Mewakili Suara Gen Z, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Angkat Keresahan Lewat Karya Musik
Umumnya mahasiswa memilih skripsi sebagai syarat meraih gelar sarjana, namun berbeda dengan Farid Fadillah mahasiwa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2021 yang memilih karya musik untuk merampungkan masa studinya.
Berjudul “Wtlg” akronim dari We’re the lost generation lagu ini mengangkat keresahan Gen Z. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Farid yakin bahwa penyamapaian pesan lewat musik mampu menyentuh emosi. Lirik-lirik yang ekspresif ala Gen Z yang ia ciptakan tak sekedar curhatan belaka, melainkan mampu menjadi komunikasi yang valid.
“Pesan itu tidak selalu disampaikan lewat teks panjang atau ceramah, menurut saya musik salah satu medium komunikasi ekspresif yang paling direct untuk menyentuh emosi,” ucap Farid saat ditanya alasan memilih karya musik untuk tugas akhir.
“Aku ingin buktikan kalau curhatan Gen Z bisa diubah menjadi produk komunikasi yang valid dan akademis, bukan sekadar curcol,” tambahnya.
Karya musik dengan genre pop house dipilih, baginya genre ini fleksibel. Dengan chorus pop diawali rap, lalu disusul verse melodik Wtlg adalah representasi isi kepala Gen Z.
Isu Quarter-Life Crisis yang Diekspresikan Lewat Lagu Wtlg
Lewat bimbingan salah satu dosen Ilmu Komunikasi UII, Anggi Arifudin Setiadi, S.I.Kom., M.I.Kom karya musik ini mengusung konsep sad banger, lagu dengan lirik emosional, melankolis namun irama beatnya energetik. Dengan isu quarter life crisis, Wtlg ingin memvalidasi perasaan takut terhadap ekspektasi orang-orang.
“Isunya tentang quarter life crisis. Pesannya simpel, aku ingin memvalidasi perasaan bingung, takut, dan pusing sama ekspektasi orang-orang termasuk orang tua yang dirasain teman-teman Gen Z. Lewat lagu ini, aku mau bilang ‘It’s okay to be lost, kita bareng-bareng kok sesatnya’,” ujarnya.
Liriknya yang relatable dengan perasaan Gen Z ditulis dari pengalaman pribadi, riset, dan observasi. Sementara untuk produksi Farid mengaku semua dilakukan full home recording. Kolaborasi dengan berbagai pihak dilakukan untuk menyempurnakan karyanya. Ia menggandeng salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk turut mengisi vokal.
Sementara untuk medium dengar, Farid memilih mendistribusikannya ke Instagram pribadi, Spotify pribadi, dan YouTube Ikonisia. Alasannya sederhana yakni mengikuti pasar Gen Z.
“Pasar lokal Gen Z memang nongkrongnya lebih rame di Spotify dan audio IG jadi buat aksesnya gampang untuk personal branding juga. Nah, kalau Video Live Session yang di YouTube Ikonisia TV itu sbenarnya untuk promosi saja agar jangkauannya lebih luas ke audiens kampus, sekalian referensi untuk anak-anak Ilkom lain yang ingin membuat konten visual musik yang kece hehe,” ucap Farid.
Meski demikian proses yang dilalui dalam produksi karya musik ini tak sederhana. Dengan serba keterbatasan seperti home recording di kos membuat kualitas audio tak sebening studio profesional. Selain itu, ia juga harus bekerja ekstra dalam hal durasi.
“Lagu-lagu sekarang kebanyakan cuma 1-3 menit, durasi 4 menit masuknya agak kelamanaan, sehingga tantangannya adalah gimana agar pendengar tetap menangkap pesannya tanpa kehilangan fokus atau attention span,” tambahnya.
Ia berharap karyanya tak berhenti di tugas akhir, Farid bermimpi ingin memperbaiki visual dari karya musiknya. Seperti menciptakan official music video berseri dengan pesan yang kuat.
“Visualnya sih, pengen banget membuat Official Music Video untuk lagu ini yang ada alur ceritanya, bukan cuma video lirik atau live session. Agar pesan quarter life crisis-nya makin nampol secara visual. Tapi kayaknya masih nantian deh, ngumpulin mood dulu,” tandasnya.
Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://youtu.be/auoT8NTiKc4?si=QU8nJPCB-eu9Yka-


