Alumni Ilmu Komunikasi UII Raih Beasiswa LPDP ke Wageningen University Belanda, IELTS dan Esai Jadi Penentu

Alumni dari Prodi Ilmu Komunikasi UII raih beasiswa LPDP ke Belanda. Ia adalah Ajeng Putri Andani alumni angkatan 2017, yang saat ini telah menjalani proses studi Master’s in Communication, Health and Life Sciences di Wageningen University & Research (WUR).

Perjalanannya meraih beasiswa ke Belanda bukan persoalan sederhana, sejak akhir tahun 2022 Ajeng telah mempersiapkan segala dokumen hingga persiapan bahasa Inggris dengan matang. Persiapan tersebut membawanya lolos beasiswa LPDP Batch 1 tahun 2023, perjalan masih berlanjut hingga akhirnya mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari WUR. Singkatnya, pertengahan 2025 ia berangkat ke Belanda dan memulai babak baru perjalanan studi dengan status mahasiswa internasional.

Dari pengalaman yang dilaluinya, Ajeng memberikan dua kunci utama untuk mengambil peluang belajar di luar negeri. Bagainya, kemampuan bahas Inggris dan kemampuan menulis dan pemahaman konteks beasiswa. Sehingga IELTS dan esai baginya adalah penentu.

Kunci Keberhasilan Menuju Kampus Eropa

Ajeng memberikan beberapa insights yang layak diikuti bagi seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang bermimpi ke Eropa. Dari pengamatannya tak banyak sosok berkompeten yang gagal kuliah di Eropa karena kurang detail dalam membaca syarat beasiswa.

“Langkah pertama yang cukup krusial adalah mencari tahu dan memahami secara detail syarat beasiswa yang dituju. Banyak pelamar sebenarnya kompeten, tetapi gagal karena terlambat atau keliru dalam mempersiapkan persyaratan. Dari berbagai skema beasiswa, ada dua komponen yang hampir selalu muncul dan sering menjadi penentu awal, yaitu syarat bahasa dan essay,” ucapnya.

Selanjutnya adalah persyaratan wajib kompetensi bahasa, yakni IELTS. Ada beberapa pilihan seperti TOEFL IBT, Duolingo, dan lainnya. Namun Ajeng memilih IELTS karena lebih general dan banyak diterima di kampus Eropa.

Syarat bahasa sering kali menjadi hambatan terbesar, terutama untuk beasiswa luar negeri. Standar seperti IELTS 6.5 atau lebih bukan sesuatu yang realistis dicapai secara instan. Karena itu, persiapan sedini mungkin menjadi sangat penting.

“Persiapan ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari, seperti menonton film berbahasa Inggris, mendengarkan podcast, atau membaca artikel berbahasa Inggris. Jika ingin lebih terstruktur, opsi yang lebih serius seperti mengambil kursus khusus juga bisa dipertimbangkan,” ucapnya.

“Perlu diingat, kemampuan bahasa bukan hanya soal skor atau sekadar alat seleksi administratif. Bahasa juga mencerminkan kesiapan kita untuk mengikuti perkuliahan, berdiskusi, menulis tugas akademik, dan beradaptasi dengan lingkungan belajar nantinya,” tambahnya.

Selanjutnya terkait esai yang selalu diminta oleh pemberi beasiswa ataupun universitas. Esai adalah alat ukur kesiapan, keseriusan, hingga ketepatan kandidat dengan beasiswa dan program yang dipilih.

“Dalam menulis essay, usahakan sejujur dan se-reflektif mungkin, bukan sekadar ingin terlihat “luar biasa secara prestasi”. Esensi essay beasiswa sebenarnya adalah refleksi diri: bagaimana pengalaman masa lalu membentuk tujuan, serta bagaimana beasiswa tersebut relevan dengan rencana masa depan,” kata Ajeng.

“Di sini, penting untuk memahami arah dan nilai beasiswa yang dituju, lalu mengaitkannya secara masuk akal dengan cerita kita. Misalnya, jika beasiswa seperti LPDP memiliki fokus pada bidang STEM, maka pengalaman, minat, dan rencana masa depan bisa diarahkan ke kontribusi di bidang tersebut tanpa dipaksakan,” tambahnya.

Pada akhirnya, esai bukan tentang menumpuk prestasi, melainkan menjawab pertanyaan reflektif: Mengapa beasiswa ini masuk akal untuk saya, dan mengapa saya juga masuk akal untuk beasiswa ini? Jika jawabannya jelas, logis, dan konsisten, esai biasanya terasa lebih kuat dan meyakinkan.

Itulah pengalaman dari alumni Prodi Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih mimpinya melanjutkan studi ke Belanda. Persiapan matang menjadi keberhasilannya.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Catatan perjalanan ke Demak beberapa bulan lalu begitu memberi makna mendalam, sembilan jam bertahan di rumah Mak Jah bukan perkara yang sederhana. Artinya, setangguh apa perempuan ini hingga mampu bertahan hampir seperempat abad dalam genangan laut?

Perjalanan dari Kaliurang, Yogyakarta dimulai pada Jumat, 29 Agustus 2025 sekitar pukul 3.30 WIB. Tak ada kendala berarti, jalanan Kopeng menawarkan udara segar membuat rombongan kami membuka lebar-lebar kaca minibus. Seperti biasa, untuk mengisi amunisi kami memilih sarapan soto Boyolali di sepanjang jalan Salatiga. Soto dengan hint manis adalah pilihan yang tepat.

Kami memilih masuk tol Bawen untuk mempersingkat perjalanan, pukul 08.00 WIB sampai di Kecamatan Sayung. Riuh dengan truk-truk pengangkut pasir, mereka berjalan bertubi-tubi memenuhi jalanan tanah berdebu. Kami mengamatinya, mengambil gambar, hingga merekam aktivitas lalu lalang. Sejam kemudian, ada telepon masuk. Rupanya kami sudah ditunggu untuk segera menyebrang menuju rumah Mak Jah.

Perahu kecil dengan tenaga diesel ini adalah satu-satunya alat transportasi menuju rumah Mak Jah, satu-satunya rumah yang masih berpenghuni. Sekitar lima belas menit berlalu, tangan Mak Jah melambai bersambut. Satu persatu dari kami turun menghampiri. Pintu dapur yang beralih fungsi menjadi pintu utama kini akrab dijajaki tamu dengan berbagai latar belakang dan tujuan.

“Saiki aku wis gak kerja mas, gak jajak rob naik terus [sekarang aku sudah tidak bekerja mas, tidak bisa menjajaki-hampir tenggelam karena rob naik terus],” ucap Mak Jah setelah mempersilakan kami duduk di ruang tengah.

“Sekarang yang kerja (panen kerang) suami dan anak pertama,” tambahnya.

“Permintaan bibit [mangrove] juga menurun karena jalan susah,” keluhnya lagi.

Ia menatap seluruh sudut rumahnya yang semakin rendah akibat lantai yang terus ditinggikan. “Rob tidak terprediksi. Sekarang tidak bisa dipastikan, dulu bisanya bulan-bulan tua. Pengaruh tol, ombak ngeri. Ini ombak paling besar. Karena tol, [ombak] ngglebak rene, dulu menyebar,” ucapnya mengurai masalah.

Mak Jah mempertebal realita yang kami lihat, bercerita seperti mencurahkan keluh kesah dengan teman. Kami tak banyak bertanya, mendengar dan menanggapinya saja. Setelah itu ia kembali ke dapur memasak kerang hasil tangkapan dan menanak nasi di pawon.

Solastalgia dan Krisis Iklim yang Membelenggu

Jika berfikir dengan logika sederhana, Mak Jah dan keluarganya bisa saja turut serta dalam program relokasi pemerintah. Namun, hal ini cukup rumit. Keinginannya menjaga alam begitu kuat. Ia konsisten menanam mangrove lebih dari 20 tahun, meski demikian perasaan getir atas krisis iklim tak dapat dipungkiri. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Iven Sumardiyantoro, peneliti yang sejak tahun 2023 aktif dalam kerja-kerja observasi dan dokumentasi telah menganalisis kondisi tersebut dengan pemaknaan solastalgia.

“Meskipun di tingkat global banyak peneliti telah menjelaskan kondisi solastalgia dalam berbagai konteks dan peristiwa, peneliti di Indonesia belum banyak menggunakan konsep tersebut. Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia, baik akibat bencana alam maupun kebijakan yang buruk,” jelas Iven Sumardiyantoro.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi dapur rumah Mak Jah, di Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Solastagia merupakan reaksi kecemasan akibat perubahan iklim, istilah ini diciptakan oleh Glenn Albrecht seorang filsuf lingkungan asal Australia. Berbeda dengan nostalgia yang merupakan kerinduan rumah masa lalu dengan kenangan dan membahagikan, solastalgia menjelaskan kondisi mental atau penyakit yang dialami oleh orag-orang korban bencana.

“Solastalgia adalah rasa sakit atau penyakit yang disebabkan oleh kehilangan atau ketiadaan kenyamanan dan rasa isolasi yang terkait dengan kondisi saat ini dari rumah dan wilayah,” jelas Iven.

Sebelumnya Mak Jah memiliki memori baik tentang kampungnya (Bedono). Namun kini rusak karena iklim, dampak banjir rob dirasakan sejak awal tahun 2000-an, puncaknya tahun 2015 penurunan tanah semakin signifikan. Turun sekitar 15-20 cm per tahun. Dari hasil risetnya, Iven menyebut warga mulai meninggalkan wilayah tersebut sejak tahun 2006.

Riset yang dilakukan Iven menghasilkan tiga analisis yang kompleks, pertama menyoroti perubahan iklim menyebabkan perubahan mata pencaharian, bertahan hidup di desa tenggelam, dan gejala solastalgia pada masyarakat.

Lahan pertanian seluruhnya tenggelam, terendam air laut sehingga berdampak pada mata pencaharian. Dari petani beralih menjadi nelayan atau budaya agraris ke pesisir.

“Dulu saya petani, lalu nelayan. Nelayan tidak cukup (penghasilan), saya punya ide untuk membuat (benih mangrove)”, ujar Mak Jah.

Itulah cara Mak Jah bertahan, namun hatinya ternyata menyimpan duka, kehilangan kenyamanan, hingga ikatan dengan rumah dan lingkungan yang rusak. Rumahnya berubah, dulu memberikan kenyamanan kini sebaliknya kesedihan dan kepahita.

“Dan saya sering kebanjiran saat tidur di lantai panggung, terutama saat angin kencang. Pada malam hari, banjir pasang tiba-tiba datang dan saya berkata kepada keluarga saya, ‘Hei, basah.. bangun. bangun’. Dan saya terkejut karena semua bantal dan tikar tidur basah”, ucap Mak Jah.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi sekitar rumah Mak Jah, Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Keteguhan Mak Jah dilirik oleh pemerintah dan berbagai organisasi lain. Deretan piagam penghargaan tertempel pada dinding yang tinggal setengah. Penghargaan itu antara lain: Pemerintah provinsi Jawa Tengah – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2021) pengusulan calon penerimaan penghargaan kalpataru tingkat kecamatan provinsi. (Usulan kategori perintis lingkungan, penyelamat lingkungan, pengabdi lingkungan, pembina lingkungan).

Kedua, Teladan Cinta pada Alam (Amartha &amartha.org) – Amartha Local Heroes. Ketiga, Piagam Penghargaan Peringatan Hari Kartini – atas jasanya di bidang lingkungan hidup dalam rangka peringatan hari Kartini 2023. Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju. Dan terakhir, Penghargaan Kalpataru tahun 2021, sebagai perintis, pengabdi, penyelamat, dan pembina lingkungan hidup tingkat Provinsi.

Upaya Konservasi Lingkungan dengan Memahami Risk Communication

Solastalgia yang dirasakan Mak Jah dan korban lainnya mungkin saja terabaikan. Tak ada penanganan khusus. Korban tak diajak berkomunikasi dengan hati ke hati. Lantas bagaimana menyelesaikan persoalan ini?

Sebagai informasi krisis iklim di Demak, Jawa Tengah terjadi karena faktor alam dan aktivitas manusia. Berbagai pembangunan yang tak memperhatikan dampak lingkungan cukup masif dilakukan. dari pembangunan pelabuhan hingga jalan tol.

Akademisi Komunikasi Lingkungan dari UII, Muzayin Nazaruddin mencoba mengurai bagaimana memahami alasan apa yang membuat korban climate change enggan direlokasi. Jawaban ini memiliki benang merah atas kondisi mental solastalgia. Mulai dengan memahami makna risiko dan dampak climate change. Ia menyebut jika risiko dari climate change, tak sederhana layaknya kalkulasi objektif tentang apa yang berbahaya dan tidak. Pada masyarakat terdampak, risiko adalah persepsi yang dirasakan. Hal ini berdampak tak selaras pada pengambil kebijakan.

Kecenderungan masyarakat adalah berkelompok, mereka ingin terus terhubung. Relokasi dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti administrasi yang sederhana hingga biaya pembangunan yang ideal.

“Climate change harus diantisipasi atau masuk dalam agenda pembangunan, sayangnya pemerintah Indonesia belum punya cukup agenda menghadapi climate change ini. Mitigasinya belum jelas,” ujarnya.

Dari pengamatannya, saat ini banyak LSM, masyarakat sipil, dan organisasi yang turut membantu sayangnya bersifat karitatif atau tambal sulam. Menurutnya, pemerintah memfasilitasi berbagai pihak duduk bersama, ngobrol bersama termasuk bersama warga mereka inginnya bagaimana. Kalau mereka mau bertahan di sana harus bagaimana kalau mau dipindahkan dimana dan bagaimana. Harus ada visi jangka panjang.

“Artinya ketika pemerintah membangun kebijakan berbasis risiko harusnya mempertimbangkan apa sih yang menurut warga menjadi risiko,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Quantifying the Subjective: Measuring Perception in Quantitative Research

Perception describes how people interpret experiences, messages, or environments, making it naturally subjective and difficult to measure. Surveys address this challenge by using standardized questions that allow responses to be compared across many participants. According to Ponto’s journal on Understanding and Evaluating Survey Research, surveys are especially useful for describing attitudes and behaviors when researchers use representative samples and valid measurement tools. Also emphasizes that perceptions are often complex and should be measured using multiple questions rather than single items. Together, these perspectives show how surveys convert personal feelings into numerical values that can be analyzed statistically and applied in areas such as education, policy, and marketing.

Key Methods for Measuring Perception

Quantitative perception studies rely on structured survey tools that produce numerical results. One of the most common methods is the Likert scale, which asks respondents to rate their agreement with statements on a fixed scale (such as 1–5 ). Another method is the semantic differential scale, which measures attitudes using opposite word pairs like “safe–unsafe” or “effective–ineffective.”It is also highlighted that the importance of reliability, meaning consistent results across time, is often measured using Cronbach’s alpha. Validity is equally important, ensuring that survey items truly measure the intended perception. Moreover, it strongly supports using multiple items for each perception to reduce errors and capture more detail. These techniques allow researchers to express perceptions as measurable scores, making them useful for analysis and decision-making.

Survey Design and Sampling

Good survey design is essential for accurate results that outline several key steps: clearly define research goals, write neutral and clear questions, pilot test the survey, and select a representative sample using random or stratified sampling methods. Closed-ended questions are preferred because they are easier to analyze quantitatively. Sampling problems, such as low response rates, can affect results and should be addressed through reminders or incentives. Perception surveys should also consider cultural differences, especially in international research, and avoid language that could be misunderstood. Quantitative research, as well, requires sufficiently large samples to ensure reliable results and detailed reporting of participant demographics. Careful design helps avoid bias and improves the credibility of findings.

Data Analysis, Challenges, and Evaluation

After data collection, researchers analyze perception data using statistical techniques. Where factor analysis helps identify underlying dimensions of perception, while regression analysis examines how perceptions influence outcomes such as behavior or decision-making. But it has challenges, such as social desirability bias and varying interpretations of survey questions. These issues can be reduced by ensuring clarity and testing survey items before full distribution. Evaluation standards require researchers to report sample size, response rates, reliability measures, and study limitations clearly. This transparency strengthens the trustworthiness of survey-based perception research.

Survey research, as explained by Ponto,  offers a powerful and reliable way to measure perception in quantitative studies. By using validated scales, thoughtful sampling, and direct analysis, researchers can turn subjective experiences into meaningful data. With continued advances in digital survey tools, quantitative perception research can also remain a key method for producing evidence-based insights across many fields.

Reference

Clifton, K., & Carrasco, J. A. (2018). Workshop Synthesis: Measuring attitudes and perceptions in quantitative surveys. Transportation Research Procedia, 32, 495–500. https://doi.org/10.1016/j.trpro.2018.10.040

DeCarlo, M., Cummings, C., & Agnelli, K. (2021, August 23). 11. Quantitative measurement. Graduate Research Methods in Social Work. https://pressbooks.library.vcu.edu/mswresearch/chapter/11-quantitative-measurement/

Ponto, J. (2015, March 1). Understanding and evaluating survey research. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4601897/

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

UII IPC Student Triumphs at SAHARA 2025 After Back-to-Back Arabic Speech Wins

One of the students of the International Program Communication (IPC) UII had achieved consecutive successes in Arabic Speech in the last two months. He is Arif Ardiansyah from the 2025 batch, who most recently won first place in Arabic Speech at the “Semarak Apresiasi Khazanah Arab” competition or SEMARAK 2025.

This national competition was held on 9 December 2025 at UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Last November, Arif was the First Runner-Up in the Southeast Asian Arabic Public Speech competition, Khitobah Al Arabiyah, held at UIN Malang.

Winning first place this time was a precious moment. Arif said he learned a lot from the previous competition. He evaluated his previous performance and improved it for the SAHARA 2025 competition.

“I evaluated my shortcomings from the previous Arabic speech competition in Malang, where I won 1st Runner-Up at the Southeast Asian level with a score of 188 (only 2 points different from 3rd place). This experience motivated me to practice harder, build confidence when performing, and have a strong mindset to be a champion,” he said.

With little time to spare, he prepared briefly and even wrote his speech text just three days before the competition. Nevertheless, he tried his best. “The main challenge was the short preparation time. The speech text was only finished and collected on 5th December, while the competition was held on 9th December. The remaining three days included travelling from Yogyakarta to Bandung by train,” he added.

For him, being a student is a valuable and challenging journey. Not wanting to waste opportunities, Arif admitted that he always tried his best and evaluated himself to achieve maximum results.

“True victory is not the end of the journey, but the fruit of honest self-evaluation and tireless hard work. Keep learning from every experience, because that is where the key to sustainable success lies,” he said.

This achievement is certainly a source of pride for the Department of Communications Science and an inspiration for students to pursue their dreams and achieve excellence.

influence for Impact in Southeast Asia

Setelah melewati seleksi panjang, Harry Setya Kurnia Nugraha mahasiswa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2022 berhasil lolos dalam influence for Impact in Southeast Asia (i-SEA) Fellowship Pragramme yang diselenggarakan oleh Centre for Information Integrity and the Internet (IN-cube), Nanyang Technological University. Oktober lalu ia dinyatakan lolos dan berhak menjalani program sejak 15 November hingga 13 Desember 2025.

Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh i-SEA di laman NTU lebih dari 450 pendaftar dari negara-negara ASEAN. Dari Indonesia terdapat tiga peserta, termasuk Harry Setya yang menjadi satu-satunya perwakilan UII.

“Menurut aku proses seleksinya sangat kompetitif. Program ini menerima lebih dari 450 pendaftar dari Asia Tenggara, dan hanya 3 mahasiswa dari Indonesia dipilih sebagai fellows,” ucap Harry Setya.

i-SEA Fellowship Programme merupakan program hibrida satu bulan yang didesain untuk memberikan bekal pada peserta terpilih dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi kreator konten digital yang etis dan berdampak. Beberapa topik yang diperoleh dalam program ini antara lain Online Harms and Misinformation, Media Law and Ethics, AI, in Storytelling, dan Immersive Journalism and Hackton Challenges.

Pengalaman berharga didapatkan oleh Harry, setalah menjalankan online sessions pada 15 November hingga 4 Desember seluruh peserta terpilih berkesempatan mengikuti in-person programme di Singapura pad 7 hingga 13 Desember 2025.

“Selama tiga minggu pertama, kami mengikuti online masterclasses bersama profesor, peneliti media, jurnalis, fact-checkers, pakar teknologi, dan influencer. Minggu terakhir difokuskan pada hackathon, di mana kami merancang solusi terkait information integrity di Asia Tenggara. Tak lupa kami juga berkunjung ke kantor Tiktok Singapore, SPH Media, dan Media corp. Dimana media media ini merupakan media besar di Singapura,” jelasnya.

Urgensi i-SEA Fellowship bagi Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Bagi Harry Setya, i-SEA Fellowship begitu relevan dengan kajian Ilmu Komunikasi yang selama ini ia pelajari. Berbagai materi dalam i-SEA Fellowship fokus pada produksi pesan, penyebaran peesan, hingga bagaimana memperoleh kepercayaan publik di ruang digital.

“Pengalaman ini membuat aku paham bahwa komunikasi tidak cukup hanya mengejar viralitas, tetapi harus mempertimbangkan etika dan dampak jerhadap kepercayaan publik,” ucap Harry Setya.

Selain ilmu berharga, membangun relasi dalam lingkungan global menjadi privilege peserta i-SEA Fellowship. Ia secara aktif berdiskusi dengan mahasiswa dari berbagai negara, tak hanya itu sebagai student content creator ia juga mendapat banyak insight soal ide.

“Aku membangun relasi mungkin dengan aktif berdiskusi, Kolaborasi ide dan konten bareng fellows, dan terbuka terhadap perbedaan perspektif budaya. Menurutku interaksi ku dengan mahasiswa internasional melatih saya untuk beradu gagasan dan berpikir secara global,” tambahnya.

Baginya program ini cukup menantang secara intelektual dan akademik. Ia belajar keluar dari zona nyaman, berdiskusi dengan standar global, dan menerima saran serta kritik terhadap argument yang dilontarkan kepada publik.

Lolos dan menjadi peserta baginya memang tidak mudah, ia berbagi rahasia bahwa keberhasilannya adalah dengan menciptakan esai berkualitas dengan isu yang spesifik.

“Seleksi dilakukan berdasarkan kualitas esai tentang isu misinformasi dan integritas informasi., allighment statement, serta rekam jejak sebagai student content creator,” tandasnya.

Natural Disasters in Sumatra and the Urgency for a Change

Indonesia ranks among the world’s most disaster-prone nations because of its location on the Pacific Ring of Fire and its tropical climate, which trigger frequent earthquakes, volcanic eruptions, floods, landslides, and forest fires. Over the past 15 years, these events have caused more than $16.8 billion in economic losses, with the 2004 Aceh tsunami alone killing thousands of people in the country. Climate change, rapid urbanization, and environmental degradation intensify these disasters, turning them from occasional threats into regular crises that endanger lives, destroy livelihoods, and challenge national stability.

The Current Situation in Sumatra and Its Victims

In late 2025, catastrophic floods and landslides devastated Aceh, North Sumatra, and West Sumatra due to cyclone-driven heavy rains that overwhelmed rivers and triggered widespread destruction. By December 13, 2025, Indonesia’s National Disaster Management Agency (BNPB) confirmed 1,006 deaths all around Sumatra, as well as thousands of people being displaced and hundreds still missing.

More than 158,000 homes, 1,002 public facilities, stripping victims of shelter and income sources like farms and small businesses, while vulnerable groups such as children, the elderly, and low-income families face further hardship from the lack of clean water, healthcare, and safe shelters

Causes of the Disaster

Natural factors like heavy rainfall contribute, but human actions amplify the devastation in Sumatra. Deforestation for palm oil plantations and illegal logging has stripped upper watersheds, slashing the land’s capacity to absorb water and heightening flood and landslide risks. West Sumatra alone lost 32,000 hectares of forest in 2024, much of it cleared for oil palm on steep Bukit Barisan slopes, while 1.5 million hectares across Sumatra now support plantations that erode natural barriers against runoff. Peatland destruction worsens the picture, with less than 4% of peatlands remaining as pristine forest and over 20% degraded into fire-prone shrublands, fueling haze that spreads regionally

The Role of Risk Communication

Risk communication plays a pivotal role in mitigating Sumatra’s disasters by delivering clear, timely information on risks, early warnings, evacuation steps, and aid to at-risk communities. Yet gaps persist, especially in rural areas where language distrust of authorities, limited media access, and damaged infrastructure block vital messages from reaching people in time.

Effective strategies must engage local communities through culturally tailored messages across diverse channels, including social media, trusted leaders, and traditional methods, to build trust and enable proactive responses.

Indonesia’s disaster vulnerability emerges from geography, environmental mismanagement, and communication shortcomings, with Sumatra’s 2025 floods exemplifying how deforestation escalates human suffering and weak messaging heightens risks. Tackling these demands needs environmental policies, sustainable practices, and advanced risk communication that empowers communities to prepare, respond, and recover effectively. Through such integrated efforts, Indonesia can manage disaster tolls and foster long-term resilience.

Rereference 

Kryspin-Watson, J. G. S. Z. Y. J. (n.d.). Strengthening the disaster resilience of Indonesian cities : A policy note. World Bank. https://documents.worldbank.org/en/publication/documents-reports/documentdetail/748581569515561529

McCready, A. (2025, November 29). Indonesia death toll rises to 303 after catastrophic flooding in Sumatra. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2025/11/29/indonesia-death-toll-rises-to-248-after-catastrophic-flooding-in-sumatra

Miettinen, J., & Liew, S. C. (2010). Status of peatland degradation and development in Sumatra and Kalimantan. AMBIO, 39(5–6), 394–401. https://doi.org/10.1007/s13280-010-0051-2

Salma. (2025, December 2). UGM expert: Severe Sumatra flash floods driven by upper watershed forest degradation. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/en/news/ugm-expert-severe-sumatra-flash-floods-driven-by-upper-watershed-forest-degradation/

Topic: Natural disasters in Indonesia. (2025, December 17). Statista. https://www.statista.com/topics/8305/natural-disasters-in-indonesia/#topicOverview

Initiative, H. (2025). Situation Report #8 – Floods and landslides in Aceh Province, North Sumatra, and West Sumatra – Thursday, 13 December 2025. In ReliefWeb. https://reliefweb.int/report/indonesia/situation-report-8-floods-and-landslides-aceh-province-north-sumatra-and-west-sumatra-thursday-13-december-2025

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Ask the Expert Bagaimana Menciptakan Program Komunikasi ‘Event’ yang Berhasil

Program komunikasi adalah salah satu output dalam kajian Ilmu Komunikasi, dikemas dalam mata kuliah Manajemen Komersil biasanya mahasiswa menciptakan event sesuai kebutuhan komunitas tertentu.

Secara umum program komunikasi berbasis event adalah rangkaian strategis terintegrasi yang memanfaatkan acara sebagai media utama dalam menyampaikan pesan, membangun pemahaman dan engagement kepada spesifik audiens.

Skill ini cukup vital bagi lulusan Ilmu Komunikasi, selain melatih manajemen event juga aplikasi praktis teori dalam dunia kerja. Mahasiswa dituntut menjadi problem solver hingga membangun hubungan strategis dengan para stakeholder.

Dalam edisi Ask the Expert kali ini, salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII yakni Ibnu Darmawan, S.I.Kom., M.A. memberikan argumen mendalam terkait keberhasilan program komunikasi.

Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Partisipasi Audiens

Langkah awal dalam strategi komunikasi pemasaran yang efektif dimulai dengan riset mendalam. Melalui data demografi yang diperoleh untuk menentukan media paling tepat untuk melakukan pemasaran.

“Untuk strategi pemasaran yang paling penting dilakukan oleh teman-teman adalah riset dulu. Riset ini nanti menggunakan data demografi kemudian bisa menyimpulkan kecenderungan dari data tersebut,” ucapnya.

Berdasarkan pengalamannya, di era digital yang masif media pemasran tidak hanya bergantung dengan platform digital. Pendekatan langsung berbasis komunitas ternyata cukup efektif menggaet audiens.

“Uniknya di era digital sekarang channel untuk pemasaran itu tidak hanya bergantung pada platform digital aja. Nah digital itu apa sih sebetulnya dari social media melalui konten-konten yang menarik. Nah tapi teman-teman bisa menggunakan pendekatan langsung juga berkolaborasi dengan komunitas yang spesifik yang relevan dengan programnya,” tambahnya.

Untuk meningkatkan efektivitas strategi pemasaran secara keseluruhan, menggabungkan kedua metode ini terbukti ampuh meningkatkan partisipasi.

Manajemen Stakeholder untuk Keberhasilan Komersial

Stakeholder dalam program komunikasi disebut sebagai kolaborator yang terdiri dari sponsor dan komunitas. Keduanya memiliki peran krusial sebagai mitra strategis, sponsor berperan dalam pendanaaan sementara komunitas akan membawa audiens relevan.

“Sponsor adalah mereka yang bisa menyediakan bantuan baik dari pendanaan atau peralatan dengan nilai yang signifikan untuk mengurangi anggaran pembelajaran setiap program komunikasi. Kemudian komunitas mereka adalah sekelompok orang dengan interest yang spesifik yang relevan dengan program komunikasi,” ungkapnya.

Stakeholder tak sekedar pendukung pasif namun membantu penentu kesuksesan program komunikasi. Keterlibatan dalam diskusi untuk memastikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama terhadap program yang akan dilaksanakan.

“Yang pertama teman-teman perlu menyamakan persepsi dulu terkait dengan program komunikasi yang akan dijalankan. Kemudian yang kedua adalah menyampaikan tujuan yang jelas kepada mereka. Sehingga mereka tahu bagaimana mereka bisa berkontribusi secara strategis dalam program komunikasi teman-teman,” tambahnya.

Komunikasi Internal untuk Efisiensi Pelaksanaan

Hal sederhana yang kerap terabaikan adalah komunikasi internal. Padahal komunikasi efektif internal adalah pondasi utama dalam menjalankan program komunikasi. Metode partisipatoris sejak awal perencanaan menjadi kunci utama.

“Komunikasi internal ini juga sangat krusial dalam keberhasilan program komunikasi. Banyak sekali teman-teman tidak memperhatikan signifikansi dari perencanaan komunikasi internal ini. Padahal inilah yang akan sangat berperan penting kepada kelancaran seluruh proses program komunikasi. Teman-teman harus establish dulu proses kerja yang partisipatoris dari awal, mulai dari tahapan perencanaan program,” ucapnya.

Pendekatan tersebut krusial untuk membangun kedekatan personal, rasa kepemilikan bersama, hingga keterbukaan.

“Dari proses yang partisipatoris itu akan muncul perasaan bahwa program ini milik bersama seperti itu. Sehingga akan tercipta keterbukaan komunikasi yang berkualitas baik seperti itu. Nah kualitas keterbukaan informasi ini juga sangat berperan pada tingkat kolaborasi antar anggota tim seperti itu. Ketika tingkat kolaborasi nya tinggi, maka seluruh proses program komunikasi dapat dijalankan dengan baik,” tandasnya.

Orasi Kebudayaan FISB UII: Perguruan Tinggi dan Krisis Memori Kolektif terhadap Pelanggaran HAM di Indonesia dari Era Soeharto hingga Jokowi

Perguruan tinggi memiliki mandat moral dan historis sebagai ruang produksi pengetahuan, kritik, serta penjaga kesadaran publik. Kampus bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga aktor kultural dan politik-ingatan (memory politics) yang berperan dalam merawat memori kolektif bangsa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi gejala serius berupa krisis memori kolektif terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Salah satu indikator krisis ini tampak dalam diangkatnya Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional,” kata Prof. Masduki, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB), Universitas Islam Indonesia (UII) sekaligus ketua Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD), UII. Menurutnya, kebijakan ini menuai kontroversi luas karena dilakukan tanpa proses rekonsiliasi sejarah yang memadai dan tanpa penyelesaian hukum terhadap warisan pelanggaran HAM yang terjadi selama 32 tahun kekuasaan Soeharto.

Lebih memprihatinkan lagi, kebijakan tersebut tidak mendapatkan perlawanan yang kuat dan sistematis dari perguruan tinggi. Padahal kampus seharusnya berdiri di garda depan dalam membela kebenaran sejarah, menyampaikan kritik berbasis riset, dan mengedukasi publik. Diamnya sebagian besar institusi akademik dalam isu ini menunjukkan terjadinya penjinakan intelektual serta melemahnya fungsi kritis pendidikan tinggi. Padahal, yang diangkat menjadi menjadi pahlawan tersebut mempunyai rekam jejak yang tidak sedikit dalam pelanggaran HAM, di antaranya pembantaian pasca-1965; Petrus (Penembakan Misterius); Peristiwa Tanjung Priok 1984, yakni suatu enembakan terhadap massa sipil yang menewaskan banyak warga sipil; Penyerbuan aparat terhadap warga sipil dengan korban jiwa dan penghilangan paksa atau dikenal sebagai peristiwa Talangsari 1989; dan berbagai operasi militer.

Sejalan dengan itu, Prof. Asvi Warman Adam dalam Orasi Kebudayaannya berjudul Krisis Memori Kolektif  Pelanggaran Ham Berat Era Soeharto Sampai Kini (1965-2025), ini menyampaikan bahwa pahlawan nasional sebaiknya bukan sosok yang masih menimbulkan kontroversi atau pro dan kontra besar. Ia menambahkan, karena Presiden Prabowo telah menegaskan gerakan antikorupsi dalam pemerintahannya, maka pahlawan nasional ke depan idealnya sejalan dengan komitmen tersebut. Pernyataan ini ia sampaikan dalam Orasi Kebudayaan yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB) UII bersama Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) UII pada 12 Desember 2025 di Auditorium FK UII.

Acara orasi kebudayaan ini juga ditujukan sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia sekaligus momen peluncuran jurnal pengabdian masyarakat FISB UII bernama Community Transformation Review (CTR). Jurnal tersebut dipersiapkan sebagai wadah diseminasi bagi para akademisi dan aktivis sosial untuk mengomunikasikan aktivitas pemberdayaan serta gerakan sosial dalam format publikasi ilmiah. Orasi kebudayaan ini juga dihadirkan sebagai upaya menghidupkan kembali kesadaran sejarah, akal sehat akademik, dan tanggung jawab moral universitas, agar tidak terus menjadi penonton dalam sejarah yang dipalsukan.

Prof Asvi menambahkan, berkaitan dengan polemik pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional, ia telah menyatakan pendapatnya dalam seminar pengusulan pahlawan nasional bagi mantan Presiden Soeharto yang diselenggarakan oleh KNPI Surakarta pada 9 Juli 2009 di hotel Lor In Karanganyar. “Saya mengungkapkan ada pandangan seorang awam di Jakarta tentang Soeharto yang menarik dikaji karena bersifat paradoks. Beliau adalah “pembangun sekaligus perusak terbesar di Indonesia”. Apakah yang dimaksud pembangunan infrastruktur yang tampak sangat signifikan karena Orde Baru berkuasa tiga dasawarsa, sementara itu terjadi kerusakan lingkungan yang masif, dan berbagai pelanggaran HAM Berat?” ungkapnya kemudian.

“Sebenarnya sudah diusulkan sebagai pahlawan nasional tokoh-tokoh yang tidak diragukan lagi sikap dan perilaku anti korupsinya,” lanjut Prof Asvi. Ia mengatakan bahwa tokoh teladan tersbut yaitu Jenderal polisi Hugeng dan Soeprapto (Jaksa Agung 1950-1959). Hugeng ketika bertugas di Medan menyuruh buang furniture mewah yang disediakan pengusaha di rumah dinasnya. Soeprapto menyuruh kembalikan gelang emas yang dihadiahkan seorang saudagar kepada putrinya. Jaksa Agung Soeprapto yang menyeret ke pengadilan beberapa orang Menteri yang tersangkut kasus korupsi.

Masduki juga menambahkan bahwa pelanggaran-pelanggaran HAM yang belum diusut negara tersebut sebenarnya telah diakui dalam berbagai laporan investigasi resmi dan rekomendasi lembaga negara bahkan di level internasional, tetapi hingga kini mayoritas belum diselesaikan secara hukum. Dalam konteks inilah, pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bentuk penghapusan sejarah penderitaan korban.

Di era Jokowi, situasi tidak banyak berubah. Pada era Presiden Joko Widodo, terdapat harapan besar atas penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu dan penguatan demokrasi. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak kasus pelanggaran HAM berat masa lalu belum dituntaskan secara yudisial, meskipun telah diakui sebagai pelanggaran HAM berat oleh lembaga negara. Sementara itu, kekerasan di Papua terus berlanjut, termasuk korban sipil, pembatasan ruang sipil, dan pendekatan militeristik, kriminalisasi aktivis, jurnalis, dan akademisi dengan pasal karet (misalnya UU ITE), dan masih banyak lagi. Situasi ini memperlihatkan bahwa krisis HAM bukan hanya warisan sejarah, tetapi masalah struktural yang berlanjut hingga kini, dan perguruan tinggi belum tampil cukup kuat sebagai kekuatan resistensi intelektual.

Terakhir, Prof. Asvi juga menambahkan bahwa Perguruan Tinggi secara historis memiliki peran penting dalam perubahan masa, pergantian rezim. Civitas akademika Perguruan Tinggi yang berpikir dan bertindak kritis perlu dibangun dan dikembangkan. Pada suatu ketika hanya ada beberapa Perguruan Tinggi yang tetap bergerak dalam pemberdayaan masyarakat dalam merawat demokrasi dan HAM, yang lain seakan terlena atau tertidur. “Jangan berkecil hati. Bangunkan mereka. Saya ingat media yang sangat berpengaruh dalam pemberontakan rakyat di Silungkang tahun 1927. Nama media yang diterbitkan oleh Serikat Rakyat itu adalah Jago! Jago!. Artinya dalam bahasa Minang, ayo bangun, bangun!” kata Asvi Warman Adam.

Penulis: A. Pambudi Wicaksono

Dari Peringatan Hari HAM Sedunia di FISB UII: Negara Gagal Menyelesaikan Pelanggaran HAM Berat

Penanganan pelanggaran HAM berat yang banyak terjadi di Indonesia selama ini belum kunjung tuntas.  Upaya untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu ini dapat dibagi atas beberapa koridor penyelesaian. Pertama, melewati koridor politik dan hukum. Lalu kedua, melalui kreativitas budaya. Jalur pertama ini tidak mudah dan menghadapi resistensi. Upaya untuk menuntut melalui pengadilan HAM adhoc tidak berjalan. Demikian pula dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsilasi (KKR).

“Undang-Undang KKR sempat dibuat setelah berjuang sekian lama, namun anggota KKR itu tidak kunjung diangkat Presiden dan kemudian Undang-Undang itu dirubuhkan oleh Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Jimly Assidhiqie,” ungkap Prof. Asvi Warman Adam, dalam acara Orasi Kebudayaan yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB), Universitas Islam Indonesia (UII) dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD), UII, pada 12 Desember 2025 di Auditorium FK UII. Selain itu, Prof. Asvi mengatakan, perbaikan kurikulum sejarah telah dilakukan tahun 2004 namun dimentahkan kembali pada kurikulum yang dikeluarkan Mendiknas tahun 2006. Class action yang dilakukan para korban pada tahun 2005 pun ditolak oleh pengadilan. Menurut Asvi, negara telah gagal menyelesaikan pelbagai bentuk pelanggaran HAM berat yang terjadi sejak negara ini merdeka.

Para peserta juga turut membubuhkan tanda tangan sebagai aksi solidaritas hari HAM sedunia. “Hadirin sekalian silakan ikut tanda tangan sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap korban-korban pelanggaran HAM di Indonesia selama ini dan menuntut agar negara mengusut tuntas dan menyelesaikan beragam pelanggaran HAM berat yang sampai hari ini juga belum selesai,” kata Prof. Masduki, Dekan FISB UII sekaligus Ketua PSAD UII, dalam sambutannya di awal acara.

Aksi ini merupakan bukti bahwa publik banyak masih terus menggedor negara agar tidak menutup dan segera menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia yang tak kunjung usai, bahkan kini muncul dugaan sejarah pelanggaran HAM ini hendak direkayasa dan ditutupi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia lewat pembuatan buku sejarah nasional versi pemerintah. Prof. Asvi Warman Adam mengatakan dalam teks orasinya berjudul Krisis Memori Kolektif  Pelanggaran Ham Berat Era Soeharto Sampai Kini (1965-2025), ini, “Yang menarik adalah tiga orang, Ketua Fadli Zon, Wakil Ketua Susanto Zuhdi dan anggota Agus Mulyana adalah tiga penanggungjawab buku Sejarah nasional. Bisa saja orang akan berpikir bahwa penulisan sejarah nasional dan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional November 2025 merupakan satu paket.” Ia menambahkan bahwa belakangan santer dibicarakan lewat seminar dan penerbitan buku dua tokoh yaitu Soemitro Djojohadikoesomo (ayah Prabowo) dan Margono Djojohadikoesoemo (kakek Prabowo). Apakah ketiganya (mantan mertua, ayah dan kakek) sekaligus akan menjadi Pahlawan Nasional? Ada adagium yang populer “Sejarah ditulis oleh pemenang”. Namun ternyata sejarah itu bukan hanya ditulis tetapi juga dikuasai sepenuhnya, lanjut Prof. Asvi.

Pada masa Orde Baru, rekayasa sejarah itu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Misalnya buku “40 Hari setelah keguagalan G30S” diterbitkan militer 40 hari setelah kejadian itu berlangsung. Sementara itu buku putih Sekneg “Pemberontakan G30S/PKI terbit tahun 1995. Di lain pihak gebrakan menulis ulang sejarah yang satu paket dengan pengangkatan pahlawan nasional dilakukan dalam satu tahun pemerintahan Prabowo. Mengapa demikian terburu-buru ? Jawabnya tentu sudah bisa diduga. Soeharto menerima kekuasaan melalui Supersemar 11 Maret 1966 baru berusia 45 tahun. Sementara itu Prabowo kini berumur 74 tahun. Jadi perlu berkejaran dengan waktu, siapa tahu.

“Bagaimana jalan keluar dari kemelut sejarah ini?” tanya Prof. Asvi. Prof. Asvi mengatakan, Antoon de Baets, menulis buku Responsible History (New York, Berghann Books, 2009). Di dalam buku ini ia menguraikan tipologi rekayasa sejarah atau penyalahgunaan sejarah (abuses of history) yang terjadi pada level heuristik, epistemologik dan pragmatik.  Sebagai jalan keluarnya ia menawarkan sejarah yang bertanggungjawab. Ada dua persyarakatan utama yaitu keakuratan (to find the truth) dan kejujuran (to tell the truth) dan Perguruan Tinggi harus menjalankan peran tetap bergerak dalam pemberdayaan masyarakat dalam merawat demokrasi dan HAM.

Qurrotul Uyun, Dekan Fakultas Psikologi UII, juga mengatakan dalam sambutannya, dalam konteks psikologi klinis yang fokus pada riset individu misalnya, trauma harus diselesaikan. Jika trauma tidak dibersihkan secara tuntas, itu akan mempengaruhi dan muncul kembali di kehidupan-kehidupan masa depan, baik di keturunan, maupun generasi berikutnya dari individu tersebut. Qurratul Uyun mengatakan, orasi kebudayaan Prof. Asvi ini juga dapat menjelaskannya dalam konteks sosial yang lebih besar.

Acara orasi kebudayaan yang akan dijadikan agenda rutin setiap akhir tahun oleh FISB UII ini mengusung “Perguruan Tinggi dan Krisis Memori Kolektif terhadap Pelanggaran HAM di Indonesia dari Era Soeharto hingga Jokowi” sebagai tema. Acara ini juga sekaligus dimaksudkan sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia dan peluncuran jurnal pengabdian masyarakat FISB UII yang bernama Community Transformation Review. Sebuah jurnal yang didedikasikan sebagai ruang diseminasi para akademisi dan aktivis sosial mengkomunikasikan aktivitas pemberdayaan dan gerakan sosialnya dalam bentuk jurnal. Selain orasi kebudayaan, acara ini turut mengajak segenap sivitas akademik UII, dan para hadirin yang terdiri dari beragam aktivis dan kampus di Yogyakarta untuk memanjatkan doa bersama, dipimpin Khairul Munzilin (Dosen Hubungan Internasional UII), atas korban-korban kerusuhan politik yang terjadi di Indonesia pada peristiwa Agustus-September 2025 dan semua korban kekerasan oleh negara.

 

Penulis: A. Pambudi Wicaksono

Why Students Should Join ISCDC 

ISCDC 2025 is a seven-day interdisciplinary program that brought together 70 students and staff from Universitas Islam Indonesia with participants from various faculties at Universiti Utara Malaysia. Held at UUM in Sintok, Kedah, the event created a dynamic space for cultural exchange, creative collaboration, and academic development. The program featured four main competition categories: essay writing, reel challenge, cooking, and poster design, each designed to showcase participants’ creativity and analytical skills. Its purpose was to strengthen institutional partnerships between UUM and UII, enrich interdisciplinary learning through cultural immersion, and develop students’ abilities in research, writing, multimedia production, design, and culinary arts, while highlighting Alor Setar’s cultural richness as a reflection of ASEAN values. Managed by UUM’s SCIMPA, SOIS, and STHEM, the event combined several activities, academic mentoring, student buddies support, and cultural performances.

Within this program, I participated in an interdisciplinary competition as part of a six-member group, and our teamwork played a crucial role in our success. We collaborated across all categories but divided tasks according to our individual strengths, ensuring that each member could contribute effectively. As a Communication student, I focused mainly on the poster design category alongside one of my other teammates, while also supporting others in preparing their essay and reel competition entries. This shared effort not only strengthened our group dynamics but also improved the quality of our work. Our combined effort resulted in a rewarding outcome, as we won third place in both the Reel Challenge and the Essay Competition, which made the overall experience motivating and memorable.

Participating in such competitions that align with a student’s academic background is important because it helps strengthen confidence and deepen one’s skills in a meaningful way. When students choose categories that match their interests—such as communication students working on posters or international relations students focusing on essays—they feel more motivated, engaged, and capable. This alignment allows them to apply what they learn in class to real projects, think more creatively, and improve at a faster pace. Even without winning, the process itself becomes valuable, as it directly supports their academic development and future career path.

Equally important is joining programs like ISCDC, which offer learning experiences that cannot be gained from classroom lessons alone. Traveling to a new environment, observing different cultures, and interacting with people from diverse backgrounds make learning more vivid and meaningful. Students gain a deeper understanding of communication, identity, and cultural dynamics simply by being present and noticing how people behave and live. These programs also help students grow personally by teaching them how to work in teams, manage time, handle pressure, and adapt to unfamiliar situations. Through collaboration and cultural immersion, students return with new perspectives, stronger skills, and greater confidence that benefits both their academic journey and future professional opportunities.

 In the end, for any student who pushes themselves to join such programs, just know that it will be a meaningful step that you take toward becoming more mature, more skilled, and more confident. It is an experience that will stay with you long after the competition or program ends, because it will teach you lessons that continue to shape your academic and personal journey.

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita