AI

Artificial Intelligence (AI) selalu dianggap sebagai teknologi revolusioner. Menariknya, AI telah diprediksi puluhan tahun lalu oleh teori budaya. Pernyataan ini dibedah dalam International Seminar “Contesting (New) Meanings: AI and Creative Industries” oleh Prof. Kristian Bankov pada 13 Februari 2026 di Gedung RAV Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Profesor dari New Bulgarian University itu menyebutkan bahwa kecerdasan buatan modern mencerminkan cara makna selalu bekerja dalam budaya. Dipertegas dengan teori Umberto Eco, seminar ini memaparkan budaya, bahasa, dan kecerdasan buatan semuanya beroperasi melalui jaringan yang dinamis.

Umberto Eco menantang model strukturalis tentang makna, lalu mengusulkan budaya sebagai ensiklopedia. Sistem semantic luas, tanda-tanda memperoleh makna lewat koneksi dengan tanda lain.

“We could consider every cultural unit as emitting given wave-lengths which put it in tune with a limited number of other units and the possibilities of attraction or repulsion change in time,” ucap Kristian Bankov.

Pernyataan tersebut selaras dengan model bahasa AI modern, bukan menghafal makna melainkan menghubungkan statistik kata-kata. “This cycle repeats billions of times, sculpting the landscape into a form that captures grammar, semantics, world knowledge, and reasoning patterns,” tambahnya.

AI tidak menghimpun dan menyimpan bahasa layaknya kamus; AI memetakan bahasa seperti jaringan. Kata-kata berada dalam ruang dimensi tinggi; maknanya muncul dari kedekatan dan konteks. Gagasan Umberto Eco mempercayai bahwa makna bersifat rasional dan dinamis.

Dalam industri kreatif, AI terintegrasi dalam banyak hal, misalnya produksi film, iklan, penciptaan karya tulis, hingga desain grafis. Kristian Bankov menyebutnya sistem generative mendefinisikan sebagai teknologi. “Learn patterns from data and produce content based on those patterns,” ucapnya.

Kreativitas AI berbeda dengan kreativitas manusia, imajinasi manusia bergantung pada pengalaman hidup, emosi, dan persepsi subjektif. Sebaliknya, AI menghasilkan keunikan lewat pola data yang besar. Hasilnya, AI tak menggantikan manusia melainkan partner kolaborasi, kreativitas yang dibantu AI menggabungkan komputasi dengan revisi manusia.

“Restoring a proper balance between the cultural realm and the commercial realm is likely to be one of the most important challenges of the coming Age of Access,” tambahnya.

Kristian Bankov memberikan saran kepada mahasiswa untuk tetap bertanggung jawab dalam menggunakan AI. Meningkatkan literasi adalah inti di era modern. AI bukanlah jalan pintas, hasilnya akan mendalam ketika mahasiswa berinteraksi lewat informasi, bukan hanya pasif. Di tingkat tertentu AI dapat digunakan untuk kritik, simulasi, dan desain penelitian. Selain itu, mahasiswa perlu melakukan verifikasi atas pertanyaan dan jawaban.

“Students should use AI flexibly and responsibly as a supportive learning partner for exam preparation, creativity, and skill development by applying it according to their knowledge level, verifying its outputs, and using it to strengthen understanding rather than just memorization,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Visiting Professor: Prof. Kristian Bankov dari New Bulgarian University Bimbing Dosen dan Mahasiswa Mikom UII

Visiting professor kali ini menghadirkan Prof. Kristian Bankov dari New Bulgarian University pada 12 Februari 2026 di Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kedatangannya menjadi momen akademik yang penuh insight bagi para dosen dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UII, pasalnya sesi ini merupakan mentorship programme untuk rencana riset yang tengah dilakukan civitas akademika di lingkungan institusi.

Berbagai topik riset dikonsultasikan, mulai dari isu gender dan feminisme hingga narasi kontra-Islam di negara Barat. Bankov memberikan feedback langsung dalam sesi ini. Dimulai dengan riset representasi media terhadap aktivisme lingkungan perempuan yang tengah digarap oleh salah satu dosen, yakni Lutviah, S.I.Kom., M.A.

Bankov memberikan respons yang fokus terhadap perubahan sosial yang secara signifikan mesti dilakukan secara kolaboratif antara organisasi nonpemerintah (NGO) dengan akademisi. NGO dianggap memiliki pengetahuan mendalam terhadap praktik lapangan lewat komunikasi publik, advokasi, dan evaluasi.

Pernyataan bahwa diskriminasi gender menjadi masalah yang meluas, meskipun feminis telah mengkritik struktur kekuasaan dan menekankan kesetaraan hukum. Fokus akademisi adalah mengupayakan gagasan tersebut menjadi upaya yang memberi dampak yang lebih kuat daru teori dengan berbasis bukti.

“Gender discrimination remains widespread, and while strands of American feminism—from liberal to radical—have challenged it, a stronger impact can be achieved by combining rigorous scientific research with interdisciplinary PhD study and NGO-driven community instruments in communication, advocacy, and program evaluation to generate scalable, evidence-based solutions,” Bankov said.

Topik selanjutnya datang dari mahasiswa MIKOM, yakni Muhammad Taqi Abdurahman. Ia berencana melakukan riset tentang narasi dan algoritma kontra terhadap Islam. Merespon topik tersebut, Bankov menekankan persepsi Barat terhadap Islam tidak statis, ada yang positif, netral, dan negative. Semua berubah seiring perkembangan sosial, politik, dan media. Meski demikian, ada beberapa upaya menuju pemahaman seimbang.

“Western perceptions of Islam are complex and evolving, shaped by diverse voices, social media influence, and political movements—especially populist agendas that sometimes use Islamic issues for political purposes—while many parts of European and American society increasingly support multiculturalism, integration, and a more balanced understanding,” jelas Bankov.

Dalam melakukan riset ini, Bankov menyarankan agar pendekatan dilakukan secara berimbang dan bertanggung jawab. Hal ini dilakukan untuk mencegah pemanfaatan isu Islam untuk kepentingan politik, mengurangi stereotip negatif, dan membangun pemahaman publik yang lebih toleran.

“Discussions about Islam in Western societies should be approached with balance, media literacy, intercultural dialogue, and inclusive policies to prevent political manipulation, reduce stereotypes, and encourage a more informed and tolerant public understanding,” ucap Bankov memberikan saran.

Penulis: Meigitaria Sanita

Hari Pers Nasional 2026: ‘Content Writer’ antara Kerja Kreatif Digital atau Jurnalistik?

Content writer menjadi profesi dengan daya tarik unik dan menarik, gaya kerjanya yang fleksibel disukai Gen Milenial dan Gen Z. Bayangkan datang ke kafe lalu mengetik artikel sambil berselancar ke berbagai platform media sosial mencari isu-isu viral. Selanjutnya mengemas bahan dengan penuh keterampilan menjadi sebuah artikel yang teratur dan siap dipublikasikan di media online. Sama-sama menghasilkan artikel yang dipubliakasikan di media, hampir mirip dengan kerja jurnalis bukan? Namun, apakah content writer sama dengan jurnalis?

Beberapa keterampilan antara content writer dan jurnalis cukup serupa, misalnya menyiapkan ide segar, riset sumber resmi, hingga menciptakan headline yang ‘nge-hook banget’.

Tercatat dari mesin pencari seperti Kalibrr lebih dari 114 lowongan content writer ditawarkan, sementara lowongan jurnalis sangat terbatas hanya 12 di Indeed. Di LinkedIn lebih ramai, tercatat ada 189 lowongan web content writer. Content writer nyatanya mendominasi wajah industri media saat ini.

Evolusi masifnya content writer terjadi karena ledakan portal media online. Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) yang memiliki lebih 200 mitra menguatkan posisinya sebagai “New Generation Media” sebagai upaya menghadapi tantangan transformasi bisnis media. Dengan konsep mediapreneur dan contentpreneur, jaringannya meluas hingga ke pelosok negeri. Hal serupa juga dilakukan oleh Promedia Teknologi dengan jaringan lebih dari dari 1.250 dan 40 ribu author atau content writer. Ide segar ini nampaknya sudah disambut dalam Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2023 lalu di Medan, dengan berbagai agenda hybridisasi melalui workshop literasi digital.

Meski demikian, apakah kerja-kerja yang dilakukan content writer setara dengan jurnalis? Melansir dari laman Detik Jabar, artikel berjudul Membedah Strategi Jurnalisme Vs Konten Kreator di Era Digital menyebut algoritma telah memenuhi platform online, jurnalisme dan konten kreator memiliki keterkaitan peran. Jurnalis bekerja dengan standar profesional yang ketat dalam verifikasi fakta, melakukan riset mendalam untuk bertanggung jawab kepada publik. Sedangkan konten kreator cakap dalam menciptakan keterlibatan audiens dengan gaya fleksibel dan cocok dengan generasi muda, sayangnya rentan misinformasi karena tak terikat oleh etika jurnalistik. Singkatnya begini, perhatikan tabel di bawah ini:

Aspek Content Writer Jurnalis
Tujuan Promosi, SEO, eengagemet Berita independent, faktual
Proses Adaptasi data web/sosmed Verifikasi mendalam, riset lapangan
Standar Volume tinggi, fleksibel Kode Etik Dewan Pers, kartu pers
Risiko Akurasi sekunder Perlindungan hukum penuh

Dari fenomena ini, overlap fungsi nyata di era digital. Kesamaan fungsi content writer dan jurnalis cukup kuat karena ledakan digital. PRMN dan Promedia Teknologi menjadi bukti sukses, bahwa content writer berhasil mendominasi wajah media online dengan volume masif cocok dengan bisnis media yang cepat dan dinamis.

Meski demikian, Dewan Pers melalui kaleidoskop 2025 dengan tegas menyebutkan perbedaan jurnalis professional dan content writer. Meski sama-sama memproduksi konten jurnalis bekerja dalam sistem pers yang terverifikasi, terikat kode etik jurnalistik. Sedangkan content writer (konten kreator) beroperasi lebih bebas. Sehingga keduanya tak dapat disamakan.

Lantas, bagaimana pendapatmu Comms?

Artikel ini ditulis dalam menyambut Hari Pers Nasional 2026, artikel reflektif sebagai pengingat kerja pers yang selalu menjalankan verifikasi fakta serta bertanggung jawab atas kebenaran informasi kepada publik.

Penulis: Meigitaria Sanita

Kunjungan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana Bali guna 'Benchmarking dan Visitasi Laboratorium' di Prodi Ilmu Komunikasi UII

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana lakukan kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII pada 3 Februari 2026, di Gedung Lt. 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan diawali dengan ‘tur’ Prodi Ilmu Komunikasi UII dan melihat empat laboratorium, yakni laboratorium audio visual, laboratorium audio, laboratorium fotografi dan multimedia, serta laboratorium editing dengan alat mutakhir. Kunjungan ini disambut oleh punggawa Prodi Ilmu Komunikasi, membicarakan mengenai kemungkinan kerja sama yang bisa dilakukan oleh kedua Prodi ini. 

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana berdiri sejak tahun 2011 dengan status PTN Badan Layanan Umum. Namun sejak bulan April tahun 2022, pengembangan kampus dilakukan secara mandiri atau bisa disebut dengan PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum). Sehingga dalam hal ini Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana perlu transformasi khususnya dalam hal kemandirian finansial. Ide pihaknya adalah untuk mendirikan unit bisnis dalam prodinya.

Prodi Ilmu Komunikasi UII menyambut baik dengan berdiskusi dan sharing, menjelaskan bagaimana praktiknya selama ini. Jika terkait unit bisnis, saran yang diberikan adalah mengadakan konferensi, dan mengembangkan lebih dalam unit Laboratorium. Selain itu saran yang diberikan adalah melakukan promosi di pameran-pameran pendidikan, juga memodifikasi bidang minat dengan keunggulan yang lebih menarik pasar, jelas Zaki Habibi (Kaprodi Ilmu Komunikasi UII).

I Putu Juni Antara dan I Gusti Ngurah Oka Candrakusuma dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana yang hadir dalam kunjungan ini. Diskusi lebih mendalam mengenai bagaimana pengelolaan Laboratorium Prodi  selama ini. Pengelolaan manajerial, pemanfaatan untuk para stakeholders, yang utamanya mahasiswa adalah fungsi utama dari adanya Laboratorium. Selain pelayanan, pandangan juga diberikan kepada Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana mengenai bagaimana menjadikan Laboratorium menjadi unit bisnis.

Dalam lingkup penandatanganan kerja sama dilakukan dalam oleh kedua fakultas dari prodi ini yang tertuang dalam MoA (Memorandum of Agreement). Ruang lingkupnya meliputi kerjasama pemagangan dalam proses belajar mengajar, penelitian dan pengembangan keilmuan, pemanfaatan bersama sumber daya dalam kegiatan akademik, penelitian dan pengabdian masyarakat, dan bentuk kerjasama lain yang dianggap perlu untuk meningkatkan kinerja perguruan tinggi.

 

Mahasiswa magang

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), M. Rangga Maulana membagikan pengalamannya selama magang di PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) pada periode Januari hingga Februari 2026. Baginya, magang memberikan banyak keseruan sekaligus mengasah kemampuannya untuk menyiapkan karir profesional.

Magang merupakan kurikulum wajib di  Program Studi Ilmu Komunikasi UII, yang akan diambil di semester 8. Mata kuliah Magang dianggap penting untuk mempersiapkan karir di dunia profesional nantinya. Selain itu magang juga sebagai sarana mempraktikkan ilmu baik teori maupun praktik yang sudah dipelajari saat masih duduk didalam kelas. Berbagai macam perusahaan membuka peluang magang bagi mahasiswa semester akhir. Perusahaan nasional maupun internasional.

Mahasiswa angkatan 2021 tersebut  mendapat kesempatan menjadi bagian digital creative marketing. Yakni mengolah kembali berbagai program yang telah tayang di Trans TV menjadi tayangan Youtube TransTV. Kemampuan editing, copywriting, dan kreativitas sangat dibutuhkan dalam dunia profesional. Termasuk dunia media yang harus serba cepat dan akurat. Selain itu, Rangga merasakan mendapatkan banyak hal selama ia melakukan magang.

“Untuk input yang saya dapatkan selama magang ini tentunya beragam ya. Seperti manajemen data program dan pengintegrasian aplikasi digital. Tidak hanya itu pengalaman juga menjadi hal penting yang dapatkan disini. salah satu pengalaman yang saya dapatkan adalah ikut terlibat dalam perayaan HUT TRANSMEDIA,” pungkas Rangga. 

Rangga juga mendapatkan soft skill selama ia melakukan magang, seperti manajemen waktu, manajemen data, problem solving, berpikir kreatif, adaptif dalam lingkungan kerja yang dinamis, serta kecerdasan emosional. Menurutnya, kemampuan seperti ini sangat mendukung hard skill yang juga ia dapatkan. Kemampuan tangkas namun jika tidak didukung pengelolaan diri yang baik juga tidak akan mendapat hasil yang maksimal.

Pengalaman-pengalaman ini yang akan mengantarkan Rangga dan mahasiswa lain yang melakukan magang untuk menjadi profesional yang berkualitas. Karena tidak ada hal besar yang didapat jika tidak melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu. Seperti pesan Rangga pada adik-adik tingkatnya.

“Teruslah berproses dimanapun, jangan pernah membuang-buang waktu, dan beranilah untuk mengambil kesempatan sekecil apapun. Selalu libatkan Allah dalam urusanmu. Tetaplah semangat walau banyak rintangan, teruslah bangkit walau sering jatuh, dan tetaplah berusaha walaupun pernah gagal. Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Tutupnya.

UMBY Lakukan Kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII ‘Benchmarking Kurikulum dan Visi Misi’

Prodi Ilmu Komunikasi UII menerima kunjungan dari prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) pada 27 Januari 2026 di Gedung Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan dilakukan dalam rangka benchmarking kurikulum dan visi misi.

Diawali dengan memperkenalkan berbagai fasilitas penunjang kegiatan akademik dan praktik mahasiswa, Dr. Zaki Habibi., M.Comms memandu rombongan dari UMBY berkeliling lantai 3. Dimulai dari PDMA Nadim, berbagai laboratorium, hingga mini theatre yang difungsikan tak sekedar untuk screening melainkan agenda-agenda relevan lainnya.

Kegiatan selanjutnya adalah sharing session terkait benchmarking kurikulum dan visi misi. Ketua Jurusan Prodi Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin, S.I.P., M.Si., Ph.D. mengungkapkan keterbukaan terhadap kunjungan dari UMBY. Baginya aktivitas seperti ini akan memberikan peluang dan manfaat dari kedua pihak.

“Tidak akan kami tolak (permintaan kunjungan) siapa tau ada peluang kerja sama. Mungkin riset hingga kemahasiswaan,” ucapnya menyambut rombongan UMBY.

Selanjutnya menjelaskan terkait visi misi Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan membuka langsung laman resmi institusi. Gambaran masa depan dijelaskan salah satunya menyebut mimpi besar menuju The Kaliurang School of Communication, dengan membentuk klaster-klaster riset bagi para dosen di Prodi Ilmu Komunikasi. Tercatat sebanyak tujuh klaster riset menjadi komitmen awal menuju mimpi besar tersebut.

Terkait kurikulum, berbagai percobaan dan penyesuaian dilakukan. Menurut Dr. Zaki Habibi., M.Comms. perubahan signifikan terjadi pada tahun 2014. Hal tersebut dilakukan mengikuti kepakaran para akademisi hingga regulasi tingkat universitas maupun standar dari negara. Salah satunya dengan membentuk pemintan studi. Bahkan penamaan mata kuliah turut menjadi concern yang dipertimbangkan.

“Inovasi pembelajaran untuk kurikulum mengikuti aturan universitas. Penamaan banyak pertimbangan, termasuk kurikulum 2014 signifikan berbeda,” ucapnya.

Kekhasan di Prodi Ilmu Komunikasi adalah dengan menempatkan magang di semester delapan. Berbagai evaluasi dan pertimbangan mendasarinya, termasuk efektivitas masa studi.

“Sebelumnya banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang magang di semester 7 dan lanjut kerja, sehingga skripsinya dilupakan,” tambahnya.

Tercatat ada empat bidang peminatan di Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Jurnalisme Digital, Public Relations, Kajian Media, dan Media Kreatif. Pemintan tersebut telah tersebar sejak semester 4, sehingga mahasiswa mampu mempertimbangkan secara matang arah studinya.

Mengakhiri diskusi, Dr. Rila Setyaningsih, M.SI Kaprodi Ilmu Komunikasi UMBY mengaku mendapat banyak insight dari diskusi tersebut. Pihaknya juga berharap di masa depan bisa saling berkolaborasi dalam berbagai hal.

“Cukup luar biasa pengalaman yang kami dapatkan, sambutannya sangat baik dan harapan ke depan kolaborasi dua program studi ini berjalan tidak hanya dalam hal pendidikan tapi juga riset dan pengabdian masyarakat.” Tandasnya.

Kunjungan dari UMBY diakhiri dengan penandatanganan Implementasi Aktivitas (IA) kedua Prodi. Harapannya kerja sama ini memberi manfaat dalam hal peningkatan mutu pendidikan, pengembangan kurikulum, dan penguatan kualitas akademik.

Mewakili Suara Gen Z, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Angkat Keresahan Lewat Karya Musik

Umumnya mahasiswa memilih skripsi sebagai syarat meraih gelar sarjana, namun berbeda dengan Farid Fadillah mahasiwa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2021 yang memilih karya musik untuk merampungkan masa studinya.

Berjudul “Wtlg” akronim dari We’re the lost generation lagu ini mengangkat keresahan Gen Z. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Farid yakin bahwa penyamapaian pesan lewat musik mampu menyentuh emosi. Lirik-lirik yang ekspresif ala Gen Z yang ia ciptakan tak sekedar curhatan belaka, melainkan mampu menjadi komunikasi yang valid.

“Pesan itu tidak selalu disampaikan lewat teks panjang atau ceramah, menurut saya musik salah satu medium komunikasi ekspresif yang paling direct untuk menyentuh emosi,” ucap Farid saat ditanya alasan memilih karya musik untuk tugas akhir.

“Aku ingin buktikan kalau curhatan Gen Z bisa diubah menjadi produk komunikasi yang valid dan akademis, bukan sekadar curcol,” tambahnya.

Karya musik dengan genre pop house dipilih, baginya genre ini fleksibel. Dengan chorus pop diawali rap, lalu disusul verse melodik Wtlg adalah representasi isi kepala Gen Z.

Isu Quarter-Life Crisis yang Diekspresikan Lewat Lagu Wtlg

Lewat bimbingan salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Anggi Arifudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom karya musik ini mengusung konsep sad banger, lagu dengan lirik emosional, melankolis namun irama beatnya energetik.  Dengan isu quarter life crisis, Wtlg ingin memvalidasi perasaan takut terhadap ekspektasi orang-orang.

“Isunya tentang quarter life crisis. Pesannya simpel, aku ingin memvalidasi perasaan bingung, takut, dan pusing sama ekspektasi orang-orang termasuk orang tua yang dirasain teman-teman Gen Z. Lewat lagu ini, aku mau bilang ‘It’s okay to be lost, kita bareng-bareng kok sesatnya’,” ujarnya.

Liriknya yang relatable dengan perasaan Gen Z ditulis dari pengalaman pribadi, riset, dan observasi. Sementara untuk produksi Farid mengaku semua dilakukan full home recording. Kolaborasi dengan berbagai pihak dilakukan untuk menyempurnakan karyanya. Ia menggandeng salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk turut mengisi vokal.

Sementara untuk medium dengar, Farid memilih mendistribusikannya ke Instagram pribadi, Spotify pribadi, dan YouTube Ikonisia. Alasannya sederhana yakni mengikuti pasar Gen Z.

“Pasar lokal Gen Z memang nongkrongnya lebih rame di Spotify dan audio IG jadi buat aksesnya gampang untuk personal branding juga. Nah, kalau Video Live Session yang di YouTube Ikonisia TV itu sbenarnya untuk promosi saja agar jangkauannya lebih luas ke audiens kampus, sekalian referensi untuk anak-anak Ilkom lain yang ingin membuat konten visual musik yang kece hehe,” ucap Farid.

Meski demikian proses yang dilalui dalam produksi karya musik ini tak sederhana. Dengan serba keterbatasan seperti home recording di kos membuat kualitas audio tak sebening studio profesional. Selain itu, ia juga harus bekerja ekstra dalam hal durasi.

“Lagu-lagu sekarang kebanyakan cuma 1-3 menit, durasi 4 menit masuknya agak kelamanaan, sehingga tantangannya adalah gimana agar pendengar tetap menangkap pesannya tanpa kehilangan fokus atau attention span,” tambahnya.

Ia berharap karyanya tak berhenti di tugas akhir, Farid bermimpi ingin memperbaiki visual dari karya musiknya. Seperti menciptakan official music video berseri dengan pesan yang kuat.

“Visualnya sih, pengen banget membuat Official Music Video untuk lagu ini yang ada alur ceritanya, bukan cuma video lirik atau live session. Agar pesan quarter life crisis-nya makin nampol secara visual. Tapi kayaknya masih nantian deh, ngumpulin mood dulu,” tandasnya.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://youtu.be/auoT8NTiKc4?si=QU8nJPCB-eu9Yka-

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII

Momen apresiasi pasca produksi dalam mata kuliah videografi tahun 2025 berakhir dengan gelar karya “Screening 2025” pada 10 Januari 2026 di GKU Sardjito UII. Tercatat lebih dari 50 video dipertontonkan, puluhan karya itu meliputi short movie, music video, dan video advertisement karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UII.

Tiga juri dihadirkan dalam momen apresiasi ini, para expertise dalam dunia perfilman memberi masukan terhadap hasil garapan mahasiswa Ilmu Komunikasi. ketiganya adalah Mas Manteb (Ananto Prasetyo), Anggi Arif Udin Setiadi, dan Iven Sumardiyantoro.

Ada beberapa karya yang menarik perhatian juri, cukup menggelitik karena mayoritas tak luput dari tantangan ini. Soal ide cerita, rata-rata mudah ditebak hingga eksplorasi yang hampir serupa. Meski demikian, para juri memberikan pujian atas kerja keras mahasiswa selama satu semester ini.

Mas Manteb memberikan masukan soal riset dan ketelitian dalam produksi film, pembuat film selayaknya menempatkan diri sebagai penonton. Film yang membosankan tentu tak nyaman untuk mata penonton.

“Riset itu penting. Idenya tertebak semua (sebagian film yang sudah tayang), ide tidak harus relate yang penting adalah ketelitian. Ketika kita membuat film tujuannya mewakili mata kita, harus bayangkan bahwa dari awal tahu kita mau ngapain. Kenapa film menjemukan, ingin ada yang ditekankan,” ujarnya.

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII. Image: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Filmmaker dituntut memiliki prioritas dalam memilih scenes yang akan dimunculkan dengan mempertimbangkan aturan-aturan yang berlaku. Misalnya terkait UU perfilman tahun 2009 terkait larangan menampilkan rokok dalam film, mas Manteb menyebut adegan tak perlu muncul secara gamblang. “Kalau memang secara tuntutan visual, gak perlu ditebalkan. Satu gambar seribu bahasa. Tidak terlalu ekstrim menunjukkan adegan itu,” tambahnya.

Soal eksplorasi ide juga disinggung oleh Anggi Arif Udin Setiadi, akademisi sekaligus pegiat kreatif menyebutkan beberapa alur membingungkan. Meski demikian karya-karya dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UII baginya memiliki ide yang terkini dan mampu menjawab kebaruan fenomena di Indonesia.

“Luar biasa memang ada beberapa film yang bisa ditebak, sedih-sedih. Terinspirasi dari diri sendiri, ibu meninggal itu lagi ada kesedihan apa kok semua ibu meninggal. Meski demikian, beberapa film yang isunya menarik, isu-isu terkini, teknik pengambilan gambar ada beberapa efek yang keren,” ungkap Anggi.

Sementara, Iven Sumardiyantoro memberikan tawaran solusi bagi para mahasiswa untuk sering-sering menonton film. Sebagai seorang videographer menonton film akan memperkaya teknik sinematografi hingga ide efek yang tak biasa. Selain, cerita tidak harus diucapkan semua lewat kata-kata, scene yang kuat mampu memberi pesan mendalam.

“Tersampaikan pesannya, kalau dikembangin teknik dan editannya sudah lumayan. Saran saya banyak-banyak nonton film saja, agar mendapat referensi variasi teknik sinematografi. Gak semua alur cerita, show detail, tidak perlu diucapkan tunjukin dari scene,” tandasnya.

Daftar Pemenang “Screening 2025” Berdasarkan Kategori

The Best Cinematography: Film Acceptance

The Best Short Film: Obsesi Simetri

The Best Unique Concept: Rasbora

The Best Music Video: Ours to Keep

The Best Visual Effect: Obsesi Simetri

The Best Advertisement: The Real Bodyguard

 

Kegiatan Screening ini rutin dilakukan setiap tahun, pada semester ini mata kuliah Videografi diampu oleh beberapa dosen antara lain Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, S.I.Kom., M.A. Sumekar Tanjung, S.Sos.,M.A. dan Wisnu Yudha Wardhana, M.Sn.

Alumni Ilmu Komunikasi UII Raih Beasiswa LPDP ke Wageningen University Belanda, IELTS dan Esai Jadi Penentu

Alumni dari Prodi Ilmu Komunikasi UII raih beasiswa LPDP ke Belanda. Ia adalah Ajeng Putri Andani alumni angkatan 2017, yang saat ini telah menjalani proses studi Master’s in Communication, Health and Life Sciences di Wageningen University & Research (WUR).

Perjalanannya meraih beasiswa ke Belanda bukan persoalan sederhana, sejak akhir tahun 2022 Ajeng telah mempersiapkan segala dokumen hingga persiapan bahasa Inggris dengan matang. Persiapan tersebut membawanya lolos beasiswa LPDP Batch 1 tahun 2023, perjalan masih berlanjut hingga akhirnya mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari WUR. Singkatnya, pertengahan 2025 ia berangkat ke Belanda dan memulai babak baru perjalanan studi dengan status mahasiswa internasional.

Dari pengalaman yang dilaluinya, Ajeng memberikan dua kunci utama untuk mengambil peluang belajar di luar negeri. Bagainya, kemampuan bahas Inggris dan kemampuan menulis dan pemahaman konteks beasiswa. Sehingga IELTS dan esai baginya adalah penentu.

Kunci Keberhasilan Menuju Kampus Eropa

Ajeng memberikan beberapa insights yang layak diikuti bagi seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang bermimpi ke Eropa. Dari pengamatannya tak banyak sosok berkompeten yang gagal kuliah di Eropa karena kurang detail dalam membaca syarat beasiswa.

“Langkah pertama yang cukup krusial adalah mencari tahu dan memahami secara detail syarat beasiswa yang dituju. Banyak pelamar sebenarnya kompeten, tetapi gagal karena terlambat atau keliru dalam mempersiapkan persyaratan. Dari berbagai skema beasiswa, ada dua komponen yang hampir selalu muncul dan sering menjadi penentu awal, yaitu syarat bahasa dan essay,” ucapnya.

Selanjutnya adalah persyaratan wajib kompetensi bahasa, yakni IELTS. Ada beberapa pilihan seperti TOEFL IBT, Duolingo, dan lainnya. Namun Ajeng memilih IELTS karena lebih general dan banyak diterima di kampus Eropa.

Syarat bahasa sering kali menjadi hambatan terbesar, terutama untuk beasiswa luar negeri. Standar seperti IELTS 6.5 atau lebih bukan sesuatu yang realistis dicapai secara instan. Karena itu, persiapan sedini mungkin menjadi sangat penting.

“Persiapan ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari, seperti menonton film berbahasa Inggris, mendengarkan podcast, atau membaca artikel berbahasa Inggris. Jika ingin lebih terstruktur, opsi yang lebih serius seperti mengambil kursus khusus juga bisa dipertimbangkan,” ucapnya.

“Perlu diingat, kemampuan bahasa bukan hanya soal skor atau sekadar alat seleksi administratif. Bahasa juga mencerminkan kesiapan kita untuk mengikuti perkuliahan, berdiskusi, menulis tugas akademik, dan beradaptasi dengan lingkungan belajar nantinya,” tambahnya.

Selanjutnya terkait esai yang selalu diminta oleh pemberi beasiswa ataupun universitas. Esai adalah alat ukur kesiapan, keseriusan, hingga ketepatan kandidat dengan beasiswa dan program yang dipilih.

“Dalam menulis essay, usahakan sejujur dan se-reflektif mungkin, bukan sekadar ingin terlihat “luar biasa secara prestasi”. Esensi essay beasiswa sebenarnya adalah refleksi diri: bagaimana pengalaman masa lalu membentuk tujuan, serta bagaimana beasiswa tersebut relevan dengan rencana masa depan,” kata Ajeng.

“Di sini, penting untuk memahami arah dan nilai beasiswa yang dituju, lalu mengaitkannya secara masuk akal dengan cerita kita. Misalnya, jika beasiswa seperti LPDP memiliki fokus pada bidang STEM, maka pengalaman, minat, dan rencana masa depan bisa diarahkan ke kontribusi di bidang tersebut tanpa dipaksakan,” tambahnya.

Pada akhirnya, esai bukan tentang menumpuk prestasi, melainkan menjawab pertanyaan reflektif: Mengapa beasiswa ini masuk akal untuk saya, dan mengapa saya juga masuk akal untuk beasiswa ini? Jika jawabannya jelas, logis, dan konsisten, esai biasanya terasa lebih kuat dan meyakinkan.

Itulah pengalaman dari alumni Prodi Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih mimpinya melanjutkan studi ke Belanda. Persiapan matang menjadi keberhasilannya.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Catatan perjalanan ke Demak beberapa bulan lalu begitu memberi makna mendalam, sembilan jam bertahan di rumah Mak Jah bukan perkara yang sederhana. Artinya, setangguh apa perempuan ini hingga mampu bertahan hampir seperempat abad dalam genangan laut?

Perjalanan dari Kaliurang, Yogyakarta dimulai pada Jumat, 29 Agustus 2025 sekitar pukul 3.30 WIB. Tak ada kendala berarti, jalanan Kopeng menawarkan udara segar membuat rombongan kami membuka lebar-lebar kaca minibus. Seperti biasa, untuk mengisi amunisi kami memilih sarapan soto Boyolali di sepanjang jalan Salatiga. Soto dengan hint manis adalah pilihan yang tepat.

Kami memilih masuk tol Bawen untuk mempersingkat perjalanan, pukul 08.00 WIB sampai di Kecamatan Sayung. Riuh dengan truk-truk pengangkut pasir, mereka berjalan bertubi-tubi memenuhi jalanan tanah berdebu. Kami mengamatinya, mengambil gambar, hingga merekam aktivitas lalu lalang. Sejam kemudian, ada telepon masuk. Rupanya kami sudah ditunggu untuk segera menyebrang menuju rumah Mak Jah.

Perahu kecil dengan tenaga diesel ini adalah satu-satunya alat transportasi menuju rumah Mak Jah, satu-satunya rumah yang masih berpenghuni. Sekitar lima belas menit berlalu, tangan Mak Jah melambai bersambut. Satu persatu dari kami turun menghampiri. Pintu dapur yang beralih fungsi menjadi pintu utama kini akrab dijajaki tamu dengan berbagai latar belakang dan tujuan.

“Saiki aku wis gak kerja mas, gak jajak rob naik terus [sekarang aku sudah tidak bekerja mas, tidak bisa menjajaki-hampir tenggelam karena rob naik terus],” ucap Mak Jah setelah mempersilakan kami duduk di ruang tengah.

“Sekarang yang kerja (panen kerang) suami dan anak pertama,” tambahnya.

“Permintaan bibit [mangrove] juga menurun karena jalan susah,” keluhnya lagi.

Ia menatap seluruh sudut rumahnya yang semakin rendah akibat lantai yang terus ditinggikan. “Rob tidak terprediksi. Sekarang tidak bisa dipastikan, dulu bisanya bulan-bulan tua. Pengaruh tol, ombak ngeri. Ini ombak paling besar. Karena tol, [ombak] ngglebak rene, dulu menyebar,” ucapnya mengurai masalah.

Mak Jah mempertebal realita yang kami lihat, bercerita seperti mencurahkan keluh kesah dengan teman. Kami tak banyak bertanya, mendengar dan menanggapinya saja. Setelah itu ia kembali ke dapur memasak kerang hasil tangkapan dan menanak nasi di pawon.

Solastalgia dan Krisis Iklim yang Membelenggu

Jika berfikir dengan logika sederhana, Mak Jah dan keluarganya bisa saja turut serta dalam program relokasi pemerintah. Namun, hal ini cukup rumit. Keinginannya menjaga alam begitu kuat. Ia konsisten menanam mangrove lebih dari 20 tahun, meski demikian perasaan getir atas krisis iklim tak dapat dipungkiri. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Iven Sumardiyantoro, peneliti yang sejak tahun 2023 aktif dalam kerja-kerja observasi dan dokumentasi telah menganalisis kondisi tersebut dengan pemaknaan solastalgia.

“Meskipun di tingkat global banyak peneliti telah menjelaskan kondisi solastalgia dalam berbagai konteks dan peristiwa, peneliti di Indonesia belum banyak menggunakan konsep tersebut. Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia, baik akibat bencana alam maupun kebijakan yang buruk,” jelas Iven Sumardiyantoro.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi dapur rumah Mak Jah, di Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Solastagia merupakan reaksi kecemasan akibat perubahan iklim, istilah ini diciptakan oleh Glenn Albrecht seorang filsuf lingkungan asal Australia. Berbeda dengan nostalgia yang merupakan kerinduan rumah masa lalu dengan kenangan dan membahagikan, solastalgia menjelaskan kondisi mental atau penyakit yang dialami oleh orag-orang korban bencana.

“Solastalgia adalah rasa sakit atau penyakit yang disebabkan oleh kehilangan atau ketiadaan kenyamanan dan rasa isolasi yang terkait dengan kondisi saat ini dari rumah dan wilayah,” jelas Iven.

Sebelumnya Mak Jah memiliki memori baik tentang kampungnya (Bedono). Namun kini rusak karena iklim, dampak banjir rob dirasakan sejak awal tahun 2000-an, puncaknya tahun 2015 penurunan tanah semakin signifikan. Turun sekitar 15-20 cm per tahun. Dari hasil risetnya, Iven menyebut warga mulai meninggalkan wilayah tersebut sejak tahun 2006.

Riset yang dilakukan Iven menghasilkan tiga analisis yang kompleks, pertama menyoroti perubahan iklim menyebabkan perubahan mata pencaharian, bertahan hidup di desa tenggelam, dan gejala solastalgia pada masyarakat.

Lahan pertanian seluruhnya tenggelam, terendam air laut sehingga berdampak pada mata pencaharian. Dari petani beralih menjadi nelayan atau budaya agraris ke pesisir.

“Dulu saya petani, lalu nelayan. Nelayan tidak cukup (penghasilan), saya punya ide untuk membuat (benih mangrove)”, ujar Mak Jah.

Itulah cara Mak Jah bertahan, namun hatinya ternyata menyimpan duka, kehilangan kenyamanan, hingga ikatan dengan rumah dan lingkungan yang rusak. Rumahnya berubah, dulu memberikan kenyamanan kini sebaliknya kesedihan dan kepahita.

“Dan saya sering kebanjiran saat tidur di lantai panggung, terutama saat angin kencang. Pada malam hari, banjir pasang tiba-tiba datang dan saya berkata kepada keluarga saya, ‘Hei, basah.. bangun. bangun’. Dan saya terkejut karena semua bantal dan tikar tidur basah”, ucap Mak Jah.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi sekitar rumah Mak Jah, Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Keteguhan Mak Jah dilirik oleh pemerintah dan berbagai organisasi lain. Deretan piagam penghargaan tertempel pada dinding yang tinggal setengah. Penghargaan itu antara lain: Pemerintah provinsi Jawa Tengah – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2021) pengusulan calon penerimaan penghargaan kalpataru tingkat kecamatan provinsi. (Usulan kategori perintis lingkungan, penyelamat lingkungan, pengabdi lingkungan, pembina lingkungan).

Kedua, Teladan Cinta pada Alam (Amartha &amartha.org) – Amartha Local Heroes. Ketiga, Piagam Penghargaan Peringatan Hari Kartini – atas jasanya di bidang lingkungan hidup dalam rangka peringatan hari Kartini 2023. Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju. Dan terakhir, Penghargaan Kalpataru tahun 2021, sebagai perintis, pengabdi, penyelamat, dan pembina lingkungan hidup tingkat Provinsi.

Upaya Konservasi Lingkungan dengan Memahami Risk Communication

Solastalgia yang dirasakan Mak Jah dan korban lainnya mungkin saja terabaikan. Tak ada penanganan khusus. Korban tak diajak berkomunikasi dengan hati ke hati. Lantas bagaimana menyelesaikan persoalan ini?

Sebagai informasi krisis iklim di Demak, Jawa Tengah terjadi karena faktor alam dan aktivitas manusia. Berbagai pembangunan yang tak memperhatikan dampak lingkungan cukup masif dilakukan. dari pembangunan pelabuhan hingga jalan tol.

Akademisi Komunikasi Lingkungan dari UII, Muzayin Nazaruddin mencoba mengurai bagaimana memahami alasan apa yang membuat korban climate change enggan direlokasi. Jawaban ini memiliki benang merah atas kondisi mental solastalgia. Mulai dengan memahami makna risiko dan dampak climate change. Ia menyebut jika risiko dari climate change, tak sederhana layaknya kalkulasi objektif tentang apa yang berbahaya dan tidak. Pada masyarakat terdampak, risiko adalah persepsi yang dirasakan. Hal ini berdampak tak selaras pada pengambil kebijakan.

Kecenderungan masyarakat adalah berkelompok, mereka ingin terus terhubung. Relokasi dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti administrasi yang sederhana hingga biaya pembangunan yang ideal.

“Climate change harus diantisipasi atau masuk dalam agenda pembangunan, sayangnya pemerintah Indonesia belum punya cukup agenda menghadapi climate change ini. Mitigasinya belum jelas,” ujarnya.

Dari pengamatannya, saat ini banyak LSM, masyarakat sipil, dan organisasi yang turut membantu sayangnya bersifat karitatif atau tambal sulam. Menurutnya, pemerintah memfasilitasi berbagai pihak duduk bersama, ngobrol bersama termasuk bersama warga mereka inginnya bagaimana. Kalau mereka mau bertahan di sana harus bagaimana kalau mau dipindahkan dimana dan bagaimana. Harus ada visi jangka panjang.

“Artinya ketika pemerintah membangun kebijakan berbasis risiko harusnya mempertimbangkan apa sih yang menurut warga menjadi risiko,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita