Tag Archive for: podcast

Is it permissible to delay qadha fasting? It turns out there is a time limit

Qadha fasting is often considered trivial, so we delay it for too long and even forget about it. Qadha fasting is obligatory fasting to make up for missed Ramadan fasts due to valid reasons such as menstruation, post-natal bleeding, illness, and travelling, by fasting at another time outside of Ramadan.

We always think we have plenty of time until Ramadan comes around again. So, is it permissible to delay qadha fasting? Is there a time limit? Lutvia, a lecturer in the Communication Studies programme at UII, said that it is permissible to delay fasting as long as it is within the time frame before the next Ramadan arrives.

“You are allowed to delay your makeup fast as long as you complete them before the next Ramadan arrives. Especially if you have valid reasons like being sick, pregnant, breastfeeding, or physically struggling,” said Lutviah.

Islam is a religion that provides ease, not hardship. In certain conditions and with valid reasons such as pregnancy, illness, and breastfeeding, it is impossible to force someone to fast, or for reasons that threaten their health. However, if someone deliberately delays without a valid reason until the next Ramadan arrives, they are still required to make up their fast or pay fidyah by feeding people in need.

“If someone intentionally delays without a valid excuse until the next Ramadan comes, most scholars say they still have to make up the fast and also pay fidyah, which means feeding a person in need,” she added.

However, delaying too long is not the right choice. It should be noted that making up for fasting is not a punishment, but an opportunity from Allah for His people to complete their missed worship.

One simple tip is to set a reminder on your mobile phone or invite friends to fast together to boost your enthusiasm. “So don’t wait for the perfect mood. The sooner you start, the lighter your heart will feel. And if you know a friend who keeps saying, “I’ll do it later,” maybe send this to them,” she concluded.

Watching ‘Mukbang’ While Fasting: Is it Allowed or Not?

 

When fasting, we often scroll through various social media platforms. Our algorithms are unconsciously filled with content about breaking the fast, regional specialities, and even “mukbang” content. Everything looks tempting and appetising, and even just looking at the photos and videos makes us feel hungry. So, does watching “mukbang” content invalidate the fast?

According to a podcast by UII Communication Science lecturer Lutviah, watching “mukbang” content does not invalidate the fast. According to fiqh provisions, fasting is invalidated by eating, drinking, or anything entering the body.

“The answer is no. Simply watching mukbang content or looking at pictures of food does not break your fast. Your fast is only broken by things like eating, drinking, or anything that physically enters the body in a way that invalidates the fast,” she said.

Although it does not invalidate the fast legally, watching continuously can make fasting feel difficult and make us want to eat, as well as being emotionally sensitive. This is fasting: besides enduring hunger and thirst, it also trains us to control ourselves, our patience, and our thoughts.

To ensure a quality fasting experience, one can engage in activities such as listening to the recitation of the Qur’an or watching calming lectures.

“So if mukbang makes you extra hungry or cranky, maybe switch to something lighter, watch reminders, listen to the Qur’an, or just scroll through content that doesn’t test your patience too much,” she concluded.

Productive Procrastination Menunda Tapi Tetap Produktif, Apa Bisa

Berdasarkan devinis productive procrastination adalah teknik menunda tugas utama dengan mengerjakan tugas lain yang juga bermanfaat, meskipun bukan prioritas utama. Misalnya, saat kita menunda menyelesaikan laporan penting, kita bisa melakukan aktivitas seperti membaca artikel terkait pekerjaan, merapikan meja kerja, atau belajar hal baru yang berguna untuk pengembangan diri.

Konsep ini diperkenalkan oleh John Perry pada tahun 1995 sebagai “structured procrastination,” yaitu mengubah kebiasaan menunda menjadi sesuatu yang tetap produktif meski bukan tugas utama. Productive procrastination bisa membantu mengurangi stres sementara dan membuat seseorang merasa lebih baik karena tetap melakukan sesuatu yang bermanfaat, namun jika dilakukan terus-menerus dapat menyebabkan pekerjaan prioritas terbengkalai dan menimbulkan masalah baru seperti stres dan kualitas kerja menurun.

Gen Z dan Milenial

Setuju tidak bahwa tantangan Milenial dan Gen Z tak main-main? Di luar soal privilege yang dimiliki, bagaimanapun tantangannya tak bisa dianggap sepele. Berbagai stereotip negatif mulai dari lemahnya mental hingga sumber masalah sosial tak henti-hentinya bergulir.

Data BPS menunjukkan jumlah Milenial dan Gen Z jika digabungkan adalah 53,81 persen. Jumlah ini ternyata menjadi bahan eksploitasi penuh hiperbola, Lika Liku Zilenial dari The Conversation menyebut dualitas generasi ini. Mereka disanjung tapi juga disangsikan. Mulai dari dimanfaatkan suaranya demi popularitas politisi, tapi ujungnya disalahkan publik atas sumber kegagalan pemerintah.

Tak berhenti di sana, ada persoalan rumit untuk bertahan hidup. Soal karier, banyak yang cukup ideal. Simak fakta berikut.

Gara-gara Skripsinya yang Unik Alumni Ilkom Diundang Podcast Raditya Dika, Bagaimana Prosesnya?

Empat tahun berlalu skripsi alumni Ilmu Komunikasi UII menjadi perhatian publik. Riset berjudul Simbolisme Bromance Raditya Dika dan Pandu Winoto dalam Channel YouTube Raditya Dika membawa Pandu Bagus Pratama duduk di studio dalam podcast Raditya Dika.

Ia diundang oleh Raditya Dika untuk melakukan rekaman podcast pada 17 Februari 2025, akhirnya podcast bertajuk Saya dan Pandu Jadi Objek Penelitian tayang pada 28 Februari lalu.

Menariknya, banyak hal-hal yang tak terungkap dalam podcast tersebut. Ia mengaku gugup harus berhati-hati untuk menghindari komentar yang tak diinginkan oleh netizen di kolom komentar.

Hal yang tak terungkap di Podcast Raditya Dika

Menariknya, sejak awal Pandu ingin memberitahu Raditya Dika tentang skripsi yang telah digarap. Namun, keinginan itu dikubur dalam-dalam karena ia berfikir tak akan direspon. Ternyata, keinginannya justru terwujud lewat unggahan Raditya Dika di Instagram.

Selengkapnya: https://communication.uii.ac.id/simbolisme-bromance-raditya-dika-dan-pandu-winoto-dalam-channel-youtube-raditya-dika/

“Dari dulu sebenarnya sudah ingin mengirim DM Bang Radit tapi kayaknya enggak mungkin deh. Gak mungkin direspon segala macem,” ujarnya saat dihubungi lewat Zoom Meeting.

Selain itu, Pandu yang terlihat banyak lupa dengan isi skripsinya bukan karena tak membaca ulang hal itu dilakukan agar podcast berjalan natural. Empat tahun berlalu akan sangat tidak realistis jika hafal keseluruhan.

“Sebenarnya lupanya bukan karena aku lupa udah lama, lupanya karena nervous. Sedikit (membaca ulang) enggak terlalu, karena aku memang ingin natural,” ucapnya.

Proses pembuatan podcast berlangsung singkat, tim dari Raditya Dika hanya memberikan briefing untuk mengikuti alur pertanyaan yang dilontarkan Raditya Dika maupun Pandu Winoto.

“Itu benar-benar natural banget, sama tim debriefing dulu “kamu nanti ikuting Bang Radit saja”. Sebelumnya juga enggak ngobrol dulu sama Bang radit Bang Pandu. Dan setelah itu juga enggak ketemu lagi, ngobrol dikit selesai,” katanya mengingat proses take video podcast.

Pembawaan Pandu yang malu-malu dan sedikit gugup bukan tanpa alasan. Podcast tersebut akan ditonton netizen di seluruh Indonesia.

“Itu memang aku ditanya malu-malu, memang aku tidak mau ngebuka semuanya. Malu lah, kalo semua dijawab. Aku bawa diriku sendiri dan ada nama kampus, nama-nama teman aku takutnya mereka kebawa aku jadi beban, aku enggak mau,” jelas Pandu

Meski demikian, undangan dari raditya Dika tak disia-siakan. Baginya itu merupakan peluang dan kesempatan emas.

“Yang aku harapkan enggak usah muluk-muluk itu priviledge banget, aku juga ngefans sama bang Radit sama bang Pandu dan suka nonton kontennya. Dan ke depannya pasti aku dapet relasi dari hal itu, mungkin ada kerjaan atau sekedar kenalan saja tidak apa-apa. Dan ternyata memang benar setelah diundang ada yang hubungin, kenal juga sama timnya beberapa. Jadi lebih banyak orang yang tahu,” tandasnya.

Ternyata setelah podcast tayang, jumlah pengikutnya di media sosial mengalami kenaikan mesti tak banyak.

“Pasti (followers Instagram meningkat) meskipun tidak banyak, ratusan sih. Tapi trafficnya naik banget. Tiba-tiba ada orang random mengirim DM,” tandasnya.

Bagi kamu yang penasaran dengan podcast alumni Ilmu Komunikasi, klik laman berikut ya Comms: https://www.youtube.com/watch?v=cQZqoUI2PDo

Podcast

Podcast menjadi konten digital yang diminati anak muda di Indonesia. Pendengarnya didominasi oleh Gen Z dan Milenial. Selain isu yang dibicarakan menarik, podcast dapat diakses dan didengarkan sembari melakukan aktivitas secara multitasking. Paling sering podcast diakses ketika dalam perjalanan, saat bekerja, ataupun ketika menulis.

Konten-konten yang ada pada podcast memiliki berbagai genre, dari politik hingga komedi. Hal ini membuat podcast menjadi konten alternatif yang digemari karena menyajikan diskusi dari berbagai sudut pandang yang ringan namun mendalam. Hal ini terbukti dari jumlah pendengarnya yang selalu meningkat.

Rincian terkait pendengar podcast di Indonesia yang dirilis oleh Databoks Katadata tahun 2021enyebut 22,1 persen pendengar berusia 15-19 tahun, 22,2 persen berusia 20-24 tahun, 19,9 persen usia 25-29 tahun, 15,7 persen berusia 30-34 tahun, usia 35-39 tahun sebanyak 11,8 persen, dan 40-44 tahun sekitar 8,4 persen. Dari data tersebut artinya semakin menurun seiring bertambahnya usia.

Lantas apa itu podcast? Podcast adalah produksi audio digital yang diunggah pada platform online (paling sering website) untuk dibagikan dengan orang lain. Audio tersebut dapat diakses langsung melalui smartphone maupun perangkat komputer lainnya. Istilah podcast berasal dari broadcasting dan ipod. Memahami podcasting tentu berkaitan dengan konten audio dan berbeda dari format video yang memperkenalkan istilah vodcasting. Meski demikian podcasting dapat merujuk pada audio dan video untuk pemahaman yang komprehensif. (Hutabarat, 2020)

Indonesia Masuk Sebagai 10 Negara yang Paling Banyak Mendengar Podcast

Salah satu platform audio lokal non musik, Noice termasuk yang populer di Indonesia. Melansir dari laman Antara, Noice telah digunakan lebih dari lima juta pengguna di Indonesia. Mengenai konten-konten yang diproduksi tak diragukan lagi, mulai dari kondisi perpolitikan di Indonesia, cerita horor, hingga cerita sehari-hari yang sangat relate dengan pendengar.

“Podcast audio berupaya untuk menghadirkan screenless moment yang menyenangkan bagi semua pendengar,” Ujar Niken Sasmaya CEO Noice pada Antara.

Produksi Podcast cukup menjanjikan, laporan dari We Are Social 2024, jumlah pengguna internet global yang mendengar podcast sebesar 20,6 persen. Dari jumlah tersebut Indonesia menempati posisi kedua yakni sebesar 38,2 persen, posisi teratas negara Brasil yakni 39,7 persen.

Tiga podcast yang paling populer di Indonesia antara laian Curhat Bang Denny Sumargo, Mata Najwa, dan Close the Door. (Databoks Katadata)

Tertarik Mendengarkan Podcast?

Tak sekedar hiburan, banyak informasi yang akan didapatkan pendengar ketika mengkses konten pada podcast. Riset menunjukkan podcast memiliki dampak yang besar pada dunia pendidikan. Pertama menjadi sumber pengajaran yang inovatif bagi pengajar, kedua mampu membantu proses pembelajaran baik di dalam maupun luar kelas, dan terakhir meningkatkan kesiapan dan persiapan calon pengajar.

Selain dalam segi pendidikan, podcast sangat menguntungkan bagi para pengiklan. Edison Research merilis The Podcast Consumer 2024 menyebut selama satu dekade jumlah pendengar podcast meningkat empat kali lipat. Pendengar podcast adalah audiens yang berpendidikan dan memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. 56 persen pendengar podcast bulanan memiliki pendapatan rumah tangga tahunan lebih dari $ 75 ribu, dibandingkan dengan 48 persen populasi AS, dan 49 persen pendengar podcast bulanan berpendidikan tinggi dibandingkan dengan 44 persen populasi AS.

Bagaimana menurutmu terkait fakta-fakta terkait podcast, tertarik untuk turut mendengar dan meramaikan produksi konten podcast Comms?

Karang Taruna Tirta Yodha belajar podcast dengan Laboratorium Ilmu Komunikasi

 

Laboratorium Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan studi dari Karang Taruna Tirta Yodha pada Kamis, 5 Januari 2023.

Kunjungan Karang Taruna Kalurahan Tegaltirto, Kepanewon Berbah, Sleman, Yogyakarta di Laboratorium Ilmu Komunikasi bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan tentang produksi podcast serta pengelolaan media informasi bagi para pengurus Karang Taruna.

Kunjungan tersebut diwakili 6 orang diantaranya 2 Pak Dukuh di Tegaltirto dan 4 anggota Karang Taruna Tirta Yodha. Mereka berkesempatan menjadi perwakilan untuk belajar bersama dengan beberapa dosen dan praktisi laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Perwakilan Karang Taruna Tirta Yodha yang berkunjung tentunya mendapatkan materi spesifik terkait produksi podcast mulai dari pemilihan materi informasi, proses produksi, hingga publikasi.

Nantinya informasi yang telah diproduksi Karang Tarurna Tirta Yodha akan dipublikasikan di media sosial dan menjadi pusat iformasi masyarakat di wilayah Tegaltirto dan sekitarnya.

Sebelumnya kunjungan ini merupakan bentuk tindak lanjut dari pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen Ilmu Komunikasi UII di kawasan Kalurahan Kepanewon Berbah.

Tentu saja kunjungan tersebut disambut hangat oleh Kepala Prodi Ilmu Komunikasi UII, Bapak Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D. Ia berharap kunjungan seperti ini terus berkelanjutan guna mendekatkan dunia kampus dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagaimana slogan yang diusung Progam Studi Ilmu Komunikasi, yakni Communication for Empowerment.