Tag Archive for: Festival Film

Festival Film Sangkareang

Lalu Muhammad Lutfi Maududy, a student of the International Program Communication (IPC) at the Universitas Islam Indonesia, screened his final project film at the Festival Film Sangkareang at Local Cinema Mataram from 12 to 14 December 2025.

Through a long production process, the student, who was supervised by Dr. Zaki Habibi, M.Comms., registered his work for the festival. His film, entitled “Iron Bang of Culture”, was selected and screened at the Local Cinema Mataram. Festival Film Sangkareang is a space for young filmmakers in West Nusa Tenggara, and Dudy was eager to register so he wouldn’t miss out on the opportunity to continue improving his skills.

“Of course, it’s really exciting when our film is screened on the big screen, and we get to meet the audience. Especially since the film I made is about the culture of Lombok Island. Seeing the audience relate to the issues I raised made me even more enthusiastic,” said Dudy.

“Iron Bang of Culture” is a documentary that explores the culture of Lombok, West Nusa Tenggara. This idea did not come about by chance. As a student from the region, Dudy was aware that there was a culture shift, but he did not know what had changed. Through his documentary film, Dudy conducted research, observations, and direct interviews.

“Iron Bang of Culture” explains the game of gasing in Lombok, a traditional game played by the Sasak tribe. It has been played for generations as a means of entertainment, socialising, and even competition.

“The issue I most want to highlight is the cultural change in the digital era. Before the advent of social media and massive games like today, many people still played traditional spinning tops, but now it is increasingly rare to find them, especially since most of the players are elderly and it is very rare for children to play them,” he explained.

During the research process, Dudy said he spent three consecutive days travelling around Lombok. He searched for locations where traditional games are still played. He wanted to obtain detailed results through field observations.

“This spinning top game is no longer like it used to be, where you could find it on the side of the road,” he said.

For him, the production did not go as smoothly as initially expected. The challenges during the production process were quite a hindrance. For him, the research was too short, so a lot of new information was only obtained during the editing process. Nevertheless, qualifying for the Sangkareang Film Festival was a relief, as his work was enjoyed by a wide audience.

“From this final project, I feel that there are many things around us that can be raised as issues to be turned into visual works. My next plan is to make another film, because after making one film, I feel curious to make another,” he said.

At the Department of Communications Science, UII, various pathways are available to obtain a bachelor’s degree, including creative avenues such as film production, as pursued by Dudy. Through film, Dudy presents data through audio-visual means.

KalFest Hub Seri #8: Behind Story Pemenang Film ReelOzInd! 2025

Kaliurang Festival Hub (KalFest Hub) seri #8 yang berkolaborasi dengan ReelOzInd! telah berlangsung pada Kamis, 23 Oktober 2025 di di Ruang Audio Visual Balai Layanan Perpustakaan Grhatama Pustaka DPAD DIY, telah menampilkan 9 film yang menang ReelOzInd! 2025.

Dua pertemuan festival ini menjadi saksi premier screening sekaligus pertemuan penonton dengan praktisi dan akademisi pengkaji film. Banyak cerita mendalam dibalik film-film terpilih, semuanya tersaji dalam satu acara kalFest Hub seri #8 x ReelOzInd!.

Penonton diajak menon 9 film secara simultan, dan berlanjut dengan diskusi. Sesi ini menghadirkan dua pembicara yakni Kevin Evans (Indonesia Director The Australia-Indonesia Centre) dan Dr. Dyna Herlina S (Film Researcher, Universitas Negeri Yogyakarta, Ketua KAFEIN).

ReelOzInd! tahun ini mengambil tema Imajinasi, bagi Kevin Evans kata tersebut mudah dipahami oleh kedua negara. “Tiap tahun kita ambil tema satu kata, sedikit dan dimengerti dua negara. gampang menyambung,” ujarnya.

ReelOzInd! adalah kompetisi dan festival film pendek yang ditujukan kepada sineas dari Australia dan Indonesia. Kevin menyebut lewat film mampu menyatukan berbagai hal dengan sederhana.

“Melalui film banyak orang di Australia dan Indonesia berfikir sama atau ralate oh pikirannya sama. Seringkali saya lupa, ini Indonesia atau Australia. Relate yang dialami, melihat dari lingkungan yang berbeda, dengan aspek primordial yang berbeda, dan kemanusiaan yang sama,” tambahnya.

Selain itu, film juga menjadi media pembelajaran yang menarik dan atraktif di Australia, terlebih kini banyak institusi pendidikan yang mengajarkan bahasa Indonesia.

Sementara Dr. Dyna Herlina, menyebut KalFest Hub mampu menjadi ruang strategis yang mampu menghubungkan festival dari berbagai negara. Salah satunya Australia yang selama ini tidak memiliki hubungan intensif dengan Indonesia. “KalFest Hub platform yang strategic to connect yang sebenarnya tidak terkoneksi. Saya berpikir ReelOzInd bisa kita undang, as well as festival,” ujarnya.

Behind Story Film-Film Pemenang ReelOzInd!

Tiga pemenang menyempatkan hadir dalam momen ini, cerita unik datang dari Firman Widyasmara kreator film berjudul Leleng, dengan teknik stop motion yang terkesan arkais menciptakan berbagai efek yang dinamis. Ternyata film animasi ini sempat tertunda bertahun-tahun lantaran berbagai situasi yang mendukung.

“Tantangannya karena ini film pertama jadi masih acakadut (berantakan), tapi di balik keterbatasan waktu cukup panjang, file sempat terserak karena pandemi Covid-19. Tahun 2023 mulai saya rapikan kembali seperti yang teman-teman saksikan,” ungkap Firman Widyasmara.

Cerita lain datang dari peraih Special Mention Young Filmmaker garapan Isla Ward. Filmnya berjudul Hurt People, Hurt People terispirasi dari kisah-kisah di sekililingnya. Bagaimana bullying terjadi pada murid-murid di sekolah. Ditemani dengan sang ayah, Isla menuju panggung KalFest Hub menceritakan di balik tema yang ia pilih.

“Why did I make that film? Because when I was 8 years old in green school. You have to do a project called a quest. Which is a passion project. Where you have to make something. Which is closer to something you like doing or something you like or appreciation or something like that. I don’t know there are people who make books, there are people who make songs. Everyone is doing something closer and I also made something more active. So I decided to make a film,” jelas Isla.

Terakhir, ada film Fighting for the Future pemenang Special mention Documentary, yang menyorot tinju yang dianggap dari kacamata anarkisme jalanan menjadi penyaluran hobi dan prestasi. Marjito Iskandar Tri Gunawan menyebut kelompok yang terbentuk informal menjadi ruang yang membawa kegelisahan menuju hal positif.

“Aku flashback lagi sekitar 20 tahun lalu, ini dunia mahasiswa dan remaja. Dicoba ditelusuri didalami lagi menjadi kegelisahan bersama. Dunia remaja adalah dunia penuh dengan energi,” tandasnya.

Final Film ReelOzInd! 2025 – Running Sheet

(Best Animation) Leleng | Zaenal Abidin (director) | Firman Widyasmara (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Documentary) Wadjemup Wirin Bidi | Glen Stasiuk (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Buried in Time | Deandrey Putra (director/producer) | Farhan Nugraha (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Fallow | Bonnie Van De Ven (director) | Andrew O’Keefe (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Special Mention Documentary) Fighting for the Future | Marjito Iskandar Tri Gunawan (director/producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Young Filmmaker) Hurt People, Hurt People | Isla Ayu Sri Ward (director/writer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Young Filmmaker) Running Away | Dari Justin (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Animation) Elephant | Mia Innocenti (writer/director) | Phoebe Blanchard (writer) | Tenzin Kelly-hall (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Best Fiction/ Best Film) Kau, Aku, dan Kursi Itu (You and Me and that Chair) | Trivita Tiffany Winataputri (director/writer) | Matt Wallace (director) | Lawrence Phelan (producer) | Australia/Indonesia | 2023 | All Ages

KalFest Hub seri #8 ini menjadi momen spesial karena film-film pendek yang mendapatkan award akan diputar secara perdana dan serentak di Yogyakarta (Indonesia) dan Melbourne (Australia).

 

PRESS RELEASE – KalFest Hub Seri #8 Berkolaborasi dengan ReelOZInd! ‘Menyatukan Film Pendek Indonesia-Australia di Jogja’

Menjadi agenda penutup tahun ini, Kaliurang Festival Hub (KalFest Hub) seri #8 berkolaborasi dengan ReelOzInd!. Festival digelar pada Kamis, 23 Oktober 2025 di Ruang Audio Visual Balai Layanan Perpustakaan Grhatama Pustaka DPAD DIY.

ReelOzInd! adalah kompetisi dan festival film pendek yang ditujukan kepada sineas dari Australia dan Indonesia. Tahun 2025, ReelOZInd! Yang digawangi oleh Jemma Purdey (Autralia) dan Gaston Soehadi (Indonesia) mengambil tema Imajinasi berhasil mendapatkan 9 pemenang dari berbagai kategori.

KalFest Hub seri #8 ini menjadi momen spesial karena film-film pendek yang mendapatkan award akan diputar secara perdana dan serentak di Yogyakarta (Indonesia) dan Melbourne (Australia).

Menjadi tuan rumah, Dr. Zaki Habibi selaku Kaliurang Festival Hub Programmer menyebut bahwa kesempatan ini dapat tercapai karena telah membangun jejaring yang cukup intensif dengan Jemma Purdey, Direktor Festival ReelOzInd!.

“KalFest Hub telah lama membangun jejaring dengan programmer Jemma Purdey dari Melbourne, yang membuka kesempatan kolaborasi untuk memutar film ReelOzInd! di Jogja,” ucapnya.

Pada kesempatan ini selain menhadirkan premiere screening 9 film, juga akan dilanjutkan dengan diskusi bersma Kevin Evans (Indonesia Director The Australia-Indonesia Centre) dan Dr. Dyna Herlina S (Film Researcher, Universitas Negeri Yogyakarta, Ketua KAFEIN). Beberapa pemenang ReelOzInd! Juga akan hadir untuk mewarnai diskusi dari kacamata produksi.

“Dalam seri #8 yang menjadi penutup tahun 2025, pemutaran film diselenggarakan di Kaliurang Festival Hub, Jogja, dilanjutkan dengan diskusi bersama tamu spesial dan filmmaker,” ujar Dr. Zaki Habibi.

Bagi pecinta dan pengkaji film agenda ini adalah kesempatan berharga yang sayang untuk dilewarkan. “Festival ini menghadirkan Premiere Screening serentak di Melbourne dan di Jogja pada 23 Oktober 2025, memberikan akses film yang sama tanpa harus ke Melbourne,” tandasnya.

Berikut beberapa daftar film yang akan diputar pada KalFest Hub Seri #8 x ReelOzInd!:

Final Film ReelOzInd! 2025 – Running Sheet

(Best Animation) Leleng | Zaenal Abidin (director) | Firman Widyasmara (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Documentary) Wadjemup Wirin Bidi | Glen Stasiuk (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Buried in Time | Deandrey Putra (director/producer) | Farhan Nugraha (producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Fiction) Fallow | Bonnie Van De Ven (director) | Andrew O’Keefe (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Special Mention Documentary) Fighting for the Future | Marjito Iskandar Tri Gunawan (director/producer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Special Mention Young Filmmaker) Hurt People, Hurt People | Isla Ayu Sri Ward (director/writer) | Indonesia | 2025 | All Ages

(Best Young Filmmaker) Running Away | Dari Justin (director/producer) | Australia | 2025 | All Ages

(Special Mention Animation) Elephant | Mia Innocenti (writer/director) | Phoebe Blanchard (writer) | Tenzin Kelly-hall (producer) | Australia | 2024 | All Ages

(Best Fiction/ Best Film) Kau, Aku, dan Kursi Itu (You and Me and that Chair) | Trivita Tiffany Winataputri (director/writer) | Matt Wallace (director) | Lawrence Phelan (producer) | Australia/Indonesia | 2023 | All Ages

Dengan kolabarasi antara KalFest Hub seri #8 dengan ReelOzInd! Mampu mempererat relasi kedua negara. Selain itu film-film yang dihadirkan memberikan kesempatan berbagi cerita yang jauh dari stereorip dan drama politik. Festival ini bertujuan meningkatkan kesadaran dari kedua Negra lewat karya kreatif.

“Kolaborasi ini diharapkan memperkuat jaringan dan relasi antara Indonesia dan Australia, khususnya antara Jogja dan Melbourne, sesuai spirit KalFest Hubsebagai penghubung berbagai entitas.” Tandas Dr. Zaki Habibi.

Rundown KalFest Hub seri 8 x ReelOzInd!

No Pukul Kegiatan  Durasi
15.00-15.15 Registrasi Kehadiran  15 Menit 
15.15-15.25 Sambutan dari Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, FISB, UII  10 Menit
15.25- 15.30 Sambutan dari Direktur Kaliurang Festival Hub.  5 Menit
15.30.17.00 Pemutaran film pemenang (Terbaik dan Penghargaan Khusus) dari setiap kategori kompetisi ReelOzInd.  120 Menit
17.00-18.00 Diskusi bersama perwakilan dari Australia Indonesia Center dan Akademisi pengkaji film.  60 Menit
18.00-18.45 Tanya jawab  45 Menit
18.45-18.50 Penyerahan souvenir kepada pembicara dan Foto bersama.  5 Menit
18.50-19.00 Penutup 10 Menit

 

 

 

‘Movie Talk’ KalFest Hub Seri #7 Mencari Makna Heritage dari KHFF

Kaliurang Festival Hub (KalFest Hub) seri ke-7 berkolaborasi dengan Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) mengambil tema Layar Heritage: Cerita Lama, Suara Baru. Digelar pada 25-26 September 2025 di Gedung RAV Lt 3 Ilmu Komunikasi UII, screening berlangsung dua hari berturut-turut dan ditutup dengan Movie Talk yang mengungkap makna heritage lewat film dan budaya lokal.

Menilik Cambridge Dictionary, heritage memiliki makna fitur yang melekat pada budaya suatu masyarakat tertentu, termasuk tradisi, bahasa, dan bangunan yang dibuat pada masa lalu serta memiliki arti penting secara sejarah.

Dipandu oleh Aditya Adinegoro, pengajar Media Kreatif di Ilmu Komunikasi UII sesi Movie Talk menghadirkan dua pembicara, yakni Siska Raharja selaku Direktur KHFF dan Suluh Pamuji, Kurator Film KHFF.

Diskusi dibuka dengan pernyataan “Heritage bisa sangat terbuka, bisa dibicarakan” oleh moderator, dimana kalimat itu condong pada adanya narasi berbeda yang membentuk posisi heritage dalam konteks festival. Menanggapi pernyataan itu, Siska Raharja menuturkan makna heritage yang berkembang sebagai wacana komunitas film hingga Dinas Kebudayaan.

“Cara menarasikan heritage tidak lagi sekedar dari tutur dan kampanye, tetapi heritage menjadi sebuah media yang merangkum banyak hal termasuk memori personal,” ujar perempuan yang berjibaku di KHFF selama tiga tahun terakhir.

Kotabaru sebenarnya adalah kelurahan yang terletak di Kota Yogyakarta, catatan administratif menyebutnya masuk Kemantren Gondokusuman. Berbagai sumber mengimani bahwa Kotabaru memiliki konteks sejarah budaya kolonial yang melekat, hal ini dapat dibuktikan dengan bangunan-bangunan pendidikan, fasilitas kesehatan, dan lainnya.

Siska Raharja menambahkan jika identitas heritage pada Kotabaru telah menjadi agenda khusus, bahwa warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda. Ini adalah tantangan baginya mengungkap makna heritage pada klasifikasi film di KHFF.

“Banyak yang tidak merasa heritage itu, kita sering membuat simplifikasi, heritage itu berat,” tambahnya.

Tak jarang ia menemukan pengemasan heritage yang kurang tepat, banyak penyelahgunaan genre horor atas nama warisan budaya.

Sementara, Suluh Pamuji menyoroti supply film heritage yang tidak sederhana, “Ketika membicarakan heritage lewat film, pertaruhannya adalah bagaimana festival ini terus mendapat materi film yang relevan dengan visi,” ujarnya.

Tak bisa serampangan, kualitas film menjadi pertaruhan. Bagaimana film harus memuat heritage secara autentik dan kritis. Bahkan KHFF sempat menggunakan pedoman UNESCO dalam mengkurasi film-film yang masuk, namun akhirnya ia juga harus bernegosiasi lewat konteks lokal. “Heritage itu tidak bisa ditempatkan secara kaku. Kami butuh film yang cakap dan memuat heritage,” tambahnya lagi.

Rumitnya memaknai dan mangkategorikan film heritage, maka perlu dukungan dari Dinas Kebudayaan. Peran dana publik dalam pelestarian heritage seolah jadi angin segar. “Sebagai masyarakat, kita butuh tahu bagaimana pemerintah daerah memandang heritage sekaligus bagaimana mereka punya selera terhadap kreator lokal yang mereka percaya,” tandas Suluh.

Memproduksi film heritage dibutuhkan wawasan terhadap nilai-nilai serta kapasitas praktis yang mumpuni. Dari peran Dinas Kebudayaan di berbagai wilayah, berimbas dalam memberikan banyak variasi film heritage yang terkurasi di KHFF.

Movie Talk dalam Kalfest Hub kali ini menegaskan bahwa heritage tak sekedar masa lalu, namun bagaimana cerita lama yang dihidupkan kembali dengan suara baru yang kritis dan reflektif melalui medium film.

Kaliurang Festival Hub

Pemutaran Film :
Kamis, 27 Juni dan Jum’at, 28 Juni 2024
13.00 – 15.00

Diskusi :
Jum’at, 28 Juni 2024
15.00 – 17.00

Onsite – RAV Lantai 3 Prodi Ilmu Komunikasi, UII Yogyakarta

Pembicara:
– Kemala Astika (Program Director Festival Film Bahari) @akbarrafs
– Doni Kus Indarto ( Advisory Board Festival Film Bahari)

Moderator :
Rizka Aulia (Kru Film Bertemakan Perempuan Nelayan)

Terbuka untuk umum.
Free entry and limited seat.