Tag Archive for: ilmu komunikasi

Gen Z as Digital Influencers in Conflict

Generation Z, typically defined as individuals born between the late 1990s and early 2010s, has grown up in a highly digital and interconnected world. Unlike previous generations, they are deeply integrated into online environments where communication, information sharing, and social interaction happen instantly. This has led to the rise of digital activism, which refers to the use of online platforms to raise awareness, advocate for social issues, and influence public opinion. In the context of global conflicts, digital activism has become an important space where young people engage with issues such as human rights and civilian experiences.

Gen Z has emerged as a powerful group of digital influencers, capable of shaping conversations on a global scale. Through platforms such as TikTok, Instagram, and X, they share content that simplifies complex political situations and makes them more accessible to a wider audience. By using short videos, visual storytelling, and personal narratives, they are able to connect emotionally with viewers and draw attention to the realities faced by civilians in conflict areas. This form of engagement allows young people not only to consume information but also to actively participate in spreading awareness and influencing how others understand global events.

In addition to spreading information, Gen Z plays a significant role in shaping narratives around conflict. Social media platforms allow users to present events from specific perspectives, which can influence how audiences interpret and respond to those events. Through the use of hashtags, captions, and viral content, certain viewpoints gain more visibility and become dominant in online discussions. For example, during the recent escalation of the Gaza Strip conflict, hashtags such as #SaveSheikhJarrah and #GazaUnderAttack went viral across platforms like TikTok and Instagram. These hashtags were widely used by young users to highlight the experiences of Palestinian civilians and draw global attention to human rights concerns. As a result, the conflict was increasingly framed online as a humanitarian issue rather than only a political or military one, influencing how global audiences perceived the situation.

The speed and reach of these digital tools, including live streaming and algorithm-driven content, further strengthen the ability of these narratives to spread and shape public opinion in real time.

However, its influence comes with its own challenges, and one of the main risks is the rapid spread of misinformation, as content is often shared quickly without proper verification. This can lead to misunderstandings and the spread of false narratives, especially in complex conflict situations. Additionally, the visibility of online activism can expose individuals to risks such as surveillance, censorship, and harassment. In some cases, governments or other actors may monitor digital activities, creating potential dangers for those who speak out. Another concern is performative activism, where individuals engage with issues only on a surface level, such as sharing posts without a deeper understanding or meaningful action. This can reduce the overall impact of digital movements and oversimplify serious issues.

In conclusion, Generation Z has become a significant force in shaping how conflicts and human rights issues are discussed in the digital age. Through their use of social media, they spread information, influence narratives, and bring global attention to important issues. At the same time, their digital presence also highlights the challenges of online activism, including misinformation and potential risks for participants. This shows that while digital platforms provide powerful tools for awareness and engagement, they also require careful and responsible use.

Reference:

Bukhari, S. R. H. (2025, November 28). DIGITAL ACTIVISM OF GENERATION Z: THE ROLE OF SOCIAL MEDIA PLATFORMS IN YOUTH LED POLITICAL MOVEMENTS AND GOVERNMENT CHANGE.

http://www.pjssrjournal.com/index.php/Journal/article/view/326

Guesmi, H. (2021b, May 28). Generation Z will free Palestine. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/opinions/2021/5/28/generation-z-will-free-palestine

Sombatpoonsiri, J. (2025, September 30). The promises and pitfalls of the social Media–Fueled Gen-Z protests across Asia. Carnegie Endowment for International Peace. https://carnegieendowment.org/emissary/2025/09/social-media-gen-z-protests-nepal-indonesia-promises-pitfalls?lang=en

 

Written by: Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab

Edited by: Meigitaria Sanita

Buku ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ Demokrasi tidak Sekedar Pemilu saja!

Buku berjudul ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ sempat ramai di berbagai platform digital lantaran substansinya yang penuh kritik tajam berbasis data hasil penelusuran empat jurnalis lintas generasi. Empat jurnalis itu adalah Farid Gaban (mewakili Baby Boomer), Dandhy (mewakili Generasi X), Yusuf Priambodo (mewakili Milenial), serta Benaya Harobu (mewakili Gen Z).

Singkatnya, buku ini adalah ekspedisi jurnalistik mulai dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa tahun 2009, Indonesia Biru tahun 2015, dan Ekspedisi Indonesia Baru tahun 2022-2023. Semua didokumentasikan dalam 12 terabyte video dan 80.000 foto. Ketidakadilan soal atas lahan menjadi isu yang dikuliti pada buku ini. Namun, yang tak kalah menarik adalah salah satu bab yang menyoal pesta demokrasi.

Dosen Ilmu Komunikasi UII, Khumaid Akhyat Sulkhan menyebut, pemaknaan demokrasi tak sebatas pesta lima tahunan. Demokrasi tak sekedar memutuskan pilihan di bilik suara. Lebih luas, demokrasi adalah partisipasi bermakna yang menentukan kebijakan.

“Seolah-olah inti demokrasi hanya terletak pada bilik suara. Namun, pandangan ini menyederhanakan makna demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi bukan sekadar memilih, melainkan partisipasi bermakna warga dalam menentukan arah kebijakan publik,” ucapnya, menjelaskan buku Reset Indonesia.

Bab ini memberikan gambaran soal fenomena golput (golongan putih) yang datang dari kekecewaan terhadap Orde Baru kala itu. Golput menjadi bentuk protes politik karena pemilu tidak memberikan ruang partisipasi sejati. Pemilu hanyalah seremoni, sementara kritik dan keterlibatan masyarakat di luar pemilu lebih sering ditekan. Sederhananya, pemilu hanyalah prosedur formal yang tidak substansial.

“Pemilu itu adalah pesta demokrasi, padahal demokrasi itu ya harus ada dalam hidupan kita sehari-hari dan itu harus ada bahkan dari level desa,” tambahnya.

Sejatinya, untuk mencapai demokrasi yang berkualitas, ada empat komponen yang mesti terpenuhi. Pertama, partisipasi aktif masyarakat atau participatory democracy, tak hanya mencoblos, masyarakat terlibat dalam perumusan kebijakan untuk tingkat desa hingga nasional.

Kedua, musyawarah atau deliberative democracy, idealnya pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah yang terbuka dan saling menghormati, bukan voting dan pemenangan suara mayoritas. Selanjutnya, kesetaraan atau egalitarian democracy yakni distribusi kekuasaan yang adil untuk semua kelompok sosial tanpa adanya diskriminasi berbasis ekonomi, gender, ras, etnis, maupun kondisi fisik. Terakhir, kebebasan dan supremasi hukum atau liberal democracy, dalam demokrasi, perlindungan hak sipil, kebebasan berekspresi, peradilan yang independen harus dijamin oleh negara. Konstitusi semestinya menjamin hak publik dalam menyampaikan kritik. Artinya, pemilu bukanlah satu-satunya instrumen demokrasi. Demokrasi berkelanjutan dibangun lewat keterlibatan, dialog inklusif, dan penghormatan terhadap hukum dan kebebasan sipil.

 

 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Kunjungan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana Bali guna 'Benchmarking dan Visitasi Laboratorium' di Prodi Ilmu Komunikasi UII

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana lakukan kunjungan ke Prodi Ilmu Komunikasi UII pada 3 Februari 2026, di Gedung Lt. 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kunjungan diawali dengan ‘tur’ Prodi Ilmu Komunikasi UII dan melihat empat laboratorium, yakni laboratorium audio visual, laboratorium audio, laboratorium fotografi dan multimedia, serta laboratorium editing dengan alat mutakhir. Kunjungan ini disambut oleh punggawa Prodi Ilmu Komunikasi, membicarakan mengenai kemungkinan kerja sama yang bisa dilakukan oleh kedua Prodi ini. 

Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana berdiri sejak tahun 2011 dengan status PTN Badan Layanan Umum. Namun sejak bulan April tahun 2022, pengembangan kampus dilakukan secara mandiri atau bisa disebut dengan PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum). Sehingga dalam hal ini Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana perlu transformasi khususnya dalam hal kemandirian finansial. Ide pihaknya adalah untuk mendirikan unit bisnis dalam prodinya.

Prodi Ilmu Komunikasi UII menyambut baik dengan berdiskusi dan sharing, menjelaskan bagaimana praktiknya selama ini. Jika terkait unit bisnis, saran yang diberikan adalah mengadakan konferensi, dan mengembangkan lebih dalam unit Laboratorium. Selain itu saran yang diberikan adalah melakukan promosi di pameran-pameran pendidikan, juga memodifikasi bidang minat dengan keunggulan yang lebih menarik pasar, jelas Zaki Habibi (Kaprodi Ilmu Komunikasi UII).

I Putu Juni Antara dan I Gusti Ngurah Oka Candrakusuma dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana yang hadir dalam kunjungan ini. Diskusi lebih mendalam mengenai bagaimana pengelolaan Laboratorium Prodi  selama ini. Pengelolaan manajerial, pemanfaatan untuk para stakeholders, yang utamanya mahasiswa adalah fungsi utama dari adanya Laboratorium. Selain pelayanan, pandangan juga diberikan kepada Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Udayana mengenai bagaimana menjadikan Laboratorium menjadi unit bisnis.

Dalam lingkup penandatanganan kerja sama dilakukan dalam oleh kedua fakultas dari prodi ini yang tertuang dalam MoA (Memorandum of Agreement). Ruang lingkupnya meliputi kerjasama pemagangan dalam proses belajar mengajar, penelitian dan pengembangan keilmuan, pemanfaatan bersama sumber daya dalam kegiatan akademik, penelitian dan pengabdian masyarakat, dan bentuk kerjasama lain yang dianggap perlu untuk meningkatkan kinerja perguruan tinggi.

 

Mahasiswa magang

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), M. Rangga Maulana membagikan pengalamannya selama magang di PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) pada periode Januari hingga Februari 2026. Baginya, magang memberikan banyak keseruan sekaligus mengasah kemampuannya untuk menyiapkan karir profesional.

Magang merupakan kurikulum wajib di  Program Studi Ilmu Komunikasi UII, yang akan diambil di semester 8. Mata kuliah Magang dianggap penting untuk mempersiapkan karir di dunia profesional nantinya. Selain itu magang juga sebagai sarana mempraktikkan ilmu baik teori maupun praktik yang sudah dipelajari saat masih duduk didalam kelas. Berbagai macam perusahaan membuka peluang magang bagi mahasiswa semester akhir. Perusahaan nasional maupun internasional.

Mahasiswa angkatan 2021 tersebut  mendapat kesempatan menjadi bagian digital creative marketing. Yakni mengolah kembali berbagai program yang telah tayang di Trans TV menjadi tayangan Youtube TransTV. Kemampuan editing, copywriting, dan kreativitas sangat dibutuhkan dalam dunia profesional. Termasuk dunia media yang harus serba cepat dan akurat. Selain itu, Rangga merasakan mendapatkan banyak hal selama ia melakukan magang.

“Untuk input yang saya dapatkan selama magang ini tentunya beragam ya. Seperti manajemen data program dan pengintegrasian aplikasi digital. Tidak hanya itu pengalaman juga menjadi hal penting yang dapatkan disini. salah satu pengalaman yang saya dapatkan adalah ikut terlibat dalam perayaan HUT TRANSMEDIA,” pungkas Rangga. 

Rangga juga mendapatkan soft skill selama ia melakukan magang, seperti manajemen waktu, manajemen data, problem solving, berpikir kreatif, adaptif dalam lingkungan kerja yang dinamis, serta kecerdasan emosional. Menurutnya, kemampuan seperti ini sangat mendukung hard skill yang juga ia dapatkan. Kemampuan tangkas namun jika tidak didukung pengelolaan diri yang baik juga tidak akan mendapat hasil yang maksimal.

Pengalaman-pengalaman ini yang akan mengantarkan Rangga dan mahasiswa lain yang melakukan magang untuk menjadi profesional yang berkualitas. Karena tidak ada hal besar yang didapat jika tidak melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu. Seperti pesan Rangga pada adik-adik tingkatnya.

“Teruslah berproses dimanapun, jangan pernah membuang-buang waktu, dan beranilah untuk mengambil kesempatan sekecil apapun. Selalu libatkan Allah dalam urusanmu. Tetaplah semangat walau banyak rintangan, teruslah bangkit walau sering jatuh, dan tetaplah berusaha walaupun pernah gagal. Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Tutupnya.

Dari Peringatan Hari HAM Sedunia di FISB UII: Negara Gagal Menyelesaikan Pelanggaran HAM Berat

Penanganan pelanggaran HAM berat yang banyak terjadi di Indonesia selama ini belum kunjung tuntas.  Upaya untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu ini dapat dibagi atas beberapa koridor penyelesaian. Pertama, melewati koridor politik dan hukum. Lalu kedua, melalui kreativitas budaya. Jalur pertama ini tidak mudah dan menghadapi resistensi. Upaya untuk menuntut melalui pengadilan HAM adhoc tidak berjalan. Demikian pula dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsilasi (KKR).

“Undang-Undang KKR sempat dibuat setelah berjuang sekian lama, namun anggota KKR itu tidak kunjung diangkat Presiden dan kemudian Undang-Undang itu dirubuhkan oleh Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Jimly Assidhiqie,” ungkap Prof. Asvi Warman Adam, dalam acara Orasi Kebudayaan yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISB), Universitas Islam Indonesia (UII) dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD), UII, pada 12 Desember 2025 di Auditorium FK UII. Selain itu, Prof. Asvi mengatakan, perbaikan kurikulum sejarah telah dilakukan tahun 2004 namun dimentahkan kembali pada kurikulum yang dikeluarkan Mendiknas tahun 2006. Class action yang dilakukan para korban pada tahun 2005 pun ditolak oleh pengadilan. Menurut Asvi, negara telah gagal menyelesaikan pelbagai bentuk pelanggaran HAM berat yang terjadi sejak negara ini merdeka.

Para peserta juga turut membubuhkan tanda tangan sebagai aksi solidaritas hari HAM sedunia. “Hadirin sekalian silakan ikut tanda tangan sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap korban-korban pelanggaran HAM di Indonesia selama ini dan menuntut agar negara mengusut tuntas dan menyelesaikan beragam pelanggaran HAM berat yang sampai hari ini juga belum selesai,” kata Prof. Masduki, Dekan FISB UII sekaligus Ketua PSAD UII, dalam sambutannya di awal acara.

Aksi ini merupakan bukti bahwa publik banyak masih terus menggedor negara agar tidak menutup dan segera menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia yang tak kunjung usai, bahkan kini muncul dugaan sejarah pelanggaran HAM ini hendak direkayasa dan ditutupi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia lewat pembuatan buku sejarah nasional versi pemerintah. Prof. Asvi Warman Adam mengatakan dalam teks orasinya berjudul Krisis Memori Kolektif  Pelanggaran Ham Berat Era Soeharto Sampai Kini (1965-2025), ini, “Yang menarik adalah tiga orang, Ketua Fadli Zon, Wakil Ketua Susanto Zuhdi dan anggota Agus Mulyana adalah tiga penanggungjawab buku Sejarah nasional. Bisa saja orang akan berpikir bahwa penulisan sejarah nasional dan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional November 2025 merupakan satu paket.” Ia menambahkan bahwa belakangan santer dibicarakan lewat seminar dan penerbitan buku dua tokoh yaitu Soemitro Djojohadikoesomo (ayah Prabowo) dan Margono Djojohadikoesoemo (kakek Prabowo). Apakah ketiganya (mantan mertua, ayah dan kakek) sekaligus akan menjadi Pahlawan Nasional? Ada adagium yang populer “Sejarah ditulis oleh pemenang”. Namun ternyata sejarah itu bukan hanya ditulis tetapi juga dikuasai sepenuhnya, lanjut Prof. Asvi.

Pada masa Orde Baru, rekayasa sejarah itu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Misalnya buku “40 Hari setelah keguagalan G30S” diterbitkan militer 40 hari setelah kejadian itu berlangsung. Sementara itu buku putih Sekneg “Pemberontakan G30S/PKI terbit tahun 1995. Di lain pihak gebrakan menulis ulang sejarah yang satu paket dengan pengangkatan pahlawan nasional dilakukan dalam satu tahun pemerintahan Prabowo. Mengapa demikian terburu-buru ? Jawabnya tentu sudah bisa diduga. Soeharto menerima kekuasaan melalui Supersemar 11 Maret 1966 baru berusia 45 tahun. Sementara itu Prabowo kini berumur 74 tahun. Jadi perlu berkejaran dengan waktu, siapa tahu.

“Bagaimana jalan keluar dari kemelut sejarah ini?” tanya Prof. Asvi. Prof. Asvi mengatakan, Antoon de Baets, menulis buku Responsible History (New York, Berghann Books, 2009). Di dalam buku ini ia menguraikan tipologi rekayasa sejarah atau penyalahgunaan sejarah (abuses of history) yang terjadi pada level heuristik, epistemologik dan pragmatik.  Sebagai jalan keluarnya ia menawarkan sejarah yang bertanggungjawab. Ada dua persyarakatan utama yaitu keakuratan (to find the truth) dan kejujuran (to tell the truth) dan Perguruan Tinggi harus menjalankan peran tetap bergerak dalam pemberdayaan masyarakat dalam merawat demokrasi dan HAM.

Qurrotul Uyun, Dekan Fakultas Psikologi UII, juga mengatakan dalam sambutannya, dalam konteks psikologi klinis yang fokus pada riset individu misalnya, trauma harus diselesaikan. Jika trauma tidak dibersihkan secara tuntas, itu akan mempengaruhi dan muncul kembali di kehidupan-kehidupan masa depan, baik di keturunan, maupun generasi berikutnya dari individu tersebut. Qurratul Uyun mengatakan, orasi kebudayaan Prof. Asvi ini juga dapat menjelaskannya dalam konteks sosial yang lebih besar.

Acara orasi kebudayaan yang akan dijadikan agenda rutin setiap akhir tahun oleh FISB UII ini mengusung “Perguruan Tinggi dan Krisis Memori Kolektif terhadap Pelanggaran HAM di Indonesia dari Era Soeharto hingga Jokowi” sebagai tema. Acara ini juga sekaligus dimaksudkan sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia dan peluncuran jurnal pengabdian masyarakat FISB UII yang bernama Community Transformation Review. Sebuah jurnal yang didedikasikan sebagai ruang diseminasi para akademisi dan aktivis sosial mengkomunikasikan aktivitas pemberdayaan dan gerakan sosialnya dalam bentuk jurnal. Selain orasi kebudayaan, acara ini turut mengajak segenap sivitas akademik UII, dan para hadirin yang terdiri dari beragam aktivis dan kampus di Yogyakarta untuk memanjatkan doa bersama, dipimpin Khairul Munzilin (Dosen Hubungan Internasional UII), atas korban-korban kerusuhan politik yang terjadi di Indonesia pada peristiwa Agustus-September 2025 dan semua korban kekerasan oleh negara.

 

Penulis: A. Pambudi Wicaksono

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Borong Prestasi dalam ISCDC 2025 di Malaysia

Empat mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) dari program sarjana berhasil memborong prestasi dalam gelaran Intervasity Student Creativity and Digital Competition (ISCDC) 2025 di Malaysia. Digelar pada 26 – 30 November 2025 di School of Tourism, Hospitality and Event Management – Universiti Utara Malaysia (UUM) kompetisi ini fokus pada keterkaitan budaya antara Indonesia dan Malaysia.

Dari konteks ASEAN Reimagined ajang ini mempertandingkan tiga kategori lomba, yaitu essay, short video, dan poster design. Salah satu delegasi dari Ilmu Komunikasi program sarjana yakni Muhammad Alfarezi Fadilah menyebut jika kesempatan ini menjadi pengalaman yang berharga dalam meningkatkan kemampuan analisisnya.

“Mengikuti ISCDC memberikan pengalaman berharga untuk berkompetisi di tingkat internasional sekaligus melatih kemampuan analisis, komunikasi, dan kolaborasi di bawah tekanan,” ucapnya.

Mahasiswa angkatan 2025 itu berhasil memborong prestasi dalam ketiga kategori. Beberapa kataegori tersebut adalah “Best Poster Design”, “Best Video Reel”, dan “Best Essay” Ia menyebut kunci dari keberhasilan ini berkat kerja sama tim yang solid serta inovasi.

“Persaingan yang ketat mendorong peserta untuk terus berinovasi dan berpikir strategis, sehingga setiap tantangan menjadi peluang untuk berkembang. Persaingan yang kuat dalam perlombaan dan kebutuhan koordinasi tim yang baik,” tambahnya.

Selain kompetisi, para delegasi yang tiba di Malaysia mendapatkan bekal melalui berbagai workshop antara lain writing, storytelling, multimedia, dan culinary skills. Para delegasi juga berkesempatan menjelajah Padang Besar sebuah kota kecil di Malaysia yang berbatasan dengan Thailand.

Daftar Delegasi dan Prestasi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII dalam ISCDC 2025

  1. Muhammad Alfarezi Fadilah – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Program Sarjana angkatan 2025
    Best Poster Design Competition – ‘Hand in Unity’
    Best Video Reel – ‘Beyond Just Friends’
    2nd Winner Prize Essay – ‘Explore, Eat, Enjoy Padang Besar’s Best Experience’
  2. Akhsya Asyfa Azieda – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Program Sarjana angkatan 2023
    Best Visual Harmony Poster – ‘Harmoni Serumpun’
    Best Intercultural Moment Video – ‘Beyond Borders, We Found Us’
  3. Thrya Abdulraheem Motea Al-aqab – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, International Program Communication (IPC) Batch 2024
    3rd Winner Prize Essay – ‘Sintok Serenity of Diversity at Malaysia Utara University’
  4. Arif Ardiansyah – Mahasiswa Ilmu Komunikasi, International Program Communication (IPC) Batch 2025
    Best Poster Concept and Message – ‘Cross Road’
    First Prize Winner of the travel feature article competition

Salah satu dosen dari Prodi Ilmu Komunikasi UII, Dr. Herman Felani yang aktif melakukan pendampingan kepada para delegasi menyebut jika kompetisi yang diikuti dua negara ini membawa isu yang begitu relate dengan kedua negara.

“Intinya adalah kita melakukan kompetisi bersama dengan mahasiswa di Universiti Utara Malaysia terkait isunya tentang koneksi dua negara, Indonesia dan Malaysia,” ujar Dr. Herman Felani.

Proses yang tak mudah serta waktu persiapan yang singkat menjadi tantangan, namun berkat kolaborasi dan kreativitas para delagasi semua dapat dilalui dengan lancar dan pulang dengan deretan prestasi.

“Tantangan terbesar adalah dalam waktu sangat singkat, tim itu harus berkolaborasi sekaligus berkompetisi untuk membuat karya mereka dengan tema yang itu, dengan penjurian yang ketat di Universiti Utara Malaysia,” tandasnya.

Prestasi yang diraih oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam ISCDC 2025 menambah deretan prestasi tingkat internasional untuk Universitas Islam Indonesia tahun ini.

Sosialisasi dan Pembekalan Magang 2025 ‘Becoming a Young Professional Preparing Yourself for Internship Challenges’

Magang menjadi ruang mahasiswa tingkat akhir untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya di dunia kerja. Pemilihan kerja magang disesuaikan dengan keilmuan para mahasiswa, untuk mendukung hal ini Jurusan Ilmu Komunikasi, UII menggalar “Sosialisasi dan Pembekalan Magang 2025” untuk mahasiswa angkatan 2025.

Mengambil tema Becoming a Young Professional Preparing Yourself for Internship Challenges, kegiatan ini dilaksanakan pada 22 November 2025 di Ruang Auditorium, Lt. 5 Gedung KH. A Wahid Hasyim. Menghadirkan tiga pembicara dengan latar belakang berbeda, harapannya mahasiswa semakin memantapkan diri atas pilihan-pilihan magang yang akan dilajalankannya.

Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, UII Muzayin Nazaruddin, S.Sos., M.A., Ph.D. menyampaikan kepada mahasiwa angkatan 2022 untuk menunjukkan potensi terbaik saat menjalankan magang, karena tak sedikit karir dimulai dari proses tersebut.

“Mahasiswa Ilkom sebaiknya menyelesaikan skripsi terlebih dahulu sebelum magang agar bisa fokus penuh dan menunjukkan potensi terbaik selama magang. Dengan begitu, mereka dapat memperoleh rekomendasi kuat, membangun kepercayaan diri, dan membuka peluang karier yang solid, karena magang adalah masa krusial yang menentukan kelulusan dan awal karir,” ujarnya.

Peluang Magang untuk Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Tiga pembicara didtangankan, mulai dari pemerintahan, industri kreatif, hingga perusahaan yang bergerak dalam industri kecantikan.

Noer Cholik, Staf Divisi Pengelolaan Informasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyampaikan tugas utama dalam penanganan Gunung Merapi. Beberapa peluang magang untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi antara lain pembuatan konten kreatif, komunikasi publik, event edukasi, komunikasi risiko, hingga analisis infokom.

“Ngomongin Gunung Merapi bukan hanya soal gunungnya, tapi juga penghidupan dan budaya masyarakat di sekitarnya. Strategi mitigasi harus tepat dan informasi diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami, di sinilah Ilmu Komunikasi menjadi kunci. Warga punya kesiapsiagaan tanpa kepanikan, dan komunikasi publik wajib melatih penanggulangan bencana. Di era informasi yang berlimpah, mahasiswa magang punya peluang besar untuk terlibat dalam konten kreatif, edukasi, komunikasi risiko, dan analisis informasi, dengan keberanian terjun langsung ke masyarakat,” ungkanya.

Pembicara kedua adalah Farell Adhitama, Human Resource Manager di Kenapa Creative. Bergerak dalam agency creative, ia menyampaikan bagaimana membuat CV yang bisa dilirik oleh company.

“Mahasiswa Ilmu Komunikasi harus memaknai setiap karya secara holistic demi memuaskan klien, bukan sekadar membuat campaign. Ada berbagai peran penting dalam tim, seperti strategic director, content creator, dan art director, yang menawarkan peluang sesuai minat, terutama bagi yang fokus pada visual. Dalam membangun CV dan portofolio, perlu menonjolkan konteks, masalah, solusi, dan hasil, serta mengedepankan riset, curiosity, inisiatif, dan growth mindset agar pengalaman magang lebih bermakna dan relevan,” pesannya kepada mahasiswa.

Sementara sesi terakhir disampaikan oleh Annisa Amalia Ramadhani, Head of People and Culture dari PT. AVO Innovation Technologhy menjelaskan detail program magang di perusahaanya, yakni Future League Internship Program (FLIP). Industri yang bergerak dalam bidang kecantikan ini selalu melakukan inovasi, sementara ide-ide segar dari Gen Z menjadi salah satu support terbesar dalam setiap kesuksesannya.

“Program Magang Future League Internship Program (FLIP) yang sudah berjalan delapan batch dengan 10-15 posisi memberikan bimbingan awal sebelum penempatan di divisi masing-masing. Program ini dipertahankan karena kedekatan CEO dengan mahasiswa, memungkinkan ide-ide segar kepada perusahaan dan keberagaman yang mengikuti tren saat ini. Di tengah persaingan, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang relate dengan marketing communication dari berbagai brand di AVO bahkan dapat bekerja dalam satu tim dengan saya,” tandasnya.

Kunjungan dari Ilmu Komunikasi UMS ‘Benchmarking Pengelolaan Prodi hingga KTW Mahasiswa’

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), menerima kunjungan dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kunjungan pada 21 Agustus 2025 tersebut secara spesifik bertujuan untuk benchmarking pengelolaan program studi, strategi peningkatan kelulusan tepat waktu mahasiswa (KTW) mahasiswa, luaran skripsi berbasis karya, hingga pengelolaan laboratorium.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., M.Si., Ph.D menyambut kedatangan rombongan dari UMS. Harapannya pertemuan ini mampu membuka berbagai peluang kolaborasi.

“Kita sama-sama belajar proses pertemuan ini membuka peluang kolaborasi yang strategis dan saling melengkapi. Tidak ada kampus yang serba sempurna, oleh karena itu kita perlu berdiskusi untuk membuka peluang kerja sama baik dalam aspek praktis maupun akademis, serta saling melengkapi kekurangan masing-masing. Beberapa inovasi dan keberhasilan lulusannya dapat menjadi bahan pembelajaran bersama,” ungkapnya.

Merespon sambutan, Sidiq Setyawan, M.I.Kom selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMS memaparkan situasi di lembaganya. Khususnya terkait proporsi mahasiswa dan dosen, serta berbagai hambatan dalam kurikulum dan pengelolaannya.

“Kami memiliki 21 dosen (homebas), beberapa di antaranya sedang dalam proses melanjutkan studi,” jelasnya.

“Fakultas Komunikasi dan Informatika mendirikan Pusat Studi Informatika Sosial yang terbuka untuk kolaborasi riset, pengabdian masyarakat, skripsi, serta revisi kurikulum setiap lima tahun sekali guna mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan informasi,” tambahnya.

Strategi Jurusan Ilmu Komunikasi Mempersiapkan KTW Mahasiswa

Poin dalam diskusi tersebut bertujuan untuk mengaplikasikan berbagai strategi kelulusan tepat waktu mahasiswa. Dr. Zaki Habibi, sebagai Kaprodi Ilmu Komunikasi UII menjelaskan secara detail penanganan persoalan tersebut.

Dimulai dengan proporsi dosen dan staf dengan berbagai keahlian termasuk sistem perekrutannya. Keterlibatan staf dalam kerja-kerja pendampingan mahasiswa serta pengelolaan laboratorium dan PDMA Nadim yang mendukung tugas akhir mahasiswa.

Di tengah regulasi dari pemerintah yang dinamis, kurikulum di Jurusan Ilmu Komunikasi UII mengacu pada kurikulum 2023.

“Kami terus belajar dan bertumbuh dengan pendekatan strategis dan kultural sekaligus, serta memahami logika dan regulasi kurikulum dan akreditasi yang kerap berubah,” jelasnya.

Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan zaman, hasilnya dapat diketahui melalui tracer study (survei). Jika pada beberapa institusi menempatkan magang sebelum tugas akhir, Jurusan Ilmu Komunikasi UII justru menempatkan di akhir. Selain membuat mahasiswa lebih fokus dengan tugas akhir, magang yang bersifat praktik kerap membuat mahasiswa lanjut untuk melakukan kerja profesional.

“Dalam merancang program dan regulasi, kami jujur bahwa kurikulum kami masih bersifat trial dan harus adaptif serta dapat disesuaikan. Kurikulum 2023 menghadirkan perubahan alur mata kuliah, namun bukan berarti substansinya hilang. Kami menempatkan skripsi dan magang di bagian akhir. Perubahan dari konsentrasi menjadi bidang minat ini kami evaluasi melalui hasil tracer study untuk memastikan cakupan kurikulum sudah memadai,” paparnya.

Strategi lainnya adalah menciptakan jalur kelulusan yang beragam mulai dari skripsi, projek karya komunikasi, karya bersama mitra internasional, penulisan artikel jurnal, hingga magang yang laporannya setara skripsi. Hal itu dilakukan untuk memperluas pilihan dan minat mahasiswa.

Usai berdiskusi, rombongan UMS diajak berkeliling dan melihat langsung bagaimana fasilitas pendukung untuk mahasiswa, mulai dari PDMA Nadim dengan berbagai karya dan koleksi, laboratorium, hingga ruang audio visual.

Pidato Pengukuhan Prof. Subhan Afifi: Komunikasi Publik Bidang Kesehatan ‘Kajian Empiris dan Arah Strategis di Era Digital

Komunikasi publik dalam bidang kesehatan di Indonesia masih termarjinalkan. Tak populer seperti komunikasi politik maupun ekonomi. Padahal komunikasi publik merupakan kunci pada mitigasi krisis. Gagasan ini tertuang dalam pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Subhan Afifi, S.Sos., M.Si pada 14 Agustus 2025 di Auditorium Kahar Mudzakir UII.

Beliau merupakan dosen sekaligus Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, UII yang beberapa tahun terakhir fokus dalam kajian komunikasi publik bidang kesehatan. Dalam pidatonya yang bertajuk Komunikasi Publik Bidang Kesehatan ‘Kajian Empiris dan Arah Strategis di Era Digital kegagalan komunikasi publik pada pandemi Covid-19 memicu ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah.

“Komunikasi publik merupakan pilar penting dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk menjaga kesehatan bersama. Namun, meskipun krisis kesehatan kerap muncul akibat kegagalan komunikasi, kajian komunikasi publik di Indonesia masih termarjinalkan, kalah dominan dibandingkan ekonomi politik dan health communication. Padahal, pengembangan kajian ini sangat krusial untuk menghadapi persoalan kompleks kesehatan secara efektif,” ujar Prof. Subhan Afifi.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tahun 2020 hingga 2022 menjadi krisis besar yang tak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik. Di Indonesia, tantangan komunikasi publik selama pandemi menunjukkan adanya pesan kontradiktif, ketidakkonsistenan, campur tangan politik dan ekonomi, hingga ketidakmampuan pemerintah membangun narasi yang efektif dan empatik.

“LP3ES (2020) mencatat adanya 37 pernyataan menyesatkan atau kontradiktif pada fase awal pandemi, yang berdampak pada erosi kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Kajian ini tak sekedar pertukaran pesan, melainkan sarana membangun kesadaran partisipasi masyarakat dalam mengubah perilaku kesehatan. Di era digital, komunikasi keseahatan mengalami berbagai tantangan seperti infodemic (terlalu banyak informasi), fragmentasi narasi, hingga misinformasi di media online. Dalam kondisi tersebut dibutuhkan solusi yang memadukan komunikasi risiko, literasi digital, hingga partisipasi masyarakat.

Prof. Subhan Afifi bersama tim telah melakukan kajian empriris bidang komunikasi kesehatan selama lima tahun terakhir. Penelitiannya telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi, jurnal nasional terakreditasi, dan prosiding konferensi internasional ini mengkaji perilaku pencarian informasi kesehatan di media sosial, khususnya terkait stunting dan kesehatan perempuan Gen Z. Studi menyoroti pentingnya kredibilitas sumber, kemudahan akses, serta adaptasi pesan dengan budaya lokal.

Penelitian lain fokus pada perilaku pencegahan COVID-19, penggunaan media digital dalam komunikasi kesehatan, dan kepuasan pengguna layanan kesehatan digital, menekankan peran kualitas komunikasi dokter-pasien dan kepercayaan pada platform.

Pandemi COVID-19 memacu perubahan strategi komunikasi kesehatan ke media digital yang efektif bila dirancang kontekstual dengan teknik persuasi emosional dan visual. Model perilaku kesehatan yang dikembangkan menggabungkan faktor psikologis, sosial, dan teknologi dalam memahami perilaku pencegahan dan pencarian informasi.

Secara keseluruhan, kajian ini menegaskan bahwa komunikasi kesehatan di era digital memerlukan sinergi antara riset empiris, adaptasi budaya, dan inovasi teknologi, sebagai dasar strategi komunikasi kesehatan berkelanjutan, terutama di negara berkembang.

Menjawab tantangan komunikasi publik bidang kesehatan, berikut beberapa rekomendasi kebijakan yang ditawarkan.

Poin-Poin Rekomendasi Kebijakan

  1. Pemanfaatan Ekosistem Digital:

Optimalisasi media sosial sebagai kanal utama informasi kesehatan dengan kurasi ketat dan mekanisme mitigasi disinformasi berkelanjutan.

  1. Integrasi Behavioral Insights:

Rancang pesan komunikasi yang tidak hanya informatif tapi juga mampu membentuk keyakinan dan memotivasi tindakan sehat berdasarkan wawasan perilaku.

  1. Standarisasi Layanan Digital:

Perkuat kualitas komunikasi profesional di layanan kesehatan digital dengan menjaga sentuhan humanis untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pasien.

  1. Penguatan Kapasitas Riset dan Inovasi:

Dukungan kebijakan untuk memperkuat riset komunikasi kesehatan digital, inovasi, dan kolaborasi internasional agar relevan secara lokal dan global.

  1. Pemanfaatan Figur Publik Berbasis Etika:

Gunakan figur publik kredibel dalam kampanye kesehatan dengan prinsip etika komunikasi dan kesinambungan pesan.

  1. Permanenisasi Strategi Cyber PR:

Jadikan strategi cyber public relations sebagai bagian permanen dalam komunikasi kesehatan dan krisis untuk interaksi dua arah yang berkesinambungan antara pemerintah dan publik.

  1. Pengembangan Kurikulum Lintas Disiplin:

Perkuat pendidikan komunikasi kesehatan di perguruan tinggi dengan pendekatan lintas disiplin (komunikasi, kesehatan masyarakat, kedokteran, TI, psikologi, kebijakan publik).

  1. Pembentukan Pusat Studi Komunikasi Kesehatan:

Dirikan pusat riset, pelatihan, dan advokasi yang menjadi penghubung antara dunia akademik, pemerintah, praktisi media, dan sektor swasta.

Visiting Professor: Method Workshop Arts-based Research

Pertanyaan sederhana dalam workshop kedua “apakah seni mampu menyadi alat dalam penelitian akademik?” jawabannya bisa. Menarik untuk ditelisik.

Sesi diskusi bersama Nico Carpentier, Extraordinary Professor in Media and Communication Studies, Centre for Media Studies, Institute of Communication Studies and Journalism, Faculty of Social Sciences, Charles University, Prague, Czech Republic mengiyakan bahwa kajian ini dibahas mendalam dalam art-based research.

Workshop art-based research fokus pada penelitian berbasis seni. Di Jurusan Ilmu Komunikasi UII, sebagian dosen telah melakukannya. Hasilnya bermacam-macam mulai dari film, buku foto, dan kekaryaan lainnya.

Art-based research sebuah pendekatan yang kerap disebut pergeseran-artistik di dunia akademik lantaran seni dan penelitian saling beririsan. Seolah menantan metode tradisional, art-based research menawarkan untuk memperluas pengetahuan dengan melampau rasionalitas (unsur perasaan, emosi, pengalaman indrawi).

Pendekatan ini menerima kompleksitas dan hibriditas. Disaat bersamaan peneliti harus menyeimbangkan perannya sebagai seniman sekaligus akademisi.

“Arts-Based Research is not only about knowledge but about feeling, experience, and the complexity of being both artist and academic—interacting without hierarchy, embracing hybridity as a source of insight,” jelas Nico.

Seni menjadi alat untuk penyelidikan dan komunikasi, bahasa berperan untuk mengekspresikan pengalaman manusia. Arts-based research menyoroti pentingnya interaksi, kolaborasi, dan kerendahan hati (tidak ada posisi superior).

Dalam penerapannya, art-based research digunakan dalam berbagai tahap mulai pengumpulan data, analisis, interpretasi, hingga presentasi (baik dalam riset seni maupun ilmu sosial). Biasanya hasilnya tentu adalah fitu-fitur estetika.

Dengan menggabungkan kepekaan artistik dan ketelitian akademik, mampu memberikan pemahaman dan representasi yang baru.

Meski nampaknya menarik, art-based research memiliki tantangan terutama soal ekspektasi politi dan epitemologis, hingga pengembangan keterlibatan kritis.

Tujuan Art-based Research

  1. Mengkomunikasikan hasil akademik menggunakan cara non tekstual
  2. Menjangkau audiens non-akademis
  3. Merangsang perdebatan masyarakat

Perbedaan Art-Based Research dengan Metode Lainnya

Quantitative Qualitative Art-based
Numbers Words Stories, images, sounds, scenes, sensory
Data discovery Data collection Data or content generation
Measurement Meaning Evocation
Tabulating writing (Re)presenting
Value neutral Value laden Political, consciousness-raising, emancipation
Realiability Process Authenticity
Validity Interpretation Truthfulness
Prove/convince Persuade Compel, move, aesthetic power
Generalizability Transferability Resonance
Diciplinary Interdisciplinary Transdisciplinary

Usai workshop, para peserta yakni para dosen dan staf Jurusan Ilmu Komunikasi UII diajak berkeliling untuk menyaksikan Photomontage Exhibition: The Construction of Europeanity in the House of European History by Nico Carpentier.

Workshop Art-based Research dalam sesi visiting professor dihelat oleh Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UII.