Tag Archive for: milad

Mapres
Reading Time: 2 minutes

Puncak milad Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) UII ke 29 tahun diwarnai dengan berbagai penghargaan dan prestasi untuk mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan.

Rangkaian acara puncak milad pada 12 Juni 2024 diawali dengan sambutan dari Dekan FPSB UII, Dr. Phil. Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si., Psikolog, dalam kesempatan itu beliau menyampaikan bagaimana sejarah FPSB yang didirikan oleh tokoh-tokoh yang penuh dedikasi.

Dua nama founding fathers FPSB yang disebutkan adalah Dr. H. Djamaludin Ancok dan Drs. Muh. Bachtiar, MM. dalam momen tersebut Ibu Dekan mengajak seluruh sivitas akademika untuk meneladani para pendiri.

Founding fathers kita adalah orang-orang berdedikasi, mengingat kembali jasa beliau dan keteladanan beliau,” ujar Dekan FPSB.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan Studium Generale bertajuk “Pelangi tak Selalu Indah” oleh Agung Sugiarto founder Yayasan Peduli Sahabat. Isu LGBT di Indonesia dibahas detail agar masyarakat semakin aware dan dapat mendeteksi lebih dini pada tumbuh kembang anak.

“Jatuh pada usia 10 tahun keatas (tanda-tanda awal kecenderungan LGBT). Tidak ada kelekatan antara orangtua dan anak. Karena memang gapnya terlalu besar. Masa kesepian langkah pertama masuk ke dunia negatif. Merasa lonely kesepian, masuk ke teman sebaya yang melenceng,” ujarnya.

Usai Studium Generale, acara ditutup dengan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi, mulai dari bidang akademik, olahraga, kwirausahaan, hingga bidang dakwah dan pengabdian.

Prodi Ilmu Komunikasi UII turut bersyukur, pasalnya mahasiswa berprestasi utama juara 1 diraih oleh Muhammad fahrur Rozi angkatan 2021 yang maju sebagai mahasiswa berprestasi tingkat universitas untuk kedua kalinya. Berikut daftar lengkapnya:

Penghargaan Sivitas Akademika Berprestasi

Mahasiswa Berprestasi Utama

  1. Muhammad Fahrur Rozi (Juara 1)

IPK Tertinggi

  1. Hana Mufida (Juara 1) – 2023
  2. Dhea Apriliani (Juara 2) – 2022
  3. Khadega Mohammed Ahmed Al-Hadi (Juara 3) – IP 2021

Bidang Kewirausahaan

  1. Rahmanisa Amani (Juara 1)

Bidang Dakwah dan Pengabdian

  1. Rahmanisa Amani juara (Juara 2)
  2. Nandita Faiza (Juara 3)

Bidang Olahraga

  1. Shafni Aura Sugiarto (Juara 1)

Dosen Prodi/Jurusan dengan Kinerja Terbaik

  1. Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., M.Si., Ph.D (Juara 1)
  2. Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom (Juara 2)
  3. Narayana Mahendra Prastya, S.Sos., MA (Juara 3)

Itulah deretan prestasi yang diraih oleh Prodi Ilmu Komunikasi UII pada puncak Milad FPSB UII.

 

Reading Time: 3 minutes

Memasuki usia 19 tahun, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) telah meluluskan lebih dari 1.300 alumni yang kini tersebar di seluruh Indonesia, Thailand, dan Malaysia. 

Berdiri 17 Juni 2004, UII mendirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya dengan satu prodi, yakni Prodi Ilmu Komunikasi. Namun seiring dengan restrukturisasi yang dilakukan pada tahun 2006 Prodi Ilmu Komunikasi resmi bergabung dengan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB). Keputusan ini tertuang dalam Peraturan Pengurus Harian Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia Nomor: 03 Tahun 2006 tentang Struktur dan Organisasi Universitas Islam Indonesia. 

Perjalanan Prodi Ilmu Komunikasi memang tak mudah. Proses akreditasi C menuju akreditasi A baru terlaksana setelah 11 tahun bertumbuh yakni di tahun 2015. Bersyukur, kini menginjak usia ke-19 tahun, prodi Ilmu Komunikasi berproses menuju akreditasi “Unggul”. 

Jika diibaratkan manusia yang sedang bertumbuh, Prodi Ilmu Komunikasi sedang berada pada fase yang sedang aktif-aktifnya: 19 tahun baru lulus SMA, tengah mencari jati diri, dan mengeksplorasi kemampuan apa yang dimiliki. 

Sama halnya dengan Prodi Ilmu Komunikasi yang kini terus mengupayakan segala kemampuan SDM di dalamnya, memperbaiki kualitas dan pelayanan. Mengusung tagline “Communication for Empowerment” kini pengabdian kepada masyarakat terus dilakukan demi kemslahatan umat. 

Seperti marwah dari Prodi Ilmu Komunikasi, Communication for Empowerment menjadi spirit yang diusung dalam menyelenggarakan seluruh aktivitas akademik. Spirit empowerment termanifestasi dalam empat matra (catur dharma): pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, dan dakwah islamiyah sehingga tercapai proses pembelajaran yang kritis, inovatif, kreatif, dan transformatif.

Lantas apa kata alumni tentang Prodi Ilmu Komunikasi? 

Belajar dan bertumbuh dengan suasana yang humanis, belajar interaktif dan setara adalah budaya di Prodi Ilmu Komunikasi. Diskusi antara dosen dan mahasiwa serta kultur saling menghargai adalah kunci untuk tetap rindu untuk “main-main ke Prodi”. 

Ini kata alumni: 

“Ilmu komunikasi itu unik, Ilmu Komunikasi UII lebih unik lagi. Saya bertumbuh dan belajar bermula dari sana. Ilkom UII adalah salah satu tangga saya untuk menumbuhkan value diri. Tentunya materi-materinya sangat bermanfaat pada dunia kerja yang saat ini sedang saya geluti, yakni public relation. Terutama dalam hal manajemen krisis.” 

“Seni berkomunikasi itu unik, kita berbicara tidak hanya lewat verbal. Banyak hal yang dapat digunakan untuk berkomunikasi. Semoga prodi Ilmu Komunikasi UII semakin maju, semakin bertumbuh lebih baik, semakin banyak juga mencetak lulusan terbaik.” 

Etry Novica (PR salah satu Rumah Sakit di Jawa Tengah, yang meraih gelar Magister dengan beasiswa LPDP) 

“Buat aku belajar di Ilmu Komunikasi UII sangat berpengaruh dengan bisnis yang sekarang aku jalani. Karena di Ilmu Komunikasi itu ilmu-ilmunya bermanfaat di dunia nyata. Contohnya saat aku berbisnis aku harus berdiskusi dengan klien, harus memasarkan bisnis aku, dan lain-lain. Ilmu-ilmu itu aku dapatkan Ilmu Komunikasi UII.” 

Puri Oksi (Pengusaha, Founder Bakmie Hotplate Viral) 

“Selama belajar di Prodi Ilmu Komunikasi seneng banget karena banyak dosen yang kompeten di bidangnya dan kelasnya seru, teman-temannya asyik juga. Dulu ingat banget mata kuliah Penulisan Akademik yang bikin aku sampai sekarang jadi ada di posisi ini yang diajar oleh Pak Iwan, dan itu menurut aku salah satu mata kuliah yang nempel banget sampai sekarang.” 

“Awalnya memilih Jurusan Ilmu Komunikasi itu supaya tidak ketemu dengan angka dan matematika, tapi ternyata di semester tiga ada mata kuliah Statistik Komunikasi karena sudah menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi ya dinikmati saja. Saran untuk Prodi Ilmu Komunikasi UII, di usia yang ke-19 menurutku ini usia yang sedang lucu-lucunya, lagi muda-mudanya, semoga Prodi Ilmu Komunikasi UII bisa terus membimbing mahasiswanya yang tidak hanya pintar secara akademik tapi juga bisa bersaing di dunia kerja.” 

Nasuha Ali (Senior Copywriter di Sekolah Murid Merdeka) 

“Saya senang belajar di Prodi Ilmu Komunikasi UII soalnya tidak hanya belajar keilmuan Barat tapi juga secara Islam. Bersyukur bisa belajar Komunikasi Profetik tentang Ilmu Komunikasi dari sudut pandang Islam dan menjadi lulusan insan Ulil Albab.” 

Iven Sumardiyantoro (Videographer dan Editor) 

“Menyenangkan, pembelajarannya yang up to date dengan masa kini, dosen-dosennya juga keren-keren. Dari nama jurusannya aja “Ilmu Komunikasi”, tentu tidak jauh-jauh dong dari obrolan dan didengar maupun mendengarkan. Ini salah satu yang bikin mudah adaptasi di dunia kerja. Selain itu, karena dulu ambilnya konsentrasi “Jurnalistik Penyiaran”, mata kuliah yang dulu diajarkan banyak yang related sama kerjaan sekarang, misalnya dalam edit mengedit video/foto.” 

“Alasan memilih jurusan Ilmu Komunikasi pertama, karena tidak ada Matematikanya. Selain itu, menariknya jurusan ini salah satu jurusan yang tidak monoton dan terus berkembang dari masa ke masa. Jurusan yang sangat fleksibel sih menurutku.” 

“Semoga tetap istiqomah menjadi jurusan yang menyenangkan di UII. Selalu melakukan gebrakan-gebrakan baru (baik dalam events, akademik dan organisasinya) yang gila, ciamik, dan out of the box. Pokoknya semoga makin baik dan terus membaik ke depannya!” 

Brilliant Ayesha Nadine (Content Creator, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi DKI Jakarta) 

Itulah beberapa kesan para alumni terhadap Prodi Ilmu Komunikasi UII, ternyata Ilkom adalah tempat belajar yang seru. Para dosen yang suportif, pelayanan humanis, dan fasilitas mumpuni menjadi kunci. Semoga di usia yang ke-19 tahun ini, Prodi Ilmu Komunikasi UII semakin progresif dan mampu mencetak lulusan unggul.

    

Communications on Media
Reading Time: 5 minutes

Kumpulan berita menarik di portal media online mainstream yang berisi gagasan dari Dosen Ilmu Komunikasi UII sepanjang tahun 2020 hingga 2023. Kumpulan berita ini dirangkum untuk menyambut usia Prodi Ilmu Komunikasi yang menginjak ke-19 tahun. 

Tidak hanya aktif dalam pengabdian, riset, dan tanggung jawab di kampus, para Dosen di Prodi Ilmu Komunikasi UII juga turut memberikan gagasan dalam sebuah isu yang diharapkan dapat memberi pencerahan kepada publik. 

1.Laporan Jurnalis Warga: Jendela Kabar dari Pelosok Pegunungan Papua (21 Mei 2023) 

Indonesia Timur khususnya Papua banyak tak terekspos karena keterbatasan peliputan. Hal ini menginisiasi sekelompok warga terjun menjadi jurnalis dan menulisnya di laman daring lokal. Mereka membagikan kisah-kisah tersebut agar diketahui banyak pihak. 

Dr. Masduki pengajar di jurusan Ilmu Komunikasi UII, meluruskan sejumlah pandangan yang selama ini mengarah pada jurnalisme warga. Ia menyebut jurnalisme warga bukanlah sekedar perayaan di mana masyarakat berkesempatan memproduksi berita, dan mempublikasikannya namun bicara tentang perlawanan. 

Seperti di laman portal online nokenwene di Papua, jurnalisme warga berkesempatan mengkritisi perilaku aparat negara dan konflik yang melibatkan dua kubu. Daya kritis itu sesungguhnya menjadi semangat utama jurnalisme warga, yang mencerminkan bagaimana warga berdaya sebagai warga negara. 

https://www.voaindonesia.com/a/laporan-jurnalis-warga-jendela-kabar-dari-pelosok-pegunungan-papua-/7102609.html 

2. Maison De Communication, Pameran Seni Prodi Komunikasi UII (25 Februari 2023)

Pameran Seni Prodi Komunikasi UII yang bertajuk Maison De Communication digelar sebagai bentuk apresiasi karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UII dengan menampilkannya di ruang publik. 

Makna Maison de Communication merupakan bahasa Perancis dari House of Communication. Penggunaan bahasa perancis merujuk pada banyaknya filsuf yang teorinya digunakan dalam bidang ilmu komunikasi, berasal dari negara tersebut. 

Selain pameran ada talkshow yang bertajuk “Kreativitas, Inovasi dan Daya Saing Dalam Ber-Media” yang menghadirkan para ahli dalam bidang komunikasi yaitu Asmono Wikan sebagai CEO PR Indonesia dan Dr. Zaki Habibi sebagai fotografer documenter dan peneliti kajian media dan budaya visual. Program Studi Ilmu Komunikasi, UII Yogyakarta. 

https://radarjogja.jawapos.com/seni-budaya/65764345/maison-de-communication-pameran-seni-prodi-komunikasi-uii 

3. Isi Surat Pembatalan Indonesia Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20 Multitafsir, Dosen Komunikasi UII: FIFA Main Aman (30 Maret 2023) 

Surat resmi yang diunggah oleh FIFA terkait pembatalan Indonesia yang menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 sempat menjadi pro kontra. Publik sempat menyudutkan beberapa pihak terkait keputusan itu.  

Salah satu Dosen Ilmu Komunikasi UII, Narayana Mahendra Prastya menyebut jika isi surat FIFA cenderung “main aman” dan multitafsir lantaran pembatalan tersebut tidak disebutkan alasan secara gamblang. Meski demikian menurutnya, FIFA berupaya membantu transformasi sepakbola Indonesia. 

https://jogja.suara.com/read/2023/03/30/194656/isi-surat-pembatalan-indonesia-sebagai-tuan-rumah-piala-dunia-u-20-multitafsir-dosen-komunikasi-uii-fifa-main-aman 

4. Investigasi Harta Pejabat ala Netizen & Potensi Kriminalisasi (23 Maret 2023) 

Deretan pejabat publik dipanggil KPK untuk memberikan klarifikasi LHKPN. Mereka adalah mantan Pejabat Pajak, Rafael Alun Trisambodo; Kepala Kantor Bea Cukai nonaktif Yogyakarta, Eko Darmanto; Kepala Kantor Pajak Madya Jakarta Timur, Wahono Saputro; serta Kepala Kantor Bea dan Cukai Makassar, Andhi Pramono.  

Menariknya mereka dipanggil setelah viral di media sosial akibat ulahnya yang pamer harta kekayaan dan tak luput menjadi sorotan bahan investigasi netizen. Melihat fenomena ini Iwan Awaluddin Yusuf, PhD., menyebut jika ada sisi positif  bagi netizen yang memiliki ruang untuk menyatakan kekecewaannya terhadap kasus korupsi di Indonesia.  

Namun, sisi negatifnya adalah glorifikasi kekuasaan netizen. Seolah netizen yang paling berkuasa, padahal sebenarnya kewenangan masalah seperti ini ada di penegak hukum. Iwan menyebut, hal yang mengkhawatirkan ketika ini terjadi adalah praktik doxing yang justru kontraproduktif dengan demokrasi. 

https://tirto.id/investigasi-harta-pejabat-ala-netizen-potensi-kriminalisasi-gDM4 

5. Dakwah Internasional Lunturkan Kesan Jelek (5 November 2022) 

Pelatihan Dakwal Bil Kitabah yang digelar oleh DPPAI UII bertujuan memberi wawasan kepada para dosen-dosen UII dalam menulis Internasional. 

Dosen Ilmu Komunikasi UII, Dr Masduki, menyampaikan materi tentang pentingnya kreasi tulisan dakwah internasional. Ia menilai, yang penting dalam berkomunikasi tidak lain platform komunikasi yang digunakan itu sendiri. 

Selain segi kepenulisan yang harus diperhatikan cara menulis dan orang yang menulis. Sebab, menulis pada era digital penting memperhatikan engagement, menyesuaikan apa yang disampaikan dengan sasaran. 

https://khazanah.republika.co.id/berita/rkuv9s430/dakwah-internasional-lunturkan-kesan-jelek 

6. “Trusted Media Summit” di Bali rekomendasikan pentingnya regulasi dan otoritas media (21 September 2022)

“Trusted Media Summit 2022 Indonesia” diselenggarakan oleh Google News Initiative (GNI) pada 21 September 2022 di Denpasar, Bali merekomendasikan bagaimana pentingnya regulasi dan otoritas media di era digital agar demokrasi tetap berkembang dengan adanya idealisme media. 

Dalam diskusi tersebut, Dosen Ilmu Komunikasi Dr. Masduki menyebut jika musuh media adalah orang media sendiri yang merusak idealisme media demi viral, traffic/algoritma, bukan verifikasi. Sementara hal-hal itu sangat didukung platform digital, media sosial, hingga buzzer. 

https://bali.antaranews.com/berita/292937/trusted-media-summit-di-bali-rekomendasikan-pentingnya-regulasi-dan-otoritas-media 

7. Pandemi Ubah Perilaku Komunikasi Manusia (22 Juni 2022) 

Pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap perilaku manusia dalam berbagai sektor termasuk sikap dan cara berkomunikasi satu sama lain. Ternyata komunikasi visual lebih mudah diterima dan dikritisi audiens. 

Gagasan tersebut diungkapkan oleh Dosen Ilmu Komunikasi, Ratna Permata Sari yang menyebut jika komunikasi visual merupakan strategi efektif dalam digital media saat pandemi karena teks dan ilustrasi bersifat persuasi dalam menyampaikan informasi.  

https://rejogja.republika.co.id/berita/rdvct2399/pandemi-ubah-perilaku-komunikasi-manusia 

8. Dosen UII Beri Klarifikasi atas Pemberitaan Mengenai Tiket Borobudur Naik (12 Juni 2022) 

Bapak Iwan Awaluddin Yusuf, PhD., memberikan klarifikasi terkait berita mengenai “Marah Tiket Borobudur Naik? Dosen UII: Baca Berita Jangan Setengah-setengah” yang telah diunggah oleh pihak Kompas.com.  

Klarifikasi dilakukan karena informasi yang kurang tepat, berawal dari unggahan Instagram UII tentang pendapatnya yang dikutip oleh Kompas.com.  

Dalam konteks tersebut pihaknya tak pernah ada wawancara ataupun konfirmasi dengan pihak Instagram UII maupun Kompas.com. Sementara gagasan yang dikutip oleh keduanya adalah bias,  dalam artikel asli Iwan Awaluddin Yusuf infodemik tersebut hanya dipakai dalam konteks disinformasi di masa pandemi. Bukan “di masa digitalisasi”, selain itu Ia menegaskan jika tak memberikan gagasan terkait kenaikan tiket Borobudur. 

https://www.kompas.com/edu/read/2022/06/12/172941771/dosen-uii-beri-klarifikasi-atas-pemberitaan-mengenai-tiket-borobudur-naik?page=all 

9. Tak Cuma Ilmu Keagamaan, Simak Akreditasi dan Jurusan di UII (12 April 2022) 

Berita ini memuat akreditasi deretan program studi di Universitas Islam Indonesia. Salah satunya Prodi Ilmu Komunikasi yang sudah terakreditasi A. 

https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/ybDXJ6jb-tak-cuma-ilmu-keagamaan-simak-akreditasi-dan-jurusan-di-uii 

10. Yuk Intip Prospek Kerja Ilmu Komunikasi (29 Juni 2021) 

Peluang dan prospek kerja dalam bidang Ilmu Komunikasi ternyata sangat luas, hal ini disampaikan oleh Dosen Ilmu Komunikasi UII, Dr. Subhan Afifi. 

Secara umum pekerjaan yang identik dengan lulusan Ilmu Komunikasi  adalah bidang Jurnalistik, Media Kreatif, Periklanan serta Public Relation. Namun ternyata tak hanya berhenti pada terlebih dengan masa pandemi ini, lulusan yang sudah terbiasa dengan teknologi, maka akan bisa membuka peluang usaha secara digital. Terlebih menjalankan bisnis online yang bisa dilakukan hanya dengan bantuan ponsel saja. 

https://edukasi.kompas.com/read/2021/06/29/125424771/yuk-intip-prospek-kerja-ilmu-komunikasi?page=all 

11.  Perokok Anak Tinggi, Akademikus Kampanye Cegah Anak Merokok (12 Maret 2021) 

Para akademis bidang Ilmu Komunikasi dari 15 Perguruan Tinggi memberi pembakalan mahasiswa atas kesadaran kritis terhadap bahaya rokok bagi kesehatan secara daring.  

Program ini merupakan bentuk pengabdian yang bertujuan agar para mahasiswa membuat kampanye bersama tentang rokok yang membahayakan kesehatan. Dr. Masduki, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII turut menyampaikan materi terkait fakta industri tembakau. 

https://www.terakota.id/perokok-anak-tinggi-akademikus-kampanye-cegah-anak-merokok/ 

12. Cara Berkomunikasi Jadi Cerminan Keimanan (24 Desember 2020) 

Komunikasi menjadi jembatan bagi manusia untuk saling memahami satu sama lain, Islam  memberi perhatian sangat penting terkait komunikasi. Dalam Alqur’an juga disebutkan terkait hal-hal penting dalam komunikasi. 

Seperti surat Ash Shaff ayat 2-3 yang membicarakan kalau komunikasi itu membutuhkan pembuktian, yang artinya perkataan harus diikuti dengan perbuatan. Hal ini diungkapkan oleh Dosen Ilmu Komunikasi UII, Dr. Subhan Afifi jika setiap perkataan harusnya memiliki konsekuensi untuk diri.  

Sebelumnya pernyataan ini telah disiarkan melalui kanal YouTube Uniicoms TV segmen Komunikita episode 19. 

https://khazanah.republika.co.id/berita/qltjik483/cara-berkomunikasi-jadi-cerminan-keimanan 

Demikian rangkuman terkait gagasan para Dosen Prodi Ilmu Komunikasi yang dimuat dalam portal media online, atau kita menyebutnya kaleidoskop “Communications on Media”, gagasan-gagasan dari dosen diharapkan mampu menyegarkan pengetahuan publik dari sisi akademis di tengah hingar bingar arus informasi yang tak terkendali. 

 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Reading Time: 2 minutes

Why do prayers often go unanswered? How to make it easier for prayers to have the possibility of being answered? These questions often arise in every human effort to pray to the divine. Sometimes people don’t know when their prayers will be answered and how their efforts and endeavors can produce the expected results.

Imam Mujiono, a lecturer, said at the FPSB UII Grand Recitation, expressed the same thing in the context of the 27th Milad of FPCS UII. The event, which was held on Saturday, May 28, 2022, occupies at the FPCS UII Mosque, which has just been renovated for three days. This recitation program was conducted in a hybrid way (online via Zoom and Youtube broadcast live by UII Communications Department, Online TV “Ikonisia TV” and offline at the Mushola).

Ud’uuni astajib Lakum (Almu’min: 60) and Fal Yastajibuu lii wa Yu’min Billah (Al Baqarah: 186). If you want prayers to be heard, the key is to follow this verse of Allah,” said Imam Mujiono, a Lecturer in the Program Islamic Religious Education Studies, Faculty of Islamic Studies, UII.

According to Imam, people often want something but do not understand why prayer does not come true. “Even though the SOP in Islam is clear. If you want something, pray to me,” said Imam. “The word ‘me’ is referring to Allah. Not referring to the magician, not to shamans, not to superiors, etc.”

Then the next thing is to carry out the commandments of Allah. Each order, according to Imam, means SOP (Standard Operational Procedure). “Follow the SOP. If you want to make a stall that sells well, make an SOP so that people are interested in coming,” said Imam. The stalls should be clean, and the service should be polite, the prices are cheap, and don’t forget to ask Allah, the owner of the fortune, not the traditional healer or shaman, said Imam.

Then after that, humans are asked to believe and believe in the provisions of Allah. “So, pray that don’t hesitate to Allah. You must be sure that You will achieve everything you ask to God,” he added.

Continue reading click here

 

Reading Time: < 1 minute

Mengapa doa sering tidak terkabul? Bagaimana agar doa lebih mudah memiliki kemungkinan terkabul? Beberapa pertanyaan itu sering mengemuka dalam tiap upaya manusia memanjatkan doanya pada ilahi. Kadang manusia hanya tidak tahu kapan doanya terkabul, dan bagaimana bisa upaya dan ikhtiarnya berbuah hasil sesuai yang diharapkan.

Begitu pula yang diungkapkan oleh Imam Mujiono, penceramah dalam Pengajian Akbar FPSB UII dalam rangka Milad ke-27 FPSB UII. Acara yang diselenggarakan pada Sabtu 28 Mei 2022 ini menempati Mushola FPSB UII yang baru saja tiga hari selesai direnovasi. Acara pengajian ini dilaksanakan secara hybrid (daring via Zoom dan Youtube disiarkan langsung oleh TV Daring Komunikasi UII “Ikonisia TV” dan luring di Mushola).

“Ud’uuni astajib lakum (Almu’min: 60) dan Fal Yastajibuu lii wa Yu’min Billah (Al Baqarah: 186). Jika ingin doa didengar maka kuncinya ikuti ayat Allah ini,” kata Imam Mujiono yang juga adalah Dosen di Program Studi Pendidikan Agama Islam, FIAI UII.

Menurut Imam, seringkali manusia menginginkan sesuatu tetapi tidak paham mengapa doa tidak kunjung maqbul. “Padahal SOP nya di islam sudah jelas. Kalau ingin sesuatu, berdoalah padaku,” kata Imam. “Ku ini merujuk pada Allah. Bukan merujuk pada pesugihan, bukan pada dukun, bukan pada atasan, dll.”

Lalu yang berikutnya adalah melaksanakan perintah-perintah Allah. Setiap perintah itu, menurut Imam, berarti SOP (Standar Operational Procedure). “Ikuti SOP nya. Mau bikin warung laris, ya bikin SOP sehingga orang tertarik datang,” kata Imam. Warungnya bersih, pelayanan sopan, harganya murah, dan jangan lupa memohon pada Allah sang pemilik rejeki, bukan pada dukun pesugihan, kata Imam.

Lalu setelah itu, manusia diminta yakin dan beriman pada ketentuan Allah. “Jadi, berdoa itu Jangan ragu-ragu pada Allah, harus yakin tercapai,” tambahnya.

Tulisan lanjutan baca klik di sini

Reading Time: 2 minutes

Every worship is not just a ritual. Worship that is ritualistic has an important mission, namely the formation of noble character, morality and Akhlakul karimah. Like a tree, a ritual is a trunk that will branch and bear sweet fruit in the form of morals that manifests itself in social solidarity.

The theme of social solidarity was raised during the Syawalan Online which was held by the Family of the Faculty of Psychology and Socio-Cultural (FPSB) of the Islamic University of Indonesia (UII) on Saturday, June 5, 2021. This online Syawalan present KH Dr. Tulus Musthofa, Lc., MA was attended by all teaching staff of FPSB UII education staff, also by representatives of parents of FPSB UII students.

Mustafa emphasized that the main purpose of sending the Prophet Muhammad in the world was to perfect morals. Noble morality is the main thing as a tree has roots, there are branches, leaves, finally fruit. While the will and the main stem are rituals such as prayer, fasting, zakat, and hajj. While the fruit has a noble character. “Behind the ritual there is prayer, there are values ​​of leadership, sensitivity to questions, discipline, faith, and so on. Behind fasting there is sincerity, self-control, introspection, and so on,” said Mustafa.

To measure ourselves whether we already have noble character or not is to check ourselves whether we are able to act and do good reflexively or not. People who have been able to behave and act well, reflexively, have good morals in them. Mustafa refers to Imam Ghozali to define what morality is. Derived from the word khuluk, namely the nature embedded in the soul that encourages the birth of change easily, lightly, without consideration and deep thoughts.

Noble morality can be formed in a process that is not short. According to Mustafa, there are three processes that must be followed.

The first process is to rid oneself of lust. This is not easy because every human being is given lust by Allah swt, but humans must be able to control it to eliminate his lust even though the desire is still in him.

The second process is self-education. This process is definitely not easy because educating yourself requires high consistency. Not just once or twice, but continuously. The third is a positive atmosphere or environment. A positive environment will make it easier for someone to behave and get used to life in a certain way.

Social solidarity can be grown with these three processes. Social solidarity is not only done during the holy month. But the holy month should be a trigger to foster social solidarity. “Prophet Muhammad SAW was the most generous person. And during Ramadan, his generosity is like a strong wind,” Mustafa said.

“Philanthropy can be with material possessions. But what if I have no possessions? It can be by helping other people’s work with energy. What if you still can’t use energy? You can invite kindness. But what about uneducated? If so, don’t do anything bad. It’s already sodakoh/ islamic philanthropy,” said Mustafa explaining the types of philanthropy.

Charity is not only by providing assistance and care for orphans, the elderly, widows, and special needs. Concern for these three categories is primary. But solidarity in the form of freeing servants, feeding the hungry, defending the oppressed, and supporting people with special needs are also essential. “It’s not my group that people don’t pay attention to the problems of the people,” said Mustafa following the Sunnah of Rasulullah.

 

Reading Time: 2 minutes

Setiap ibadah tidak semata ritual. Ibadah yang sifatnya ritualpun punya misi penting yaitu pembentukan akhlak mulia, akhlakul karimah. Ibarat pohon, ritual adalah batang yang akan bercabang dan berbuah manis berupa akhlak yang mengejawantah salah satunya pada solidaritas sosial.

Tema solidaritas sosial ini mengemuka saat Syawalan Daring yang diadakan oleh Keluaga Besar Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) pada Sabtu, 5 Juni 2021. Syawalan daring ini menghadirkan K.H. Dr. Tulus Musthofa, Lc., MA dihadiri oleh seluruh staf pengajaran tenaga kependidikan FPSB UII, juga oleh wakilorangtua mahasiswa FPSB UII.

Mustafa menegaskan tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad di dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak mulia adalah hal pokok sebagaimana Pohon ada akar, ada dahan, daun, akhirnya buah. Sedangkan akan dan batang utamanya adalah ritual seperti sholat, puasa, zakat, dan haji. Sadangkan buahnya adalah akhak mulia. “Di balik ritual ada sholat, ada nilai kepemimpian, sensititas soal, disiplin, keimanan, dan lain-lain. Di balik puasan ada ikhlas, pengendalian diri, mawas diri, dan sebagainya,” ungkap Mustafa.

Untuk mengukur diri apakah kita sudah memiliki akhlak mulia atau belum adalah dengan mencek diri apakah kita sudah mampu bersikap dan berbuat baik secara reflek atau belum. Orang yang sudah mampu bersikap dan bertindak baik secara reflek atinya dalam dirinya sudah tertanam akhlak yang baik. Mustafa merujuk Imam Ghozali unruk mendefiniskan apa itu akhlak. Berasal dari kata khuluk yakni sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong lahirnya peruabahan dengan mudah, ringan, tanpa pertimbangan dan pikiran mendalam.

Akhlak Mulia dapat terbentuk dengan proses yang tidak sebentar. Menurut Mustafa, ada tiga proses yang harus dilakui. Proses pertama adalah membersihkan diri dari nafsu. Hal ini tidaklah mudah karena setiap manusia diberi nafsu oleh Allah swt, tetapi manusia harus mampu mengendalikannya untuk menghilangkan nafsunya meskipun keinginannya masih ada dalam dirinya.

Proses kedua adalah mendidik diri (self education). Dalam proses ini pastilah tidak mudah karena mendidik diri butuh konsistensi yang tinggi. Bukan hanya sekali dua kali saja, tapi terus menerus. Ketiga adalah atmofer atau lingkungan positif. Lingkungan hidup positif akan mempermudah seseorang untuk berrsikap dan membiasakan hidup dengan cara tertentu.

“Bukan termasuk golonganku orang yang tidak perhatian pada pada persoalan-persoalan umat,” kata Mustafa mengikuti sunah Rasululah.

Solidaritas sosial dapat ditumbuhkan dengan tiga proset tersebut. Solidaritas sosial tak hanya dilakukan saat bulan suci saja. Tapi bulan suci harusnya menjadi pemicu untuk menumbuhkan solidaritas sosial. “nabi muhammad SAW itu orang yang paling dermawan. Dan ketika Ramadhan, kedermawanan beliau seperi angin kencang,” kata Mustafa.

“Kedermawanan bisa dengan harta benda. Tapi bagaimana jika saya tidak punya harta? Bisa dengan membantu pekerjaan orng lain dengan tenaga. Bagaimana jika masih tak bisa menggunakan tenaga? Bisa dengan mengajak kebaikan. Tapi bagaimana tak berilmu? Jika sudah begitu, jangan berbuat buruk. Itu sudah sodakoh,” kata Mustafa menjelaskan jenis-jenis sodakoh.

Bersodakoh tak hanya dengan memberikan bantuan dan kepedulian tehadap menyantuni yatim, jompo, janda, kebutuhan khusus.  Kepedulian pada tiga kategori ini adalah utama. Tapi solidaritas dalam bentuk memerdekakan hamba, memberi makan yang lapar, membela yang terhimpit, menyantuni orang berkebutuhan khusus juga pokok. “Bukan termasuk golonganku orang yang tidak perhatian pada pada persoalan-persoalan umat,” kata Mustafa mengikuti sunah Rasululah.

Reading Time: 2 minutes

Bulan ramadhan adalah bulan yg sangat agung. Bulan yang penuh barokah, panen pahala, karena di bulan ramadan semua pahala dilipatkan dibanding bulan yang lain. Bahkan di bulan ramadhan ada satu malam yang malamnya lebih baik dari seribu bulan. Termasuk pahala untuk yang memberi makan pada orang yang sedang berbuka.

“Diam saja bernilai ibadah, apalagi bertasbih,” kata Ust KH. Supriyanto, S.Ag. dalam Pengajian Akbar dengan Tema ramadhan berlalu, Takwa Siap Selalu pada 29 Mei 2021. Acara ini dilaksanakan bersamaan dengan rangkaian Milad ke-26 FPSB UII dan dilakukan dengan model hybrid (daring dan luring) dengan dukungan Uniicoms TV, TV daring pertama di UII.

“Ketika selesai panen, kita memasuki lebaran. Lebar nopo, lebar panen kacang, lebar panen pari. Sedangkan panennya orang yang puasa bulan ramadhan seperti disebut dalam al baqoroh ayat 183, lebar panen, lebaran, meningkat ketakwaannya,” jelas Supriyanto.

Supriyanto mengatakan dalam ceramahnya, barangsiapa dosanya sampai memenuhi bumi, sebesar apapun dosa orang itu, tetap masih lebih besar ampunan dari Allah. Syaratnya asal di lisan orang itu masih ada kalimat laa ila ha illallah. “Karena kalimat lailaahaillah itu penghapus dosa. Maka biasakan lisan ini membaca kalimat Allah SWT,” imbuhnya.

Sedangkan jika ditanya, apakah tanda taat pada Allah? Tanda taat pada Allah SWT adalah salat lima waktu kata Supriyanto. Orang yang akan melaksanakan salat lima waktu ibarat di depan rumahnya ada sumber mata air yang dalam. Dalamnya sumber ini terkesan sangat dalam hingga ibarat ia bisa untuk mandi lima kali sehari. “Sebersih apa coba mandi lima kali sehari, maka wudhu itulah pembersih dosa,” kata Supriyanto, ulama dari puntuk, umbulmartani, ngemplak, sleman, ini.

Jika seorang muslim telah memenuhi tiga pilar Islam, maka terpenuhilah ketaatannya. Ketiganya yaitu syahadat, salat, dan puasa. “Ya pengikat agama islam adalah tiga ini. Dan dari tiga pilar itulah islam ditegakkan. Dimana zakat? Tidak semua bisa membayar zakat,” papar Supriyanto. Bagaimana dengan haji? Haji juga hanya bisa dijalankan jika ia sudah mampu. “Monggo untuk taat pada Allah mari tiga ini kita laksanakan,” katanya kemudian.

Termasuk amalan orang yang bertakwa adalah orang yang mau menginfakkan hartanya. “Sodakoh ora kudu nunggu sugih (sedekah tidak harus menunggu jadi kaya dulu), bahkan ketika tidak longgar pun tetap diminta sedekah,” kata Supriyanto memotivasi. “Jadi sedekah miskin dan kaya itu sebenarnya disesuaikan oleh kemampuannya masing-masing.”

Reading Time: 2 minutes

The month of Ramadan is a very great month. A month full of blessings, a harvest of rewards, because in the month of Ramadan all rewards are multiplied compared to other months. Even in the month of Ramadan, there is one night whose night is better than a thousand months. Including the reward for feeding the person who is breaking the fast.

“Silence is worth worshiping, let alone glorifying,” said Ust KH. Supriyanto, S.Ag. in Pengajian Akbar with the theme of Ramadan passes, Takwa Always Ready on May 29, 2021. The event was held in conjunction with the 26th Milad series of FPSB UII and conducted with a hybrid model (online and offline) with the support of Uniicoms TV, the first online TV in UII.

“When the harvest is over, we enter Eid. The width of the nopo, the width of the bean harvest, the width of the stingray harvest. While the harvest of people who fast the month of Ramadan as mentioned in al baqoroh verse 183, the width of the harvest, Eid, increases his piety,” explained Supriyanto.

Supriyanto said in his lecture, whoever sins to the point of filling the earth, no matter how great the person’s sin, is still greater forgiveness from God. The original condition is that in the person’s mouth there is still the sentence laa ila ha illallah.

“Because the sentence lailaahaillah is the remover of sins. So get used to reading the words of Allah SWT verbally,” he added.

Meanwhile, if asked, what is a sign of obedience to God? The sign of obedience to Allah SWT is the five daily prayers, said Supriyanto. The person who will perform the five daily prayers is like in front of his house there is a deep spring. The depth of this source was so deep that it was as if he could take a bath five times a day. “As clean as what, try to take a bath five times a day, then ablution is the purifier of sins,” said Supriyanto, a scholar from Puntuk, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, this.

If a Muslim has fulfilled the three pillars of Islam, then his obedience is fulfilled. All three are creed, prayer, and fasting. “Yes, the binding of Islam is these three. And from those three pillars, Islam is enforced. Where is zakat? Not everyone can pay zakat,” said Supriyanto. What about Hajj? Hajj can also only be performed if he is able. “Please to obey God, let’s do these three,” he said later.

Including the practice of a pious person is a person who wants to invest his property. “Sodakoh does not have to wait for the rich (alms does not have to wait to be rich first), even when it is not loose, alms are still asked,” said Supriyanto motivating. “So the alms of the poor and the rich are actually adjusted by their respective abilities.”