Posts

0Days0Hours0Minutes


Forum Amir Effendi Siregar menggelar Bincang Sejarah Komunikasi Seri 2

Topik : Gegar Epistemik Komunikasi Orde Baru dan Pasca Pembangunan

Pembicara: Justito Adiprasetio
Justito menyelesaikan studi magisternya di Kajian Budaya dan Media, UGM dan Ilmu Komunikasi UGM. Saat ini mengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi, UNPAD, dan sedang menyelesaikan buku yang membahas Sejarah Kekuasaan/ Pengetahuan Ilmu Komunikasi Indonesia.

Jadwal

Sabtu, 4 Juli 2020 (09:30)
Via Zoom

Registrasi (Tidak dipungut biaya):

 

Sekilas, ringkasan dari Forum AES #1 adalah sejarah jurnalistik penting diajarkan di Jurusan Jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Luthfi Adam, akademisi lulusan doktoral Nortwestern University, pembicara Forum Amir Effendi Siregar (Forum AES) Sesi Pertama mengatakan itu pada 28 Juni 2020 di sebuah video konverensi Zoom bersama Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif NADIM Prodi Ilmu Komunikasi UII. Ia adalah pembicara pertama dalam Forum AES pertama yang tahun ini mengangkat tema Sejarah Bincang Sejarah Komunikasi.

Holy Rafika Dhona, Kepala PSDM Nadim Komunikasi UII, juga sebagai moderator, mengatakan ia dan tim memilih Luthfi Adam., Ph.d sebagai narasumber karena ia memiliki latar belakang sejarah dan komunikasi sekaligus. “dan masih hangat ilmunya karena baru lulus di Mei 2020. Ia juga pemenang disertasi di Departemen Sejarah di Nortwestern University, kampus tempatnya meraih gelar doktor” kata Holy Rafika, Dosen di Prodi Ilmu Komunikasi yang spesialisasinya adalah klaster kajian Komunikasi Geografi.

Holy juga menjelaskan mengapa forum ini disebut Forum AES.  Forum ini dibentuk oleh prodi untuk membicarakan tentang ide atau gagasan  hal ihwal komunikasi khususnya. “Nama ini jadi pengingat atas pendiri prodi kami dan juga dimiliki oleh semua insan pers di indonesia.”

Luthfi Adam mengatakan dalam pemaparannya di mula, event ini juga rencananya akan dijadikan buku. “jadi mungkin untuk ke depannya, untuk metode untuk riset komunikasi ini lebih detil saya tulis dalam bentuk esai. Sehingga bisa lebih jelas gambarannya.”

Mengapa Riset Sejarah Komunikasi (Jurnalistik) Penting?

Pada kesempatan ini, mula-mula Luthfi Adam menjelaskan apa saja yang akan ia jelaskan pada sesi ini. “Saya akan membahasa metode sejarah sebagai riset komunikasi,” katanya. “Sebelumnya disclaimer ini,  saya bukan lagi scholar ilmu komunikasi. Pendidikan terakhir saya adalah sejarah. Jadi, saya mewakili disiplin sejarah, bukan komunikasi,” sambungnya. Luthfi mengatakan, ia akan membagikan sebuah metode sejarah. Namun, karena ia memiliki latar belakang ilmu komunikasi, ia bisa memberikan gambaran mengenai bagaimana mengadopsi metode penelitian sejarah untuk riset komunikasi.

Ada beberapa pertanyaan perlu dijawab ketika berdiskusi soal sejarah komunikasi. Pertama, mengapa penting meriset sejarah komunikasi. Kemudian, bagaimana meneliti sejarah. Lalu, bagaimana komunikasi mengadopsi metode sejarah untuk riset?

Luthfi Adam menjelaskan urgensi sejarah komunikasi dengan menceritakan flash back beberapa belas tahun yang lalu ketika media 2005 dan 2006 ia menyusun skripsi. Tema skripsi yang ia angkat adalah soal dorongan kuatnya menulis sejarah jurnalistik. Ia membuka banyak sumber, terutama, tentang pengalaman dan cerita perjalanan jurnalistik Tirto Adi Soerjo dan akhirnya diteruskan oleh Mas Marco Kartodikromo sebagi jurnalis pemula. Ia terinspirasi oleh Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. “Dulu saya ketika menyusun skripsi saya terdorong untuk menyusun sejarah jurnalistik. Saya terdorong dengan tetralogi bumi manusia yang menurut saya adalah sejarah pers,” jelas Luthfi.

Menurut Luthfi, dalam Tetralogi Bumi Manusia inilah tersemat peran jurnalis dalam sebuah era periode yang dikenal dengan era kebangkita nasionalisme.

“Saya penasaran dengan tokoh ini, Mas Marco. Lalu saya menulis skripsi mengenai sejarah Mas Marco Kartodikromo.” Lalu ia mengemukakan pertanyaan, “bagaimana saya menulis sejarah di jurusan komunikasi di Fikom UNPAD?”

Mas Marco dan Sejarah Jurnalistik

Saat itu, tutur Luthfi, ia menggunakan semata-mata insting yang digunakan dalam proses kerja jurnalsitik. “Pakai insting wartawan,” katanya. Bagaimana waratawan bekerja, memetakan topik, mencari data, sumber tertulis, mewawancari sumber, “dan saya plek melakukan itu dan mengambil data. Saya pergi ke Perpustakaan Nasional. Di sana ternyata surat kabar yang didirikan yang diasuh Mas Marco itu cukup lengkap: Doenia Bergerak. termasuk tulisan Mas Marco dari koran lain berhasil saya kumpulkan,” kenangnya.

“Sampai saya bawa tulisan itu dan saya selalu mendapat insight dan topik penelitian dari situ. Itu juga yang membuat saya berhasil mendapatkan beasiswa sejarah. Kalau saya bisa dapat beasiswa riset sejarah doktoral, bukankah yang kemarin saya  pakai insting wartawan itu adalah metode sejarah berarti? tekniknya sebenarnya tidak berbeda kan,” pikirnya kemudian.

“Saya ingin katakan, mengapa saya bilang penting meneliti sejarah Mas Marco, kesulitan ketika saya dulu mempelajari teori jurnalistik adalah mengonstekstualisasikan nilai-nilai yang diajarkan dosen-dosen saya,” jelasnya. “Tapi kurang lebih apa yang saya dapat di ruang kelas itu ilustrasinya tidak detil dan tidak membumi. Itu membuat saya merasa sejarah jurnalistik adalah matakuliah penting dan diajarkan di jurusan jurnalistik,” simpul Luthfi.

“Karena menurut saya, walaupun sejarah adalah ilmu yang sangat praktis, tapi kalau digali, sejarah jurnalistik itu sangat kaya dan bisa membantu scholar jurnalistik untuk mengembangkan ilmu jurnalistik, bagaimana kita mau mengembangkan ilmu jurnalistik, nilai-nilai jurnalistik, teknik-teknis jurnalistik, kalau kita tidak memahami sejarah perkembangan jurnalistik tersebut,” ungkap Luthfi memungkasi cerita.

Baca juga Meriset Komunikasi dengan Metode Penelitian Sejarah

Untuk melihat video dokumentasi:
0Days0Hours0Minutes0Seconds

UNDANGAN DISKUSI
Forum Bang Amir Effendi Siregar

SERIAL BINCANG SEJARAH KOMUNIKASI

Pusat Studi dan Dokumentasi NADIM Prodi Ilmu Komunikasi UII


Sesi 1: Sejarah sebagai Metode Riset Komunikasi

Pembicara
Luthfi Adam, Ph.D

Disertasinya “Cultivating Power: The Buitenzorg Botanic Garden and Empire Building in Netherland East Indies, 1745-1919” adalah pemenang Harold Perkin Prize sebagai disertasi terbaik tahun 2019-2020 di Departemen Sejarah Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat. Sebelumnya kuliah Jurnalistik Unpad dan Kajian Budaya Media UGM.

Jadwal

Minggu, 28 Juni 2020
09.30 WIB
via Zoom (in Bahasa)

 

Registrasi: tidak dipungut biaya

https://bit.ly/serialbincangsejarahkomunikasi

 

 

​Michael Schudson, pernah mengeluh “penulisan sejarah Komunikasi ‘sayangnya kurang berkembang” (Schudson. 1991). Meski keluhan Schudson itu sudah lama dituliskan, namun fakta itu masih terjadi di Indonesia.  Tak banyak sarjana Indonesia yang menyibukkan diri dengan sejarah komunikasi. Sebagai metode, sejarah barangkali tak disampaikan sebagai metodologi penelitian dalam mata kuliah metode. 

Padahal, sejarah penting sebagai instrument berefleksi. Ia adalah ruang membaca gerak ilmu komunikasi; sampai dimana ia dan apa kekurangannya. Sejarah penting untuk menentukan apa yang kita perlu ingat dan apa yang perlu kita lupakan untuk kebaikan masa depan. 

Forum Bang Amir Effendi Siregar – Prodi Komunikasi UII berniat mengadakan Bincang Serial Sejarah Komunikasi di Indonesia yang digelar dari Juni hingga September dengan platform online. 

Beberapa pembicara yang bersedia hadir adalah Prof. Rianne Subijanto  (Baruch College, CUNY) – Dr. Luthfi Adam (Northwestern) – Dr. Masduki  (UII) – Ignatius Haryanto (UMN) – Dr. Antoni (Univ Brawijaya) – Dr. Wijayanto (LP3ES) – Justito Adiprasetio (Universitas Padjadjaran) – Muzayin Nazaruddin (Tartu) – Puji Rianto (UII) – I Gusti Ngurah Putra (UGM) – Wisnu Prastyo Utama (UGM) – Norman Joshua (Northwestern)

Sementara topik-topik yang akan dibicarakan adalah Sejarah sebagai Metode Riset Komunikasi, Area Studi Sejarah Komunikasi, Genealogy Studi Komunikasi, Sejarah Pendidikan Komunikasi, Sejarah Studi Komunikasi Pasca Pembangunan,  Sejarah Sistem Pers dan Penyiaran Indonesia, Sejarah Pers Mahasiswa di Indonesia, Sejarah Media Militer Indonesia – Sejarah Humas/PR di Indonesia. 

Acara ini gratis bagi siapa saja, semoga menjadi ikhtiar dari dan untuk semua.

Agaknya anda sebagai mahasiswa Komunikasi UII, tak bisa tidak, segera harus mengalihkan fokus pada ide dan gagasan Bang Amir. Ya, anda harus meluangkan waktu barang setengah jam saja untuk menyelami kenikmatan berwacana dan merasakan keindahan idealisme yang tegak dan lurus dari seorang pendiri tempat Anda kuliah hari ini. Betul, anda memang jangan sia-siakan waktu untuk segera fokus pada pemikiran Bang Amir, tentu di tengah kesibukan mengerjakan tugas kuliah, menyiapkan kepanitiaan ini itu, mengatur jadwal agar tak ketiduran saat jam kuliah, hingga masalah romantisme pemuda kekinian lain,  dan tentu bisa saja membaca ide Bang Amir disambi memutar lagu kesukaan di spotify. Anda bakal tahu istilah baru yang jadi kata kunci hampir seluruh mata kuliah soal media, ekonomi politik dan demokrasi di Komunikasi tanpa harus mengerutkan dahi. Tiga hal itu adalah: diversity of ownership, diversity of voices, dan diversity of content. Namun, pertama kali, anda harus memertanyakan ketika anda (akan) membaca tulisan berikut di awal buku ini:

Demokrasi termasuk di dalamnya demokrasi media tidak pernah datang dari langit. Demokrasi bukanlah sesuatu yang terberi (Given). Sebaliknya, demokrasi harus terus menerus diperjuangkan, bahkan di negara yang sudah maju sekalipun.”

Begitulah salah satu kutipan yang ditulis oleh Puji Rianto, orang dekat Amir Effendi Siregar, salah satu pendiri Ilmu Komunikasi UII. Pengantar itu ia letakkan di awal tulisan untuk mengantarkan pembaca memasuki ruang intelektual yang hadir lewat tulisan-tulisan dan karya Bang Amir dalam buku berjudul “Media, Kapitalisme, dan Demokrasi dalam dinamika politik indonesia kontemporer.” Ini adalah buku himpunan gagasan-gaasan Bang Amir, nama panggilan Amir Effendi Siregar, yang terserak dan tersebar di beragam kesempatan dan sempat terarsip di Prodi Ilmu Komunikasi UII dan belum sempat terpublikasikan. Guna merawat ide-ide di dalamnya, maka menerbitkannya menjadi sebuah buku adalah salah satu upayanya, selain juga mendiskusikan dan membuka siapapun untuk membedahnya dalam tulisan-tulisan lain selain tulisan kali ini.

Maksud Rianto menulis itu, bahwa demokrasi meski ia hadir di negara maju, bahkan di negara berkembang, tetap butuh generasi muda yang mengawal dan meneruskan perjuangan. Rianto ingin mengajak pembaca, terutama dosen dan mahasiswa Komunikasi UII, tempat pembaca portal ini berada, meneruskan dan mengawal demokrasi yang telah dikerjakan Bang Amir. Jika begitu, maka ide-ide Bang Amir yang selama ini telah ia gaungkan selama hidup, bergerak, juga dalam membangun Komunikasi UII,  bisa terus mengabadi. Ya, karena generasi muda merawatnya.

Buku yang merupakan pijar pemikiran Bang Amir selama paska reformasi ini beberapa masih relevan hingga saat ini dalam kajian komunikasi kontemporer. Misalnya, Bang Amir menulis bersama Rahayu, soal digitalisasi yang hingga sampai hari ini belum kunjung usai. Ada tarik meanarik kepentingan antara swasta, publik, dan tentu saja pemerintah yang belakangan ini kian liberal saja dalam pengelolaan media, komunikasi dan demokrasi.

Bila anda membaca buku ini, anda akan menemukan sajian lengkap penting kajian soal regulasi dan regulator media, kondisi media dan demokrasi hari ini, dan juga soal bagaimana ekonomi politik memandang media dan demokratisasi media di Indonesia secara kontemporer. Misalnya, dalam tulisan berjudul “Mengefektifkan Peran-Peran Lembaga Pers”, dengan satu paragraf kuat, Bang Amir, yang juga adalah pentolan Pers Mahasiswa Himmah UII era 70an ini, menegaskan bahwa menjaga kebebasan pers dan pers itu sendiri bukan semata tugas media/ pers, melainkan publik masyarakat. Kebebasan pers juga penting, karena tanpanya, demokrasi dan kebebasan masyarakat bermedia tak akan terwujud.

Ini pesan kuat pada dosen dan mahasiswa Komunikasi UII bahwa tugas gerakan literasi media, pemantauan media dan demokratisasinya, ada di pundak warga akademik pula. Sebab, bagaimanapun, warga akademiklah yang bisa memandang media dan demokratisasi media secara jernih dan berjarak, ketimbang pers dan regulatornya sendiri, bahkan. Bang Amir menulis:

Kita menyadari bahwa peranan lembaga dan institusi pers belum cukup baik. Semuanya masih dalam proses untuk memaksimalkan efektivitas lembaga dan institusi pers. Beberapa kelemahan yang terjadi selama ini bukan alasan untuk membunuh kemerdekaan pers karena tanpa kemerdekaan pers, demokrasi akan mati. Perlu usaha bersama semua komponen masyarakat untuk meningkatkan profesionalisme dalam dunia kerja pers.

Selain tulisan Bang Amir, ada juga testimoni kolega, sahabat, dan mantan mahasiswa Bang Amir, di akhir buku. Semuanya berkesan. Jika anda membacanya, sejenak anda akan merasa kehilangan dengan Bang Amir meskipun belum pernah kuliah bersama dosen cerdas ini. Sebab dari penuturan di testimoni ini, anda juga akan merasa Bang Amir adalah sosok dosen yang diidamkan, mencerdaskan, tak menggurui, teguh memegang prinsip tapi sekaligus menghargai pendapat orang lain. Bukan saja soal media, komunikasi dan demokratisasi media, tapi anda juga akan memahami dan mengamini bahwa apa yang dikerjakan Bang Amir adalah soal kebenaran dan kemanusiaan, yang harus anda lanjutkan!

Setelah lebih dari satu tahun wafatnya Bang Amir Effendi Siregar, dan juga bersamaan dengan telah diraihnya Akreditasi A Prodi Komunikasi UII, keluarga Prodi Komunikasi UII melakukan takziah dan tabur bunga di makam Amir Effendi Siregar. Bang Amir, panggilan akrab Amir Effendi Siregar. adalah satu tokoh pendiri Komunikasi UII. Kegiatan tabur bunga yang diadakan pada 2 Agustus 2019, ini diikuti oleh staf program studi, kru Uniicoms TV, Dosen, dan Staf Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif (PSDMA) NADIM Komunikasi UII.

Melalui perjalanan dari kompleks Universitas Islam Indonesia (UII) ke arah barat, sampailah seluruh warga akademik Komunikasi UII ke tempat peristirahatan terakhir Bang Amir di TPU Pemakaman Umum Pemda Sleman. Prosesi dimulai dengan setiap hadirin menaburkan bunga ke atas makam Bang Amir. Setelah itu, doa bersama dilakukan dengan dipimpin Anang Hermawan, salah satu dosen di angkatan pertama Prodi ini.

“Bang amir itu dulu tokoh salah satu pendiri Prodi Ilmu Komunikasi dan yang menekankan prodi ini harus ada di UII,” kata Anang Hermawan. Ia juga mengabarkan dan mengucapkan syukur di pusara Bang Amir bahwa perjuangan Bang Amir kini telah, setidaknya, berbuah salah satunya dengan diraihnya akreditasi A kembali.

“Pak Anang berkaca-kaca, ia ingat perjuangannya dan kita semua membangun visi Prodi ini,” kata Puji Hariyanti, Ketua Prodi Komunikasi UII saat ini. Menurut Anang, seluruh warga akademik Komunikasi UII harus menghargai perjuangan para pendiri, para guru yang mendahului kita, refleksi, dan meneruskan cita-cita Bang Amir.

Bang Amir merupakan sosok yang memperjuangkan Prodi Komunikasi UII di era 2004 yang juga sangat berpengaruh bagi berdirinya prodi ini. Ia juga yang menegaskan dan mengonsep Prodi Komunikasi UII memiliki konsentrasi studi Manajemen Media, satu-satunya di Indonesia, saat itu. Bang Amir merintisnya bersama Anang Hermawan, Masduki, dan beberapa dosen di angkatan pertama saat itu. Jatuh bangun, pontang panting berjejaring, bahkan bisa sampai Prodi ini jadi seperti rumah kedua, “Dulu kita sampai bikin laporan dan kegiatan mahasiswa, itu sampai menginap, sampai begitu perjuangannya,” kata Topari, salah satu staf Program Studi saat itu, yang kini telah berkarir menjadi guru di sekolah negeri di Gunung Kidul.

“Kami berharap kami bisa meneruskan cita-cita beliau. Dalam rangka mengenang para pendiri kita, kemarin sudah akreditasi juga, kami pikir perlu mengenang para pendiri kita,” kata Anang di sela-sela tabur bunga.