Tag Archive for: kuliah pakar

Kuliah pakar
Reading Time: 3 minutes

Kuliah di luar kelas menjadi momen yang menarik bagi mahasiswa, apalagi bertemu dengan praktisi yang ahli dalam kajian ilmu yang sedang kita bahas. Semua akan relate antara teori dan praktik. 

Beberapa hari lalu tepatnya pada Rabu, 21 Juni 2023 mata kuliah Perencanaan dan Strategi Komunikasi yang diampu oleh Dr. Herman Felani telah melakukan kuliah pakar di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Mahasiswa berkeliling melihat warisan budaya dan langsung bertanya dengan ahlinya yakni Dr. Ayu Cornellia bersama tim. 

Dr. Ayu Cornellia adalah founder perusahaan PR Cornellia.Co yang bertugas sebagai PR dari Museum Sonobudoyo. Selain itu ia juga mendalami ilmu terkait marketing komunikasi dan trainer yang fokus pada bidang Hospitality. 

Lantas apa hubungannya museum dengan kajian perencanaan dan strategi komunikasi? Simak baik-baik ya Comms, Perencanaan dan Strategi Komunikasi dalam praktik pelaksanaannya melibatkan berbagai tahapan yang meliputi perencanaan, riset, pelaksanaan, implementasi, dan evaluasi.  

Untuk memahami bagaimana komunikasi dilakukan dalam tataran implementasi dan evaluasi, mahasiswa komunikasi perlu mempelajari praktik langsung yang dilakukan oleh tim komunikasi dari suatu organisasi berdasarkan pengalaman di lapangan.  

Kelas yang bertajuk “Kuliah Pakar” ini dimaksudkan untuk mengetahui sistem kerja khususnya tim yang bertugas membuat perencanaan dan strategi komunikasi untuk Museum Sonobudoyo Yogyakarta sebagai salah satu lembaga publik yang memiliki tugas edukasi mengenai pentingnya sejarah budaya bangsa. 

Dr. Herman menyebut jika mahasiswa perlu mengetahui langsung bagaimana peran komunikasi dalam proyek mempromosikan Museum Sonobudoyo yang sempat alami krisis dan kini berangsur membaik dan ramai dikunjungi. 

“Beberapa waktu yang lalu saya mengajak mahasiswa saya untuk mengikuti mata kuliah Perencanaan dan Strategi Komunikasi dan juga mata kuliah PR Media Productions, saya ajak mereka kesana untuk belajar bagaimana sebuah PR Agency atau PR Company dalam hal ini Cornellia and Co melakukan proyek komunikasi untuk mempromosikan proyek Museum Sonobudoyo yang awalnya sepi, mengalami krisis, dengan skandal kehilangan koleksi menjadi tempat ramai yang dikunjungi. Dari sana kita belajar bagaimana komunikasi bisa berperan menyampaikan pesan dan edukasi kepada masyarakat bahwa Museum adalah tempat yang penting kita bisa belajar,” Ujar Dr. Herman Felani Tandjung. 

Jika museum terdengar tidak dekat dengan Generasi Milenial dan Generasi Z, Dr. Cornellia ingin mengubah anggapan itu. Caranya dengan memaksimalkan berbagai strategi salah satunya adalah pengoptimalan media sosial. Mulai dari mengaktifkan Instagram, Twitter, TikTok, Facebook, hingga Youtube. 

“Ig, Twitter, TikTok, FB, Youtube (Jenis media sosial). Manfaatkan media sosial untuk promosi museum ini dengan konsisten,” Ujarnya di sela-sela kuliah pakar. 

Selain itu, cara penyampaian harus menarik melalui berbagai konten yang tak hanya berkualitas namun memiliki cerita unik yang dikemas dengan bentuk audio visual. 

“Menyampaikan informasi yang baik, benar dan menarik. Menjadi PR harus senang bercerita, story telling, melalui foto dan video,” tambahnya. 

Cara tersebut nyatanya cukup efektif, terbukti dari akun Instagram Museum Sonobudoyo Yogyakarta @sonobudoyo yang sudah diikuti lebih dari 31 ribu pengguna Instagram. Tak hanya itu, teranyar “Pameran Temporer Abhinaya Karya 2023: Kamala Padma” yang sudah berlangsung selama 26 hari mampu mendatangkan  7521 pengunjung. 

Tidak hanya dari segi publikasi, museum juga harus berinovasi menyusuri zaman. Dengan tajuk “Where Culture Meets Technology” merupakan ide unik yang kekinian agar tetap dilirik oleh Milenial dan Gen Z. Pengemasan dengan kalimat “Museum viral di Jogjakarta” tentu menjadi gimmick menarik yang tak boleh dilewatkan. 

Para mahasiswa dari Prodi Ilmu Komunikasi baik reguler dan International Program diajak berkeliling Museum Sonobudoyo sambil melihat langsung proses perencanaan dan strategi komunikasi yang telah dilakukan oleh Dr. Cornellia bersama tim. Dengan turun dan melihat langsung mahasiswa diharapkan memiliki gambaran yang benar-benar jelas. 

“Saya mengucapkan banyak terimakasih untuk teman-teman mahasiswa Ilmu Komunikasi UII khususnya PR dan International Class yang sudah berkunjung ke Museum Sonobudoyo. Sebetulnya menurut saya ketika kita belajar sejarah langsung ke tempat seperti ini menurut saya akan lebih berkesan dan lebih personal di mana teman-teman lebih menghargai sejarah, budaya dan apa pun yang ada di museum ini semoga bermanfaat, sukses selalu, ditunggu di museum salam sahabat museum, museum di hati,” tandasnya. 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Reading Time: 2 minutes

Qualitative research for corporations and public relations is for the advancement of the company. Research is also the basis for company decisions and policies. PR Research prioritises the beneficial interests of company development rather than science.

Research for corporate public relations is the spearhead of corporate image and crisis management. “What we mainly do in research for public relations is why it happened, what happened, and how to solve it,” said Zulfatun Mahmudah, Media and Public Communication of PT. Kaltim Prima Coal, in an expert Lecture on the Role of Research in Public Relations, on July 10, 2021. This expert lecture is one of the enrichments with practitioners in the Qualitative Research course.

In addition to tracking solutions, public relations must analyse the possible consequences of the solutions found. “Then if we take a certain solution, we have to see if it fits or not, and what the consequences are. From that context, what can corporations do, the output proposals are important,” said Zulfatun, who is also a doctoral student at UGM, Department Cultural and Media Studies.

Zulfatun also talked about the practice of applying research in daily public relations activities. “For example, there is a case of river pollution. So people will ask questions. Now, we as public relations need to do research,” he said.

While waiting for research to be carried out, public relations can provide temporary information. “It is true that this incident has occurred, but we will investigate it and conduct research. If it comes from us, we will be responsible,” said Zulfatun, recounting the experience and praxis of public relations when facing crises that hit corporate.

According to him, that is the function of PR. PR manages issues so that companies do not become victims of prolonged public bullying.

Puji Rianto, the lecturer of this course, also asked questions. “What should PR anticipate to monitor the issue like what? Do you use big data or what? We can predict and handle the mass media, but social media is very wild,” he asked Zulfatun.

Zulfatun said that this social media could be an attacker or a supporter. Even the big media sometimes don’t balance it. “What do we need to do? We have social media which is a medium whose delivery is faster than waiting for official media such as mass media,” he replied. “We also have a special division that handles media relations which we call media relations.”

The practise of public relations research in the company is not too critical in the use of theory. The theory is used as the basis for viewing in a practical context.

According to him, if the corporation took a team of research consultants from universities, it could be a different story. “It could be that the theory was used to provide a brief basis for explaining the conclusion’s position.”

However, transparency of interviews and methods is also essential to represent research findings in the community. The PR research can be used as a basis, and we have to see how the public perception, what steps need to be prepared.

“Essentially, research in the corporate world is problem solving oriented.”

Reading Time: 2 minutes

Riset Kualitatif untuk korporasi dan humas sifatnya untuk kemajuan perusahaan. Riset juga menjadi dasar pengambilan keputusan dan kebijakan perusahaan. Ia lebih mengedepankan kepentingan praktis pengembangan perusahaan, ketimbang keilmuan.

Riset untuk humas korporat menjadi ujung tombak citra dan manajemen krisis perusahaan. “Yang terutama kita lakukan dalam riset untuk kehumasan adalah mengapa itu terjadi, apa yang terjadi, dan bagaimana solusinya,” kata Zulfatun Mahmudah, Media and Public Communication PT. Kaltim Prima Coal, dalam Kuliah pakar Peranan Penelitian dalam dunia Kehumasan, pada 10 Juli 2021. Kuliah pakar ini adalah salah satu pengayaan bersama praktisi pada mata kuliah Riset Kualitatif.

Selain melacak solusi, public relation harus menganalisa kemungkinan konsekuensi yang muncul dari solusi yang ditemukan. “Lalu kalau kita mengambil solusi tertentu, harus kita lihat cocok atau tidak, dan apa konsekuensinya. Dari konteks itu apa yg bisa dilakukan korporasi, usulan outputnya yg penting,” ujar Zulfatun yang juga adalah mahasiswa doktoral di Kajian Budaya dan Media UGM.

Zulfatun bercerita juga praksis penerapan riset dalam keseharian aktivitas kehumasan. “Misalnya ada kasus pencemaran sungai. Nah masyarakat akan bertanya-tanya. Nah kita sebagai humas perlu melakukan riset,” katanya.

Sembari menunggu riset dilakukan, humas bisa menyampaikan informasi sementara. “Bahwa betul telah terjadi peristiwa ini, tetapi kami akan dalami dan riset. Bila itu berasal dari kami, kami akan bertanggungjawab,” ungkap Zulfatun menceritakan pengalaman dan praksis humas ketika menghadapi krisis yang menerpa korporat.

Menurutnya, Itulah fungsi PR. PR mengelola isu agar perusahaan tidak menjadi korban perundungan (bully) masyarakat berkepanjangan.

Monitoring isu dan Netizen

Puji Rianto, dosen mata kuliah ini, juga menyampaikan pertanyaan. “Apa yang mesti diantisipasi PR untuk memonitoring isunya seperti apa? Pakai big data atau seperti apa? Kalau media massa kan bisa kita duga dan atasi, tapi media sosial ini kan liar sekali,” tanyanya pada Zulfatun.

Zulfatun mengatakan bahwa media sosial ini bisa menjadi penyerang maupun pendukung. Media besar pun kadang kala juga tidak menjadi penyeimbang. “Apa yang perlu kami lakukan? Kita punya media sosial yang menjadi media yang penyampaiannya lebih cepat daripada menunggu media resmi seperti media massa,” ujarnya menjawab. “Kami juga punya divisi khusus yg menangani hubungan dengan media yang kami sebut media relation.”

Praktik penelitan kehumasan dalam perusahaan, tidak terlalu utama dalam penggunaan teori. Teori dijadikan dasar untuk melihat dalam konteks praktis.

Menurutnya, jika korporasi mengambil tim konsultan riset dari perguruan tinggi, bisa jadi beda cerita. “Bisa jadi teori itu dipakai untuk menjadikan dasar sekilas untuk menjelaskan posisi kesimpulan.”

Namun transparansi wawancara dan metode juga penting dilakukan agar temuan penelitian di masyarakat juga menjadi representatif. Ini bisa dijadikan dasar, kita harus melihat bagaimana persepsi publik, apa langkah yang perlu disiapkan.

“Intinya, penelitian di dunia korporasi berorientasi pada problem solving.”

Reading Time: 2 minutes

Penulis itu sebaiknya punya tirakat. Seorang penulis harus menjadi pembaca yang “rakus” menekuni dan menguasai bidang keilmuan secara kaffah. Seorang penulis harus mempunyai slogan hidup, “tiada hari tanpa membaca dan menulis.”

“Menjadi penulis mudah. Namun menjadi penulis yang transformatif dan inspiratif membutuhkan modal pengetahuan yang luas,” tutur Zuhairi Misrawi, kolomnis kawakan dan pemikir muda muslim ternama di Indonesia pada Senin (31/5/2021). Ia hadir di Komunikasi UII membagikan pengalamannya 30 tahun menulis kolom dalam Kuliah Pakar Penulisan Esai daring.

Meski begitu, ia menuturkan, menulis itu cuma butuh dua modal: kemauan. Kemauan dan mengerti jam biologis pribadi kapan nyaman menulis. Jika kita telah menemukan ritme menulis, segera melanjutkan dan menyelesaikan tulisan tersebut. Modal kedua adalah keberanian. Keberanian menyampaikan sudut pandang. Sementara itu, sudut pandang yang bagus dipengaruhi oleh bacaan. “Seorang penulis akan kelihatan apakah ia rakus membaca atau tidak,” katanya. “Tulisan harus komunikatif, berkomunikasi dengan pembaca seakan mereka terlibat dan berdialog dengan pembaca.”

Menurut pria lulusan Universitas Al Azhar, Mesir, ini penulis harus punya academic mindset: Cara berfikir akademis. Cara berfikir akademis itu harus bisa berfikir metodologis. Artinya ia harus berdasar teori (theory driven). “Apa yang kita pikirkan berbasis teori dan metodologi yang kuat. Berpikir rasional itu tidak bisa seenaknya berfikir, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, masuk akal,” jelasnya kemudian.

Selain ilmiah, mahasiswa yang ingin menjadi penulis tidak boleh lupa untuk berfikir argumentatif. “Maksudnya berfikir itu ada argumennya. Argumen sejarah, antropologis, politisnya seperti apa,” imbuhnya. Tak hanya itu, mahasiswa juga sebaiknya menulis dengan cara berpikir kritis reflektif. Gunakan bahasa yang baik, benar, dan mengalir dan kaya gagasan khas mahasiswa.

Zuhairi menekankan, “Mahasiswa harus menulis bukan deskriptif, harus mempertanyakan. Berpikir kreatif itu bisa melakukan apa saja seperti yang kita hendaki. Out of the box.”

Diskusi yang dipandu oleh Risky Wahyudi dan Sumekar Tanjung, Dosen pengampu Mata Kuliah Penulisan Akademik, ini menjadi pengayaan berharga bagi mahasiswa Komunikasi UII dari begawan penulisan esai dan kolom kaliber nasional.

Tipologi Tulisan ala Hegel

Berdasar perspektif hegel, kata Zuhairi, tulisan yang paling mudah adalah tulisan dengan tipologi tesa. Tipologi ini hanya mendeskripsikan gagasan yang sudah ada. “Saya menantang mahasiswa menulis dengan tipologi anti-tesa yaitu tulisan yang mengkritik ide yang sudah mapan. Harusnya juga tulisan mahasiswa itu yang transformatif inspiratif yaitu tipologi sintesa: Memberi solusi dan melahirkan ide baru,” kata Zuhairi mengutip dialektika Hegel.

Menulis adalah tindakan peradaban karena ia mewarisi pikiran kepada generasi yang akan datang. Kalau kita menulis, kita masuk dalam bagian peradaban dunia. “Misalnya, buku-buku saya sudah masuk di satu rak khusus di Perpustakaan dunia, di Harvard, di Cambridge. Dari situ tulisan kita akan menjadi bagian peradaban dunia, menjadi referensi orang,” ungkapnya.

“Karena kita mewarisi peradaban, maka menulis adalah pekerjaan mulia. Sejatinya menulis adalah kita sedang sedekah ilmu,” kata Zuhairi memotivasi. Seorang penulis harus punya karakter yang mencerminkan identitas, visi, ideologi, sehingga pembaca tertarik dengan tulisan kita. “Bahkan untuk beberapa penulis, bukunya selalu diperbincangkan. Itu yang baik. Lalu kalau ditanya, banyak viewer-nya, banyak pembelinya, tapi apakah gagasan buku itu menjadi perbincangan?” jawab Zuhairi menanggapi pertanyaan salah satu peserta, Khalif Muhammad Madani.

Reading Time: 2 minutes

The writer should be humble. A writer must be a “greedy” reader to pursue and master the scientific field thoroughly. A writer must have a living slogan, “there is no day without reading and writing.”

“Being a writer is easy. But being a transformative and inspiring writer requires a broad knowledge base,” said Zuhairi Misrawi, a seasoned columnist and well-known young Muslim thinker in Indonesia, speak on Monday (31/5/2021). He was present at the Department of Communications UII, sharing his experience of 30 years of writing columns, in the online Essay Writing Expert Course.

Even so, he said, writing only requires two capitals: willpower and courage. Willingness and understanding personal biological clock when comfortable writing. If we have found the rhythm of writing, immediately proceed and finish the writing. The second capital is courage. Courage to present a point of view. Meanwhile, a good point of view is influenced by reading. “A writer will be seen whether he is a voracious reader or not,” he said. “Writing must be communicative, communicating with readers as if they were involved and in dialogue with readers.”

According to the man who graduated from Al Azhar University, Egypt, the writer must have an academic mindset: an academic way of thinking. The academic way of thinking must be able to think methodologically. This means that it must be based on theory (theory-driven). “What we think is based on a strong theory and methodology. Rational thinking cannot think arbitrarily, it can be scientifically justified, it makes sense,” he explained later.

Besides being scientific, students who want to become writers should not forget to think argumentatively. “It means to think that there is an argument. What are the historical, anthropological, political arguments like,” he added. Not only that, students should also write with reflective critical thinking. Use language that is good, correct, flowing and rich in typical university student ideas.

Zuhairi emphasized, “High Education students have to write not descriptively, they have to ask questions. Creative thinking can do whatever we want. Out of the box.”

The discussion, which was guided by Risky Wahyudi and Sumekar Tanjung, Lecturers in the Academic Writing Course, became a valuable enrichment for Department of Communication students from essay writing experts and national-calibre columns.

Hegel’s Typology of WritingHegel’s

Based on Hegel’s perspective, said Zuhairi, the easiest writing is writing with the thesa typology. This typology only describes an existing idea. “I challenge students to write with an antithesis typology, which is writing that criticizes an established idea. The student’s writing should also be transformative and inspiring, namely a synthesis typology: Providing solutions and generating new ideas,” said Zuhairi quoting Hegel’s dialectic.

Writing is an act of civilization because it inherits thoughts to future generations. If we write, we enter the civilization of the world. “For example, my books have been placed on a special shelf in the world library, at Harvard, in Cambridge. From there, our writings will become part of world civilization, become people’s references,” he said.

“Because we inherit civilization, writing is a noble job. In fact, writing is that we are giving alms to knowledge,” said Zuhairi. A writer must have a character that reflects his identity, vision, ideology so that readers are interested in our writing. “Even for some writers, their books are always discussed. That’s a good thing. Then if you ask, there is a book with many viewers, many buyers, but has the idea of ​​the book become a conversation in public dialogue?” replied Zuhairi in response to a question from one of the participants, Khalif Muhammad Madani.