Hari Musik Nasional: Menjaga Bunyi yang Hampir Hilang dari Aceh
Tercatat dua tahun terakhir (2024-2026), dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Muzayin Nazaruddin, meraih grant dari British Museum untuk melakukan riset dan dokumentasi. Projek bertajuk Endangered Material Knowledge Program (EMKP) fokus terhadap alat musik yang hampir punah di Aceh yakni Canang Ceureukeh dan Alee Tunjang.
Tak sekedar hiburan, Canang Ceureukeh dan Alee Tunjang merupakan adalah alat musik tradisional yang menjadi bagian kehidupan sosial dan pengetahuan masyarakat Aceh Utara. Sayangnya nasib kedua alat musik ini terancam keberlanjutannya, sosok yang merawat tradisi ini adalah Utoh Amad. Maestro dari Desa Paya Teungoh merupakan satu-satunya yang masih memproduksi dan memainkan alat musik ini.
“Tradisi memainkan alat musik ini mulai tidak dilakukan ketika Aceh mengalami konflik panjang. Selepas konflik, tradisi ini tidak pernah dilakukan lagi karena para petani sudah menggunakan teknologi modern untuk proses penanaman dan pemanenan padi,” ucap Muzayin Nazaruddin.
Ketika praktik-praktik budaya perlahan ditinggalkan, musik yang menyertainya pun terancam hilang dan tenggelam. Refleksi terkait hari Musik nasional 9 Maret, menjadi momentum untuk merayakan perjalanan musik dan budaya sekaligus pengingat nasib musik tradisional yang perlahan kehilangan ruangnya.
Situasi ini terjadi di Aceh, perubahan sosial, modernisasi, hingga berkurangnya generasi penerus membuat praktiknya semakin jarang dijumpai. Upaya menjaga ingatan itu dilakukan oleh Muzayin Nazaruddin bersama tim, didukung oleh British Museum kerja-kerja dokumentasi berbagai pengetahuan dan budaya terancam punah dilakukan. Dokumentasi ini tidak hanya merekam bunyi dan pertunjukan, tetapi juga mencatat cerita, makna hingga konteks sosial.
Ketika alat musik ini berhenti dipraktikkan, yang hilang bukan hanya bunyi musiknya, tetapi juga tradisi. Sehingga pengetahuan, nilai, dan identitas budaya memudar dan tak bisa diwariskan. Dokumentasi adalah cara mengawetkan pengetahuan, tersimpan rapi dan dapat dipelajari di masa depan.
Hari Musik Nasional dapat dimaknai secara luas, tak hanya merayakan musik yang tengah populer, tetapi juga memberi perhatian pada musik-musik yang perlahan menghilang. Merayakan musik berarti juga menjaga ingatan tentang asal-usulnya.
Selengkapnya: https://communication.uii.ac.id/dosen-prodi-ilmu-komunikasi-terima-grant-riset-dari-british-museum/



