Setelah melakukan persiapan di segala lini, akhirnya tibalah hari yang ditunggu itu. Program Studi telah melakukan beberapa persiapan seperti penyusunan dokumen, pengecekan bukti, dan koordinasi-koordinasi rutin intensif sejak satu hingga dua tahun belakangan. Semua sivitas akademika Komunikasi UII mulai dari mahasiswa, staf pegawai, hingga dosen menyatukan asa agar re-akreditasi mencapai targetnya: A kembali.

Pada 10/7/2019 Komunikasi UII menyambut kunjungan dua asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dalam rangka Assesment Lapangan (AL) Re-akreditasi Program Studi Ilmu Komunikasi UII. Akreditasi Komunikasi UII yang sedianya habis pada agustus mendatang kini akan ditinjau langsung setelah sebelumnya Tim Penyusun Borang Program Studi dan Fakultas mengirimkan dokumen pada BAN-PT. Dokumen itu pada gilirannya akan dicek, dinilai, dan dipadukan dengan komponen-komponen penilaian lainnya.

Pada kesempatan kali ini dua asesor dikirim untuk mengecek bukti dan dokumen yang telah disiapakan tim. Mereka adalah Prof. Dr. Hafied Cangara, M.Sc. dan Dr. Irwansyah, S.Sos., MA. Keduanya adalah dosen kenamaan yang sudah lama dikenal dalam dunia perguruan tinggi ilmu komunikasi di Indonesia. Misalnya, Prof. Dr. Hafied Cangara, M.Sc. adalah profesor dari Universitas Hasanuddin dan penulis buku-buku yang sering menjadi rujukan seperti Komunikasi Lingkungan, Komunikasi Politik, dan Pengantar Ilmu Komunikasi. Sedangkan Dr. Irwansyah, S.Sos., MA. adalah lulusan University of Hawaii at Manoa (UHM) Honolulu Amerika Serikat dan seorang konsultan beberapa kampus di Indonesia dan instansi pemerintahan pusat.

Di akhir kunjungannya, Prof. Dr. Hafied Cangara, M.Sc. dan Dr. Irwansyah, S.Sos., MA.  memberikan pesan-pesan penting untuk pengembangan program studi Ilmu komunikasi UII. Misalnya, Dr. Irwansyah mengatakan sangat penting ke depan seluruh prodi di indonesia dapat mengedepankan mata kuliah-mata kuliah yang punya visi masa depan. “Jadi bukan hanya bervisi kekinian, tapi juga masa depan. Visi global belum tentu masa depan, digital itu masa depan,” katanya. Riset-riset hibah Dikti juga perlu digencarkan. Dr. Irwansyah mengatakan kini dosen-dosen punya peluang lebih mudah untuk dapat dan mengelola hibah Dikti. Kabarnya kriteria dan persyaratannya tetap ketat, namun pelaporannya sudah mengeliminir syarat-syarat teknis yang kontraproduktif dengan esensi penelitian pendidikan tinggi.

Sedangkan Prof. Hafied justru menguatkan bahwa Ilmu Komunikasi UII sudah saatnya bisa melaju menjadi fakultas setara kampus-kampus lain. Perlu juga internasionalisasi lebih banyak. Banyak juga perkembangan yang diraih, katanya, misalnya alumninya yang kini tersebar di media-media nasional, berperan dalam pemberdayaan masyarakat, dan juga, “mahasiswanya bagus-bagus di ranah praktik terlihat saat visitasi seharian tadi. Saya juga tadi wawancara dengan alumni-alumninya yang berkiprah di TVone, Detik, Pertamina, dan institusi-institusi nasional, bagus sekali,” katanya. Perlu diketahui, saat akreditasi pertama Komunikasi UII juga Prof. Hafied adalah asesor-nya. Maka tak heran bila ia dapat membandingkan dan melihat perkembangan Komunikasi UII yang pesat.

Foto: M. Iskandar T. G.