Tag Archive for: NTU

influence for Impact in Southeast Asia

Setelah melewati seleksi panjang, Harry Setya Kurnia Nugraha mahasiswa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2022 berhasil lolos dalam influence for Impact in Southeast Asia (i-SEA) Fellowship Pragramme yang diselenggarakan oleh Centre for Information Integrity and the Internet (IN-cube), Nanyang Technological University. Oktober lalu ia dinyatakan lolos dan berhak menjalani program sejak 15 November hingga 13 Desember 2025.

Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh i-SEA di laman NTU lebih dari 450 pendaftar dari negara-negara ASEAN. Dari Indonesia terdapat tiga peserta, termasuk Harry Setya yang menjadi satu-satunya perwakilan UII.

“Menurut aku proses seleksinya sangat kompetitif. Program ini menerima lebih dari 450 pendaftar dari Asia Tenggara, dan hanya 3 mahasiswa dari Indonesia dipilih sebagai fellows,” ucap Harry Setya.

i-SEA Fellowship Programme merupakan program hibrida satu bulan yang didesain untuk memberikan bekal pada peserta terpilih dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi kreator konten digital yang etis dan berdampak. Beberapa topik yang diperoleh dalam program ini antara lain Online Harms and Misinformation, Media Law and Ethics, AI, in Storytelling, dan Immersive Journalism and Hackton Challenges.

Pengalaman berharga didapatkan oleh Harry, setalah menjalankan online sessions pada 15 November hingga 4 Desember seluruh peserta terpilih berkesempatan mengikuti in-person programme di Singapura pad 7 hingga 13 Desember 2025.

“Selama tiga minggu pertama, kami mengikuti online masterclasses bersama profesor, peneliti media, jurnalis, fact-checkers, pakar teknologi, dan influencer. Minggu terakhir difokuskan pada hackathon, di mana kami merancang solusi terkait information integrity di Asia Tenggara. Tak lupa kami juga berkunjung ke kantor Tiktok Singapore, SPH Media, dan Media corp. Dimana media media ini merupakan media besar di Singapura,” jelasnya.

Urgensi i-SEA Fellowship bagi Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Bagi Harry Setya, i-SEA Fellowship begitu relevan dengan kajian Ilmu Komunikasi yang selama ini ia pelajari. Berbagai materi dalam i-SEA Fellowship fokus pada produksi pesan, penyebaran peesan, hingga bagaimana memperoleh kepercayaan publik di ruang digital.

“Pengalaman ini membuat aku paham bahwa komunikasi tidak cukup hanya mengejar viralitas, tetapi harus mempertimbangkan etika dan dampak jerhadap kepercayaan publik,” ucap Harry Setya.

Selain ilmu berharga, membangun relasi dalam lingkungan global menjadi privilege peserta i-SEA Fellowship. Ia secara aktif berdiskusi dengan mahasiswa dari berbagai negara, tak hanya itu sebagai student content creator ia juga mendapat banyak insight soal ide.

“Aku membangun relasi mungkin dengan aktif berdiskusi, Kolaborasi ide dan konten bareng fellows, dan terbuka terhadap perbedaan perspektif budaya. Menurutku interaksi ku dengan mahasiswa internasional melatih saya untuk beradu gagasan dan berpikir secara global,” tambahnya.

Baginya program ini cukup menantang secara intelektual dan akademik. Ia belajar keluar dari zona nyaman, berdiskusi dengan standar global, dan menerima saran serta kritik terhadap argument yang dilontarkan kepada publik.

Lolos dan menjadi peserta baginya memang tidak mudah, ia berbagi rahasia bahwa keberhasilannya adalah dengan menciptakan esai berkualitas dengan isu yang spesifik.

“Seleksi dilakukan berdasarkan kualitas esai tentang isu misinformasi dan integritas informasi., allighment statement, serta rekam jejak sebagai student content creator,” tandasnya.

Kunjungan Prodi Ilmu Komunikasi ke NTU Singapura

Prodi Ilmu Komunikasi UII beberapa waktu lalu melakukan kunjungan ke Singapura untuk melakukan pertemuan dengan berbagai pihak termasuk universitas terkemuka di sana. Menariknya ada peluang emas bagi mahasiswa serta alumni Prodi Ilmu Komunikasi UII. Penasaran apa saja peluang tersebut? 

Tujuan utama kunjungan yang dilakukan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UII beserta jajarannya tentu untuk menjalin kerjasama dengan berbagai institusi.  

Beberapa pihak yang bersedia menyambut hangat Prodi Ilmu Komunikasi UII di antaranya adalah School of Communication and Information NTU, RSiS at NTU, Lembaga Riset think-thank Singapura, ATDIKBUD Singapura, dan SIS Ltd. 

Dari pertemuan yang dilakukan pada 9-10 Mei 2023 itu tentu membuahkan hasil yang seolah membawa angin segar bagi Prodi Ilmu Komunikasi UII. Selain menambah khasanah keilmuan, peluang positif juga terbuka lebar bagi mahasiswa dan alumni Prodi Ilmu Komunikasi yang akan melanjutkan studi di Singapura. 

Kesempatan beasiswa untuk mahasiswa dan alumni Ilmu Komunikasi UII di NTU 

Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Bapak Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., M.Si., Ph.D. menyebut jika ada kesempatan bagi mahasiswa dan alumni untuk meraih beasiswa di Nanyang Technological University (NTU) Singapura. 

Bahkan sudah ada wacana terkait kesediaan dari kolega Ilmu Komunikasi NTU untuk diundang ke Prodi Ilmu Komunikasi terkait pembahasan tersebut. 

“Mereka dan kolega di Komunikasi NTU meyatakan siap diundang sewaktu-waktu ke Prodi Komunikasi UII. Terutama untuk info session tentang program besiswa S2 di NTU yang ditujukan untuk alumni dan mahasiswa tingkat akhir, juga tentang program S3 terutama untuk rekan-rekan yang membutuhkan,” jelas Pak Iwan. 

Terkait kapan pihak NTU akan diundang oleh Prodi Ilmu Komunikasi UII, Dr Zaki Habibi selaku dosen Ilmu Komunikasi  yang juga mengikuti kunjungan tersebut menyebut belum dapat memastikan tanggalnya karena rencana ini masih harus dibahas lagi. 

“Belum (tanggal pastinya), masih menjadi rerasan awal dan butuh persiapan,” ungkap Dosen yang akrab disapa Pak Zaki itu. 

Kunjungan ke ISEAS

Peluang sebagai research fellows di ISEAS

Peluang sebagai Research Fellows ISEAS Yusof Ishak Institute 

ISEAS Yusof Ishak Institute merupakan lembaga riset think-thank milik Singapura yang memiliki fokus penelitian isu-isu kontemporer seputar kajian Asia Tenggara. 

Banyak insight yang didapatkan oleh Prodi Ilmu Komunikasi UII saat mengunjungi lembaga riset yang telah berdiri sejak 1968 diantaranya sebagai berikut: 

  1. Strategi lembaga riset mulai dari merancang fokus utama dan posisi lembaga riset, identifikasi target audiens utama sehingga ragam produk luaran riset dapat dibuat dan disebarkan dengan efektif, hingga membahasa tentang strategi pendanaan & grants. Karena beberapa hal di atas merupakan tantangan-tantang yang kerap dihadapi para peneliti dan dosen di Indonesia. 
  2. Kesempatan menjadi research fellows di Singapura, pemaparan yang diterima oleh pihak Prodi Komunikasi UII mulai dari segi manajerial, relasi dengan policy makers dan HEI (inst.pend.tinggi), serta mekanisme research fellows di dalam dan luar ISEAS. 
  3. Kesempatan bergabung menjadi bagian dari projek yang dapat dikerjakan dari Indonesia maupun menetap sementara di Sngapura. Riset yang ditulis nantinya akan dipublikasikan di ISEAS dalam kurun waktu tertentu.  

Selain mengunjungi institusi Singapura, perwakilan dari Prodi Ilmu Komunikasi UII juga menyempatkan mengunjungi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura serta Sekolah Indonesia Singapura Ltd atau SIS Ltd yang berfokus menyiapkan pendidikan untuk anak-anak warga negara Indonesia yang berada di Singapura. 

Dalam kunjungan ke Singapura itu diwakili oleh Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Bapak Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., M.Si, Ph.D, beserta beberapa dosen di antaranya Dr.rer.soc. Masduki,S.Ag., M.Si., M.A., Dr.Zaki Habibi, Comms., dan Dr. Herman Felani, S.S., M.A. 

 

Penulis: Meigitaria Sanita