,

Buku ‘Aku Klik Maka Aku Ada’, Deskripsi Manusia menjadi Otomatis dan Dangkal tanpa Refleksi

Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital

Buku berjudul Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital yang ditulis oleh F. Budi Hardiman secara umum menyoal bagaimana klik mampu merampas kebebasan kita. Buku ini juga mempertanyakan siapakah manusia di era digital? Sementara kebenaran menjadi bias di media sosial. Bahkan, dengan klik manusia menjadi otomatis, dangkal, dan tanpa refleksi.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Khumaid Akhyat Sulkhan, membedah salah satu chapter menarik dalam buku ini. Chapter itu menyebut tindakan jahat tidak selalu lahir dari niat jahat. Konsep banalitas dari Hannah Arendt menggambarkan perkembangan komunikasi digital yang tak sekadar mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga menggeser struktur moral dan tindakan. Tindakan menghina, menyebarkan hoaks, mengetik ujaran kebencian seolah ringan lewat klik, like, dan share, dan prosesnya tanpa melibatkan emosi secara langsung. Inilah yang disebut kejahatan hasil dari rutinitas ketidakberpikiran.

“Banjir informasi bikin kita jadi kurang reflektif ketika mengonsumsi apa-apa di media sosial dan itu bisa membuat kita jatuh dalam kondisi ketidakberpikiran,” ucap Khumaid Akhyat Sulkhan, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Di ruang digital, manusia kehilangan “bobot korporeal”, yakni pengalaman moral yang biasanya muncul saat interaksi langsung dengan orang lain. Scrolling dan mengetik untuk berbincang dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun. Kondisi ini menimbulkan minimnya refleksi. Sehingga seseorang dapat bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi etis.

Fenomena itu diperkuat oleh tiga mekanisme utama, yakni rutinitas digital, ketidakberpikiran reflektif dan sistem komunikasi. Ketiganya menciptakan lingkungan yang bias antara tindakan sengaja dan tidak sengaja. Ketika seseorang menyebarkan konten hoaks, bisa jadi bukan karena niat jahat, melainkan karena mengikuti arus informasi. Tekanan digital berperan besar, menurut Stanley Milgram orang yang melawan otoritas tidak selalu autentik, seperti percakapan yang terjadi di grup WhatsApp.

Gagasan lain dari Lozowick melihat bahwa kejahatan adalah proses yang bertahap seperti karier: seseorang perlahan berlatih dan menjadi mahir. Perpektif kejahatan memperlihatkan bahwa kejahatan digital merupakan produk struktur maupun hasil eskalasi niat seseorang.

Artinya, bukan isi pesan yang bahaya dalam dunia digital melainkan mekanisme yang membuat manusia bertindak cepat, otomatis, dan minim refleksi. Tantangannya tak sekedar mengontrol konten namun membangun kesadaran moral di budaya klik instan.

Penulis: Meigitaria Sanita