Alumni Ilmu Komunikasi UII Raih Beasiswa LPDP ke Wageningen University Belanda, IELTS dan Esai Jadi Penentu
Alumni dari Prodi Ilmu Komunikasi UII raih beasiswa LPDP ke Belanda. Ia adalah Ajeng Putri Andani alumni angkatan 2017, yang saat ini telah menjalani proses studi Master’s in Communication, Health and Life Sciences di Wageningen University & Research (WUR).
Perjalanannya meraih beasiswa ke Belanda bukan persoalan sederhana, sejak akhir tahun 2022 Ajeng telah mempersiapkan segala dokumen hingga persiapan bahasa Inggris dengan matang. Persiapan tersebut membawanya lolos beasiswa LPDP Batch 1 tahun 2023, perjalan masih berlanjut hingga akhirnya mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari WUR. Singkatnya, pertengahan 2025 ia berangkat ke Belanda dan memulai babak baru perjalanan studi dengan status mahasiswa internasional.
Dari pengalaman yang dilaluinya, Ajeng memberikan dua kunci utama untuk mengambil peluang belajar di luar negeri. Bagainya, kemampuan bahas Inggris dan kemampuan menulis dan pemahaman konteks beasiswa. Sehingga IELTS dan esai baginya adalah penentu.
Kunci Keberhasilan Menuju Kampus Eropa
Ajeng memberikan beberapa insights yang layak diikuti bagi seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UII yang bermimpi ke Eropa. Dari pengamatannya tak banyak sosok berkompeten yang gagal kuliah di Eropa karena kurang detail dalam membaca syarat beasiswa.
“Langkah pertama yang cukup krusial adalah mencari tahu dan memahami secara detail syarat beasiswa yang dituju. Banyak pelamar sebenarnya kompeten, tetapi gagal karena terlambat atau keliru dalam mempersiapkan persyaratan. Dari berbagai skema beasiswa, ada dua komponen yang hampir selalu muncul dan sering menjadi penentu awal, yaitu syarat bahasa dan essay,” ucapnya.
Selanjutnya adalah persyaratan wajib kompetensi bahasa, yakni IELTS. Ada beberapa pilihan seperti TOEFL IBT, Duolingo, dan lainnya. Namun Ajeng memilih IELTS karena lebih general dan banyak diterima di kampus Eropa.
Syarat bahasa sering kali menjadi hambatan terbesar, terutama untuk beasiswa luar negeri. Standar seperti IELTS 6.5 atau lebih bukan sesuatu yang realistis dicapai secara instan. Karena itu, persiapan sedini mungkin menjadi sangat penting.
“Persiapan ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari, seperti menonton film berbahasa Inggris, mendengarkan podcast, atau membaca artikel berbahasa Inggris. Jika ingin lebih terstruktur, opsi yang lebih serius seperti mengambil kursus khusus juga bisa dipertimbangkan,” ucapnya.
“Perlu diingat, kemampuan bahasa bukan hanya soal skor atau sekadar alat seleksi administratif. Bahasa juga mencerminkan kesiapan kita untuk mengikuti perkuliahan, berdiskusi, menulis tugas akademik, dan beradaptasi dengan lingkungan belajar nantinya,” tambahnya.
Selanjutnya terkait esai yang selalu diminta oleh pemberi beasiswa ataupun universitas. Esai adalah alat ukur kesiapan, keseriusan, hingga ketepatan kandidat dengan beasiswa dan program yang dipilih.
“Dalam menulis essay, usahakan sejujur dan se-reflektif mungkin, bukan sekadar ingin terlihat “luar biasa secara prestasi”. Esensi essay beasiswa sebenarnya adalah refleksi diri: bagaimana pengalaman masa lalu membentuk tujuan, serta bagaimana beasiswa tersebut relevan dengan rencana masa depan,” kata Ajeng.
“Di sini, penting untuk memahami arah dan nilai beasiswa yang dituju, lalu mengaitkannya secara masuk akal dengan cerita kita. Misalnya, jika beasiswa seperti LPDP memiliki fokus pada bidang STEM, maka pengalaman, minat, dan rencana masa depan bisa diarahkan ke kontribusi di bidang tersebut tanpa dipaksakan,” tambahnya.
Pada akhirnya, esai bukan tentang menumpuk prestasi, melainkan menjawab pertanyaan reflektif: Mengapa beasiswa ini masuk akal untuk saya, dan mengapa saya juga masuk akal untuk beasiswa ini? Jika jawabannya jelas, logis, dan konsisten, esai biasanya terasa lebih kuat dan meyakinkan.
Itulah pengalaman dari alumni Prodi Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih mimpinya melanjutkan studi ke Belanda. Persiapan matang menjadi keberhasilannya.



