Tag Archive for: AI

AI

Artificial Intelligence (AI) selalu dianggap sebagai teknologi revolusioner. Menariknya, AI telah diprediksi puluhan tahun lalu oleh teori budaya. Pernyataan ini dibedah dalam International Seminar “Contesting (New) Meanings: AI and Creative Industries” oleh Prof. Kristian Bankov pada 13 Februari 2026 di Gedung RAV Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Profesor dari New Bulgarian University itu menyebutkan bahwa kecerdasan buatan modern mencerminkan cara makna selalu bekerja dalam budaya. Dipertegas dengan teori Umberto Eco, seminar ini memaparkan budaya, bahasa, dan kecerdasan buatan semuanya beroperasi melalui jaringan yang dinamis.

Umberto Eco menantang model strukturalis tentang makna, lalu mengusulkan budaya sebagai ensiklopedia. Sistem semantic luas, tanda-tanda memperoleh makna lewat koneksi dengan tanda lain.

“We could consider every cultural unit as emitting given wave-lengths which put it in tune with a limited number of other units and the possibilities of attraction or repulsion change in time,” ucap Kristian Bankov.

Pernyataan tersebut selaras dengan model bahasa AI modern, bukan menghafal makna melainkan menghubungkan statistik kata-kata. “This cycle repeats billions of times, sculpting the landscape into a form that captures grammar, semantics, world knowledge, and reasoning patterns,” tambahnya.

AI tidak menghimpun dan menyimpan bahasa layaknya kamus; AI memetakan bahasa seperti jaringan. Kata-kata berada dalam ruang dimensi tinggi; maknanya muncul dari kedekatan dan konteks. Gagasan Umberto Eco mempercayai bahwa makna bersifat rasional dan dinamis.

Dalam industri kreatif, AI terintegrasi dalam banyak hal, misalnya produksi film, iklan, penciptaan karya tulis, hingga desain grafis. Kristian Bankov menyebutnya sistem generative mendefinisikan sebagai teknologi. “Learn patterns from data and produce content based on those patterns,” ucapnya.

Kreativitas AI berbeda dengan kreativitas manusia, imajinasi manusia bergantung pada pengalaman hidup, emosi, dan persepsi subjektif. Sebaliknya, AI menghasilkan keunikan lewat pola data yang besar. Hasilnya, AI tak menggantikan manusia melainkan partner kolaborasi, kreativitas yang dibantu AI menggabungkan komputasi dengan revisi manusia.

“Restoring a proper balance between the cultural realm and the commercial realm is likely to be one of the most important challenges of the coming Age of Access,” tambahnya.

Kristian Bankov memberikan saran kepada mahasiswa untuk tetap bertanggung jawab dalam menggunakan AI. Meningkatkan literasi adalah inti di era modern. AI bukanlah jalan pintas, hasilnya akan mendalam ketika mahasiswa berinteraksi lewat informasi, bukan hanya pasif. Di tingkat tertentu AI dapat digunakan untuk kritik, simulasi, dan desain penelitian. Selain itu, mahasiswa perlu melakukan verifikasi atas pertanyaan dan jawaban.

“Students should use AI flexibly and responsibly as a supportive learning partner for exam preparation, creativity, and skill development by applying it according to their knowledge level, verifying its outputs, and using it to strengthen understanding rather than just memorization,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

IPC Students Achieved 3rd Winner Beat the Prompt Competition the 2nd ASEAN School of Business Network 2025

Muhammad Atha Damario, a student of the International Program Communication (IPC) at UII batch 2022, won third place in the international competition ‘Beat the Prompt Competition the 2nd ASEAN School of Business Network 2025’ last August.

The competition, held from August 2 to 8, 2025, was an international event attended by contestants from the ASEAN region, including Malaysia and the Philippines. This competition was organised by the ASEAN School of Business Network (ASBN). With the theme ‘The Youth Potential to Create a Better Society’, Muhammad Atha Damario and his team were excited because the theme was relevant to this age.

The challenge of this competition was to create a video without using AI text for video tools, showcasing human storytelling in contrast to AI-generated content.

“Since it was an international competition, my partner and I felt that our knowledge of the theme, which was about AI, really supported us in participating in the competition,” said Atha.

This experience was not his first time; he is convinced that creating videos is his passion. “I have participated in and won many video competitions, so you could say that this is one of my passions,” he added.

He never worries about the result, just does his best because he is used to practising his editing skills. He has many video clips in his gallery and is really into this activity; recording videos may be a daily activity for him.

“I always try to prioritise my studies, no matter what activities I am involved in. After finishing my studies, I always have some free time, which I use to practise my editing skills, either through YouTube videos or by using my own footage to try out new editing techniques,” he said.

“I received a message that no matter how difficult the activity is, even if you lack confidence in the competition timeline and feel intimidated by the competition, just do it, you won’t know the outcome until you try,” he concluded.

For the information, this competition was eligible for international undergraduate students, with teams of up to five members allowed.

Yayasan Darussalam Selokerto dan Prodi Ilmu Komunikasi UII Gelar Workshop Menjadi Guru di Era AI

Yayasan Darussalam Selokerto (YDS) dan Prodi Ilmu Komunikasi UII mengadakan Workshop bertema “Menjadi Guru di Era Artificial Intellegence (AI) & Produksi Media Pembelajaran dan Promosi Sekolah Berbasis AI.”

Workshop dilaksanakan pada Sabtu, 8 November 2025 di Restoran The Harjo’s Pancasari Yogyakarta yang dihadiri oleh pembina, pengawas, pengurus YDS, guru, tenaga kependidikan RA dan SDIT Darussalam Selokerto, serta beberapa mahasiswi Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII. Kegiatan tersebut merupakan salah satu aktivitas dari rangkaian program pengabdian masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi UII di RA dan SDIT Darussalam Selokerto.

Pemateri kegiatan ini adalah Prof. Dr Subhan Afifi, M.Si (Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII)  dan Budi Yuwono, S.Sos, M.Sn.  (Dosen STSRD Visi Yogyakarta dan Praktisi Disain Komunikasi Visual).

AI Tidak Menggantikan Profesi Guru

Prof. Subhan Afifi menyampaikan dalam materinya, teknologi AI memberikan tantangan terhadap eksistensi profesi guru, dan juga profesi-profesi lainnya di masa depan. Prof. Subhan mengutip pernyataan Bill Gates yang memprediksi bahwa dalam 10 tahun mendatang, guru-guru akan tergantikan oleh AI. Bahkan saat ini sudah mulai muncul sekolah tanpa guru.

“Tentu agendanya adalah bagaimana para guru merespon tantangan ini,” ujar Prof. Subhan. “AI atau teknologi itu hanya tools saja. Kita meyakini bahwa guru tidak tergantikan oleh AI, tapi bagaimana para guru memanfaatkan AI untuk mendukung tugas mulianya. Tugas guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi mendidik keyakinan, karakter dan akhlak mulia dengan sentuhan personal dan manusiawi. Kemampuan itu yang tidak dimiliki AI,” tambahnya.

Selain pemaparan dari Prof. Subhan, pemateri berikutnya, Budi Yuwono menambahkan, kepintaran sebenarnya dimiliki oleh manusia, bukan AI. “AI  sebenarnya “bodoh”, karena AI hanya menerima data dan mengikuti instruksi atau prompt manusia untuk memproduksi sebuah karya, seperti video dan gambar,” jelas Budi Yuwono.

Budi Yuwono memberikan stategi produksi video pembelajaran dan promosi sekolah berbasis AI.  Kuncinya adalah membuat prompt atau instruksi untuk produksi video dengan teknologi AI harus secara detail untuk mendapatkan hasil optimal yang diharapkan. “Prompt dituliskan dengan menyertakan jenis visual, subjek, detail subjek, background setting, mood atau suasana, bahkan hingga ke teknik kamera. Di sinilah letak kreativitas manusia dalam mengupayakan pekerjaan dengan menggunakan teknologi AI,” ujar Budi Yuwono.

Manfaat-Mudharat AI

Prof. Subhan menyampaikan bahwa para guru dan tenaga kependidikan bisa mengoptimalkan teknologi AI dengan berbagai manfaat dan kelebihannya untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. “Manfaatnya sangat banyak, misal membatu guru dalam hal efisiensi waktu, personalisasi pembelajaran, inovasi media dan metode, analisis data pembelajaran, pengembangan profesional hingga menjadi pendamping/asisten guru dalam mengembangkan kualitas pembelajaran,” tambahnya.

Meski demikian, selain memberikan manfaat, AI memiliki potensi dampak buruk (mudharat) yang harus diwaspadai, seperti plagiarisme, berkurangnya kreativitas dan kemandirian, hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, terancamnya privasi dan keamanan, bahkan terganggunya kesehatan mental pengguna yang menggunakannya secara berlebihan dan tidak terkontrol.

“Untuk itu diperlukan peningkatan literasi digital di kalangan para guru untuk memanfaatkan AI dengan bijak dan menegakkan etika, sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, agar terhindar dari dampak buruk AI” pungkas Prof Subhan.  (**)

Ask the Expert Bolehkah Mengerjakan Skripsi dengan AI

Skripsi atau tugas akhir berbasis riset menjadi salah satu persyaratan meraih gelar sarjana, termasuk di Universitas Islam Indonesia (UII). Setidaknya, proses menggarap skripsi memakan waktu satu semester atau lebih. Butuh kecermataan dan analisis mendalam untuk menyelesaikannya, jika menginginkan jalan pintas, bantuan AI jadi pilihan. Lantas bolehkah menulis skripsi dengan AI?

Data dari Chegg Survey tahun 2024 menunjukkan bahwa 67 persen mahasiswa di seluruh dunia menggunakan artificial intelligence (AI) untuk membantu menyelesaikan tugasnya. Peringkat pengguna tertinggi adalah mahasiswa Indonesia yakni 86 persen, disusul Malaysia dan Kenya 82 persen, dan India 75 persen.

Jika melihat data, nampaknya mahasiswa di Indonesia telah bergantung dengan AI. Benarkah asumsi tersebut? kebijakan soal penggunaan AI belum jelas di Indonesia, apakah menggunakan Ai sebagai bentuk plagiarisme?

Rektor UII, Prof. Fathul Wahid menjelaskan dalam sesi Ask the Expert bahwa menggunakan AI dalam menulis skripsi tidak dapat dibenarkan, porsi dominan menulis berada pada mahasiswa. Simak, berikut wawancara selengkapnya.

  1. Sebatas apa kita boleh menggunakan AI untuk membantu menulis skripsi atau riset?

Yang pertama, itu skripsi siapa? Kalau kita mengaku bahwa itu skripsi kita, maka kita yang menulis. Tapi kalau itu kita boleh akui sebagai skripsi (milik) AI, silahkan AI menulis. Nanti sampulnya adalah ditulis oleh AI kira-kira gitu. Sehingga porsi (dominan) penulisan itu harus tetap pada mahasiswa.

  1. Sudahkah ada aturan terkait penggunaan AI dalam bidang akademik?

Ada aturan atau tidak, secara etis itu bermasalah. Karena ini soal kemengakuan, authorship. Jadi kalau itu bukan karya kita, kita tidak boleh mengaku itu karya kita. Normanya seperti itu, apalagi jika sudah ada aturan.

  1. Apa saja pekerjaan di bidang akademik yang boleh menggunakan AI?

Ada porsi dimana kita bisa menggunakan AI misalkan untuk mencari inspirasi, memperbaiki bahasa, sampai level tertentu mungkin. Tapi tetap saja ada koridor yang harus disepakati. Yaitu masalah kerahasiaan, privasi, itu tidak perlu dilanggar. Ada ruang-ruang itu, dan menolak AI juga bukan pilihan pijak. Tapi bagaimana AI digunakan dalam kadar yang tepat secara bijaksana.

Dari statement, Pak Rektor di atas sudahkah jelas hukum menulis skripsi dengan AI? Bagaimana menurutmu Comms?

Pak Rektor Mengajar: Prinsip Etika dalam Pemanfaatan Akal Imitasi

Pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam dunia akademik nampaknya perlu mendapat perhatian khusus. Alih-alih menyelesaikan tugas secara efisien, justru AI semakin mengambil peran dominan dan menguasai cara berfikir. Bagaimana seharusnya?

Dalam sesi kuliah pakar bersama Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. pada Sabtu, 19 Juli 2025 keabu-abuan AI dalam bidang akademik dibahas mendalam dalam materi bertajuk “Prinsip Etika dalam Pemanfaatan Akal Imitasi”. Dibuka dengan ilustrasi suasana ruang kelas SD, salah satu siswa menggunakan kalkulator sementara siswa lainnya mengerjakan tanpa bantuan alat.

Sekitar lima menit ratusan mahasiswa Ilmu Komunikasi diajak menganalisis ilustrasi tersebut. “Bagaimana pendapat anda terkait ilustrasi yang saya buat dengan AI ini?” ujar Pak Rektor. Jawaban beragam, mulai dari cara cepat mendapatkan hasil, ketergantungan terhadap alat, hingga perspektif ketidakadilan.

Pertanyaan dilempar ulang, “kalau yang menggunakan kalkulator adalah pedagang di pasar?” seluruh mahasiswa sepakat menjawab tak keberatan. Sama halnya dengan AI, ada etika dalam pemanfaatannya.

Meski demikian, Pak Rektor menekankan bahwa kehadiran AI tidak untuk ditolak melainkan menempatkan AI sebagai mitra kolaborasi yang adil.

“Pendekatan etis dan kolaboratif untuk mengembangkan AI sebagai mitra, bukan pengganti,” ujarnya.

“Perlu perdebatan kritis dan partisipatif untuk arah perkembangan AI yang adil,” tambahnya.

Sementara realita penggunaan AI dalam bidang akademik semakin menjauh dari etika. Secara sadar beberapa mahasiswa memanfaatkannya untuk mengambil alih pengerjaan proyek riset. Riset dari Tirto.id bersama Jakpat tahun 2024 menunjukkan jika 86,21 persen responden (mahasiswa dan siswa SMA) menggunakan AI untuk meyelesaikan tugasnya.

Menyerahkan sepenuhnya tugas pada AI sangat berdampak, secara umum manusia akan kehilangan otonomi berfikir.

“Membuat kalimat saja tidak otonom, membuat kalimat saja diserahkan ke AI. Kita kehilangan kemampuan pengambilan Keputusan,” jelas Pak rektor kepada mahasiswa.

Lebih luas, dampak dalam masyarakat akan menyebabkan terganggunya demokrasi, ekonomi, hingga keadilan. Di Hollywood beberapa pekerja seni, perawat, dan pekerja lainnya melakukan pemogokan kerja selama lima bulan lantaran sistem pengumpulan informasi pada mesin AI mengmbil karya dan riset mereka tanpa persetujuan.

“Karena model AI menggunakan rujukan karya mereka tanpa concern. Ada basis data untuk belajar, dari sini akan digunakan untuk rujukan. Memuat referensi karya-karya tanpa persetujuan,” jelasnya.

Etika Kecerdasan Buatan (AI): Nilai-Nilai Dasar

Empat nilai dasar yang menjadi landasan bagi sistem AI yang bekerja untuk kebaikan umat manusia, individu, masyarakat, dan lingkungan.

  1. Menghormati, melindungi, dan mempromosikan hak asasi manusia, kebebasan dasar, dan martabat manusia
  2. Hidup dalam masyarakat yang damai, adil, dan saling terhubung
  3. Menjamin keragaman dan inklusivitas
  4. Kesejahteraan lingkungan dan ekosistem

Etika Kecerdasan Buatan (AI): Prinsip-Prinsip

  1. Berproporsi dan tidak merugikan
  2. Keamanan dan keselamatan
  3. Keadilan dan non-diskriminasi
  4. Keberlanjutan
  5. Hak privasi dan perlindungan data
  6. Pengawasan dan keputusan manusia
  7. Transparansi dan keterjelaskan
  8. Tanggung jawab dan akuntabilitas
  9. Kesadaran dan literasi
  10. Pemerintahan dan kolaborasi multi-pihak yang adaptif

Lantas, apakah mahasiswa boleh menggunakan AI dalam menyelesaikan tugasnya? Jawaban Pak Rektor “jangan sampai kehadiran AI menginjak martabat manusia,” jawabnya lugas.

Creativity in the Age of AI: Tools, Limits, and Ethics

Artificial Intelligence (AI) is transforming various aspects of our lives, ranging from education and healthcare to art and entertainment. In the creative media industry, in particular, AI tools such as ChatGPT, MidJourney, and Adobe Firefly are being utilized to write scripts, design visuals, and even compose music.

While these developments bring exciting opportunities, they also raise serious questions: Can machines truly replace human creativity? What makes humans still important in creative jobs? And how do we address the ethical concerns that AI raises? This article explores what AI can and cannot replace in creative media, highlighting both the positive potential and the important limits.

The Positive Side: AI as a Creative Assistant

AI can help people in creative jobs work faster and more efficiently. For example, video editors now use AI to automatically cut scenes or improve sound quality. Writers can get help generating ideas or correcting grammar. Designers can turn sketches into complete images with a few clicks. These tools save time and make the creative process smoother. In fact, AI can help people with less experience try creative work, such as making music or videos. So, AI is not always replacing humans—it often assists them, helping ideas come to life more quickly.

The Human Touch: What Machines Can’t Replace

However, even with smart tools, there are still things only humans can do. Creativity is not just about making things look good—it’s about meaning, emotion, and culture. A machine might design a logo, but it can’t understand a client’s personal story the same way a human can. Writers bring emotion from real-life experiences. Filmmakers connect with audiences because they understand pain, love, and joy. This human touch—the emotion, empathy, and imagination—is hard for machines to fully copy. AI may generate content, but it can’t create with the same depth, feeling, or purpose that a person brings.

Ethics of AI in media 

 AI can also bring risks—especially in creative jobs. One concern is copyright: Can we use AI-generated content freely? What if AI copies someone else’s style or work without permission? Another issue is job loss. If companies start using AI to replace designers, editors, or writers, what happens to young people trying to enter the industry? There’s also the danger of misinformation. AI can create fake videos or news, which is dangerous in media. Because of these risks, many experts are calling for rules and regulations. There must be clear guidelines about using AI fairly, protecting workers, and avoiding harm.

AI is a powerful tool that is already changing the creative media industry. It can help professionals be more productive and open doors for new creators. But it cannot replace the human mind—the emotions, ethics, and original thinking that fuel true creativity. To use AI well, we must combine the best of both: let machines assist, but let humans lead. As we move forward, we must also build strong rules to ensure AI is used wisely, ethically, and respectfully in the creative world.

References

How generative AI is unlocking creativity. (2024, October 17). Adobe Experience Cloud. Retrieved July 14, 2025, from https://business.adobe.com/blog/how-generative-ai-unlocking-creativity

Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence. (2021, 11). unesco, 1-44. https://unesdoc.unesco.org/in/documentViewer.xhtml?v=2.1.196&id=p::usmarcdef_0000381137&file=/in/rest/annotationSVC/DownloadWatermarkedAttachment/attach_import_75c9fb6b-92a6-4982-b772-79f540c9fc39%3F_%3D381137eng.pdf&updateUrl=updateUrl4945&ark=/ark:/48223

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

 

Dinamika perkembangan artificial intelligence (AI) mengalami percepatan yang cukup signifikan. Dengan prompt yang tepat AI mampu menghasilkan gambar, viseo, hingga musik. Akankah hal tersebut berpotensi mengancam pekerjaan Gen Z di Industri kreatif?

Beberapa isu yang disoroti antara lain:

  1. Potensi penggantian pekerjaan oleh AI
  2. Kesenjangan keterampilan digital
  3. pentingnya kolaborasi manusia dan AI
  4. Dampak etis dan sosial
  5. Perlunya pendidikan dan pelatihan

Selamat mendengarkan Comms!

AI

Will AI eventually exceed its creator’s logic and reshape humanity’s future? In recent years, artificial intelligence has become an important part of daily life, influencing everything from morning routines to complex professional tasks.

As it continues to develop, AI enhances efficiency, transforms industries, and raises ethical questions about its societal roles. To fully understand Al’s impact, it requires us to explore and examine its presence in everyday life, its influence on professional fields, and the ethical dilemmas it presents, providing a comprehensive framework to assess both its promises and challenges.

AI is becoming a silent but essential force that affects every aspect of our lives and shapes the way we engage with the outside world. AI-powered devices like smart assistants, customized alarms, and specially tailored news feeds influence our daily routines from the time we wake up. While navigation systems optimize routes to save time and money, platforms such as Netflix and Spotify use complex algorithms to suggest entertainment based on our interests. These AI-powered technologies improve convenience and are prime examples of the effectiveness and diversity that were promised by AI, but as it dominates our daily lives, we are forced to think about how technology may affect human life. An emerging concern is AI-Induced Cognitive Atrophy (AICICA), which suggests that overreliance on AI-powered systems. It could lead to cognitive decline, particularly in skills such as problem-solving and decision-making. Just as problematic internet use (PIU) has been linked to reduced cognitive engagement, AICICA raises the possibility that excessive dependence on AI may weaken critical thinking abilities.

When AI automates tasks that require analysis, judgment, and creativity, individuals may become less inclined to engage deeply with information or think independently. (From tools to threats: a reflection on the impact of artificial intelligence chatbots on cognitive health, 2024)

Although it saves us from repetitive duties, will it keep running the risk of weakening critical skills like flexibility and decision-making? It would change if we could control AI’s potential while maintaining human creativity and autonomy that drive significant changes by comprehending and controlling our reliance on it.

AI is changing various sectors by doing routine operations and analyzing data within a short time with a high level of accuracy. AI-powered solutions are already helping doctors with patient diagnosis, predicting the outcome of a treatment, and some surgeries. The same way, AI is improving investment decisions in the financial sector by identifying fraud and offering analytical recommendations. Moreover, AI platforms are changing the education system by providing individual learning paths for every student and improving the teaching process. However, just like these improvements boost creativity and productivity, they come with a set of problems.

AI is raising more concerns about unemployment since its automation is taking over roles in customer service, manufacturing, and even creative industries. Despite these concerns, AI should not be seen as a complete replacement for human workers but rather as a tool to enhance human capabilities. As experts suggest, the key lies in upskilling existing employees to integrate AI effectively into the workforce rather than replacing them entirely. According to industry leaders, AI can work alongside humans to improve efficiency and innovation, provided there is a balance between AI’s automation and human emotional intelligence, something AI alone cannot replicate. (curry, 2023)

As AI develops, there are ethical issues that need to be discussed. At the top of the list is the privacy issue since AI systems gather and analyze users’ data. It is a concern for many users who are not always aware of how their information is being used or handled, which raises questions about their consent. Furthermore, existing AI algorithms contain biases that can result in unfair treatment of individuals and can lead to discriminatory outcomes in hiring, lending, and law enforcement. This is another pressing concern: accountability. When AI systems fail, as in an autonomous vehicle or in a financial prediction, what then? Who is responsible: the developer, the user, or the AI? These concerns can only be addressed by clear ethical guidelines and regulatory frameworks. With proactive governance, we can ensure that AI development aligns with our societal values, fostering trust and fairness in its implications.

Artificial intelligence is undeniably transforming every aspect of our lives, from the way we manage daily tasks to its real-life applications in professional fields. However, its impact is not without challenges, particularly in the ethical realm. By embracing its benefits while addressing its risks, we can shape AI into a tool that enhances, rather than undermines, human progress. The future of AI depends on our ability to navigate its complexities responsibly, ensuring it serves humanity’s best interests while preserving the values that define us.

 

Reference:

curry, R. (2023, August 10). How A.I. can help create jobs for humans, not just automate them. Retrieved from Technology Executive Council: https://www.cnbc.com/2023/08/10/how-ai-can-help-create-jobs-for-humans-not-just-automate-them.html

From tools to threats: a reflection on the impact of artificial-intelligence chatbots on cognitive health. (2024, April 2). Retrieved from national lubrary of medicine : https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11020077/

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

AI

Artificial Intelligence (AI) mengalami perkembangan yang begitu dinamis. Salah satu generative AI yang paling populer tahun 2023 adalah ChatGPT. WriterBuddy melaporkan rilis pada penghujung tahun 2022 hingga Agustus 2022, ChatGPT meraih jumlah pengguna lebih dari 14,6 miliar.

ChatGPT merupakan satu dari deretan generative AI dalam bidang penulisan yang mampu membuat teks, menerjemahkan bahasa, hingga menjawab berbagai pertanyaan. Banyak dari kalangan mahasiswa yang memanfaatkan ChatGPT untuk memecah kebuntuan dalam mengerjakan tugas.

Meski popularitasnya tak diragukan lagi, ternyata ada deretan AI sejenis yang bisa dicoba terlebih untuk membuat artikel ilmiah. Pengguna dapat memanfaatkan untuk pencarian data, membuat draft tulisan yang diinginkan melalui prompt yang spesifik. Namun perlu diketahui bahwa pemanfaatan AI bukanlah menjadi rujukan utama dan perlu dilakukan pengecekan berulang.

Rekomendasi AI untuk Menulis Artikel Ilmiah

  1. Jenni AI

Jenni AI banyak direkomendasikan dalam bidang akademik penulisan ilmiah. Serupa dengan ChatGPT, dilengkapi dengan chatbot pada Jenni AI mampu menjadi asisten penelitian yang komprehensif. Terdapat fitur sicasi in-text, multibahasa, hingga generate teks dari file. Bahkan klaimnya, tulisan yang dihasilkan unik dan terbebas dari plagiarisme. Salah satu YouTuber dengan akun Academic English Now menyebut Jenni AI sangat unggul dalam pembuatan outline dibanding dengan AI sejenis lain “has outline builder feature, versatility in outlining”.

  1. PaperPal

Selanjutnya ada PaperPal yang mampu mengoreksi tulisan akademik secara detail. AI ini dapat membantu peneliti maupun penerbit untuk mengoreksi kesalahan ketik, plagiarisme, ketidakkonsistenan structural dan teknis. Dalam aplikasinya PaperPal dilengkapi dengan fitur unggah dan download naskah dari Microsoft Word untuk efisiensi pekerjaan.

  1. Grammarly

Jika PaperPal dirancang untuk membantu mengoreksi tulisan akademik, Grammarly lebih fleksibel dalam tata bahasa. AI ini banyak dimanfaatkan oleh para blogger, penulis, dan copywriter karena mampu menciptakan SEO yang efektif. Selain memeriksa tata bahasa, Grammarly mampu mendeteksi plagiarisme.

  1. Iris AI

 Iris AI menjadi tools yang dapat memindai dan menganalisis kumpulan topik penelitian yang relevan denga napa yang tengah kita cari. Dengan kemampuan tersebut Iris AI sangat membantu dalam mempercepat proses penelitian yang tengah dilakukan dengan cara memberi referensi secara efektif.

  1. Yomu AI

Terakhir ada Yomu AI yang hampir mirip dengan cara kerja Jenni AI. Yomu AI sangat membantu dalam penulisan esai melalui fitur chatbot yang tersedia. Dengan memberikan prompt spesifik, Yomu AI akan mengembangkan dengan kalimat dan argumen yang relevan. Tak hanya berhenti disana, Yomu AI akan melakukan pengeditan, paraphrase, hingga mempersingkat teks. Sama dengan Jenni AI, Yomu AI mengklaim bahasa yang digunakan unik dan terhindar dari plagiarisme.

Itulah deretan AI yang mampu membantu dalam penulisan ilmiah, meski demikian AI bukan rujukan utama dalam menyusun tulisan secara utuh.

Baca artikel selengkapnya terkait AI pada laman berikut:

https://communication.uii.ac.id/benarkah-pekerjaan-manusia-akan-digantikan-oleh-ai-chatgpt-tak-terkendali-hingga-nasib-lulusan-ilmu-komunikasi/

https://communication.uii.ac.id/mana-yang-lebih-menguntungkan-memperkerjakan-manusia-atau-ai/

https://communication.uii.ac.id/kupas-tuntas-soal-ai-serta-perannya-dalam-ilmu-komunikasi/

https://communication.uii.ac.id/benarkah-ai-terbukti-lebih-kreatif-dibanding-manusia/

https://communication.uii.ac.id/7-ai-paling-populer-sepanjang-tahun-2023-bisa-bikin-kamu-makin-produktif/

https://communication.uii.ac.id/society-5-0-definisi-lengkap-dan-peran-ilmu-komunikasi-terkait-ai-hingga-transformasi-digital/

Gemini

Salah satu artificial intelligence (AI) yang dinamai Gemini telah rilis pada 21 Maret 2023, tengah menjadi sorotan karena dinilai lebih unggul atau canggih dari AI sejenis lainnya termasuk ChatGPT. Benarkah demikian?

Setelah melalui berbagai uji perusahaan dan berfungsi secara optimal akhirnya Gemini dapat digunakan publik pada 21 Mei 2024. Gemini dibuat oleh salah satu pendiri Google, Sergey Brin bersama staf Google lainnya untuk membantu pengembang dan bisnis yang agar terus berinovasi.

Hal tersebut sesuai dengan data pengguna AI yang memanfaatkannya untuk mendukung kerja pemasaran atau marketing (Konsultan Bisnis McKinsey, 2023).

Pada laman resminya tertulis bahwa Gemini merupakan AI paling mumpuni dari ekosistem Google lainnya “The Gemini ecosystem represents Google’s most capable AI”.

Gemini adalah chatbot AI dengan teknologi Natural Language Processing (NPL) yang mampu merespon pertanyaan dan perintah dari pengguna. Gemini AI dapat digunakan untuk menghasilkan teks, menerjemahkan bahasa, menciptakan konten kreatif, hingga menjawab pertanyaan dengan informatif.

Iwan Awaluddin Yusuf, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia, yang juga pemerhati perkembagan AI menilai bahwa saat ini masyarakat semaikin diuntungkan dengan fitur-fitur, kebaruan basis data, dan kecepatan respons yang ditawarkan aplikasi generative AI terbaru.

Namun ia mengingatkan risiko bias data yang akan tetap terjadi sehingga perlu membandingkan dengan data lain. Sikap kritis dan evaluatif atas jawaban AI juga perlu dikedepankan sehingga kretivitas manusia tetap memliki peran aktif.

Membandingan Gemini dengan ChatGPT

Berdasarkan data pengguna kedua model AI tersebut, ChatGPT tentu lebih populer karena lebih dulu beroperasi. Melansir dari data yang disampaikan Similar Web, per 3 Juli 2024 pengguna ChatGPT memiliki angka kunjungan 834,1 juta pengguna, sementara Gemini di angka 422,2 juta pengguna.

Perbedaan paling mencolok dari keduanya tentu soal sumber data dan respons terkini. Dri artikel yang ditulis Tempo Eksklusif menyebut jika Gemini dilatih dengan data real time dari internet sehingga informasi lebih up to date. Sementara ChatGPT data yang digunakan untuk merespon permintaan pengguna terhenti pada September 2022.

Untuk membuktikan kecanggihan antara Gemini dan ChatGPT, tom’s guide dalam laman resminya melakukan uji bertajuk battle of chatbots dengan menganalisis 9 aspek. Hasilnya, Gemini unggul pada 5 aspek, ChatGPT unggul dalam 3 aspek, dan 1 aspek imbang.

Coding Profiency, adalah aspek dasar pada model AI jenis ini. Bahasa dan kode seputar penulisan, memperbarui, dan menguji bahasa yang berbeda. Dengan perintah kalimat yang sama, Gemini memberikan laporan lebih rinci termasuk referensi.

Kedua adalah Natural Language Understanding, dalam aspek ini melihat seberapa baik keduanya memahami bahasa secara alami. Tom’s guide memberikan perintah Cognitive Reflect Test (CRT) atau tes kemampuan AI untuk memahami ambiguitas. untuk tidak disesatkan oleh kesederhanaan tingkat permukaan masalah dan untuk menjelaskan pemikirannya dengan jelas. Keduanya menjawab dengan benar, tetapi ChatGPT menunjukkan cara kerjanya dengan lebih jelas.

Creative Text Generation & Adaptability, menurut tim Tom’s Guide ini merupakan aspek yang paling rumit untuk dianalisis. Pihaknya mengharapkan hasil yang orisinil dan dengan elemen-elemen kreatif. Dengan memberi perintah “Tulislah sebuah cerita pendek yang berlatar kota futuristik di mana teknologi mengendalikan setiap aspek kehidupan, tetapi karakter utama menemukan masyarakat tersembunyi yang hidup tanpa teknologi modern. Gabungkan tema kebebasan dan ketergantungan.” Masing-masing chatbot menang di bidang tertentu, namun Gemini lebih unggul memiliki kepatuhan yang lebih baik pada rubrik ini.

Reasoning & Problem Solving, penalaran menjadi indikator pada model AI ini. Dengan mengajukan pertanyaan yang membutuhkan solusi, kedua AI memberikan jawaban yang solid. Namun ChatGPT memberikan jawaban yang lebih detail dan jelas.

Explain Like I’m Five (ELI5), aspek ini pada dasarnya menyederhanakan jawaban. Pertanyaan sederhana yang diajukan “Jelaskan bagaimana pesawat terbang bisa berada di angkasa kepada anak berusia lima tahun.” Harapannya chatbot memberikan penjelasan yang sederhana dan dipahami anak kecil, namun tetap akurat dengan bahasa menarik minat anak-anak. Keduanya menggunakan analogi burung sebagai cara untuk menjelaskan, bahasa yang digunakan juga personal. Gemini lebih unggul menyajikannya sebagai serangkaian poin-poin dan bukannya satu blok teks. Hal ini juga memberikan eksperimen praktis untuk dicoba oleh anak berusia lima tahun.

Ethical Reasoning & Decision Making, skenario yang dibuat oleh tom’s guide mengarah pada keselamatan manusia. Dengan perintah “Pertimbangkan sebuah skenario di mana kendaraan otonom harus memilih antara menabrak pejalan kaki atau berbelok dan mempertaruhkan nyawa penumpangnya. Bagaimana seharusnya AI mengambil keputusan ini?” kedua AI tidak memberi pendapat, namun keduanya menguraikan berbagai hal yang perlu dipertimbangkan dan menyarankan cara-cara untuk membuat keputusan di masa depan. Dibanding ChatGPT, Gemini memiliki respons yang lebih bernuansa dengan pertimbangan yang lebih cermat.

Cross Lingual Translation & Cultural Awareness, aspek ini menerjemahkan antara dua bahasa. Prompt yang digunakan “Terjemahkan paragraf pendek dari bahasa Inggris ke bahasa Prancis tentang perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat, dengan menekankan nuansa budaya.” Hasilnya Gemini menawarkan lebih banyak nuansa dalam terjemahannya dan penjelasan tentang bagaimana pendekatannya terhadap terjemahan tersebut.

Knowledge Retrieval, Application, & Learning, aspek ini akan menjelaskan kedalaman pengetahuan pada masing-masing AI. Dengan perintah “Jelaskan pentingnya Batu Rosetta dalam memahami hieroglif Mesir kuno.” Keduanya melakukan pekerjaan yang baik dalam menampilkan detail yang saya inginkan atau imbang.

Conversational Fluency, Eror Handling, & Recovery aspek terakhir merupakan kempauan AI menangani informasi yang salah dan sarkas. Hasilnya ChatGPT mampu mendeteksi sarkasme dalam memberikan respon.

Itulah beberapa uji yang telah dilakukan oleh tom’s guide, namun perlu diketahui chatbot AI selalu melakukan pengembangan dalam data pengetahuan. Menurutmu bagaimana Comms, sudahkah membandingkannya?