Tag Archive for: Thailand

P2A ICE CREAM 2025: Exploring the Creative City of Chiang Mai in the Creative and Cultural Industries

After completing their agenda in Bangkok, the P2A ICE CREAM 2025 delegates continued their journey to Chiang Mai, Thailand. On 23 August, they arrived at Chiang Mai Rajabhat University (CMRU) to carry out various activities.

This city was chosen because of its rich culture and rapidly growing creative industry. Not only at CMRU, the IPC UII and SCIMPA UUM delegates were invited to visit creative locations around the city. In addition to visiting creative industries, the delegates were also introduced to the creative community in Chiang Mai, from religious centres to local markets as the backbone of the community’s creative economy.

Some of the destinations visited included Ku Taw, a Buddhist temple that is also a centre for the production of traditional arts and crafts in Thailand. It is not only a place of worship, but also a space for artists to produce works of art that are commonly used in several major ceremonies in Thailand. From this visit, the delegates learned how tradition and the creative industry go hand in hand.

After Ku Taw, the next destinations were Ban Kaan Wat and Wu Lai Night Market. These areas are centres for creative communities marketing local handicraft products. There, the delegates witnessed first-hand the creative process, such as painting, knitting, and various workshops conducted by the community.

The next day, the trip continued to Jing Jai Market. This market is unique in its rich creative and cultural value. Here, the delegates carried out their project to document various aspects through videography, photography, and copywriting. They also gathered information through direct interviews with creative practitioners and local and foreign visitors.

Interestingly, the delegates had the opportunity to meet Jeroen G. Schedler, director of P2A and owner of BED Hotel Changkian, where the delegates stayed. He shared interesting insights on building organisations and businesses based on humanity and leadership. “Within my journey along with great people in creating this P2A organisation and this business (BED Hotel), I believe that the sense of giving goodness is much better compared to simply chasing money, power, and position. But I chose to give compassion, equality, equality, equality. A chance for everyone. That’s why there was never a manager in this hotel, because I trust in shared leadership, and that is how they could have this kind of responsibility to grow together,” he said.

One of the participants, Cleodora Faustina Wibowo, a delegate from IPC UII, shared her impressions of the city and the creative exploration experience. “Chiang Mai, I think it’s one of the most beautiful cities I’ve ever visited. The scenery is great, full of nature, and interesting places that are just a sight for sore eyes. Most importantly, it’s rich in culture and filled with creativity,” she said.

Cleodora described her deep impressions of the two markets she visited, Baan Kang Wat and Jing Jai Market. She said, “Both markets have their own uniqueness, and it’s hard to pick a favourite for that reason. Baan Kang Wat is a market unique in the crafts they sell and offers visitors the fun of crafting. The place is also cheerful with its decoration made out of pieces of ceramics put together, or shattered mirrors that are just so well put onto the walls, but my favourite is still the cute statues of animals like the cartoonish tiger or the little monkey right out front like it’s greeting you,” she added.

Regarding Jinjai Market, Cleodora added, “I would say Jing Jai would be a better place to discover flavour through the local food palate. They still sell some cute little handmade pieces just like in Baan Kang Wat, but the farmer’s market is what piqued my interest. My favourite would be this stall that sells a bunch of Thai food in small dishes made out of leaves so customers won’t miss out on tasting every single one in a controlled portion,” she said.

The P2A ICE CREAM 2025 event in Chiang Mai showcased the rich collaboration between education, creative communities, and cultural aspects that thrive in a creative city in Southeast Asia. This exploration became a valuable lesson for participants on how creativity and culture play a major role in driving the local economy while strengthening a city’s identity.

Iseng Mengisi Waktu Luang, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Lolos International Program di Thailand

Putri Dama Dinanti mahasiswa angkatan 2022 dinyatakan lolos mewakili Prodi Ilmu Komunikasi UII untuk melakukan pengabdian masyarakat di Thailand.

Program bertajuk International Mobility dari FPSB membawanya ke sekolah Darul Maaref Foundation yang berlokasi di Satun, Thailand Selatan untuk melakukan pengabdian. Berdasarkan timeline yang ditentukan ia akan menjalani program tersebut mulai 26 Januari hingga 24 Februari 2025.

Program tersebut bertujuan untuk mengembangkan wawasan, keterampilan, serta pengalaman lintas budaya di luar negeri. Menariknya, Putri awalnya hanya iseng mendaftar untuk mengisi waktu luang selama mengisi libur semester ganjil.

International Mobility

International mobility, pengabdian dalam bidang pendidikan

“Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari International Mobility. Awalnya, saya berniat mendaftar program ini memang untuk mengisi waktu liburan semester saya dan mencari pengalaman baru. Meski sempat ragu, dukungan dari keluarga dan teman-teman selalu menguatkan saya untuk mencoba kesempatan ini. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena selalu mendapat dukungan dari lingkungan sekitar,” terang Putri Dama.

Pengabdian yang dilakukannya fokus terhadap bidang pendidikan. Datang bersama tujuh rekan sesama UII kegiatan belajar mengajar menjadi fokus utama, mulai dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA.

“Selama satu bulan disini, kegiatan utama dalam program ini adalah mengajar bahasa Inggris. Setiap orang mendapat tugas masing-masing, dan saya mendapat tugas untuk mengajar siswa SMP dan SMA,” ucapnya.

Kesempatan ini adalah pengalaman mengajar pertama bagi Putri, berbekal skill dalam bidang komunikasi ia menemukan beberapa metode untuk mengajar siswa SMP dan SMA secara efektif dan tidak mudah bosan. Salah satu metode yang diterapkan adalah dengan mengelaborasikan kebudayaan masyarakat di Thailand.

“Saya juga belajar cara mengajar dengan mengelaborasikan kebudayaan yang mereka miliki, agar murid tidak merasa bosan,” ungkapnya.

“Sangat bersyukur dan berterima kasih atas pengalaman berharga yang saya dapatkan melalui program ini. Saya merasa beruntung bisa belajar banyak hal, bertemu orang-orang hebat, dan memperluas wawasan. Melalui program ini juga mengajarkan saya pentingnya keluar dari zona nyaman dan menghadapi tantangan baru. Untuk teman-teman yang masih ragu atau merasa stuck, jangan takut untuk mencoba. Karena, keluar dari zona nyaman adalah bagian dari proses belajar dan berkembang,” tandasnya.

IPC

Cultural Night Festival atau Culnight Fest 2023 yang digagas oleh Internasional Program (IP) Prodi Ilmu Komunikasi UII berlangsung sangat meriah. Festival bertajuk Unity in Diversity ini melibatkan mahasiswa dari berbagai negara.

Tak hanya mahasiswa dari Indonesia, mahasiswa yang berasal dari Malaysia, Thailand, hingga Yaman menampilkan berbagai pertunjukan seni yang menakjubkan. Setidaknya ada lima performances yang disuguhkan oleh mahasiswa IP Ilmu Komunikasi pada 6 November 2023 di Gedung Kuliah Umum Sardjito UII.

Konsep Unity in Diversity merupakan acara yang mengusung kesatuan dan keberagaman dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga budaya dari berbagai negara. Nyatanya meski mahasiswa IPC berasal dari berbagai penjuru Indonesia bahkan negara, festival malam itu berlangsung sangat apik menampilkan sebuah keberagaman yang disatukan.

Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, S.I.Kom., M.A., Sekretaris IP Ilmu Komunikasi UII menyampaikan jika gelaran Culnight Fest 2023 untuk momen apresiasi dan penyambutan untuk mahasiswa-mahasiwa internasional selain memberikan pengalaman akademik juga budaya. Hal ini adalah tradisi di kampus UII untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional.

IPC

Cultural Night Festival 2023, performance dari IPC Batch 2021

“Selain sebagai momen kebersamaan menghargai, saling toleransi dari diversity di IPC memang konteksnya beragam dari Sabang sampai Merauke dan juga kita menerima mahasiswa-mahasiswa luar negeri. Ini juga bertepatan pelepasan program social cultural engagement untuk mahasiswa exchange programe. Ini sebenarnya tradisi UII ketika ada irisan program-program di UII dengan mahasiswa internasional kita tidak hanya membekali mereka dengan akademik tapi juga social cultural engagement. Harapannya merka juga belajar tradisi kita,” ujarnya.

Culnight Fest 2023 dibuka dengan penampilan Drama Roro Jonggrang dari IPC Batch 2021, selanjutnya Tari Zapin yang dibawakan oleh Affan dan Fahim mahasiswa Exchange dari SCIMPA UUM Malayasia, Fashion Show Pakaian Nusantara oleh IPC Batch 2022, Traditional Dance oleh IPC Batch 2023, Maumere Dance dari IPC Batch 2020. Setelah semua pertunjukan seni ditampilkan, perwakilan mahasiswa Thailand yakni Suwaibah Mahteaha menutupnya dengan dua lagu pop berbahasa Thailand dan mengajak semua penonton bernyanyi bersama.

Malam itu begitu hangat bagi para mahasiswa IPC, pasalnya seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Ratna Permata Sari, S.I.Kom, M.A., yang menyebutkan jika Culnight Fest 2023 adalah rangkaian akhir dari exchange program yang menjadi momen perpisahan untuk Affan Azman dan Fahim Haziq dari SCIMPA UUM yang mengikuti exchange program di IPC UII, serta Suwaibah Mahteaha mahasiswa asal Thailand yang telah lulus pada Oktober lalu.

IPC

Affan dan Fahim mahasiswa dari SCIMPA UUM

“Special thank you to Prodi Ilmu Komunikasi, Miss Ida for invitation. Memorable night for us. We also gain more knowledge especially about Indonesian culture.  I’m really sorry because we didn’t prepare well. I hope that we can do events like this for UII n UUM,” ujar Affan Azman kepada pihak Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Tak hanya itu, Suwaibah Mahteaha juga menyampaikan kesannya terkait pengalam belajar selama empat tahun di UII. Perpisahan ini akan sangat dirindukannya lantaran merasa jika Indonesia adalah rumah keduanya.

“Jika kita merasa nyaman waktu empat tahun terasa sangatlah singkat, terimakasih untuk semua pihak yang sangat baik kepada dosen, staf, dan teman-teman IPC,” ujar mahasiswa asal Thailand.

Culnight Fest 2023 ditutup dengan pemberian penghargaan kepada para penampil. Penghargaan diberikan dengan berbagai kategori grup maupun individu.

IPC

Pemberian penghargaan kepada para penampil di Cultural Night Festival

Itulah rangkaian Culnight Fest 2023 yang begitu menarik dan hangat. Perbedaan menjadi suatu perjumpaan yang saling mendekatkan. Bagaimana menurutmu Comms, seru bukan?