,

Scroll, Swipe, Repeat: Saat Video Pendek Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

Scroll, Swipe, Repeat: Saat Video Pendek Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

“Sebentar aja kok cuma lima menit.”

Kalimat itu mungkin terdengar familiar. Kita sering kali membuka TikTok saat menunggu dosen masuk kelas, menonton Instagram Reels pas jam istirahat, atau menikmati Youtube Shorts sebelum tidur. Namun, tanpa kita sadari, yang awalnya cuma lima menit malah berubah jadi tiga puluh menit, bahkan satu jam. Jempol terus bergerak, layar terus berganti, dan algoritma seolah tahu persis video apa yang ingin kita lihat berikutnya.

Inilah tren baru digital. Video pendek sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi, tempat belajar sesuatu, hingga tempat untuk membangun identitas diri. Dalam hitungan detik, seseorang bisa tertawa karena video komedi, memahami materi kuliah, menemukan rekomendasi tempat makan, bahkan memutuskan membeli sebuah produk.

Menonton video berdurasi pendek saat ini sudah menjadi kebiasaan dan fenomena bagi Generasi Z. Data dari YouGov Surveys menunjukkan bahwa pada rentang usia 16-24 tahun, konsumsi video pendek mencapai 85% setiap minggu. Di Indonesia sendiri, TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi tiga platform yang paling sering digunakan oleh masyarakat, terutama generasi muda. Tak heran jika video berdurasi kurang dari satu menit kini menjadi tren baru di era digital.

Mengapa video pendek begitu sulit ditinggalkan? Jawabannya simple: cepat, ringan, dan selalu relevan. Kita tidak perlu membaca artikel panjang atau menonton video berdurasi puluhan menit untuk mendapatkan informasi. Cukup beberapa detik, lalu lanjut ke video berikutnya. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada risiko yang ditimbulkan.

Karena mengejar durasi singkat, banyak informasi yang disampaikan terpotong-potong. Sebuah isu yang sebenarnya kompleks menjadi hanya satu menit, bahkan kurang. Akibatnya, konteks sering kali hilang dan tidak sedikit pula informasi yang belum terverifikasi menyebar lebih cepat daripada proses klarifikasinya. Hoaks, potongan video tanpa penjelasan, hingga judul sensasional menjadi tantangan yang semakin sering ditemui di media sosial.

Meskipun begitu, bukan berarti video pendek hanya membawa dampak negatif. Justru banyak kreator berhasil memanfaatkan format video pendek sebagai media edukasi yang efektif. Mulai dari dosen yang menjelaskan materi dalam satu menit, dokter yang membagikan tips kesehatan, hingga pelaku UMKM yang mempromosikan produknya melalui konten kreatif. Bagi mahasiswa, platform ini juga menjadi tempat atau sarana untuk menunjukkan kemampuan, membangun portofolio, hingga memperluas koneksi melalui personal branding.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, perubahan ini cukup menarik untuk dilihat. Cara kita berkomunikasi kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh apa yang kita pilih, tetapi juga oleh algoritma yang memilihkan informasi untuk kita. Apa yang muncul di timeline bukanlah gambaran utuh tentang dunia, melainkan hasil perhitungan sistem berdasarkan kebiasaan kita mengklik, menyukai, dan membagikan konten. Tanpa kita sadari, algoritma ikut membentuk cara kita memahami realitas.

Di sini pentingnya literasi digital. Menjadi pengguna media saat ini bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta memahami bahwa tidak semua konten yang viral selalu benar. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang begitu cepat.

Pada akhirnya, video pendek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia hanyalah sebuah teknologi yang menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan. Yang menentukan manfaatnya bukanlah algoritma atau platformnya, melainkan cara kita menggunakannya. Sebab di era ketika satu sentuhan jempol dapat membawa kita ke ratusan video berbeda, mungkin yang paling kita butuhkan bukan internet yang lebih cepat, melainkan kesadaran untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu memilih informasi dengan lebih bijak.

 

Penulis: Alfan Faeruza

Editor: Meigitaria Sanita