Apa saja tipologi konflik yang bisa muncul dalam organisasi?

Puji Hariyanti banyak menjelaskan soal konflik dalam organisasi, tipenya, dan bagaimana menghadapinya. Pemaparan itu ia terangkan dalam sesi Komunikasi Organisasi (Jilid 2) di Pelatihan dan Pengabdian Masyarakat Gandeng Gendong  pada Jumat, 25 Oktober 2019. Pelatihan di Gedung PKK balai kota Yogyakarta ini adalah hari yang ke 5 dari total 9 hari materi terstruktur Workshop Kewirausahaan yang dihelat oleh tim Pemateri dari Komunikasi UII. Kegiatan ini juga adalah kerjasama dengan DPMPPA Kota Yogyakarta.

Sebelum menyelesaikan konflik, Puji harap para peserta memahami tipologi konflik yang sedang dihadapi. Menurut Puji, ada beragam tipe konflik. Misal Ada yg konflik substantif. Ia terjadi karena hal-hal yang mendasar tentu solusinya membenahi suatu yang prinsip misalnya dasar atau tujuan organisasi.

Ada pula konflik yang sifatnya konflik emosional. Biasanya konflik emosional disebakan oleh masalah psikologis. Misalnya ketidakpercayaan, perasaan takut atau terancam.

Konflik juga harus dilihat apakah ia destruktif, merusak, atau konstruktif. Konflik yang destruktif tentu memberikan kerugian setidaknya pada yang berkonflik. Ada perasaan tidak nyaman, tidak aman.

“Konflik konstruktif membawa perbaikan, keuntungan bagi pihak yang berkonflik berupa peningkatan kreatifitas,” terang Puji. Konflik yang membawa keuntungan ini bisa jadi sebuah momen untuk peningkatan kreativitas, peningkatan produktivitas, hingga peluang bertumbuhnya solidaritas dalam organisasi.

Bagaimana menghindari konflik kemudian

Meski telah mengenali tipologi konflik, layaknya patut dikenali juga gaya dalam manajemen konflik. Yang manakah kita. Misalnya, kata Puji, gaya “competitor” yang lebih mengelola konflik dengan pendekatan kompetisi dan tantangan dalam organisasi. Kita perlu menciptakan kompetisi yang sehat dalam organisasi.

Pendekatan dan gaya “accomodation” Melihat apakah dapat mengakomodasi beragam kepentingan dalam konflik. Atau mungkin gaya selanjutnya yaitu gaya “compromiser” yang memilih kompromi untuk memanajemen konflik. Ada juga gaya “collaborator” yang mengelola konflik dengan menakar Mungkinkah kolaborasi dilakukan untuk meminimalisir konflik. Gaya “avoider” justru sebaliknya: menghindari konflik.