Tag Archive for: Ilmu Komunikasi UII

Pengumuman

Pengumuman: Pembaruan Daftar Mahasiswa Bimbingan

Telah dilakukan pembaruan daftar mahasiswa bimbingan dosen Sumekar Tanjung pada Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII). Mahasiswa yang berada di bawah bimbingan beliau diharapkan untuk memeriksa daftar terbaru guna memastikan status bimbingannya.

Apabila terdapat pertanyaan atau ketidaksesuaian data, silakan segera menghubungi pihak program studi untuk klarifikasi lebih lanjut.

Selengkapnya klik link berikut: update_daftar-mahasiswa-bimbingan-103210404_sumekar tanjung

Is it permissible to delay qadha fasting? It turns out there is a time limit

Qadha fasting is often considered trivial, so we delay it for too long and even forget about it. Qadha fasting is obligatory fasting to make up for missed Ramadan fasts due to valid reasons such as menstruation, post-natal bleeding, illness, and travelling, by fasting at another time outside of Ramadan.

We always think we have plenty of time until Ramadan comes around again. So, is it permissible to delay qadha fasting? Is there a time limit? Lutvia, a lecturer in the Communication Studies programme at UII, said that it is permissible to delay fasting as long as it is within the time frame before the next Ramadan arrives.

“You are allowed to delay your makeup fast as long as you complete them before the next Ramadan arrives. Especially if you have valid reasons like being sick, pregnant, breastfeeding, or physically struggling,” said Lutviah.

Islam is a religion that provides ease, not hardship. In certain conditions and with valid reasons such as pregnancy, illness, and breastfeeding, it is impossible to force someone to fast, or for reasons that threaten their health. However, if someone deliberately delays without a valid reason until the next Ramadan arrives, they are still required to make up their fast or pay fidyah by feeding people in need.

“If someone intentionally delays without a valid excuse until the next Ramadan comes, most scholars say they still have to make up the fast and also pay fidyah, which means feeding a person in need,” she added.

However, delaying too long is not the right choice. It should be noted that making up for fasting is not a punishment, but an opportunity from Allah for His people to complete their missed worship.

One simple tip is to set a reminder on your mobile phone or invite friends to fast together to boost your enthusiasm. “So don’t wait for the perfect mood. The sooner you start, the lighter your heart will feel. And if you know a friend who keeps saying, “I’ll do it later,” maybe send this to them,” she concluded.

UMBY Lakukan Kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII ‘Benchmarking Kurikulum dan Visi Misi’

Prodi Ilmu Komunikasi UII menerima kunjungan dari prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) pada 27 Januari 2026 di Gedung Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan dilakukan dalam rangka benchmarking kurikulum dan visi misi.

Diawali dengan memperkenalkan berbagai fasilitas penunjang kegiatan akademik dan praktik mahasiswa, Dr. Zaki Habibi., M.Comms memandu rombongan dari UMBY berkeliling lantai 3. Dimulai dari PDMA Nadim, berbagai laboratorium, hingga mini theatre yang difungsikan tak sekedar untuk screening melainkan agenda-agenda relevan lainnya.

Kegiatan selanjutnya adalah sharing session terkait benchmarking kurikulum dan visi misi. Ketua Jurusan Prodi Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin, S.I.P., M.Si., Ph.D. mengungkapkan keterbukaan terhadap kunjungan dari UMBY. Baginya aktivitas seperti ini akan memberikan peluang dan manfaat dari kedua pihak.

“Tidak akan kami tolak (permintaan kunjungan) siapa tau ada peluang kerja sama. Mungkin riset hingga kemahasiswaan,” ucapnya menyambut rombongan UMBY.

Selanjutnya menjelaskan terkait visi misi Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan membuka langsung laman resmi institusi. Gambaran masa depan dijelaskan salah satunya menyebut mimpi besar menuju The Kaliurang School of Communication, dengan membentuk klaster-klaster riset bagi para dosen di Prodi Ilmu Komunikasi. Tercatat sebanyak tujuh klaster riset menjadi komitmen awal menuju mimpi besar tersebut.

Terkait kurikulum, berbagai percobaan dan penyesuaian dilakukan. Menurut Dr. Zaki Habibi., M.Comms. perubahan signifikan terjadi pada tahun 2014. Hal tersebut dilakukan mengikuti kepakaran para akademisi hingga regulasi tingkat universitas maupun standar dari negara. Salah satunya dengan membentuk pemintan studi. Bahkan penamaan mata kuliah turut menjadi concern yang dipertimbangkan.

“Inovasi pembelajaran untuk kurikulum mengikuti aturan universitas. Penamaan banyak pertimbangan, termasuk kurikulum 2014 signifikan berbeda,” ucapnya.

Kekhasan di Prodi Ilmu Komunikasi adalah dengan menempatkan magang di semester delapan. Berbagai evaluasi dan pertimbangan mendasarinya, termasuk efektivitas masa studi.

“Sebelumnya banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang magang di semester 7 dan lanjut kerja, sehingga skripsinya dilupakan,” tambahnya.

Tercatat ada empat bidang peminatan di Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Jurnalisme Digital, Public Relations, Kajian Media, dan Media Kreatif. Pemintan tersebut telah tersebar sejak semester 4, sehingga mahasiswa mampu mempertimbangkan secara matang arah studinya.

Mengakhiri diskusi, Dr. Rila Setyaningsih, M.SI Kaprodi Ilmu Komunikasi UMBY mengaku mendapat banyak insight dari diskusi tersebut. Pihaknya juga berharap di masa depan bisa saling berkolaborasi dalam berbagai hal.

“Cukup luar biasa pengalaman yang kami dapatkan, sambutannya sangat baik dan harapan ke depan kolaborasi dua program studi ini berjalan tidak hanya dalam hal pendidikan tapi juga riset dan pengabdian masyarakat.” Tandasnya.

Kunjungan dari UMBY diakhiri dengan penandatanganan Implementasi Aktivitas (IA) kedua Prodi. Harapannya kerja sama ini memberi manfaat dalam hal peningkatan mutu pendidikan, pengembangan kurikulum, dan penguatan kualitas akademik.

Pelatihan Photovoice Warga Pesisir Demak untuk Advokasi Krisis Iklim

Di tengah ancaman banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa, warga Dukuh Timbulsloko, Kabupaten Demak, terus mencari cara untuk menyuarakan pengalaman menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata. Salah satu upaya yang kini semakin menunjukkan dampaknya adalah pelatihan photovoice yang mereka ikuti pada Oktober lalu. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UII bermitra dengan Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari ini menjadi salah satu titik penting dalam memperkuat kapasitas warga, terutama anak muda, untuk menggunakan narasi visual sebagai alat advokasi. 

Pelatihan Photovoice untuk Warga Pesisir yang didukung oleh Asuransi JASINDO dan Social Impact & Sustainability Institute (SISI) ini dirancang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan memperkuat suara warga yang hidup dalam kondisi banjir rob yang semakin ekstrem. Maka dari itu, proses pendampingan atas warga tetap dilakukan hingga saat ini oleh tim pengabdian dari Prodi Ilmu Komunikasi. 

Dua bulan pascapelatihan photovoice, tercatat ada lebih dari 60 unggahan di Instagram @timbulslokobangkit. Keberhasilan workshop tampak dari semakin beragamnya tema unggahan warga. Unggahan-unggahan itu menampilkan situasi harian masyarakat yang hidup berdampingan dengan banjir rob. Narasi visual menjadi saksi ketahanan warga menghadapi perubahan iklim sekaligus bentuk advokasi terhadap hak mereka atas lingkungan yang layak.

Instagram tersebut telah menjadi arsip sejarah bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kerusakan lingkungan, aktivitasnya direkam, hingga suara-suara kegelisahan dimunculkan. Dari keterangan Masnu’ah, Ketua Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari menyebut jika tahun 2019 Timbulsloko nyaris seperti “kampung mati” genangan air yang terus meninggi memutus akses menuju luar daerah. Berbagai upaya bangkit dilakukan, dari sisi pembangunan fisik kerja kolektif warga membangun jembatan bambu, sisi ekonomi mereka beralih profesi dari petani menjadi nelayan. Namun, upaya lain perlu dilakukan agar pengalaman dan suara mereka didengar lebih luas. Di sinilah pelatihan photovoice menjadi relevan.

“Lewat photovoice, suara masyarakat yang selama ini tidak terdengar berubah menjadi gerakan advokasi terhadap isu lingkungan yang terjadi di Timbulsloko,” ungkap Iven Sumardiantoro, salah satu fasilitator dalam pelatihan ini. 

Selama dua hari, sebanyak 12 peserta berusia 16–25 tahun dari berbagai latar belakang—pelajar, mahasiswa, buruh pabrik, hingga pekerja serabutan—mengikuti pelatihan photovoice. Pada pelatihan ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi pengalaman harian mereka hingga teknik dasar fotografi untuk kepentingan advokasi.

Metode photovoice yang digunakan berakar dari tradisi penelitian partisipatoris yang menempatkan warga sebagai subjek aktif dalam mendokumentasikan dan merefleksikan realitas sosial mereka. “Lewat foto, warga bisa bercerita tentang bagaimana kehidupan di tengah rob, kehilangan rumah, hingga cara mereka bertahan,” ujar Muzayin Nazaruddin, salah satu fasilitator. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi alat advokasi berbasis bukti visual yang dapat menjangkau publik lebih luas melalui media sosial.

Bagi warga Timbulsloko, pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membuka ruang untuk membangun kesadaran publik. Di tengah rob yang kian meninggi, suara warga kini tidak lagi tenggelam. 

Yayasan Darussalam Selokerto dan Prodi Ilmu Komunikasi UII Gelar Workshop Menjadi Guru di Era AI

Yayasan Darussalam Selokerto (YDS) dan Prodi Ilmu Komunikasi UII mengadakan Workshop bertema “Menjadi Guru di Era Artificial Intellegence (AI) & Produksi Media Pembelajaran dan Promosi Sekolah Berbasis AI.”

Workshop dilaksanakan pada Sabtu, 8 November 2025 di Restoran The Harjo’s Pancasari Yogyakarta yang dihadiri oleh pembina, pengawas, pengurus YDS, guru, tenaga kependidikan RA dan SDIT Darussalam Selokerto, serta beberapa mahasiswi Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII. Kegiatan tersebut merupakan salah satu aktivitas dari rangkaian program pengabdian masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi UII di RA dan SDIT Darussalam Selokerto.

Pemateri kegiatan ini adalah Prof. Dr Subhan Afifi, M.Si (Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII)  dan Budi Yuwono, S.Sos, M.Sn.  (Dosen STSRD Visi Yogyakarta dan Praktisi Disain Komunikasi Visual).

AI Tidak Menggantikan Profesi Guru

Prof. Subhan Afifi menyampaikan dalam materinya, teknologi AI memberikan tantangan terhadap eksistensi profesi guru, dan juga profesi-profesi lainnya di masa depan. Prof. Subhan mengutip pernyataan Bill Gates yang memprediksi bahwa dalam 10 tahun mendatang, guru-guru akan tergantikan oleh AI. Bahkan saat ini sudah mulai muncul sekolah tanpa guru.

“Tentu agendanya adalah bagaimana para guru merespon tantangan ini,” ujar Prof. Subhan. “AI atau teknologi itu hanya tools saja. Kita meyakini bahwa guru tidak tergantikan oleh AI, tapi bagaimana para guru memanfaatkan AI untuk mendukung tugas mulianya. Tugas guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi mendidik keyakinan, karakter dan akhlak mulia dengan sentuhan personal dan manusiawi. Kemampuan itu yang tidak dimiliki AI,” tambahnya.

Selain pemaparan dari Prof. Subhan, pemateri berikutnya, Budi Yuwono menambahkan, kepintaran sebenarnya dimiliki oleh manusia, bukan AI. “AI  sebenarnya “bodoh”, karena AI hanya menerima data dan mengikuti instruksi atau prompt manusia untuk memproduksi sebuah karya, seperti video dan gambar,” jelas Budi Yuwono.

Budi Yuwono memberikan stategi produksi video pembelajaran dan promosi sekolah berbasis AI.  Kuncinya adalah membuat prompt atau instruksi untuk produksi video dengan teknologi AI harus secara detail untuk mendapatkan hasil optimal yang diharapkan. “Prompt dituliskan dengan menyertakan jenis visual, subjek, detail subjek, background setting, mood atau suasana, bahkan hingga ke teknik kamera. Di sinilah letak kreativitas manusia dalam mengupayakan pekerjaan dengan menggunakan teknologi AI,” ujar Budi Yuwono.

Manfaat-Mudharat AI

Prof. Subhan menyampaikan bahwa para guru dan tenaga kependidikan bisa mengoptimalkan teknologi AI dengan berbagai manfaat dan kelebihannya untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. “Manfaatnya sangat banyak, misal membatu guru dalam hal efisiensi waktu, personalisasi pembelajaran, inovasi media dan metode, analisis data pembelajaran, pengembangan profesional hingga menjadi pendamping/asisten guru dalam mengembangkan kualitas pembelajaran,” tambahnya.

Meski demikian, selain memberikan manfaat, AI memiliki potensi dampak buruk (mudharat) yang harus diwaspadai, seperti plagiarisme, berkurangnya kreativitas dan kemandirian, hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, terancamnya privasi dan keamanan, bahkan terganggunya kesehatan mental pengguna yang menggunakannya secara berlebihan dan tidak terkontrol.

“Untuk itu diperlukan peningkatan literasi digital di kalangan para guru untuk memanfaatkan AI dengan bijak dan menegakkan etika, sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, agar terhindar dari dampak buruk AI” pungkas Prof Subhan.  (**)

Dosen Ilmu Komunikasi UII Berikan Materi Literasi Digital untuk Siswa SD ‘Upaya Menciptakan Ruang Aman untuk Anak’

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menyebutkan sebanyak 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen tercatat mengakses internet. Lantas bagaimana dengan anak usia Sekolah Dasar (SD)?

Bisa diprediksi angkanya pasti akan lebih tinggi, anak usia 7 hingga 17 tahun tercatat 74,85 persen telah mengakses internet (data tahun 2024). Masalahnya adalah apakah mereka sudah cukup bijak menggunakan telepon seluler yang tersambung dengan internet? Dengan sangat mudah anak-anak bebas menjelajah dunia, bahkan bisa tersesat.

Demi menciptakan ruang digital yang aman untuk anak, salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom. melakukan pengabdian ke SDIT Hidayatullah yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Literasi digital diberikan kepada anak-anak kelas 1 dan 2 secara bertahap, pada 24 dan 31 Oktober 2025.

Hampir 200 anak yang ditemui menyebutkan telah memiliki smartphone, sementara sedikit yang dipinjami oleh oleh orangtuanya karena belum diizinkan memelikinya secara pribadi.

“Sekarang ini anak-anak SD sudah banyak yang menggunakan gawai baik untuk hiburan (main game atau menonton video) maupun untuk mendukung pembelajaran. Namun banyak kasus di mana anak-anak memainkan game atau menonton video yang tidak sesuai untuk usia mereka,” ujar dosen Ilmu Komunikasi tersebut.

Dosen Ilmu Komunikasi UII Berikan Materi Literasi Digital untuk Siswa SD ‘Upaya Menciptakan Ruang Aman untuk Anak’

Siswa-siswi SDIT Hidayatullah

Sementara fasilitas yng mumpuni kerap kali tak diimbangi dengan pengawasan dari orang tua tentu akan berisiko. Tanpa aturan yang jelas, anak-anak dengan rasa penasaran yang tinggi tentu akan mudah mengakses konten apapun, termasuk konten yang tak sesuai uisa.

Dari laporan Komdigi yang merujuk pada survei National on Missing and Exploited Children (NCMEC), Indonesia menempati posisi keempat secara global dalam kasus pornografi anak di ruang digital.

“Banyak orang tua yang hanya memberikan fasilitas gawai ke anaknya tanpa memberikan aturan pembatasan penggunaan gawai,” jelasnya.

“Sehingga anak menggunakan gawai secara berlebihan tanpa pengawasan. Hal ini menyebabkan anak menjadi kurang bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya untuk belajar, bahkan cenderung kurang peduli dengan lingkungannya,” tambahnya.

Dalam penyampaian edukasi ini dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari penjelasan secara sederhana yang fun hingga menonton berbagai video edukasi. Berbagai tayangan seperti animasi yang menjelaskan dampak yang tidak baik dalam penggunaan smartphone secara berlebihan hingga tawaran solusi.

Anak-anak diajak untuk mengenal alam, seperti bermain di luar rumah bersama teman sebaya, membantu orang tua, belajar hingga berolahraga. Dalam literasi ini, anak-anak tetap diperbolehkan menggunakan smartphone namun dengan batasan yang jelas.

“Sebagai media literasi lainnya diberikan ular tangga internet sehat yang di dalamnya terdapat informasi sederhana diantaranya menjadikan internet sebagai tempat seru mencari ilmu, menambah pengetahuan dan pengalaman, tidak memberi tahu teman informasi yang tidak benar (hoax), tetap waspada karena di internet juga ada orang jahat yang berpura-pura baik, jangan mau jika diajak janjian bertemu dengan orang yang dikenal lewat internet, selalu bercerita dengan orang tua tentang pengalaman di internet, tidak melakukan pembullyan di dunia maya serta informasi positif lainnya,” tandasnya.

PRESS RELEASE – KalFest Hub Seri #8 Berkolaborasi dengan ReelOZInd! ‘Menyatukan Film Pendek Indonesia-Australia di Jogja’

Menjadi agenda penutup tahun ini, Kaliurang Festival Hub (KalFest Hub) seri #8 berkolaborasi dengan ReelOzInd!. Festival digelar pada Kamis, 23 Oktober 2025 di Ruang Audio Visual Balai Layanan Perpustakaan Grhatama Pustaka DPAD DIY.

ReelOzInd! adalah kompetisi dan festival film pendek yang ditujukan kepada sineas dari Australia dan Indonesia. Tahun 2025, ReelOZInd! Yang digawangi oleh Jemma Purdey (Autralia) dan Gaston Soehadi (Indonesia) mengambil tema Imajinasi berhasil mendapatkan 9 pemenang dari berbagai kategori.

KalFest Hub seri #8 ini menjadi momen spesial karena film-film pendek yang mendapatkan award akan diputar secara perdana dan serentak di Yogyakarta (Indonesia) dan Melbourne (Australia).

Menjadi tuan rumah, Dr. Zaki Habibi selaku Kaliurang Festival Hub Programmer menyebut bahwa kesempatan ini dapat tercapai karena telah membangun jejaring yang cukup intensif dengan Jemma Purdey, Direktor Festival ReelOzInd!.

“KalFest Hub telah lama membangun jejaring dengan programmer Jemma Purdey dari Melbourne, yang membuka kesempatan kolaborasi untuk memutar film ReelOzInd! di Jogja,” ucapnya.

Pada kesempatan ini selain menhadirkan premiere screening 9 film, juga akan dilanjutkan dengan diskusi bersma Kevin Evans (Indonesia Director The Australia-Indonesia Centre) dan Dr. Dyna Herlina S (Film Researcher, Universitas Negeri Yogyakarta, Ketua KAFEIN). Beberapa pemenang ReelOzInd! Juga akan hadir untuk mewarnai diskusi dari kacamata produksi.

“Dalam seri #8 yang menjadi penutup tahun 2025, pemutaran film diselenggarakan di Kaliurang Festival Hub, Jogja, dilanjutkan dengan diskusi bersama tamu spesial dan filmmaker,” ujar Dr. Zaki Habibi.

Bagi pecinta dan pengkaji film agenda ini adalah kesempatan berharga yang sayang untuk dilewarkan. “Festival ini menghadirkan Premiere Screening serentak di Melbourne dan di Jogja pada 23 Oktober 2025, memberikan akses film yang sama tanpa harus ke Melbourne,” tandasnya.

Berikut beberapa daftar film yang akan diputar pada KalFest Hub Seri #8 x ReelOzInd!:

Final Film ReelOzInd! 2025 – Running Sheet

(Best Animation) Leleng | Zaenal Abidin (director) | Firman Widyasmara (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Documentary) Wadjemup Wirin Bidi | Glen Stasiuk (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Buried in Time | Deandrey Putra (director/producer) | Farhan Nugraha (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Fallow | Bonnie Van De Ven (director) | Andrew O’Keefe (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Special Mention Documentary) Fighting for the Future | Marjito Iskandar Tri Gunawan (director/producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Young Filmmaker) Hurt People, Hurt People | Isla Ayu Sri Ward (director/writer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Young Filmmaker) Running Away | Dari Justin (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Animation) Elephant | Mia Innocenti (writer/director) | Phoebe Blanchard (writer) | Tenzin Kelly-hall (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Best Fiction/ Best Film) Kau, Aku, dan Kursi Itu (You and Me and that Chair) | Trivita Tiffany Winataputri (director/writer) | Matt Wallace (director) | Lawrence Phelan (producer) | Australia/Indonesia | 2023 | All Ages

Dengan kolabarasi antara KalFest Hub seri #8 dengan ReelOzInd! Mampu mempererat relasi kedua negara. Selain itu film-film yang dihadirkan memberikan kesempatan berbagi cerita yang jauh dari stereorip dan drama politik. Festival ini bertujuan meningkatkan kesadaran dari kedua Negra lewat karya kreatif.

“Kolaborasi ini diharapkan memperkuat jaringan dan relasi antara Indonesia dan Australia, khususnya antara Jogja dan Melbourne, sesuai spirit KalFest Hubsebagai penghubung berbagai entitas.” Tandas Dr. Zaki Habibi.

Rundown KalFest Hub seri 8 x ReelOzInd!

No Pukul Kegiatan  Durasi
15.00-15.15 Registrasi Kehadiran  15 Menit 
15.15-15.25 Sambutan dari Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, FISB, UII  10 Menit
15.25- 15.30 Sambutan dari Direktur Kaliurang Festival Hub.  5 Menit
15.30.17.00 Pemutaran film pemenang (Terbaik dan Penghargaan Khusus) dari setiap kategori kompetisi ReelOzInd.  120 Menit
17.00-18.00 Diskusi bersama perwakilan dari Australia Indonesia Center dan Akademisi pengkaji film.  60 Menit
18.00-18.45 Tanya jawab  45 Menit
18.45-18.50 Penyerahan souvenir kepada pembicara dan Foto bersama.  5 Menit
18.50-19.00 Penutup 10 Menit

 

 

 

Screening Festival Film Bahari

Film berjudul Sweat Dripping in the Ripples of the River kembali diputar dalam Festival Film Bahari pada 16 Oktober 2025. Sesi menonton bersama di UIN Siber Cirebon menjadi ruang bertemunya kreator dengan penonton. Para mahasiswa yang datang menunjukkan antusias terhadap film-film yang diputar.

Salah satu kru film Sweat Dripping in the Ripples of the River, Iven Sumardiyantoro menyebut bahwa mahasiswa yang datang sebagian besar penasaran terkait bagaimana proses produksi film dokumenter. Sebagai editor sekaligus cameramen, ia menjelaskan berdasarkan pengalaman yang dilaluinya.

“Mereka banyak bertanya tentang bagaimaana produksinya. Saya menjelaskan bagaimana kerja pasca produksi, editor bekerja sama dengan sutradara untuk menjahit cerita agar cerita dapat diterima, proses ini cukup panjang,” ujarnya menjelaskan.

Pertanyaan lain juga muncul, salah satunya terkait pemilihan isu. “Dalam film dokumenter isu yang dipilih sesuai dengan realitas. Di Demak, Jawa Tengah kondisinya banyak perempuan beralih profesi sebagai nelayan karena berbagai faktor termasuk krisis lingkungan,” tambahnya.

Film dokumenter ini berkisah tentang sosok perempuan nelayan di Demak, Jawa Tengah. Menariknya, sosok nelayan perempuan dalam kisah ini tidak hanya bergulat dengan profesi dan ekonomi melainkan juga kerja-kerja melestarikan lingkungan. Ini adalah bentuk kepedulian untuk keberlangsungan ekosistem perairan di Demak.

Festival Film Bahari 2025 mengambil tema Kembali ke Laut puluhan film bertemakan laut dan kelautan diputar serentak diberbagai titik di Kota Cirebon. secara umum film-film yang diputar mengambil tema climate change hingga ekosistem laut.

Salah satu film lainnya yang diputar adalah, Whales-Beloved and Hunted garapan sutradara Michael Neberg. Film dokumenter ini merekam kapan penangkap paus Norwegia, penangkapan paus demi berbagai kepentingan terutama budaya konsumsi di Eropa.

Bagi Iven Sumardiyantoro, banyak pesan mendalam dalam film-film yang dikurasi oleh Festival Film Bahari. Selain menebalkan pemahaman soal kelautan penonton diajak membaca berbagai realitas di berbagi belahan dunia.

Sebagai informasi film dokumenter Sweat Dripping in the Ripples of the River merupakan salah satu karya kreatif yang diproduksi oleh dosen dan staf Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom. bersama Marjito Iskandar Tri Gunawan, M.I.Kom. Film ini juga terpilih dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) periode 1 tahun 2024.

Terima Kunjungan dari UNISMA 45 Bekasi, Prodi Ilmu Komunikasi UII Sampaikan Benchmarking Kurikulum hingga International Program

Prodi Ilmu Komunikasi UII menerima kunjungan dari Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi pada 6 Desember 2024 di Ruang Rapat Magister FPSB UII. Kunjungan dilakukan dalam rangka benchmarking pengembangan Program Studi di UNISMA Bekasi menuju Akreditasi Unggul.

Untuk menjawab langkah menuju Akreditasi Unggul, benchmarking yang perlu dibedah tentu soal penjaminan mutu serta kurikulum.

Pihak UNISMA 45 Bekasi yang diwakili oleh Dr. Tatik Yuniarti, M.I.Kom. selaku tim penjaminan mutu mengawali diskusi dengan menanyakan implementasi penjaminan mutu di lingkup Prodi Ilmu Komunikasi UII.

“Bagaimana Implementasi (penjaminan mutu) dan perjalanannya seperti apa, karena di UNISMA jajaran penjaminan mutu masih minim personilnya dan general di tingkat universitas. Kami sebenarnya ingin memulai per Prodi, ingin melihat implementasi yang dilakukan secara rutin setiap semesternya di tim. Sehingga menjadi gambaran bagi kami,” ujar Dr. Tatik Yuniarti, M.I.Kom.

Terima Kunjungan dari UNISMA 45 Bekasi, Prodi Ilmu Komunikasi UII Sampaikan Benchmarking Kurikulum hingga International Program

Terima Kunjungan dari UNISMA 45 Bekasi, Prodi Ilmu Komunikasi UII Sampaikan Benchmarking Kurikulum hingga International Program

Kaprodi Ilmu Komunikasi UII Iwan Awaluddin Yusuf, S.I.P., M.Si., Ph.D. sedikit bercerita perjalanan dari Akreditasi C menuju Unggul yang secara organik dibangun bersama-sama. Tak hanya itu percobaan demi percobaan implementasi kurikulum dilakukan hingga menemukan formulasi yang efektif untuk mahasiswa.

Salah satunya terkait penempatan magang yang lebih efektif dilakukan setelah mahasiswa menyelesaikan skripsi. Penempatan ini dilakukan setelah ada evaluasi serta concern dari mahasiswa.

“Barangkali hal-hal seperti itu (evaluasi kurikulum) kami menyeimbangkan antara tuntutan eksternal seperti kurikulum Kampus Merdeka dan sebagainya denga napa yang bisa kami kontribusikan dengan style dan sumber daya kami, keunggulan-keunggulan kami yang justru membentuk Prodi,” jelasnya.

Setalah menjelaskan berbagai formulasi yang diterapkan, pertanyaan-pertanyan lain muncul khususnya mengenai International Program Communications (IPC) yang sejak 2018 resmi menerima mahasiwa dari dalam dan luar negeri.

Secara umum, IPC terbentuk karena adanya penerimaan mahasiswa asing. UII memiliki berbagai komponen beasiswa untuk mahasiswa asing, sehingga tak sedikit menerima mahasiswa yang harus menggunakan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran.

“Ketika ada mahasiswa asing otomatis semua kebutuhan menggunakan bahasa Inggris. Kalau campur-campur mahasiswa internasional jadi tidak paham, sehingga itu menjadi komitmen kami bahwa jika ada satu mahasiswa asing jangan pernah menggunakan atau kurangi menggunakan bahasa Indonesia,” ujar Iwan Awaluddin Yusuf.

Dari sana IPC terbentuk, kini menjelang 5 tahun berjalan berbagai mobility international berjalan seperti exchange program ke Malaysia, Italia, Belanda, dan Jerman. Terakhir program unggulan yang menjadi branding IPC yakni Passage to ASEAN (P2A), program kolaborasi dengan universitas-universitas di ASEAN untuk melakukan projek bersama dengan berkeliling beberapa negara.

Dari Bekasi, rombongan UNISMA 45 diwakili oleh Winda Primasari, S.Hum., M.Si (Kaprodi Ilmu KOmunikasi), Tim Penjaminan Mutu yang diwakili Dr. Tatik Yuniarti, M.I.Kom. dan Siti Khadijah, S.Sos., M.I.Kom. serta Miftakhudin, M.I.Kom. dan Saepudin, S.S., M.Soc., Sc. selaku dosen pendamping.

Sementara dari Prodi Ilmu Komunikasi UII juga hadir Ratna Permata Sari, S.I.Kom., M.A. (Sekprodi Ilmu Komunikasi), Dian Dwi Anisa, S.Pd., M.A. (Satgas Penjaminan Mutu Prodi) dan Holy Rafika Dhona, S.I.Kom., M.A. (Kepala Nadim).

Studium Generale 2024

Berbagi riset menyebut salah satu cara menyelesaikan masalah adalah dengan kreativitas. Pernyataan tersebut bisa langsung dikonfirmasi dengan mengetikkan kata kunci ke laman pencarian Google. Namun, bagaimana caranya menjadi kreatif?

Menyambut mahasiswa baru angkatan 2024, Prodi Ilmu Komunikasi UII secara khusus menghadirkan Studium Generale bertajuk Menembus Batas: Mengembangkan Kreativitas dengan Berpikir di Luar Kotak pada 2 November 2024 di Ruang Auditorium Lt. 5 FIAI UII.

Harapannya, dengan hadirnya ruang diskusi mampu menjawab persoalan terkait bagaimana skill kreatif bekerja dan menyelesaikan masalah.

“Studium Generale ini merupakan tahapan awal, dengan kami mengundang rekan-rekan dari eksternal salah satunya alumni Prodi Ilmu Komunikasi, bisa mendapat banyak mendapatkan wawasan luas tentang dunia komunikasi dan kreatif,” ujar Ratna Permata Sari, S.I.Kom., M.A, selaku Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi UII saat membuka Studium Generale 2024.

Studium Generale 2024

Studium Generale 2024: Mengembangkan Kreativitas dengan Berpikir di Luar Kotak, Foto: Laboratorium Ilmnu Komunikasi UII

Bagaimana Menjadi Kreatif dan Berpikir Kreatif?

Menghadirkan dua tokoh yang berkecimpung di bidang industri kreatif, Prodi Ilmu Komunikasi UII memilih Fanbul Prabowo dan Paksi Raras Alit.

Menariknya, ada dua resume yang bisa kita tarik pada diskusi siang itu. Ternyata, kreativitas menyelesaikan masalah dan kreativitas bisa mengubah peradaban.

Paksi Raras Alit sebagai seorang musisi sekaligus kreator konten di YouTube dengan 200 ribu lebih subscriber memberikan insight bahwa, memulai apapun di usia muda. Tentu tak mudah, mengenali diri hingga mencari tahu apa passion yang kita miliki.

“Mengoptimalkan atau menjual semua potensi yang ada di dalam diri kita,” ujarnya.

“Dimulai dari usia yang sangat muda, enggak bisa kalian mau menjadi pengubah sesuatu di usia tua itu tidak bisa, karena bisa mudah masuk angin, sudah gampang capek,” tambahnya lagi.

Saat presentasi, Paksi menampilkan lukisan lama bertuliskan Boeng, Ajo Boeng. Lalu melempar pertanyaan kepada mahasiswa, ‘siapa pelukis lukisan tersebut?’. Singkatnya, itu merupakan karya Affandi Koesoema. Pelukis yang melegenda dengan gaya abstrak dan romantisme.

Lukisan tersebut dilukisnya ketika usia muda (tahun 1945), dan membawanya menjadi Maestro Seni Lukis Indonesia. Namanya terkenang dalam Museum Affandi di Yogyakarta. Dengan membayangkan tahun itu, tentu lukisan yang dibuat Affandi penuh dengan kisah-kisah sejarah dan momen proklamasi.

“Kreativitas bisa mengubah peradaban,” ungkapnya.

Dari sisi yang lebih modern, Fanbul Prabowo selaku CEO Infipop sekaligus alumni Prodi Ilmu Komunikasi UII membagikan pengalamannya selama bekerja di bidang industri kreatif.

Fanbul meyakini bahwa kreativitas menjadi kunci utama dalam menyelesaikan masalah. Menangani berbagai persoalan dalam memasarkan sebuah brand membuatnya harus berpikir dan bertindak kreatif. Kreativitas memasarkan sebuah brand, bisa dilakukan dengan storytelling.

“Cara menyelesaiakan masalah dengan kreativitas. Satu skill yang sangat mahal untuk anak-anak Komuniksi adalah Storytelling,” ungkapnya.

Selain dengan storytelling, Fanbul memberi pesan kepada seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2024 bahwa saat ini skill yang sangat penting dibutuhkan dalam dunia industri adalah penguasaan informasi dan komunikasi.

“Pertempuran di dunia kreatif industri ataupun di bidang kerja lain selalu informasi dan komunikasi. Siapa yang menguasai informasi dan komunikasi, siapa yang bisa mempengaruhi orang lain itu lebih powerful dari pemegang senjata.” Tandasnya.