio-visual media will be incorporated into the magazines via QR codes. The team is divided into three divisions: copywriting, photography, and videography. The team must consult with their supervisors regularly. The topic of the project is Passage to ASEAN International Course on Creative Media: Creative Home of One Community in ASEAN (P2A ICE CREAM CHOCO)
Webinar Topic
To support this programme, students who join this programme will receive an overview of the material provided by Dr. Zaki Habibi and Dr. Asmidah binti Alwi.
Led by Dian Dwi Anisa, M.A., the discussion was interactive. The first material from Dr. Zaki Habibi, a lecturer in the Department of Communications Science at UII, focused on the topic titled ‘Creative Communities as alternative voices in the City: The concepts, the trajectories, and the methods’.
“Each of you, as participants of P2A, can actually stand by your own point of view. Do not leave it behind, because it can expand further during the programme,” he said, opening the discussion.
In general, the material he presented was based on his previous work, publications, and several studies related to a specific project called ‘Managed Urban Creative Activities in Southeast Asia’.
“Most of the cases are from Java as well as Malaysia, particularly Penang. You will see some examples from these places. Beyond that, the following insights also come from several research studies dealing with particular topics such as visual and sensory aspects, the urban environment, festivals, and artistic projects,” he added.
He also invited participants to reflect on various questions such as, “In your own opinion, what makes a city creative?”, “What do you want to see or experience in a creative city?”, and “How can people contribute creatively to make a vibrant yet liveable city?”.
The second presentation was by Dr. Asmidah binti Alwi, a lecturer at SCIMPA UUM, on the topic ‘From cyntok bhatiq to Batik Tanah Lembah Bujang: Creative Community Development’.
Specifically, the material described the process of a creative project that began in 2019. This project focused on creative experiments in designing batik motifs inspired by the unique flora around the University of Northern Malaysia (UUM). In 2020, the project received funding in the form of a grant from the Malaysian Ministry of Higher Education. This funding enabled the team to focus their attention and efforts on rural community development through the batik industry. In other words, the project is not only oriented towards art and design but also aims to create positive socio-economic impacts for rural communities through the development of the batik industry as a source of income and community empowerment.
“What started as an art project soon became a bridge between heritage, creativity, and economic opportunities,” said Dr. Asmidah.
‘From a small community initiative to a dynamic creative centre, the Cyntok Bhaiq project has sparked entrepreneurship, created jobs, and strengthened cultural identity through batik art, transforming heritage into opportunities and community pride,’ she said, concluding his presentation.
Support for P2A ICE CREAM Choco from Various Parties
At this grand launch, various forms of support were received. Also joining from P2A ICE CREAM were Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., Vice Rector for Partnerships & Entrepreneurship, Prof. Masduki, Dean of FISB UII, as well as lecturers from Universiti Utara Malaysia (Malaysia), Suan Dusit University (Bangkok), and Chiang Mai Rajabhat University (Thailand).
“The peace campaign in Southeast Asia also involves knowledge exchange beyond the fields of communication, journalism, public relations, and so on. More importantly, there is a strategic programme related to the University of Islam Indonesia. I am confident that this programme will also be more involved in addressing global issues in Southeast Asia, particularly in the area of student mobility. Advancing our university means not only teaching but also involving our students domestically. However, we need to encourage them to venture abroad—to gain experience, build connections, and share, especially our students, both academics and social activists. This is how we bring Yogyakarta’s voice to the world.” Prof. Masduki
“Congratulations to the Department of Communication Studies on the launch of this exciting programme and the implementation of the three-step P2A concept: learning, knowledge, experience, and understanding.” Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D.
Three students from Universiti Utara Malaysia (UUM) have completed one semester of the International Credit Transfer (ICT) programme. The three students are Hareesh Ravi, Adam Danial bin Abdul Shukor, and Ku Mohd Fathi bin Ku Mohd Fauzi.
To mark the conclusion of the ICT program, the Department of Communication Studies at UII held a graduation ceremony on August 8, 2025.
As part of the International Programme Communication (IPC) at UII, the UUM students gained diverse experiences. In addition to academic activities, cultural immersion and exploration of tourist attractions were also conducted to support the ICT programme.
The Head of the Communication Studies, Dr. Zaki Habibi, extended his congratulations, hoping that the meetings and experiences at IPC UII would impart leadership skills.
“Congratulations on completing this programme. Personally, even though this programme has ended, I hope that the encounters, experiences, and the ups and downs, including learning about leadership, are the essence of every mobility programme,” said Dr. Zaki Habibi.
Some of the activities that took place in May 2025 included social engagement in Magelang, where they learned batik making and pottery crafting. A few months prior, the three of them also attended the wedding of one of their colleagues from the Department of Communications at UII. Interacting with the local community and experiencing their culture left a lasting impression on the ICT participants.
The ICT programme not only provides students with experiences but also strengthens the relationships and collaborations established between UII and UUM. This was highlighted by the Head of the Department of Communications, Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D.
“ICT is not just about the friendship between three students but also the good relationship between UII and UUM,” said Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D.
During the farewell event, the three ICT programme students shared their impressions and expressed their gratitude.
For Hareesh Ravi, the ICT programme was a turning point in his life. The Indian-born UUM student said, “Thank you for allowing us to study here. Studying here is not just about learning; it is an experience that has been a turning point for us,” he said.
Meanwhile, his colleague, Ku Mohd Fathi bin Ku Mohd Fauzi, noted that communication in Indonesia is very different from his previous learning experiences in other countries. At UII, communication between lecturers and students is conducted on an equal footing.
“I am happy because here, lecturers and students are very close, the best thing. It’s not just the place but the people—how everyone here strives to do their best, and I will miss that,” he concluded.
Lastly, Adam Danial bin Abdul Shukor expressed his pride in being part of the ICT programme at UII, “I am very proud to study here; the friends, lecturers, and environment are amazing,” he stated.
Hubungi Kami
Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Budaya
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia
Telephone: +62-274-898444 ext. 3267
Faks: +62 274 898444 ext. 2106
Email: [email protected]

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.













