Tag Archive for: uniicoms

Reading Time: 2 minutes

“Saya akan mengembangkan kemampuan saya dalam editing film di sini, dan banyak hal lain,” kata Sorlehah Pohleh dengan bahasa indonesianya yang fasih. Sorlehah yang juga adalah mahasiswi Pondok Pesantren UII bersama 5 mahasiswi thailand lainnya adalah penerima beasiswa UII Asian Scholarship. Ia adalah angkatan pertama mahasiswa Thailand di UII.

Sorlehah, panggilannya sehari-hari, asli Pattani yang biasa pakai bahasa melayu. Jadi sudah tidak terlalu sulit pakai bahasa Indonesia. Sorlehah adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Thailand pertama yang magang di Uniicoms TV. Sedangkan Uniicoms TV adalah televisi berbasis internet pertama di UII dengan mengangkat konsep konten yang inspiratif dan memberdayakan. Seperti kata Direktur PR Uniicoms TV, Nurul Diva Kautsar, bahwa tagline UniicomsTV adalah “Inspiring and Empowering”. Uniicoms TV yang berdiri pada 2018 ini menerima relawan, magang, dan mahasiswa yang ingin mengembangkan diri dalam dunia broadcasting dan dunia kreatif.

Program-program mutakhir yang telah dibuat misalnya Web Series Ramadhan, Program Sosok Kita dokumenter Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf, Film Dokumenter Pesantren Lansia, Program liputan dan News, Program inspirasi kemandirian pangan dari Gemah Ripah Bausasran, Program Diksi (Diskusi Komunikasi), dan lain-lain.

Mulai Agustus lalu, Sorlehah didampingi oleh kru Uniicoms TV dalam menjalankan kerja-kerja magang di Uniicoms TV. Ia akan melakukan magang seperti mahasiswa magang yang lain seperti menjalankan kerja-kerja editing video, foto, produksi konten video, produksi konten media sosial, rapat produksi, termasuk juga melakukan kegiatan pra dan paska produksi.

Kegiatan pra produksi tak kalah penting, mulai penggarapan skrip atau naskah program, persiapan alat dan perlengkapan program, perawatan alat dan studio, diskusi ide, penajaman gagasan dan angle program. Aktivitas paska produksi juga yang biasa dilakukan seperti editing video, promosi brand, penajaman ide branding dan konten media sosial, termasuk juga rapat evaluasi dan monitoring rutin.

Sudah 4 tahun menimba ilmu di Indonesia bukan berarti tanpa kendala yang dihadapi mahasiswa Komunikasi asal Thailand ini. “Kendalanya macam-macam. Mulai dari bahasa, mempelajari budaya, dan juga kuliah dan disiplin yang ketat di Pondok Pesantren UII.” Sorlehah juga mengungkapkan meski biaya kuliah digratiskan, biaya hidup dan visa (dan ijin tinggal) bukan perkara yang murah dan selalu naik tarifnya. Meski begitu, Sorlehah tetap semangat dan akan menerapkan ilmunya selama ini yang dipelajari di bangku kelas-kelas kuliah.

Reading Time: 2 minutes

“Habis ini kita akan nyobain kuliner unik dan khas surabaya yang lain, ikuti kami terusnya,” begitu kata Annisa Putri Jiani dan Nurul Diva Kautsar presenter program Rasa-rasa, program acara yang baru dari Uniicoms TV, sebuah TV daring di Universitas Islam Indonesia. Kalimat-kalimat ajakan itulah yang kini sehari-hari selalu mengemuka berulang di ruang studio editing Uniicoms TV di Prodi Ilmu Komunikasi UII. Rencananya, tayangan ini akan diluncurkan di Channel Uniicoms TV menyambut mahasiswa baru. Saat ini Uniicoms TV dikelola oleh Laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi UII yang diisi oleh tenaga-tenaga tim prodi Ilmu Komunikasi UII, relawan, dan kru yang muda, kreatif, energik.

Rata-rata kru dan pegiatnya adalah anak-anak muda yang punya begitu ragam ide khas milenial. Namun bedanya, anak-anak muda di Uniicoms TV tak sekadar milenial, populer, dan muda, melainkan punya visi mulia dalam tiap sajian kreatifnya: empowering and inspiring. Ya, bersama menjadi berdaya dan inspirasi. Maka tentu program apapun yang diproduksi adalah hasil kreasi yang mengajak khalayaknya berdaya dan menginspirasi.

Meskipun acara kuliner seperti ini sudah populer dan banyak, Nurul Diva, Digital Public Relation Uniicoms TV, yakin model acara kuliner yang kali ini justru kuat dengan misi yang mulia: empowering and inspiring. Nurul yang juga adalah presenter acara kuliner ini mengatakan Uniicoms TV mengajak kaum muda untuk tidak lupa akar budaya dan tradisinya lewat program acara kuliner yang diberi nama “Rasa-Rasa”. Menurutnya, sudah saatnya ada program TV alternatif, di tengah merebaknya acara TV yang tidak mendidik, yang juga mempertahankan warisan budaya tradisional pada generasi muda kekinian. “Sepengamatanku, uniknya yang makan di sini anak mudanya sedikit,” kata Nurul menjelaskan keadaan warung-warung yang dikunjungi untuk masuk dalam program.

Pada kesempatan episode pertama ini, Tim Uniicoms TV mengangkat kuliner-kuliner yang khas dan yang tidak biasa di Surabaya seperti Lontong Balap dengan lentho, Rawon Pak Gendut, hingga Rawon Kalkulator. Rawon kalkulator misalnya, adalah salah satu tempat wisata kuliner yang membuat khalayaknya terhenyak dengan cara uniknya di warungnya, kata Nurul Diva, dari lokasi produksi di Surabaya pada 27 Juli 2019. Simak keunikannya di saluran Uniicoms TV.

Reading Time: 2 minutes

“After this we will try other unique and extraordinary culinary of Surabaya, come on follow us,” said Annisa Putri Jiani and Nurul Diva Kautsar, host of Rasa-Rasa Program, a new program from Uniicoms TV, an online TV at the Universitas Islam Indonesia. Those persuasive sentences that are now everyday are always repeated repeatedly in the Uniicoms TV editing studio at Communication Science Department. The plan is, this show will be launched on Channel Uniicoms TV to welcomes new students. At present, Uniicoms TV is managed by the Communication Science Department Laboratory which is staffed by Communication Science Department teams, volunteers, and young, creative, energetic crews.

The average crew and activists are young people who have a variety of typical millennial ideas. But the difference is, young people at Uniicoms TV are not just millennial, popular, and young, but have a noble vision in each of their creative serving: empowering and inspiring. Yes, together to be empowered and inspiring. So naturally any program that is produced is the creation that invites the audience to be empowered and inspire.

Although culinary shows like this are already popular and many, Nurul Diva, Uniicoms TV’s Digital Public Relations, believes the culinary model nowadays is strong with a noble mission: empowering and inspiring. Nurul, who is also the presenter of the culinary program, said Uniicoms TV invites young people not to forget their cultural roots and traditions through a culinary program called “Rasa-Rasa”. According to him, it is time for an alternative TV program, in the midst of the spread of TV shows that do not educate, which also maintain traditional cultural heritage in today’s young generation. “In my view, the unique thing about eating here is that young man are few,” Nurul said, explaining the food stalls visited on the program.

On the occasion of this first episode, the Uniicoms TV Team brought up unique and unusual culinary in Surabaya such as Lontong Race with lentho, Rawon Pak Gendut, to Rawon Calculator. Rawon calculator, for example, is one of the culinary attractions that makes its audience stunned by its unique way in its warung, said Nurul Diva, from a production location in Surabaya on July 27, 2019. Check out its uniqueness on the Uniicoms Online TV channel.

 

Reading Time: 2 minutes

Jika anda merasa bosan dengan tayangan televisi yang kurang mendidik, maka sudah saatnya mencoba beralih ke saluran TV daring Uniicoms TV. Kini Uniicoms TV akan meluncurkan tayangan baru khas anak mudanya yang diproduksi oleh kru dari beragam program studi di Universitas Islam Indonesia. Setelah sukses dengan ribuan view Web Series-nya Ramadhan lalu, Uniicoms TV coba memproduksi program acara yang diberi tajuk: ‘Mata Lensa’.

Mata Lensa adalah program dengan konsep anak muda yang dipandu oleh Host yang melakukan perjalanan lengkap dengan kamera untuk mengabadikan momen yang ditemuinya. Tayangan Mata Lensa selain edukatif, juga menghibur karena dikemas dengan segar, khas anak muda, dan lokasi perjalanan yang dipilih adalah lokasi-lokasi yang punya nilai edukasi, pemberdayaan, dan inspirasi, kata Nurul Diva, Digital Public Relation Uniicoms TV, pada Juni lalu.

Program pada episode pertama ini mengajak kamu penonton muda untuk menyelami seluk beluk festival yang terhitung sangat lawas di Yogyakarta. Ya festival kuna itu adalah Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) yang selalu dihelat tahunan sejak 1989. Tak banyak yang tahu jika festival yang dirindukan orang yang pernah dan hidup di Yogyakarta ini dilaksanakan bersamaan dengan peresmian proyek orde Soeharto yaitu Monumen Jogja Kembali. Uniicoms TV membawa penontonnya ikut hadir menyelami festival kuna rasa baru ini di pertengahan 2019. Mata Lensa menyajikan seluk beluk kebudayaan khas Yogyakarta dengan perspektif anak muda.

Bagi penikmat lawas FKY, jangan heran jika pada sajian program episode pertama ini menemui kejanggalan. Pasalnya, tahun ini FKY berubah nama. Sebelumnya, ‘K’ pada singkatan FKY adalah ‘Kesenian’, sedangkan sejak 2019 berubah menjadi ‘Kebudayaan’ yang tentu saja cakupannya menjadi lebih luas, tak sekadar perhelatan seni, tapi seluruh tujuh unsur budaya: nilai-nilai pengetahuan & teknologi, benda, budaya, seni, adat, bahasa, dan yang kini sudah banyak digerus era digital: tradisi luhur.

Sebagai indentitas budaya dan seni di Yogyakarta, FKY tak bisa dilepaskan dari kolaborasi seniman, relawan, masyarakat, dan beragam industri kreatif lokal di Yogyakarta. Apalagi FKY tahun ini mengusung tema ‘Mulanira’ yang berarti permulaan sebuah kreasi dalam balutan ruang, ragam, dan interaksi, semakin jelas menguatkan Yogya sebagai identitas Yogya sebagai pusat kebudayaan nasional.

Selain mengambil momen puncak FKY 2019, produksi program ini secara teknis juga memanfaatkan kesempatan sebelum kru-kru Uniicoms TV berhadapan dengan Ujian Akhir Semester, kata Nurul Diva yang pada kesempatan kali ini sebagai pengarah program. Uniicoms TV sebagai TV yang berbasis kampus dan diisi kru mahasiswa yang tidak hanya terdiri dari Prodi Ilmu Komunikasi UII ini pastinya harus memertimbangkan faktor-faktor akademik juga. Meski begitu, sebagai sebuah kawan candradimuka, Uniicoms TV berharap program ini punya misi akan menjadi sebuah ajang mengasah kepekaan seni dengan: olah karya dan olah rasa yang memberdaya dan menginspirasi mahasiswa dan niscaya: seluruh sivitas akademika UII. Tonton Mata Lensa di saluran TV daring – Uniicoms TV.

Reading Time: 2 minutes

If you feel bored with less educating television shows, then it’s time to try switching to Uniicoms TV, the online TV channels. Now Uniicoms TV will launch a new program typical of young people produced by crews from various multidisciplinary at the Universitas Islam Indonesia. After the success of the thousands views of Web Series of its last Ramadan Series, Uniicoms TV tried to produce new programs titled: ‘Mata Lensa’ means Lens Eyes.

The Mata Lensa is a program with a concept made of youth. The Program guided by the Host who travels with a camera in hand to capture the moment he meet. Beside of being educative, it is also entertaining because it is packaged with fresh, typical young people. The Mata Lensa was also selected travel locations are locations that have educational, empowerment and inspiration values, said Nurul Diva, Digital Public Relations of Uniicoms TV, in June.

The program in this first episode invites you, the young viewers, to dive into the ins and outs of the festival which is very old in Yogyakarta. Yes, the legend festival was the Yogyakarta Cultural Festival (FKY), which has always been held annually since 1989. Not many people know that this festival was held in conjunction with the inauguration of the Soeharto order project, the Jogja Kembali Monument. Uniicoms TV brought its audience into the new ancient festival in mid-2019. Mata Lensa presents the ins and outs of Yogyakarta’s distinctive culture with the perspective of young people.

For old connoisseurs of FKY, don’t be surprised if the first episode of this program presents anomalies. Because, this year FKY has changed its name. Previously, ‘K’ in the abbreviation of FKY was ‘Art’, whereas since 2019 it was changed to ‘Culture’ which of course had a wider scope, not just art events, but all seven cultural elements: values of knowledge & technology, objects, culture art, tradition, language and what has now been eroded by the digital age: lofty traditions.

As a cultural and artistic identity in Yogyakarta, FKY cannot be separated from the collaboration of artists, volunteers, the community, and various local creative industries in Yogyakarta. Moreover, FKY this year carries the theme ‘Mulanira’, which means the beginning of a creation in space, variety and interaction, making it increasingly clear that Yogya is the identity of Yogya as the center of national culture.

Besides taking the moment of the peak FKY 2019, the production of this program technically also took advantage of the opportunity before the crew of Uniicoms TV faced the Final Exams Semester, said Nurul Diva who on this occasion as the program director. Uniicoms TV as a online campus-based TV and filled with student crews that not only consist of UII Communication Studies, of course, must consider academic factors as well. Even so, as a center of learning, Uniicoms TV hopes that this program will have a mission to sharpen the sensitivity of art by work and feeling that empower and inspire students and undoubtedly: the entire academic community of UII. Watch Mata Lensa on online TV channels on Youtube: Uniicoms TV.