UMBY Lakukan Kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII ‘Benchmarking Kurikulum dan Visi Misi’

Prodi Ilmu Komunikasi UII menerima kunjungan dari prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) pada 27 Januari 2026 di Gedung Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan dilakukan dalam rangka benchmarking kurikulum dan visi misi.

Diawali dengan memperkenalkan berbagai fasilitas penunjang kegiatan akademik dan praktik mahasiswa, Dr. Zaki Habibi., M.Comms memandu rombongan dari UMBY berkeliling lantai 3. Dimulai dari PDMA Nadim, berbagai laboratorium, hingga mini theatre yang difungsikan tak sekedar untuk screening melainkan agenda-agenda relevan lainnya.

Kegiatan selanjutnya adalah sharing session terkait benchmarking kurikulum dan visi misi. Ketua Jurusan Prodi Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin, S.I.P., M.Si., Ph.D. mengungkapkan keterbukaan terhadap kunjungan dari UMBY. Baginya aktivitas seperti ini akan memberikan peluang dan manfaat dari kedua pihak.

“Tidak akan kami tolak (permintaan kunjungan) siapa tau ada peluang kerja sama. Mungkin riset hingga kemahasiswaan,” ucapnya menyambut rombongan UMBY.

Selanjutnya menjelaskan terkait visi misi Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan membuka langsung laman resmi institusi. Gambaran masa depan dijelaskan salah satunya menyebut mimpi besar menuju The Kaliurang School of Communication, dengan membentuk klaster-klaster riset bagi para dosen di Prodi Ilmu Komunikasi. Tercatat sebanyak tujuh klaster riset menjadi komitmen awal menuju mimpi besar tersebut.

Terkait kurikulum, berbagai percobaan dan penyesuaian dilakukan. Menurut Dr. Zaki Habibi., M.Comms. perubahan signifikan terjadi pada tahun 2014. Hal tersebut dilakukan mengikuti kepakaran para akademisi hingga regulasi tingkat universitas maupun standar dari negara. Salah satunya dengan membentuk pemintan studi. Bahkan penamaan mata kuliah turut menjadi concern yang dipertimbangkan.

“Inovasi pembelajaran untuk kurikulum mengikuti aturan universitas. Penamaan banyak pertimbangan, termasuk kurikulum 2014 signifikan berbeda,” ucapnya.

Kekhasan di Prodi Ilmu Komunikasi adalah dengan menempatkan magang di semester delapan. Berbagai evaluasi dan pertimbangan mendasarinya, termasuk efektivitas masa studi.

“Sebelumnya banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang magang di semester 7 dan lanjut kerja, sehingga skripsinya dilupakan,” tambahnya.

Tercatat ada empat bidang peminatan di Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Jurnalisme Digital, Public Relations, Kajian Media, dan Media Kreatif. Pemintan tersebut telah tersebar sejak semester 4, sehingga mahasiswa mampu mempertimbangkan secara matang arah studinya.

Mengakhiri diskusi, Dr. Rila Setyaningsih, M.SI Kaprodi Ilmu Komunikasi UMBY mengaku mendapat banyak insight dari diskusi tersebut. Pihaknya juga berharap di masa depan bisa saling berkolaborasi dalam berbagai hal.

“Cukup luar biasa pengalaman yang kami dapatkan, sambutannya sangat baik dan harapan ke depan kolaborasi dua program studi ini berjalan tidak hanya dalam hal pendidikan tapi juga riset dan pengabdian masyarakat.” Tandasnya.

Kunjungan dari UMBY diakhiri dengan penandatanganan Implementasi Aktivitas (IA) kedua Prodi. Harapannya kerja sama ini memberi manfaat dalam hal peningkatan mutu pendidikan, pengembangan kurikulum, dan penguatan kualitas akademik.

Mewakili Suara Gen Z, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Angkat Keresahan Lewat Karya Musik

Umumnya mahasiswa memilih skripsi sebagai syarat meraih gelar sarjana, namun berbeda dengan Farid Fadillah mahasiwa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2021 yang memilih karya musik untuk merampungkan masa studinya.

Berjudul “Wtlg” akronim dari We’re the lost generation lagu ini mengangkat keresahan Gen Z. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Farid yakin bahwa penyamapaian pesan lewat musik mampu menyentuh emosi. Lirik-lirik yang ekspresif ala Gen Z yang ia ciptakan tak sekedar curhatan belaka, melainkan mampu menjadi komunikasi yang valid.

“Pesan itu tidak selalu disampaikan lewat teks panjang atau ceramah, menurut saya musik salah satu medium komunikasi ekspresif yang paling direct untuk menyentuh emosi,” ucap Farid saat ditanya alasan memilih karya musik untuk tugas akhir.

“Aku ingin buktikan kalau curhatan Gen Z bisa diubah menjadi produk komunikasi yang valid dan akademis, bukan sekadar curcol,” tambahnya.

Karya musik dengan genre pop house dipilih, baginya genre ini fleksibel. Dengan chorus pop diawali rap, lalu disusul verse melodik Wtlg adalah representasi isi kepala Gen Z.

Isu Quarter-Life Crisis yang Diekspresikan Lewat Lagu Wtlg

Lewat bimbingan salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Anggi Arifudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom karya musik ini mengusung konsep sad banger, lagu dengan lirik emosional, melankolis namun irama beatnya energetik.  Dengan isu quarter life crisis, Wtlg ingin memvalidasi perasaan takut terhadap ekspektasi orang-orang.

“Isunya tentang quarter life crisis. Pesannya simpel, aku ingin memvalidasi perasaan bingung, takut, dan pusing sama ekspektasi orang-orang termasuk orang tua yang dirasain teman-teman Gen Z. Lewat lagu ini, aku mau bilang ‘It’s okay to be lost, kita bareng-bareng kok sesatnya’,” ujarnya.

Liriknya yang relatable dengan perasaan Gen Z ditulis dari pengalaman pribadi, riset, dan observasi. Sementara untuk produksi Farid mengaku semua dilakukan full home recording. Kolaborasi dengan berbagai pihak dilakukan untuk menyempurnakan karyanya. Ia menggandeng salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk turut mengisi vokal.

Sementara untuk medium dengar, Farid memilih mendistribusikannya ke Instagram pribadi, Spotify pribadi, dan YouTube Ikonisia. Alasannya sederhana yakni mengikuti pasar Gen Z.

“Pasar lokal Gen Z memang nongkrongnya lebih rame di Spotify dan audio IG jadi buat aksesnya gampang untuk personal branding juga. Nah, kalau Video Live Session yang di YouTube Ikonisia TV itu sbenarnya untuk promosi saja agar jangkauannya lebih luas ke audiens kampus, sekalian referensi untuk anak-anak Ilkom lain yang ingin membuat konten visual musik yang kece hehe,” ucap Farid.

Meski demikian proses yang dilalui dalam produksi karya musik ini tak sederhana. Dengan serba keterbatasan seperti home recording di kos membuat kualitas audio tak sebening studio profesional. Selain itu, ia juga harus bekerja ekstra dalam hal durasi.

“Lagu-lagu sekarang kebanyakan cuma 1-3 menit, durasi 4 menit masuknya agak kelamanaan, sehingga tantangannya adalah gimana agar pendengar tetap menangkap pesannya tanpa kehilangan fokus atau attention span,” tambahnya.

Ia berharap karyanya tak berhenti di tugas akhir, Farid bermimpi ingin memperbaiki visual dari karya musiknya. Seperti menciptakan official music video berseri dengan pesan yang kuat.

“Visualnya sih, pengen banget membuat Official Music Video untuk lagu ini yang ada alur ceritanya, bukan cuma video lirik atau live session. Agar pesan quarter life crisis-nya makin nampol secara visual. Tapi kayaknya masih nantian deh, ngumpulin mood dulu,” tandasnya.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://youtu.be/auoT8NTiKc4?si=QU8nJPCB-eu9Yka-

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII

Momen apresiasi pasca produksi dalam mata kuliah videografi tahun 2025 berakhir dengan gelar karya “Screening 2025” pada 10 Januari 2026 di GKU Sardjito UII. Tercatat lebih dari 50 video dipertontonkan, puluhan karya itu meliputi short movie, music video, dan video advertisement karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UII.

Tiga juri dihadirkan dalam momen apresiasi ini, para expertise dalam dunia perfilman memberi masukan terhadap hasil garapan mahasiswa Ilmu Komunikasi. ketiganya adalah Mas Manteb (Ananto Prasetyo), Anggi Arif Udin Setiadi, dan Iven Sumardiyantoro.

Ada beberapa karya yang menarik perhatian juri, cukup menggelitik karena mayoritas tak luput dari tantangan ini. Soal ide cerita, rata-rata mudah ditebak hingga eksplorasi yang hampir serupa. Meski demikian, para juri memberikan pujian atas kerja keras mahasiswa selama satu semester ini.

Mas Manteb memberikan masukan soal riset dan ketelitian dalam produksi film, pembuat film selayaknya menempatkan diri sebagai penonton. Film yang membosankan tentu tak nyaman untuk mata penonton.

“Riset itu penting. Idenya tertebak semua (sebagian film yang sudah tayang), ide tidak harus relate yang penting adalah ketelitian. Ketika kita membuat film tujuannya mewakili mata kita, harus bayangkan bahwa dari awal tahu kita mau ngapain. Kenapa film menjemukan, ingin ada yang ditekankan,” ujarnya.

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII. Image: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Filmmaker dituntut memiliki prioritas dalam memilih scenes yang akan dimunculkan dengan mempertimbangkan aturan-aturan yang berlaku. Misalnya terkait UU perfilman tahun 2009 terkait larangan menampilkan rokok dalam film, mas Manteb menyebut adegan tak perlu muncul secara gamblang. “Kalau memang secara tuntutan visual, gak perlu ditebalkan. Satu gambar seribu bahasa. Tidak terlalu ekstrim menunjukkan adegan itu,” tambahnya.

Soal eksplorasi ide juga disinggung oleh Anggi Arif Udin Setiadi, akademisi sekaligus pegiat kreatif menyebutkan beberapa alur membingungkan. Meski demikian karya-karya dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UII baginya memiliki ide yang terkini dan mampu menjawab kebaruan fenomena di Indonesia.

“Luar biasa memang ada beberapa film yang bisa ditebak, sedih-sedih. Terinspirasi dari diri sendiri, ibu meninggal itu lagi ada kesedihan apa kok semua ibu meninggal. Meski demikian, beberapa film yang isunya menarik, isu-isu terkini, teknik pengambilan gambar ada beberapa efek yang keren,” ungkap Anggi.

Sementara, Iven Sumardiyantoro memberikan tawaran solusi bagi para mahasiswa untuk sering-sering menonton film. Sebagai seorang videographer menonton film akan memperkaya teknik sinematografi hingga ide efek yang tak biasa. Selain, cerita tidak harus diucapkan semua lewat kata-kata, scene yang kuat mampu memberi pesan mendalam.

“Tersampaikan pesannya, kalau dikembangin teknik dan editannya sudah lumayan. Saran saya banyak-banyak nonton film saja, agar mendapat referensi variasi teknik sinematografi. Gak semua alur cerita, show detail, tidak perlu diucapkan tunjukin dari scene,” tandasnya.

Daftar Pemenang “Screening 2025” Berdasarkan Kategori

The Best Cinematography: Film Acceptance

The Best Short Film: Obsesi Simetri

The Best Unique Concept: Rasbora

The Best Music Video: Ours to Keep

The Best Visual Effect: Obsesi Simetri

The Best Advertisement: The Real Bodyguard

 

Kegiatan Screening ini rutin dilakukan setiap tahun, pada semester ini mata kuliah Videografi diampu oleh beberapa dosen antara lain Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, S.I.Kom., M.A. Sumekar Tanjung, S.Sos.,M.A. dan Wisnu Yudha Wardhana, M.Sn.

Alumni Ilmu Komunikasi UII Raih Beasiswa LPDP ke Wageningen University Belanda, IELTS dan Esai Jadi Penentu

Alumni dari Prodi Ilmu Komunikasi UII raih beasiswa LPDP ke Belanda. Ia adalah Ajeng Putri Andani alumni angkatan 2017, yang saat ini telah menjalani proses studi Master’s in Communication, Health and Life Sciences di Wageningen University & Research (WUR).

Perjalanannya meraih beasiswa ke Belanda bukan persoalan sederhana, sejak akhir tahun 2022 Ajeng telah mempersiapkan segala dokumen hingga persiapan bahasa Inggris dengan matang. Persiapan tersebut membawanya lolos beasiswa LPDP Batch 1 tahun 2023, perjalan masih berlanjut hingga akhirnya mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari WUR. Singkatnya, pertengahan 2025 ia berangkat ke Belanda dan memulai babak baru perjalanan studi dengan status mahasiswa internasional.

Dari pengalaman yang dilaluinya, Ajeng memberikan dua kunci utama untuk mengambil peluang belajar di luar negeri. Bagainya, kemampuan bahas Inggris dan kemampuan menulis dan pemahaman konteks beasiswa. Sehingga IELTS dan esai baginya adalah penentu.

Kunci Keberhasilan Menuju Kampus Eropa

Ajeng memberikan beberapa insights yang layak diikuti bagi seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang bermimpi ke Eropa. Dari pengamatannya tak banyak sosok berkompeten yang gagal kuliah di Eropa karena kurang detail dalam membaca syarat beasiswa.

“Langkah pertama yang cukup krusial adalah mencari tahu dan memahami secara detail syarat beasiswa yang dituju. Banyak pelamar sebenarnya kompeten, tetapi gagal karena terlambat atau keliru dalam mempersiapkan persyaratan. Dari berbagai skema beasiswa, ada dua komponen yang hampir selalu muncul dan sering menjadi penentu awal, yaitu syarat bahasa dan essay,” ucapnya.

Selanjutnya adalah persyaratan wajib kompetensi bahasa, yakni IELTS. Ada beberapa pilihan seperti TOEFL IBT, Duolingo, dan lainnya. Namun Ajeng memilih IELTS karena lebih general dan banyak diterima di kampus Eropa.

Syarat bahasa sering kali menjadi hambatan terbesar, terutama untuk beasiswa luar negeri. Standar seperti IELTS 6.5 atau lebih bukan sesuatu yang realistis dicapai secara instan. Karena itu, persiapan sedini mungkin menjadi sangat penting.

“Persiapan ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari, seperti menonton film berbahasa Inggris, mendengarkan podcast, atau membaca artikel berbahasa Inggris. Jika ingin lebih terstruktur, opsi yang lebih serius seperti mengambil kursus khusus juga bisa dipertimbangkan,” ucapnya.

“Perlu diingat, kemampuan bahasa bukan hanya soal skor atau sekadar alat seleksi administratif. Bahasa juga mencerminkan kesiapan kita untuk mengikuti perkuliahan, berdiskusi, menulis tugas akademik, dan beradaptasi dengan lingkungan belajar nantinya,” tambahnya.

Selanjutnya terkait esai yang selalu diminta oleh pemberi beasiswa ataupun universitas. Esai adalah alat ukur kesiapan, keseriusan, hingga ketepatan kandidat dengan beasiswa dan program yang dipilih.

“Dalam menulis essay, usahakan sejujur dan se-reflektif mungkin, bukan sekadar ingin terlihat “luar biasa secara prestasi”. Esensi essay beasiswa sebenarnya adalah refleksi diri: bagaimana pengalaman masa lalu membentuk tujuan, serta bagaimana beasiswa tersebut relevan dengan rencana masa depan,” kata Ajeng.

“Di sini, penting untuk memahami arah dan nilai beasiswa yang dituju, lalu mengaitkannya secara masuk akal dengan cerita kita. Misalnya, jika beasiswa seperti LPDP memiliki fokus pada bidang STEM, maka pengalaman, minat, dan rencana masa depan bisa diarahkan ke kontribusi di bidang tersebut tanpa dipaksakan,” tambahnya.

Pada akhirnya, esai bukan tentang menumpuk prestasi, melainkan menjawab pertanyaan reflektif: Mengapa beasiswa ini masuk akal untuk saya, dan mengapa saya juga masuk akal untuk beasiswa ini? Jika jawabannya jelas, logis, dan konsisten, esai biasanya terasa lebih kuat dan meyakinkan.

Itulah pengalaman dari alumni Prodi Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih mimpinya melanjutkan studi ke Belanda. Persiapan matang menjadi keberhasilannya.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Catatan perjalanan ke Demak beberapa bulan lalu begitu memberi makna mendalam, sembilan jam bertahan di rumah Mak Jah bukan perkara yang sederhana. Artinya, setangguh apa perempuan ini hingga mampu bertahan hampir seperempat abad dalam genangan laut?

Perjalanan dari Kaliurang, Yogyakarta dimulai pada Jumat, 29 Agustus 2025 sekitar pukul 3.30 WIB. Tak ada kendala berarti, jalanan Kopeng menawarkan udara segar membuat rombongan kami membuka lebar-lebar kaca minibus. Seperti biasa, untuk mengisi amunisi kami memilih sarapan soto Boyolali di sepanjang jalan Salatiga. Soto dengan hint manis adalah pilihan yang tepat.

Kami memilih masuk tol Bawen untuk mempersingkat perjalanan, pukul 08.00 WIB sampai di Kecamatan Sayung. Riuh dengan truk-truk pengangkut pasir, mereka berjalan bertubi-tubi memenuhi jalanan tanah berdebu. Kami mengamatinya, mengambil gambar, hingga merekam aktivitas lalu lalang. Sejam kemudian, ada telepon masuk. Rupanya kami sudah ditunggu untuk segera menyebrang menuju rumah Mak Jah.

Perahu kecil dengan tenaga diesel ini adalah satu-satunya alat transportasi menuju rumah Mak Jah, satu-satunya rumah yang masih berpenghuni. Sekitar lima belas menit berlalu, tangan Mak Jah melambai bersambut. Satu persatu dari kami turun menghampiri. Pintu dapur yang beralih fungsi menjadi pintu utama kini akrab dijajaki tamu dengan berbagai latar belakang dan tujuan.

“Saiki aku wis gak kerja mas, gak jajak rob naik terus [sekarang aku sudah tidak bekerja mas, tidak bisa menjajaki-hampir tenggelam karena rob naik terus],” ucap Mak Jah setelah mempersilakan kami duduk di ruang tengah.

“Sekarang yang kerja (panen kerang) suami dan anak pertama,” tambahnya.

“Permintaan bibit [mangrove] juga menurun karena jalan susah,” keluhnya lagi.

Ia menatap seluruh sudut rumahnya yang semakin rendah akibat lantai yang terus ditinggikan. “Rob tidak terprediksi. Sekarang tidak bisa dipastikan, dulu bisanya bulan-bulan tua. Pengaruh tol, ombak ngeri. Ini ombak paling besar. Karena tol, [ombak] ngglebak rene, dulu menyebar,” ucapnya mengurai masalah.

Mak Jah mempertebal realita yang kami lihat, bercerita seperti mencurahkan keluh kesah dengan teman. Kami tak banyak bertanya, mendengar dan menanggapinya saja. Setelah itu ia kembali ke dapur memasak kerang hasil tangkapan dan menanak nasi di pawon.

Solastalgia dan Krisis Iklim yang Membelenggu

Jika berfikir dengan logika sederhana, Mak Jah dan keluarganya bisa saja turut serta dalam program relokasi pemerintah. Namun, hal ini cukup rumit. Keinginannya menjaga alam begitu kuat. Ia konsisten menanam mangrove lebih dari 20 tahun, meski demikian perasaan getir atas krisis iklim tak dapat dipungkiri. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Iven Sumardiyantoro, peneliti yang sejak tahun 2023 aktif dalam kerja-kerja observasi dan dokumentasi telah menganalisis kondisi tersebut dengan pemaknaan solastalgia.

“Meskipun di tingkat global banyak peneliti telah menjelaskan kondisi solastalgia dalam berbagai konteks dan peristiwa, peneliti di Indonesia belum banyak menggunakan konsep tersebut. Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia, baik akibat bencana alam maupun kebijakan yang buruk,” jelas Iven Sumardiyantoro.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi dapur rumah Mak Jah, di Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Solastagia merupakan reaksi kecemasan akibat perubahan iklim, istilah ini diciptakan oleh Glenn Albrecht seorang filsuf lingkungan asal Australia. Berbeda dengan nostalgia yang merupakan kerinduan rumah masa lalu dengan kenangan dan membahagikan, solastalgia menjelaskan kondisi mental atau penyakit yang dialami oleh orag-orang korban bencana.

“Solastalgia adalah rasa sakit atau penyakit yang disebabkan oleh kehilangan atau ketiadaan kenyamanan dan rasa isolasi yang terkait dengan kondisi saat ini dari rumah dan wilayah,” jelas Iven.

Sebelumnya Mak Jah memiliki memori baik tentang kampungnya (Bedono). Namun kini rusak karena iklim, dampak banjir rob dirasakan sejak awal tahun 2000-an, puncaknya tahun 2015 penurunan tanah semakin signifikan. Turun sekitar 15-20 cm per tahun. Dari hasil risetnya, Iven menyebut warga mulai meninggalkan wilayah tersebut sejak tahun 2006.

Riset yang dilakukan Iven menghasilkan tiga analisis yang kompleks, pertama menyoroti perubahan iklim menyebabkan perubahan mata pencaharian, bertahan hidup di desa tenggelam, dan gejala solastalgia pada masyarakat.

Lahan pertanian seluruhnya tenggelam, terendam air laut sehingga berdampak pada mata pencaharian. Dari petani beralih menjadi nelayan atau budaya agraris ke pesisir.

“Dulu saya petani, lalu nelayan. Nelayan tidak cukup (penghasilan), saya punya ide untuk membuat (benih mangrove)”, ujar Mak Jah.

Itulah cara Mak Jah bertahan, namun hatinya ternyata menyimpan duka, kehilangan kenyamanan, hingga ikatan dengan rumah dan lingkungan yang rusak. Rumahnya berubah, dulu memberikan kenyamanan kini sebaliknya kesedihan dan kepahita.

“Dan saya sering kebanjiran saat tidur di lantai panggung, terutama saat angin kencang. Pada malam hari, banjir pasang tiba-tiba datang dan saya berkata kepada keluarga saya, ‘Hei, basah.. bangun. bangun’. Dan saya terkejut karena semua bantal dan tikar tidur basah”, ucap Mak Jah.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi sekitar rumah Mak Jah, Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Keteguhan Mak Jah dilirik oleh pemerintah dan berbagai organisasi lain. Deretan piagam penghargaan tertempel pada dinding yang tinggal setengah. Penghargaan itu antara lain: Pemerintah provinsi Jawa Tengah – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2021) pengusulan calon penerimaan penghargaan kalpataru tingkat kecamatan provinsi. (Usulan kategori perintis lingkungan, penyelamat lingkungan, pengabdi lingkungan, pembina lingkungan).

Kedua, Teladan Cinta pada Alam (Amartha &amartha.org) – Amartha Local Heroes. Ketiga, Piagam Penghargaan Peringatan Hari Kartini – atas jasanya di bidang lingkungan hidup dalam rangka peringatan hari Kartini 2023. Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju. Dan terakhir, Penghargaan Kalpataru tahun 2021, sebagai perintis, pengabdi, penyelamat, dan pembina lingkungan hidup tingkat Provinsi.

Upaya Konservasi Lingkungan dengan Memahami Risk Communication

Solastalgia yang dirasakan Mak Jah dan korban lainnya mungkin saja terabaikan. Tak ada penanganan khusus. Korban tak diajak berkomunikasi dengan hati ke hati. Lantas bagaimana menyelesaikan persoalan ini?

Sebagai informasi krisis iklim di Demak, Jawa Tengah terjadi karena faktor alam dan aktivitas manusia. Berbagai pembangunan yang tak memperhatikan dampak lingkungan cukup masif dilakukan. dari pembangunan pelabuhan hingga jalan tol.

Akademisi Komunikasi Lingkungan dari UII, Muzayin Nazaruddin mencoba mengurai bagaimana memahami alasan apa yang membuat korban climate change enggan direlokasi. Jawaban ini memiliki benang merah atas kondisi mental solastalgia. Mulai dengan memahami makna risiko dan dampak climate change. Ia menyebut jika risiko dari climate change, tak sederhana layaknya kalkulasi objektif tentang apa yang berbahaya dan tidak. Pada masyarakat terdampak, risiko adalah persepsi yang dirasakan. Hal ini berdampak tak selaras pada pengambil kebijakan.

Kecenderungan masyarakat adalah berkelompok, mereka ingin terus terhubung. Relokasi dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti administrasi yang sederhana hingga biaya pembangunan yang ideal.

“Climate change harus diantisipasi atau masuk dalam agenda pembangunan, sayangnya pemerintah Indonesia belum punya cukup agenda menghadapi climate change ini. Mitigasinya belum jelas,” ujarnya.

Dari pengamatannya, saat ini banyak LSM, masyarakat sipil, dan organisasi yang turut membantu sayangnya bersifat karitatif atau tambal sulam. Menurutnya, pemerintah memfasilitasi berbagai pihak duduk bersama, ngobrol bersama termasuk bersama warga mereka inginnya bagaimana. Kalau mereka mau bertahan di sana harus bagaimana kalau mau dipindahkan dimana dan bagaimana. Harus ada visi jangka panjang.

“Artinya ketika pemerintah membangun kebijakan berbasis risiko harusnya mempertimbangkan apa sih yang menurut warga menjadi risiko,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Ask the Expert Bagaimana Menciptakan Program Komunikasi ‘Event’ yang Berhasil

Program komunikasi adalah salah satu output dalam kajian Ilmu Komunikasi, dikemas dalam mata kuliah Manajemen Komersil biasanya mahasiswa menciptakan event sesuai kebutuhan komunitas tertentu.

Secara umum program komunikasi berbasis event adalah rangkaian strategis terintegrasi yang memanfaatkan acara sebagai media utama dalam menyampaikan pesan, membangun pemahaman dan engagement kepada spesifik audiens.

Skill ini cukup vital bagi lulusan Ilmu Komunikasi, selain melatih manajemen event juga aplikasi praktis teori dalam dunia kerja. Mahasiswa dituntut menjadi problem solver hingga membangun hubungan strategis dengan para stakeholder.

Dalam edisi Ask the Expert kali ini, salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII yakni Ibnu Darmawan, S.I.Kom., M.A. memberikan argumen mendalam terkait keberhasilan program komunikasi.

Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Partisipasi Audiens

Langkah awal dalam strategi komunikasi pemasaran yang efektif dimulai dengan riset mendalam. Melalui data demografi yang diperoleh untuk menentukan media paling tepat untuk melakukan pemasaran.

“Untuk strategi pemasaran yang paling penting dilakukan oleh teman-teman adalah riset dulu. Riset ini nanti menggunakan data demografi kemudian bisa menyimpulkan kecenderungan dari data tersebut,” ucapnya.

Berdasarkan pengalamannya, di era digital yang masif media pemasran tidak hanya bergantung dengan platform digital. Pendekatan langsung berbasis komunitas ternyata cukup efektif menggaet audiens.

“Uniknya di era digital sekarang channel untuk pemasaran itu tidak hanya bergantung pada platform digital aja. Nah digital itu apa sih sebetulnya dari social media melalui konten-konten yang menarik. Nah tapi teman-teman bisa menggunakan pendekatan langsung juga berkolaborasi dengan komunitas yang spesifik yang relevan dengan programnya,” tambahnya.

Untuk meningkatkan efektivitas strategi pemasaran secara keseluruhan, menggabungkan kedua metode ini terbukti ampuh meningkatkan partisipasi.

Manajemen Stakeholder untuk Keberhasilan Komersial

Stakeholder dalam program komunikasi disebut sebagai kolaborator yang terdiri dari sponsor dan komunitas. Keduanya memiliki peran krusial sebagai mitra strategis, sponsor berperan dalam pendanaaan sementara komunitas akan membawa audiens relevan.

“Sponsor adalah mereka yang bisa menyediakan bantuan baik dari pendanaan atau peralatan dengan nilai yang signifikan untuk mengurangi anggaran pembelajaran setiap program komunikasi. Kemudian komunitas mereka adalah sekelompok orang dengan interest yang spesifik yang relevan dengan program komunikasi,” ungkapnya.

Stakeholder tak sekedar pendukung pasif namun membantu penentu kesuksesan program komunikasi. Keterlibatan dalam diskusi untuk memastikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama terhadap program yang akan dilaksanakan.

“Yang pertama teman-teman perlu menyamakan persepsi dulu terkait dengan program komunikasi yang akan dijalankan. Kemudian yang kedua adalah menyampaikan tujuan yang jelas kepada mereka. Sehingga mereka tahu bagaimana mereka bisa berkontribusi secara strategis dalam program komunikasi teman-teman,” tambahnya.

Komunikasi Internal untuk Efisiensi Pelaksanaan

Hal sederhana yang kerap terabaikan adalah komunikasi internal. Padahal komunikasi efektif internal adalah pondasi utama dalam menjalankan program komunikasi. Metode partisipatoris sejak awal perencanaan menjadi kunci utama.

“Komunikasi internal ini juga sangat krusial dalam keberhasilan program komunikasi. Banyak sekali teman-teman tidak memperhatikan signifikansi dari perencanaan komunikasi internal ini. Padahal inilah yang akan sangat berperan penting kepada kelancaran seluruh proses program komunikasi. Teman-teman harus establish dulu proses kerja yang partisipatoris dari awal, mulai dari tahapan perencanaan program,” ucapnya.

Pendekatan tersebut krusial untuk membangun kedekatan personal, rasa kepemilikan bersama, hingga keterbukaan.

“Dari proses yang partisipatoris itu akan muncul perasaan bahwa program ini milik bersama seperti itu. Sehingga akan tercipta keterbukaan komunikasi yang berkualitas baik seperti itu. Nah kualitas keterbukaan informasi ini juga sangat berperan pada tingkat kolaborasi antar anggota tim seperti itu. Ketika tingkat kolaborasi nya tinggi, maka seluruh proses program komunikasi dapat dijalankan dengan baik,” tandasnya.

Orasi Kebudayaan FISB UII: Perguruan Tinggi dan Krisis Memori Kolektif terhadap Pelanggaran HAM di Indonesia dari Era Soeharto hingga Jokowi

Perguruan tinggi memiliki mandat moral dan historis sebagai ruang produksi pengetahuan, kritik, serta penjaga kesadaran publik. Kampus bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga aktor kultural dan politik-ingatan (memory politics) yang berperan dalam merawat memori kolektif bangsa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi gejala serius berupa krisis memori kolektif terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Salah satu indikator krisis ini tampak dalam diangkatnya Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional,” kata Prof. Masduki, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB), Universitas Islam Indonesia (UII) sekaligus ketua Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD), UII. Menurutnya, kebijakan ini menuai kontroversi luas karena dilakukan tanpa proses rekonsiliasi sejarah yang memadai dan tanpa penyelesaian hukum terhadap warisan pelanggaran HAM yang terjadi selama 32 tahun kekuasaan Soeharto.

Lebih memprihatinkan lagi, kebijakan tersebut tidak mendapatkan perlawanan yang kuat dan sistematis dari perguruan tinggi. Padahal kampus seharusnya berdiri di garda depan dalam membela kebenaran sejarah, menyampaikan kritik berbasis riset, dan mengedukasi publik. Diamnya sebagian besar institusi akademik dalam isu ini menunjukkan terjadinya penjinakan intelektual serta melemahnya fungsi kritis pendidikan tinggi. Padahal, yang diangkat menjadi menjadi pahlawan tersebut mempunyai rekam jejak yang tidak sedikit dalam pelanggaran HAM, di antaranya pembantaian pasca-1965; Petrus (Penembakan Misterius); Peristiwa Tanjung Priok 1984, yakni suatu enembakan terhadap massa sipil yang menewaskan banyak warga sipil; Penyerbuan aparat terhadap warga sipil dengan korban jiwa dan penghilangan paksa atau dikenal sebagai peristiwa Talangsari 1989; dan berbagai operasi militer.

Sejalan dengan itu, Prof. Asvi Warman Adam dalam Orasi Kebudayaannya berjudul Krisis Memori Kolektif  Pelanggaran Ham Berat Era Soeharto Sampai Kini (1965-2025), ini menyampaikan bahwa pahlawan nasional sebaiknya bukan sosok yang masih menimbulkan kontroversi atau pro dan kontra besar. Ia menambahkan, karena Presiden Prabowo telah menegaskan gerakan antikorupsi dalam pemerintahannya, maka pahlawan nasional ke depan idealnya sejalan dengan komitmen tersebut. Pernyataan ini ia sampaikan dalam Orasi Kebudayaan yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB) UII bersama Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) UII pada 12 Desember 2025 di Auditorium FK UII.

Acara orasi kebudayaan ini juga ditujukan sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia sekaligus momen peluncuran jurnal pengabdian masyarakat FISB UII bernama Community Transformation Review (CTR). Jurnal tersebut dipersiapkan sebagai wadah diseminasi bagi para akademisi dan aktivis sosial untuk mengomunikasikan aktivitas pemberdayaan serta gerakan sosial dalam format publikasi ilmiah. Orasi kebudayaan ini juga dihadirkan sebagai upaya menghidupkan kembali kesadaran sejarah, akal sehat akademik, dan tanggung jawab moral universitas, agar tidak terus menjadi penonton dalam sejarah yang dipalsukan.

Prof Asvi menambahkan, berkaitan dengan polemik pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional, ia telah menyatakan pendapatnya dalam seminar pengusulan pahlawan nasional bagi mantan Presiden Soeharto yang diselenggarakan oleh KNPI Surakarta pada 9 Juli 2009 di hotel Lor In Karanganyar. “Saya mengungkapkan ada pandangan seorang awam di Jakarta tentang Soeharto yang menarik dikaji karena bersifat paradoks. Beliau adalah “pembangun sekaligus perusak terbesar di Indonesia”. Apakah yang dimaksud pembangunan infrastruktur yang tampak sangat signifikan karena Orde Baru berkuasa tiga dasawarsa, sementara itu terjadi kerusakan lingkungan yang masif, dan berbagai pelanggaran HAM Berat?” ungkapnya kemudian.

“Sebenarnya sudah diusulkan sebagai pahlawan nasional tokoh-tokoh yang tidak diragukan lagi sikap dan perilaku anti korupsinya,” lanjut Prof Asvi. Ia mengatakan bahwa tokoh teladan tersbut yaitu Jenderal polisi Hugeng dan Soeprapto (Jaksa Agung 1950-1959). Hugeng ketika bertugas di Medan menyuruh buang furniture mewah yang disediakan pengusaha di rumah dinasnya. Soeprapto menyuruh kembalikan gelang emas yang dihadiahkan seorang saudagar kepada putrinya. Jaksa Agung Soeprapto yang menyeret ke pengadilan beberapa orang Menteri yang tersangkut kasus korupsi.

Masduki juga menambahkan bahwa pelanggaran-pelanggaran HAM yang belum diusut negara tersebut sebenarnya telah diakui dalam berbagai laporan investigasi resmi dan rekomendasi lembaga negara bahkan di level internasional, tetapi hingga kini mayoritas belum diselesaikan secara hukum. Dalam konteks inilah, pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bentuk penghapusan sejarah penderitaan korban.

Di era Jokowi, situasi tidak banyak berubah. Pada era Presiden Joko Widodo, terdapat harapan besar atas penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu dan penguatan demokrasi. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak kasus pelanggaran HAM berat masa lalu belum dituntaskan secara yudisial, meskipun telah diakui sebagai pelanggaran HAM berat oleh lembaga negara. Sementara itu, kekerasan di Papua terus berlanjut, termasuk korban sipil, pembatasan ruang sipil, dan pendekatan militeristik, kriminalisasi aktivis, jurnalis, dan akademisi dengan pasal karet (misalnya UU ITE), dan masih banyak lagi. Situasi ini memperlihatkan bahwa krisis HAM bukan hanya warisan sejarah, tetapi masalah struktural yang berlanjut hingga kini, dan perguruan tinggi belum tampil cukup kuat sebagai kekuatan resistensi intelektual.

Terakhir, Prof. Asvi juga menambahkan bahwa Perguruan Tinggi secara historis memiliki peran penting dalam perubahan masa, pergantian rezim. Civitas akademika Perguruan Tinggi yang berpikir dan bertindak kritis perlu dibangun dan dikembangkan. Pada suatu ketika hanya ada beberapa Perguruan Tinggi yang tetap bergerak dalam pemberdayaan masyarakat dalam merawat demokrasi dan HAM, yang lain seakan terlena atau tertidur. “Jangan berkecil hati. Bangunkan mereka. Saya ingat media yang sangat berpengaruh dalam pemberontakan rakyat di Silungkang tahun 1927. Nama media yang diterbitkan oleh Serikat Rakyat itu adalah Jago! Jago!. Artinya dalam bahasa Minang, ayo bangun, bangun!” kata Asvi Warman Adam.

Penulis: A. Pambudi Wicaksono

Dari Peringatan Hari HAM Sedunia di FISB UII: Negara Gagal Menyelesaikan Pelanggaran HAM Berat

Penanganan pelanggaran HAM berat yang banyak terjadi di Indonesia selama ini belum kunjung tuntas.  Upaya untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu ini dapat dibagi atas beberapa koridor penyelesaian. Pertama, melewati koridor politik dan hukum. Lalu kedua, melalui kreativitas budaya. Jalur pertama ini tidak mudah dan menghadapi resistensi. Upaya untuk menuntut melalui pengadilan HAM adhoc tidak berjalan. Demikian pula dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsilasi (KKR).

“Undang-Undang KKR sempat dibuat setelah berjuang sekian lama, namun anggota KKR itu tidak kunjung diangkat Presiden dan kemudian Undang-Undang itu dirubuhkan oleh Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Jimly Assidhiqie,” ungkap Prof. Asvi Warman Adam, dalam acara Orasi Kebudayaan yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB), Universitas Islam Indonesia (UII) dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD), UII, pada 12 Desember 2025 di Auditorium FK UII. Selain itu, Prof. Asvi mengatakan, perbaikan kurikulum sejarah telah dilakukan tahun 2004 namun dimentahkan kembali pada kurikulum yang dikeluarkan Mendiknas tahun 2006. Class action yang dilakukan para korban pada tahun 2005 pun ditolak oleh pengadilan. Menurut Asvi, negara telah gagal menyelesaikan pelbagai bentuk pelanggaran HAM berat yang terjadi sejak negara ini merdeka.

Para peserta juga turut membubuhkan tanda tangan sebagai aksi solidaritas hari HAM sedunia. “Hadirin sekalian silakan ikut tanda tangan sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap korban-korban pelanggaran HAM di Indonesia selama ini dan menuntut agar negara mengusut tuntas dan menyelesaikan beragam pelanggaran HAM berat yang sampai hari ini juga belum selesai,” kata Prof. Masduki, Dekan FISB UII sekaligus Ketua PSAD UII, dalam sambutannya di awal acara.

Aksi ini merupakan bukti bahwa publik banyak masih terus menggedor negara agar tidak menutup dan segera menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia yang tak kunjung usai, bahkan kini muncul dugaan sejarah pelanggaran HAM ini hendak direkayasa dan ditutupi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia lewat pembuatan buku sejarah nasional versi pemerintah. Prof. Asvi Warman Adam mengatakan dalam teks orasinya berjudul Krisis Memori Kolektif  Pelanggaran Ham Berat Era Soeharto Sampai Kini (1965-2025), ini, “Yang menarik adalah tiga orang, Ketua Fadli Zon, Wakil Ketua Susanto Zuhdi dan anggota Agus Mulyana adalah tiga penanggungjawab buku Sejarah nasional. Bisa saja orang akan berpikir bahwa penulisan sejarah nasional dan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional November 2025 merupakan satu paket.” Ia menambahkan bahwa belakangan santer dibicarakan lewat seminar dan penerbitan buku dua tokoh yaitu Soemitro Djojohadikoesomo (ayah Prabowo) dan Margono Djojohadikoesoemo (kakek Prabowo). Apakah ketiganya (mantan mertua, ayah dan kakek) sekaligus akan menjadi Pahlawan Nasional? Ada adagium yang populer “Sejarah ditulis oleh pemenang”. Namun ternyata sejarah itu bukan hanya ditulis tetapi juga dikuasai sepenuhnya, lanjut Prof. Asvi.

Pada masa Orde Baru, rekayasa sejarah itu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Misalnya buku “40 Hari setelah keguagalan G30S” diterbitkan militer 40 hari setelah kejadian itu berlangsung. Sementara itu buku putih Sekneg “Pemberontakan G30S/PKI terbit tahun 1995. Di lain pihak gebrakan menulis ulang sejarah yang satu paket dengan pengangkatan pahlawan nasional dilakukan dalam satu tahun pemerintahan Prabowo. Mengapa demikian terburu-buru ? Jawabnya tentu sudah bisa diduga. Soeharto menerima kekuasaan melalui Supersemar 11 Maret 1966 baru berusia 45 tahun. Sementara itu Prabowo kini berumur 74 tahun. Jadi perlu berkejaran dengan waktu, siapa tahu.

“Bagaimana jalan keluar dari kemelut sejarah ini?” tanya Prof. Asvi. Prof. Asvi mengatakan, Antoon de Baets, menulis buku Responsible History (New York, Berghann Books, 2009). Di dalam buku ini ia menguraikan tipologi rekayasa sejarah atau penyalahgunaan sejarah (abuses of history) yang terjadi pada level heuristik, epistemologik dan pragmatik.  Sebagai jalan keluarnya ia menawarkan sejarah yang bertanggungjawab. Ada dua persyarakatan utama yaitu keakuratan (to find the truth) dan kejujuran (to tell the truth) dan Perguruan Tinggi harus menjalankan peran tetap bergerak dalam pemberdayaan masyarakat dalam merawat demokrasi dan HAM.

Qurrotul Uyun, Dekan Fakultas Psikologi UII, juga mengatakan dalam sambutannya, dalam konteks psikologi klinis yang fokus pada riset individu misalnya, trauma harus diselesaikan. Jika trauma tidak dibersihkan secara tuntas, itu akan mempengaruhi dan muncul kembali di kehidupan-kehidupan masa depan, baik di keturunan, maupun generasi berikutnya dari individu tersebut. Qurratul Uyun mengatakan, orasi kebudayaan Prof. Asvi ini juga dapat menjelaskannya dalam konteks sosial yang lebih besar.

Acara orasi kebudayaan yang akan dijadikan agenda rutin setiap akhir tahun oleh FISB UII ini mengusung “Perguruan Tinggi dan Krisis Memori Kolektif terhadap Pelanggaran HAM di Indonesia dari Era Soeharto hingga Jokowi” sebagai tema. Acara ini juga sekaligus dimaksudkan sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia dan peluncuran jurnal pengabdian masyarakat FISB UII yang bernama Community Transformation Review. Sebuah jurnal yang didedikasikan sebagai ruang diseminasi para akademisi dan aktivis sosial mengkomunikasikan aktivitas pemberdayaan dan gerakan sosialnya dalam bentuk jurnal. Selain orasi kebudayaan, acara ini turut mengajak segenap sivitas akademik UII, dan para hadirin yang terdiri dari beragam aktivis dan kampus di Yogyakarta untuk memanjatkan doa bersama, dipimpin Khairul Munzilin (Dosen Hubungan Internasional UII), atas korban-korban kerusuhan politik yang terjadi di Indonesia pada peristiwa Agustus-September 2025 dan semua korban kekerasan oleh negara.

 

Penulis: A. Pambudi Wicaksono

Islamic Work Ethics as a Moderating Factor in the Relationship Between Knowledge Sharing Behavior, Servant Leadership, and Organizational Citizenship Behavior Among Educators

Penelitian berjudul “Islamic Work Ethics as a Moderating Factor in the Relationship Between Knowledge Sharing Behavior, Servant Leadership, and Organizational Citizenship Behavior Among Educators” yang digarap oleh dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom dan beberapa dosen lainnya telah terbit di International Journal of Innovative Research & Scientific Studies (IJIRSS), Scopus Q3.

Riset ini mengungkap servant leaderhip mendorong perilaku berbagi pengetahuan (knowledge sharing behavior), yang mengacu pada etika kerja Islam sebagai moderasi utama. Sebanyak 205 guru SMA dan SMK di Yogyakarta terlibat dalam riset ini, dengan menyoroti dinamika unik di lingkungan pendidikan berbasis nilai Islam.

Hubungan servant leadership terkait dengan gaya kepemimpinan yang memprioritaskan pelayanan bawahan dengan knowledge sharing behavior mencakup kontribusi tertulis, komunikasi organisasional, interaksi pribadi, dan praktik komunitas.

Selain itu peran mediasi organizational citizenship behavior juga dilibatkan, yaitu perilaku sukarela (altruisme, sportsmanship) yang menekankan usaha, kompetisi, transparansi, dan tanggung jawab. Data ini dihimpun melalui skala teruji yakni KSBS Yi dan SLS Van Dierendonk serta dianalisis melalui mode; moderasi-mediasi Hayes di JASP. Sampel didominasi oleh guru perempuan sebanyak 62 persen, berpendidikan S1 68 persen, dengan pengalaman kerja variatif.

Hasilnya servany leadership berpengaruh positif terhadap knowledge sharing behavior, terutama saat Islamic work ethic tinggi efeknya naik dari 0,079 hingga 0,248. Dapat diartikan nilai Islam memperkuat dampak kepemimpinan pelayan dalam mendorong kolaborasi.

Temuan dari riset ini selaras dengan riset sebelumya yakni Newman et.al yang menyoroti bagaimana kepemimpinan pelayan membangun budaya kolaboratif di lingkungan etis yang kuat. Di Indonesia, nilai Islam mendominasi sehingga sekolah memanfaatkan praktik workshopberbagi pengajaran maupun diskusi informal.

Secara keseluruhan, studi ini membuktikan etika kerja Islam bukan sekadar nilai moral, tapi pendorong nyata kolaborasi pendidik. Bagi kepala sekolah, adopsi servant leadership dikombinasikan Islamic work ethic bisa tingkatkan performa guru dan daya saing institusi.

Keywords:

Islamic work ethics, Organizational citizenship behavior, Servant leadership, Sharing knowledge

Penulis:

Puji Hariyanti merupakan dosen di Prodi Ilmu Komunikasi UII, yang memiliki fokus klaster riset Komunikasi Pemberdayaan dan Public Relations

Selengkapnya:

https://www.ijirss.com/index.php/ijirss/article/view/4998

Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia’s Cultural Sphere

Artikel ilmiah garapan dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia (UII) yakni Puji Rianto, S.IP., M.A. yang berjudul “Local Television and Cultural Dynamics: Assessing Contributions to Indonesia;s Cultural Sphere” berhasil menembus jurnal internasional terindeks Scopus Q3. Artikel tersebut dipublikasikan dalam jurnal Studies in Media and Communication, Redfame Publishing pada September lalu.

Artikel ini membahas kontribusi televisi lokal terhadal cultural sphere yang minim dieksplorasi di Indonesia, tak sepopuler seperti public sphere Habermas. Konsep cultural sphere dari McGuigan menekankan tiga dimensi dalam budaya populer antara lain afektif, estetika, dan emosi. Konsep tersebut fokus pada rasionalitas politik dan jurnalisme.

Beragamnya budaya di Indonesia, cultural sphere menemui banyak tantangan pasca -kolonial dalam membangun budaya nasional baru sembari mempertahankan etnis lama. Hal ini menimbulkan ketegangan sejak era colonial hingga Orde Baru. Ditambah rezim otoriter yang menekan keragaman lokal demi budaya elit Jawa-sentris, ditambah media massa hanya terpusat seperti TV nasional memarginalkan budaya periferi.

Kondisi perlahan berubah, Reformasi 1998 dengan UU No. 32/2002 tentang penyiaran dan UU No 22/1999 tentang Otonomi Daerah mendorong munculnya televisi lokal, antara lain ADiTV di Yogyakarta hingga Bali TV. Televisi lokal tersebut memunculkan ekspresi identitas lokal yang tertindas.

Penelitian kualitatif ini menggunakan wawancara mendalam dengan manajer, pengamat budaya, observasi program, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan televisi lokal berperan sebagai platform ekspresi budaya dominan (Jawa di ADiTV, Bali di Bali TV), misalnya program Jenggleng Manasuka atau Ajeg Bali, tapi kontribusinya terbatas karena faktor politik-ekonomi dan konstruksi budaya. Komersialisasi menjadikan program budaya komoditas yang harus marketable, bergantung sponsor dan biaya rendah, sehingga membatasi akses kelompok minoritas dengan kapital sosial rendah.​

Faktor ekonomi diperparah dominasi TV nasional Jakarta yang oligopolistik, dengan jangkauan FTA luas dan kualitas superior, membuat televisi lokal kalah saing dan audiensnya terbatas (utamanya lansia). Konstruksi budaya esensialis memahami budaya sebagai milik etnis mayoritas statis dan teritorial, menolak hibridisasi serta memandang budaya lain sebagai ancaman seperti gerakan Ajeg Bali yang protektif terhadap pengaruh nasional/global. Hal ini menghambat inklusivitas, partisipasi, dan demokrasi budaya, di mana cultural sphere seharusnya aksesibel bagi semua, bukan didominasi kelompok dominan. Akibatnya, keragaman budaya tetap terpinggirkan, melanjutkan hegemoni pusat meski ada reformasi penyiaran.​

Secara keseluruhan, artikel menegaskan bahwa televisi lokal gagal membangun cultural sphere inklusif karena komodifikasi dan esensialisme budaya, yang membatasi ruang bagi minoritas dan mempertahankan bias sentralistik. Penelitian ini relevan bagi studi media di negara pluralistik, menyerukan kebijakan yang mendukung demokrasi budaya sejati melalui media lokal yang lebih beragam dan inklusif.

Keywords:

Cultural sphere, political economy of media, cultural construction, local television.

Penulis:

Puji Rianto merupakan dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII yang fokus dengan klaster riset regulasi dan Kkbijakan media – kajian khalayak.

Selengkapnya dapat diakses melalui link:

https://redfame.com/journal/index.php/smc/article/view/7930/7052