Holy Rafika, Dosen Komunikasi UII, itu sudah hadir di depan ibu-ibu peserta pagi-pagi (24/10). Ia sudah menyiapkan materinya dengan tajuk Copywriting: Seni Menjual Lewat Tulisan (2) atau sederhananya, “Menulis di socmed,” katanya.  Ruangan, di Gedung PKK komplek Balai Kota Yogya, dengan 20an peserta dari komunitas gabungan Gandeng Gendong itu penuh dengan antusiasme dan ibu-ibu yang sedari pagi tak sabar mengulik sosmednya.

Holy dan para peserta sedang menjalankan kelas dalam program pengabdian masyarakat hasil kerjasama Komunikasi UII dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat  Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta yang dihelat dari 21 Oktober 2019 hingga 6 November 2019. .

“Apa yang berbeda menulis di sosmed?” Kata Holy di depan peserta yang semuanya ibu-ibu. Copywriting itu menulis bertujuan, tujuannya marketing. Pemasaran. Memasarkan barang jualan kita. Menurut Holy, copywriting ssebenarnya mudah. Ada tiga tips copywriter handal: (1) Mengenali social media yang akan digunakan untuk memasarkan, (2) Memahami product, (3) Memahami target audience.

‌Mengapa harus mengenal saluran media sosial? Karena itu menentukan panjang pendek, ruang, dan batas sampai mana tulisan yg akan digunakan. Saluran menentukan audience dan content yg kita gunakan. Facebook mungkin audience-nya banyak orang dewasa. Sedangkan Instagram (IG) diisi oleh banyak remaja.

‌Paling tepat memang mendeteksi akun-akun yg mengikuti berada dalam jaringan akun yg anda gunakan. Saluran menentukan ruangan/isi tulisan dan saluran akhirnya menentukan juga gaya tulisan dalam copywriting.

‌‌Selain mengenali saluran media sosial yang akan digunakan, kita juga perlu memahami produk kita (product knowledge). Sebuah pemahaman mengenai barang atau layanan yang kita jual setidaknya mengandung informasi: Penggunaan, Fungsinya, Penampilan, dan Kelengkapan pendukung. Produk menentukan cara mengkomunikasikan/menjualnya. Jika kita menghadapi customer yang berbeda, penguasaan terhadap produk, penyusunan pesannya juga mestinya berbeda.

‌Salah satu yang juga jangan sampai terlewat adalah “Menentukan target pasar”: panjang tulisan, gaya bahasa, bentuk font, huruf ditentukan oleh pasar kita.

‌”komunikasi pemasaran terutama ditentukan oleh target (pembeli) dan bukan oleh pembuat pesan komunikasi (penjualnya),” kata Holy.

‌Tak hanya teori, peserta juga praktik melatih diri menulis menjual lewat tulisan. “Yuk latihan menulis. Mari kita menuliskan produk kita dengan: menentukan saluran media, product knowledge, dan target pasar,” kata Holy.

Ada tanya jawab, diskusi, ada juga peserta yang kreatif membuat konten sedikit genit dan sangat anak muda. Padahal rata-rata sudah di atas kepala tiga, masih banyak yang bisa menulis kreatif, lucu, dan bahkan puitik. “Oh saya baru mengerti kalau copywriting itu promosi produk lewat tulisan,” kata salah satu peserta dari Purbayan Kotagede saat diminta testimoninya.