Tag Archive for: buku

BookTalk: Segala-galanya Ambyar ‘Tips Bertahan Menjadi WNI’

Warga negara Indonesia (WNI) tengah dihantui berbagai kabar buruk, ketidakpastian ekonomi, hingga kesenjangan sosial masyarakat akibat berbagai kebijakan. Data BPS mencatat inflasi pada bulan Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan (yoy), artinya rata-rata harga barang dan jasa naik 3,34%. Jika diilustrasikan, kebutuhan belanja rata-rata Rp1.000.000 kini menjadi Rp1.033.400.

Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin frustrasi, hingga menumpahkan emosi ke media sosial lewat berbagai meme ataupun catatan-catatan yang dibalut dengan humor getir. Salah satu cara bertahan dalam kondisi ambyar, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Puji Rianto, memberikan rekomendasi lewat buku Segala-galanya Ambyar atau Everything is Fucked yang ditulis oleh Mark Manson.

“Buku ini bercerita tentang sebuah harapan,” ujar Puji Rianto.

Dalam kondisi kecewa, terkadang manusia cenderung berhenti berharap. Buku ini menyebutkan bahwa kita hidup dalam dunia paradoks yang menciptakan berbagai tekanan di segala sisi. Di satu sisi, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan peradaban, dan seterusnya.

“Kita juga menghadapi situasi yang paradoks, konon katanya negara kita gemah ripah loh jinawi, tapi nyatanya segalanya sulit, BBM naik, bahan-bahan pokok naik, pendidikan semakin mahal, pekerjaan semakin sulit didapatkan,” tambahnya.

Lantas, bagaimana WNI membangun harapan di tengah situasi yang tidak menyenangkan? Ada tiga hal dari buku ini yang diusulkan Mark Manson. Kira-kira begini yang diucapkan dalam sesi BookTalk oleh dosen UII.

Pertama, menyadari posisi bahwa “Kita yang menjadi kendali atas hidup kita, bukan orang lain. Maka, mampu membangun harapan lalu menghancurkan barier dengan kendali itu adalah apa yang membuat harapan itu tidak terwujud,” ungkapnya.

Setelah menyadari kendali atas hidup, kita harus memiliki nilai yang layak diperjuangkan. Sebagai WNI, nilai yang paling relevan adalah nilai demokrasi dan kehidupan yang layak.

“Nilai kan sesuatu yang berharga, kalau kita berbicara tentang nilai berarti berbicara tentang sesuatu yang berharga,” jelas Puji Rianto.

“Pertanyaannya, nilai apa yang kita perjuangkan? Kalau sekarang nilai itu demokrasi dan kehidupan yang layak,” tambahnya.

Terakhir, ada keterikatan dengan komunitas. Fungsi komunitas adalah sebagai benteng penjaga nilai dan pembangun kohesi sosial.

“Kita harus terikat pada komunitas karena nilai itu didefinisikan di dalam komunitas. Di dalam komunitas, kita berharap orang-orang memperjuangkan nilai yang sama. Kalau nilai itu tidak diperjuangkan oleh komunitas atau bahkan dinegasi oleh komunitas, maka nilai itu lambat laun jadi hilang.” Tandasnya.

Itulah tiga tips untuk bertahan menjadi WNI lewat buku Segala-galanya Ambyar. Bagaimana pendapatmu, Comms?

Baca artikel lainnya: https://communication.uii.ac.id/ask-the-expert-demo-wajib-izin-masihkah-kita-bebas-bersuara-di-indonesia/

Penulis: Meigitaria Sanita

Buku ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ Demokrasi tidak Sekedar Pemilu saja!

Buku berjudul ‘Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru’ sempat ramai di berbagai platform digital lantaran substansinya yang penuh kritik tajam berbasis data hasil penelusuran empat jurnalis lintas generasi. Empat jurnalis itu adalah Farid Gaban (mewakili Baby Boomer), Dandhy (mewakili Generasi X), Yusuf Priambodo (mewakili Milenial), serta Benaya Harobu (mewakili Gen Z).

Singkatnya, buku ini adalah ekspedisi jurnalistik mulai dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa tahun 2009, Indonesia Biru tahun 2015, dan Ekspedisi Indonesia Baru tahun 2022-2023. Semua didokumentasikan dalam 12 terabyte video dan 80.000 foto. Ketidakadilan soal atas lahan menjadi isu yang dikuliti pada buku ini. Namun, yang tak kalah menarik adalah salah satu bab yang menyoal pesta demokrasi.

Dosen Ilmu Komunikasi UII, Khumaid Akhyat Sulkhan menyebut, pemaknaan demokrasi tak sebatas pesta lima tahunan. Demokrasi tak sekedar memutuskan pilihan di bilik suara. Lebih luas, demokrasi adalah partisipasi bermakna yang menentukan kebijakan.

“Seolah-olah inti demokrasi hanya terletak pada bilik suara. Namun, pandangan ini menyederhanakan makna demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi bukan sekadar memilih, melainkan partisipasi bermakna warga dalam menentukan arah kebijakan publik,” ucapnya, menjelaskan buku Reset Indonesia.

Bab ini memberikan gambaran soal fenomena golput (golongan putih) yang datang dari kekecewaan terhadap Orde Baru kala itu. Golput menjadi bentuk protes politik karena pemilu tidak memberikan ruang partisipasi sejati. Pemilu hanyalah seremoni, sementara kritik dan keterlibatan masyarakat di luar pemilu lebih sering ditekan. Sederhananya, pemilu hanyalah prosedur formal yang tidak substansial.

“Pemilu itu adalah pesta demokrasi, padahal demokrasi itu ya harus ada dalam hidupan kita sehari-hari dan itu harus ada bahkan dari level desa,” tambahnya.

Sejatinya, untuk mencapai demokrasi yang berkualitas, ada empat komponen yang mesti terpenuhi. Pertama, partisipasi aktif masyarakat atau participatory democracy, tak hanya mencoblos, masyarakat terlibat dalam perumusan kebijakan untuk tingkat desa hingga nasional.

Kedua, musyawarah atau deliberative democracy, idealnya pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah yang terbuka dan saling menghormati, bukan voting dan pemenangan suara mayoritas. Selanjutnya, kesetaraan atau egalitarian democracy yakni distribusi kekuasaan yang adil untuk semua kelompok sosial tanpa adanya diskriminasi berbasis ekonomi, gender, ras, etnis, maupun kondisi fisik. Terakhir, kebebasan dan supremasi hukum atau liberal democracy, dalam demokrasi, perlindungan hak sipil, kebebasan berekspresi, peradilan yang independen harus dijamin oleh negara. Konstitusi semestinya menjamin hak publik dalam menyampaikan kritik. Artinya, pemilu bukanlah satu-satunya instrumen demokrasi. Demokrasi berkelanjutan dibangun lewat keterlibatan, dialog inklusif, dan penghormatan terhadap hukum dan kebebasan sipil.

 

 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

Anti-library Merayakan Rasa Ingin Tahu dan Kerendahan Hati

Podcast ini menentang soal kesombongan siapa paling tahu, sebaliknya semakin banyak buku yang dibaca ia semakin merasa tak mengerti apa-apa.Kerendahan hati ini dijelaskan oleh Umberto Eco, sosok intelektual sekaligus penulis Italia. Ia dikenal dengan perpustakaan dan koleksi bukunya.

Baginya, buku layaknya obat yang harus tersedia di rumah. Buku sebagai alat penelitian dan eksplorasi pengetahun memunculkan konsep Anti-Library. Anti-library adalah koleksi buku yang belum dibaca dan justru inilah yang menjadi nilai utamanya. Buku-buku yang belum dibaca berfungsi sebagai pengingat akan luasnya pengetahuan yang belum kita kuasai.

Semakin banyak kita tahu, semakin kita sadar akan banyaknya hal yang belum kita ketahui. Dengan kata lain, anti-library adalah simbol kerendahan hati intelektual dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

Kebebasan Pers

3 Mei 2024 diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day. UNESCO merilis tema “A Press for the Planet: Journalism in the face of the Environmental Crisis” yang menyoroti jurnalisme dalam menghadapi krisis lingkungan.

Momen ini merupakan dukungan besar bagi para jurnalis di seluruh dunia dalam pemberitaan krisis lingkungan global. Pentingnya jurnalisme dan kebebasan berekspresi mampu membawa perubahan dan solusi pada kondisi ini.

Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal PBB menegaskan dalam pidatonya soal kondisi lingkungan yang darurat.

“Dunia sedang mengalami keadaan darurat lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menimbulkan ancaman nyata bagi generasi sekarang dan mendatang,” ujarnya dalam kanal YouTube UNESCO.

Melalui kerja-kerja jurnalis masyarakat akan memahami penderitaan planet kita hingga memobilisasi serta diberdayakan untuk mengambil tindakan demi perubahan.

“Media lokal, nasional, dan global dapat menyoroti berita tentang krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan ketidakadilan lingkungan. Melalui pekerjaan mereka, masyarakat menjadi memahami penderitaan planet kita, dan dimobilisasi serta diberdayakan untuk mengambil tindakan demi perubahan,” tambahnya.

Kebebasan pers menjadi kunci utama dalam membawa lingkungan semakin baik. Sementara kondisi dan keselamatan jurnalis tak selalu menguntungkan.

“Tidak mengherankan jika sejumlah orang, perusahaan, dan lembaga berpengaruh tidak melakukan apa pun untuk menghalangi jurnalis lingkungan melakukan pekerjaannya. Kebebasan media sedang terkepung. Dan jurnalisme lingkungan hidup adalah profesi yang semakin berbahaya. Sejumlah jurnalis yang meliput pertambangan ilegal, pembalakan liar, perburuan liar, dan isu-isu lingkungan lainnya telah dibunuh dalam beberapa dekade terakhir. Dalam sebagian besar kasus, tidak ada seorang pun yang dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.

Data dari UNESCO menyebutkan selama lima belas tahun terakhir tercatat 750 serangan terjadi kepada jurnalis dan kantor berita yang melaporkan isu-isu lingkungan hidup. Ironisnya proses hukum juga disalahgunakan untuk menyensor, membungkam, menahan, dan melecehkan jurnalis lingkungan.

Rekomendasi Buku Jurnalisme Lingkungan

Salah satu rekomendasi buku yang layak dibaca dan mendukung riset dalam kajian ini adalah buku berjuduk Jurnalisme Warga, Radio Publik dan Pemberitaan Bencana yang digarap oleh beberapa dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Muyazin Nazaruddin, S.Sos., M.A, dan Dr. Zaki Habibi., M.Comms. yang bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI), serta Jalin Merapi.

Buku ini menjelaskan terkait ketidakpastian informasi pasca bencana erupsi Gunung Merapi. Masifnya informasi pasca bencana membawa banyak media penyiaran berlomba-lomba mengeksploitasi dampak bencana yang justru menimbulkan keresahan masyarakat. Kondisi tersebut menandakan pentingnya media alternatif yang memberitakan bencana untuk memberi perspektif yang berbeda.

Dari isu tersebut, penulis menagaskan bahwa praktik jurnalistik yang dilakukan merupakan jurnalisme alternatif dengan argument memegang beberapa prinsip, yakni prinsip dasar pemberitaan bencana yakni akurasi, prinsip kemanusiaan atau berangkat dengan perspektif korban dan warga setempat, prinsip komitmen menuju rehabilitasi, serta prinsip control atas bantuan bencana.

Selain buku tersebut ada pula buku yang berkaitan dengan isu lingkungan, bencana, kebebasan pers seperti Jurnalisme di Cincin Api: Tak Ada Berita Seharga Nyawa, Mengatur Kebebasan Pers, Komunikasi Lingkungan: Penanganan Kasus-kasus Lingkungan Melalui Strategi Komunikasi, dan Komunikasi Bencana.

Selengkapnya dapat diakses melalui laman https://communication.uii.ac.id/nadim/

Atau dapat mengunjungi ruang NADIM dan membaca langsung koleksi buku-bukunya.

Dosen Ilmu Komunikasi

Bagi mahasiswa yang tertarik dengan kajian Jurnalisme dan Media dapat memantau beberapa riset yang dilakukan oleh beberapa dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII. Berikut daftar nama dosen beserta daftar klaster riset.

https://communication.uii.ac.id/dosen/#top