Tag Archive for: Ilmu Komunikasi UII

Inspiratif! Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Raih Juara 3 MSQ Tingkat Nasional

Arvin Muhamad Nizar, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2025, sukses meraih juara 3 tingkat nasional dalam kompetisi Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) di event Harlah UPTQ UNISBA ke-18, Universitas Islam Bandung, pada 1 Juni 2026. Kemenangan ini juga membawa Tilawatil Qur’an wa Funun Islamiyah (TQFI UII) menjadi juara umum.

MSQ merupakan lomba yang mengungkapkan dan menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an secara berkelompok dengan memadukan pensyarah, tilawah quran, dan penghayatan terjemahan.

Arvin mengungkapkan bahwa dalam kompetisi beregu, kunci utama dalam mencapai keberhasilan adalah membangun kekompakan dan berlatih secara disiplin.

“Harus Membangun chemistry tim, latihan disiplin, doa orang tua, dan tawakal,” jelas Arvin.

Bahkan menjelang lomba, Arvin dan timnya menambah frekuensi latihan: jika biasanya hanya dilakukan seminggu sekali, menjadi setiap malam. Meski demikian, manajemen waktu yang tepat tak mengganggu jam kuliahnya.

“Memang kami ada latihan rutin setiap hari Ahad dari TQFI UII dan ditingkatkan menjadi setiap malam ketika menjelang lomba sehingga tidak mengganggu waktu kuliah,” tambahnya.

Meski demikian, bagi Arvin perjuangan ini tak mudah. Persaingan ketat dan tim lawan yang kompeten dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, serta perjalanan jauh ternyata sungguh menguras tenaga dan pikirannya.

Fakta menariknya, MSQ merupakan cabang baru bagi Arvin. Ia memang memiliki latar belakang di bidang tilawah atau MTQ. Mencoba MSQ adalah keinginan besar yang cukup menantang bagi dirinya, termasuk mengasah kemampuannya dalam bekerja sama dalam tim.

Ia menyampaikan beberapa pesan penuh makna di sesi akhir wawancara untuk seluruh mahasiswa untuk berani mencoba hal baru demi mengembangkan potensi diri. Tak hanya itu, sebagai umat Muslim, Arvin juga menyebutkan untuk selalu ingat dan dekat dengan Al-Qur’an.

“Berani mencoba hal baru, jangan ragu untuk mengembangkan potensi, manajemen waktu, manfaatkan waktu untuk belajar dan berkompetisi, luruskan niat, berusaha maksimal sebagai bentuk syiar, lalu lengkapi dengan doa orang tua serta tawakal. Terakhir, dekatlah dengan Alquran, insya-Allah Alquran akan selalu membersamaimu,” tandasnya.

7 Klaster Riset di Prodi Ilmu Komunikasi UII

Secara umum kluster riset adalah kelompok yang menghimpun para peneliti maupun akademisi berdasarkan keahlian, minat, dan keilmuan tertentu. dibentuknya kluster riset selain memecahkan masalah yang kompleks juga kolaborasi lintas disiplin. Dua tahun terakhir, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia tengah fokus menyusun kluster riset, kini terdapat 7 kluster riset yang telah disepakati.

Mengutip dari catatan St. Mary’s University, UK tentang Operational Guidelines for Research Clusters, bahwa kluster riset adalah ruang untuk peneliti berkumpul secara informal tidak kaku seperti research centre. Kluster riset juga disebut sebagai fondasi dasar ekosistem riset di sebuah fakultas maupun program studi.

Dengan keilmuan yang beragam dan interdipliner, klaster riset mampu menjembatani hambatan internal maupun eksternal dengan mekanisme yang adaptif dan fleksibel. Berdasarkan ERIC Journal, pendekatan ini mampu meningkatkan sitasi dan mendorong keterlibatan multi sektor.

Penjelasan Klaster Riset di Prodi Ilmu Komunikasi UII

  1. Klaster “Communications and Social Change”

Communications and Social Change (CSC) berfokus pada kajian dan praktik komunikasi yang bertujuan untuk memengaruhi pengetahuan, sikap, dan norma sosial demi mewujudkan perubahan sosial. Tiga fokus kajiannya meliputi behavior change communication (BCC), community mobilization, communication Advocacy.

Fokus pada strategi komunikasi untuk mendorong perubahan perilaku individu dan sosial meliputi kampanye komunikasi sosial dan perubahan perilaku, edukasi dan literasi sosial, kesehatan, lingkungan dan media, pelatihan komunikasi perubahan perilaku, dan omunikasi digital untuk perubahan perilaku masyarakat.

  1. Klaster “Communication and Technology”

Communication and Technology (CAT) mengkaji relasi antara komunikasi dan teknologi digital dalam berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Klaster ini tidak hanya memandang teknologi sebagai instrumen teknis, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem komunikasi yang membentuk interaksi, produksi makna, dan distribusi informasi di masyarakat digital.

Topik utama riset CAT meliputi media sosial, kecerdasan buatan (AI), algoritma, big data, budaya digital, komunikasi organisasi, demokrasi digital, serta literasi komunikasi, teknologi, media, dan data. Pengabdian masyarakat diarahkan pada penguatan literasi digital, etika komunikasi digital, dan pemanfaatan teknologi secara kritis dan inklusif.

  1. Klaster “Communication History”

Communication History (CH) adalah klaster yang bertujuan untuk dekolonisasi praktik dan studi komunikasi dengan menggunakan perspektif sejarah dan memory.

Pertanyaan dasar klaster ini meliputi, bagaimana praktik dan pengetahuan komunikasi sekarang merupakan bentuk kolonialitas yang diwariskan oleh dominasi dalam jaman tertentu. Kedua, bagaimana solusi (praktik, regulasi dan metode) dekolonisasi yang mungkin dalam studi komunikasi di Indonesia.

  1. Klaster “Public Relations and Strategic Communication”

Klaster Public Relations dan Strategic Communications (PR-SC) mengintegrasikan seni pengelolaan reputasi dengan sains berbasis data. Kajian ini berfokus pada transformasi PR Digital dalam membangun relasi dan kepercayaan (trust) yang autentik melalui komunikasi dialogis, sekaligus menerapkan pendekatan Data-Driven Strategic Communication untuk memastikan setiap narasi organisasi didasarkan pada analisis perilaku stakeholder yang akurat.

Dalam klaster PR and Strategic Communication: bagaimana kajian PR and Strategic Communication berkontribusi dalam mengintegrasikan seni pengelolaan reputasi dengan sains berbasis data. Teori/ konsep yang akan disasar adalah PR Digital, Reputasi, relasi, & trust, dan Data-driven strategic communication

  1. Klaster “Environment, Health, and Risk Communication

Environment, Health, and Risk Communication (EHRC), Klaster riset ini mendedikasikan kajian mengenai isu-isu lingkungan dan kemanusiaan, baik yang terjadi di masa kini maupun yang terjadi di masa lampau. Klaster riset ini memiliki tiga komitmen akademik, yaitu: krisis (crisis), kepedulian (care), dan keadilan (justice). Komitmen pada krisis merujuk pada kewajiban etis untuk menanggapi dan memperbaiki krisis lingkungan dan ekologi kontemporer. Komitmen kepedulian mengacu pada kewajiban untuk menghormati manusia, tempat, dan spesies non-manusia. Komitmen keadilan merujuk pada diprioritaskannya keadilan lingkungan dalam tiap upaya penanganan krisis, khususnya bagi pihak-pihak yang termarjinalkan. Pertanyaan utama klaster ini: bagaimana kajian komunikasi dan media berkontribusi pada penyelesaian krisis lingkungan dan pengarusutamaan keadilan lingkungan? Sebaliknya, bagaimana keterlibatan dalam isu dan diskursus lingkungan mampu mengembangkan teori dan konsep dalam kajian komunikasi dan media?

Topik-topik utama penelitian meliputi komunikasi risiko dan bencana, komunikasi kesehatan, gender dan lingkungan, komunitas lokal dan adaptasi perubahan iklim, media dan lingkungan, pengetahuan ekologis lokal, komunikasi manusia dan non-manusia, gerakan lingkungan, dan memori bencana.

  1. Klaster “Political Economy of Communication, Media and Journalism”

Political Economy of Communication, Media and Journalism (PECMJ) mengkaji dan mengembangkan pendekatan lintas disiplin khususnya ekonomi politik dalam mencermati fenomena komunikasi, media dan jurnalisme, baik dalam ranah konvensional maupun digital. Kajian ini juga berskala lintas negara, lintas korporasi, lintas organisasi publik. Klaster ini mengajak mahasiswa mengidentifikasi implikasi sistem pengorganisasian media tdan relasi kuasa terhadap proses produksi, distribusi dan konsumsi produk simbolik, termasuk masalah tata kelola media dan komunikasi (ekosistem; regulasi; aktivisme digital, media publik/pemerintah, swasta, komunitas, dll.) secara kritis, historis, dan holistik.

Konsep utama klaster ini antara lain komodifikasi, komersialisasi, konglomerasi, demokrasi, industri budaya, public sphere and cultural sphere, resistensi dan akctivism, digital labour and data labour.

  1. Klaster “Media, Creativity and Cultural Transformation”

Media, Creativity and Cultural Transformation (McACT) Klaster ini mengedepankan arti penting media dalam kebudayaan dan peradaban dengan mengombinasikan perspektif budaya (cultural perspectives), kreativitas, dan keseharian hidup (everyday life) yang melintasi batas-batas praktik sosial dan budaya. Klaster ini menempatkan media tidak hanya sebagai sarana dan “artefak” komunikasi, tetapi juga sebagai arena produksi makna, negosiasi identitas, ekspresi kreatif, serta transformasi budaya dalam kehidupan sehari-hari yang mengakar pada entitas khas dan kontekstual tempat media tersebut hadir serta dipahami melalui cakrawala dekolonialisasi pengetahuan.

Ruang lingkup pengkajian dalam klaster McACT mencakup media dan budaya populer, studi khalayak (audience studies), komunikasi dan budaya visual (termasuk kajian film, fotografi, seni jalanan, praktik visual digital, dan ekspresi visual lainnya), kajian musik dan bebunyian (music and sound studies), budaya media digital, serta praktik-praktik kreatif yang berkembang di masyarakat rural maupun urban. Dalam kurun lima tahun ke depan (2026–2030), klaster ini berfokus pada eksplorasi kata-kata kunci berikut ini everyday life, practice, identity, diversity, creativity, performativity, dan dynamics of materiality.

Melakukan Sedekah tapi Pilih-pilih, Memangnya Boleh?

Kerap kali ketika kita akan bersedekah, kita berpikir ‘apakah sedekah yang dilakukan tepat sasaran?’ sehingga kita cenderung pilih-pilih dalam memberikan sedekah. Lantas bagaimana seharusnya kita bersedekah?

Keutamaan sedekah tertulis dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran: 92, yakni “Kamu tidak akan memperoleh Kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha Mengetahui.”

Hadis lain menyebutkan bahwa “Sesungguhnya sedekah pasti bisa meredam orang-orang yang melaksanakannya dari hawa panasnya kubuh. Pada hari kiamat, orang yang beriman akan mendapat naungan (berteduh) di bawah sedekahnya (saat di dunia).” (Syu’abul Iman: 3076)

Terkait memilih kepada siapa kita bersedekah, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Fatma Nuraini Zahra, menyebutkan bahwa bersedekah seharusnya diutamakan kepada orang terdekat, yakni sanak famili yang membutuhkan.

“Dalam bersedekah kita bisa menyampaikan kepada yang lebih utama, atau mendahulukan kepada orang-orang terdekat, keluarga, dan orang-orang yang membutuhkan,” ucapnya.

Pernyataan itu sesuai dengan pesan Rasulullah SAW, “Wabda’u biman ta’ulu” yang berarti “Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu”.

Fatma Nuraina Zahra juga menambahkan bahwa dalam bersedekah, hal paling utama adalah soal keikhlasan hati. Sedekah tak hanya soal materi, namun sesederhana memberikan makanan, kado, bahkan senyuman.

“Kemudian, yang tidak kalah penting adalah bukan hanya kepada siapa yang kita perhatikan, tapi persoalan bagaimana keikhlasan kita dalam bersedekah. Jadi, tidak perlu takut lagi ya, sedekah kita salah sasaran,” pungkasnya.

Pengumuman

Pengumuman: Pembaruan Daftar Mahasiswa Bimbingan

Telah dilakukan pembaruan daftar mahasiswa bimbingan dosen Sumekar Tanjung pada Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII). Mahasiswa yang berada di bawah bimbingan beliau diharapkan untuk memeriksa daftar terbaru guna memastikan status bimbingannya.

Apabila terdapat pertanyaan atau ketidaksesuaian data, silakan segera menghubungi pihak program studi untuk klarifikasi lebih lanjut.

Selengkapnya klik link berikut: update_daftar-mahasiswa-bimbingan-103210404_sumekar tanjung

Is it permissible to delay qadha fasting? It turns out there is a time limit

Qadha fasting is often considered trivial, so we delay it for too long and even forget about it. Qadha fasting is obligatory fasting to make up for missed Ramadan fasts due to valid reasons such as menstruation, post-natal bleeding, illness, and travelling, by fasting at another time outside of Ramadan.

We always think we have plenty of time until Ramadan comes around again. So, is it permissible to delay qadha fasting? Is there a time limit? Lutvia, a lecturer in the Communication Studies programme at UII, said that it is permissible to delay fasting as long as it is within the time frame before the next Ramadan arrives.

“You are allowed to delay your makeup fast as long as you complete them before the next Ramadan arrives. Especially if you have valid reasons like being sick, pregnant, breastfeeding, or physically struggling,” said Lutviah.

Islam is a religion that provides ease, not hardship. In certain conditions and with valid reasons such as pregnancy, illness, and breastfeeding, it is impossible to force someone to fast, or for reasons that threaten their health. However, if someone deliberately delays without a valid reason until the next Ramadan arrives, they are still required to make up their fast or pay fidyah by feeding people in need.

“If someone intentionally delays without a valid excuse until the next Ramadan comes, most scholars say they still have to make up the fast and also pay fidyah, which means feeding a person in need,” she added.

However, delaying too long is not the right choice. It should be noted that making up for fasting is not a punishment, but an opportunity from Allah for His people to complete their missed worship.

One simple tip is to set a reminder on your mobile phone or invite friends to fast together to boost your enthusiasm. “So don’t wait for the perfect mood. The sooner you start, the lighter your heart will feel. And if you know a friend who keeps saying, “I’ll do it later,” maybe send this to them,” she concluded.

UMBY Lakukan Kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII ‘Benchmarking Kurikulum dan Visi Misi’

Prodi Ilmu Komunikasi UII menerima kunjungan dari prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) pada 27 Januari 2026 di Gedung Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan dilakukan dalam rangka benchmarking kurikulum dan visi misi.

Diawali dengan memperkenalkan berbagai fasilitas penunjang kegiatan akademik dan praktik mahasiswa, Dr. Zaki Habibi., M.Comms memandu rombongan dari UMBY berkeliling lantai 3. Dimulai dari PDMA Nadim, berbagai laboratorium, hingga mini theatre yang difungsikan tak sekedar untuk screening melainkan agenda-agenda relevan lainnya.

Kegiatan selanjutnya adalah sharing session terkait benchmarking kurikulum dan visi misi. Ketua Jurusan Prodi Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin, S.I.P., M.Si., Ph.D. mengungkapkan keterbukaan terhadap kunjungan dari UMBY. Baginya aktivitas seperti ini akan memberikan peluang dan manfaat dari kedua pihak.

“Tidak akan kami tolak (permintaan kunjungan) siapa tau ada peluang kerja sama. Mungkin riset hingga kemahasiswaan,” ucapnya menyambut rombongan UMBY.

Selanjutnya menjelaskan terkait visi misi Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan membuka langsung laman resmi institusi. Gambaran masa depan dijelaskan salah satunya menyebut mimpi besar menuju The Kaliurang School of Communication, dengan membentuk klaster-klaster riset bagi para dosen di Prodi Ilmu Komunikasi. Tercatat sebanyak tujuh klaster riset menjadi komitmen awal menuju mimpi besar tersebut.

Terkait kurikulum, berbagai percobaan dan penyesuaian dilakukan. Menurut Dr. Zaki Habibi., M.Comms. perubahan signifikan terjadi pada tahun 2014. Hal tersebut dilakukan mengikuti kepakaran para akademisi hingga regulasi tingkat universitas maupun standar dari negara. Salah satunya dengan membentuk pemintan studi. Bahkan penamaan mata kuliah turut menjadi concern yang dipertimbangkan.

“Inovasi pembelajaran untuk kurikulum mengikuti aturan universitas. Penamaan banyak pertimbangan, termasuk kurikulum 2014 signifikan berbeda,” ucapnya.

Kekhasan di Prodi Ilmu Komunikasi adalah dengan menempatkan magang di semester delapan. Berbagai evaluasi dan pertimbangan mendasarinya, termasuk efektivitas masa studi.

“Sebelumnya banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang magang di semester 7 dan lanjut kerja, sehingga skripsinya dilupakan,” tambahnya.

Tercatat ada empat bidang peminatan di Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Jurnalisme Digital, Public Relations, Kajian Media, dan Media Kreatif. Pemintan tersebut telah tersebar sejak semester 4, sehingga mahasiswa mampu mempertimbangkan secara matang arah studinya.

Mengakhiri diskusi, Dr. Rila Setyaningsih, M.SI Kaprodi Ilmu Komunikasi UMBY mengaku mendapat banyak insight dari diskusi tersebut. Pihaknya juga berharap di masa depan bisa saling berkolaborasi dalam berbagai hal.

“Cukup luar biasa pengalaman yang kami dapatkan, sambutannya sangat baik dan harapan ke depan kolaborasi dua program studi ini berjalan tidak hanya dalam hal pendidikan tapi juga riset dan pengabdian masyarakat.” Tandasnya.

Kunjungan dari UMBY diakhiri dengan penandatanganan Implementasi Aktivitas (IA) kedua Prodi. Harapannya kerja sama ini memberi manfaat dalam hal peningkatan mutu pendidikan, pengembangan kurikulum, dan penguatan kualitas akademik.

Pelatihan Photovoice Warga Pesisir Demak untuk Advokasi Krisis Iklim

Di tengah ancaman banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa, warga Dukuh Timbulsloko, Kabupaten Demak, terus mencari cara untuk menyuarakan pengalaman menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata. Salah satu upaya yang kini semakin menunjukkan dampaknya adalah pelatihan photovoice yang mereka ikuti pada Oktober lalu. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UII bermitra dengan Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari ini menjadi salah satu titik penting dalam memperkuat kapasitas warga, terutama anak muda, untuk menggunakan narasi visual sebagai alat advokasi. 

Pelatihan Photovoice untuk Warga Pesisir yang didukung oleh Asuransi JASINDO dan Social Impact & Sustainability Institute (SISI) ini dirancang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan memperkuat suara warga yang hidup dalam kondisi banjir rob yang semakin ekstrem. Maka dari itu, proses pendampingan atas warga tetap dilakukan hingga saat ini oleh tim pengabdian dari Prodi Ilmu Komunikasi. 

Dua bulan pascapelatihan photovoice, tercatat ada lebih dari 60 unggahan di Instagram @timbulslokobangkit. Keberhasilan workshop tampak dari semakin beragamnya tema unggahan warga. Unggahan-unggahan itu menampilkan situasi harian masyarakat yang hidup berdampingan dengan banjir rob. Narasi visual menjadi saksi ketahanan warga menghadapi perubahan iklim sekaligus bentuk advokasi terhadap hak mereka atas lingkungan yang layak.

Instagram tersebut telah menjadi arsip sejarah bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kerusakan lingkungan, aktivitasnya direkam, hingga suara-suara kegelisahan dimunculkan. Dari keterangan Masnu’ah, Ketua Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari menyebut jika tahun 2019 Timbulsloko nyaris seperti “kampung mati” genangan air yang terus meninggi memutus akses menuju luar daerah. Berbagai upaya bangkit dilakukan, dari sisi pembangunan fisik kerja kolektif warga membangun jembatan bambu, sisi ekonomi mereka beralih profesi dari petani menjadi nelayan. Namun, upaya lain perlu dilakukan agar pengalaman dan suara mereka didengar lebih luas. Di sinilah pelatihan photovoice menjadi relevan.

“Lewat photovoice, suara masyarakat yang selama ini tidak terdengar berubah menjadi gerakan advokasi terhadap isu lingkungan yang terjadi di Timbulsloko,” ungkap Iven Sumardiantoro, salah satu fasilitator dalam pelatihan ini. 

Selama dua hari, sebanyak 12 peserta berusia 16–25 tahun dari berbagai latar belakang—pelajar, mahasiswa, buruh pabrik, hingga pekerja serabutan—mengikuti pelatihan photovoice. Pada pelatihan ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi pengalaman harian mereka hingga teknik dasar fotografi untuk kepentingan advokasi.

Metode photovoice yang digunakan berakar dari tradisi penelitian partisipatoris yang menempatkan warga sebagai subjek aktif dalam mendokumentasikan dan merefleksikan realitas sosial mereka. “Lewat foto, warga bisa bercerita tentang bagaimana kehidupan di tengah rob, kehilangan rumah, hingga cara mereka bertahan,” ujar Muzayin Nazaruddin, salah satu fasilitator. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi alat advokasi berbasis bukti visual yang dapat menjangkau publik lebih luas melalui media sosial.

Bagi warga Timbulsloko, pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membuka ruang untuk membangun kesadaran publik. Di tengah rob yang kian meninggi, suara warga kini tidak lagi tenggelam. 

Yayasan Darussalam Selokerto dan Prodi Ilmu Komunikasi UII Gelar Workshop Menjadi Guru di Era AI

Yayasan Darussalam Selokerto (YDS) dan Prodi Ilmu Komunikasi UII mengadakan Workshop bertema “Menjadi Guru di Era Artificial Intellegence (AI) & Produksi Media Pembelajaran dan Promosi Sekolah Berbasis AI.”

Workshop dilaksanakan pada Sabtu, 8 November 2025 di Restoran The Harjo’s Pancasari Yogyakarta yang dihadiri oleh pembina, pengawas, pengurus YDS, guru, tenaga kependidikan RA dan SDIT Darussalam Selokerto, serta beberapa mahasiswi Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII. Kegiatan tersebut merupakan salah satu aktivitas dari rangkaian program pengabdian masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi UII di RA dan SDIT Darussalam Selokerto.

Pemateri kegiatan ini adalah Prof. Dr Subhan Afifi, M.Si (Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII)  dan Budi Yuwono, S.Sos, M.Sn.  (Dosen STSRD Visi Yogyakarta dan Praktisi Disain Komunikasi Visual).

AI Tidak Menggantikan Profesi Guru

Prof. Subhan Afifi menyampaikan dalam materinya, teknologi AI memberikan tantangan terhadap eksistensi profesi guru, dan juga profesi-profesi lainnya di masa depan. Prof. Subhan mengutip pernyataan Bill Gates yang memprediksi bahwa dalam 10 tahun mendatang, guru-guru akan tergantikan oleh AI. Bahkan saat ini sudah mulai muncul sekolah tanpa guru.

“Tentu agendanya adalah bagaimana para guru merespon tantangan ini,” ujar Prof. Subhan. “AI atau teknologi itu hanya tools saja. Kita meyakini bahwa guru tidak tergantikan oleh AI, tapi bagaimana para guru memanfaatkan AI untuk mendukung tugas mulianya. Tugas guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi mendidik keyakinan, karakter dan akhlak mulia dengan sentuhan personal dan manusiawi. Kemampuan itu yang tidak dimiliki AI,” tambahnya.

Selain pemaparan dari Prof. Subhan, pemateri berikutnya, Budi Yuwono menambahkan, kepintaran sebenarnya dimiliki oleh manusia, bukan AI. “AI  sebenarnya “bodoh”, karena AI hanya menerima data dan mengikuti instruksi atau prompt manusia untuk memproduksi sebuah karya, seperti video dan gambar,” jelas Budi Yuwono.

Budi Yuwono memberikan stategi produksi video pembelajaran dan promosi sekolah berbasis AI.  Kuncinya adalah membuat prompt atau instruksi untuk produksi video dengan teknologi AI harus secara detail untuk mendapatkan hasil optimal yang diharapkan. “Prompt dituliskan dengan menyertakan jenis visual, subjek, detail subjek, background setting, mood atau suasana, bahkan hingga ke teknik kamera. Di sinilah letak kreativitas manusia dalam mengupayakan pekerjaan dengan menggunakan teknologi AI,” ujar Budi Yuwono.

Manfaat-Mudharat AI

Prof. Subhan menyampaikan bahwa para guru dan tenaga kependidikan bisa mengoptimalkan teknologi AI dengan berbagai manfaat dan kelebihannya untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. “Manfaatnya sangat banyak, misal membatu guru dalam hal efisiensi waktu, personalisasi pembelajaran, inovasi media dan metode, analisis data pembelajaran, pengembangan profesional hingga menjadi pendamping/asisten guru dalam mengembangkan kualitas pembelajaran,” tambahnya.

Meski demikian, selain memberikan manfaat, AI memiliki potensi dampak buruk (mudharat) yang harus diwaspadai, seperti plagiarisme, berkurangnya kreativitas dan kemandirian, hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, terancamnya privasi dan keamanan, bahkan terganggunya kesehatan mental pengguna yang menggunakannya secara berlebihan dan tidak terkontrol.

“Untuk itu diperlukan peningkatan literasi digital di kalangan para guru untuk memanfaatkan AI dengan bijak dan menegakkan etika, sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, agar terhindar dari dampak buruk AI” pungkas Prof Subhan.  (**)

Dosen Ilmu Komunikasi UII Berikan Materi Literasi Digital untuk Siswa SD ‘Upaya Menciptakan Ruang Aman untuk Anak’

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menyebutkan sebanyak 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen tercatat mengakses internet. Lantas bagaimana dengan anak usia sekolah dasar (SD)?

Bisa diprediksi angkanya pasti akan lebih tinggi. Anak usia 7 hingga 17 tahun tercatat 74,85 persen telah mengakses internet (data tahun 2024). Masalahnya adalah apakah mereka sudah cukup bijak menggunakan telepon seluler yang tersambung dengan internet? Dengan sangat mudah, anak-anak bebas menjelajahi dunia, bahkan bisa tersesat.

Demi menciptakan ruang digital yang aman untuk anak, salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom. Melakukan pengabdian ke SDIT Hidayatullah yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Literasi digital diberikan kepada anak-anak kelas 1 dan 2 secara bertahap, pada 24 dan 31 Oktober 2025.

Hampir 200 anak yang ditemui menyebutkan telah memiliki smartphone, sementara sedikit yang dipinjami oleh orangtuanya karena belum diizinkan memilikinya secara pribadi.

“Sekarang ini anak-anak SD sudah banyak yang menggunakan gawai baik untuk hiburan (main game atau menonton video) maupun untuk mendukung pembelajaran. Namun, banyak kasus di mana anak-anak memainkan game atau menonton video yang tidak sesuai untuk usia mereka,” ujar dosen Ilmu Komunikasi tersebut.

Dosen Ilmu Komunikasi UII Berikan Materi Literasi Digital untuk Siswa SD ‘Upaya Menciptakan Ruang Aman untuk Anak’

Siswa-siswi SDIT Hidayatullah

Sementara fasilitas yang mumpuni kerap kali tak diimbangi dengan pengawasan dari orang tua, tentu akan berisiko. Tanpa aturan yang jelas, anak-anak dengan rasa penasaran yang tinggi tentu akan mudah mengakses konten apa pun, termasuk konten yang tak sesuai usia.

Dari laporan Komdigi yang merujuk pada survei National on Missing and Exploited Children (NCMEC), Indonesia menempati posisi keempat secara global dalam kasus pornografi anak di ruang digital.

“Banyak orang tua yang hanya memberikan fasilitas gawai kepada anaknya tanpa memberikan aturan pembatasan penggunaan gawai,” jelasnya.

“Sehingga anak menggunakan gawai secara berlebihan tanpa pengawasan. Hal ini menyebabkan anak menjadi kurang bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya untuk belajar, bahkan cenderung kurang peduli dengan lingkungannya,” tambahnya.

Penyampaian edukasi ini dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari penjelasan secara sederhana yang fun hingga menonton berbagai video edukasi. Berbagai tayangan seperti animasi yang menjelaskan dampak yang tidak baik dari penggunaan smartphone secara berlebihan hingga tawaran solusi.

Anak-anak diajak untuk mengenal alam, seperti bermain di luar rumah bersama teman sebaya, membantu orang tua, belajar, hingga berolahraga. Dalam literasi ini, anak-anak tetap diperbolehkan menggunakan smartphone, namun dengan batasan yang jelas.

“Sebagai media literasi lainnya diberikan ular tangga internet sehat yang di dalamnya terdapat informasi sederhana diantaranya menjadikan internet sebagai tempat seru mencari ilmu, menambah pengetahuan dan pengalaman, tidak memberi tahu teman informasi yang tidak benar (hoax), tetap waspada karena di internet juga ada orang jahat yang berpura-pura baik, jangan mau jika diajak janjian bertemu dengan orang yang dikenal lewat internet, selalu bercerita dengan orang tua tentang pengalaman di internet, tidak melakukan pembullyan di dunia maya serta informasi positif lainnya,” tandasnya.

PRESS RELEASE – KalFest Hub Seri #8 Berkolaborasi dengan ReelOZInd! ‘Menyatukan Film Pendek Indonesia-Australia di Jogja’

Menjadi agenda penutup tahun ini, Kaliurang Festival Hub (KalFest Hub) seri #8 berkolaborasi dengan ReelOzInd!. Festival digelar pada Kamis, 23 Oktober 2025 di Ruang Audio Visual Balai Layanan Perpustakaan Grhatama Pustaka DPAD DIY.

ReelOzInd! adalah kompetisi dan festival film pendek yang ditujukan kepada sineas dari Australia dan Indonesia. Tahun 2025, ReelOZInd! Yang digawangi oleh Jemma Purdey (Autralia) dan Gaston Soehadi (Indonesia) mengambil tema Imajinasi berhasil mendapatkan 9 pemenang dari berbagai kategori.

KalFest Hub seri #8 ini menjadi momen spesial karena film-film pendek yang mendapatkan award akan diputar secara perdana dan serentak di Yogyakarta (Indonesia) dan Melbourne (Australia).

Menjadi tuan rumah, Dr. Zaki Habibi selaku Kaliurang Festival Hub Programmer menyebut bahwa kesempatan ini dapat tercapai karena telah membangun jejaring yang cukup intensif dengan Jemma Purdey, Direktor Festival ReelOzInd!.

“KalFest Hub telah lama membangun jejaring dengan programmer Jemma Purdey dari Melbourne, yang membuka kesempatan kolaborasi untuk memutar film ReelOzInd! di Jogja,” ucapnya.

Pada kesempatan ini selain menhadirkan premiere screening 9 film, juga akan dilanjutkan dengan diskusi bersma Kevin Evans (Indonesia Director The Australia-Indonesia Centre) dan Dr. Dyna Herlina S (Film Researcher, Universitas Negeri Yogyakarta, Ketua KAFEIN). Beberapa pemenang ReelOzInd! Juga akan hadir untuk mewarnai diskusi dari kacamata produksi.

“Dalam seri #8 yang menjadi penutup tahun 2025, pemutaran film diselenggarakan di Kaliurang Festival Hub, Jogja, dilanjutkan dengan diskusi bersama tamu spesial dan filmmaker,” ujar Dr. Zaki Habibi.

Bagi pecinta dan pengkaji film agenda ini adalah kesempatan berharga yang sayang untuk dilewarkan. “Festival ini menghadirkan Premiere Screening serentak di Melbourne dan di Jogja pada 23 Oktober 2025, memberikan akses film yang sama tanpa harus ke Melbourne,” tandasnya.

Berikut beberapa daftar film yang akan diputar pada KalFest Hub Seri #8 x ReelOzInd!:

Final Film ReelOzInd! 2025 – Running Sheet

(Best Animation) Leleng | Zaenal Abidin (director) | Firman Widyasmara (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Documentary) Wadjemup Wirin Bidi | Glen Stasiuk (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Buried in Time | Deandrey Putra (director/producer) | Farhan Nugraha (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Fallow | Bonnie Van De Ven (director) | Andrew O’Keefe (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Special Mention Documentary) Fighting for the Future | Marjito Iskandar Tri Gunawan (director/producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Young Filmmaker) Hurt People, Hurt People | Isla Ayu Sri Ward (director/writer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Young Filmmaker) Running Away | Dari Justin (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Animation) Elephant | Mia Innocenti (writer/director) | Phoebe Blanchard (writer) | Tenzin Kelly-hall (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Best Fiction/ Best Film) Kau, Aku, dan Kursi Itu (You and Me and that Chair) | Trivita Tiffany Winataputri (director/writer) | Matt Wallace (director) | Lawrence Phelan (producer) | Australia/Indonesia | 2023 | All Ages

Dengan kolabarasi antara KalFest Hub seri #8 dengan ReelOzInd! Mampu mempererat relasi kedua negara. Selain itu film-film yang dihadirkan memberikan kesempatan berbagi cerita yang jauh dari stereorip dan drama politik. Festival ini bertujuan meningkatkan kesadaran dari kedua Negra lewat karya kreatif.

“Kolaborasi ini diharapkan memperkuat jaringan dan relasi antara Indonesia dan Australia, khususnya antara Jogja dan Melbourne, sesuai spirit KalFest Hubsebagai penghubung berbagai entitas.” Tandas Dr. Zaki Habibi.

Rundown KalFest Hub seri 8 x ReelOzInd!

No Pukul Kegiatan  Durasi
15.00-15.15 Registrasi Kehadiran  15 Menit 
15.15-15.25 Sambutan dari Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, FISB, UII  10 Menit
15.25- 15.30 Sambutan dari Direktur Kaliurang Festival Hub.  5 Menit
15.30.17.00 Pemutaran film pemenang (Terbaik dan Penghargaan Khusus) dari setiap kategori kompetisi ReelOzInd.  120 Menit
17.00-18.00 Diskusi bersama perwakilan dari Australia Indonesia Center dan Akademisi pengkaji film.  60 Menit
18.00-18.45 Tanya jawab  45 Menit
18.45-18.50 Penyerahan souvenir kepada pembicara dan Foto bersama.  5 Menit
18.50-19.00 Penutup 10 Menit