,

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII

Momen apresiasi pasca produksi dalam mata kuliah videografi tahun 2025 berakhir dengan gelar karya “Screening 2025” pada 10 Januari 2026 di GKU Sardjito UII. Tercatat lebih dari 50 video dipertontonkan, puluhan karya itu meliputi short movie, music video, dan video advertisement karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UII.

Tiga juri dihadirkan dalam momen apresiasi ini, para expertise dalam dunia perfilman memberi masukan terhadap hasil garapan mahasiswa Ilmu Komunikasi. ketiganya adalah Mas Manteb (Ananto Prasetyo), Anggi Arif Udin Setiadi, dan Iven Sumardiyantoro.

Ada beberapa karya yang menarik perhatian juri, cukup menggelitik karena mayoritas tak luput dari tantangan ini. Soal ide cerita, rata-rata mudah ditebak hingga eksplorasi yang hampir serupa. Meski demikian, para juri memberikan pujian atas kerja keras mahasiswa selama satu semester ini.

Mas Manteb memberikan masukan soal riset dan ketelitian dalam produksi film, pembuat film selayaknya menempatkan diri sebagai penonton. Film yang membosankan tentu tak nyaman untuk mata penonton.

“Riset itu penting. Idenya tertebak semua (sebagian film yang sudah tayang), ide tidak harus relate yang penting adalah ketelitian. Ketika kita membuat film tujuannya mewakili mata kita, harus bayangkan bahwa dari awal tahu kita mau ngapain. Kenapa film menjemukan, ingin ada yang ditekankan,” ujarnya.

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII

Screening 2025, Ruang Apresiasi dan Evaluasi Karya Videografi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII. Image: Prodi Ilmu Komunikasi UII

Filmmaker dituntut memiliki prioritas dalam memilih scenes yang akan dimunculkan dengan mempertimbangkan aturan-aturan yang berlaku. Misalnya terkait UU perfilman tahun 2009 terkait larangan menampilkan rokok dalam film, mas Manteb menyebut adegan tak perlu muncul secara gamblang. “Kalau memang secara tuntutan visual, gak perlu ditebalkan. Satu gambar seribu bahasa. Tidak terlalu ekstrim menunjukkan adegan itu,” tambahnya.

Soal eksplorasi ide juga disinggung oleh Anggi Arif Udin Setiadi, akademisi sekaligus pegiat kreatif menyebutkan beberapa alur membingungkan. Meski demikian karya-karya dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UII baginya memiliki ide yang terkini dan mampu menjawab kebaruan fenomena di Indonesia.

“Luar biasa memang ada beberapa film yang bisa ditebak, sedih-sedih. Terinspirasi dari diri sendiri, ibu meninggal itu lagi ada kesedihan apa kok semua ibu meninggal. Meski demikian, beberapa film yang isunya menarik, isu-isu terkini, teknik pengambilan gambar ada beberapa efek yang keren,” ungkap Anggi.

Sementara, Iven Sumardiyantoro memberikan tawaran solusi bagi para mahasiswa untuk sering-sering menonton film. Sebagai seorang videographer menonton film akan memperkaya teknik sinematografi hingga ide efek yang tak biasa. Selain, cerita tidak harus diucapkan semua lewat kata-kata, scene yang kuat mampu memberi pesan mendalam.

“Tersampaikan pesannya, kalau dikembangin teknik dan editannya sudah lumayan. Saran saya banyak-banyak nonton film saja, agar mendapat referensi variasi teknik sinematografi. Gak semua alur cerita, show detail, tidak perlu diucapkan tunjukin dari scene,” tandasnya.

Daftar Pemenang “Screening 2025” Berdasarkan Kategori

The Best Cinematography: Film Acceptance

The Best Short Film: Obsesi Simetri

The Best Unique Concept: Rasbora

The Best Music Video: Ours to Keep

The Best Visual Effect: Obsesi Simetri

The Best Advertisement: The Real Bodyguard

 

Kegiatan Screening ini rutin dilakukan setiap tahun, pada semester ini mata kuliah Videografi diampu oleh beberapa dosen antara lain Ida Nuraini Dewi Kodrat Ningsih, S.I.Kom., M.A. Sumekar Tanjung, S.Sos.,M.A. dan Wisnu Yudha Wardhana, M.Sn.