AI

Artificial Intelligence (AI) selalu dianggap sebagai teknologi revolusioner. Menariknya, AI telah diprediksi puluhan tahun lalu oleh teori budaya. Pernyataan ini dibedah dalam International Seminar “Contesting (New) Meanings: AI and Creative Industries” oleh Prof. Kristian Bankov pada 13 Februari 2026 di Gedung RAV Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Profesor dari New Bulgarian University itu menyebutkan bahwa kecerdasan buatan modern mencerminkan cara makna selalu bekerja dalam budaya. Dipertegas dengan teori Umberto Eco, seminar ini memaparkan budaya, bahasa, dan kecerdasan buatan semuanya beroperasi melalui jaringan yang dinamis.

Umberto Eco menantang model strukturalis tentang makna, lalu mengusulkan budaya sebagai ensiklopedia. Sistem semantic luas, tanda-tanda memperoleh makna lewat koneksi dengan tanda lain.

“We could consider every cultural unit as emitting given wave-lengths which put it in tune with a limited number of other units and the possibilities of attraction or repulsion change in time,” ucap Kristian Bankov.

Pernyataan tersebut selaras dengan model bahasa AI modern, bukan menghafal makna melainkan menghubungkan statistik kata-kata. “This cycle repeats billions of times, sculpting the landscape into a form that captures grammar, semantics, world knowledge, and reasoning patterns,” tambahnya.

AI tidak menghimpun dan menyimpan bahasa layaknya kamus; AI memetakan bahasa seperti jaringan. Kata-kata berada dalam ruang dimensi tinggi; maknanya muncul dari kedekatan dan konteks. Gagasan Umberto Eco mempercayai bahwa makna bersifat rasional dan dinamis.

Dalam industri kreatif, AI terintegrasi dalam banyak hal, misalnya produksi film, iklan, penciptaan karya tulis, hingga desain grafis. Kristian Bankov menyebutnya sistem generative mendefinisikan sebagai teknologi. “Learn patterns from data and produce content based on those patterns,” ucapnya.

Kreativitas AI berbeda dengan kreativitas manusia, imajinasi manusia bergantung pada pengalaman hidup, emosi, dan persepsi subjektif. Sebaliknya, AI menghasilkan keunikan lewat pola data yang besar. Hasilnya, AI tak menggantikan manusia melainkan partner kolaborasi, kreativitas yang dibantu AI menggabungkan komputasi dengan revisi manusia.

“Restoring a proper balance between the cultural realm and the commercial realm is likely to be one of the most important challenges of the coming Age of Access,” tambahnya.

Kristian Bankov memberikan saran kepada mahasiswa untuk tetap bertanggung jawab dalam menggunakan AI. Meningkatkan literasi adalah inti di era modern. AI bukanlah jalan pintas, hasilnya akan mendalam ketika mahasiswa berinteraksi lewat informasi, bukan hanya pasif. Di tingkat tertentu AI dapat digunakan untuk kritik, simulasi, dan desain penelitian. Selain itu, mahasiswa perlu melakukan verifikasi atas pertanyaan dan jawaban.

“Students should use AI flexibly and responsibly as a supportive learning partner for exam preparation, creativity, and skill development by applying it according to their knowledge level, verifying its outputs, and using it to strengthen understanding rather than just memorization,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Visiting Professor: Prof. Kristian Bankov dari New Bulgarian University Bimbing Dosen dan Mahasiswa Mikom UII

Visiting professor kali ini menghadirkan Prof. Kristian Bankov dari New Bulgarian University pada 12 Februari 2026 di Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kedatangannya menjadi momen akademik yang penuh insight bagi para dosen dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UII, pasalnya sesi ini merupakan mentorship programme untuk rencana riset yang tengah dilakukan civitas akademika di lingkungan institusi.

Berbagai topik riset dikonsultasikan, mulai dari isu gender dan feminisme hingga narasi kontra-Islam di negara Barat. Bankov memberikan feedback langsung dalam sesi ini. Dimulai dengan riset representasi media terhadap aktivisme lingkungan perempuan yang tengah digarap oleh salah satu dosen, yakni Lutviah, S.I.Kom., M.A.

Bankov memberikan respons yang fokus terhadap perubahan sosial yang secara signifikan mesti dilakukan secara kolaboratif antara organisasi nonpemerintah (NGO) dengan akademisi. NGO dianggap memiliki pengetahuan mendalam terhadap praktik lapangan lewat komunikasi publik, advokasi, dan evaluasi.

Pernyataan bahwa diskriminasi gender menjadi masalah yang meluas, meskipun feminis telah mengkritik struktur kekuasaan dan menekankan kesetaraan hukum. Fokus akademisi adalah mengupayakan gagasan tersebut menjadi upaya yang memberi dampak yang lebih kuat daru teori dengan berbasis bukti.

“Gender discrimination remains widespread, and while strands of American feminism—from liberal to radical—have challenged it, a stronger impact can be achieved by combining rigorous scientific research with interdisciplinary PhD study and NGO-driven community instruments in communication, advocacy, and program evaluation to generate scalable, evidence-based solutions,” Bankov said.

Topik selanjutnya datang dari mahasiswa MIKOM, yakni Muhammad Taqi Abdurahman. Ia berencana melakukan riset tentang narasi dan algoritma kontra terhadap Islam. Merespon topik tersebut, Bankov menekankan persepsi Barat terhadap Islam tidak statis, ada yang positif, netral, dan negative. Semua berubah seiring perkembangan sosial, politik, dan media. Meski demikian, ada beberapa upaya menuju pemahaman seimbang.

“Western perceptions of Islam are complex and evolving, shaped by diverse voices, social media influence, and political movements—especially populist agendas that sometimes use Islamic issues for political purposes—while many parts of European and American society increasingly support multiculturalism, integration, and a more balanced understanding,” jelas Bankov.

Dalam melakukan riset ini, Bankov menyarankan agar pendekatan dilakukan secara berimbang dan bertanggung jawab. Hal ini dilakukan untuk mencegah pemanfaatan isu Islam untuk kepentingan politik, mengurangi stereotip negatif, dan membangun pemahaman publik yang lebih toleran.

“Discussions about Islam in Western societies should be approached with balance, media literacy, intercultural dialogue, and inclusive policies to prevent political manipulation, reduce stereotypes, and encourage a more informed and tolerant public understanding,” ucap Bankov memberikan saran.

Penulis: Meigitaria Sanita

The Future of Print Media in a Digital Age 

The rapid development of digital technology has significantly transformed the way people consume information. Online news platforms, social media, and mobile devices now dominate everyday media consumption due to their speed, accessibility, and interactive features. As a result, traditional print media such as newspapers and magazines have experienced declining circulation, reducing revenue, and increasing competition from digital platforms. Many observers initially predicted the complete disappearance of print media in the digital era. However, rather than becoming obsolete, print media has adapted and repositioned itself within the changing media landscape. This article discusses how print media has changed in response to digitalization, explores its prospects, and examines the outcomes of its transformation in the information age.

How Print Media Has Changed in the Digital Era

The emergence of digital media forced print media organizations to rethink their production, distribution, and content strategies. One major change is the integration of digital platforms alongside print editions. Many newspapers and magazines now operate websites, mobile applications, and social media accounts to reach wider audiences. Content has also shifted from fast-breaking news—now dominated by online media—toward more in-depth reporting, investigative journalism, and analytical pieces that provide added value to readers.

Additionally, print media has adapted its business models by combining subscriptions, digital paywalls, and niche targeting. According to studies on print media survival, this shift allows print outlets to focus on loyal readerships rather than mass audiences. Design and physical quality have also become important, with print products emphasizing aesthetics, credibility, and permanence in contrast to the fleeting nature of digital content.

The Future of Print Media

The future of print media lies not in competition with digital media, but in coexistence and specialization. Print media is expected to continue serving niche markets, such as academic readers, professionals, and audiences who value depth, trust, and tangible media experiences. Rather than being a primary source of breaking news, print media will function as a complementary medium that offers context and long-form storytelling.

Technological advancements may also support print media through innovations in printing techniques, environmentally friendly materials, and personalized print products. As suggested by research on the information age and the printing press, media evolution is cyclical—new technologies do not entirely replace older ones but reshape their roles. Therefore, print media is likely to remain relevant by adapting its purpose within the broader digital ecosystem.

Outcomes of Print Media’s Transformation

The transformation of print media has several important outcomes. First, it reinforces the value of credibility and trust in journalism, as print media is often perceived as more reliable than unverified online sources. Second, the shift toward quality over quantity encourages higher journalistic standards and deeper public understanding of complex issues. For society, the continued existence of print media contributes to media diversity and prevents complete dependence on digital platforms. For media institutions, adaptation ensures sustainability by balancing tradition with innovation. Ultimately, the survival of print media demonstrates that media evolution is not about extinction, but about transformation.

While digital technology has disrupted traditional print media, it has not eliminated it. Through adaptation and integration with digital platforms, print media has found new relevance in the information age. Its future depends on its ability to provide meaningful, credible, and high-quality content that complements digital media rather than competing with it. The evolution of print media highlights its enduring role in shaping informed societies, even in an increasingly digital world.

Reference

Dewar, J. A. (1998, January). The information age and the printing press: Looking backward to see ahead.

Barthelemy, S., Bethell, M., Christiansen, T., Jarsvall, A., & Koinis, K. (2011). The future of print media. Retrieved Jan, 4, 2015.

Firmansyah, F., Rachmiatie, A., K, S. S., Sobur, A., & Putri, D. W. (2022). How the Print Media Industry Survived in the Digital Era. Jurnal ASPIKOM, 7(1), 1. https://doi.org/10.24329/aspikom.v7i1.1013

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Hari Pers Nasional 2026: ‘Content Writer’ antara Kerja Kreatif Digital atau Jurnalistik?

Content writer menjadi profesi dengan daya tarik unik dan menarik, gaya kerjanya yang fleksibel disukai Gen Milenial dan Gen Z. Bayangkan datang ke kafe lalu mengetik artikel sambil berselancar ke berbagai platform media sosial mencari isu-isu viral. Selanjutnya mengemas bahan dengan penuh keterampilan menjadi sebuah artikel yang teratur dan siap dipublikasikan di media online. Sama-sama menghasilkan artikel yang dipubliakasikan di media, hampir mirip dengan kerja jurnalis bukan? Namun, apakah content writer sama dengan jurnalis?

Beberapa keterampilan antara content writer dan jurnalis cukup serupa, misalnya menyiapkan ide segar, riset sumber resmi, hingga menciptakan headline yang ‘nge-hook banget’.

Tercatat dari mesin pencari seperti Kalibrr lebih dari 114 lowongan content writer ditawarkan, sementara lowongan jurnalis sangat terbatas hanya 12 di Indeed. Di LinkedIn lebih ramai, tercatat ada 189 lowongan web content writer. Content writer nyatanya mendominasi wajah industri media saat ini.

Evolusi masifnya content writer terjadi karena ledakan portal media online. Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) yang memiliki lebih 200 mitra menguatkan posisinya sebagai “New Generation Media” sebagai upaya menghadapi tantangan transformasi bisnis media. Dengan konsep mediapreneur dan contentpreneur, jaringannya meluas hingga ke pelosok negeri. Hal serupa juga dilakukan oleh Promedia Teknologi dengan jaringan lebih dari dari 1.250 dan 40 ribu author atau content writer. Ide segar ini nampaknya sudah disambut dalam Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2023 lalu di Medan, dengan berbagai agenda hybridisasi melalui workshop literasi digital.

Meski demikian, apakah kerja-kerja yang dilakukan content writer setara dengan jurnalis? Melansir dari laman Detik Jabar, artikel berjudul Membedah Strategi Jurnalisme Vs Konten Kreator di Era Digital menyebut algoritma telah memenuhi platform online, jurnalisme dan konten kreator memiliki keterkaitan peran. Jurnalis bekerja dengan standar profesional yang ketat dalam verifikasi fakta, melakukan riset mendalam untuk bertanggung jawab kepada publik. Sedangkan konten kreator cakap dalam menciptakan keterlibatan audiens dengan gaya fleksibel dan cocok dengan generasi muda, sayangnya rentan misinformasi karena tak terikat oleh etika jurnalistik. Singkatnya begini, perhatikan tabel di bawah ini:

Aspek Content Writer Jurnalis
Tujuan Promosi, SEO, eengagemet Berita independent, faktual
Proses Adaptasi data web/sosmed Verifikasi mendalam, riset lapangan
Standar Volume tinggi, fleksibel Kode Etik Dewan Pers, kartu pers
Risiko Akurasi sekunder Perlindungan hukum penuh

Dari fenomena ini, overlap fungsi nyata di era digital. Kesamaan fungsi content writer dan jurnalis cukup kuat karena ledakan digital. PRMN dan Promedia Teknologi menjadi bukti sukses, bahwa content writer berhasil mendominasi wajah media online dengan volume masif cocok dengan bisnis media yang cepat dan dinamis.

Meski demikian, Dewan Pers melalui kaleidoskop 2025 dengan tegas menyebutkan perbedaan jurnalis professional dan content writer. Meski sama-sama memproduksi konten jurnalis bekerja dalam sistem pers yang terverifikasi, terikat kode etik jurnalistik. Sedangkan content writer (konten kreator) beroperasi lebih bebas. Sehingga keduanya tak dapat disamakan.

Lantas, bagaimana pendapatmu Comms?

Artikel ini ditulis dalam menyambut Hari Pers Nasional 2026, artikel reflektif sebagai pengingat kerja pers yang selalu menjalankan verifikasi fakta serta bertanggung jawab atas kebenaran informasi kepada publik.

Penulis: Meigitaria Sanita

Kunjungan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana Bali guna 'Benchmarking dan Visitasi Laboratorium' di Prodi Ilmu Komunikasi UII

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana lakukan kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII pada 3 Februari 2026, di Gedung Lt. 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan diawali dengan ‘tur’ Prodi Ilmu Komunikasi UII dan melihat empat laboratorium, yakni laboratorium audio visual, laboratorium audio, laboratorium fotografi dan multimedia, serta laboratorium editing dengan alat mutakhir. Kunjungan ini disambut oleh punggawa Prodi Ilmu Komunikasi, membicarakan mengenai kemungkinan kerja sama yang bisa dilakukan oleh kedua Prodi ini. 

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana berdiri sejak tahun 2011 dengan status PTN Badan Layanan Umum. Namun sejak bulan April tahun 2022, pengembangan kampus dilakukan secara mandiri atau bisa disebut dengan PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum). Sehingga dalam hal ini Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana perlu transformasi khususnya dalam hal kemandirian finansial. Ide pihaknya adalah untuk mendirikan unit bisnis dalam prodinya.

Prodi Ilmu Komunikasi UII menyambut baik dengan berdiskusi dan sharing, menjelaskan bagaimana praktiknya selama ini. Jika terkait unit bisnis, saran yang diberikan adalah mengadakan konferensi, dan mengembangkan lebih dalam unit Laboratorium. Selain itu saran yang diberikan adalah melakukan promosi di pameran-pameran pendidikan, juga memodifikasi bidang minat dengan keunggulan yang lebih menarik pasar, jelas Zaki Habibi (Kaprodi Ilmu Komunikasi UII).

I Putu Juni Antara dan I Gusti Ngurah Oka Candrakusuma dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana yang hadir dalam kunjungan ini. Diskusi lebih mendalam mengenai bagaimana pengelolaan Laboratorium Prodi  selama ini. Pengelolaan manajerial, pemanfaatan untuk para stakeholders, yang utamanya mahasiswa adalah fungsi utama dari adanya Laboratorium. Selain pelayanan, pandangan juga diberikan kepada Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana mengenai bagaimana menjadikan Laboratorium menjadi unit bisnis.

Dalam lingkup penandatanganan kerja sama dilakukan dalam oleh kedua fakultas dari prodi ini yang tertuang dalam MoA (Memorandum of Agreement). Ruang lingkupnya meliputi kerjasama pemagangan dalam proses belajar mengajar, penelitian dan pengembangan keilmuan, pemanfaatan bersama sumber daya dalam kegiatan akademik, penelitian dan pengabdian masyarakat, dan bentuk kerjasama lain yang dianggap perlu untuk meningkatkan kinerja perguruan tinggi.

 

Mahasiswa magang

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), M. Rangga Maulana membagikan pengalamannya selama magang di PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) pada periode Januari hingga Februari 2026. Baginya, magang memberikan banyak keseruan sekaligus mengasah kemampuannya untuk menyiapkan karir profesional.

Magang merupakan kurikulum wajib di  Program Studi Ilmu Komunikasi UII, yang akan diambil di semester 8. Mata kuliah Magang dianggap penting untuk mempersiapkan karir di dunia profesional nantinya. Selain itu magang juga sebagai sarana mempraktikkan ilmu baik teori maupun praktik yang sudah dipelajari saat masih duduk didalam kelas. Berbagai macam perusahaan membuka peluang magang bagi mahasiswa semester akhir. Perusahaan nasional maupun internasional.

Mahasiswa angkatan 2021 tersebut  mendapat kesempatan menjadi bagian digital creative marketing. Yakni mengolah kembali berbagai program yang telah tayang di Trans TV menjadi tayangan Youtube TransTV. Kemampuan editing, copywriting, dan kreativitas sangat dibutuhkan dalam dunia profesional. Termasuk dunia media yang harus serba cepat dan akurat. Selain itu, Rangga merasakan mendapatkan banyak hal selama ia melakukan magang.

“Untuk input yang saya dapatkan selama magang ini tentunya beragam ya. Seperti manajemen data program dan pengintegrasian aplikasi digital. Tidak hanya itu pengalaman juga menjadi hal penting yang dapatkan disini. salah satu pengalaman yang saya dapatkan adalah ikut terlibat dalam perayaan HUT TRANSMEDIA,” pungkas Rangga. 

Rangga juga mendapatkan soft skill selama ia melakukan magang, seperti manajemen waktu, manajemen data, problem solving, berpikir kreatif, adaptif dalam lingkungan kerja yang dinamis, serta kecerdasan emosional. Menurutnya, kemampuan seperti ini sangat mendukung hard skill yang juga ia dapatkan. Kemampuan tangkas namun jika tidak didukung pengelolaan diri yang baik juga tidak akan mendapat hasil yang maksimal.

Pengalaman-pengalaman ini yang akan mengantarkan Rangga dan mahasiswa lain yang melakukan magang untuk menjadi profesional yang berkualitas. Karena tidak ada hal besar yang didapat jika tidak melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu. Seperti pesan Rangga pada adik-adik tingkatnya.

“Teruslah berproses dimanapun, jangan pernah membuang-buang waktu, dan beranilah untuk mengambil kesempatan sekecil apapun. Selalu libatkan Allah dalam urusanmu. Tetaplah semangat walau banyak rintangan, teruslah bangkit walau sering jatuh, dan tetaplah berusaha walaupun pernah gagal. Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Tutupnya.

The Influence of Social Media on Political Discourse

In the digital era, social media has become one of the most influential platforms shaping political discourse and public opinion. Platforms such as Instagram, X, Facebook, and TikTok allow citizens to access political information instantly, express opinions freely, and participate in political discussions beyond traditional media boundaries. While social media strengthens democratic participation by enabling open dialogue, it also introduces challenges such as political polarization, misinformation, echo chambers, and legal issues. This article aims to examine how social media influences political discourses.

Social media significantly influences political discourse by changing how political messages are created, distributed, and consumed. Unlike traditional media, social media allows two-way communication, where users are not only passive audiences but also active content producers. Moreover, social media encourages rapid political engagement by enabling users to comment, share, and react to political content in real time. This participatory nature amplifies political narratives and allows diverse voices to enter public discussions. Additionally, in the context of Indonesia, the most recent mass demonstrations illustrate how social media enabled nationwide participation and solidarity around a single political issue, as citizens from different regions used platforms such as Instagram and TikTok to share information, mobilize support, and engage in online advocacy even if they were unable to attend the protests physically.

As well as, social media algorithms prioritize engaging content, often promoting emotionally charged political messages. As a result, political discourse becomes more dynamic but also more fragmented, as users are exposed to selective information aligned with their interests and beliefs.

The Impact of Social Media Influence on Political Discourse

The influence of social media has a profound impact on political discourse and public opinion. One major impact is political polarization, where individuals increasingly align with extreme viewpoints due to repeated exposure to similar opinions within echo chambers. It is known that algorithm-driven content curation limits exposure to opposing perspectives, reinforcing ideological divisions. In Indonesia, the impact of social media on political discourse is also closely linked to legal and ethical concerns, particularly UU ITE. While UU ITE aims to regulate online expression and prevent hate speech and misinformation, it has sparked debates about freedom of speech and digital democracy. Furthermore, the rapid spread of political content on social media can shape public opinion quickly, sometimes without sufficient fact-checking, increasing the risk of misinformation and public distrust.

The Role of Communication in Digital Political Discourse

Communication plays a crucial role in shaping how political messages are interpreted and understood in the digital sphere. Effective political communication requires clarity, ethical responsibility, and media literacy to ensure that information shared on social media contributes positively to public discourse. Communication strategies in social media must consider audience diversity, cultural context, and the persuasive power of digital narratives. Moreover, communication scholars emphasize the importance of critical thinking and dialogic communication to counter polarization and echo chambers. By encouraging open dialogue and respectful discussion, communication can function as a bridge that connects differing political perspectives and promotes democratic values in online spaces.

Social media has become a powerful force in shaping political discourse and public opinion in the contemporary era. While it enhances political participation and accessibility of information, it also contributes to challenges such as polarization, echo chambers, and legal tensions related to digital expression. The influence of social media on political discourse cannot be separated from the role of communication, which determines whether political interactions foster understanding or division. Therefore, strengthening ethical communication practices, media literacy, and inclusive dialogue is essential to ensure that social media serves as a constructive platform for democratic political discourse rather than a source of conflict and misinformation.

Reference

Afyare, A. a. A. (2025, February 19). The influence of social media on political discourse and public opinion. https://socialscienceresearch.org/index.php/GJHSS/article/view/104299

Saputra, A. F. (2024, June 30). The role of social media in building political discourse: Political Polarization, UU ITE and echo chambers. Saputra | IJTIHAD. https://journals.fasya.uinib.org/index.php/ijtihad/article/view/548

The Impact of social media on Political Discourse: A Multidisciplinary analysis. (2024). SSRN, 19. https://doi.org/10.2139/ssrn.4922479

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

UMBY Lakukan Kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII ‘Benchmarking Kurikulum dan Visi Misi’

Prodi Ilmu Komunikasi UII menerima kunjungan dari prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) pada 27 Januari 2026 di Gedung Lt 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan dilakukan dalam rangka benchmarking kurikulum dan visi misi.

Diawali dengan memperkenalkan berbagai fasilitas penunjang kegiatan akademik dan praktik mahasiswa, Dr. Zaki Habibi., M.Comms memandu rombongan dari UMBY berkeliling lantai 3. Dimulai dari PDMA Nadim, berbagai laboratorium, hingga mini theatre yang difungsikan tak sekedar untuk screening melainkan agenda-agenda relevan lainnya.

Kegiatan selanjutnya adalah sharing session terkait benchmarking kurikulum dan visi misi. Ketua Jurusan Prodi Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin, S.I.P., M.Si., Ph.D. mengungkapkan keterbukaan terhadap kunjungan dari UMBY. Baginya aktivitas seperti ini akan memberikan peluang dan manfaat dari kedua pihak.

“Tidak akan kami tolak (permintaan kunjungan) siapa tau ada peluang kerja sama. Mungkin riset hingga kemahasiswaan,” ucapnya menyambut rombongan UMBY.

Selanjutnya menjelaskan terkait visi misi Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan membuka langsung laman resmi institusi. Gambaran masa depan dijelaskan salah satunya menyebut mimpi besar menuju The Kaliurang School of Communication, dengan membentuk klaster-klaster riset bagi para dosen di Prodi Ilmu Komunikasi. Tercatat sebanyak tujuh klaster riset menjadi komitmen awal menuju mimpi besar tersebut.

Terkait kurikulum, berbagai percobaan dan penyesuaian dilakukan. Menurut Dr. Zaki Habibi., M.Comms. perubahan signifikan terjadi pada tahun 2014. Hal tersebut dilakukan mengikuti kepakaran para akademisi hingga regulasi tingkat universitas maupun standar dari negara. Salah satunya dengan membentuk pemintan studi. Bahkan penamaan mata kuliah turut menjadi concern yang dipertimbangkan.

“Inovasi pembelajaran untuk kurikulum mengikuti aturan universitas. Penamaan banyak pertimbangan, termasuk kurikulum 2014 signifikan berbeda,” ucapnya.

Kekhasan di Prodi Ilmu Komunikasi adalah dengan menempatkan magang di semester delapan. Berbagai evaluasi dan pertimbangan mendasarinya, termasuk efektivitas masa studi.

“Sebelumnya banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang magang di semester 7 dan lanjut kerja, sehingga skripsinya dilupakan,” tambahnya.

Tercatat ada empat bidang peminatan di Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Jurnalisme Digital, Public Relations, Kajian Media, dan Media Kreatif. Pemintan tersebut telah tersebar sejak semester 4, sehingga mahasiswa mampu mempertimbangkan secara matang arah studinya.

Mengakhiri diskusi, Dr. Rila Setyaningsih, M.SI Kaprodi Ilmu Komunikasi UMBY mengaku mendapat banyak insight dari diskusi tersebut. Pihaknya juga berharap di masa depan bisa saling berkolaborasi dalam berbagai hal.

“Cukup luar biasa pengalaman yang kami dapatkan, sambutannya sangat baik dan harapan ke depan kolaborasi dua program studi ini berjalan tidak hanya dalam hal pendidikan tapi juga riset dan pengabdian masyarakat.” Tandasnya.

Kunjungan dari UMBY diakhiri dengan penandatanganan Implementasi Aktivitas (IA) kedua Prodi. Harapannya kerja sama ini memberi manfaat dalam hal peningkatan mutu pendidikan, pengembangan kurikulum, dan penguatan kualitas akademik.

Mewakili Suara Gen Z, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Angkat Keresahan Lewat Karya Musik

Umumnya mahasiswa memilih skripsi sebagai syarat meraih gelar sarjana, namun berbeda dengan Farid Fadillah mahasiwa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2021 yang memilih karya musik untuk merampungkan masa studinya.

Berjudul “Wtlg” akronim dari We’re the lost generation lagu ini mengangkat keresahan Gen Z. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Farid yakin bahwa penyamapaian pesan lewat musik mampu menyentuh emosi. Lirik-lirik yang ekspresif ala Gen Z yang ia ciptakan tak sekedar curhatan belaka, melainkan mampu menjadi komunikasi yang valid.

“Pesan itu tidak selalu disampaikan lewat teks panjang atau ceramah, menurut saya musik salah satu medium komunikasi ekspresif yang paling direct untuk menyentuh emosi,” ucap Farid saat ditanya alasan memilih karya musik untuk tugas akhir.

“Aku ingin buktikan kalau curhatan Gen Z bisa diubah menjadi produk komunikasi yang valid dan akademis, bukan sekadar curcol,” tambahnya.

Karya musik dengan genre pop house dipilih, baginya genre ini fleksibel. Dengan chorus pop diawali rap, lalu disusul verse melodik Wtlg adalah representasi isi kepala Gen Z.

Isu Quarter-Life Crisis yang Diekspresikan Lewat Lagu Wtlg

Lewat bimbingan salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Anggi Arifudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom karya musik ini mengusung konsep sad banger, lagu dengan lirik emosional, melankolis namun irama beatnya energetik.  Dengan isu quarter life crisis, Wtlg ingin memvalidasi perasaan takut terhadap ekspektasi orang-orang.

“Isunya tentang quarter life crisis. Pesannya simpel, aku ingin memvalidasi perasaan bingung, takut, dan pusing sama ekspektasi orang-orang termasuk orang tua yang dirasain teman-teman Gen Z. Lewat lagu ini, aku mau bilang ‘It’s okay to be lost, kita bareng-bareng kok sesatnya’,” ujarnya.

Liriknya yang relatable dengan perasaan Gen Z ditulis dari pengalaman pribadi, riset, dan observasi. Sementara untuk produksi Farid mengaku semua dilakukan full home recording. Kolaborasi dengan berbagai pihak dilakukan untuk menyempurnakan karyanya. Ia menggandeng salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk turut mengisi vokal.

Sementara untuk medium dengar, Farid memilih mendistribusikannya ke Instagram pribadi, Spotify pribadi, dan YouTube Ikonisia. Alasannya sederhana yakni mengikuti pasar Gen Z.

“Pasar lokal Gen Z memang nongkrongnya lebih rame di Spotify dan audio IG jadi buat aksesnya gampang untuk personal branding juga. Nah, kalau Video Live Session yang di YouTube Ikonisia TV itu sbenarnya untuk promosi saja agar jangkauannya lebih luas ke audiens kampus, sekalian referensi untuk anak-anak Ilkom lain yang ingin membuat konten visual musik yang kece hehe,” ucap Farid.

Meski demikian proses yang dilalui dalam produksi karya musik ini tak sederhana. Dengan serba keterbatasan seperti home recording di kos membuat kualitas audio tak sebening studio profesional. Selain itu, ia juga harus bekerja ekstra dalam hal durasi.

“Lagu-lagu sekarang kebanyakan cuma 1-3 menit, durasi 4 menit masuknya agak kelamanaan, sehingga tantangannya adalah gimana agar pendengar tetap menangkap pesannya tanpa kehilangan fokus atau attention span,” tambahnya.

Ia berharap karyanya tak berhenti di tugas akhir, Farid bermimpi ingin memperbaiki visual dari karya musiknya. Seperti menciptakan official music video berseri dengan pesan yang kuat.

“Visualnya sih, pengen banget membuat Official Music Video untuk lagu ini yang ada alur ceritanya, bukan cuma video lirik atau live session. Agar pesan quarter life crisis-nya makin nampol secara visual. Tapi kayaknya masih nantian deh, ngumpulin mood dulu,” tandasnya.

Selengkapnya dapat diakses melalui:

https://youtu.be/auoT8NTiKc4?si=QU8nJPCB-eu9Yka-

Reality of Cyberbullying: Understanding Its Impact and Prevention

Cyberbullying is a serious problem in today’s digital world. With the rise of social media and online communication, bullying no longer happens only in schools or public spaces. It can occur at any time through phones and online platforms, making it difficult for victims to escape. Cyberbullying is defined as the intentional and repeated use of digital media to harm others. It often involves a power imbalance, where the bully uses anonymity, popularity, or technical skills to control or intimidate the victim. Because people can hide behind screens, they may act more cruelly than they would in real life. Moreover, online content also spreads quickly and can stay online for a long time, increasing the harm caused.

Cyberbullying has unique characteristics that distinguish it from traditional bullying. One key feature is anonymity, which allows bullies to hide their identity and avoid immediate consequences. This often leads to repeated attacks, as they feel less accountable for their actions. Another important feature is permanence. Harmful messages, photos, or videos can be shared and reshared, making the damage long-lasting and difficult to control. Researchers commonly identify three elements of cyberbullying: intent to harm, repetition, and power imbalance. However, in online environments, repetition can occur even when a single post is shared multiple times by different users.

 Globally, these traits drive high prevalence; for instance, lifetime cyberbullying victimization among youth rose from 33.6% in 2016 to 58.2% by 2025, while past-30-day rates increased from 16.5% to 32.7%. A WHO study across 44 countries found 15% of adolescents (1 in 6) experienced cyberbullying (16% girls, 15% boys), up from 13% and 12% in 2018, while 12% admitted cyberbullying others (14% boys, 9% girls). It shows that cyberbullying is not simply offline bullying moved online, but a distinct form of aggression shaped by digital platforms and online culture. The 24/7 nature of the internet and the wide audience involved increase pressure on victims and blur the boundary between public and private spaces.

The Impact of Cyberbullying

Cyberbullying has serious psychological, social, and academic consequences. Victims often experience stress, anxiety, depression, and low self-esteem. Because online attacks can happen at any time, victims may feel constantly threatened, which affects their emotional well-being. In more severe cases. Socially, victims may withdraw from friends and family to avoid embarrassment or further harm. Academically, emotional distress can lead to difficulty concentrating and lower academic performance. The impact is not limited to victims alone, but also to potential ones. Bystanders who frequently witness online harassment may become desensitized, allowing harmful behavior to continue. A long-term exposure to cyberbullying can also leave lasting psychological effects, especially among children and adolescents who are still developing emotionally.

Prevention of Cyberbullying

Cyberbullying is often underreported because victims fear being judged or believe that online abuse will not be taken seriously. Effective prevention requires cooperation between individuals, schools, families, online platforms, and policymakers. Education plays a central role by promoting digital literacy and teaching ethical online behavior. Schools can help students recognize cyberbullying and encourage them to report incidents safely. Parents should maintain open communication with children about their online activities while respecting privacy. At the platform level, social media companies need stronger moderation systems, clear reporting tools, and consistent consequences for abusive behavior. Legal measures and child protection policies also reinforce accountability and deter harmful actions.

From a communication perspective, prevention emphasizes transforming hostile online interactions into supportive dialogues through digital empathy training, where users learn to interpret emotional cues behind text and respond with compassion rather than aggression. This involves establishing clear communication norms, such as pausing before posting, using positive language, and fostering inclusive online communities that shift power dynamics from domination to mutual respect. When education, technology, and policy work together, safer online environments can be created.

Cyberbullying is a harmful result of how digital communication is used. Its constant and public nature makes it especially damaging. By understanding its nature, recognizing its impact, and working together on prevention, society can create safer and more respectful online spaces.

Reference

Kumar, V. L., & Goldstein, M. A. (2020). Cyberbullying and adolescents. Current Pediatrics Reports, 8(3), 86–92. https://doi.org/10.1007/s40124-020-00217-6

Slonje, R., Smith, P. K., & Frisén, A. (2012). The nature of cyberbullying, and strategies for prevention. Computers in Human Behavior, 29(1), 26–32. https://doi.org/10.1016/j.chb.2012.05.024

World Health Organization: WHO. (2024, March 27). One in six school-aged children experiences cyberbullying, finds new WHO/Europe study. World Health Organization. https://www.who.int/europe/news/item/27-03-2024-one-in-six-school-aged-children-experiences-cyberbullying–finds-new-who-europe-study

Donegan, R. (2012). Bullying and Cyberbullying : History , Statistics , Law , Prevention and Analysis

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita