Tag Archive for: Guru Besar

Gen Z
Reading Time: 4 minutes

Pergulatan argumen soal Pemilu 2024 masih memanas di media sosial. Meski dipastikan hanya satu putaran, para pendukung lainnya seolah masih berharap ada keajaiban dua putaran dalam pemilihan presiden dan wakil presiden untuk periode selanjutnya.

Selain dugaan kecurangan dalam perhitungan suara, kini muncul lagi budaya saling menyalahkan antar pemilih. Pemilih pemula yang didominasi Gen Z dinilai tak mempertimbangkan gagasan dari kandidat, melainkan hanya fomo atau the fear of missing out. Komentar saling sindir terjadi di akun media sosial yang merilis data dan fakta.

Secara umum fomo adalah perasaan takut tertinggal terhadap tren tertentu. Sementara dalam kaitan politik dan Pemilu 2024 Gen Z dianggap memilih salah satu paslon karena masifnya tren di media sosial yang berkaitan dengan kampanye-kampanye unik.

Dari tren tersebut muncul idolisasi figur politisi yang cenderung bias. Sementara dari tiga paslon, kampanye citra “Gemoy” dari Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming memenangkan pasar, dibanding k-popisasi Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar ataupun El-chudai dari Ganjar Pranowo dengan Mahfud MD.

Citra Gemoy terbukti paling banyak dipilih oleh Gen Z berdasarkan riset yang dilakukan oleh Litbang Kompas, semakin muda usia pemilih, ketertarikan kepada paslon Prabowo-Gibran semakin kuat. Tercatat 65,9% Gen Z yang berusia kurang dari 26 tahun memilih pasangan tersebut. Sementara 16,7% memilih Anies-Muhaimin, dan 9,6% memilih Ganjar-Mahfud MD. Sisanya merahasiakan pilihannya.

Sayangnya ditengah-tengah penghitungan suara yang dilakukan KPU para pendukung saling serang dan menyalahkan Gen Z atau pemilih pemula yang disebut fomo. Hal ini mengacu pada deretan selebritas dan influencer tanah air yang turut mendukung pasangan tertentu. Di media sosial mereka tampak begitu aktif dalam keseruan kampanye yang dilakukan paslon. Tak hanya itu stigma akademisi yang turun gunung dianggap sebagai buzzer hingga partisan oleh pendukung salah satu paslon.

Perdebatan Gen Z Dianggap pemilih Fomo

Perdebatan dan narasi fomo dapat dilihat di beberapa unggahan di media sosial, sebut saja unggahan Narasi Newsroom di Instagram yang memuat Exit Poll Litbang Kompas. Dari deretan komentar, pengguna terbelah menjadi dua kubu yakni pemenang dan pendukung dua paslon yang kalah.

Salah satu pemilih pemula menyuarakan alasannya terkait mengapa ia memilih pasangan dengan citra Gemoy. Dalam komentarnya ada gagasan yang ia yakini soal kredibilitas dan netralitas masing-masing paslon.

Saya baca semua komentar saya tau dari semua komentar ini adalah yang memiliki 01 dan 03. Kebanyak komentar menyalahkan anak muda yang korban FOMO. saya anak muda dan ini adalah pertama kali saya nyoblos. Saya gak banyak paham soal politik tapi jika di tinjau dari setiap paslon semua memiliki kekurangan dan saya merasa 02 adalah yang paling netral,” tulis akun @lecilover.

“Gw gen Z, Intinya 01 mabok agama ,02 netral wlpun bnyk isu2 NY ,03 gw GK suka partai NY .udh simpel ny gitu,” tambah akun @ihya_fahlevi.

Sindirin terus muncul, terkait pemilih salah satu paslon dengan membandingan antara memilih berdasar pengetahuan atau hanya fomo belaka.

“Gw pilih yg berwawasan,, Mereka pilih yg gak punya gagasan Gw pilih pendidikan gratis,, Mereka pilih makan gratis. Gw pilih yg cerdas,, Mereka pilih yg gemoy. Gw pilih yg rajin ngaji,, Mereka pilih yg bisa joget. Gw pilih yg naikkan gaji buruh,, Mereka pilih yg naikkan gaji pejabat. Level kita emang beda,” tulis @alzain.68

“Semakin muda, semakin absurd juga alasan milihnya: gemoy,” tandas @nevy_elysa.

Akademisi Merespon Fenomena Fomo dan Dugaan Partisan

Di tengah pro kontra soal fomo, Guru Besar Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Prof. Masduki menjelaskan fenomena fomo mencerminkan sebagai bentuk bahwa masyarakat belum mendapatkan informasi yang memadai.

“Soal fomo tentu memprihatinkan karena mereka belum terpepar informasi yang memadai terkait paslon presiden tiga pasang itu. Ini artinya ada persoalan dengan pendidikan pemilih idealnya siapapun pemilihnya memilih setelah memperoleh informasi yang memadai. Kalau ada tren mereka lebih memilih karena fear of missing out, artinya kita belum memasuki era dimana masyarakat well inform pada Pemilu,” jelas Prof. Masduki.

Namun ia menjelaskan jika ada perdebatan argumen yang menguatkan memilih salah satu paslon dan menolak dianggap fomo artinya mereka memang memiliki argument yang empiric.

“Justru kalau ada perdebatan mereka merasa tidak didasari dengan fomo tapi ada yang relate dari paslon sehingga mereka pilih berarti ini menarik, kalau benar yang memilih karena ada argumen empiric mengenai performa misalnya janji-janji program ini sebenarnya bagus. Tapi overall, perdebatan di medsos yang kita lihat sebagi keriuhan yang belum tentu mencerminkan perdebatan di offlinenya kita lihat saja bagaimana ujungnya,” tambahnya.

Terkait idolisasi figur politisi yang terus diramaikan oleh deretan selebritas dan influencer tanah air hingga menganggap akademisi sebagai buzzer dan menyerang paslon tertentu menurut Prof. Masduki bahwa pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh Guru Besar adalah tugas untuk menyampaikan pesan moral. Anggapan buzzer dinilai keliru.

“Bagaimana akademisi itu dianggap buzzer, partisan kalau ini ditunjukkan kemarin membuat petisi Guru Besar itu keliru. Karena kita bisa melihat dari pernyataan-pernyataan mereka yang itu lebih menekankan pada moralitas dalam berpolitik, etika, satu demokrasi yang harusnya dilaksanakan dengan baik itu artinya pesan-pesan moral yang menjadi tugas akademisi disitu. Keliru kalau mereka diam, jadi harusnya akademisi berbicara namun di level bagaimana menegakkan prinsip-prinsip bagaimana nilai moral etika dalam pemilu sebagaimana kita berdemokrasi secara baik yang itu dilandasi oleh keprihatinan sebelumnya perilaku-perilaku dari Presiden Jokowi yang melanggar etik,” jelasnya menanggapi isu buzzer yang dilayangkan netizen kepada akademisi.

Tak hanya menegakkan etika dan moralitas, ada latar belakang yang mendasari jajaran akademisi untuk turun sebagai bentuk ekspresi sebagai perannya sebagai penjaga moral.

“Jadi ada latar belakangnya, ada bentuk ekspresinya yang sebenarnya relate yang menunjukkan bahwa mereka bukan buzzer tapi menunjukkan komitmen dan perannya penjaga moral dari kampus. Beda kalau buzzer mereka cenderung mendukung misalnya secara to the point kepada siapa. Kalau kita lihat moralitas pesan yang dikemukanan Guru Besar itu berlaku kepada semua paslon, kepada Pak Jokowi dan seluruh elit politik. Momennya saja terkait Pilpres tetapi sesungguhnya itu harus disampaikan secara terus menerus,” tandasnya.

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Profesor
Reading Time: 2 minutes

Istilah pecah telur menjadi kata yang diucap berkali-kali pasca kabar bahagia dari civitas akademik Universitas Islam Indonesia (UII) khususnya di lingkungan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB). Setelah 28 tahun berdiri, akhirnya November 2023 salah satu dosen dari Prodi Ilmu Komunikasi berhasil meraih gelar tertinggi profesor.

Prof. Dr. rer. Soc. Masduki, S.Ag., M.Si. menjadi Guru Besar pertama di Prodi Ilmu Komunikasi sekaligus di FPSB.

Dalam agenda Penyambutan Profesor Baru FPSB UII pada 1 Desember 2023, Prof. Dr. rer. Soc. Masduki, S.Ag., M.Si. menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Tak hanya itu, istilah pecah telur turut diungkapkan. Menurutnya pecah telur adalah analogi pencapaian yang telah diupayakan.

“Saya cari-cari di Google apa artinya pecah telur, sesuatu yang lama diupayakan tiba-tiba berhasil disebut pecah telur. Mungkin pecah telur itu effortnya besar jadi dipakai analogi sehari-hari mungkin sesungguhnya ada sejarahnya pencapaian yang upayakan sedemikian rupa tapi akhirnya bisa,” ujar Prof. Dr. rer. Soc. Masduki, S.Ag., M.Si. saat memberikan sambutan.

Setelah keberhasilan ini, diharapkan deretan dosen yang telah menyelesaikan pendidikan doktoral segera menyusul keberhasilan ini. Prof. Masduki percaya jika setelah ada satu Guru Besar dalam satu Fakultas selanjutnya akan segra menyusul satu per satu.

“Mungkin saya hanya tool-nya sebagai proksinya kita bersyukur bahwa Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya itu memulai periode yang baru karena kita mempunyai satu Guru Besar kemudian berikutnya menyusul biasanya gejalanya begitu, pecah telur itu lalu telurnya pecah semua,” tuturnya.

Alasan ini cukup dikuatkan dengan beberapa dosen di lingkungan FPSB yang telah menjalani beberapa tahapan menuju jabatan Guru Besar.

“Seperti curva akan menanjak, berdoa dan dibantu berjuang mendorong,” tambahnya lagi.

Melansir dari laman resmi uii.ac.id, serah terima Surat Keterangan (SK) Menteri Pendidikan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada 27 November 2023 di Gedung Kuliah Umum, Prof. Dr. Sardjito Kampus Terpadu UII.

Profesor

Kenaikan jabatan akademik profesor kepada Prof. Masduki
Foto: Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D

Dalam prosesi serah terima SK profesor tersebut dihadiri oleh Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, Ketua Pengembangan Pendidikan Pengurus Yayasan Badan Wakaf (PYBW) UII, Prof. Drs. Allwar, M.Sc., Ph.D., Kepala Bagian Umum Lembaga Layanan Dikti (LLDikti) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Taufiqurrahman, S.E., serta Penyelia Sumber Daya LLDikti Wilayah V DIY, Rahman Hakim, S.E.

Pada momen tersebut Rektor UII, menyampaikan pesan terkait pemikiran filsafat klasik ilmu pengetahuan serta kebebasannya. Secara umum kebebasan saintifik erat kaitannya dengan kemandirian individu dalam berpikir, sehingga pengetahuan bisa diaplikasikan untuk kepentingan publik.

“Kebebasan saintifik, ketika dipandu oleh prinsip etis, berkontribusi pada pengejaran pengetahuan yang universal, memberikan manfaat bagi kemanusiaan secara keseluruhan,” tutur Prof. Fathul Wahid di tengah penyampaian materi.

Sebelumnya, Prof. Masduki telah menyelesaikan studi S3 pada tahun 2021 lalu di Institute of Communication and Media Studies, University of Munich Jerman. Melalui SK Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan teknologi Nomor 63634/M/07/2023 tentang kenaikan jabatan akademik dosen Dr. rer. Soc. Masduki, S.Ag., M.Si. resmi dinaikkan jabatannya menjadi Profesor dengan angka kredit sebesar 922.

Klaster riset Dr. rer. Soc. Masduki, S.Ag., M.Si. yakni terkait dengan Media Policy, Comparative Media System, Public Media and Journalism, dan Media Activism.

 

Penulis: Meigitaria Sanita