Sulistiyawati, alumni Ilmu Komunikasi UII angkatan 2006 memilih kerja-kerja pengabdian melalui pendidikan. Ia mendirikan PKBM Inside Out School di kaki Merapi. Di sebagian ruang lapang rumahnya anak-anak belajar membaca tanda alam sebagai bekal mitigasi bencana tanpa harus dibayangi trauma.
Setiap minggu, anak-anak PKBM Inside Out School bersiap main ke kali. Tapi sebelum berangkat, mereka melihat ke atas, ke arah awan di atas Merapi. Mendung? Berarti tidak jadi ke kali. Hujan di puncak berarti banjir di hilir. Ini bukan pelajaran geografi, melainkan kebiasaan sehari-hari.
Pengetahuan tentang tanda-tanda alam tak sekadar warisan budaya, namun alat bertahan hidup. lantas, bagaimana pengetahuan itu diwariskan ke generasi berikutnya tanpa menanamkan trauma?
Muzayin Nazarudin, Ph.D. dosen Ilmu Komunikasi UII yang meneliti memori sosial bencana, menjelaskan bahwa masyarakat yang terdampak bencana selalu berada dalam ketegangan. “Kalau tiap hari orang mengingat bencana terus, kita tidak bisa move on. Tapi kalau melupakan sepenuhnya, orang jadi abai,” ujarnya.
Melupakan, menurutnya, bukan berarti kehilangan memori. “Bisa jadi ada mekanisme kultural di mana ingatan bencana menjadi background tidak muncul di depan, tapi tetap ada.” Ia mencontohkan, “Masa setelah 10 tahun orang setiap hari ingat erupsi terus? Kasihan, mereka teringat trauma, pengungsian, lari dari erupsi.”
Di sinilah sekolah mengambil peran. Sulistiyawati, founder PKBM Insideout School menyadari bahwa pendidikan mitigasi tidak bisa dilakukan dengan menakut-nakuti.
“Kami sengaja tidak memberikan gambaran itu karena terlalu mengerikan untuk anak-anak,” ujarnya.
“Yang kami lakukan adalah mengajak mereka jalan-jalan bersenang-senang di alam, mencintai alam, berdekatan dengan Merapi. Kalau Meletus, kita menyingkir dulu mereka tahu sebatas itu,” tambahnya.
Pendekatan sekolah ini unik, mereka tidak selalu mengandalkan guru formal. “Kami ajak ke warga sekitar yang sudah sepuh. Nanti mereka belajar dikasih tahu sama sesepuh-sesepuh itu,” kata Sulistiyawati.
“Jadi mereka tahu, oh ilmu itu juga diajarkan oleh simbah-simbah warga biasa yang bukan guru. Ternyata pengetahuan bisa didapatkan dari siapa saja,” jelas Sulistiyawati.
Warga sepuh bercerita tentang erupsi masa lalu bagaimana hewan seperti kijang dan srigala turun gunung sebelum bencana. “Kalau ada kayak gitu, berarti cuaca di sana memang tidak seperti biasanya,” tambahnya.
Praktik semacam ini justru memperkuat pewarisan pengetahuan. “Sekolah hanya menjadi salah satu jalur dari model pewarisan ekologi lokal. Kearifan ekologis lokal membaca tanda-tanda alam sudah ada di masyarakat, sekolah kemudian menggunakan itu sebagai kurikulum,” jelas Muzayin Nazarudin, Ph.D.
Baginya, yang terpenting adalah transmisi pengetahuan itu terjadi sebelum bencana datang. “Terlambat kalau mengalami bencana itu sendiri,” tegasnya.
Dosen Ilmu Komunikasi UII tersebut juga menegaskan bahwa praktik semacam ini punya landasan teoretik. “Penjelajahan alam sebagai taktik mitigasi bencana didasari teori embedded memory, memori yang menubuh ke dalam diri seseorang melalui sosialisasi dengan lingkungan,” tambahnya.
Anak-anak tidak hanya tahu secara kognitif, tapi merasakan dan mempraktikkannya. Pengetahuan itu tidak dipelajari sekali lalu hilang, melainkan tumbuh melalui pengulangan, cerita, dan interaksi dengan alam serta orang-orang di sekitarnya.
Tidak semua anak datang dari lingkungan sekitar Merapi. “Ada anak yang rumahnya agak jauh. Mereka harus ekstra dikasih tahu agar notice bahwa kita ada di kaki Merapi,” tambah Sulistiyawati.
Sulistiyawati dan timnya mengakui masih terus belajar tentang edukasi yang tepat. “Kami masih mempelajari literatur tentang efek edukasi yang lebih tepat kepada anak-anak tanpa membuat mereka trauma,” ucapnya.
Muzayin menambahkan bahwa tradisi selalu berubah. Kearifan lokal bukan sesuatu yang statis, bukan artefak masa lampau. Tiap generasi punya tradisinya sendiri.
Ia menegaskan bahwa sekolah hanyalah salah satu jalur pewarisan bukan satu-satunya. “Tradisi itu akan selalu berubah seiring zaman. Tiap generasi punya tradisinya yang perlu kita baca bagaimana tradisi itu berubah,” tandasnya.
Di balik ancaman, Merapi juga memberi berkah. “Tanah kita jadi subur karena berkat Merapi,” kata Sulistiyawati.
Ia berharap ada sinergi dengan instansi lain. “Banyak instansi yang bisa diajak kerja sama untuk mengedukasi anak-anak. Kalau bisa bersinergi, bagus banget, dijadikan proyek bersama,” harapnya.
Anak-anak PKBM Inside Out School mungkin belum sepenuhnya memahami risiko Merapi. Tapi mereka belajar satu hal penting hidup berdampingan dengan alam, membaca tandanya, dan tetap bergembira.
Fungsi memori kolektif tentang bencana adalah bagaimana membaca tanda-tanda alam sebelum bencana terjadi, sehingga ketika ancaman datang, warga bisa memitigasi dan mengantisipasi. Itu biasa terjadi di masyarakat tradisional, dan sekolah menjadi salah satu jalur warisan kearifan ekologis tersebut.
Di kaki Merapi, mitigasi bukan tentang ketakutan tapi tentang cinta pada alam yang mengajarkan kewaspadaan. Dan pendidikan mitigasi yang paling kuat bukanlah yang menakut-nakuti, melainkan yang menubuh dipraktikkan setiap hari, diwariskan dari generasi ke generasi, dan dijaga tetap hidup di tengah perubahan zaman.






