JURNAL KOMUNIKASI

Volume 3, Nomor1, Oktober 2008

ISSN 1970-848X

 

Negotiating Mass Media Interest and Heterogeneous Muslim Audience

 in the Contemporary Social-Political Environment of Indonesia

Oleh Ishadi S.K

Abstract

                Sejarah industri radio dan televisi Indonesia dapat dibagi dalam tiga era kekuasaan otoritatif. (1) Era Monopoli Pemerintah 1962-1990. (2). Era Quasimonopolitik: pemerintah memberi izin lima pemilik stasiun televisi baru (RCTI, SCTV, TPI, Anteve, dan Indosiar), dan (3) Era persaingan Bebas-pasca-reformasi 1998. Setelah jatuhnya Presiden Soeharto dan pelantikan pemerintahan yang baru di bawah B.J Habibie, pemerintah melepaskan kontrol atas media, termasuk televisi. Kontrol sekarang ditentukan pasar. Mencakup ketiga era era seluruhnya, orang muslim indonesia, yang merupakan populasi mayoritas (90% dari total populasi), tidak pernah disediakan peluang proporsional program siaran bertema Islam. Satu-satunya masa kemenangan Islam atas kepentingan media adalah sepanjang bulan suci Ramadhan, ketika semua muslim wajib puasa dan taat beribadah, televisi didominasi program bertema Islam. Sepanjang Ramadhan, program berkarakter Islam mendominasi layar televisi dan siaran radio, termasuk media cetak. Setelah Ramadhan, segalanya kembali berbalik ke bentuk semula. Mengapa Islam gagal memperluas kemenangannya di bulan setelah Ramadhan? Mungkinkah mengendalikan “antusiasme Ramadhan”, bahkan setelah bulan suci Ramadhan telah lewat di negara di mana Islam agama mayoritas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dianalisi dalam tulisan ini.

 

Penerbit :
Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA