Tag Archive for: Indonesia

Jurnal Internasional

Artikel ilmiah garapan dosen Ilmu Komunikasi, UII yakni Holy Rafika Dhona, S.I.Kom., M.A. yang berjudul “Decentering the discourse of ‘propaganda map’: The use of German Suggestive map as a Counter Colonial Tool in the Indonesian Newspaper Pewarta Deli (1935–1940)” telah terbit dalam jurnal Media History, Routledge – Taylor & Francis Group pada 5 November 2025.

Dalam artikel tersebut menjelaskan konsep jurnalisme kartografi yang fokus pada penggunaan peta persuasif atau propaganda yang menjadi populer selama periode antarperang dengan “peta sugestif” Reich ketiga. Meskipun Jerman Nazi terkenal memanfaatkan peta-peta tersebut sebagai senjata intelektual, para ahli berargumen bahwa narasi ini mengabaikan konteks yang lebih luas. Diskursus dominan menggambarkan jurnalisme kartografi era tersebut sebagai bagian dari propaganda Nasionalis-Sosialis Jerman, namun kritikus seperti John Pickles mengusulkan evaluasi yang lebih nuansatif, mempertimbangkan niat pembuat, konteks produksi, konten teks, dan penerimaan audiens. Artikel ini berusaha menantang fokus Eurosentris pada peta propaganda Jerman dengan menganalisis adopsi dan adaptasi peta-peta tersebut oleh jurnalis Indonesia selama masa kolonial Belanda.

Berfokus pada surat kabar Pewarta Deli di Hindia Belanda pada 1930-an, artikel ini mengeksplorasi bagaimana jurnalis Indonesia asli mengubah peta-peta sugestif yang terinspirasi oleh geopolitik Jerman menjadi alat diskursus anti-kolonial. Artikel ini menyoroti perbedaan antara peta-peta geopolitik Jerman dan peta-peta Nasional Sosialis, menekankan bagaimana Djamaludin Adinegoro, redaktur pelaksana Pewarta Deli, menggunakan teknologi pemetaan untuk menentang peta-peta kolonial imperial yang dominan. Dibagi menjadi empat bagian, makalah ini menguraikan dasar institusional Pewarta Deli dalam memproduksi peta, kemampuan teknologinya, dan bagaimana peta-peta sugestif tersebut secara kreatif diubah fungsi untuk menentang narasi kolonial Belanda, menempatkan peta-peta ini sebagai alat politik dan diskursif di luar sekadar propaganda.

Hasilnya, peta persuasif Jerman pada periode antarperang digunakan oleh jurnalis di wilayah jajahan seperti Hindia Belanda bukan karena simpati ideologis, tetapi karena kemudahan reproduksinya sesuai dengan konteks colonial. Penelitian ini mengusulkan agar peta-peta tersebut diakui sebagai fenomena global yang melampaui konteks Eropa dan berfungsi sebagai alat untuk melawan dominasi kolonial. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya memperlakukan peta sebagai media yang signifikan dalam memahami kekuasaan kolonial dan perjuangan perlawanan, karena peta membentuk narasi dan realitas spasial, dengan masyarakat terjajah menggunakan praktik kartografi untuk mempolitisasi dan menentang kendali imperial. Pandangan yang lebih luas ini menantang narasi Eurosentris dan mengangkat peta sebagai alat kritis dalam sejarah media dan diskursus antikolonial.

Keywords: Adinegoro, Geopolitic School, history, Indonesia, journalistic cartography, suggestive map

Penulis:

Holy Rafika Dhona merupakan dosen Prodi Ilmu Komunikasi yang fokus dengan klaster riset communication geography, geomedia, communication history, Foucaultian Discourse, dan matrealist approach on Communication

Selengkapnya dapat diakses melalui link:

https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13688804.2025.2581030

KalFest Hub Seri #8: Behind Story Pemenang Film ReelOzInd! 2025

Kaliurang Festival Hub (KalFest Hub) seri #8 yang berkolaborasi dengan ReelOzInd! telah berlangsung pada Kamis, 23 Oktober 2025 di di Ruang Audio Visual Balai Layanan Perpustakaan Grhatama Pustaka DPAD DIY, telah menampilkan 9 film yang menang ReelOzInd! 2025.

Dua pertemuan festival ini menjadi saksi premier screening sekaligus pertemuan penonton dengan praktisi dan akademisi pengkaji film. Banyak cerita mendalam dibalik film-film terpilih, semuanya tersaji dalam satu acara kalFest Hub seri #8 x ReelOzInd!.

Penonton diajak menon 9 film secara simultan, dan berlanjut dengan diskusi. Sesi ini menghadirkan dua pembicara yakni Kevin Evans (Indonesia Director The Australia-Indonesia Centre) dan Dr. Dyna Herlina S (Film Researcher, Universitas Negeri Yogyakarta, Ketua KAFEIN).

ReelOzInd! tahun ini mengambil tema Imajinasi, bagi Kevin Evans kata tersebut mudah dipahami oleh kedua negara. “Tiap tahun kita ambil tema satu kata, sedikit dan dimengerti dua negara. gampang menyambung,” ujarnya.

ReelOzInd! adalah kompetisi dan festival film pendek yang ditujukan kepada sineas dari Australia dan Indonesia. Kevin menyebut lewat film mampu menyatukan berbagai hal dengan sederhana.

“Melalui film banyak orang di Australia dan Indonesia berfikir sama atau ralate oh pikirannya sama. Seringkali saya lupa, ini Indonesia atau Australia. Relate yang dialami, melihat dari lingkungan yang berbeda, dengan aspek primordial yang berbeda, dan kemanusiaan yang sama,” tambahnya.

Selain itu, film juga menjadi media pembelajaran yang menarik dan atraktif di Australia, terlebih kini banyak institusi pendidikan yang mengajarkan bahasa Indonesia.

Sementara Dr. Dyna Herlina, menyebut KalFest Hub mampu menjadi ruang strategis yang mampu menghubungkan festival dari berbagai negara. Salah satunya Australia yang selama ini tidak memiliki hubungan intensif dengan Indonesia. “KalFest Hub platform yang strategic to connect yang sebenarnya tidak terkoneksi. Saya berpikir ReelOzInd bisa kita undang, as well as festival,” ujarnya.

Behind Story Film-Film Pemenang ReelOzInd!

Tiga pemenang menyempatkan hadir dalam momen ini, cerita unik datang dari Firman Widyasmara kreator film berjudul Leleng, dengan teknik stop motion yang terkesan arkais menciptakan berbagai efek yang dinamis. Ternyata film animasi ini sempat tertunda bertahun-tahun lantaran berbagai situasi yang mendukung.

“Tantangannya karena ini film pertama jadi masih acakadut (berantakan), tapi di balik keterbatasan waktu cukup panjang, file sempat terserak karena pandemi Covid-19. Tahun 2023 mulai saya rapikan kembali seperti yang teman-teman saksikan,” ungkap Firman Widyasmara.

Cerita lain datang dari peraih Special Mention Young Filmmaker garapan Isla Ward. Filmnya berjudul Hurt People, Hurt People terispirasi dari kisah-kisah di sekililingnya. Bagaimana bullying terjadi pada murid-murid di sekolah. Ditemani dengan sang ayah, Isla menuju panggung KalFest Hub menceritakan di balik tema yang ia pilih.

“Why did I make that film? Because when I was 8 years old in green school. You have to do a project called a quest. Which is a passion project. Where you have to make something. Which is closer to something you like doing or something you like or appreciation or something like that. I don’t know there are people who make books, there are people who make songs. Everyone is doing something closer and I also made something more active. So I decided to make a film,” jelas Isla.

Terakhir, ada film Fighting for the Future pemenang Special mention Documentary, yang menyorot tinju yang dianggap dari kacamata anarkisme jalanan menjadi penyaluran hobi dan prestasi. Marjito Iskandar Tri Gunawan menyebut kelompok yang terbentuk informal menjadi ruang yang membawa kegelisahan menuju hal positif.

“Aku flashback lagi sekitar 20 tahun lalu, ini dunia mahasiswa dan remaja. Dicoba ditelusuri didalami lagi menjadi kegelisahan bersama. Dunia remaja adalah dunia penuh dengan energi,” tandasnya.

Final Film ReelOzInd! 2025 – Running Sheet

(Best Animation) Leleng | Zaenal Abidin (director) | Firman Widyasmara (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Documentary) Wadjemup Wirin Bidi | Glen Stasiuk (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Buried in Time | Deandrey Putra (director/producer) | Farhan Nugraha (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Fallow | Bonnie Van De Ven (director) | Andrew O’Keefe (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Special Mention Documentary) Fighting for the Future | Marjito Iskandar Tri Gunawan (director/producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Young Filmmaker) Hurt People, Hurt People | Isla Ayu Sri Ward (director/writer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Young Filmmaker) Running Away | Dari Justin (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Animation) Elephant | Mia Innocenti (writer/director) | Phoebe Blanchard (writer) | Tenzin Kelly-hall (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Best Fiction/ Best Film) Kau, Aku, dan Kursi Itu (You and Me and that Chair) | Trivita Tiffany Winataputri (director/writer) | Matt Wallace (director) | Lawrence Phelan (producer) | Australia/Indonesia | 2023 | All Ages

KalFest Hub seri #8 ini menjadi momen spesial karena film-film pendek yang mendapatkan award akan diputar secara perdana dan serentak di Yogyakarta (Indonesia) dan Melbourne (Australia).

 

PRESS RELEASE – KalFest Hub Seri #8 Berkolaborasi dengan ReelOZInd! ‘Menyatukan Film Pendek Indonesia-Australia di Jogja’

Menjadi agenda penutup tahun ini, Kaliurang Festival Hub (KalFest Hub) seri #8 berkolaborasi dengan ReelOzInd!. Festival digelar pada Kamis, 23 Oktober 2025 di Ruang Audio Visual Balai Layanan Perpustakaan Grhatama Pustaka DPAD DIY.

ReelOzInd! adalah kompetisi dan festival film pendek yang ditujukan kepada sineas dari Australia dan Indonesia. Tahun 2025, ReelOZInd! Yang digawangi oleh Jemma Purdey (Autralia) dan Gaston Soehadi (Indonesia) mengambil tema Imajinasi berhasil mendapatkan 9 pemenang dari berbagai kategori.

KalFest Hub seri #8 ini menjadi momen spesial karena film-film pendek yang mendapatkan award akan diputar secara perdana dan serentak di Yogyakarta (Indonesia) dan Melbourne (Australia).

Menjadi tuan rumah, Dr. Zaki Habibi selaku Kaliurang Festival Hub Programmer menyebut bahwa kesempatan ini dapat tercapai karena telah membangun jejaring yang cukup intensif dengan Jemma Purdey, Direktor Festival ReelOzInd!.

“KalFest Hub telah lama membangun jejaring dengan programmer Jemma Purdey dari Melbourne, yang membuka kesempatan kolaborasi untuk memutar film ReelOzInd! di Jogja,” ucapnya.

Pada kesempatan ini selain menhadirkan premiere screening 9 film, juga akan dilanjutkan dengan diskusi bersma Kevin Evans (Indonesia Director The Australia-Indonesia Centre) dan Dr. Dyna Herlina S (Film Researcher, Universitas Negeri Yogyakarta, Ketua KAFEIN). Beberapa pemenang ReelOzInd! Juga akan hadir untuk mewarnai diskusi dari kacamata produksi.

“Dalam seri #8 yang menjadi penutup tahun 2025, pemutaran film diselenggarakan di Kaliurang Festival Hub, Jogja, dilanjutkan dengan diskusi bersama tamu spesial dan filmmaker,” ujar Dr. Zaki Habibi.

Bagi pecinta dan pengkaji film agenda ini adalah kesempatan berharga yang sayang untuk dilewarkan. “Festival ini menghadirkan Premiere Screening serentak di Melbourne dan di Jogja pada 23 Oktober 2025, memberikan akses film yang sama tanpa harus ke Melbourne,” tandasnya.

Berikut beberapa daftar film yang akan diputar pada KalFest Hub Seri #8 x ReelOzInd!:

Final Film ReelOzInd! 2025 – Running Sheet

(Best Animation) Leleng | Zaenal Abidin (director) | Firman Widyasmara (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Documentary) Wadjemup Wirin Bidi | Glen Stasiuk (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Buried in Time | Deandrey Putra (director/producer) | Farhan Nugraha (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Fallow | Bonnie Van De Ven (director) | Andrew O’Keefe (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Special Mention Documentary) Fighting for the Future | Marjito Iskandar Tri Gunawan (director/producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Young Filmmaker) Hurt People, Hurt People | Isla Ayu Sri Ward (director/writer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Young Filmmaker) Running Away | Dari Justin (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Animation) Elephant | Mia Innocenti (writer/director) | Phoebe Blanchard (writer) | Tenzin Kelly-hall (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Best Fiction/ Best Film) Kau, Aku, dan Kursi Itu (You and Me and that Chair) | Trivita Tiffany Winataputri (director/writer) | Matt Wallace (director) | Lawrence Phelan (producer) | Australia/Indonesia | 2023 | All Ages

Dengan kolabarasi antara KalFest Hub seri #8 dengan ReelOzInd! Mampu mempererat relasi kedua negara. Selain itu film-film yang dihadirkan memberikan kesempatan berbagi cerita yang jauh dari stereorip dan drama politik. Festival ini bertujuan meningkatkan kesadaran dari kedua Negra lewat karya kreatif.

“Kolaborasi ini diharapkan memperkuat jaringan dan relasi antara Indonesia dan Australia, khususnya antara Jogja dan Melbourne, sesuai spirit KalFest Hubsebagai penghubung berbagai entitas.” Tandas Dr. Zaki Habibi.

Rundown KalFest Hub seri 8 x ReelOzInd!

No Pukul Kegiatan  Durasi
15.00-15.15 Registrasi Kehadiran  15 Menit 
15.15-15.25 Sambutan dari Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, FISB, UII  10 Menit
15.25- 15.30 Sambutan dari Direktur Kaliurang Festival Hub.  5 Menit
15.30.17.00 Pemutaran film pemenang (Terbaik dan Penghargaan Khusus) dari setiap kategori kompetisi ReelOzInd.  120 Menit
17.00-18.00 Diskusi bersama perwakilan dari Australia Indonesia Center dan Akademisi pengkaji film.  60 Menit
18.00-18.45 Tanya jawab  45 Menit
18.45-18.50 Penyerahan souvenir kepada pembicara dan Foto bersama.  5 Menit
18.50-19.00 Penutup 10 Menit

 

 

 

Hari Pers Nasional 9 Februari Perlu Dikaji Ulang?

Merayakan Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari nampaknya perlu dikaji ulang. Kilas balik sejarahnya yang mengacu kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dinilai tak mewakili beberapa komunitas-komunitas pers.

Ditambah konflik internal dualisme kepemimpinan di tubuh PWI Pusat. Akibatnya dalam rapat pleno 29 September 2024, Dewan Pers mengambil beberapa tindakan salah satunya tidak memperbolehkan PWI menggelar uji kompetensi wartawan (UKW).

Terlepas dari konflik tersebut, perayaan HPN tetap digelar dengan tema “Pers Mengawal Ketahanan Pangan untuk Kemandirian Bangsa” di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Minggu, 9 Februari 2025.

Menanggapi hal ini, salah satu dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Prof. Masduki memberikan beberapa tanggapan kritis.

Berikut hasil wawancara dengan Prof.  Masduki, Profesor Bidang Ilmu Media dan Jurnalisme

  1. Mengapa penetapan 9 februari sebagai Hari Pers Nasional perlu dikaji ulang?

“Momentum apa yang disebut hari pers 9 Februari itu, sebetulnya secara historis hari kelahiran PWI. Namun tahun ini PWI lagi pecah, [Dualisme pemimpin], jadi dua organisasi. Ada yang mau bikin acara di Bajarmasin, ada yang mau bikin acara di Sumatera. Akhirnya apa yang terjadi sekarang? Orang bingung, sebenarnya peringatan hari persnya gimana ini. Dari sisi ini saya ingin mengatakan momentum apa yang disebut 9 Februari sebagai hari pers. Tahun ini harusnya menjadi refleksi ulang bahwa hari pers nasional perlu ditinjau.

Bukan hari pers yang bisa disepakati oleh seluruh komunitas pers. Termasuk Dewan Pers. Dalam diskusi dengan teman-teman Dewan Pers dan Aliansi Jurnalis Independen, beberapa hari ini saya menyampaikan intinya hari pers nasional perlu disepakati ulang karena itu warisan orde baru. Dan kemudian dicari momen sejarah yang lebih mewakili semua.

  1. Lantas mengacu dengan momen apa kesepakatan Hari Pers Nasional?

Misalnya kelahiran dari Medan Priayi di Bandung atau mungkin pas penetapan undang-undang pers tahun 1999. Satu poin pertama bahwa momentum 9 Februari harus dijadikan sarana untuk merefleksikan, mengkaji ulang kapan sebetulnya hari pers nasional Indonesia yang mencerminkan situasi lebih kompleks pada hari ini.

  1. Sementara, bagaimana dengan pers di Indonesia sudahkah ideal?

Nah kemudian yang kedua seperti yang ditanyakan tentu ini momentum ya. Apapun moment historisnya bahwa pers Indonesia itu harus segera berbenah, harus segera mengakselerasi kesiapan menghadapi disrupsi digital yang sudah berjalan ya. Karena dengan demikian dia bisa menjadi institusi yang sustainable.

  1. Dengan situasi Indonesia saat ini dengan berbagai kebijakan lawak, apa yang perlu dilakukan pelaku pers?

Ada tiga masalah besar pers Indonesia hari ini. Pertama soal yang disebut dengan independensi. Dia harus independen dari pemilik yang merupakan partai atau politisi. Dia harus bebas dari intervensi politik. Yang kedua, ini ada masalah dengan bagaimana pers Indonesia beradaptasi dengan pelakon digital. Yang ekosistem bisnisnya ini berubah total. Dan ini membutuhkan tidak hanya kesiapan skill, kompetensi, tapi juga perubahan regulasi yang diproduksi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, juga DPR. Nah yang ketiga yang menjadi banyak sekali perhatian adalah bagaimana keberlanjutan dari jurnalisme yang berkualitas. Yang dulu itu dikerjakan oleh media cetak. Sekarang media cetak berguguran, tapi yang muncul media digital, media siber itu isinya clickbait atau berita yang berbau hoax disinformasi. Ada ancaman namanya hilangnya jurnalisme berkualitas. Kedalaman berita investigasi, berita yang seharusnya watchdog, memantau kekuasaan.

  1. Langkah apa yang mampu menjadi solusi?

Ini harus jadi konsen bersama. Baik itu dalam kerangka misalnya melindungi dan mendorong tumbuhnya media-media alternatif yang fokusnya pada jurnalisme, maupun mengembangkan pendanaan publik yang bisa dicollect dari negara, hibah negara, juga hibah dari platform digital, juga para charity, para filantropis, sehingga jurnalisme-jurnalisme yang bertumbuh sekarang yang dikelola oleh independent journalist di luar media mainstream itu bisa mendapat tempat.

Karena Indonesia harus merawat demokrasi yang berbasis pada well-informed society, masyarakat yang memiliki informasi memadai kesadaran yang cukup, posisinya sebagai warga negara yang harus selalu aware dan mengontrol kekuasaannya. Pers itu harus menjadi watchdog dalam situasi ini.

Podcast

Podcast menjadi konten digital yang diminati anak muda di Indonesia. Pendengarnya didominasi oleh Gen Z dan Milenial. Selain isu yang dibicarakan menarik, podcast dapat diakses dan didengarkan sembari melakukan aktivitas secara multitasking. Paling sering podcast diakses ketika dalam perjalanan, saat bekerja, ataupun ketika menulis.

Konten-konten yang ada pada podcast memiliki berbagai genre, dari politik hingga komedi. Hal ini membuat podcast menjadi konten alternatif yang digemari karena menyajikan diskusi dari berbagai sudut pandang yang ringan namun mendalam. Hal ini terbukti dari jumlah pendengarnya yang selalu meningkat.

Rincian terkait pendengar podcast di Indonesia yang dirilis oleh Databoks Katadata tahun 2021enyebut 22,1 persen pendengar berusia 15-19 tahun, 22,2 persen berusia 20-24 tahun, 19,9 persen usia 25-29 tahun, 15,7 persen berusia 30-34 tahun, usia 35-39 tahun sebanyak 11,8 persen, dan 40-44 tahun sekitar 8,4 persen. Dari data tersebut artinya semakin menurun seiring bertambahnya usia.

Lantas apa itu podcast? Podcast adalah produksi audio digital yang diunggah pada platform online (paling sering website) untuk dibagikan dengan orang lain. Audio tersebut dapat diakses langsung melalui smartphone maupun perangkat komputer lainnya. Istilah podcast berasal dari broadcasting dan ipod. Memahami podcasting tentu berkaitan dengan konten audio dan berbeda dari format video yang memperkenalkan istilah vodcasting. Meski demikian podcasting dapat merujuk pada audio dan video untuk pemahaman yang komprehensif. (Hutabarat, 2020)

Indonesia Masuk Sebagai 10 Negara yang Paling Banyak Mendengar Podcast

Salah satu platform audio lokal non musik, Noice termasuk yang populer di Indonesia. Melansir dari laman Antara, Noice telah digunakan lebih dari lima juta pengguna di Indonesia. Mengenai konten-konten yang diproduksi tak diragukan lagi, mulai dari kondisi perpolitikan di Indonesia, cerita horor, hingga cerita sehari-hari yang sangat relate dengan pendengar.

“Podcast audio berupaya untuk menghadirkan screenless moment yang menyenangkan bagi semua pendengar,” Ujar Niken Sasmaya CEO Noice pada Antara.

Produksi Podcast cukup menjanjikan, laporan dari We Are Social 2024, jumlah pengguna internet global yang mendengar podcast sebesar 20,6 persen. Dari jumlah tersebut Indonesia menempati posisi kedua yakni sebesar 38,2 persen, posisi teratas negara Brasil yakni 39,7 persen.

Tiga podcast yang paling populer di Indonesia antara laian Curhat Bang Denny Sumargo, Mata Najwa, dan Close the Door. (Databoks Katadata)

Tertarik Mendengarkan Podcast?

Tak sekedar hiburan, banyak informasi yang akan didapatkan pendengar ketika mengkses konten pada podcast. Riset menunjukkan podcast memiliki dampak yang besar pada dunia pendidikan. Pertama menjadi sumber pengajaran yang inovatif bagi pengajar, kedua mampu membantu proses pembelajaran baik di dalam maupun luar kelas, dan terakhir meningkatkan kesiapan dan persiapan calon pengajar.

Selain dalam segi pendidikan, podcast sangat menguntungkan bagi para pengiklan. Edison Research merilis The Podcast Consumer 2024 menyebut selama satu dekade jumlah pendengar podcast meningkat empat kali lipat. Pendengar podcast adalah audiens yang berpendidikan dan memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. 56 persen pendengar podcast bulanan memiliki pendapatan rumah tangga tahunan lebih dari $ 75 ribu, dibandingkan dengan 48 persen populasi AS, dan 49 persen pendengar podcast bulanan berpendidikan tinggi dibandingkan dengan 44 persen populasi AS.

Bagaimana menurutmu terkait fakta-fakta terkait podcast, tertarik untuk turut mendengar dan meramaikan produksi konten podcast Comms?

Yemen

I’m a girl who grew up in a family that supports the idea of taking any risks to grow or chase a dream that you want to follow. Growing up in such a family made me a brave girl who never lost a long-waited opportunity or dream. When I first learned that I had received a scholarship to study in universities Universitas Islam Indonesia, I was overwhelmed by a mix of excitement and anxiety. It is not just about leaving Yemen. It was about the dream of a little girl to have such a chance to step into an entirely new world, a world that would add up to her growth and her experience too. Getting prepared to pursue this dream and leave my home behind was not just a physical journey; it felt like I was also leaving behind everything I had ever known or loved, my family, friends, and the familiarity of my daily life.

The decision to leave Yemen was not easy. It was filled with an emotional and physical struggle too. The opportunity was something I had always talked about with my sisters and was something I would add to my dream list every year. Although I was filled with excitement, there was a heavy feeling in my heart. The thought of saying goodbye to my family, not knowing when I would return, and the fear of them growing up older and me not having enough memories with them always scared me. The scholarship felt like a golden ticket to a better future, but at the same time, it required me to let go of so much.

The process of leaving was filled with endless paperwork, visa applications, and the chaos of preparing for a life abroad. I remember one time when my family and I had to travel more than 12 hours by car to renew my passport. The situation in Yemen made it harder for me to finish the process with less effort. Sometimes when I struggled with the paperwork and tried to cope with the situation, it made me feel like it was a mountain I would never be able to climb, but I know deep down that this is a once-in-a-lifetime opportunity and I have to work hard for it.

The Journey to Indonesia

I remember my mom’s hug at the airport, the plane ride, and how I watched Yemen disappear below me. I feel scared of the idea that I’m going to land in a place that could not be more different from what I know. The flights were long, with layovers and waiting, but every moment brought me closer to my dream, to a place that I had read about with no real understanding of anything.

When I first landed in Indonesia, the first thing that I felt through their action was the warmth of people and their hospitality. The noise at the airport, the unfamiliar language, the food, and the beautiful sights. It all hit me at once. It felt like I had been transported to a completely new world, but I always figured out a way to find beauty in that diversity and unfamiliarity; it was a completely fresh start.

Adapting to life in Indonesia took me longer than I imagined. The culture, the language, the way people communicate—all of it was very different to me. I found that I was pushing myself too hard to adapt as soon as possible and had always been worried about making mistakes. But over time, I started to try to take my time. I learned to appreciate the kindness of strangers, their excitement to get to know me, and the help they offer each time. I also learned to navigate the language barrier by trying to learn common phrases and words. I attended a Bahasa Indonesian class that the university organized for international students, and that helped me a lot. Little by little, the feeling of being a foreigner or an outsider started to reduce, and I started to feel the warmth of this country.

As time passed, I realized this journey was not just about education; it was also about my personal growth. Living in a different country, far away from home, and handling all my responsibilities on my own made me more independent, resilient, and open-minded. I started to see the world from a different angle, understanding that the 18 years that I spent in Yemen were just a part of larger growth and experience. Most importantly, I have learned more about myself, my weaknesses, strengths, abilities, and capacity for growth.

When I look back on the journey from Yemen to Indonesia, I feel a sense of gratitude. The decision was not easy, but it was the best thing I would do for my future self. This experience has opened doors I did not know existed and has given me a vision for the future that is bigger than I have dreamed. The only advice that I could give to anyone thinking of taking a similar path is to not hesitate. There will be moments when you feel lost, feel homesick, and want to leave everything and return home. But I believe that this experience will shape you most unexpectedly, and you will realize the journey is as important as the dream you want to achieve.

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Horor

Film horor menjadi genre paling diminati penonton Indonesia, terbukti dari 10 deretan film terlaris 3 diantaranya diisi genre tersebut. Sepanjang tahun 2024 saja setidaknya ada 12 film horor yang telah tayang di bioskop. Sineas Indonesia nampaknya berlomba-lomba untuk memenangkan pasar. Sayangnya, unsur religi yang menjadi jalan pintas seolah jadi strategi ampuh.

Menampilkan adegan komedi, seks, dan religi menjadi bentuk normalisasi film horor Indonesia. Jadi tak heran jika ketiga unsur tersebut tak boleh absen dalam proses produksinya. Namun belakangan kritik keras soal ritual ibadah dalam tren film horor dilayangkan oleh Gina S. Noer sutradara Indonesia.

“Kebanyakan film horor menggunakan sholat, doa, dzikir dan lain-lain Cuma jadi pilot devices murahan untuk jumpscare karakternya diganggu setan. Sehingga kelemahan iman bukan lagi menjadi eksploitasi kritik terhadap keislaman yang dangkal. Tapi cara dangkal biar cepat seram,” tulisnya pada story Instagram beberapa waktu lalu.

Meski kritik tersebut ramai-ramai dibagikan, nyatanya penikmat film horor dengan eksploitasi agama tak menurun. Tercatat film Siksa Kubur karya Joko Anwar ditonton lebih dari 4 juta penonton.

Horor adalah kata yang kuat. Kata ini membangkitkan perasaan benci, jijik, enggan, takut, dan teror. Peristiwa mengerikan terjadi di dunia kita setiap hari, jadi wajar saja jika peristiwa-peristiwa ini masuk ke dalam imajinasi kolektif kita melalui literatur, film, dan bentuk-bentuk seni dan wacana populer lainnya. (ISLE: Interdisciplinary Studies in Literature and Environment, Volume 21, Issue 3, Summer 2014)

Mempertimbangkan Genre Ecohoror

Salah satu tawaran solusi bagi sineas Indonesia untuk mengeksplorasi terhadap religiusitas disampaikan oleh salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Khumaid Akhyat Sulkhan, S.I.Kom, M.A. ia berpendapat bahwa genre ecohorror bisa menjadi pilihan.

Terlebih Indonesia sebagai negara dengan polemic isu lingkungan tak terselesaikan genre ecohorror layak menjadi sarana edukasi dan mempromosikan kesadaran ekologis dan tentunya mempresentasikan krisis ekologis yang nyata.

“Di industri perfilman luar negeri, isu lingkungan dan cerita horor sudah sering dipertemukan dalam genre ecohorror. Genre ini mengacu pada cerita-cerita mengenai alam yang membalas perbuatan eksploitatif manusia,” tulisnya dalam laman The Conversation.

Ecohoror mampu mengeksplorasi cerita yang berhubungan antara manusia, alam, dan makhluk hidup lainnya. Sebut saja film Godzilla (1954)—monster yang bangkit akibat ledakan bom nuklir.

“Liputan Project Multatuli juga menegaskan alam sebagai entitas yang aktif. Pohon yang seolah menolak ditebang, batu yang tidak bisa dihancurkan, berikut kisah-kisah ganjil yang menyertainya, adalah fenomena-fenomena yang menunjukkan bahwa alam memiliki cara tersendiri untuk melawan gencarnya pembangunan infrastruktur oleh negara,” tambahnya.

“Hal ini menegaskan potensi ecohorror untuk dikembangkan di Indonesia sebagai alternatif dari tayangan horor yang terjebak dalam narasi agama. Riset tahun 2022 sudah membuktikan bahwa film horor merupakan salah satu genre terfavorit masyarakat kita. Sehingga, ecohorror sebagai sub-genre film horor punya peluang untuk diminati sebagaimana film-film hantu lainnya,” tandasnya.

Artikel selengkapnya dapat diakses melalui laman https://theconversation.com/ecohorror-alternatif-untuk-film-horor-religi-di-indonesia-229812

 

 

 

Bullying

International Stand up to Bullying Day atau hari internasional menentang bullying selalu diperingati setiap bulan Februari dan November. Untuk bulan Februari selalu diperingati pada hari Jumat terakhir, yakni tepat pada tanggal 23 Februari 2024. Sementara di bulan November diperingati pada Jumat ketiga.

Merujuk pada laman National Today, tujuan dari International Stand Up to Bullying adalah untuk menciptakan empati dan menghentikan perundungan dan pelecehan. Hal ini perlu disuarakan lebih masif karena bullying memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental seseorang.

Lantas bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Menurut data yang dihimpun oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) setidaknya terdapat 30 kasus bullying di sekolah sepanjang 2023. Bullying paling banyak terjadi pada tingkat SMP sebanyak 50%, disusul tingkat SD 30%, dan SMA sederajat 20%.

Baru-baru ini kasus bullying salah satu siswa SMA menjadi perhatian publik, Vincent Rompies sebagai orangtua yang anaknya tengah terlibat dalam kasus tersebut sempat dimintai keterangan dari pihak kepolisian. Pria berusia 43 tahun itu mengucapkan ungkapan empati atas peristiwa tak terpujin yang dilakukan sang anak dan menyerahkan segala proses hukum kepada pihak berwajib.

“Saya sangat berempati atas kejadian atau peristiwa yang terjadi saat ini. Dan juga harapannya semoga tidak ada lagi peristiwa-peristiwa atau kejadian seperti ini di masa mendatang, baik di lingkungan sekolah atau di lingkungan terdekat. Semuanya tidak ada lagi,” ucap Vincent Rompies dilansir dari laman HaiBunda.

Perlu diketahui di Indonesia pelaku bullying dapat dipidana, mengacu pada UU No. 35 tahun 2014 tentag Perlindungan Anak, Pasal 76C dijelaskan bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasn terhadap anak.

Sementara Pasal Hukum Bullying dalam KUHP diatur dan dijamin dalam UUD 1945 Pasal 28B ayat (2), setiap anao berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Beberapa pasal salah satunya Pasal 170 KUHP pelaku bullying dapat dipidana penjara enam bulan hingga lima tahun.

Meski demikian, kasus bullying di Indonesia tak terelakan. Maka sebagai masyarakat di Indonesia kita perlu bersuara mengenai International Stand up to Bullying Day. Selain berdampak pada kesehatan mental dan fisik fakta menyebutkan di Amerika bullying menjadi isu yang serius ditangani, 1 dari 5 siswa berusia 12 hingga 18 tahun mengalami perundungan. Tak hanya itu setidaknya 160.000 anak putus sekolah atas hal ini.

Salah satu staf Prodi Ilmu Komunikasi UII yang berinisial DP bercerita soal pengalamannya yang menerima perundungan sepanjang masa sekolah merasa International Stand up to Bullying Day adalah hal yang sangat diterima dan perlu diimplikasi oleh masyarakat Indonesia.

“Harapannya kesadaran ini perlu dibangun di sekolah maupun di rumah. Saya tidak tahu bagaimana kalau di sekolah, semoga ada materi yang memberi pengetahuan tentang kesehatan mental akibat bullying, apa saja tindakan yang berpotensi menyakiti orang lain. Mungkin perlu ya merayakan dengan saling meminta maaf berjabat tangan di sekolah. Sementara untuk orangtua penting juga mengetahui pengetahuan ini,” ujarnya.

Dampak bullying yang dialami sepanjang masa sekolah membuatnya mengubah banyak hal dalam kehidupannya. Ia merasa menjadi sosok yang takut, menghindari kelompok-kelompok yang mendominasi, dan cenderung diam. Bahkan DP mengubah style fashionnya, dari yang gemar mengenakan outfit pink menjadi gelap seperti hitam dan abu-abu karena tak ingin terlihat oleh pandangan orang lain.

Di Amerika International Stand up to Bullying Day diperingati dengan beberapa hal, pertama mengenakan outfit berwarna pink sebagai bentuk dukungan kepada korban. Kedua meningkatkan kesadaran, salah satunya membagikan informasi terkait bullying di media sosial dan cara mengambil langkah-langkah hukum. Terakhir, membuat event di lingkungan kerja dan mengajak rekan-rekan lainnya untuk merayakan hari anti bullying.

Lantas bagaimana menurutmu Comms? Apakah ingin turut merayakan International Stand up to Bullying Day demi keadilan.

 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Sebuah catatan menarik yang ditulis oleh Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si., salah satu dosen prodi Ilmu Komunikasi UII yang berkesempatan menjalani program visiting lecturer di School of Creative Management and Performing Arts (SCIMPA), University Utara Malaysia (UUM). Cerita mengalir terkait materi yang komprehensif hingga jelajah wisata kuliner di distrik Changlun.

Visiting lecturer merupakan program kerja sama yang disepakati oleh Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan SCIMPA UUM. Berikut catatan yang juga diposting pada media sosial pribadinya.

Visiting Lecturer di UUM Malaysia

4-10 November 2023

Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si., saat mengajar di SCIMPA UUM, Foto: Doc pribadi

Fenomena mahasiswa memiliki akun FB lebih dari satu ternyata tidak hanya jamak terjadi di Indonesia, tetapi juga di Malaysia. Bagi para millenials, media sosial begitu penting, bukan semata soal etalase citra diri, tapi ia kini bertransformasi sebagai tool of business.

Merujuk artikel Jiayin Qi (2018), ada pergeseran dari motive presentation of self (Goffman) ke social capital (Bourdieu) dan juga ke shared world (Heidegger).

Kini motivasi membuka akun makin beragam, bangga punya beberapa akun sosmed sekaligus, makin kompleks, memicu perilaku ekonomi berbagi, yang berpola post-privacy di satu sisi, melahirkan ketergantungan pada platform, kolonialisasi platform disisi lain.

Masalahnya, apakah ada kesadaran yang tinggi atas tergerusnya ‘waktu luang’ personal dan hilangnya kedaulatan atas wilayah privasi, data pribadi ketika ber-medsos? Apakah ada kondisi resiprokal: aktivasi/engagement atas medsos dengan right/request to platform owners untuk moderasi konten? Relasi kuasa user dengan platform digital seperti Instagram dan TikTok yang sangat tidak imbang tampak tak dirasakan sebagai ‘masalah’, seolah-olah layanan gratis, tanpa batas.

Pertanyaan dan gugatan kecil ini saya kemukakan saat mengisi kelas selaku dosen tamu pada School of Creative Management and Performing Arts (SCIMPA), University Utara Malaysia (UUM) di Kedah pekan ini, 4-10 November 2023. Selama kurang lebih satu pekan, saya mendapat kehormatan untuk mengikuti budaya akademik, berdiskusi dengan para eksekutif SCIMPA terkait Dual Degree, dan ini yang menggairahkan: mengisi beberapa kelas mahasiswa tingkat bachelor (S1), mengupas the future of digital media, digital media regulation hingga AI journalism.

Menjalankan tugas visiting lecturer, ibarat menjadi ‘warga negara kehormatan’ di UUM. Saya bukan hanya mendapat akses masuk Kompleks kampus dengan area geografis terbesar di Malaysia 24 jam, tinggal di hotel kampus, tapi disediakan ruangan kerja, plus keramahan para academic staf saat ngobrol di pantri, ketemu di koridor menuju kelas, dll.

UUM berlokasi di kawasan Sintok, negara bagian Kedah, dekat perbatasan Thailand, daerah paling utara Malaysia. Dari total 30 ribu mahasiswa, sekitar satu ribu adalah mahasiswa asing dari Eropa dan Timur Tengah. Merujuk QS rating, UUM berada di kisaran 400-450 universitas terbaik di dunia.

Undangan resmi dari Rektor UUM mengikuti Faculty Exchange 2023 untuk berbagi ilmu dan pengalaman akademis terasa istimewa, meskipun durasi offline-nya pendek, satu pekan. Sisa waktu antara November 2023 hingga Februari 2024 agar genap satu semester, berpola online, termasuk mentoring mahasiswa semester 5-6, yang mengerjakan thesis writing, creative production, dll.

Berbeda dengan universitas pada umumnya di Indonesia, UUM adalah model universitas terintegrasi yang mirip ‘pondok pesantren’ di Indonesia. Seluruh mahasiswa wajib tinggal di dalam kampus, beraktifitas akademik dan sosial. Cik Amir dan Ruzinoor, dua dosen senior yang menjadi host mengajak keliling sport center, culinary dan health center, hingga mengajak menikmati menu makan siang di warung dekat perbatasan Thailand. UUM adalah visi besar Dr. Mahathir Muhammad, ‘golden boy’ of Kedah untuk membangun kampus yang paling luas dan lengkap, termasuk lapangan golf dan menembak.

Pada kelas mata kuliah regulasi dan etika untuk industri kreatif di lantai 3 SCIMPA, para mahasiswa yang notabene masih semester satu antusias menyimak penjelasan disrupsi dan kuasa digital yang merendahkan humanitas menjadi sekedar angka algoritma. Mereka sependapat, posisi etika dan regulasi menjadi penting sebagai bentuk pelibatan negara, bukan semata user dan platfom digital dalam kerja moderasi konten digital.

Pada kelas introduction to digital media dengan jumlah mahasiswa yang lebih kecil, mereka, termasuk satu mahasiswa asal dari Jepang antusias mengupas isu robotic journalism, alienasi teknologi atas dunia sosial yang genuine, dan ancaman krisis lapangan kerja fisik pasca disrupsi digital.

Model visiting lecturer yang dikemas hibrid: offline dan online dengan tetap berdurasi satu semester bisa menjadi jalan baru memperkuat budaya mobilitas akademik akademisi Indonesia-Malaysia, yang beyond conference dan publikasi. Ketika ajang konferensi semakin turistik, instant, maka visiting lecturer menyajikan hal sebaliknya: pertukaran ilmu, community engagement jangka panjang.

Tahun ini UUM mengemasnya dalam konsep exchange week (offline) yang memuat aktifitas mengajar, sharing pengalaman publikasi internasional, strategi dan arah kebijakan internasionalisasi, pola karir para akademisi, sharing pengalaman dan jaringan riset kolektif, showing latest campus facilities, dll.

Tinggal satu pekan di kawasan bebas macet Sintok sepertinya sangat pendek. Menikmati aroma dan rasa nasi lemak, nasi kandar, teh tarik, dll menjadi agenda harian tambahan, disertai diskusi dengan warga lokal distrik Sintok, Kedah. Secara kebetulan saya juga telah menjadi board editor Jurnal of Creative Industry and Sustainable Culture SCIMPA sehingga membuka ruang diskusi terkait tata kelola, indexing dan budaya publikasi. Kami mendiskusikan hal ini sambil makan nasi Briyani Ayam Tandoori di warung Islamabad, distrik Changlun, 10 kilo dari UUM.

Kembali ke fenomena sosmed di atas, visiting lecture bagi UUM bukan lagi soal presentation of selfism, lewat indeksasi jumlah pengajar- mahasiswa asing di satu kampus, tapi ruang ‘shared world’, sharing social capital atas nama ekualitas dunia akademik. Pada farewell high tea yang dihelat di resto hotel EDC Kamis sore, Dr Hisyam, Dekan SCIMPA School berbagi optimisme kolaborasi lanjutan terdekat: riset bersama tahun 2024 dengan sharing pendanaan, more exchange lecturer, dll.

Terimakasih SCIMPA UUM dan Program Studi Komunikasi UII atas pertukaran akademik singkat ini. Khususnya, untuk pengalaman kecil mengajar dengan kombinasi bahasa pengantar Inggris, Indonesia dan Melayu, suatu hybrida komunikasi yang unik, ada local wisdom.

Selebihnya, menghayati keramahan scholars negeri jiran, ‘on the spot’ mengingat lagu lagu legendaris tahun 1990-an, seperti Suci Dalam Debu, Isabella, atau lagu lagu gubahan P. Ramlee adalah sebuah kemewahan. Selain lagu-lagu slow rock, nasi lemak, nasi kandar dan teh tarik adalah cara lain memahami negeri jiran, yang makin progressif dalam kerja-kerja kolaborasi akademik global.

 

*Catatan ini telah terbit di Facebook pribadi pemilik

AWG

Letak geografis negara Indonesia selama ini dianggap keuntungan luar biasa. Selalu dikagumi dan disanjung dengan kata-kata cantik, indah, dan menakjubkan karena laut dan gunungnya yang  menyimpan sumber daya dan selalu estetik dalam potret yang bertebaran di media.

Namun, ada hal yang luput tentang keindahan Indonesia. Seolah terbuai dengan keindahan, Indonesia ternyata negara rawan bencana mulai dari gempa bumi, tsunami, erupsi, hingga banjir.

Berdasarkan riset bertajuk World Risk Report 2022 yang dirilis oleh Bündnis Entwicklung Hilft bersama Institute for International Law of Peace and Armed Conflict (IFHV) of the Ruhr-University Bochum menyebut bahwa Indonesia merupakan negara paling berisiko terkena bencana kedua di dunia dengan skor World Risk Index (WRI) sebesar 43,50 poin.

Dalam laporan tersebut terdapat 193 negara berisiko terkena bencana di dunia, posisi pertama adalah Filipina dengan skor WRI 46,86 poin, disusul Indonesia. Selengkapnya dapat diakses melalui https://reliefweb.int/report/world/worldriskreport-2023-disaster-risk-and-diversity.

Setidaknya ada lima indikator mengapa Indonesia masuk dalam negara kedua paling rawan bencana di dunia yakni paparan (exposure), kerentanan (vulnerability), kerawanan (susceptibility), kurangnya kapasitas mengatasi masalah (lack of coping capacities), kurangnya kapsitas adaptasi (lack of adaptive capacities).

Peliknya persoalan bencana di Indonesia seolah tak banyak dilirik, terbukti dengan minimnya edukasi dan literasi kebencanaan di ranah pendidikan. Melihat keresahan ini, International Program Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar workshop bertajuk “The 4th Annual Workshop on Globalization 2023: Media and Disaster Journalism, Comparing Indonesian and Japanese Experiences” pada 19 Oktober 2023 di Perpustakaan Pusat UII.

Annual Workshop on Globalization (AWG) ini merupakan workshop tahunan yang digelar oleh International Program Prodi Ilmu Komunikasi UII. Dalam diskusi yang dipandu oleh Dr. Zaki Habibi hadir tiga pembicara yakni Yoshimi Nishi, Professor and Researcher in The Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, Jepang. Pembicara kedua adalah Ahmad Arif, General Chairman of Disaster Journalist for Indonesia and Kompas Journalist. Ketiga, Muzayin Nazaruddin, Researcher on Disaster and Enviromental Communication, Universitas Islam Indonesia.

AWG

Annual Workshop Globalization, foto bersama pembicara dan mahasiswa
Foto: Rizka Aulia Ramadhani

Comparing Indonesian and Japanese Experiences

Membandingan Indonesia dan Jepang dalam segi pengalaman bencana menjadi inti pembahasan AWG kali ini. Jika Indonesia masih terperangkap dalam eksploitasi tangisan kehilangan akibat bencana di media, ternyata Jepang lebih memberikan edukasi cara bangkit hingga antisipasi bencana susulan dalam berita di media lokal dan nasional.

Yoshimi Nishi menyampaikan materi terkait “Collective Memory and Inheritance of Disaster Experience in Jepang”, ia menjelaskan konsep mitigasi bencana, komunikasi bencana yang dibangun pemerintah di Jepang, hingga Memorial Day yang terus disampaikan dalam sistem pendidikan di Jepang agar semua siswa dari generasi memahami negaranya adalah tempat rawan bencana sehingga mampu beradaptasi dan bangkit dari bencana.

Salah satu komunikasi dan edukasi dibangun melalui film dan drama series. Tahun 2016 ada Your Name atau dalam bahasa Jepang Kimi no Na Wa, Shin Godzilla (2016), Crimson Fat (1976), Oshin (1983-1984), dan banyak lainnya.

Film sengaja dijadikan media edukasi bagi masyarakat Jepang, bahkan mereka memiliki kalimat ampuh yakni “sonae” “kakugo” yang berarti kesiapsiagaan.

Disaster film is strategy disaster management. From costume to culture, sonae kakugo,” ucap Yoshimi Nishi.

Ia menjelaskan terkait cerita yang dibangun melalui berbagai cara dan upaya mampu membangkitkan kesiapsiagaan masyarakat di Jepang dalam menghadapi bencana besar seperti tsunami maupun gempa.

Your body moves without you even thinking abaout it, culture transmitted acrros generations. Stories can experience events you have never experienced before,” imbuhnya.

Jika di Jepang masyarakat telah siap dan beradaptasi dengan bencana, lain halnya dengan Indonesia. Ahmad Arif yang telah malang melintang di dunia media menyampaikan materi terkait “Lesson from Aceh Tsunami 2004 in Japan 2011: Disaster Similiarities, Differences in Media Responses” menyebut bahwa media di Indonesia masih terperangkap dalam eksploitasi kesedihan bencana.

Dari pengalaman meliput kedua bencana, Ahmad Arif membuka materi dengan membandingkan data kedua bencana yang berkekuatan sama, gempa tsunami di Aceh berkekuatan Mw 9,1 memakan korban 126.915 orang meninggal, 37.063 dinyatakan hilang. Sementara di Sendai, Japan dengan kekuatan gempa tsunami Mw 9,1 dengan korban meninggal 15.883 meninggal dan 2.681 korban hilang.

Angka-angka itu menjadi fakta bahwa Indonesia masih minim kapasitas dalam mengatasi dan adaptasi bencana. Banyak faktor yang membuat Indonesia tertinggal jauh dalam menghadapi bencana karena budaya dan kebiasaan masyarakat.

“Indonesia tertinggal dari Jepang, agak susah meniru karena berbagai faktor mulai dari budaya, antropologi, dan sejarah,” terang Ahmad Arif.

Minimnya pengetahuan mitigasi bencana semakin diperparah dengan karakter media di Indonesia. Dari riset yang dilakukan oleh Ahmad Arif ada perbedaan mencolok dalam segi peliputan. Bencana tsunami Aceh 2004 seolah terputus karena akses dan informasi terputus sehingga foto kejadian itu diketahui di hari kedua. Sementara pada tsunami Sendai 2011, informasi langsung diketahui di hari yang sama karena media di Jepang telah mengantisipasi peristiwa yang akan terjadi.

“Foto tsunami Aceh baru diketahui di hari kedua, foto yang dicantumkan pada hari pertama itu tsunami di India. Berbeda dengan di media Jepang yakni Yomiuri Shimbun, media di sana sudah mengantisipasi peristiwa ini (bencana) akan terjadi,” jelasnya.

Ditambah fokus media di Indonesia adalah fokus memotret tragedi dengan konten yang sama dengan gambar kerusakan, orang menangis, dan gambar korban. Sementara di Jepang lebih fokus pada proses recovery.

Terakhir materi terkait “Media and Disasters: Indonesian Experiences (Some Early Reflections)” yang disampaikan oleh Muzayin Nazaruddin yang telah aktif mendalami kajian komunikasi bencana.

Pada awal penyampaian materi, ia melempar pertanyaan terkait bencana tsunami Aceh kepada audiens. Ia menanyakan apakah para mahasiswa yang lahir pada tahun sekitar tahun 2004 tahu informasi terkait bencana tersebut. Menariknya, mahasiswa menjawab mereka mengetahui dari media dan cerita orang tua namun tidak dari sekolah atau institusi pendidikan. Hal ini menegaskan bahwa minim edukasi mitigasi bencana di bangku sekolah.

Akibat eksploitasi media Indonesia terhadap tragedi bencana, berdampak pada korban bencana yang mudah mendapat informasi hoaks.

The media landscape has dramatically changed more effective for risk communication, its mean more hoax, more rumors,” pungkas Muzayin Nazarudin.

Muzayin memberikan lima tawaran untuk menghadapi dan merespons bencana di Indonesia antara lain mengintegrasikan kebijakan redaksi dengan kebijakan pengurangan risiko bencana yang lebih komprehensif dengan kebijakan pengurangan risiko bencana.

Kedua, transformasi dari “bencana sebagai peristiwa media” menjadi “jurnalisme pengurangan risiko bencana” lebih “pengurangan risiko bencana” komitmen yang lebih besar terhadap PRB, terkait komunikasi risiko, peringatan dini, dan pendidikan bencana.

Ketiga, peningkatan keterampilan jurnalis secara terus menerus terkait dengan isu-isu risiko dan terkait dengan isu-isu risiko dan bencana.

Keempat, media arus utama media lama harus  menjadi sumber yang berwibawa dan terpercaya, mengklarifikasi rumor, dan menyajikan berita yang akurat.

Terakhir, mengedukasi masyarakat tentang keterampilan pengecekan fakta keterampilan literasi media, terutama dalam isu risiko dan bencana kolaborasi dengan pemangku kepentingan yang relevan.

Itulah catatan terkait perbandingan pengalaman mengatasi bencana antara Indonesia dan Jepang. Bagaimana Indonesia ke depan ya Comms? Apakah media di Indonesia akan berhenti menyoroti tragedi dan beralih pada proses recovery seperti media di Jepang?