Posts

Reading Time: < 1 minute

Webinar Teknik Reportase dan Foto Jurnalistik bersama Komunikasi UII dan SMA 1 Sleman

Sabtu – 19 September 2020

Pukul 09.30-11.00

Via Zoom Conference:

Kelas akan dipandu dan diisi oleh

Narayana Mahendra P

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII

Galih Yoga

Freelance Photographer

Siti Fauziah

Mahasiswi Ilmu Komunikasi UII

 

 

 

 

Reading Time: 2 minutes

Pandemi Covid-19 yang merebak di seluruh penjuru dunia tidak hanya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa secara massif, tapi juga melumpuhkan sendi-sendi perekonomian. Kelompok ekonomi yang paling rentan terhadap dampak pandemi Covid-19 adalah pelaku usaha kecil menengah (UMKM). Arahan untuk melakukan jaga jarak menuntut UMKM untuk beralih ke kanal digital.

Merespons hal tersebut, pada 21 April 2020, bertepatan dengan Hari Kartini, Universitas Islam Indonesia (UII) resmi meluncurkan portal warungrakyat.uii.ac.id yang disediakan sebagai ‘tempat mangkal daring pelaku ekonomi kerakyatan’. Momentum peringatan Hari Kartini menjadi langkah awal Warung Rakyat untuk menghadirkan ‘cahaya di tengah gulita’ sebagaimana semangat Kartini. Portal warungrakyat.uii.ac.id merupakan salah satu ikhtiar UII untuk membantu warga, terutama UMKM, yang terdampak.

Portal Warung Rakyat ini menyediakan informasi yang dapat memudahkan calon pembeli dan penjual mencari komoditas yang dibutuhkan. Di samping memuat nama usaha, portal ini juga dilengkapi dengan informasi yang cukup detail terkait dengan ragam produk, alamat, kontak penjual, mekanisme pembayaran, dan pengiriman.

Berbeda dari beberapa portal yang sejenis, warungrakyat.uii.ac.id lebih berperan sebagai mediator dan tidak mengambil keuntungan apapun dari proses transaksi yang terjadi. Meskipun demikian, pengelola portal tetap melakukan proses kurasi untuk memastikan validitas dari UMKM yang bergabung. Mekanisme ini penting dilakukan untuk mengantisipasi jika terjadi malpraktik usaha yang merugikan konsumen.

 

Melalui portal ini, pelaku UMKM dapat memberikan informasi kepada calon pembelinya secara daring. Secara teknis, para pelaku UMKM dapat langsung mengunjungi portal warungrakyat.uii.ac.id dan melakukan registrasi serta melakukan identifikasi jenis produk yang ditawarkan. Ada 10 kategori produk yang tersedia di Warung Rakyat meliputi kategori makanan, alat kesehatan, minuman, jasa fotokopi, kerajinan, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan, sembako, petshop, dan penyedia jasa lain. Kategori ini dapat bertambah sejalan dengan waktu.

Sampai saat ini, sepekan sejak portal ini diluncurkan, sudah ada 260 UMKM yang bergabung. Jumlah UMKM yang bergabung kemungkinan akan terus bertambah seiring dengan pandemi Covid-19 yang belum bisa dikendalikan.

Kehadiran portal bisa menjadi solusi karena selain mudah diakses, juga menjangkau secara nasional. Ke depan portal ini juga akan dilengkapi dengan fitur-fitur lain yang tidak sekedar informasi produk melainkan juga akan dilengkapi dengan berita, galeri foto, profil UMKM, rubrik artikel atau opini, testimoni dan warung rakyat pedia yang berisi glosarium atau penjelasan tentang istilah-istilah dalam UMKM.

Fitur-fitur tersebut diharapkan memberikan pengalaman baru bagi pengunjung portal, selain melakukan kegiatan transaksi belanja, yakni memperoleh informasi lain yang dapat menguatkan literasi publik. Tidak menutup kemungkinan portal ini akan tetap berlanjut bakda pandemi Covid-19. UII percaya portal ini dapat menjadi solusi alternatif jangka pendek sekaligus jangka panjang ketika pelbagai aktivitas manusia dilakukan secara daring.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Warung Rakyat (@warungrakyat.uii) on

communication department UII Commnunication for empowerment
Reading Time: 4 minutes

Pelatihan Bahasa Inggris dan Digital Marketing Dusun Gamplong I Oleh Wafi ‘Ahdi Rahman, Putra Muhammad Dafa, Raden Dina Pancawati, Jamilatul Makrifah, Muhammad Nugraha S.

Pada awalnya, kerajinan tenun di Yogyakarta, terutama di Sleman, dimulai pada tahun 1950-an. Hasil produksinya baru berupa tenun gendong di daerah Sumberrahayu, Moyudan, Sleman. Kemudian hal tersebut memancing perkembangan tenun lurik dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) termasuk di Desa Gamplong yang kini telah menjadi desa wisata.

Desa Wisata Gamplong terdiri dari 5 dusun yang memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan. Dusun Gamplong I sebagai bagian dari Desa Wisata Gamplong dikenal memiliki beragam potensi yang dimiliki salah satunya yaitu kerajinan tenun tersebut.

Namun bahan baku kerajinan tenun bukanlah dihasilkan sendiri. Penduduk Gamplong mendapatkan bahan seperti lidi dari Cilacap, Ciamis, hingga Pangandaran Jawa Barat. Sedangkan untuk eceng gondok didapat dari Semarang. Eceng gondok yang sudah kering hasil dijemur di Pantai Selatan. Akar wangi didapatkan dari Tasikmalaya.

Dengan adanya potensi yang dimiliki oleh Dusun Gamplong I salah satunya dari kerajinan tenun ini, nyatanya masih terdapat permasalahan. Masalah ini membuat Dusun Gamplong I belum terlalu dikenal dalam cakupan yang lebih luas terutama wisatawan-wisatawan asing. Terlebih akhir-akhir ini muncul destinasi wisata baru yang ada di Desa Wisata Gamplong yaitu Studio Alam Gamplong. Studio alam tersebut memiliki daya tarik karena dinilai lebih kekinian dan populer. Akibatnya membuat potensi wisata lainnya cenderung menurun khususnya wisata kerajinan tenun.

Dusun Gamplong I telah memiliki pemandu wisata sebagai pemandu bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Namun pada praktiknya, pemandu wisata dinilai masih kurang mampu dalam berkomunikasi dengan wisatawan asing. Padahal komunikasi menjadi hal utama untuk memperkenalkan kerajinan tenun.

Permasalahan lain yang muncul yaitu pemasaran kerajinan tenun yang belum maksimal. Biasanya hasil produksi tenun diekspor ke luar negeri masih melalui pihak ketiga. Adapun faktor lain yang menjadikan pemasaran terhadap potensi wisata menjadi kurang maksimal, yaitu generasi muda di dusun tersebut kurang berminat berpartisipasi mengelola potensi yang ada.

Sebabnya beragam. Pemuda di sana memiliki aktifitas masing-masing. Ada yang masih duduk dibangku sekolah, perkuliahan, dan bekerja. Kesibukan-kesibukan ini yang membuat adanya keterbatasan waktu sehingga mereka kurang berkontribusi dalam mengelola potensi desanya.

Dengan melihat permasalahan yang ada, serta potensi yang dimiliki Dusun Gamplong I, sangat memungkinkan untuk dilakukan sebuah kegiatan yang akan membantu dalam mengembangkan Dusun tersebut. Setelah mengikuti kegiatan ini, harapannya dapat dikenal dalam cakupan yang lebih luas dan juga dapat menarik para wisatawan terutama wisatawan asing. Melalui mata kuliah Manajemen Program Komunikasi Non Komersil, Kami mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia melakukan beberapa program dalam membantu pengembangan Dusun Gamplong I.

Programnya adalah pelatihan Bahasa Inggris kepada pemandu wisata dan Pelatihan digital Marketing kepada para pemuda Dusun Gamplong I. Sebelum kegiatan-kegiatan pelatihan dilaksanakan, perlu diadakan talkshow selama satu kali pertemuan untuk membangun motivasi kepada para pemuda. Fungsinya agar dapat membantu dalam melakukan pemasaran potensi yang ada di dusun tersebut. Talkshow juga tersebut sebagai pembuka program yang akan dilaksanakan berikutnya.

Pada hari yang telah ditentukan yaitu Minggu, 10 November 2019 kami telah melaksanakan acara Talkshow yang dihadiri oleh para pemuda serta warga sekitar. Zaki Kriyan kami undang sebagai pengisi dalam acara Talkshow yang bertemakan “Generasi Muda yang Berinovasi”. Tujuannya agar dapat membangkitkan semangat dan kesadaran untuk berkontribusi dalam mengembangkan potensi yang ada pada Dusun Gamplong I.

Pada pertemuan selanjutnya yang dilaksanakan di hari Sabtu 16 November 2019 Kami telah melaksanakan Program Pelatihan Bahasa Inggris. Pesertanya terdiri dari pemandu wisata yang berjumlah 10 orang. Pada pelatihan tersebut kami menggandeng Cilacs UII sebagai mitra untuk memberikan materi. Pelatihan tersebut dilaksanakan dengan dua sesi yang bertempat di Pendopo Dusun Gamplong I. Sesi pertama dilaksanakan pada pukul 13:00 – 15:00 WIB, dengan materi “Introduction To English For Tourism and Hospitality.

Sesi kedua dilaksanakan pada pukul 15:30 – 17:00 WIB berupa praktik. Praktik ini  memperkenalkan bagaimana cara pengolahan atau pembuatan kerajinan tenun dengan menggunakan Bahasa Inggris. Tim Cilacs UII membagi peserta ke dalam dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 orang yang kemudian mempresentasikan hasil diskusi peserta. Tim Cilacs UII memberikan merchandise kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan yang telah diberikan di setiap sesi. Selain merchandise, para peserta juga diberi sertifikat dari Cilacs UII.

Program selanjutnya, yaitu program pelatihan digital marketing dengan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Minggu 17 November 2019. Acara ini dihadiri Peserta kurang lebih 15-20 pemuda Dusun Gamplong I. Pada pelatihan tersebut kami bekerja sama dengan Ahmad Faiz yang merupakan Business Development dari Jurnal.id sebagai pembicara dalam pelatihan digital marketing.

Pada sesi ini, peserta dikenalkan dengan digital marketing dasar yang kemudian diakhiri dengan pemberian tugas. Tugasnya, peserta belajar mendaftar ke salah satu marketplace serta foto produk hasil kerajinan tenun.

Pada pertemuan kedua, pelatihan digital marketing dilaksanakan di hari Sabtu, 23 November 2019. Para peserta yang hadir terdiri dari sekitar 15 pemuda Dusun Gamplong I. Namun karena terdapat peserta yang baru hadir di pertemuan kedua tersebut, sehingga pembicara harus memaparkan kembali materi yang sudah dijelaskan pada pertemuan pertama, dan menambahkan bagaimana cara mengelola marketplace (bukalapak) yang baik.

Pertemuan kedua pelatihan digital marketing tersebut sekaligus menjadi hari penutupan dari program pengembangan Dusun Gamplong I yang telah kami laksanakan. Acara ditutup dengan memberikan sertifikat kepada Ahmad Faiz sebagai pembicara dan sebuah plakat sebagai tanda ucapan terima kasih dan kenang-kenangan kepada Dusun Gamplong I.

Beberapa program diatas merupakan program yang telah kami laksanakan. harapan kami kepada Dusun Gamplong I dapat terus mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga dapat lebih dikenal dalam jangkauan yang lebih luas terutama kepada wisatawan asing.


Mulai Januari hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan seri
tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom.
Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali
mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa
Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Tulisan diterbitkan dengan melewati proses bimbingan Puji Hariyanti dan tahap penyuntingan oleh A. Pambudi W.

communication department UII Commnunication for empowerment
Reading Time: 3 minutes

Cerita Literasi Buku Baca (Ciluk-Ba): Dari Komunikasi UII Untuk Mereka Oleh Rima Natasya, Vania Taufik R., Arvannya P. Sagala, M. Valiant D., M. Imam Akbar Pohan (Mahasiswa Komunikasi UII angkatan 2017)

Cerita literasi buku baca atau Ciluk-Ba merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang disusun oleh lima orang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia. Kegiatan ini bertempat di Panti Asuhan Sinar Melati, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Topik utamanya tentang pentingnya membaca buku bagi remaja di era digitalisasi.

Kegiatan ini memfasilitasi santri panti asuhan agar memeroleh materi dari orang-orang yang ahli dalam bidangnya . Tak hanya materi, kegiatan ini berlanjut hingga pada tataran praktek. Praktiknya beragam, misalnya, bagaimana cara membaca buku dan meningkatkan minat dalam membaca buku.

Panti Asuhan Sinar Melati yang menjadi lokasi kami mengadakan program ini kekurangan buku bacaan yang bermutu. Terutama tema agama dan pengetahuan umum. Maka kami selaku pelaksana kegiatan berinisiatif mengumpulkan beberapa buku. Harapannya, ini dapat menambah koleksi dan persediaan buku di perpustakan Panti Asuhan Sinar Melati. Tentu saja, secara tidak langsung kegiatan ini juga ikut mendukung program literasi. Kami juga memberikan beberapa kegiatan yang menunjang program dan menjadikan siswa-siswi Panti Asuhan Sinar Melati tersebut lebih sadar akan pentingnya membaca.

Sebagai panti asuhan yang menampung remaja, literasi membaca diperlukan untuk menunjang kebutuhan pendidikan baik formal maupun non formal. Dengan adanya kegiatan ini juga diharapkan mampu membuat siswa dan siswi Panti Asuhan Sinar Melati lebih kritis dalam memperoleh dan mengumpulkan informasi. Nantinya, kami berharap agar mereka dapat mengetahui dengan sendirinya mana informasi yang harus diterima dan mana yang tidak boleh diterima. Inilah peran buku sebagai jendela dunia agar senantiasa dapat menyaring kualitas informasi.

Kami melaksanakan 4 pertemuan dalam sebulan., Terdapat 4 agenda pula yang berbedasetiap harinya. Kami juga memberikan materi berupa teori dan bedah buku bersama untuk mengurangi rasa bosan siswa dan siswi Panti Asuhan tersebut. Hari demi hari pun kami lalui sesuai kegiatan yang sudah kami rencanakan.

Menjadikan remaja pada kisaran usia 11 hingga 16 tahun untuk menjadi target sasaran memang cukup berat. Faktor umur mereka yang masih ingin bermain-main menjadi salah satu faktor penghambat dalam membimbing dan memberikan arahan pada mereka. Terlebih kurangnya intensi bertemu orang-orang luar panti membuat mereka kurang terbuka dengan orang baru.

Namun, hal tersebut tidak lantas menjadikan kami menyerah dalam melaksanakan program. Kami terus melakukan pendekatan secara perlahan agar mereka dapat mengerti dan paham seluruh prosesi kegiatan..

Sejak awal kedatangan kami dalam menyalurkan donasi buku, siswa-siswi memperlihatkan antusiasmenya terhadap buku-buku tersebut. Terlebih pada buku berbentuk novel. Hal ini memberikan kami kesadaran, bahwa mereka lebih tertarik pada novel fiksi maupun non fiksi yang keberadaannya masih jarang di panti asuhan tersebut. Pada sesi pemberian materi oleh beberapa pemateri memang terlihat sedikit siswa yang memperhatikan, khususnya siswa laki-laki.

Namun, ketika agenda kegiatan bedah buku, antusiasme nampak cukup besar. Kemudian asa kami timbul agar di dalam diri mereka muncul ketertarikan membaca. Pada sesi tanya jawab, kami bertanya: apa yang membuat mereka ingin membaca? Banyak yang menjawab untuk mengisi waktu luang dan sebagai bahan hiburan. Dari jawaban mereka ini, kami sebagai pelaksana kegiatan sangat bahagia mendengarnya, karena tidak sedikit yang suka membaca hingga menunjukkan antusiasme yang tinggi.

Tidak hanya menyajikan materi tentang pentingnya membaca, kami juga membuat lomba puisi. Tujuanna mengasah imajinasi dan kemampuan menulis yang selama ini tidak disalurkan.Hasil karya puisi-puisi yang diciptakan menunjukkan siswa-siswi Panti Asuhan Sinar Melati juga bisa menciptakan puisi yang indah. Puisi juga ditulis dengan kata-kata yang indah dan penuh dengan makna. Kami memberikan penghargaan pada siswa siswi yang dinilai memiliki keunikan dan makna yang menarik dalam puisi buatannya.

Kami berharap tingkat membaca di Panti Asuhan Sinar Melati mampu meningkat. . Pada akhirnya, kami mencatat beberapa pembelajaran sebagai pelaksana kegiatan. Sebagai pelaksana kegiatan, diharapkan mampu lebih banyak belajar bagaimana mendidik dan memberikan arahan kepada siswa-siswi yang masih menduduki usia ‘remaja’. Harapannya, dari kegiatan ini, remaja memiliki semangat untuk berkarya lewat ekspresi tulisan. Pada gilirannya, tulisan mereka dapat menjadi sesuatu yang berharga dan bermakna bagi masyarakat luas.

Kami menyimpulkan bahwa literasi mengenai pentingnya membaca bagi remaja memerlukan dorongan dari orang-orang sekitar. Baik dari orang tua maupun para guru di sekolah. Caranya dengan memberi kesempatan para remaja untuk membaca. Minimal bisa dengan membudayakan membaca minimal 10 menit perhari.

Selain itu, penyediaan sarana untuk melakukan aktivitas membaca baik di kalangan masyarakat dan sekolah juga penting. Misalnya dengan memperbaiki kualitas perpustakaan atau menjadikan perpustakan tempat yang menarik agar membaca tidak menjadi kegiatan yang membosankan melainkandan hiburan.

communication department UII Commnunication for empowerment
Reading Time: 4 minutes

Daerah Piyungan, Bantul, Yogyakarta terkenal dengan lokasi pembuangan sampah yang biasa disebut TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu). Di dalam TPST tersebut terdapat sebuah Pondok Pesantren kecil yang masih dalam tahap pembangunan. Pondok Pesantren tersebut bernama Daarul Furqon. Pondok Pesantren Daarul Furqan Piyungan ini dikelola oleh bapak Jauhari dan Istrinya yang tidak lain juga pendiri Pondok Pesantren tersebut. Kegiatan rutinnya adalah TPA setiap malam ba’da Maghrib. Murid-murid TPA tersebut adalah anak-anak sekolahan yang tinggal di sekitar TPST: dari PAUD hingga SMA.

Seiring perkembangannya teknologi dan perubahan zaman, dimana kita semua tahu bahwa sekarang ini segala aktivitas dan kebutuhan manusia sudah beralih ke digital dan semua kegiatan manual mulai tergantikan, bahkan terlupakan, termasuk membaca buku. Indonesia termasuk negara yang memiliki minat baca yang sangat rendah, maka dari itu kami ingin mengangkat kembali minat baca, terutama minat baca pada anak-anak agar menjadi generasi yang gemar membaca.

Di semester 5 ini, Program Studi Ilmu Komunikasi UII memberikan kesempatan pada mahasiswanya untuk mewujudkan dedikasinya kepada masyarakat. Bentuknya program pemberdayaan yang dituangkan dalam mata kuliah Manajemen Program Komunikasi Non Komersil. Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan kesempatan para mahasiswa untuk berperan dengan terjun langsung menangani permasalahan yang ada di masyarakat dan mahasiswa dituntut untuk melaksanakan program kerja yang tentunya bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri.

Salah satu bentuk program yang kami laksanakan adalah membentuk perpustakaan baca dengan target sasaran para santri dan anak-anak yang mempelajari ilmu agama di Pondok Pesantren Daarul Furqon tersebut. Tujuan kelompok kami membangun perpustakaan baca tersebut untuk membantu menambah fasilitas di pondok pesantren tersebut sekaligus menumbuhkan minat baca anak-anak yang sudah mulai pudar.

Program ini dilaksanakan selama empat hari dalam dua minggu. Adapun konsep kegiatan yang dilaksanakan yaitu membangun sebuah perpustakaan. Setelah melalui tahap diskusi, akhirnya kami sepakat untuk memanfaatkan botol-botol plastik bekas untuk dibangun menjadi sebuah rak buku, mengingat bahwa letak sasaran kegiatan yang kami laksanakan sangat dekat dengan TPST sehingga untuk mencari botol-botol tersebut pun mudah.

Tidak hanya itu, kami juga mengajak anak-anak disana untuk mengikuti beberapa lomba. Kami adakan beragam lomba seperti lomba adzan, membaca Al-Qur’an, dan hafalan surah pendek dalam rangka melatih keberanian dan mengasah kemampuan anak.

Pada hari pertama kegiatan yaitu pada tanggal 09 November 2019, kami mengumpulkan botol-botol bekas lalu memilah-milah yang mana layak untuk digunakan, kemudian kami cuci bersih dan dikeringkan. Kami mendapatkan botol-botol bekas tersebut dari juragan botol bekas yaitu Pak Heri.

Hari kedua yaitu tanggal 10 November 2019, masih melanjutkan membersihkan botol-botol bekas lalu dibantu dengan anak-anak lain disana, kami mengumpulkan batu kerikil sebanyak-banyaknya untuk dimasukkan ke dalam botol. Tujuannya agar botol mempunyai beban berat dan kuat untuk dijadikan kerangka rak buku. Selain itu, kami membeli beberapa triplek yang kemudian dipotong menjadi beberapa bagian. Triplek yang sudah dipotong ini berguna sebagai alas untuk menaruh buku-buku.

Pada hari ketiga tanggal 16 November 2019, kami melanjutkan mengumpulkan kerikil dan memasukkan ke dalam botol bekas, dibantu dengan adik-adik santri di Pondok pesantren tersebut. Setelah melakukan pekerjaan tersebut, setelah sholat maghrib kami melanjutkan kegiatan perlombaan.

Lomba membaca Al-Qur’an yang memiliki dua kategori yaitu kategori anak-anak dan kategori remaja. Selanjutnya ada lomba menghafal surah yang juga terbagi menjadi dua kategori yaitu kategori anak-anak dan kategori remaja. Lomba yang terakhir yaitu lomba Azan yang hanya ada satu kategori yaitu kategori remaja.

17 November 2019 merupakan hari terakhir bagi kami melaksanakan kegiatan ini. Kami semua datang lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Kami membagi tugas untuk semua kelompok. Ada yang membeli hadiah untuk para pemenang lomba dan ada juga yang melanjutkan tahap akhir pembuatan rak dari perpustakaan mini yang kami bangun. Sembari menyelesaikan rak buku, pada siang harinya dua orang kelompok kami menjemput buku yang ada di pantai parangtritis. Tahap akhir pembuatan rak buku berlangsung cukup lama mengingat kami hanya menggunakan lem tembak untuk menyatukan kayu dengan botol yang sudah di isi dengan batu kerikil.

Acara peresmian dan penutupan yang dilakukan setelah ba’da ashar mundur hingga setelah ba’da maghrib dikarenakan banyak yang tidak hadir di ba’da ashar. Setelah maghrib seluruh anak-anak berkumpul di masjid Pondok pesantren tersebut untuk memenuhi panggilan dari surat yang sudah kami sebarkan.

Acara pertama yang dilakukan adalah pembukaan dari kami sebagai mahasiswa yang melakukan program kerja untuk pondok pesantren. Lalu disambung oleh bapak Jauhari sebagai pengurus sekaligus pendiri dari Pondok Pesantren Daarul Furqon tersebut. Selanjutnya yaitu pembacaan surah Al-Fatihah dan doa yang dipimpin oleh Pak Jauhari sebagai tanda peresmiannya perpustakaan baca Pondok Pesantren Daarul Furqon. Acara terakhir yaitu pengumuman serta pemberian sertifikat dan hadiah pemenang lomba.

Untuk buku-buku sendiri, kami mendapatkannya baik melalui sumbangan secara personal maupun dengan menjalin kerjasama beberapa mitra yaitu Perpustakaan Pusat Jogja dan Komunitas Buku Berbagi. Perpustakaan Pusat Jogja menyumbang 1 dus yang berisi 50 eksemplar buku. Namun tidak semua buku kami sumbangkan di perpustakaan baca melihat terdapat beberapa buku yang tidak sesuai untuk dibaca anak-anak.

Komunitas Buku Berbagi sendiri menyumbangkan dua tas penuh berisi buku dan disumbangkan semua ke perpustakaan yang kami bangun. Selain bantuan dari beberapa mitra, sumbangan buku-buku juga didukung penuh oleh beberapa mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang dengan penuh suka cita untuk menyumbangkan beberapa buku.

Semoga niat baik yang sudah kami laksanakan, menjadi berkah untuk anak-anak Pondok Pesantren Daarul Furqon. Kami juga berhadap semua yang sudah kami berikan dapat berguna untuk hari ini maupun di masa yang akan datang.

 

Reading Time: 2 minutes

Kalangwan Inggil dan Sindu Aji asyik memperhatikan Ali Minanto dan M. Iskandar T. Gunawan menjelaskan materi fotografi jurnalistik sore itu. Bahkan keduanya juga aktif merespon lontaran-lontaran pertanyaan dari Ali. Misalnya saat itu Ali Minanto, salah satu pemateri yang juga Dosen Komunikasi UII, itu bertanya tentang pengetahuan foto dan fungsi foto pada peserta.

“Apakah ada yang punya Paspor?” tanya Ali Minanto.

“Saya pak,” jawab Sindu.

Katanya, ia akan pergi ke Bangkok untuk memaparkan hasil penelitiannya. Jawaban itu menjelaskan maksud Ali melempar pertanyaan tersebut. “Fungsi foto kan bisa sebagai informasi, dokumentasi, dan artistik. Nah, Foto dalam paspor kan itu fungsinya memberikan informasi identitas seseorang,” jelas Gunawan, salah satu pemateri Pelatihan kali itu.

“Siapa yang tahu genre-genre foto? Apakah ada yang biasa menerapkan genre-genre itu?” tanya Ali juga.

Kali ini Alisha Bahira dan Alang, nama panggilan Kalangwan, yang angkat suara. Menariknya adalah pernyataan Alang. Alang mengatakan bahwa ia sering dan biasa menerapkan street photography dalam aktifitas fotografi sehari-harinya. Ali dan Gunawan, yang juga redaksi Uniicoms TV, menyimpulkan, dari jawaban-jawaban ini menunjukkan beberapa peserta sudah bukan di level dasar lagi pengetahuan fotografinya.

Alang dan Sindu adalah dua dari 26 pelajar SMPN 4 Pakem yang mengikuti Pelatihan Fotografi Jurnalistik dengan Ali dan Gunawan sebagai mentor. Para peserta adalah pengelola ekstra kurikuler (ekskul) jurnalistik di sekolahnya. Pelatihan yang dihelat pada 23 Januari 2020 ini bertujuan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan foto jurnalistik pada redaksi buletin klub jurnalistik sekolah. “Selama ini kan mereka lebih ke keterampilan menulis, nah pelatihan ini mau dikuatkan skill fotonya,” kata Gunawan.

Tak hanya pemaparan dan diskusi foto, pelatihan juga dilengkapi dengan praktik foto dengan menggunakan ponsel pintar. SMP yang punya konsep sekolah berbasis digital ini membuktikan kelihaiannya. Para peserta diminta ambil gambar dan diunggah dengan tagar yang telah disepakati. “Hasilnya  mengejutkan, ada yang bagus, sudah ada yang sangat lihai main teknik ruang tajam sempit (depth of field), komposisi, dan framing yang bagus,” ungkap Gunawan.

Desyatri Parawangsa, salah satu staf Laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi UII, yang ikut mendampingi siswa-siswi praktik juga mengaku takjub dengan apresiasi dan antusiasme para peserta. “Mereka memperhatikan, bertanya, diskusi, dan mau ikut terjun praktik,” kata Desya. Sebuah kemewahan yang jarang ditemui di kelas mahasiswa bahkan, kata Gunawan. “Mereka mau tampil bicara di depan. Untuk mental SMP udah sangat bagus,” tambahnya.

Senada dengan Desyatri, Gunwan mengamini tim dari Prodi Komunikasi UII juga takjub dengan performa siswa-siswa ini. “Kami pikir mereka belum paham, kami akan beri materi dasar. Ternyata ada yang sudah mahir, ada yang bawa kamera semi profesional juga,” tambahnya. Beberapa bahkan sudah mengerti soal segitiga exposure, komposisi, dan ada juga yang bisa menjelaskan pengoperasian dan bagian-bagian kamera,” sambung Gunawan.

Punggawa Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII juga meraup banyak pesan dan kesan dari para pelajar tentang jalannya pelatihan. Lewat ponsel masing-masing, mereka mengunggah kesan ke Mentimeter, aplikasi presentasi interaktif berbasis daring. Ada yang menulis,”Seneng, bisa belajar banyak hal tentang fotografi. Jadi tau macem-macem kamera dan caranya foto pake smartphone.” atau ada pula yang menulis bahwa pelatihan berjalan menyenangkan, seru, dan memberi banyak pengalaman yang tidak pernah didapatkan sebelumnya. Ada pula yang menulis kesan dari pelatihan ini menjadi banyak belajar tentang fotografi, melihat ekspresi orang dan tempat mana yang bagus dan indah untuk didokumentasikan.

Reading Time: 4 minutes

Tulisan Desa Wisata Tanjung Belajar Motret dan Nulis untuk Promosi Digital, ditulis Oleh Adam Haristian, Febi Trio Angara P., Pasha Syahritsa M., Muhammad Fathur S., Bagas Catur Pambudi (Mahasiswa Komunikasi UII, pelaksana program pemberdayaan)

Terhitung sudah lebih dari delapan belas tahun desa wisata Tanjung resmi dibentuk sebagai salah satu destinasi pariwisata pedesaan Yogyakarta. Seperti objek wisata lain pada umumnya, desa wisata Tanjung juga sempat mengalami penurunan jumlah kunjungan wisatawan. Munculnya internet menjadikan persaingan setiap objek wisata semakin terbuka lebar.

Hal ini akan menguntungkan bagi setiap pengurus desa wisata yang memanfaatkan dengan baik kehadiran internet sebagai kekuatan promosi, terlebih bagi destinasi wisata yang memang memiliki objek wisata alam yang eksotik. Desa wisata Tanjung memang sudah memiliki website dan media sosial Instagram. Namun belum dimaksimalkan dengan baik. 

Instagram sebagai media sosial paling populer saat ini seharusnya dapat dimaksimalkan sebagai sarana promosi yang efektif. Penampilan foto dan video sebagai salah satu fitur Instagram milik desa wisata Tanjung belum menampilkan unsur yang dapat menarik para wisatawan. Selain itu, website desa wisata Tanjung juga belum memuat informasi lengkap mengenai kondisi yang ada di desa tersebut. Keterangan unggah artikel terakhirnya pun sudah lama, yaitu tahun 2013.

Sejalan dengan dilaksanakannya mata kuliah Manajemen Program Komunikasi Non Komersil milik prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, maka dengan mempertimbangkan permasalahan yang muncul di desa wisata Tanjung, kami menjadikan tergerak untuk mengembangkan potensi desa wisata tersebut.

Tujuan utama dari program ini adalah membantu meningkatkan kualitas promosi desa wisata Tanjung dengan mengadakan pelatihan fotografi dan penulisan artikel. Pelatihan fotografi dengan menghadirkan pakar yang berkompeten dibidang foto diharapkan mampu membekali pengurus desa wisata Tanjung untuk meningkatkan kualitas foto di media sosial Instagram desa. Kemudian penulisan artikel dengan menghadirkan pakar juga diharapkan mampu meningkatkan keaktifan dan kualitas tulisan yang disuguhkan di website desa.

Program Pelatihan Fotografi dan Penulisan Artikel Desa Wisata Tanjung dilaksanakan selama empat hari. M ateri pertama adalah Materi Dasar mengenai Fotografi dan Pentingnya Pemanfaatan Teknologi di Era Revolusi Industri 4.0. Materi ini dilaksakan pada Sabtu, 16 November 2019, pukul 08.00-12.00.

Penyampaian materi ini bertempat di rumah ibu Jarwati, salah satu pengurus aktif Desa Wisata Tanjung. Pertemuan diawali dengan perkenalan serta penjelasan maksud dan tujuan dilaksanakannya program acara ini. di mana mahasiswa Ilmu Komunikasi UII berusaha membantu mengaktifkan kembali aktifitas desa wisata tanjung terutama di bidang promosi. Kemudian pembahasan berlanjut pada penjelasan mengenai pentingnya penguasaan terhadap internet dan teknologi di era digital. Lalu yang terakhir diperkenalkan kepada pengurus desa wisata Tanjung mengenai materi dasar fotografi.

Materi selanjutnya pada Senin, 18 November 2019 adalah: Materi Lanjutan Fotografi Oleh Pakar.

Kegiatan pada hari kedua ini diisi oleh Marcelino Bima, salah satu mahasiswa UII yang telah berpengalaman di dunia fotografi. Ia merupakan fotografer Freelance yang telah beberapa kali mengikuti perlombaan foto. Pertemuan kali ini diawali dengan perkenalan pembicara kemudian masuk pada pemberian materi teknis mengenai fotografi.

Materi fotografinya pun dapat dibilang praktis karena memfokuskan pada penggunaan ponsel. Berhubung ponsel zaman sekarang sudah dilengkapi dengan kualitas kamera yang baik dan realitas bahwa banyak orang yang sudah memiliki ponsel maka materi yang diberikan cukup tepat dan dirasa bermanfaat. Setelah pemberian materi maka di akhir acara disertai juga dengan praktik singkat dan sesi pertanyaan.

Sesi Praktik Fotografi dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2019. Masih bersama Marcelino Bima, kegiatan hari ketiga merupakan praktik fotografi sesuai dengan materi yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya.

Objek praktik fotografi yang digunakan adalah salah satu home stay desa Wisata Tanjung dan salah satu pendopo yang ada di sana. Selain berlatih fotografi, hasil praktik fotografi ini akan digunak

an sebagai bahan pembaharuan foto di media sosil Instagram desa.

Beranjak di hari selanjutnya, pada 28 November 2019, Bilal Prama, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII, menyampaikan Materi dan Praktik Penulisan Artikel Website.

Bilal Prama juga berbagi pengalamannya melaksanakan program magang di Kominfo kabupaten Sleman. Bukan hanya dilatih mengenai cara menulis artikel yang baik, melainkan juga disertai bagaimana menemukan ide penulisan. 

Setelah pemaparan materi, pengurus desa wisata Tanjung dianjurkan untuk mempraktikan materi penulisan yang sudah mereka dapatkan. Para peserta dihadapkan dengan beberapa pilihan topik penulisan berkaitan dengan desa wisata Tanjung yang telah dipersiapkan oleh pemateri. Lalu peserta memilih dan disediakan waktu sekitar 20 menit untuk menulis. Hasil tulisan yang dibuat oleh para peserta akan diedit oleh pemateri mengenai tata cara penulisan dan kemudian akan digunakan sebagai bahan mengaktifkan kembali website desa wisata Tanjung.

Kegiatan hari keempat ditutup dengan pemberian plakat sebagai simbolis penutupan berbagai rangkaian acara dan kenang-kenangan dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UII. Kegiatan yang kami laksanakan di desa wisata Tanjung memang sederhana, namun apabila dimaksimalkan dengan baik akan meningkatkan kualitas desa wisata Tanjung terutama dalam hal promosi.

—————————-

Mulai Januari hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan seri
tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom.
Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali
mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa
Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Tulisan diterbitkan dengan melewati proses bimbingan Puji Hariyanti dan tahap penyuntingan oleh A. Pambudi W.

communication department UII Commnunication for empowerment
Reading Time: 2 minutes

Kelas Impian: Tanamkan Cita-cita pada Anak Sejak Dini Oleh Aghna Alfan Hidayat, Fahra Sania Sofyan,
Reza Fahmi Priyadi, Zakiyyah Ainun, Naufal Arfino

Kelas impian merupakan program pemberdayaan yang bertujuan mengajak anak-anak mengenali potensinya: menjadi pribadi yang berani dan mampu bermimpi sejak dini. Program ini menyasar pada anak usia sekolah dasar yang posisinya terletak jauh dari kota. Selain itu, anak-anak peserta program ini diharapkan dapat menyusun mimpi-mimpinya mulai dari jangka pendek hingga panjang.

Ada beberapa kegiatan dalam program ini. Salah satunya adalah kelas profesi. Kelas profesi bertujuan untuk mengenalkan beberapa profesi yang berhubungan dengan rumpun Ilmu Komunikasi, yaitu broadcasting, news anchor, dan videographer. Dikalangan anak-anak SD terlebih yang jauh dari kota, profesi-profesi tersebut masih jarang dikenali. Sebagian besar dari mereka lebih memilih menjadi sosok yang memang mereka ketahui, seperti polisi, guru, TNI, dan pilot.

Tidak hanya kelas profesi, kegiatan kami yang lain adalah bercerita mimpi. Dalam kegiatan ini, anak-anak SD diminta untuk menggambar cita-citanya lalu mereka menceritakan alasan mereka memilih cita-cita tersebut. Bagi mereka yang memiliki gambar dan cerita yang bagus, mereka akan mendapatkan hadiah dari kami. Mereka sangat antusias mengikuti semua kegiatan kami.

Output dari kegiatan kami adalah pohon mimpi. Anak-anak SD diminta untuk menuliskan mimpi dan cita-citanya di kertas yang telah disediakan. Lalu mereka gantungkan ke pohon yang telah kami siapkan. Nantinya, pohon ini akan menjadi simbol atas mimpi-mimpi mereka yang kelak akan mereka capai.

Sekolah dasar yang menjadi target pun memiliki respon positif terhadap kegiatan yang kami buat. Alasannya, metode pembelajaran seperti ini dianggap sangat variatif. Kelas Impian: Tanamkan Cita-cita pada Anak Sejak Dini

Oleh Aghna Alfan Hidayat, Fahra Sania Sofyan,
Reza Fahmi Priyadi, Zakiyyah Ainun, Naufal Arfino

Kelas impian merupakan program pemberdayaan yang bertujuan mengajak anak-anak mengenali potensinya: menjadi pribadi yang berani dan mampu bermimpi sejak dini. Program ini menyasar pada anak usia sekolah dasar yang posisinya terletak jauh dari kota. Selain itu, anak-anak peserta program ini diharapkan dapat menyusun mimpi-mimpinya mulai dari jangka pendek hingga panjang.

Ada beberapa kegiatan dalam program ini. Salah satunya adalah kelas profesi. Kelas profesi bertujuan untuk mengenalkan beberapa profesi yang berhubungan dengan rumpun Ilmu Komunikasi, yaitu broadcasting, news anchor, dan videographer. Dikalangan anak-anak SD terlebih yang jauh dari kota, profesi-profesi tersebut masih jarang dikenali. Sebagian besar dari mereka lebih memilih menjadi sosok yang memang mereka ketahui, seperti polisi, guru, TNI, dan pilot.

Tidak hanya kelas profesi, kegiatan kami yang lain adalah bercerita mimpi. Dalam kegiatan ini, anak-anak SD diminta untuk menggambar cita-citanya lalu mereka menceritakan alasan mereka memilih cita-cita tersebut. Bagi mereka yang memiliki gambar dan cerita yang bagus, mereka akan mendapatkan hadiah dari kami. Mereka sangat antusias mengikuti semua kegiatan kami.

Output dari kegiatan kami adalah pohon mimpi. Anak-anak SD diminta untuk menuliskan mimpi dan cita-citanya di kertas yang telah disediakan. Lalu mereka gantungkan ke pohon yang telah kami siapkan. Nantinya, pohon ini akan menjadi simbol atas mimpi-mimpi mereka yang kelak akan mereka capai.

Sekolah dasar yang menjadi target pun memiliki respon positif terhadap kegiatan yang kami buat. Alasannya, metode pembelajaran seperti ini dianggap sangat variatif.

communication department UII Commnunication for empowerment
Reading Time: 3 minutes

Merintis Desa Wisata Edukatif Bambu Lestari Bulak Salak oleh : Daffa Firdaus Najati, Fadilla Silvia Suhartono, Sifa Auliyasari, Aqsha Narariya Yani dan Roiyan Nangim.

Gerakan dan pengembangan desa secara mandiri sedang gencar dilakukan. Tak
ketinggalan salah satu desa wisata di daerah Sleman, Yogyakarta yang secara bertahap merintis
desanya sebagai desa wisata edukatif. Ialah Desa Wisata Edukatif Bambu Lestari yang terletak di
Dusun Bulaksalak, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Desa wisata ini berjarak sekitar 20 menit
dari Universitas Islam Indonesia (UII). Diresmikan oleh GKR Hemas pada 2018 lalu, desa ini
mengusung konsep utama edukasi terkait tanaman bambu. Berbagai tanaman bambu yang ada
tak hanya berasal dari Indonesia. Seperti bambu dari Jepang, Thailand, Timor dan sebagainya.
Terdapat beberapa fasilitas yang telah dibangun oleh warga setempat yang bisa dipergunakan,
selain areal bambu. Yaitu camping ground dan arena outbond.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyatakan bahwa desa ini masih termasuk dalam
desa wisata rintisan. Yang berarti, masih termasuk dalam desa wisata baru, yang didalamnya
baik struktur kepengelolaan, infrastruktur dan partisipasi masyarakat masih perlu untuk
ditingkatkan. Meski telah tercatat di Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Bapak Eko Wiyarto,
selaku kepala pengelola desa wisata edukatif ini, mengatakan bahwa pihak pengelola belum
berani mendaftarkan desanya sebagai desa wisata. Dikarenakan kesiapan internal yang dimiliki
belum sepenuhnya siap. Khususnya partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Desa Wisata
Edukatif Bambu Lestari Ini. Pendanaan dalam memperbaiki fasilitas yang ada pun masih sebatas
gotong–royong antar warga dan terkadang dibantu pula oleh mahasiswa dalam bentuk kegiatan
KKN.

Oleh karenanya, kelompok kami yang terdiri dari Daffa Firdaus Najati, Fadilla Silvia
Suhartono, Sifa Auliyasari, Aqsha Narariya Yani dan Roiyan Nangim, mahasiswa ilmu
komunikasi 2017, melalui mata kuliah Manajemen Program Non Komersil, melakukan
pembinaan dengan mengadakan beberapa program. Yaitu, pelatihan fotografi, pelatihan konten
web dan media sosial, sosialisasi sadar wisata, pembuatan papan nama bambu dan plang serta
pendampingan pembuatan AD/ART. Program ini menjadi media pembelajaran untuk kami,
dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat serta menyalurkan ilmu yang kami peroleh agar
bermanfaat untuk sesama. Durasi pelaksanaan program berlangsung pada bulan November 2019
hingga awal Desember 2019.

Program pertama dari kegiatan pemberdayaan ini adalah pelatihan fotografi yang mana
target sasaran dari kegiatan ini adalah pemuda dan pemudi daerah setempat. Kami berhasil
mengirim sebanyak 20 undangan dan berhasil mendatangkan 16 peserta. Pelatihan fotografi
berlangsung pada hari minggu tanggal 17 November 2019 pukul 10.30. Materi pelatihan yang
diberikan berkaitan dengan dasar-dasar fotografi, mengingat hal ini sangat penting untuk menjadi
salah satu langkah awal dalam mengembangkan desa wisata edukatif bambu lestari untuk lebih
dikenal wisatawan. Anggota dari KLIK18 menjadi pemateri dalam pelatihan ini dibantu dengan
volunteer dan seluruh anggota dari kelompok dalam praktek lapangannya di penghujung
pelatihan fotografi.

Program kedua dari kegiatan pemberdayaan ini adalah sosialisasi mengenai sadar wisata,
dengan target 36 undangan untuk warga setempat. Kegiatan ini dilakukan pada hari yang sama
setelah pelatihan web dan sosial media, namun kegiatan ini dilaksanakan pada malam hari karena
menyesuaikan jadwal audiens, yakni warga sekitar desa wisata bulak salak bambu lestari.
Pada sosialisasi kali ini dihadiri oleh beberapa volunteer dari teman-teman di UII.
Pemateri berasal dari founder ‘Omah Noto Plankton’ yaitu Mas Edi dan rekannya. Materi
sosialisasi yang diberikan lebih mengarah kepada bagaimana konsep dari sebuah desa wisata dan
bagaimana cara pengembangan untuk selanjutnya.

Mas Edi menjadikan Omah Noto Plankton sebagai contoh kepada warga Desa Bulak Salak bagaimana perjuangan membangun sebuah tempat wisata edukasi. Peran mitra yakni KBD adalah sebagai narahubung dan membantu jalannya kegiatan. Dari target undangan yang disebar, terdapat 33 bapak-bapak warga sekitar yang hadir. Peserta sangat antusias karena sosialisasi ini bersifat sharing.
Program selanjutnya yang kami berikan kepada desa wisata tersebut adalah pembuatan
plang dan papan informasi untuk bambu-bambu disana, penamaan tersebut bertujuan untuk
mengedukasi para wisatawan yang datang mengenai nama serta jenis bambu.

Lokasi bambu-bambu disana tidak jauh dari aula yang kami pakai untuk mengadakan pelatihan serta sosialisasi sadar wisata. Sehingga, untuk menemukan berbagai macam bambu tidak sulit karena area
tersebut menjadi satu kawasan yang dinamai ‘Bambu Track’. Pelaksanaan pembuatan plang dan
papan informasi tersebut berlangsung pada tanggal Minggu, 1 Desember 2019 dimulai pagi dan
selesai di sore hari.

Pembuatan plang tersebut cukup berjalan dengan lancar, apalagi dalam
prosesnya dibantu oleh beberapa volunteer dari ilmu komunikasi maupun volunteer dari luar.
Adapun papan informasi yang kami buat yakni menggunakan seng yang kemudian kami cat dan
tulis nama bambu serta jenisnya, yang nantinya papan tersebut diletakkan di bambu-bambu yang
sudah dikelompokkan.

—————————-

Mulai Januari hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan seri  tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom. Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Tulisan diterbitkan dengan melewati proses bimbingan Puji Hariyanti dan tahap penyuntingan oleh A. Pambudi W.

communication department UII Commnunication for empowerment
Reading Time: 2 minutes

Mulai Januari hingga Maret 2020, kami akan melanjutkan mengunggah tulisan seri Komunikasi Pemberdayaan dari mata kuliah Manajemen Program Komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom. Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kalimendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan.

Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Tulisan diterbitkan dengan melewati proses bimbingan Puji Hariyanti dan tahap penyuntingan oleh A. Pambudi W.

Kegiatan mahasiswa ini merentang dari pemberdayaan dengan beragam isu. Misalnya mulai dari isu penderita lupus, jurnalistik, fotografi, membatik, pelestarian permainan tradisional, pengembangan diri, kesehatan reproduksi untuk remaja, hingga isu-isu seperti isu lingkungan, pengurangan sampah plastik, kesehatan mental, dan media kreatif. Setiap kelompok mahasiswa menggandeng mitra yang dapat menyokong jalannya acara baik dari sisi konten maupun finansial.

Manajemen Program non komersil mencoba memantik ruh pemberdaya dalam tiap sanubari mahasiswa komunikasi. Semua program yang dilakukan mahasiswa ini menyiratkan pesan bahwa menjadi berdaya tidak harus muluk, tak harus besar, dan ia harus inklusif: kolaborasi multipihak, kreatifitas multidisiplin, dan sarana multiplatform. Ada nuansa kreatif, inspiratif, dan berdaya bersama dalam tiap program itu. Kental semangat warga berdaya dengan spirit urun daya.

Meski ada beberapa konsep program yang terlihat sederhana, kurang matang, ataupun tak mendalam analisis sosialnya, tentulah itu bakal menjadi pembelajaran. Catatan untuk pelecut dan refleksi atas program penguatan dan pemberdayaan warga. Maka, masukan dan saran anda penting kiranya.

Wal Akhir, jika anda membaca artikel tiap program, anda akan semakin yakin, bahwa masa depan umat manusia (dan bumi) bakal cerah jika nurani yang murni selalu dipupuk tanpa embel-embel keuntungan profit. Tak selamanya segalanya mesti dibumbu tujuan keuntungan ekonomi uang. Anda dapat mengikutinya dengan mengetik kata kunci Pemberdayaan Masyarakat atau Komunikasi Pemberdayaan di kolom pencarian/ search situs kami. Selamat membaca dan mengikuti tiap artikel dengan tag #KomunikasiPemberdayaan, #Pemberdayaanmasyarakat #pemberdayaan #nonkom.

Menyemai semangat Communication for Empowerment.

Penyunting_