Reading Time: 2 minutes

Prodi ilmu komunikasi menggelar Bedah Buku: “Apa Pilihanmu? Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara”  di RAV Komunikasi lantai 3, Gedung Program Studi Ilmu Komunikasi UII. Bedah buku tersebut digelar pada Rabu, 27 April 2018. Turut mengundang Rofi Uddarojat dari SuaraKebebasan.org  sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Buku “Apa Pilihanmu? Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara” merupakan kumpulan tulisan dari beragam pakar, mulai dari ekonomi, sosial, dan politik yang  dieditori oleh Tom G. Palmer. Buku ini mencoba mecoba menjelaskan permasalahan sosial dengan pendekatan baru. Topik pembahasannya tidak berada disektor tertentu namun mencoba menjelaskannya secara umum.

Perdebatan yang sering muncul ialah pertanyaan ‘sejauh mana peran Negara?’.  Turunannya ialah dalam hal mengatur Sesuatu `apakah diatur Negara atau bebas mengatur diri sendiri`. “Point terpeting dicoba untuk menjelaskannya ialah bahwa kita kita bisa memilih atau melakukan self control. Walau pun begitu Bukan berarti tidak mendengarkan Negara namun bisa mengacu pada pandangan pendapat Negara,” ungkap Rofi (27/4).

“Dalam hal ini ada pilihan yang dibatasi oleh Negara. Ketika kita tidak dibiarkan memilih berarti sudah terbentuk state control Negara,” jelasnya lagi.

Rofi juga menjelaskan bahwa melalui penjelasn buku tersebut (pada Bab 4)  dapat dipahami  sesorang dapat berperilaku irasional terhadap sesuatu ya, apabila diri nya tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan tersebut. Ketika ada state control, individu tidak bisa lagi berfikir suatu resiko dengan jernih. Logikanya ialah ketika ada kebebasan untuk memilih, dan pastinya akan ada keputusan untuk bertanggungjawab.

“Pilihan itu harus dipilih dan dilakukan secara sadar, dewasa, dan tidak dipaksa oleh negara. Manusia dewasa adalah manusia yang memilih pilihannya sendiri,” jelas Rofi.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Reading Time: 2 minutes

Tuli bukan menjadi hambatan bagi Robi untuk terus berkarya. Terbukti dengan semangat dan ketekunannya Robi tetap mampu berkarya dan mendalami dunia seni layaknya manusia pada umumnya. Banyak prestasi yang telah diukir oleh robi dalam proses pencapaian cita-citanya.

Diawali dengan scene Robi meyetir mobil mampu memikat perhatian penonton. Kemudian dilanjutkan dengan gambaran prestasi apa saja yang berhasil diraih oleh Robi mampu membangkitkan emosi penonton bahwa pada hakikatnya semua manusia itu sama. Kevin maulana Rijal sang sutradara Film Melawan Batas mencoba untuk mengemasnya dalam pendekatan film documenter ekspasitori. Di mana segala informasi tentang robi bisa didapatkan dan dirangkai melalui orang-orang terdekat robi.

Pada film ini Kevin mencoba menjelaskan bahwa difabel dengan manusia normal itu pada hakikatnya setara.  Sama-sama bisa berusaha dan sama-sama bisa untuk mengukir prestasi. Melawan batas menjelaskan bahwa Robi adalah seorang tuli yang menikmati dunia seni dan berhasil banyak mengukir prsetasi juga menghasilkan beragam karya.

Pemutaran film Melawan Batas ini digelar di RAV gedung Prodi Ilmu Komunikasi pada 20 April 2018 pada pukul 14:00. Pada pemutaran tersebut juga diundang langsung Robi sembagai Guest Speaker dalam acara Screenning dan Diskusi Film Tugas Akhir Mahasiswa Komunikasi UII. Diskusi bersifat interaktif dan berhasil menghasilkan gagasan dan pemikiran menarik tentang difabel. Edwina salah seorang narasumber pada film tersebut turut hadir dan mengapresiasi positif film karya Kevin tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi film ini. Karena pada film ini saya tidak menemukan kalimat sosok Inspiratif layaknya pada tayangan media pada umumnya,” Ujar Edwina.  Menurutnya kalimat tersebut malah bentuk penyudutan bagi teman-teman difabel. Karena pada dasarnya teman-teman difabel tidak ada masalah dengan dirinya karena mereka masih optimis untuk bisa beraktivitas dan tidak menganggap itu sebagai hal yang perlu untuk dikasihani, hanya saja angle media seringkali menampilkan difabel sebagai sosok yang memprihatinkan.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Reading Time: 2 minutes

Kolaborasi antara PSDMA Nadim Komunikasi UII bersama KLIK18 menggelar bedah buku Pelangi di Timur Tengah dengan  mengundang langsung kreatornya, Denty Piawai Nastitie, Rabu (18/4/2018) di RAV Prodi Ilmu Komunikasi UII. Buku ini merupakan buku fotografi dari hasil dokumentasi perjalanan Denty pada akhir tahun 2015 silam keempat Negara Timur Tengah, yaitu Mesir , Israel, Palestina, dan Jordan. Buku ini diterbitkan pada tahun 2017 silam dengan dikuratori oleh Oscar Motulah dan di desain oleh Andi Ari Setiadi. Bersama Oscar Motuloh buku ini disusun agar bisa memberikan ciri khas perjalanan bersama rombongan.

Ketika diskusi, Denty menjelaskan bahwa perjalananya ini memunculkan pandangan baru bagi dirinya terhadap Timur Tengah yang semula dalam bayangannya identic dengan konflik dan perang. Ia menemukan praktek kehidupan sosial yang rukun dan menjunjung keberagaman. Melalui buku ini Denty mencoba untuk menjelaskan adanya nilai toleransi di Timur Tengah ketika sedang maraknya isu diskriminasi SARA di Indonesia.

Backgroundnya sebagai penulis membuat Denti percaya bahwa buku foto ‘Pelangi di Timur Tengah’ ini memiliki kekuatan dari segi cerita. Sehingga dengan kata lain untuk sekarang ini seorang fotografer tidak hanya cukup memiliki foto yang bagus, namun juga mesti  berhubungan dengan cerita yang kuat. “Fotografer sekarang harus sering dengar cerita dengan orang lain. Sehingga dengan sering mendengar cerita tersebut mampu membuat foto yang bercerita,” jelas Denty (18/4). Kemudian Ia juga menjelaskan bahwa pada akhirnya pun terkait cerita tersebut semuanya tergantung kepada sang fotografer dalam mengenali dirinya sendiri. Sehingga ketika bisa menemukan tema yang hanya dimiliki oleh dirinya, alangkah lebih baik untuk menempel terus pada tema tersebut dan mencoba untuk berani menunjukkannya kepada orang lain. Salah satunya dalam bentuk buku fotografi.

“setiap orang punya pengalaman dan cerita dapat menjadi karya yang bisa dishare. Selain itu juga melalui karya tersebut bisa menjadi bahan obrolan, sehingga  menjadi tempat bertukar ide, “ tutup Denty dalam menyampaikan kesannya di acara bedah buku fotografi tersebut.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Dokumentasi KLIK18

Reading Time: < 1 minute

Reading Time: < 1 minute

Yogyakarta-Komunitas Fotografi Ilmu Komunikasi UII,  KLIK18 kembali menggelar PANIK (Pameran Anak Klik) yang digelar oleh mahasiswa angkatan 2017. Pameran tersebut berlokasi di lantai LG Perpustakaan Pusat UII berlangsung dari tanggal 10-12 April 2018 dari pukul 10.00 s/d 18.00 WIB.

Mengusung tema Icon pameran tersebut menyuguhkan puluhan karya fotografi. ‘Every Place Has Their Beuty’ merupakan tagline dari pameran tersebut yang menjadi sprit karya fotografernya. Mereka mencoba untuk menyampaikan makna Icon dan spirit dari pameran tersebut dari berbagai daerah yang ada di Indonesia berdasarkan perspektifnya melaui karya fotografi yang dipamerkan.

Selain menggelar pameran, juga diselenggarakan workshop fotografi bersama fotografer professional Bimo Pradityo yang menyampaikan materi basic photography dan juga street photography (10/4/18). Rangkaian acara yang lainnya pun juga adanya awarding night yang digelar di depan gedung Prodi Ilmu Komunikasi UII pada tanggal 10 April 2018.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Dokumentasi KLIK18

Reading Time: < 1 minute

Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia Cabang Jogja (IMIKI JOGJA) Menggelar DIKLAT Akrab IMIKI Jogja 2018 pada tanggal 7-8 April 2018. Mengusung tagline “Now We Know”, Prodi Ilmu Komunikasi UII juga menjadi salah satu lokasi tempat dilangsungkannya penyampaian materi keorganisasian (7/4/18).  

Farid Nuh Hidayat mahasiswa Ilmu Komunikasi UII dan merupakan mantan Sekjend HIMAKOM UII menjadi pemantik materi dalam penyampaian materi keorganisasian tersebut. Farid mengungkapkan bahwa sebagai mahasiswa diharapkan tidak hanya ‘kuliah-pulang’ saja dan seharusnya terlibat aktif dalam keorganisasian. “Melalui organisasi kita akan mampu melatih soft skill. Mulai dari manajemen diri hingga kemampuan dalam memecahkan masalah”, terang farid (7/4/18).

Setelah penyampaian materi, kemudian peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melatih kekompakan dan jiwa keorganisasian. Tiap-tiap kelompok diinstruksikan untuk membuat suatu miniature bangunan dari sedotan yang berwarna. Peserta diminta ketika membangun miniature tersebut harus memiliki filisofi kenapa memilih bentuk tersebut dan alasan penggunaan warna dari sedotan yang tersedia untuk dipresentasikan di akhir sesi materi.

Peserta yang mengikuti workshop itu adalah perwakilan dari mahasiswa Ilmu Komunikasi di beberapa Kampus Jogja. IMIKI sendiri beranggotakan empat belas kampus yang memiliki jurusan Ilmu Komunikasi. Ada pun keempat belas kampus tersebut di antaranya UIN Suka, UII, UMY, UNY, UNRIYO, MMTC, APMD, AKINDO, UAD, UGM, UMB, UPN, UAJY, dan UNISA

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Dokumentasi Kegiatan IMIKI Jogja

Reading Time: < 1 minute

Reading Time: 2 minutes

 

Yogyakarta-PSDMA Nadim Komunikasi kembali menggelar diskusi Bulanan rutin di RAV Komunikasi UII (28/03).  Diskusi kali ini mengangkat tema Produksi Film Dokumenter karena bersinergi dengan motto Komunikasi UII Communication for Empowerement. Selain itu juga tema ini sangat tepat dan membantu mahasiswa yang sedang tertarik menekuni film documenter.

Tidak tanggung-tanggung, PSDMA Nadim Komunikasi UII turut mengundang Wahyu Utami Wati yang memiliki track record baik di dalam dunia perfilman dokumenter. Seperti contohnya sutradara Film The Unseen Words, Residensi 5 Village 5 Islands Project at Pelworm Island, Germany, Goethe Institute, dan juga pernah menjadi mentor Film workshop with local youth at Buli Village, East Halmahera, Mediaqita Foundation & creative Community Flores, Kelola Foundation.

Diskusi tersebut dimulai dengan pemutaran Film The Unseen Words merupakan film yang pernah meraih penghargaan kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik FFI 2017. Kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film berjudul Maja’s Boat yang merupakan karya hasil dari Residensi 5 Village 5 Islands Project at Pelworm Island, Germany, Goethe Institute.

Ketika diskusi Uut menjelaskan bahwa riset merupakan tahapan yang mesti dikerjakan dengan serius agar bisa meenghasilkan film yang baik. Diperlukan pendekatan  yang tepat dan juga kepekaan dalam mengamati situasi.

“Saat kita melakukan riset untuk film dokumenter, hilangkan segala keegoan sok tau yang dimiliki terkait objek yang akan difilmkan. Karena dengan banyaknya asumsi yang kita miliki ketika hendak melakukan riset lapangan akan menghambat dalam mengamati fenomena apa yang sebenarnya terjadi dilapangan. Dan tentunya juga akan menghambat kekuatan cerita dari film itu sendiri”,ujar Dosen dari Jogja Film Academy tersebut (28/03).

 

Penulis: Risky Wahyudi

Reading Time: < 1 minute

Reading Time: < 1 minute

Yogyakarta-Rombongan dari Mahasiswa Program Studi Universitas Pelita Harapan mengunjungi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (17/03/18). Ada pun maksud dari kegiatan tersebut ialah untuk studi banding dan juga sebagai forum untuk saling berbagi pengalaman. Rombongan dari HMPS ILKOM UPH tersebut disambut baik oleh HIMAKOM  UII dengan digelarnya beberapa rangkaian kegiatan acara dari kunjungan tersebut.  

Beberapa rangkaian kegiatan nya seperti penyambutan kedatangan rombongan dan juga persentasi tentang masing-masing prodi serta sharing terkait kegiatan yang dilakukan. Setelah itu para rombongan diajak untuk mengunjungi Laboratorium TV, Laboratorium Animasi dan juga Pusat Studi dan Dokumentasi Madia alternatif ‘NADIM’. Tidak hanya itu saja, rombongan pu juga diajak mengunjungi sekretariat klub yang ada di komunikasi UII seperti KLIK18, KOMPOR.KOM, Galaxy Radio, DISPENSI dan Juga RedAksi.

Mereka terlihat senang dan menikmati kunjungan tersebut. Kegiatan tersebut diakhiri dengan makan bersama dan juga screening Film dari hasil Karya KOMPOR.KOM.

 

Penulis: Risky wahyudi

Foto: Dokumentasi HIMAKOM UII