Tag Archive for: uii

International Seminar

The Department of Communications, Universitas Islam Indonesia, successfully held an international seminar titled “Citizen Parliament on Media and Democracy: A Tool for Democratic Renewal” on Thursday, 24 July 2025, Auditorium Room, 3rd Floor, Faculty of Social and Cultural Sciences (FISB), Universitas Islam Indonesia (UII). This seminar featured two esteemed speakers from Charles University, Czech Republic: Prof. Nico Carpentier and Assoc. Prof. Vaia Doudaki. The event aimed to introduce the concept of citizen parliament as a democratic tool and to explore the intersection of media, participation, and democratic renewal.

The event began with welcoming remarks from Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., M.Si., Ph.D., Head of Department, and Prof. Masduki, Dean of the Faculty of Social and Cultural Sciences. They expressed gratitude to the organizing team and highlighted the significance of citizen-driven dialogue in the digital age.

Following this, Dr. Zaki Habibie presented an overview of UII’s Master’s Program in Digital and Environmental Communication, providing context for how digitalization and environmental concerns intersect with communication studies, and the courses within the 4 semesters of this degree . This seminar was part of a broader Visiting Professor initiative designed to enrich academic discourse and curriculum development at UII.

It started by exploring how citizen parliaments—participatory forums where ordinary people discuss public issues—can strengthen democracy, especially in the context of media systems. Drawing from the European MEDEMA Project, Professor Carpentier explained that these forums allow citizens to deliberate, propose solutions, and offer recommendations on how media should function in a democratic society.

Building on this, Associate Professor Vaia Doudaki shared findings from a citizen parliament in the Czech Republic, where a diverse group of 20 citizens gathered to discuss media participation, representation, and regulation. They proposed 51 resolutions, with 31 accepted through consensus. These included calls for more inclusive media, stronger media literacy, protection from monopolies, and increased citizen involvement in public broadcasting.

Things to highlight as a communication student:

One of the most insightful parts of the seminar was when Professor Nico Carpentier explained that democracy is not a fixed concept, but rather an ongoing struggle. He highlighted that while most democracies are built on two core principles—representation and participation—there is often an imbalance between them. When participation is weak or absent, a political gap forms, leaving citizens disconnected from decision-making. Carpentier stressed that this imbalance becomes the subject of continuous political struggle, as different groups try to shape democracy in ways that either expand or restrict participation. In this context, citizen parliaments offer a practical response—creating spaces where ordinary people can deliberate and co-decide, ultimately working to close that gap and renew democratic practice.

It highlighted how democratic renewal is possible when citizens are given real opportunities to engage, and a call to imagine more participatory futures for media and democracy.

This seminar exemplifies UII’s commitment to fostering critical, international, and interdisciplinary dialogue. By introducing the concept of citizen parliaments, the event contributed valuable insight into how democracy can be revitalized through inclusive communication processes.

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Melacak Jejak Sejarah Penyiaran: Prof. Masduki Berbagi Ilmu di University of Amsterdam

Pada tanggal 17 Juni 2025, Prof. Masduki, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), diundang sebagai pembicara dalam sebuah seminar yang dihelat oleh Amsterdam School of Historical Studies di University van Amsterdam (UvA), Belanda. Berlangsung di gedung bersejarah Bushuis, Kloveniersburgwal 48, pusat kota Amsterdam, agenda ini menjadi ruang dialektika akademik bertema “Politics of International Broadcasting on the End of Dutch Colonialism, Japanese Occupation, and Post-Independence Period in Indonesia.”

Turut hadir para peneliti media, mahasiswa doktoral, dan dosen senior, termasuk Vincent Kuitenbrouwer, akademisi UvA yang selama ini aktif meneliti sejarah media cetak-radio pada era kolonial di Afrika dan Asia.

Prof. Masduki mengawali presentasi berdurasi 1,5 jam tersebut dengan mengajak peserta untuk menyegarkan kembali ingatan tentang perjalanan sejarah, struktur, dan dinamika politik penyiaran di Indonesia sejak akhir masa kolonial hingga pasca-kemerdekaan. Ia menyoroti bagaimana struktur politik kolonial membentuk orientasi dan tata kelola dunia penyiaran, menciptakan kontestasi abadi antara negara, media, dan masyarakat.

“Saya tidak hanya mendapat pertanyaan tapi tambahan data dan analisa/kritik yang tajam,” ungkapnya.

Melalui pendekatan historical comparative, presentasi ini juga mengulas keberlanjutan nuansa persinggungan antara semangat resistensi Timur dan pengaruh Barat dalam regulasi penyiaran sejak era kolonial hingga revisi UU Penyiaran dalam 15 tahun terakhir.

Di tengah diskusi yang serius namun dinamis, kehadiran empat mahasiswa doktoral asal Indonesia menambah warna tersendiri, khususnya tiga di antaranya yang terinspirasi riset Prof. Masduki mengenai cybertroops di Asian Journal of Communication (2022). Mereka kini meneliti fenomena eco-Islam dalam gerakan anak muda ormas Islam di Indonesia salah satu bukti nyata pengaruh kajian lintas disiplin komunikasi-politik.

Lebih jauh, Prof. Masduki juga berbagi kisah penelitiannya yang tertuang dalam disertasi S3 di University of Munich, kini telah diterbitkan menjadi buku “Public Service Broadcasting and Post-Authoritarian Indonesia” (2021). Ia memperlihatkan pola-pola pengawasan mulai dari duopoli terbatas di era Belanda, monopoli di masa Jepang, hingga pola hibrida pada masa Sukarno, Suharto, dan era reformasi. Dinamika antara kontrol negara melalui anggaran dan sumber daya manusia dengan tuntutan kebebasan serta otonomi media menjadi benang merah sejarah berdarah penyiaran Indonesia.

Diskusi semakin menarik saat para peserta menyoroti pentingnya pendekatan dekolonial dalam membaca arsip-arsip suara dan visual, bukan sekadar teks. Vincent Kuitenbrouwer secara khusus menekankan pentingnya meneliti artefak audio-visual sebagai sumber sejarah dalam perspektif dekolonisasi, sekaligus merayakan situs-situs radio kolonial di Jakarta, Yogyakarta, dan Solo termasuk kiprah SRV Solo sebagai pusat perlawanan terhadap dominasi radio kolonial.

Seminar ini bukan hanya mempererat jejaring akademik lintas negara, melainkan menjadi pemanasan bagi proyek kolaboratif multiyears yang berjudul ‘Distant Voices: Uncovering the Agency of Indonesian Broadcasters at Radio Netherlands Wereldomroep (1945-1965)’, yang didanai oleh NWO Belanda dan melibatkan peneliti dari UII, UGM, Filipina, serta UvA. Dengan menjelajah situs sejarah tanpa bias romantisme atau jebakan Eurocentrism, Prof. Masduki dan kolega berkomitmen membuka horizon baru studi media lintas disiplin dan lintas bangsa.

Pengalaman Prof. Masduki di Amsterdam menegaskan betapa kolaborasi, kebebasan akademik, dan keterbukaan terhadap pendekatan kritis menjadi kunci untuk menghidupkan kembali sejarah media dan komunikasi di Indonesia. Segenap penghargaan layak disematkan kepada semua pihak terutama Vincent, Barbara, dan Amsterdam School of Historical Studies yang membuka ruang tersebut.

Pak Rektor Mengajar: Prinsip Etika dalam Pemanfaatan Akal Imitasi

Pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam dunia akademik nampaknya perlu mendapat perhatian khusus. Alih-alih menyelesaikan tugas secara efisien, justru AI semakin mengambil peran dominan dan menguasai cara berfikir. Bagaimana seharusnya?

Dalam sesi kuliah pakar bersama Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. pada Sabtu, 19 Juli 2025 keabu-abuan AI dalam bidang akademik dibahas mendalam dalam materi bertajuk “Prinsip Etika dalam Pemanfaatan Akal Imitasi”. Dibuka dengan ilustrasi suasana ruang kelas SD, salah satu siswa menggunakan kalkulator sementara siswa lainnya mengerjakan tanpa bantuan alat.

Sekitar lima menit ratusan mahasiswa Ilmu Komunikasi diajak menganalisis ilustrasi tersebut. “Bagaimana pendapat anda terkait ilustrasi yang saya buat dengan AI ini?” ujar Pak Rektor. Jawaban beragam, mulai dari cara cepat mendapatkan hasil, ketergantungan terhadap alat, hingga perspektif ketidakadilan.

Pertanyaan dilempar ulang, “kalau yang menggunakan kalkulator adalah pedagang di pasar?” seluruh mahasiswa sepakat menjawab tak keberatan. Sama halnya dengan AI, ada etika dalam pemanfaatannya.

Meski demikian, Pak Rektor menekankan bahwa kehadiran AI tidak untuk ditolak melainkan menempatkan AI sebagai mitra kolaborasi yang adil.

“Pendekatan etis dan kolaboratif untuk mengembangkan AI sebagai mitra, bukan pengganti,” ujarnya.

“Perlu perdebatan kritis dan partisipatif untuk arah perkembangan AI yang adil,” tambahnya.

Sementara realita penggunaan AI dalam bidang akademik semakin menjauh dari etika. Secara sadar beberapa mahasiswa memanfaatkannya untuk mengambil alih pengerjaan proyek riset. Riset dari Tirto.id bersama Jakpat tahun 2024 menunjukkan jika 86,21 persen responden (mahasiswa dan siswa SMA) menggunakan AI untuk meyelesaikan tugasnya.

Menyerahkan sepenuhnya tugas pada AI sangat berdampak, secara umum manusia akan kehilangan otonomi berfikir.

“Membuat kalimat saja tidak otonom, membuat kalimat saja diserahkan ke AI. Kita kehilangan kemampuan pengambilan Keputusan,” jelas Pak rektor kepada mahasiswa.

Lebih luas, dampak dalam masyarakat akan menyebabkan terganggunya demokrasi, ekonomi, hingga keadilan. Di Hollywood beberapa pekerja seni, perawat, dan pekerja lainnya melakukan pemogokan kerja selama lima bulan lantaran sistem pengumpulan informasi pada mesin AI mengmbil karya dan riset mereka tanpa persetujuan.

“Karena model AI menggunakan rujukan karya mereka tanpa concern. Ada basis data untuk belajar, dari sini akan digunakan untuk rujukan. Memuat referensi karya-karya tanpa persetujuan,” jelasnya.

Etika Kecerdasan Buatan (AI): Nilai-Nilai Dasar

Empat nilai dasar yang menjadi landasan bagi sistem AI yang bekerja untuk kebaikan umat manusia, individu, masyarakat, dan lingkungan.

  1. Menghormati, melindungi, dan mempromosikan hak asasi manusia, kebebasan dasar, dan martabat manusia
  2. Hidup dalam masyarakat yang damai, adil, dan saling terhubung
  3. Menjamin keragaman dan inklusivitas
  4. Kesejahteraan lingkungan dan ekosistem

Etika Kecerdasan Buatan (AI): Prinsip-Prinsip

  1. Berproporsi dan tidak merugikan
  2. Keamanan dan keselamatan
  3. Keadilan dan non-diskriminasi
  4. Keberlanjutan
  5. Hak privasi dan perlindungan data
  6. Pengawasan dan keputusan manusia
  7. Transparansi dan keterjelaskan
  8. Tanggung jawab dan akuntabilitas
  9. Kesadaran dan literasi
  10. Pemerintahan dan kolaborasi multi-pihak yang adaptif

Lantas, apakah mahasiswa boleh menggunakan AI dalam menyelesaikan tugasnya? Jawaban Pak Rektor “jangan sampai kehadiran AI menginjak martabat manusia,” jawabnya lugas.

Wajah Baru Jurusan Ilmu Komunikasi UII: Launching FISB dan FP

Pengembangan organisasi terus dilakukan di Universitas Islam Indonesia (UII). Tepat di hari Rabu, 2 Juli 2025 secara resmi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) berkembang menjadi dua lembaga. Hal ini diresmikan dalam tajuk Launching Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya.

Suasana haru penuh kehangatan begitu terasa, satu keluarga FPSB kini ingin bertumbuh dan berkembang semakin kuat dalam nama baru Fakultas Psikologi (FP) dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB).

Tak hanya jajaran pengurus, mahasiswa dari dua fakultas menyambut dengan suka cita momen bersejarah di Auditorium Kahar Mudzakir.

Dekan FISB, Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si., M.A. menjelaskan bagaimana momen peluncuran tersebut akan menjadi sejarah nantinya. Secara administrasi terbentuknya dua fakultas tercatat pada 1 Juni 2025, lalu diluncurkan pada 2 Juli 2025.

“Hari ini peluncuran, bulan lalu pelantikan. Saya merujuk filsuf Prancis tentang eksistensi, aku ada SK maka aku ada. 1 Juni kelahiran eksistensi prosedural, lalu ada esksistensi secara substansi menurut saya hari ini,” jelasnya.

Pengembangan menjadi dua fakultas harapannya mampu memberi kontribusi yang lebih bermakna sesuai dengan tiga mantra UII yakni universitas sebagai rumah produksi pengetahuan. Kedua, Islam sebagai value dan kajian. Ketiga, Indonesia lokus atau local genius.

“Ilmu Sosial adalah lintas disiplin, visinya investasi pengetahuan karena tugas perguruan tinggi adal civil engagement,” tambahnya.

Senada dengan Prof. Masduki, Dekan Fakultas Psikologi menekankan bahwa pengembangan ini akan membawa masa depan yang lebih cemerlang.

“Sarana layanan umat kontribusi nyata, membawa keberkahan menuju masa depan yang cemerlang,” tambah Dr. Phil. Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si., Psikolog.

Analogi dari Rektor UII, Prof. Fathul Wahid menjadi ungkapan yang begitu mewakili, disebutnya tumbuhnya FP dan FISB ibarat penyangkokan. FPSB yang berakar kuat dikembangkan, dan tumbuh bersama-sama.

“Saya memilih ini sebagai penyangkokan. Ini sudah berakar, dipotong kemudian ditanam. Harapannya dua-duanyanya membesar,” jelasnya.

“Kita berharap pemekaran ini menjadi ruang tumbuh baru bagi gak Fakultas Psikologi dan FISB. Tak betul-betul berpisah, tapi pembagian peran. Perpisahan ini dianggap Sebagai peran kolaborasi. Lintas riset disiplin, bagaimana membangun diskusi, kolaborasi antar disiplin,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Rektor UII menegaskan untuk terus mengingat garis besar dan jalan perjuangan. Bahwa kampus atau universitas adalah rumah inteletual yang memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran melalui berbagai cara salah satunya pengembangan science. Selanjutnya tentang menyampaikan kebenaran, yakni melalui penyampaian narasi tandingan untuk mengungkap kebohongan pada publik.

Dengan pengembangan dua fakultas, kini FISB terdiri dari Jurusan Sarjana Ilmu Komunikasi, Magister Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, dan Pendidikan Bahasa Inggris. Sementara pada FP terdiri dari Sarjana Psikologi, Magister Psikologi, dan Profesi Psikologi.

Cerita Alumni Ilmu Komunikasi UII Kerja Sesuai Passion hingga Liputan Sepak Bola ke Luar Negeri

Bekerja sesuai passion diyakini akan membawa kenyamanan, antusias, hingga dedikasi yang tinggi pada bidang yang digelutinya. Cerita inspiratif ini datang dari Mozaik Al Isamer, alumni Jurusan Ilmu Komunikasi UII angkatan 2013. Kecintaanya pada penulisan dan olahraga membawanya bergelut pada pekerjaan di bidang digital.

Salah satu kalimat magis yang membuka jalan lebar peluang kariernya ia bagikan dalam sesi wawancara. “Salah satu dosen pernah bilang bahwa lulusan Ilmu Komunikasi harus bisa dua dari tiga hal yakni ngomong (good communication), menulis, dan mengoperasikan alat,” ujarnya membuka sesi wawancara.

Dari pengakuan Ojik sapaan akrabnya, profesi yang dilakoninya cenderung saling berkaitan dari mulai magang hingga terjun ke dunia profesional. Baginya passion sangat penting, bahkan dengan passion ia berkesempatan untuk meliput berbagai pertandingan sepak bola hingga mancanegara.

Penasaran dengan cerita Ojik, simak wawancara berikut:

  • Pekerjaan apa yang kini digeluti, dan mengapa memilih pekerjaan tersebut?

Saya bekerja di bidang digital lebih tepatnya media olahraga. Dulu saat kuliah salah satu dosen pernah bilang bahwa lulusan Ilmu Komunikasi harus bisa dua dari tiga hal. Yang pertama ngomong, menulis, dan mengoperasikan alat. Nah ketika mengoperasikan alat devicenya agak mahal, jadi yang saya tajamkan menulis dan ngomong. Kebetulan saya suka sepak bola, setelah dikorelasikan ketemu bahawa saya suka sepak bola, bisa ngomong, dan nulis yang cocok kerja di media. Itulah kenapa saya memilih pekerjaan ini.

  • Awal mula menggeluti bidang media, apakah ada pengalaman saat kuliah?

Pertama kali magang dari promotion staff di Radio Swaragama FM Jogja, lalu lulus menjadi creative writer salah satu media online, selanjutnya pindah ke federasi bola PSSI, dan sekarang di Sport77.

  • Bagaimana awal membangun Sport77, artinya media ini dirintis dari nol?

Dari relasi teman di pekerjaan sebelumnya ada tawaran untuk membangun bersama, dibangun pada tahun 2021 mulai visi hingga roadmap. Lalu membentuk tim dan terbentuklah sport77. Inilah pentingnya membangun relasi yang kuat.

  • Pengalaman menyenangkan selama bekerja?

Bisa satu kantor dengan teman-teman satu angkatan. Karena membangun bareng-bareng kita bisa eksplor semua hal yang pengen kita lakukan dengan catatan bisa bertanggung jawab. Terus bisa ke Spanyol.

  • Dalam rangka apa datang ke Spanyol?

Ke Spanyol nonton bola, salah satu bagian dari pekerjaan. LaLiga ada representatifnya di Asia Tenggara kebetulan mereka ada campaign untuk memberangkatkan satu media. Kebetulan LaLiga kerjasama dengan TikTok. TikTok memfollow up kita sebagai salah satu media yang kerap kerjasama dan akhirnya kita yang dipilih untuk berangkat. Di Spanyol selama 7 hari di dua kota Barcelona dan Madrid untuk menonton pertandingan. Yang dipilih dari Indonesia hanya Sport77 dan satu orang.

  • Kenapa bisa dipilih, pertimbangan dari LaLiga?

Saya tanya ke LaLiga, kami cukup rajin untuk mengikuti campaign di TikTok, selama beberapa waktu ke belakang kita memang jalan bareng dengan TikTok meliput AFF ke Vietnam, MotoGP Mandalika dan beberapa campaign lainnya. Kebetulan di campaign ini yang pas untuk berangkat dari TikTok tentu memberi SOW kepada LaLiga. TikTok merasa yang paling capable sport77.

  • Apakah bekerja harus sesuai passion, apakah sepenting itu?

Kalau menurutku sebelum menuruti passion pastikan dapur kalian aman dulu. Ketika dapur sudah aman bisa mengejar passion dimana. Namun alangkah lebih baik jika memang passion kalian bisa jadi sumber rezeki yasudah karena yang penting adalah dapur, karena dapur adalah segalanya. Kalau hanya mikirin passion tapi dapur kalian belum keisi waktu terus berjalan, akan bersaing dengan banyak orang dan orang-orang lain stepnya sudah mulai duluan.

Itulah cerita inspiratif yang dibagikan oleh Ojik, harapannya mampu memberi motivasi bagi kalian ya Comms.

Pengabdian Dosen Ilmu Komunikasi UII Bagaimana Cara Membuat Desain Packaging yang Menarik

Desain kemasan sebuah produk memiliki peran penting dalam sebuah produk. Penampakan visual memegang banyak peran mulai dari daya tarik, identitas merek, informasi produk, pengalaman pelanggan, hingga pengaruh Keputusan pembelian.

Tak hanya fokus pada kualitas produk, seorang pemilik usaha dituntut untuk adaptif dengan transformasi digital yang mengedepankan estetika visual. Menjawab persoalan tersebut dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, S.I.Kom., M.A. melakukan pengabdian bertajuk “Pelatihan Design Packaging Sederhana”.

Bekerjasama dengan Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta, pemberdayaan diberikan kepada Kelompok Informasi Masyarakat Yogyakarta (KIM YK) di Kelurahan Suryatmajan pada Kamis, 19 Juni 2025.

Sebanyak 40 masyarakat yang tergabung dalam KIM YK merupakan pelaku UMKM yang diharapkan akan

“Pemberdayaan atau pelatihan dalam konteks ini untuk meningkatkan kesejahteraan, ekonomi, dan skill. Agar komunitas ini terutama melalui masyarakat, melalui komunitas-komunitas UMKM ini bisa berdiri, bisa mandiri bahkan bahkan bisa membuka lapangan kerja,” ujar Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, S.I.Kom., M.A.

Praktiknya, pemberdayaan ini dilakukan bersama mahasiswa International Program Communication (IPC) batch 2023. Puluhan mahasiswa terjun untuk belajar langsung bagaimana komunikasi pemberdayaan pada realita sosial.

Desain packaging sederhana dilakukan menggunakan alat seadanya, melalui smartphone yang dimiliki masyarakat aplikasi Canva dikenalkan. Workshop dimulai dengan pemahaman dasar terkait desain packaging, dilanjutkan dengan praktik membuat desain di Canva.

“Kelompok komunitas didampingi oleh mahasiswa-mahasiswa IPC 2023, walaupun konteksnya adalah mahasiswa dan internasional program tapi mereka harus tahu konteks lokal itu seperti apa, bahkan konteks memberdayakan masyarakat lokal dan turun langsung ke lapangan melihat bagaimana keadaan masyarakat,” tambahnya.

Sebelum workshop, hadir pula Ketua KIM Provinsi DIY Bapak Suripto. Beliau memberikan pengarahan hingga bagaimana awal mula perintisan KIM.

Pengabdian Dosen Ilmu Komunikasi UII Bagaimana Cara Membuat Desain Packaging yang Menarik

Mahasiswa IPC turut mendampingi workshop desain packaging

Berikut rencana pemberdayaan yang akan berlangsung tiga sesi:

Rangkaian Workshop Pemberdayaan

  1. Sesi Pertama (Sudah Berlangsung)
  • Tema: Workshop desain kemasan menggunakan Canva.
  • Materi:
    • Pentingnya desain kemasan untuk produk UMKM.
    • Praktik menggunakan Canva (versi gratis/berbayar affordable).
  • Tujuan: Memberikan solusi praktis dan ekonomis untuk meningkatkan daya saing produk.
  • Pendamping: Mahasiswa IPC (International Program Communication), UII – khususnya dari mata kuliah Empowerment Communication 2023.
  1. Sesi Kedua (Rencana Minggu Depan)
  • Tema: Workshop fotografi produk sederhana.
  • Teknologi: Menggunakan kamera smartphone (tidak mengandalkan alat canggih).
  • Tujuan: Meningkatkan kualitas visual produk UMKM.
  1. Sesi Ketiga (Rencana Berikutnya)
  • Tema: Workshop e-commerce (Shopee dan platform lain).
  • Tujuan: Mengajarkan pemasaran digital produk UMKM.
  • Pemateri: Praktisi entrepreneur pemilik toko e-commerce besar dari Malioboro.

Three Habits That Boost Productivity During University Exams

University life can be intense, especially during exam season when assignments, projects, and revisions gather at once. Good habits aren’t just helpful in these moments; they’re essential. Habits are powerful because they allow us to act without overthinking, saving time and mental energy. When developed intentionally, the right habits can help students stay organized, focused, and on track for academic success. Below are three of the most effective habits for staying productive during exams and managing a heavy workload (Carden, 2018).

  1. Plan Your Day Daily

Successful students don’t leave their days to chance. Building the habit of daily planning helps bring structure to chaos. Taking 10–15 minutes each morning or the night before to write down tasks, prioritize deadlines, and block time for studying makes a huge difference. A clear plan will help to reduce anxiety, improve time management, and make large projects feel more manageable. Whether you use a physical planner or a digital app, the key is consistency.

  1. Start the Day Early

Early mornings can be a secret weapon. Waking up early provides quiet, uninterrupted hours that are perfect for reviewing notes, reading, or completing assignments. Instead of rushing through the day or staying up too late, starting early promotes a calmer and more focused routine. It’s not about waking up at 5 a.m.—just an hour earlier than usual can make a big difference in how much you accomplish.

  1. Minimize Distractions

While goal setting is important, it’s even more powerful to create an environment that supports focus. One of the best productivity habits during exam season is minimizing distractions. This could mean studying in a quiet space, turning off phone notifications, or using tools like website blockers to stay on task. Even short periods of deep, undisturbed focus can lead to more efficient studying and better results.

Forming positive habits like daily planning, starting the day early, and minimizing distractions can significantly boost productivity during exams. These habits help students use their time wisely, reduce stress, and ultimately achieve better academic results. Start with one habit, stay consistent, and let the results speak for themselves.

References

Carden, L. (2018). Habit formation and change . researchgate, 20.

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Grand Launching Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UII & Diskusi Buku “Social Media and Politics in Southeast Asia” bersama Prof Merlyna Lim

Grand Launching Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UII & Diskusi Buku “Social Media and Politics in Southeast Asia” bersama Prof Merlyna Lim (Carleton University, Canada)

Selasa, 29 April 2025, jam 09.00-12.00 WIB

di GKU lantai 2, UII Yogyakarta

(lokasi: https://maps.app.goo.gl/yvsDpJvRHSsE6Zzp6?g_st=com.google.maps.preview.copy)

Registrasi gratis di:
bit.ly/HadirMIKOMUII

#MIKOMUII

Magister Ilmu Komunikasi

Prodi Ilmu Komunikasi UII telah melakukan soft launching Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) pada 14 dan 15 Februari 2025. Di momen yang bersejarah ini, visiting professor menjadi program pertama yang menandai pendirian dan perjalanan MIKOM.

Visiting professor akan menjadi program rutin, pada kesempatan pertama Kristian Bankov seorang profesor dari Southeast European Center for Semiotic Studies, New Bulgarian University.

Tercatat pendirian MIKOM telah diinisiasi sejak awal tahun 2023. Setelah melalui berbagai proses administrasi akhir 2024 SK MIKOM akhirnya telah diterbitkan oleh Kemenristekdikti. Salah atu tim pendiri MIKOM yakni, Prof. Subhan Afifi bersama anggota lainnya menyebut telah melakukan benchmarking ke beberapa universitas dalam dan luar negeri.

“We did benchmarking with Universitas Indonesia, Universitas Multimedia Nusantara, LSPR, dan NUS in Singapura. We want to learn about the program master communication,” ujar Prof. Subhan Afifi.

Setelah melakukan persiapan secara matang, MIKOM UII akan menjadi jenjang S2 yang fokus pada Master Environmental and Digital Communication. rencananya pengajaran akan dimulai pada bulan September tahun ini.

Fokus ini dinilai relate dengan kebutuhan para pembelajar yang tengah serius membicarakan soal climate change, AI, hingga digitalism. Hal ini diungkap Muzayin Nazaruddin S.Sos., MA., Ph.D saat menyambut kedatangan Prof. Kristian Bankov di UII.

“We plan to start the first intake in September this year, and our focus is kind of combination of Environmental Communication and Digital Communication. So Master environmental and digital communication. Many institutions talking about the climate crisis, AI, digital revolution, and also some more background are the university similar with your university (private university). We have also have kind struggle to sustain and maintance for bulding or how to survive,” ujarnya.

Kolaborasi dengan Prof. Kristian Bankov dinilai sangat tepat karena latar belakang universitas sebagai (private university) harapannya memberikan banyak insight.

“Thank you for the invitation, I hope to established more durable collaboration with our university this also between the world semiotic your university may purpose my visit here,” ucap Prof. Kristian Bankov.

Pada kesempatan ini, Prof. Kristian Bankov melakukan dua kali workshop, pertama workshop untuk internal MIKOM UII terkait pengelolaan Magister. Lalu pada kesempatan kedua workshop dibuka untuk umum bertajuk Writing for International Semiotic Journals yang dibuka untuk umum.

Di hari kedua visiting professor workshop dihadiri kolega dari berbagai universitas yakni Universitas Gadjah Mada, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, hingga Universitas Pakuan.

Informasi Master of Environemtal and Digital Communication

Timeline:

  1. Intake : September 2025

Course:

 

Semester

 

Nama Mata Kuliah

Bobot SKS  

RPS

Teori Praktik
I 1. Islam Ulil Albab 3 0
2. Teori dan Perspektif Komunikasi 3 0
3. Metode Riset Kualitatif 3 0
4. Komunikasi Profetik dan Pemberdayaan 3 0
5. Komunikasi dan Budaya Digital 3 0
Total SKS – Semester I 15 0
II 1. Metode Riset Kuantitatif 3 0
2. Komunikasi Lingkungan dan Humaniora 3 0
3. Komunikasi Krisis, Risiko dan Bencana 3 0
4. Mata Kuliah Pilihan 1:

Digital PR and CSR

3 0
5. Mata Kuliah Pilihan 2:

Data Raya dan Kecerdasan Buatan

atau

Komunikasi Urban dan Aktivisme Media

3 0
Total SKS – Semester II 15 0
III 1. Publikasi Karya Ilmiah 4 0
2. Reading Course / Communication Project Preparation 4 0
3. Ekonomi-Politik Media 3 0
4. Mata Kuliah Pilihan 3:

Ekosistem Media Kreatif

3 0
5.               Mata Kuliah Pilihan 4:

Eco-semiotics and Sensory Methodologies

atau

Komunikasi Kesehatan

3 0
Total SKS – Semester III 17 0
IV Tesis/Projek Komunikasi

(memilih salah satu tipenya, yakni riset atau projek kekaryaan dalam level magister)

8 8
Total SKS – Semester IV 8 0
Total SKS 55 0
SABA WANUA

Pulitzer Center telah memberikan grant atau hibah untuk proyek terkait isu-isu climate change. Salah satu penerima grant tersebut adalah Prof. Masduki, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII. Proyek yang dikerjakan bertajuk SABA WANUA: Belajar Hidup di Samigaluh pada 3 hingga 5 November 2024.

Proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan wartawan senior Majalah Tempo, Sinta Maharani dan Anang Saptoto seorang seniman sekaligus aktivis di Yogyakarta.

“Hibah ini saya peroleh dari Pulitzer Center Asia Tenggara yang berkantor di Jakarta. Ini lembaga internasional yang concern dalam isu-isu climate change. Mereka memiliki program khusus untuk akademisi komunikasi yang dalam pelaksanaanya harus berkolaborasi dengan jurnalis,” ujar Prof. Masduki.

Gagasan yang digarap Prof. Masduki bersama timnya adalah pengembangan jurnalisme konstruktif, kemudian direalisasikan melalui workshop kepada 15 orang yang terdiri dari jurnalis, seniman, dan warga Samigaluh Kulon Progo.

Bagaimana Proyek SABA WANUA?

SABA WANUA: Belajar Hidup di Samigaluh merupakan workshop dengan metode live in selama tiga hari. Materi yang disampaikan dalam workshop mengacu pada isu lingkungan yang terjadi di Samigaluh.

SABA WANUA

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII Raih Grant Pulitzer Center, ‘Penguatan Perpektif Climate Change pada Jurnalis’

Dari pengamatan yang dilakukan Prof. Masduki dan tim 5 hingga 10 tahun terjadi krisis air di Kawasan tersebut. Ironisnya bukan karena kekeringan, Samigaluh sebagai kawasan pegunungan kaya air.

Ketersediaan air di Samigaluh sangat mencukupi masyarakatnya, namun terjadi privatisasi air di wilayah tersebut. Negara telah mengkomersialisasi, sehingga masyarakat harus membeli miliknya sendiri.

Dari kasus tersebut, salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan melakukan workshop SABA WANUA.

“Intinya adalah kita ingin mengembangkan pendekatan-pendekatan kritis, memahami bagaimana krisis air yang terjadi di Samigaluh itu dihubungkan dengan proyek strategis nasional terkait kawasan wisata Borubudur, yang itu melewati bukit Menoreh karena dialirkan atau dikoneksikan dengan bandara YIA,” jelasnya.

Akibatnya, masyarakat yang terus menerus harus membayar mulai mencari solusi dengan melakukan perawatan-perawatan sumber air alternatif.

“Ada namanya gerakan masyarakat setempat, itu yang menginisiasi penemuan perawatan sumber-sumber air alternatif untuk sustainable air supply di sana,” jelasnya.

Tujuan Proyek SABA WANUA

Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam workshop ini meliputi tiga hal. Pertama menguatkan perspektif tentang climate change terutama terkait krisis lingkungan yang dihubungkan dengan proyek strategis pemerintah, khususnya dalam konteks pariwisata.

Kedua, menguatkan keterampilan jurnalis dalam hal ini anggota PERSMA Himah UII dalam membuat liputan jurnalistik isu lingkungan.

Ketiga, bagi dosen selain berkaitan dengan data riset juga pemahaman tentang bagaimana jurnalisme berperan dalam advokasi lingkungan.

Prof. Masduki juga menambahkan harapannya dengan grant yang diterimanya mampu menambah kepercayaan Prodi Ilmu Komunikasi UII pada jejaring internasional.

“Bagi prodi penting karena juga menambah jejaring lembaga internasional yang memberi kepercayaan baik kepada dosen maupun kepada institusi. Mudah-mudahan nanti ke depan ada dosen lain lagi yang mendapatkan hibah yang sama,” tandasnya.