Tag Archive for: Demak

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Catatan perjalanan ke Demak beberapa bulan lalu begitu memberi makna mendalam, sembilan jam bertahan di rumah Mak Jah bukan perkara yang sederhana. Artinya, setangguh apa perempuan ini hingga mampu bertahan hampir seperempat abad dalam genangan laut?

Perjalanan dari Kaliurang, Yogyakarta dimulai pada Jumat, 29 Agustus 2025 sekitar pukul 3.30 WIB. Tak ada kendala berarti, jalanan Kopeng menawarkan udara segar membuat rombongan kami membuka lebar-lebar kaca minibus. Seperti biasa, untuk mengisi amunisi kami memilih sarapan soto Boyolali di sepanjang jalan Salatiga. Soto dengan hint manis adalah pilihan yang tepat.

Kami memilih masuk tol Bawen untuk mempersingkat perjalanan, pukul 08.00 WIB sampai di Kecamatan Sayung. Riuh dengan truk-truk pengangkut pasir, mereka berjalan bertubi-tubi memenuhi jalanan tanah berdebu. Kami mengamatinya, mengambil gambar, hingga merekam aktivitas lalu lalang. Sejam kemudian, ada telepon masuk. Rupanya kami sudah ditunggu untuk segera menyebrang menuju rumah Mak Jah.

Perahu kecil dengan tenaga diesel ini adalah satu-satunya alat transportasi menuju rumah Mak Jah, satu-satunya rumah yang masih berpenghuni. Sekitar lima belas menit berlalu, tangan Mak Jah melambai bersambut. Satu persatu dari kami turun menghampiri. Pintu dapur yang beralih fungsi menjadi pintu utama kini akrab dijajaki tamu dengan berbagai latar belakang dan tujuan.

“Saiki aku wis gak kerja mas, gak jajak rob naik terus [sekarang aku sudah tidak bekerja mas, tidak bisa menjajaki-hampir tenggelam karena rob naik terus],” ucap Mak Jah setelah mempersilakan kami duduk di ruang tengah.

“Sekarang yang kerja (panen kerang) suami dan anak pertama,” tambahnya.

“Permintaan bibit [mangrove] juga menurun karena jalan susah,” keluhnya lagi.

Ia menatap seluruh sudut rumahnya yang semakin rendah akibat lantai yang terus ditinggikan. “Rob tidak terprediksi. Sekarang tidak bisa dipastikan, dulu bisanya bulan-bulan tua. Pengaruh tol, ombak ngeri. Ini ombak paling besar. Karena tol, [ombak] ngglebak rene, dulu menyebar,” ucapnya mengurai masalah.

Mak Jah mempertebal realita yang kami lihat, bercerita seperti mencurahkan keluh kesah dengan teman. Kami tak banyak bertanya, mendengar dan menanggapinya saja. Setelah itu ia kembali ke dapur memasak kerang hasil tangkapan dan menanak nasi di pawon.

Solastalgia dan Krisis Iklim yang Membelenggu

Jika berfikir dengan logika sederhana, Mak Jah dan keluarganya bisa saja turut serta dalam program relokasi pemerintah. Namun, hal ini cukup rumit. Keinginannya menjaga alam begitu kuat. Ia konsisten menanam mangrove lebih dari 20 tahun, meski demikian perasaan getir atas krisis iklim tak dapat dipungkiri. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Iven Sumardiyantoro, peneliti yang sejak tahun 2023 aktif dalam kerja-kerja observasi dan dokumentasi telah menganalisis kondisi tersebut dengan pemaknaan solastalgia.

“Meskipun di tingkat global banyak peneliti telah menjelaskan kondisi solastalgia dalam berbagai konteks dan peristiwa, peneliti di Indonesia belum banyak menggunakan konsep tersebut. Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia, baik akibat bencana alam maupun kebijakan yang buruk,” jelas Iven Sumardiyantoro.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi dapur rumah Mak Jah, di Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Solastagia merupakan reaksi kecemasan akibat perubahan iklim, istilah ini diciptakan oleh Glenn Albrecht seorang filsuf lingkungan asal Australia. Berbeda dengan nostalgia yang merupakan kerinduan rumah masa lalu dengan kenangan dan membahagikan, solastalgia menjelaskan kondisi mental atau penyakit yang dialami oleh orag-orang korban bencana.

“Solastalgia adalah rasa sakit atau penyakit yang disebabkan oleh kehilangan atau ketiadaan kenyamanan dan rasa isolasi yang terkait dengan kondisi saat ini dari rumah dan wilayah,” jelas Iven.

Sebelumnya Mak Jah memiliki memori baik tentang kampungnya (Bedono). Namun kini rusak karena iklim, dampak banjir rob dirasakan sejak awal tahun 2000-an, puncaknya tahun 2015 penurunan tanah semakin signifikan. Turun sekitar 15-20 cm per tahun. Dari hasil risetnya, Iven menyebut warga mulai meninggalkan wilayah tersebut sejak tahun 2006.

Riset yang dilakukan Iven menghasilkan tiga analisis yang kompleks, pertama menyoroti perubahan iklim menyebabkan perubahan mata pencaharian, bertahan hidup di desa tenggelam, dan gejala solastalgia pada masyarakat.

Lahan pertanian seluruhnya tenggelam, terendam air laut sehingga berdampak pada mata pencaharian. Dari petani beralih menjadi nelayan atau budaya agraris ke pesisir.

“Dulu saya petani, lalu nelayan. Nelayan tidak cukup (penghasilan), saya punya ide untuk membuat (benih mangrove)”, ujar Mak Jah.

Itulah cara Mak Jah bertahan, namun hatinya ternyata menyimpan duka, kehilangan kenyamanan, hingga ikatan dengan rumah dan lingkungan yang rusak. Rumahnya berubah, dulu memberikan kenyamanan kini sebaliknya kesedihan dan kepahita.

“Dan saya sering kebanjiran saat tidur di lantai panggung, terutama saat angin kencang. Pada malam hari, banjir pasang tiba-tiba datang dan saya berkata kepada keluarga saya, ‘Hei, basah.. bangun. bangun’. Dan saya terkejut karena semua bantal dan tikar tidur basah”, ucap Mak Jah.

9 Jam di Desa Tenggelam ‘Menyingkap Solastalgia Korban Bencana yang Terabaikan’

Kondisi sekitar rumah Mak Jah, Sayung Demak. Dok: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Keteguhan Mak Jah dilirik oleh pemerintah dan berbagai organisasi lain. Deretan piagam penghargaan tertempel pada dinding yang tinggal setengah. Penghargaan itu antara lain: Pemerintah provinsi Jawa Tengah – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2021) pengusulan calon penerimaan penghargaan kalpataru tingkat kecamatan provinsi. (Usulan kategori perintis lingkungan, penyelamat lingkungan, pengabdi lingkungan, pembina lingkungan).

Kedua, Teladan Cinta pada Alam (Amartha &amartha.org) – Amartha Local Heroes. Ketiga, Piagam Penghargaan Peringatan Hari Kartini – atas jasanya di bidang lingkungan hidup dalam rangka peringatan hari Kartini 2023. Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju. Dan terakhir, Penghargaan Kalpataru tahun 2021, sebagai perintis, pengabdi, penyelamat, dan pembina lingkungan hidup tingkat Provinsi.

Upaya Konservasi Lingkungan dengan Memahami Risk Communication

Solastalgia yang dirasakan Mak Jah dan korban lainnya mungkin saja terabaikan. Tak ada penanganan khusus. Korban tak diajak berkomunikasi dengan hati ke hati. Lantas bagaimana menyelesaikan persoalan ini?

Sebagai informasi krisis iklim di Demak, Jawa Tengah terjadi karena faktor alam dan aktivitas manusia. Berbagai pembangunan yang tak memperhatikan dampak lingkungan cukup masif dilakukan. dari pembangunan pelabuhan hingga jalan tol.

Akademisi Komunikasi Lingkungan dari UII, Muzayin Nazaruddin mencoba mengurai bagaimana memahami alasan apa yang membuat korban climate change enggan direlokasi. Jawaban ini memiliki benang merah atas kondisi mental solastalgia. Mulai dengan memahami makna risiko dan dampak climate change. Ia menyebut jika risiko dari climate change, tak sederhana layaknya kalkulasi objektif tentang apa yang berbahaya dan tidak. Pada masyarakat terdampak, risiko adalah persepsi yang dirasakan. Hal ini berdampak tak selaras pada pengambil kebijakan.

Kecenderungan masyarakat adalah berkelompok, mereka ingin terus terhubung. Relokasi dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti administrasi yang sederhana hingga biaya pembangunan yang ideal.

“Climate change harus diantisipasi atau masuk dalam agenda pembangunan, sayangnya pemerintah Indonesia belum punya cukup agenda menghadapi climate change ini. Mitigasinya belum jelas,” ujarnya.

Dari pengamatannya, saat ini banyak LSM, masyarakat sipil, dan organisasi yang turut membantu sayangnya bersifat karitatif atau tambal sulam. Menurutnya, pemerintah memfasilitasi berbagai pihak duduk bersama, ngobrol bersama termasuk bersama warga mereka inginnya bagaimana. Kalau mereka mau bertahan di sana harus bagaimana kalau mau dipindahkan dimana dan bagaimana. Harus ada visi jangka panjang.

“Artinya ketika pemerintah membangun kebijakan berbasis risiko harusnya mempertimbangkan apa sih yang menurut warga menjadi risiko,” tandasnya.

Penulis: Meigitaria Sanita

Parade 16 Perahu ‘Di Tengah Laut, Perempuan Nelayan Menantang Kerusakan Pesisir’

16 perahu membawa nelayan perempuan bersama rombongan dari pesisir Morodemak, Jawa Tengah menuju laut. Sampai di tengah laut, satu per satu perahu mengambil posisi dan membentuk formsi lingkaran. Suara lantang diiringi sahut-sahutan, “Kita harus jaga laut, laut adalah ibu kita jangan dikotori dengan sampah plastik,” teriakan Masnuah menandai dimulainya aksi di tengah laut.

Aksi bertajuk “Parade 16 Perahu Perempuan Nelayan: Melawan Eksploitasi Pesisir yang Merusak Kehidupan” yang berlangsung pada Minggu, 31 Desember 2025 menjadi catatan sejarah untuk perempuan nelayan yang tergabung dalam komunitas Puspita Bahari, untuk pertama kalinya mereka menggelar aksi di tengah laut. Mereka mengadu pada ombak berharap suaranya didengar oleh penguasa yang berwenang.

Kalimat pembuka dari Masnuah adalah ajakan untuk bersama-sama menjaga laut yang kini telah rusak dan dieksploitasi secara serampangan. Teriakan atas rusaknya laut atas pembangunan yang tak memperhatikan lingkungan dampaknya dirasakan betul oleh mereka, penduduk pesisir.

Jalan tol yang dibangun di atas laut memperparah kondisi, ombak yang seharusnya terpencar merata justru mengarah menuju pemukiman hingga berujung kenaikan banjir rob. Kondisi ini sangat kompleks, tak hanya merusak lingkungan, kondisi sosial dan ekonomi dipertaruhkan.

Hal ini terlihat dari akses menuju Morodemak yang tak mudah, jalanan cor amblas tenggelam oleh banjir rob. Jalanan hanya bisa dilewati dengan motor, itupun butuh keahlian khusus agar tak tergelincir.

“Air pasang laut yang semakin parah, banjir rob semakinparah menenggelamkan banyak desa, desa pesisir yang hilang aksesnya, hidupnya, ekonominya itu adalah kesalahan kebijakan pembangunan yang selama ini merusak,” jelas Masnuah dalam aksinya.

Jeritan salah satu perempuan nelayan dari Timbulsoko menjadi inti dari aksi ini, Nurikah menyuarakan kegetiran hidupnya yang harus berkompromi dengan banjir. Ia juga menyuarakan tuntutan-tuntutan soal eksploitasi yang merusak laut.

“Kami adalah perempuan yang hidup bergantung pada laut, kami perempuan nelayan yang sampai hari ini masih berjuang untuk memastikan protein bangsa tercukupi. Kami adalah perempuan nelayan yang berjuang setiap hari dengan ombak tinggi, angin kencang, dan kami dipaksa hidup bersama banjir,” ujarnya.

Upaya ini menjadi salah satu harapan, yang selama ini terabaikan hingga tak mendapat solusi pasti dari pemerintah. Meski demikian sikap optimis masih ditunjukkan oleh Hidayah, perempuan paruh baya yang menggantungkan hidupnya kepada laut. Ia percaya masih ada peluang untuk hidup lebih baik.

“Kami tidak tahu mau mengadu ke siapa, suara kami tidak didengar. Kampanye ini membuka peluang bagi kami,” ungkap Hidayah yang masih menyimpan harapan besar.

Begitupun dengan Lasmi, jauh-jauh dari Timbulsloko menuju Morodemak dengan akses tak mudah ia datang untuk menyuarakan haknya. Ia mengecam keras pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dalam mengeksploitasi laut dan berujung bencana.

“Saya menyuarakan larangan untuk pemerintah yang mengambil hak kami,” tandasnya.

Salah satu aksi dalam momen ini adalah mendesak pemerintah terkait banjir rob sebagai bencana nasional. Aksi ini juga digelar dalam rangka Kampanye Global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKtP) pada 25 November hingga 10 Desember serta peringatan Hari Hak Asasi Manusia. Aksi ini diselenggarakan oleh komunitas perempuan nelayan Puspita Bahari dan didukung oleh GENERATE Project – University of Leeds dan berkolaborasi dengan Prodi Ilmu Komunikasi UII, serta NGO terkait lainnya.

Pelatihan Photovoice Warga Pesisir Demak untuk Advokasi Krisis Iklim

Di tengah ancaman banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa, warga Dukuh Timbulsloko, Kabupaten Demak, terus mencari cara untuk menyuarakan pengalaman menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata. Salah satu upaya yang kini semakin menunjukkan dampaknya adalah pelatihan photovoice yang mereka ikuti pada Oktober lalu. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UII bermitra dengan Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari ini menjadi salah satu titik penting dalam memperkuat kapasitas warga, terutama anak muda, untuk menggunakan narasi visual sebagai alat advokasi. 

Pelatihan Photovoice untuk Warga Pesisir yang didukung oleh Asuransi JASINDO dan Social Impact & Sustainability Institute (SISI) ini dirancang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan memperkuat suara warga yang hidup dalam kondisi banjir rob yang semakin ekstrem. Maka dari itu, proses pendampingan atas warga tetap dilakukan hingga saat ini oleh tim pengabdian dari Prodi Ilmu Komunikasi. 

Dua bulan pascapelatihan photovoice, tercatat ada lebih dari 60 unggahan di Instagram @timbulslokobangkit. Keberhasilan workshop tampak dari semakin beragamnya tema unggahan warga. Unggahan-unggahan itu menampilkan situasi harian masyarakat yang hidup berdampingan dengan banjir rob. Narasi visual menjadi saksi ketahanan warga menghadapi perubahan iklim sekaligus bentuk advokasi terhadap hak mereka atas lingkungan yang layak.

Instagram tersebut telah menjadi arsip sejarah bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kerusakan lingkungan, aktivitasnya direkam, hingga suara-suara kegelisahan dimunculkan. Dari keterangan Masnu’ah, Ketua Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari menyebut jika tahun 2019 Timbulsloko nyaris seperti “kampung mati” genangan air yang terus meninggi memutus akses menuju luar daerah. Berbagai upaya bangkit dilakukan, dari sisi pembangunan fisik kerja kolektif warga membangun jembatan bambu, sisi ekonomi mereka beralih profesi dari petani menjadi nelayan. Namun, upaya lain perlu dilakukan agar pengalaman dan suara mereka didengar lebih luas. Di sinilah pelatihan photovoice menjadi relevan.

“Lewat photovoice, suara masyarakat yang selama ini tidak terdengar berubah menjadi gerakan advokasi terhadap isu lingkungan yang terjadi di Timbulsloko,” ungkap Iven Sumardiantoro, salah satu fasilitator dalam pelatihan ini. 

Selama dua hari, sebanyak 12 peserta berusia 16–25 tahun dari berbagai latar belakang—pelajar, mahasiswa, buruh pabrik, hingga pekerja serabutan—mengikuti pelatihan photovoice. Pada pelatihan ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi pengalaman harian mereka hingga teknik dasar fotografi untuk kepentingan advokasi.

Metode photovoice yang digunakan berakar dari tradisi penelitian partisipatoris yang menempatkan warga sebagai subjek aktif dalam mendokumentasikan dan merefleksikan realitas sosial mereka. “Lewat foto, warga bisa bercerita tentang bagaimana kehidupan di tengah rob, kehilangan rumah, hingga cara mereka bertahan,” ujar Muzayin Nazaruddin, salah satu fasilitator. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi alat advokasi berbasis bukti visual yang dapat menjangkau publik lebih luas melalui media sosial.

Bagi warga Timbulsloko, pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membuka ruang untuk membangun kesadaran publik. Di tengah rob yang kian meninggi, suara warga kini tidak lagi tenggelam. 

Screening Festival Film Bahari

Film berjudul Sweat Dripping in the Ripples of the River kembali diputar dalam Festival Film Bahari pada 16 Oktober 2025. Sesi menonton bersama di UIN Siber Cirebon menjadi ruang bertemunya kreator dengan penonton. Para mahasiswa yang datang menunjukkan antusias terhadap film-film yang diputar.

Salah satu kru film Sweat Dripping in the Ripples of the River, Iven Sumardiyantoro menyebut bahwa mahasiswa yang datang sebagian besar penasaran terkait bagaimana proses produksi film dokumenter. Sebagai editor sekaligus cameramen, ia menjelaskan berdasarkan pengalaman yang dilaluinya.

“Mereka banyak bertanya tentang bagaimaana produksinya. Saya menjelaskan bagaimana kerja pasca produksi, editor bekerja sama dengan sutradara untuk menjahit cerita agar cerita dapat diterima, proses ini cukup panjang,” ujarnya menjelaskan.

Pertanyaan lain juga muncul, salah satunya terkait pemilihan isu. “Dalam film dokumenter isu yang dipilih sesuai dengan realitas. Di Demak, Jawa Tengah kondisinya banyak perempuan beralih profesi sebagai nelayan karena berbagai faktor termasuk krisis lingkungan,” tambahnya.

Film dokumenter ini berkisah tentang sosok perempuan nelayan di Demak, Jawa Tengah. Menariknya, sosok nelayan perempuan dalam kisah ini tidak hanya bergulat dengan profesi dan ekonomi melainkan juga kerja-kerja melestarikan lingkungan. Ini adalah bentuk kepedulian untuk keberlangsungan ekosistem perairan di Demak.

Festival Film Bahari 2025 mengambil tema Kembali ke Laut puluhan film bertemakan laut dan kelautan diputar serentak diberbagai titik di Kota Cirebon. secara umum film-film yang diputar mengambil tema climate change hingga ekosistem laut.

Salah satu film lainnya yang diputar adalah, Whales-Beloved and Hunted garapan sutradara Michael Neberg. Film dokumenter ini merekam kapan penangkap paus Norwegia, penangkapan paus demi berbagai kepentingan terutama budaya konsumsi di Eropa.

Bagi Iven Sumardiyantoro, banyak pesan mendalam dalam film-film yang dikurasi oleh Festival Film Bahari. Selain menebalkan pemahaman soal kelautan penonton diajak membaca berbagai realitas di berbagi belahan dunia.

Sebagai informasi film dokumenter Sweat Dripping in the Ripples of the River merupakan salah satu karya kreatif yang diproduksi oleh dosen dan staf Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom. bersama Marjito Iskandar Tri Gunawan, M.I.Kom. Film ini juga terpilih dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) periode 1 tahun 2024.

IAMCR 2025 Singapore: Solastalgia ‘Rumah Tenggelam dalam Lautan’ di Demak Jawa Tengah

Juli lalu beberapa delegasi dari Jurusan Ilmu Komunikasi UII bertandang ke Singapura untuk turut menyuarakan isu lingkungan dalam konferensi internasional IAMCR 2025 Singapore yang bertema Communicating Environmental Justice: Many Voices, One Planet.

Salah satu paper yang dipresentasikan oleh staf dan dosen kami adalah “Solastalgia”: Surviving (dis)placed Sinking Village garapan Iven Sumardiyantoro, S.I.Kom., M.I.Kom. (asisten Laboran Ilmu Komunikasi) dan Puji Rianto, S.IP., M.A. (dosen Ilmu Komunikasi) yang mengeksplorasi dampak emosional dan sosial akibat climate change di Demak, Jawa Tengah.

Konsep solastalgia dari Albrecht, menggambarkan kesedihan dan keterasingan ketika tempat yang ditinggali menjadi sumber kecemasan karena hilangnya identitas ruang itu sendiri. Berbeda dengan nostalgia yang maknanya rindu rumah yang jauh. Solastalgia adalah rasa sakit, ketika seseorang masih berada di rumah yang sama namun lingkungannya rusak. Seseorang menjadi stress hingga tak bedaya melihat perubahan tersebut.

Pengamatan empiris dilakukan sejak tahun 2023 di beberapa wilayah Pesisir Demak, Jawa Tengah. Informasi menyebutkan jika tenggelamnya perkampungan di wilayah tersebut terjadi sejak tahun 2000-an awal. Kenaikan permukaan laut, abrasi pantai, dan penurunan tanah terjadi karena climate change dan diperparah oleh aktivitas manusia seperti pembangunan infrastruktur yang tak memperhatikan risiko lingkungan.

Dampak dari tenggelamnya perkampungan memkasa masyarakat untuk segera beradaptasi. Hilangnya lahan pertanian yang berubah menjadi lautan. Mereka dipaksa keadaan menjadi nelayan, meninggikan rumah, hingga membuat papan jalan demi bertahan hidup. Alasan tetap bertahan adalah ikatan emosional dengan tanah leluhur, meskipun risiko sosial ekonomi yang kompleks. Solastalgia menyingkap bahwa krisis lingkungan tak hanya melihat risiko fisik, melainkan dampak serius pada kesehatan mental masyarakat pesisir. Sehingga mitigasi bencana selayaknya mengintegrasikan pemahaman ini agar respons yang diberikan lebih manusiawi dan sensitif terhadap keterikatan emosional.

Dari ketarangan Iven Sumardiyantoro, ini adalah pengalaman diskusi akademik internasional perdananya. “Kesempatan berharga bertemu scholar komunikasi bidang environmental communication walaupun saya junior researcher forum itu sangat egaliter. Para profesor curriouss terhadap paper saya,” ujarnya menjelaskan.

IAMCR 2025 Singapore digelar pada 13-17 Juli lalu di Nanyang Technological University (NTU), ia mendapat jadwal presentasi di hari terakhir. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk belajar dari diskusi panel-panel sebelumnya. “Berjejaring dengan section sesuai ketertaikan terhadap suatu topik, topik visual culture, environmental, film, pop,” tambahnya.

Dari jejaring tersebut, Iven menyebut mendapat tawaran dari panel chair untuk menjadi fasilitator yang bertema book chapter on environmental communication and disaster. Kesempatan ini tentu menjadi awal yang meyakinkan baginya.

Sebagai junior researcher, Iven mengaku banyak melakukan diskusi dengan para dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UII. “Jadi Pak Puji Rianto memberikan banyak masukan dan menuliskannya dari segi teoritik, saya empiris bagaimana cara menyemapaikan pengalaman dari point of view pada conference,” tandasnya.

Selain paper tersebut, tercatat ada sepuluh judul paper dari Jurusan Ilmu Komunikasi UII yang turut menyuarakan isu-isu terkait dalam konferensi tersebut.

IAMCR 2025 Singapore menjadi bukti nyata bahwa krisis lingkungan dan ketimpangan sosial perlu menjadi agenda penting. Lewat kajian komunikasi konferensi ini menyoroti persimpangan kritis antara berbagai suara dari berbagai pemangku kepentingan dan tindakan kolaboratif mereka dalam mengatasi tantangan mendesak zaman ini.

Singapura, sebuah negara kota yang dinamis dan dikenal karena keragaman budayanya serta program-program keberlanjutannya, menjadi latar belakang yang ideal untuk diskusi ini. Meskipun memiliki wilayah geografis yang kecil, Singapura secara unik rentan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk kenaikan permukaan laut dan pola cuaca ekstrem.

Ask the Expert Bagaimana Menghadapi Risiko Climate Change

Climate change merupakan perubahan pola suhu, curah hujan, hingga cuaca di bumi dalam jangka panjang. Merujuk pada laman United Nations, perubahan ini terjadi karena dua hal yakni secara alami seperti aktivitas matahari dan letusan gunung merapi serta akibat aktivitas manusia terutama dalam penggunaan bahan bakar fosil.

Salah satu dampak climate change yang signifikan adalah banjir rob di kawasan pesisir. Singkatnya banjir rob adalah genangan air laut yang meluap hingga daratan akibat pasang surut air laut, kenaikan permukaan air laut (iklim global), penurunan permukaan tanah (eksploitasi air tanah berlebihan), hingga kerusakan ekosistem laut.

Berbagai riset dan sumber resmi menyebut jika rata-rata kenaikan permukaan laut di Indonesia adalah 4,4 mm per tahun. Sementara kondisi ekstrim dialami oleh warga pesisir Jawa tengah, seperti Demak, Semarang, dan Pekalongan.

Beberapa waktu lalu, 29-31 Agustus 2025 kami berkesempatan mengunjungi wilayah Bedono, Morodemak, dan Timbulsloko. Wilayah-wilayah yang tergenang air laut karena rob. Climate change membuat kehidupan ekonomi, sosial, dan psikologis masyarakat terdampak begitu kompleks. Disebut-sebut penurunan muka tanah mencapai 7-21 cm per tahun.

Kenyataan getir tersebut ternyata tak tertangani dengan ideal, bagaimana menghadapi climate change hingga memahami risiko dari sudut kajian Ilmu Komunikasi? Salah satu dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Muzayin Nazarudin, Ph.D. yang fokus pada klaster komunikasi lingkungan dan semiotika memberikan beberapa rekomendasi dalam menghadapi climate change hingga memahami konteks risk communication.

Usaha Menghadapi Climate Change

Perubahan iklim di Indonesia sudah seharusnya menjadi perhatian utama dalam agenda pembangunan nasional. Sayangnya, mitigasi atau serangkaian tindakan untuk meminimalkan dampaknya belum cukup jelas. Di Demak, Jawa Tengah misalnya, masyarakat terdampak banjir rob mengalami banyak ketimpangan.

Sebagian masyarakat harus tertahan di genangan air laut lantaran kondisi ekonomi yang tak memadai. Sebagian mengiyakan untuk dilakukan relokasi, namun tak sepenuhnya upaya ini berhasil.

“Climate change harus diantisipasi atau masuk dalam agenda pembangunan, sayangnya [tampaknya] pemerintah Indonesia belum punya cukup agenda menghadapi climate change. mitigasinya belum jelas bagaimana, contohnya yang terjadi di Demak,” ungkap Muzayin Nazarudin, Ph.D.

Selain faktor ekonomi dan risiko kehilangan pekerjaan, sifat kolektif masyarakat yang enggan terpencar dengan komunitasnya menjadi alasan yang tak bisa diabaikan. “Di beberapa tempat warga mau pindah tetap dalam satu komunitasnya, mau terhubung sesama tetangganya,” tambahnya.

Menurutnya, mitigasi harus dilakukan secara komprehensif. Memulai dengan membuat peta daerah rentan tenggelam hingga melakukan kajian mendalam terkait pembangunan infrastruktur yang meningkatkan risiko lingkungan.

Selama ini tak sedikit usaha-usaha dilakukan LSM dan lembaga masyarakat sipil untuk membantu. Namun sifatnya karitatif dan belum menyentuh solusi berkelanjutan. Padahal dampak dari climate change ke depan akan semakin masif.

“Harusnya pemerintah memfasilitasi berbagai pihak duduk bersama, ngobrol bersama termasuk bersama warga mereka inginnya bagaimana. Kalau mereka mau bertahan di sana harus bagaimana kalau mau dipindahkan dimana dan bagaimana. Harus ada visi jangka panjang,” tegasnya.

Memahami Konteks Risk Communication

Memahami risiko bencana bukan soal sederhana, hal ini melibatkan kondisi geografis, geologis, sosial, hingga pemahaman (ancaman, kerentanan, kapasitas). Bukan hanya menyebutkan ancaman bencana secara gamblang.

Dalam konteks risk communication, risiko tak sekedar perhitungan objektif antara bahaya dan tidak bahaya. Melainkan juga yang dipersepsikan masyarakat. Sementara perbedaan persepsi antara pengambil kebijakan dan masyarakat jarang dibicarakan. Sehingga, taka da penyelesaian yang melegakan.

“Pengambil kebijakan mungkin menganggap bahwa tenggelamnya desa itu adalah sebuah risiko. Warga juga memandang itu sebagai risik, tapi di kalangan warga mereka punya perhitungan risiko yang jauh lebih kompleks,” jelasnya.

“Misalnya kalau mereka pindah ke lokasi baru tidak ada yang dikenal mereka memiliki persepsi risiko tidak terhubung secara sosial. Mereka pindah ke lokasi baru, tidak punya pekerjaan ada risiko lain, risiko kehilangan pekerjaan. Risiko ini sifatnya subjektif dan dibangun di level komunitas, tidak diri sendiri, biasanya kolektif,” tambahnya.

“Ketika pemerintah membangun kebijakan berbasis risiko harusnya mempertimbangkan apa sih yang menurut warga menjadi risiko,” tandasnya.

Artinya pendekatan kebijakan yang inklusif terhadap persepsi risiko warga akan menghasilkan solusi yang lebih diterima masyarakat.

 

Penulis: Meigitaria Sanita

 

 

Jurusan Ilmu Komunikasi UII berkolaborasi dengan Puspita Bahari sebuah komunitas nelayan perempuan di Demak untuk melakukan workshop produksi berita di Instagram. Kegiatan tersebut dilakukan pada 30 hingga 31 Agustus 2025 di Sekretariat Puspita Bahari, Demak, Jawa Tengah.

Praktik pencarian informasi dan berita paling banyak dilakukan melalui Google Search, Youtube, dan Instagram. Data ini diungkap oleh We are Social pada awal tahun 2025. Tren tersebut sejalan dengan peningkatan pengguna internet di Indonesia, tahun 2025 dengan penetrasi 80,66 persen.

Riuhnya tingkat penggunaan Instagram, menjadi ruang yang tepat untuk menyuarakan berbagai isu di kampung nelayan. Beberapa wilayah pesisir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah mengalami persoalan yang kompleks akibat bencana banjir rob. Tak hanya berdampak pada lingkungan, kenaikan air laut pantai utara Jawa ternyata berpengaruh signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Kemiskinan, beban ganda perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pelecehan seksual menjadi polemik yang sulit diurai. Masyarakat yang terdampak banjir rob tersebar di beberapa wilayah seperti Sayung, Morodemak, Timbulsloko, Purworejo, dan Margolinduk.

Puspita Bahari yang dinahkodai oleh Masnuah, aktif mendampingi hingga melakukan berbagai upaya untuk mengentaskan berbagai persoalan tersebut. Suara-suara mereka harus terdengar luas, cerita-ceritanya perlu diawetkan agar tak terlewat begitu saja. Lemahnya dokumentasi membuat berbagai persoalan dan momentum penting tak tercatat. Sehingga perlu ada upaya dan kemampuan untuk melakukan kerja-kerja dokumentasi tersebut.

Menjawab persoalan tersebut workshop “Produksi Berita dengan Media Sosial” yang terbagi menjadi tiga sesi yakni Materi Produksi Foto Menggunakan Handphone oleh Marjito Iskandar Tri Gunawan (Laboran Ilmu Komunikasi UII), Materi Penulisan Artikel Informatif untuk Media Sosial oleh Meigitaria Sanita (Staf Media Sosial dan Website Ilmu Komunikasi UII), dan Materi Mendesain Konten Berita Pada Halaman Instagram oleh Iven Sumardiyantoro (Staf Asisten Laboran Ilmu Komunikasi UII).

“Workshop ini selain penyampaian materi juga dilakukan praktik turun ke lapangan mencari data dan informasi, mulai dari memotret realitas dan menulis. Terakhir menuangkannya dalam desain Canva. Meski penuh keterbatasan peserta berhasil menyelesaikannya,” ujar Iven Sumardiantoro.

Komunitas Puspita Bahari telah memiliki media sosial resmi di Instagram @puspita_bahari, namun karena keterbatasan SDM akun tersebut tidak terkelola secara maksimal. Hal tersebut terpantau dari konsistensi publikasi di akun tersebut.

Isu-isu yang disuarakan pada workshop tersebut antara lain Pemukiman dan Transportasi, Sampah, Hasil Tangkapan Nelayan, dan Cerita Perempuan Nelayan. Menariknya, salah satu isu tersebut terjadi karena dipicu kondisi politik sosial. Contohnya dalam penggalian informasi pemicu penumpukan sampah di wilayah Morodemak.

‘Sampah Menumpuk, Masyarakat Terkutuk’ Workshop Produksi Berita di Instagram untuk Masyarakat Korban Banjir Rob di Demak Jawa Tengah

‘Sampah Menumpuk, Masyarakat Terkutuk’ Workshop Produksi Berita di Instagram untuk Masyarakat Korban Banjir Rob di Demak Jawa Tengah

Workshop ini ditujukan kepada anggota komunitas Puspita Bahari yakni para perempuan nelayan, pemuda-pemudi, hingga para bapak-bapak yang tinggal di sekitar wilayah tersebut. Beberapa peserta mengaku kegiatan ini penuh makna.

“Sangat bermanfaat bagi kami yang masih benar-benar belum tahu teknologi dan pesannya semoga ada program dan pelatihan selanjutnya,” ungkap Uminatus Sholikah, anggota komunitas Puspita Bahari.

“Mendapatkan wawasan dan pengalaman yang sangat berguna dan bagi saya sendiri bisa tahu pelajaran yang disampaikan oleh kakak-kakak dari UII,” terang Listianti masyarakat Morodemak.

Dengan dilakukan workshop ini, diharapkan mampu menguatkan kemampuan anggota komunitas Puspita Bahari untuk memproduksi informasi yang layak dan relevan di media sosial. Selain itu, kegiatan ini selaras dengan visi Jurusan Ilmu Komunikasi UII yakni Communication for Empowerment.

Puspita Bahari

Dua tahun terakhir Prodi Ilmu Komunikasi UII telah melakukan berbagai pendampingan dan kerja sama dengan nelayan perempuan Morodemak dan Timbulsloko, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Banjir rob telah mengepung wilayah tersebut, akibatnya berbagai masalah terjadi baik dari aspek ekonomi dan sosial.

Bermula dari pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dua dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII yakni Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom dan Ratna Permata Sari, S.I.Kom., MA pada tahun 2023. Beberapa program pendampingan seperti pemasaran digital serta parenting diberikan kepada masyarakat di sana. Proses untuk memasuki daerah tersebut tak lepas dari campur tangan komunitas Puspita Bahari.

Untuk menguatkan kerja sama, Prodi Ilmu Komunikasi UII bertandang ke Demak pada 25 Septeber 2024 untuk melakukan penandatanganan Implementasi Aktivitas (IA) denga Puspita Bahari, komunitas nelayan perempuan.

Diwakili oleh Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom, penandatanganan tersebut dilakukan bersamaan dengan festival ‘Perempuan Merajut Gerakan Krisis Iklim’ di Panggung Kesenian Tembiring, Demak Jawa Tengah. Bertandangnya rombongan Prodi Ilmu Komunikasi UII juga turut memeriahkan festival tersebut, film garapan Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom, serta Marjito Iskandar Tri Gunawan, M.I.Kom selaku staf laboran yang berjudul Sweat Dripping in the Ripples of the River juga dipertontonkan kepada publik.

“Kerjasama dengan Komunitas Puspita Bahari di Demak di mulai dari kegiatan pengabdian masyarakat dosen-dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII di komunitas perempuan nelayan di pesisir Demak. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan film dokumenter tentang kehidupan perempuan nelayan di daerah Tambak Polo dan Timbulsloko, Demak. Prodi Ilmu Komunikasi UII juga pernah menyalurkan bantuan UIIPeduli Banjir Demak saat bencana banjir melanda kawasan tersebut. Berdasarkan kegiatan-kegiatan bersama yang semakin intensif, maka Prodi Ilmu Komunikasi ingin memformalkan kerja sama dengan Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari,” ujarnya.

Peran Puspita Bahari bagi nelayan perempuan begitu besar di Morodemak dan Timbulsloko. Maka dari itu penguatan kerja sama antara Prodi Ilmu Komunikasi UII dilakukan untuk melakukan kerja-kerja pemberdayaan berkelanjutan. Hal ini selaras dengan kegiatan yang dilakoni oleh Puspita Bahari, Masnuah selaku pengurus menyebut jika kerja-kerja yang dilakukan berkaitan dengan pengorganisasian serta edukasi.

“Selam aini Puspita Bahari melakukan kerja-kerja pengorganisasian, edukasi, pemberdayaan ekonomi, pendampingan kasus kekerasan serta advokasi kebijakan (pengakuan identitas nelayan perempuan),” ujar Masnuah.

Screening Film

Krisis iklim sudah selayaknya mendapat perhatian serius dari masyarakat dan negara. Tak hanya berdampak pada lingkungan, nyatanya krisis iklim memiliki pengaruh besar terhadap perempuan. Masalah ini digagas secara serius pada momen festival bertajuk ‘Perempuan Merajut Gerakan Krisis Iklim’ di Panggung Kesenian Tembiring, Demak Jawa Tengah pada 25 September 2024.

Memasuki area festival, pengunjung akan disambut aroma menyengat khas pesisir. Deretan hasil tangkapan dari perempuan nelayan menjadi daya tarik pengunjung yang datang.

Rangkaian agenda yang cukup padat menjadi ruang pertemuan antara perempuan nelayan, pemangku kebijakan, dan publik. Di tengah-tengah diskusi, salah satu film garapan Prodi Ilmu Komunikasi UII dipertontonkan. Film dokumenter berjudul Sweat Dripping in the Ripples of the River mengangkat kisah seorang perempuan nelayan dari Tambak Polo, Demak. Kisah hidup yang dilakoni Bu Umro dalam film itu menjadi contoh bagaimana seorang perempuan turut andil besar dalam merawat lingkungan dari krisis iklim.

Dalam sesi tersebut, staf laboran Prodi Ilmu Komunikasi Marjito Iskandar Tri Gunawan, M.I.Kom., menyampaikan film ini berhasil digarap setelah melewati berbagai proses pendekatan. Salah satu rekanan yang turut andil adalah komunitas Puspita Bahari.

“Awal mula pembuatan film dokumenter ini kami berangkat dari kegiatan pendampingan terkait parenting pengasuhan anak dan bekerjasama dengan Puspita Bahari tentang pemasaran digital. Selain itu kami coba untuk belajar yang lain yaitu membuat film dokumenter,” ujarnya dalam membuka sesi.

Setelah memberi pengantar, film diputar. Para pengunjung menyaksikan, kisah Bu Umro yang berjuang sebagai kepala keluarga demi pemenuhan ekonomi. Dalam sesi itu, Bu Umro diundang untuk menceritakan bagaimana kondisinya akibat krisis iklim di pesisir Pantai Utara.

Apresiasi layak diberikan, ia memburu tangkapan dengan cara yang ramah lingkungan yakni menggunakan alat bernama bubu. Selain merekam perjuangan nelayan perempuan, film ini menunjukkan kepedulian lingkungan, tanpa merusak bibit-bibit kepiting dan ikan yang masih kecil.

Selain memproduksi sebuah karya, harapan dari Prodi Ilmu Komunikasi UII atas film ini mampu membuka mata banyak pihak. Bahwa kondisi masyarakat di pesisir Demak yang terdampak banjir rob begitu sulit, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

“Kami bersyukur pesan film ini nanti akan bisa sampai pada penonton di Australia dan Samarinda,” tambahnya.

Film ini terpilih dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN peiode 1 tahun 2024, selain itu juga masuk dalam daftar pemutaran ReelOzInd yakni Australia Indonesia Short Film Festival yang akan dilakukan pada 24 Oktober 2024 di Samarinda dan Australia.

Sebanarnya Prodi Ilmu Komunikasi UII telah menggarap beberapa film dokumenter yang mengangkat persoalan-persoalan di pesisir pantura terutama kabupaten Demak. Selain film Sweat Dripping in the Ripples of the River, lebih awal film The Independence Day, Between Tears and Laughter telah masuk dalam nominasi film dokumenter pendek terbaik dalam Festival Film Indonesia 2023.

Bermula dari dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom dan Ratna Permata Sari, S.I.Kom., MA yang melakukan pemberdayaan di lokasi tersebut harapannya melalui berbagai program dampak banjir rob di pesisir Pantai Utara mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.

Karya kreatif

Salah satu karya kreatif yang diproduksi dosen dan staf Prodi Ilmu Komunikasi UII terpilih dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) periode 1 tahun 2024. Karya kreatif ini berupa video dokumenter berjudul “Sweat Dripping in the Ripples of the Rivers : Peluh yang menetes di riak-riak sungai”.

Film dokumenter ini merupakan kisah seorang perempuan nelayan di Tambak Polo, Kabupaten Demak, Jawa Tengah yang berjuang untuk pemenuhan ekonomi keluarga. Menariknya, sosok nelayan perempuan dalam kisah ini tidak hanya bergulat dengan profesinya saja namun upayanya melestarikan lingkungan menjadi bentuk kepedulian untuk keberlangsungan ekosistem perairan di Demak.

Salah satu bentuk pelestarian lingkungan yang dilakukan sosok nelayan perempuan bernama Umro ini adalah menangkap kepiting, udang dan ikan dengan cara konvensional yang tak mengganggu ekosistem. Ia menggunakan bubu sebagai alat untuk mencari kepiting, dan perahu tak bermesin untuk memasang dan mengambil bubu. Penggunaan alat ini tidak merusak bibit-bibit kepiting dan ikan yang masih kecil.

“Video ini bercerita tentang perjuangan nelayan perempuan di Demak dalam mencari nafkah untuk perekonomian keluarga. Video ini sekaligus menunjukkan kepedulian lingkungan dengan cara dia (nelayan perempuan) mencari ikan dengan alat ramah lingkungan atau bubu,” ujar Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom,.

Kisah ini penting untuk diketahui oleh publik secara luas, kerja-kerja yang dilakukan perempuan nelayan kerap tak terdengar. Awalnya para perempuan nelayan ini berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan kesetaraan sebagai nelayan. Kini mereka bisa menunjukkan eksistensinya sebagai perempuan nelayan yang tangguh.

“Nelayan perempuan dari Tambak Polo Demak, disana awalnya perempuan nelayan belum mendapat identitas sebagai nelayan di KTP, sehingga mereka tidak mendapatkan hak yang sama dari pemerintah berupa bantuan untuk nelayan. Mereka terus berjuang demi kesetaraan sampai akhirnya mendapat pengakuan atas profesi nelayan di KTP,” tambahnya.

Salah satu staf Laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi UII yang turut menjadi kru dalam produksi film tersebut yakni Rizka Aulia Ramadhani menyebut jika perempuan dalam film ini mewakili sosok perempuan-perempuan di Indonesia yang memiliki kekuatan besar meski dalam tekanan hidup yang tinggi. Bu Umro adalah sosok istri yang mengambil alih peran kepala keluarga lantaran suaminya sakit dalam beberapa kurun waktu terakhir.

Dalam proses produksinya, Rizka menjelaskan jika semua kru mengikuti serangkaian kegiatan Bu Umro dari bangun tidur hingga tidur lagi. Semua kru tinggal di sana dengan tujuan riset mendalam dan mendapat hasil yang orisinil.

“Perempuan memiliki kekuatan yang lebih super dibanding yang kita kira, dengan tekanan hidup bu Umro mampu menjalaninya. Bangun pagi buta menerjang rawa-rawa. Karena ini dokumenter kita benar-benar mengikuti dari beliau bangun tidur hingga tidur lagi live in, kita juga ikut nyemplung ke rawa-rawa demi mendapatkan potret yang nyata,” ujar Rizka.

Sebagai informasi Program Akuisisi Pengetahuan Lokal merupakan kegiatan yang dilakukan BRIN untuk mendapatkan dan mendokumentasikan berbagai konten pengetahuan lokal dalam bentuk buku dan audiovisual. Karya-karya yang terpilih akan disebarluaskan dan menjadi sumber literasi yang terbuka untuk diakses dan dimanfaatkan masyarakat.

Penghargaan ini bukanlah yang pertama bagi Tim Karya Kreatif Prodi Ilmu Komunikasi, tahun 2022 lalu pihaknya juga meraih penghargaan yang sama. Karyanya yang berjudul “Orchidaceae” berhasil masuk pada Program Akuisisi Pengetahuan Lokal periode ketiga tahun 2022.

Masih dengan isu lingkungan dan pelestarian alam, Orchidaceae merupakan video dokumenter tentang kisah perjuangan Pak Musimin yang melestarikan ratusan spesies anggrek endemik Merapi, salah satunya Anggrek Vanda Tricolor.