Sepanjang momen semi final hingga final Piala Dunia 2026 ada sosok alumni Ilmu Komunikasi angkatan 2006 yang turut meliput kemeriahan sepak bola paling ditunggu warga dunia. Ia adalah Rifqi Widianto yang telah bergabung dengan media Detik Sport selama 13 tahun. Ada pengalaman yang mengharukan saat ia menginjakkan kaki di Mercedes-Benz Stadium, ia memang tak menggapai mimpinya menjadi pemain sepak bola tapi mimpi masa kecil itu begitu dekat saat ia berada di Atlanta, Georgia, US. “Sangat-sangat dekat dengan mimpi itu, saya merinding,” ujarnya.
Kunjuangannya ke Mercedes-Benz Stadium hingga MetLife Stadium tidak terwujud dalam semalam. Sebelum mendapat kesempatan meliput ajang sepak bola paling bergengsi ini, ia melewati serangkaian proses yang tak sederhana seperti akreditasi ke PSSI dan FIFA. Sebelumnya ia gagal meliput Piala Eropa 2020 karena pandemi Covid-19. Rifqi juga mengaku, bekal paling berharga dalam dinamika kerja jurnalis justru didapatkannya saat bergabung sebagai volunteer saat erupsi Gunung Merapi 2010 “Jalin Merapi”, kerja sama Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan RRI. “Di situ saya dapat gambaran jelas bagaimana menjadi jurnalis, itu bekal sebelum memasuki dunia kerja,” ungkapnya.
Selama 10 hari di Amerika, Rifqi merasakan sendiri bahwa meliput Piala Dunia bukanlah ajang menonton pertandingan gratis. Ada tanggung jawab besar pada media tempat ia bekerja, sponsor, hingga antrean panjang 3 jam sebelum masuk stadion. Mengambil keputusan tepat dan cepat harus ia lakukan, terlebih lagi di tengah keramaian yang membuatnya sulit mengirim bahan berita ke Indonesia karena sinyal yang tak stabil. Tim Publicist berkesempatan mendapat cerita langsung dari Rifqi Widianto. Berikut wawancara yang penuh insight yang layak dibaca oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi.
Wawancara dengan Rifqi Widianto, Alumni Ilmu Komunikasi UII yang Meliput Piala Dunia 2026
- Apa saja persiapan sebelum berangkat ke AS?
Karena ini pertama kali ke Amerika, saya harus mapping kota mana yang saya tuju, aksesnya bagaimana, naik apa, seberapa jauh. Juga mapping lokasi transportasi. Untuk makan, karena di sini Muslim minoritas, saya harus mencari makanan yang aman secara agama. Untuk urusan visa, wawancara tidak sampai lima menit. Mereka mengantisipasi agar tidak ada kemungkinan imigran gelap. Saya pegang surat dari FIFA. Itu memperkuat posisi tawar. Apalagi, saya sudah 13 tahun di perusahaan. Aman ketika di imigrasi mereka sudah lihat suratnya.
- Apa tantangan terbesar yang Mas Rifqi hadapi saat meliput?
Pertama, transportasi. Di AS, semuanya mahal. Untuk menuju dari satu lokasi ke lokasi lain, naik bus atau kereta beberapa kali, dan bisa tiba-tiba tidak beroperasi. Kami harus antisipasi hal-hal tak terduga dengan lebih awal dan gerak cepat ambil keputusan. Kedua, di tempat kerumunan besar seperti Times Square, ngirim gambar dan video susah banget. Sinyal ada, tapi somehow susah kirim. Jalan banyak ditutup, ada demo juga, jadi agak chaos. Ketiga, cuaca summer di sini sangat ekstrem. Padahal panas, tiba-tiba hujan badai lebat dan udara dingin. Kita harus menjaga kondisi tubuh dan mengambil keputusan cepat.
- Bagaimana pengalaman masuk stadion?
Untuk masuk stadion, saya sudah datang jam 10 pagi, padahal pertandingan jam 3 sore. Antreannya 3 jam karena pemeriksaan yang sangat ketat. Apalagi saat itu ada Donald Trump. Kami pakai shuttle dengan jalur khusus, tapi tetap harus ngantre. Jadi, mau tidak mau, kami harus memilih mau ngantre dulu atau ngonten di luar.
- Momen apa yang paling berkesan selama bertugas?
Secara umum, ini emosional. Relate dengan mimpi masa kecil, saya dulu bercita-cita jadi pesepak bola. Waktu pertama kali masuk Stadion Atlanta, saya merinding. Walaupun saya tidak menjadi pemain bola, tapi bisa sampai di titik itu, itu sangat-sangat dekat dengan mimpi saya. Saya terharu. Menyenangkan, karena saya bertemu kultur baru, bertemu karakter baru, kenalan baru. Ini membuat saya lebih rendah hati.
- Stadion mana yang paling berkesan?
Atlanta. Stadionnya bagus, tertutup, dan saya bisa menikmati suasana. Atlanta vibes-nya kayak Jogja. Orang-orang ramah, tiba-tiba menyapa. Kendaraan juga lebih santai. New York itu kayak Jakarta, padat, ramai, dan banyak bertemu karakter yang berbeda-beda.
- Apa yang tidak diketahui publik tentang pekerjaan wartawan di ajang sebesar Piala Dunia?
Mungkin bahwa kerja jurnalis tidak melulu soal hal-hal yang menyangkut idealisme. Kita akan berkaitan dengan sponsor. Kita punya tanggung jawab ke sponsor, jadi secara mekanisme liputan tidak sebebas itu. Kalau ada liputan yang berkaitan dengan sponsor, kita tidak bisa memasukkan liputan pertandingan.
- Bekal apa dari kuliah Ilmu Komunikasi UII yang paling terasa manfaatnya?
Waktu kuliah, yang paling berasa adalah ketika Merapi 2010. Mas Muzayin dari Ilkom bekerja sama dengan RRI buka relawan. Saya ikut dengan beberapa teman. Justru di situ saya mendapat gambaran jelas tentang bagaimana menjadi jurnalis. Dari situ saya tertarik dan semakin mendalami dunia kewartawanan. Itu bekal sebelum memasuki dunia kerja. Waktu kuliah editing berita, saya belajar menulis secara efektif dan efisien.
- Bagaimana jurnalisme olahraga berubah di era media digital dan AI?
Kami beradaptasi dengan AI untuk kebutuhan riset. Sekarang sistem kami sudah punya AI untuk merangkum teks, jadi pembaca tidak perlu mengklik lagi untuk membaca full. AI ini dua mata pisau di satu sisi menguntungkan karena akses pembaca lebih mudah di sisi lain, bisa jadi ancaman karena pembaca mulai malas membaca full teks. Mereka mulai bermigrasi ke media sosial.
- Tiga kata untuk menggambarkan Piala Dunia 2026?
Mimpi, haru, memorable.
- Apa tantangan emosional terbesar?
Semua liputan menegangkan. Tapi yang ini beda. Saya jauh dari anak dan istri. Ada hal yang lebih menyeramkan daripada liputan: jarak dari keluarga.
Dari meliput Piala Dunia 2026, Rifqi pulang tak sekadar membawa file berita. Ia membawa pelajaran tentang ketangguhan, rendah hati, dan arti sebuah perjalanan yang begitu dinamis.











