Reading Time: 2 minutes

Pada 24 Juli 2020, Sorlihah Pohleh hadir sebagai pembicara di acara bincang-bincang Teatime di episode lima. Acara kali ini yang bertema Being International Student and How to Conquer The World. Sorlihah, yang  berasal dari Pattani, Thailand, ini adalah alumni Program Studi Ilmu Komunikasi UII. Melalui live di Instagram Komunikasi Internasional Program (@ip.communication.uii), mahasiswa angkatan 2015 ini membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa asing di UII dan cara ia beradaptasi di lingkungan baru.

Kuliah di luar negeri adalah salah satu impian Sorlihah. Awalnya ia sama sekali tidak terpikir untuk memilih kuliah di Indonesia. Sorlihah pada saat itu telah menjadi mahasiswa di Fatoni University (FTU) Thailand. Ia mendapatkan informasi tentang beasiswa kuliah di luar negeri dari salah satu dosennya. Kebetulan ada penawaran beasiswa dari UII yang baru menjalankan program beasiswa internasional.

Sorlihah pun akhirnya memberanikan diri mencoba. Ia mengikuti saran mendaftar beasiswa di UII. Pada awalnya ia bimbang memilih program studi ekonomi atau komunikasi. Namun, karena jurusan komunikasi termasuk jurusan yang langka di Thailand, dosennya pun kembali menyarankan Sorlihah untuk memilih Komunikasi. Selain itu, keputusannya untuk memilih UII karena lingkungan dan budaya kampus yang baik. Penerapan budaya islam di UII seperti sholat berjamaah, mirip dengan budaya yang ada di Pattani, Thailand. Ia merasa lebih aman dan mudah beradaptasi.

Daerah Pattani identik dengan Melayu. Bahasa melayu adalah bahasa keseharaian. Letak Pattani yang berada di bagian Thailand Selatan membuat penduduk lebih jarang menggunakan bahasa Thai. Hal ini justru yang memermudah Sorlihah dalam memelajari bahasa Indonesia selama di UII. Pasalnya, bahasa Melayu tak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Selain itu, ia juga berusaha aktif saat berkumpul dengan teman-teman agar bisa cepat menguasai bahasa Indonesia dan tidak lagi terkendala bahasa.

Sorlihah mengaku tidak begitu banyak menemui kendala selama tinggal di Indonesia. Terutama karena keramahan orang Indonesia, khususnya warga Jogja. “Selama di Indonesia aku menikmati saja apa yang ada. Betah. Karena orang Indonesia ramah, jadi nggak kesulitan untuk beradaptasi dan menghadapi orang-orang,” jelasnya dalam Instagram live tersebut.

Tinggal jauh dari orang tua tentu mengubah banyak hal. Seperti harus mengatur pengeluaran sendiri dan menghadapi homesick. Ia mengatakan bahwa ia biasanya akan terkena homesick ketika ada masalah atau memikirkan uang saku. Meski begitu, ia cepat bisa mengatasinya dengan bertemu teman-teman yang sedang sama-sama berjuang.

Berbekal nasihat ibunya, Sorlihah pun menjadi lebih mantap untuk mencoba hal baru selama di Indonesia, “Untuk menghadapi hal baru, aku ingat kata ibu untuk coba aja dulu. Coba aja dulu untuk tahu itu baik atau tidak. Jadi nanti bisa menyimpulkan mana yang baik dan enggak-nya.”

Berlanjut ke: Teatime 5: Adaptasi Bahasa, Makanan, dan Pertemanan di Luar Negeri

——–

Penulis: Fitriana Ramadhany (Mahasiswa Komunikasi UII, Magang di International Program of COmmunication Science Department UII)

Penunting: A. Pambudi W.