MIKOM UII Hadirkan Pakar Media untuk Bedah Tantangan Industri Penyiaran dan Jurnalisme Digital

Yogyakarta, 29 November 2025 – Program Studi Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, Universitas Islam Indonesia (UII), sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Disrupsi, Ekosistem Digital, dan Tantangan Sustainability Media.” Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 29 November 2025, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini bertempat di Auditorium Dr. Soekiman Wirdjosandjojo, UII, dan dihadiri oleh mahasiswa MIKOM UII, akademisi, peneliti, jurnalis, serta praktisi media dari berbagai institusi di Yogyakarta. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan penuh antusiasme, menciptakan ruang pertukaran ide yang vital dalam menyikapi perubahan fundamental lanskap media saat ini.

Acara dibuka dengan sambutan penuh semangat dari Ketua Pelaksana, Dr. Anang Hermawan, S.Sos., M.A. Dalam pidatonya, “Hari ini dalah pertemuan untuk berdiskusi kemudian saling menyatukan kembali vision kita ilmu komunikasi termasuk bagaimana kesinambungan dengan media digital dengan satu topik ‘Distrupsi dan sustaibility’, terimakasi teman teman semua dari MIKOM kita Angkatan pertama, Jadi memang ini dari mahasiswa untuk mahasiswa dengan mengundang semua kolega kolega mitra dari MIKOM UII dan Ilmu Komunikasi UII, terima kasih saya haturkan kepada bapak ibu semua yang ikut hadir,” ungkapnya membuka agenda.

Sambutan dilanjutkan oleh Kaprodi MIKOM, Prof. Dr. Subhan Afifi, M.Si. yang mengambil kesempatan untuk memperkenalkan keunggulan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UII sebagai sentra kajian komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman. “Kami mepersiapkan program ini lumayan Panjang perjalanannya, mulai merintis sejak tahun 2023 dan di release pada bulan April tahun 2025. Kami mencoba mencari apa sih sebenarnya kajian Tingkat magister yang lira-kira jadi pembeda, sehingga tercetuslah bahwa kami ingin focus di Digital and environmental Communication, alasanya ada persoalan ingin menjawab tantangan zaman terkait dengan isu-isu lingkungan juga digitalisasi sebagai sebuah keniscayaan” ujarnya, mempromosikan peran strategis Program Studi tersebut.

Disrupsi, Ekosistem Digital, dan Tantangan Sustainability Media

Sesi inti menghadirkan dua pembicara utama yang menyajikan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Pembicara pertama, Wisnu Nugroho, Vice President Sustainability, Kompas Gramedia Group of Media, memaparkan tantangan yang dihadapi jurnalisme klasik. Dalam pemaparannya, “Kalau berkaca dengan lebih jauh lagi sebenarnya distrupsi itu bukan hal yang baru setiap saat ada perubahan, saya menemukan fakta dan kenyataan dalam 10 tahun terakhir ini, kita hidup di era mudah sekali memuja dan membenci lantas rebut karenanya di media sosial,” ungkapnya.

“Apa yang membuat orang mudah terpecah belah, dikarenakan mereka tidak punya sikap Spekptis,” tambahnya.

Sementara itu, pembicara kedua, Puji Rianto, S.IP., M.A. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UII, fokus membahas nasib media penyiaran konvensional. Dalam penyampaiannya menyoroti urgensi adaptasi bagi Radio dan TV Indonesia.

“Permasalahan keberlanjutan di Radio dan TV Indonesia tidak hanya berkutat pada audiens yang tergerus, melainkan juga pada model regulasi dan inovasi konten yang harus berpacu dengan moda siaran baru di platform digital. Jika tidak segera beradaptasi total, media penyiaran berisiko kehilangan relevansi sosialnya secara permanen di era disrupsi ini,” pungkasnya, menutup sesi presentasi dengan pesan mendalam.

Kuliah umum ini berhasil mencapai tujuannya untuk memperkaya pemahaman mengenai dinamika digital dan mengidentifikasi praktik adaptif media. Diskusi terbuka yang menyusul presentasi kedua pembicara berlangsung sangat aktif. Pertukaran gagasan konstruktif tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa magister, tetapi juga melibatkan kolega-kolega ilmu komunikasi dari dosen dan praktisi yang hadir. Sesi ini menjadi wadah perdebatan ilmiah mengenai cara media menjaga fungsi sosialnya di tengah tekanan komersial dan digital. Acara ditutup dengan sesi foto bersama, dan memberi cindera mata berupa bibit tanaman Sukun Mentega atau Kluwih. menyisakan semangat kolaborasi yang kuat antara akademisi dan praktisi untuk merancang masa depan media yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

 

Penulis: Hafsatul Mubarokah Wahyu Syukron

Parade 16 Perahu ‘Di Tengah Laut, Perempuan Nelayan Menantang Kerusakan Pesisir’

16 perahu membawa nelayan perempuan bersama rombongan dari pesisir Morodemak, Jawa Tengah menuju laut. Sampai di tengah laut, satu per satu perahu mengambil posisi dan membentuk formsi lingkaran. Suara lantang diiringi sahut-sahutan, “Kita harus jaga laut, laut adalah ibu kita jangan dikotori dengan sampah plastik,” teriakan Masnuah menandai dimulainya aksi di tengah laut.

Aksi bertajuk “Parade 16 Perahu Perempuan Nelayan: Melawan Eksploitasi Pesisir yang Merusak Kehidupan” yang berlangsung pada Minggu, 31 Desember 2025 menjadi catatan sejarah untuk perempuan nelayan yang tergabung dalam komunitas Puspita Bahari, untuk pertama kalinya mereka menggelar aksi di tengah laut. Mereka mengadu pada ombak berharap suaranya didengar oleh penguasa yang berwenang.

Kalimat pembuka dari Masnuah adalah ajakan untuk bersama-sama menjaga laut yang kini telah rusak dan dieksploitasi secara serampangan. Teriakan atas rusaknya laut atas pembangunan yang tak memperhatikan lingkungan dampaknya dirasakan betul oleh mereka, penduduk pesisir.

Jalan tol yang dibangun di atas laut memperparah kondisi, ombak yang seharusnya terpencar merata justru mengarah menuju pemukiman hingga berujung kenaikan banjir rob. Kondisi ini sangat kompleks, tak hanya merusak lingkungan, kondisi sosial dan ekonomi dipertaruhkan.

Hal ini terlihat dari akses menuju Morodemak yang tak mudah, jalanan cor amblas tenggelam oleh banjir rob. Jalanan hanya bisa dilewati dengan motor, itupun butuh keahlian khusus agar tak tergelincir.

“Air pasang laut yang semakin parah, banjir rob semakinparah menenggelamkan banyak desa, desa pesisir yang hilang aksesnya, hidupnya, ekonominya itu adalah kesalahan kebijakan pembangunan yang selama ini merusak,” jelas Masnuah dalam aksinya.

Jeritan salah satu perempuan nelayan dari Timbulsoko menjadi inti dari aksi ini, Nurikah menyuarakan kegetiran hidupnya yang harus berkompromi dengan banjir. Ia juga menyuarakan tuntutan-tuntutan soal eksploitasi yang merusak laut.

“Kami adalah perempuan yang hidup bergantung pada laut, kami perempuan nelayan yang sampai hari ini masih berjuang untuk memastikan protein bangsa tercukupi. Kami adalah perempuan nelayan yang berjuang setiap hari dengan ombak tinggi, angin kencang, dan kami dipaksa hidup bersama banjir,” ujarnya.

Upaya ini menjadi salah satu harapan, yang selama ini terabaikan hingga tak mendapat solusi pasti dari pemerintah. Meski demikian sikap optimis masih ditunjukkan oleh Hidayah, perempuan paruh baya yang menggantungkan hidupnya kepada laut. Ia percaya masih ada peluang untuk hidup lebih baik.

“Kami tidak tahu mau mengadu ke siapa, suara kami tidak didengar. Kampanye ini membuka peluang bagi kami,” ungkap Hidayah yang masih menyimpan harapan besar.

Begitupun dengan Lasmi, jauh-jauh dari Timbulsloko menuju Morodemak dengan akses tak mudah ia datang untuk menyuarakan haknya. Ia mengecam keras pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dalam mengeksploitasi laut dan berujung bencana.

“Saya menyuarakan larangan untuk pemerintah yang mengambil hak kami,” tandasnya.

Salah satu aksi dalam momen ini adalah mendesak pemerintah terkait banjir rob sebagai bencana nasional. Aksi ini juga digelar dalam rangka Kampanye Global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKtP) pada 25 November hingga 10 Desember serta peringatan Hari Hak Asasi Manusia. Aksi ini diselenggarakan oleh komunitas perempuan nelayan Puspita Bahari dan didukung oleh GENERATE Project – University of Leeds dan berkolaborasi dengan Prodi Ilmu Komunikasi UII, serta NGO terkait lainnya.

Pelatihan Photovoice Warga Pesisir Demak untuk Advokasi Krisis Iklim

Di tengah ancaman banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa, warga Dukuh Timbulsloko, Kabupaten Demak, terus mencari cara untuk menyuarakan pengalaman menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata. Salah satu upaya yang kini semakin menunjukkan dampaknya adalah pelatihan photovoice yang mereka ikuti pada Oktober lalu. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UII bermitra dengan Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari ini menjadi salah satu titik penting dalam memperkuat kapasitas warga, terutama anak muda, untuk menggunakan narasi visual sebagai alat advokasi. 

Pelatihan Photovoice untuk Warga Pesisir yang didukung oleh Asuransi JASINDO dan Social Impact & Sustainability Institute (SISI) ini dirancang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan memperkuat suara warga yang hidup dalam kondisi banjir rob yang semakin ekstrem. Maka dari itu, proses pendampingan atas warga tetap dilakukan hingga saat ini oleh tim pengabdian dari Prodi Ilmu Komunikasi. 

Dua bulan pascapelatihan photovoice, tercatat ada lebih dari 60 unggahan di Instagram @timbulslokobangkit. Keberhasilan workshop tampak dari semakin beragamnya tema unggahan warga. Unggahan-unggahan itu menampilkan situasi harian masyarakat yang hidup berdampingan dengan banjir rob. Narasi visual menjadi saksi ketahanan warga menghadapi perubahan iklim sekaligus bentuk advokasi terhadap hak mereka atas lingkungan yang layak.

Instagram tersebut telah menjadi arsip sejarah bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kerusakan lingkungan, aktivitasnya direkam, hingga suara-suara kegelisahan dimunculkan. Dari keterangan Masnu’ah, Ketua Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari menyebut jika tahun 2019 Timbulsloko nyaris seperti “kampung mati” genangan air yang terus meninggi memutus akses menuju luar daerah. Berbagai upaya bangkit dilakukan, dari sisi pembangunan fisik kerja kolektif warga membangun jembatan bambu, sisi ekonomi mereka beralih profesi dari petani menjadi nelayan. Namun, upaya lain perlu dilakukan agar pengalaman dan suara mereka didengar lebih luas. Di sinilah pelatihan photovoice menjadi relevan.

“Lewat photovoice, suara masyarakat yang selama ini tidak terdengar berubah menjadi gerakan advokasi terhadap isu lingkungan yang terjadi di Timbulsloko,” ungkap Iven Sumardiantoro, salah satu fasilitator dalam pelatihan ini. 

Selama dua hari, sebanyak 12 peserta berusia 16–25 tahun dari berbagai latar belakang—pelajar, mahasiswa, buruh pabrik, hingga pekerja serabutan—mengikuti pelatihan photovoice. Pada pelatihan ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi pengalaman harian mereka hingga teknik dasar fotografi untuk kepentingan advokasi.

Metode photovoice yang digunakan berakar dari tradisi penelitian partisipatoris yang menempatkan warga sebagai subjek aktif dalam mendokumentasikan dan merefleksikan realitas sosial mereka. “Lewat foto, warga bisa bercerita tentang bagaimana kehidupan di tengah rob, kehilangan rumah, hingga cara mereka bertahan,” ujar Muzayin Nazaruddin, salah satu fasilitator. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi alat advokasi berbasis bukti visual yang dapat menjangkau publik lebih luas melalui media sosial.

Bagi warga Timbulsloko, pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membuka ruang untuk membangun kesadaran publik. Di tengah rob yang kian meninggi, suara warga kini tidak lagi tenggelam. 

Sosialisasi dan Pembekalan Magang 2025 ‘Becoming a Young Professional Preparing Yourself for Internship Challenges’

Magang menjadi ruang mahasiswa tingkat akhir untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya di dunia kerja. Pemilihan kerja magang disesuaikan dengan keilmuan para mahasiswa, untuk mendukung hal ini Jurusan Ilmu Komunikasi, UII menggalar “Sosialisasi dan Pembekalan Magang 2025” untuk mahasiswa angkatan 2025.

Mengambil tema Becoming a Young Professional Preparing Yourself for Internship Challenges, kegiatan ini dilaksanakan pada 22 November 2025 di Ruang Auditorium, Lt. 5 Gedung KH. A Wahid Hasyim. Menghadirkan tiga pembicara dengan latar belakang berbeda, harapannya mahasiswa semakin memantapkan diri atas pilihan-pilihan magang yang akan dilajalankannya.

Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, UII Muzayin Nazaruddin, S.Sos., M.A., Ph.D. menyampaikan kepada mahasiwa angkatan 2022 untuk menunjukkan potensi terbaik saat menjalankan magang, karena tak sedikit karir dimulai dari proses tersebut.

“Mahasiswa Ilkom sebaiknya menyelesaikan skripsi terlebih dahulu sebelum magang agar bisa fokus penuh dan menunjukkan potensi terbaik selama magang. Dengan begitu, mereka dapat memperoleh rekomendasi kuat, membangun kepercayaan diri, dan membuka peluang karier yang solid, karena magang adalah masa krusial yang menentukan kelulusan dan awal karir,” ujarnya.

Peluang Magang untuk Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Tiga pembicara didtangankan, mulai dari pemerintahan, industri kreatif, hingga perusahaan yang bergerak dalam industri kecantikan.

Noer Cholik, Staf Divisi Pengelolaan Informasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyampaikan tugas utama dalam penanganan Gunung Merapi. Beberapa peluang magang untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi antara lain pembuatan konten kreatif, komunikasi publik, event edukasi, komunikasi risiko, hingga analisis infokom.

“Ngomongin Gunung Merapi bukan hanya soal gunungnya, tapi juga penghidupan dan budaya masyarakat di sekitarnya. Strategi mitigasi harus tepat dan informasi diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami, di sinilah Ilmu Komunikasi menjadi kunci. Warga punya kesiapsiagaan tanpa kepanikan, dan komunikasi publik wajib melatih penanggulangan bencana. Di era informasi yang berlimpah, mahasiswa magang punya peluang besar untuk terlibat dalam konten kreatif, edukasi, komunikasi risiko, dan analisis informasi, dengan keberanian terjun langsung ke masyarakat,” ungkanya.

Pembicara kedua adalah Farell Adhitama, Human Resource Manager di Kenapa Creative. Bergerak dalam agency creative, ia menyampaikan bagaimana membuat CV yang bisa dilirik oleh company.

“Mahasiswa Ilmu Komunikasi harus memaknai setiap karya secara holistic demi memuaskan klien, bukan sekadar membuat campaign. Ada berbagai peran penting dalam tim, seperti strategic director, content creator, dan art director, yang menawarkan peluang sesuai minat, terutama bagi yang fokus pada visual. Dalam membangun CV dan portofolio, perlu menonjolkan konteks, masalah, solusi, dan hasil, serta mengedepankan riset, curiosity, inisiatif, dan growth mindset agar pengalaman magang lebih bermakna dan relevan,” pesannya kepada mahasiswa.

Sementara sesi terakhir disampaikan oleh Annisa Amalia Ramadhani, Head of People and Culture dari PT. AVO Innovation Technologhy menjelaskan detail program magang di perusahaanya, yakni Future League Internship Program (FLIP). Industri yang bergerak dalam bidang kecantikan ini selalu melakukan inovasi, sementara ide-ide segar dari Gen Z menjadi salah satu support terbesar dalam setiap kesuksesannya.

“Program Magang Future League Internship Program (FLIP) yang sudah berjalan delapan batch dengan 10-15 posisi memberikan bimbingan awal sebelum penempatan di divisi masing-masing. Program ini dipertahankan karena kedekatan CEO dengan mahasiswa, memungkinkan ide-ide segar kepada perusahaan dan keberagaman yang mengikuti tren saat ini. Di tengah persaingan, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang relate dengan marketing communication dari berbagai brand di AVO bahkan dapat bekerja dalam satu tim dengan saya,” tandasnya.

Jurnal Internasional

Artikel ilmiah garapan dosen Ilmu Komunikasi, UII yakni Holy Rafika Dhona, S.I.Kom., M.A. yang berjudul “Decentering the discourse of ‘propaganda map’: The use of German Suggestive map as a Counter Colonial Tool in the Indonesian Newspaper Pewarta Deli (1935–1940)” telah terbit dalam jurnal Media History, Routledge – Taylor & Francis Group pada 5 November 2025.

Dalam artikel tersebut menjelaskan konsep jurnalisme kartografi yang fokus pada penggunaan peta persuasif atau propaganda yang menjadi populer selama periode antarperang dengan “peta sugestif” Reich ketiga. Meskipun Jerman Nazi terkenal memanfaatkan peta-peta tersebut sebagai senjata intelektual, para ahli berargumen bahwa narasi ini mengabaikan konteks yang lebih luas. Diskursus dominan menggambarkan jurnalisme kartografi era tersebut sebagai bagian dari propaganda Nasionalis-Sosialis Jerman, namun kritikus seperti John Pickles mengusulkan evaluasi yang lebih nuansatif, mempertimbangkan niat pembuat, konteks produksi, konten teks, dan penerimaan audiens. Artikel ini berusaha menantang fokus Eurosentris pada peta propaganda Jerman dengan menganalisis adopsi dan adaptasi peta-peta tersebut oleh jurnalis Indonesia selama masa kolonial Belanda.

Berfokus pada surat kabar Pewarta Deli di Hindia Belanda pada 1930-an, artikel ini mengeksplorasi bagaimana jurnalis Indonesia asli mengubah peta-peta sugestif yang terinspirasi oleh geopolitik Jerman menjadi alat diskursus anti-kolonial. Artikel ini menyoroti perbedaan antara peta-peta geopolitik Jerman dan peta-peta Nasional Sosialis, menekankan bagaimana Djamaludin Adinegoro, redaktur pelaksana Pewarta Deli, menggunakan teknologi pemetaan untuk menentang peta-peta kolonial imperial yang dominan. Dibagi menjadi empat bagian, makalah ini menguraikan dasar institusional Pewarta Deli dalam memproduksi peta, kemampuan teknologinya, dan bagaimana peta-peta sugestif tersebut secara kreatif diubah fungsi untuk menentang narasi kolonial Belanda, menempatkan peta-peta ini sebagai alat politik dan diskursif di luar sekadar propaganda.

Hasilnya, peta persuasif Jerman pada periode antarperang digunakan oleh jurnalis di wilayah jajahan seperti Hindia Belanda bukan karena simpati ideologis, tetapi karena kemudahan reproduksinya sesuai dengan konteks colonial. Penelitian ini mengusulkan agar peta-peta tersebut diakui sebagai fenomena global yang melampaui konteks Eropa dan berfungsi sebagai alat untuk melawan dominasi kolonial. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya memperlakukan peta sebagai media yang signifikan dalam memahami kekuasaan kolonial dan perjuangan perlawanan, karena peta membentuk narasi dan realitas spasial, dengan masyarakat terjajah menggunakan praktik kartografi untuk mempolitisasi dan menentang kendali imperial. Pandangan yang lebih luas ini menantang narasi Eurosentris dan mengangkat peta sebagai alat kritis dalam sejarah media dan diskursus antikolonial.

Keywords: Adinegoro, Geopolitic School, history, Indonesia, journalistic cartography, suggestive map

Penulis:

Holy Rafika Dhona merupakan dosen Prodi Ilmu Komunikasi yang fokus dengan klaster riset communication geography, geomedia, communication history, Foucaultian Discourse, dan matrealist approach on Communication

Selengkapnya dapat diakses melalui link:

https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13688804.2025.2581030

Kuliah Umum MIKOM UII: Disrupsi, Ekosistem Digital, dan Tantangan Sustainability Media

Program Studi Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UII akan menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Disrupsi, Ekosistem Digital, dan Tantangan Sustainability Media” pada Sabtu, 29 November 2025 di Auditorium Dr. Soekiman Wirdosandjodo, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Pesatnya perkembangan teknologi digital berdampak signifikan terhadap pergeseran model bisnis hingga pola konsumsi publik terhadap pilihan media. Kuliah umum ini menjadi ruang diskusi penting, membahas secara mendalam tantangan keberlanjutan media konvensional. 

Dihadapkan dengan tekanan yang kompetitif ekosistem media digital, media konvensional seolah menghadapi ketidakpastian masa depan. Dua pembicara dihadirkan, Wisnu Nugroho, Vice President Sustainability Kompas Gramedia Group of Media sebagai praktisi media akan mengupas topik “Disrupsi Bertubi-tubi, Classic Journalism, dan Upaya Sustainability Media”, serta Puji Rianto, selaku akademisi Ilmu Komunikasi UII akan melakukan analisis mendalam terkait “Sustainability Problems Radio dan TV Indonesia di Era Disrupsi”.

Perubahan signifikan dalam ekosistem media akibat disrupsi digital menuntut adanya ruang dialog yang menyatukan perspektif akademik dan pengalaman praktis industri. Perubahan model bisnis, pola produksi konten, dan karakter audiens memerlukan pemahaman yang mendalam agar media dapat bertahan sekaligus menjalankan fungsi sosialnya.

Hadirnya kuliah umum ini diharapkan mampu menebalkan pemahaman dinamika disrupsi dan dampaknya terhadap keberlanjutan media, memperluas pemahaman peluang dan hambatan keberlanjutan media, hingga mengidentifikasi tantangan serta praktik adaptif untuk mempertahankan eksistensi suatu media.

Sesi ini adalah momen perjumpaan antara aktivis, praktisi media, akademisi, hingga peneliti untuk saling bertukar perspektif yang berkaitan dengan disrupsi media.

Informasi:

Hari/Tanggal : Sabtu, 29 November 2025

Waktu : 09.00 – 12.00 WIB

Tempat : R. Auditorium Dr. Soekiman Wirdjosandjojo, Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia, Jl. Kaliurang 14,5, Sleman Yogyakarta

Kontak:

Program Studi Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM)

Fakultas Ilmu Sosial Budaya – Universitas Islam Indonesia

Instagram : @mikom.uii

Telepon : 6282230921007

Link Kehadiran: s.id/StudiumGeneraleMIKOM2025 (Maksimal Kamis, 27 November 2025)

Workshop on Creative Communication Projects and Collaborative Development Discussion between MIKOM UII and SCIMPA UUM

Master of Communication Science (MIKOM) students at UII had the opportunity to exchange ideas with Malaysian lecturers on creative final projects required for graduation.

The workshop, entitled “Creative Communication Projects and Collaborative Development Discussion”, brought together MIKOM students and Dr. Mohamad Amir Bin Abu Seman from the School of Creative Industry Management and Performing Arts (SCIMPA), Universiti Utara Malaysia, on 18 November 2025 at the Department of Communication Studies, UII.

The workshop method was very flexible and egalitarian, with students free to ask questions and share with the facilitator. Without any PowerPoint presentations, the workshop was conducted through interactive discussions. Dr. Mohamad Amir shared his various experiences. He is very passionate about the film industry, including documentary film production.

One of his works tells the story of a culture that is almost extinct in Malaysia. From this culture, he explained that in producing their work, students must find value and systematic answers.

“When you work on a project, try to go beyond the limits by looking for answers systematically. I need to document what makes the issue or topic special. The answer must have a hook that makes people want to see it, content that has value, and a clear call to action. Everything you create must be more meaningful,” he explained.

Having a connection to the ‘Nusantara’ culture, Dr. Amir emphasised that creative work must respect local wisdom.

“The creative communication approach must be based on a comprehensive understanding of the local context and culture. That way, the message conveyed is not only effective but also respects traditional wisdom,” he added.

Basically, the original idea of a project must be able to raise relevant issues and inspire cross-disciplinary collaboration. This is important in order to produce work that is not only informative but also has a social impact.

In video production, the pre-production and post-production processes are equally important. Both must be planned and executed in a structured manner to ensure that the final result is of high quality and communicative.

“Every work produced must have added value, namely the ability to trigger awareness and real action from the audience, especially on issues related to the environment and indigenous technologies,” he said.

Studium Generale 2025: Suara Mahasiswa untuk Demokrasi di Ruang Digital

Gen Z sebagai digital native menghabiskan waktu setidaknya lima jam per hari untuk berselancar di media sosial. Menurut survei yang dilakukan YouGov tahun 2025, aktivitas yang dilakukan Gen Z beragam mulai dari scrolling, join the trend, hingga menciptakan content. Dari 81 persen masyarakat Indonesia yang aktif bermedia sosial, 48 persennya adalah Gen Z. Jumlah yang dominan adalah peluang, lantas bagaimana cara membawanya kea rah positif?

Jurusan Ilmu Komunikasi UII, menggelar Studium Generale bertajuk “Suara Mahasiswa untuk Masa Depan” pada 15 November 2025 di Gedung Mohammad Natsir, UII untuk menyambut sekaligus memberikan pengalaman bertukar dalam forum yang lebih general dan memiliki keterkaitan dalam kajian Ilmu Komunikasi untuk mahasiswa baru.

“Sebagai mahasiswa baru, kita mendapat privilese akses, perjumpaan, dan kesempatan yang lengkap untuk belajar. Setelah melewati masa ujian, kita diingatkan bahwa menjadi mahasiswa berarti melampaui cara belajar yang biasa. Hari ini, lewat Studium Generale, kita disambut dalam forum umum yang memperluas perspektif sebuah ruang untuk memahami ilmu secara lebih menyeluruh,” ucap Kaprodi Ilmu Komunikasi UII, Dr. Zaki Habibi saat membuka agenda tersebut.

Ungkapan itu juga dipertegas oleh Nizamuddin Sadiq, Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni, bahwa mahasiswa akan terus bertumbuh lewat kemandirian belajar, dengan penguatan dialog dan diskusi.

“Saya meyakini bahwa letak ‘kemahaan’ pada mahasiswa adalah dalam kemandirian belajar mereka yang tumbuh melalui proses, dialog, dan diskusi. Hari ini, saya kembali mempertanyakan relevansi demonstrasi di era digital jika dulu suara harus diteriakkan di jalan untuk didengar, kini ruang digital membuka cara baru untuk menyuarakan gagasan dan memperjuangkan demokrasi,” ujarnya.

Proses Gen Z Menemukan ‘Suaranya’ di Dunia Digital untuk Demokrasi

Menghadirkan dua pembicara yang aktif dalam dunia media digital, Retyan Sekar Nurani alumni sekaligus jurnalis Kumparan serta Ali Maaruf seorang penulis sekaligus kreator konten memberikan banyak perspektif unik dan orisinal.

Retyan Sekar meyoroti “Gen Z Bersuara di Dunia Digital” lewat pengalamannya menjadi jurnalis di awal pandemi Covid-19. Ekspektasinya, seorang jurnalis adalah sosok yang turun ke lapangan menghampiri narasumber. Namun kondisi yang dihadapinya berbeda, pambatasan bertemu fisik yang dilakukan pemerintah ternyata menjadi peluang baru baginya.

“Aku belajar menjadi jurnalis dengan transisi yang luar biasa [pandemi],” ungkapnya.

Ia menjelaskan kuatnya suara di platform digital hingga membuat semua pihak memiliki kesempatan yang sama. Meski demikian Gen Z sangat perlu mempelajari isu dan menguatkan konteks sebelum bersuara. Aktivisme bergeser dari demo jalanan menjadi digital activism, meski demikian esensi demokrasi terus menguat.

“Beberapa orang ingin menyuarakan tapi tidak tau diksinya. Kita punya priviledge. I meet medium to find out the voice, now digital activism,” tambahnya.

“Di era digital, akses, visibilitas, dan konektivitas suara sekcil apa pun dapat menjadi suara bersama. Tantangannya bukan soal berani bersuara, tapi kritis dan tidak ceroboh. Pikir sebelum memposting, verifikasi sebelum membagikan, dan lakukan dialog dan diskusi bukan perang digital,” tambah Retyan Sekar.

Hal senada diungkap oleh Ali Maaruf, ia menggunakan istilah “demorezim” untuk mengungkapkan perubahan bentuk demokrasi. Dari demo fisik yang kini punya banyak medium baru.  Ali menegaskan untuk menemukan “suara diri” yang khas dan orisinal lewat penerimaan diri.

Sebagai penulis dan kreator konten spesialis patah hati, karya-karyanya adalah kejujuran dalam bersuara. Dengan menggunakan konsep unique story proposition lewat penebalan persona, dan tone of voice.

Salah satu fenomena “Gejayan Memanggil” beberapa tahun silam menampilkan realita bahwawa kreativitas visual dan pesan yang lentur justru menjadi gelombang suara kolektif.

“Demokrasi hari ini tidak selalu turun ke jalan, suara kini punya banyak bentuk. Cara menemukannya, kita harus mengenali diri, memahami konteks, dan menciptakan cerita unik yang benar-benar milik kita,” ucap Ali Maaruf.

Yayasan Darussalam Selokerto dan Prodi Ilmu Komunikasi UII Gelar Workshop Menjadi Guru di Era AI

Yayasan Darussalam Selokerto (YDS) dan Prodi Ilmu Komunikasi UII mengadakan Workshop bertema “Menjadi Guru di Era Artificial Intellegence (AI) & Produksi Media Pembelajaran dan Promosi Sekolah Berbasis AI.”

Workshop dilaksanakan pada Sabtu, 8 November 2025 di Restoran The Harjo’s Pancasari Yogyakarta yang dihadiri oleh pembina, pengawas, pengurus YDS, guru, tenaga kependidikan RA dan SDIT Darussalam Selokerto, serta beberapa mahasiswi Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII. Kegiatan tersebut merupakan salah satu aktivitas dari rangkaian program pengabdian masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi UII di RA dan SDIT Darussalam Selokerto.

Pemateri kegiatan ini adalah Prof. Dr Subhan Afifi, M.Si (Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII)  dan Budi Yuwono, S.Sos, M.Sn.  (Dosen STSRD Visi Yogyakarta dan Praktisi Disain Komunikasi Visual).

AI Tidak Menggantikan Profesi Guru

Prof. Subhan Afifi menyampaikan dalam materinya, teknologi AI memberikan tantangan terhadap eksistensi profesi guru, dan juga profesi-profesi lainnya di masa depan. Prof. Subhan mengutip pernyataan Bill Gates yang memprediksi bahwa dalam 10 tahun mendatang, guru-guru akan tergantikan oleh AI. Bahkan saat ini sudah mulai muncul sekolah tanpa guru.

“Tentu agendanya adalah bagaimana para guru merespon tantangan ini,” ujar Prof. Subhan. “AI atau teknologi itu hanya tools saja. Kita meyakini bahwa guru tidak tergantikan oleh AI, tapi bagaimana para guru memanfaatkan AI untuk mendukung tugas mulianya. Tugas guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi mendidik keyakinan, karakter dan akhlak mulia dengan sentuhan personal dan manusiawi. Kemampuan itu yang tidak dimiliki AI,” tambahnya.

Selain pemaparan dari Prof. Subhan, pemateri berikutnya, Budi Yuwono menambahkan, kepintaran sebenarnya dimiliki oleh manusia, bukan AI. “AI  sebenarnya “bodoh”, karena AI hanya menerima data dan mengikuti instruksi atau prompt manusia untuk memproduksi sebuah karya, seperti video dan gambar,” jelas Budi Yuwono.

Budi Yuwono memberikan stategi produksi video pembelajaran dan promosi sekolah berbasis AI.  Kuncinya adalah membuat prompt atau instruksi untuk produksi video dengan teknologi AI harus secara detail untuk mendapatkan hasil optimal yang diharapkan. “Prompt dituliskan dengan menyertakan jenis visual, subjek, detail subjek, background setting, mood atau suasana, bahkan hingga ke teknik kamera. Di sinilah letak kreativitas manusia dalam mengupayakan pekerjaan dengan menggunakan teknologi AI,” ujar Budi Yuwono.

Manfaat-Mudharat AI

Prof. Subhan menyampaikan bahwa para guru dan tenaga kependidikan bisa mengoptimalkan teknologi AI dengan berbagai manfaat dan kelebihannya untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. “Manfaatnya sangat banyak, misal membatu guru dalam hal efisiensi waktu, personalisasi pembelajaran, inovasi media dan metode, analisis data pembelajaran, pengembangan profesional hingga menjadi pendamping/asisten guru dalam mengembangkan kualitas pembelajaran,” tambahnya.

Meski demikian, selain memberikan manfaat, AI memiliki potensi dampak buruk (mudharat) yang harus diwaspadai, seperti plagiarisme, berkurangnya kreativitas dan kemandirian, hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, terancamnya privasi dan keamanan, bahkan terganggunya kesehatan mental pengguna yang menggunakannya secara berlebihan dan tidak terkontrol.

“Untuk itu diperlukan peningkatan literasi digital di kalangan para guru untuk memanfaatkan AI dengan bijak dan menegakkan etika, sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, agar terhindar dari dampak buruk AI” pungkas Prof Subhan.  (**)

Dosen Ilmu Komunikasi UII Berikan Materi Literasi Digital untuk Siswa SD ‘Upaya Menciptakan Ruang Aman untuk Anak’

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menyebutkan sebanyak 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen tercatat mengakses internet. Lantas bagaimana dengan anak usia Sekolah Dasar (SD)?

Bisa diprediksi angkanya pasti akan lebih tinggi, anak usia 7 hingga 17 tahun tercatat 74,85 persen telah mengakses internet (data tahun 2024). Masalahnya adalah apakah mereka sudah cukup bijak menggunakan telepon seluler yang tersambung dengan internet? Dengan sangat mudah anak-anak bebas menjelajah dunia, bahkan bisa tersesat.

Demi menciptakan ruang digital yang aman untuk anak, salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom. melakukan pengabdian ke SDIT Hidayatullah yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Literasi digital diberikan kepada anak-anak kelas 1 dan 2 secara bertahap, pada 24 dan 31 Oktober 2025.

Hampir 200 anak yang ditemui menyebutkan telah memiliki smartphone, sementara sedikit yang dipinjami oleh oleh orangtuanya karena belum diizinkan memelikinya secara pribadi.

“Sekarang ini anak-anak SD sudah banyak yang menggunakan gawai baik untuk hiburan (main game atau menonton video) maupun untuk mendukung pembelajaran. Namun banyak kasus di mana anak-anak memainkan game atau menonton video yang tidak sesuai untuk usia mereka,” ujar dosen Ilmu Komunikasi tersebut.

Dosen Ilmu Komunikasi UII Berikan Materi Literasi Digital untuk Siswa SD ‘Upaya Menciptakan Ruang Aman untuk Anak’

Siswa-siswi SDIT Hidayatullah

Sementara fasilitas yng mumpuni kerap kali tak diimbangi dengan pengawasan dari orang tua tentu akan berisiko. Tanpa aturan yang jelas, anak-anak dengan rasa penasaran yang tinggi tentu akan mudah mengakses konten apapun, termasuk konten yang tak sesuai uisa.

Dari laporan Komdigi yang merujuk pada survei National on Missing and Exploited Children (NCMEC), Indonesia menempati posisi keempat secara global dalam kasus pornografi anak di ruang digital.

“Banyak orang tua yang hanya memberikan fasilitas gawai ke anaknya tanpa memberikan aturan pembatasan penggunaan gawai,” jelasnya.

“Sehingga anak menggunakan gawai secara berlebihan tanpa pengawasan. Hal ini menyebabkan anak menjadi kurang bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya untuk belajar, bahkan cenderung kurang peduli dengan lingkungannya,” tambahnya.

Dalam penyampaian edukasi ini dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari penjelasan secara sederhana yang fun hingga menonton berbagai video edukasi. Berbagai tayangan seperti animasi yang menjelaskan dampak yang tidak baik dalam penggunaan smartphone secara berlebihan hingga tawaran solusi.

Anak-anak diajak untuk mengenal alam, seperti bermain di luar rumah bersama teman sebaya, membantu orang tua, belajar hingga berolahraga. Dalam literasi ini, anak-anak tetap diperbolehkan menggunakan smartphone namun dengan batasan yang jelas.

“Sebagai media literasi lainnya diberikan ular tangga internet sehat yang di dalamnya terdapat informasi sederhana diantaranya menjadikan internet sebagai tempat seru mencari ilmu, menambah pengetahuan dan pengalaman, tidak memberi tahu teman informasi yang tidak benar (hoax), tetap waspada karena di internet juga ada orang jahat yang berpura-pura baik, jangan mau jika diajak janjian bertemu dengan orang yang dikenal lewat internet, selalu bercerita dengan orang tua tentang pengalaman di internet, tidak melakukan pembullyan di dunia maya serta informasi positif lainnya,” tandasnya.