Tag Archive for: New Bulgarian University

AI

Artificial Intelligence (AI) selalu dianggap sebagai teknologi revolusioner. Menariknya, AI telah diprediksi puluhan tahun lalu oleh teori budaya. Pernyataan ini dibedah dalam International Seminar “Contesting (New) Meanings: AI and Creative Industries” oleh Prof. Kristian Bankov pada 13 Februari 2026 di Gedung RAV Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Profesor dari New Bulgarian University itu menyebutkan bahwa kecerdasan buatan modern mencerminkan cara makna selalu bekerja dalam budaya. Dipertegas dengan teori Umberto Eco, seminar ini memaparkan budaya, bahasa, dan kecerdasan buatan semuanya beroperasi melalui jaringan yang dinamis.

Umberto Eco menantang model strukturalis tentang makna, lalu mengusulkan budaya sebagai ensiklopedia. Sistem semantic luas, tanda-tanda memperoleh makna lewat koneksi dengan tanda lain.

“We could consider every cultural unit as emitting given wave-lengths which put it in tune with a limited number of other units and the possibilities of attraction or repulsion change in time,” ucap Kristian Bankov.

Pernyataan tersebut selaras dengan model bahasa AI modern, bukan menghafal makna melainkan menghubungkan statistik kata-kata. “This cycle repeats billions of times, sculpting the landscape into a form that captures grammar, semantics, world knowledge, and reasoning patterns,” tambahnya.

AI tidak menghimpun dan menyimpan bahasa layaknya kamus; AI memetakan bahasa seperti jaringan. Kata-kata berada dalam ruang dimensi tinggi; maknanya muncul dari kedekatan dan konteks. Gagasan Umberto Eco mempercayai bahwa makna bersifat rasional dan dinamis.

Dalam industri kreatif, AI terintegrasi dalam banyak hal, misalnya produksi film, iklan, penciptaan karya tulis, hingga desain grafis. Kristian Bankov menyebutnya sistem generative mendefinisikan sebagai teknologi. “Learn patterns from data and produce content based on those patterns,” ucapnya.

Kreativitas AI berbeda dengan kreativitas manusia, imajinasi manusia bergantung pada pengalaman hidup, emosi, dan persepsi subjektif. Sebaliknya, AI menghasilkan keunikan lewat pola data yang besar. Hasilnya, AI tak menggantikan manusia melainkan partner kolaborasi, kreativitas yang dibantu AI menggabungkan komputasi dengan revisi manusia.

“Restoring a proper balance between the cultural realm and the commercial realm is likely to be one of the most important challenges of the coming Age of Access,” tambahnya.

Kristian Bankov memberikan saran kepada mahasiswa untuk tetap bertanggung jawab dalam menggunakan AI. Meningkatkan literasi adalah inti di era modern. AI bukanlah jalan pintas, hasilnya akan mendalam ketika mahasiswa berinteraksi lewat informasi, bukan hanya pasif. Di tingkat tertentu AI dapat digunakan untuk kritik, simulasi, dan desain penelitian. Selain itu, mahasiswa perlu melakukan verifikasi atas pertanyaan dan jawaban.

“Students should use AI flexibly and responsibly as a supportive learning partner for exam preparation, creativity, and skill development by applying it according to their knowledge level, verifying its outputs, and using it to strengthen understanding rather than just memorization,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Visiting Professor: Prof. Kristian Bankov dari New Bulgarian University Bimbing Dosen dan Mahasiswa Mikom UII

Visiting professor kali ini menghadirkan Prof. Kristian Bankov dari New Bulgarian University pada 12 Februari 2026 di Prodi Ilmu Komunikasi UII. Kedatangannya menjadi momen akademik yang penuh insight bagi para dosen dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UII, pasalnya sesi ini merupakan mentorship programme untuk rencana riset yang tengah dilakukan civitas akademika di lingkungan institusi.

Berbagai topik riset dikonsultasikan, mulai dari isu gender dan feminisme hingga narasi kontra-Islam di negara Barat. Bankov memberikan feedback langsung dalam sesi ini. Dimulai dengan riset representasi media terhadap aktivisme lingkungan perempuan yang tengah digarap oleh salah satu dosen, yakni Lutviah, S.I.Kom., M.A.

Bankov memberikan respons yang fokus terhadap perubahan sosial yang secara signifikan mesti dilakukan secara kolaboratif antara organisasi nonpemerintah (NGO) dengan akademisi. NGO dianggap memiliki pengetahuan mendalam terhadap praktik lapangan lewat komunikasi publik, advokasi, dan evaluasi.

Pernyataan bahwa diskriminasi gender menjadi masalah yang meluas, meskipun feminis telah mengkritik struktur kekuasaan dan menekankan kesetaraan hukum. Fokus akademisi adalah mengupayakan gagasan tersebut menjadi upaya yang memberi dampak yang lebih kuat daru teori dengan berbasis bukti.

“Gender discrimination remains widespread, and while strands of American feminism—from liberal to radical—have challenged it, a stronger impact can be achieved by combining rigorous scientific research with interdisciplinary PhD study and NGO-driven community instruments in communication, advocacy, and program evaluation to generate scalable, evidence-based solutions,” Bankov said.

Topik selanjutnya datang dari mahasiswa MIKOM, yakni Muhammad Taqi Abdurahman. Ia berencana melakukan riset tentang narasi dan algoritma kontra terhadap Islam. Merespon topik tersebut, Bankov menekankan persepsi Barat terhadap Islam tidak statis, ada yang positif, netral, dan negative. Semua berubah seiring perkembangan sosial, politik, dan media. Meski demikian, ada beberapa upaya menuju pemahaman seimbang.

“Western perceptions of Islam are complex and evolving, shaped by diverse voices, social media influence, and political movements—especially populist agendas that sometimes use Islamic issues for political purposes—while many parts of European and American society increasingly support multiculturalism, integration, and a more balanced understanding,” jelas Bankov.

Dalam melakukan riset ini, Bankov menyarankan agar pendekatan dilakukan secara berimbang dan bertanggung jawab. Hal ini dilakukan untuk mencegah pemanfaatan isu Islam untuk kepentingan politik, mengurangi stereotip negatif, dan membangun pemahaman publik yang lebih toleran.

“Discussions about Islam in Western societies should be approached with balance, media literacy, intercultural dialogue, and inclusive policies to prevent political manipulation, reduce stereotypes, and encourage a more informed and tolerant public understanding,” ucap Bankov memberikan saran.

Penulis: Meigitaria Sanita

Prof Kristian Bankov

Kajian semiotik ternyata berperan besar dalam proses perkembangan brand hingga membentuk consumer culture.

Untuk mengungkap bagaimana mengoptimalkan kerja semiotik dalam sebuah brand, Program Studi Ilmu Komunikasi UII bekerja sama dengan International Association for Semiotic Studies (IASS-AIS) menggelar international workshop bertajuk “Semiotics of Brands and Consumer Culture” pada 22 Agustus 2023 di Gedung Lantai 3 Prodi Ilmu Komunikasi UII dengan menghadirkan Prof. Kristian Bankov dari New Bulgarian University yang sekaligus Secretary General IASS-AIS.

IASS-AIS merupakan asosiasi internasional yang berurusan dengan studi tanda dan semiotik di seluruh dunia dengan berbagai budaya yang berdiri sejak 1969. Beberapa nama akademisi pendirinya adalah Algirdas Julien Greimas, Roman Jakobson, Julia Kristeva, Emile Benveniste, Thomas A. Sebeok, dan Jurij M. Lotman.

Tujuan asosiasi tersebut antara lain mempromosikan integritas semiotik sebagai penelitian ilmiah, memperkuat dan memperluas hubungan internasional dalam bidang semiotik, berkolaborasi dengan asosiasi sejenis, menyelenggarakan konferensi dan lokakarya baik di tingkat nasional maupun internasional, dan menerbitkan jurnal internasional.

Salah satu pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni, Muzayin Nazaruddin, S.Sos., MA, yang fokus mempelajari kajian semiotik menginisiasi workshop ini lantaran masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Antusiasme datang dari berbagai penjuru negeri, workshop digelar secara daring dan luring.

Semiotik

International Workshop ‘Semiotics of Brands and Consumer Culture’,

Pada pembukaan Bankov menegaskan kajian semiotik yang berperan besar pada Ilmu Komunikasi, yang membentuk consumer culture.

Semiotics is very important for communications science,” sebutnya saat membuka workshop.

Salah satu alasan konsumen memutuskan membeli produk dari sebuah brand karena promosi yang kreatif melalui storytelling dan narrative value.

Consumer buy more product which catchy or narrative value,” tambahnya.

Sebagai studi kasus, didatangkan sebuah brand lokal milik Meika Hazim yakni Cokelat nDalem dengan keunggulan konsep pemberdayaan petani lokal di Yogyakarta. Selain itu, Cokelat nDalem berfokus pada cokelat dengan citarasa khas Nusantara seperti produk cokelat es cincau jeruk dan cokelat es rujak.

Sebelumnya, pada sesi pertama juga diungkap bagaimana brand Samsung menguasai pasar global melalui peran para publik figur di Korea Selatan dengan berbagai strategi. Semuanya mampu dijelaskan dengan konsep “Brand Mythology System”, mulai dari world view and scared beliefs, brand agent, brand narrative, hingga brand culture.

Workshop

Studi kasus brand cokelat nDalem milik Meika Hazim dalam kajian semiotik

Workshop kali ini seolah memberi angin segar tentang kajian semiotik yang awalnya hanya dianggap sebagai gagasan akademis yang kurang aplikatif. Menurut Dr. Herman Felani Tandjung yang berkesempatan menjadi moderator menyebut bahwa kajian semiotik sangat aplikatif dan fungsional.

“Jadi workshop kemarin itu sangat menarik. Jika selama ini kita hanya tahu kajian semiotik sifatnya kritis saja, ternyata kajian semiotik juga sangat fungsional dan bisa diterapkan untuk membangun sebuah brand. Bedanya workshop semiotik ini dengan workshop semiotik lain adalah ini benar-benar aplikatif. Meika Hazim sebagai pemilik brand Cokelat nDalem, dia merasa banyak manfaat, tidak cuma stop dalam kajian akademik tapi juga untuk praktisi yang aplikatif,” sebutnya.

Untuk mengetahui secara detail lokakarya“Semiotics of Brands and Consumer Culture” dari Prof. Kristian Bankov, Anda dapat menyimak rekamannya di YouTube Ikonisia TV melalui link berikut.